cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ITENAS REKARUPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
TV Commercial Ameriquest Mortgage Aldrian Agusta
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Observing an Ameriquest ad impressions from which to build a certain perception of consumers in the United States by taking the cultural background and customs of American society in interpreting a visual impression made Ameriquest to give its ad message that states that they give loans with a positive outlook on prospective customers. Studies in this ad shows the strength of the frame that compose the story so that it can be perceived correctly by the audience who was not even from American society itself. Keywords: frame, visual perception   Abstrak Mencermati suatu tayangan iklan dari Ameriquest yang membangun persepsi tertentu pada konsumennya di Amerika dengan mengambil latar belakang budaya dan kebiasaan masyarakat Amerika dalam menginterpretasikan sebuah tayangan visual membuat Ameriquest dapat memberi pesan iklannya yang menyatakan bahwa mereka memberi pinjaman dengan pandangan positif pada calon nasabahnya. Kajian pada iklan ini memperlihatkan kekuatan dari frame yang merangkai kisah tersebut sehingga dapat dipersepsikan dengan tepat oleh penonton yang bahkan bukan dari masyarakat Amerika itu sendiri. Kata Kunci: frame, persepsi visual
Rancang Bangun Desain Armatur Lampu Berbasis Diversifikasi Fungsi Produk Kriya J. Jamaludin; Bambang Arief RRZ
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian rancang bangun ini berdasarkan pada kondisi nyata bahwa berbagai produk budaya lokal seperti peralatan menanak nasi tradisional telah tersisihkan oleh adanya peralatan elektronik seperti magic-jar atau rice-cooker.  Perlu upaya pelestarian produk kriya tradisional berbahan alami tersebut ke dalam bentuk lain yang disesuaikan dengan kondisi jaman modern dan isu global seperti green-design atau desain ramah lingkungan. Penelitian ini merupakan studi alih fungsi kukusan wadah menanak nasi tradisional di masyarakat di Jawa Barat. Alih fungsi tersebut dalam bentuk menjadi komponen desain armatur lampu sebagai bagian dari lighting design. Upaya ini dimaksudkan untuk membantu keberlanjutan produk kriya tradisional agar terjadi kesinambungan produksi guna menunjang ekonomi para pengrajin dan menciptakan produk asesoris interior dengan bahan alami berbasis budaya lokal. Metoda rancang bangun desain dalam penelitian ini berupa pembuatan sketsa desain, montase dan pembuatan model dan purwarupa (prototype). Metode komparasi dipakai untuk mencari kesamaan bentuk tudung lampu dari model  yang umum untuk dijadikan acuan.  Hasil akhir dari penelitian ini adalah prototip berbagai jenis armatur lampu dalam bentuk tudung lampu (lampshade) lampu meja, lampu dinding dan lampu lantai.Kata Kunci : kriya, anyaman bambu, transformasi desain, desain pencahayaan, tudung lampu  AbstraCT This design study is based on the real condition that local cultural products such as traditional rice cooking equipment have been marginalized by electronic equipment such as magic-jar or rice-cooker. It is necessary to conserve the traditional craft products into other forms adapted to modern times and global issues such as green-design or eco-friendly design. This research is a study of the function of steamed rice containers in West Java. Rather the function is in the form of a component of armature lamp design as part of lighting design. This effort is intended to help the sustainability of traditional craft products in order to ensure continuity of production in order to support the economy of the craftsmen and create interior accessories products with natural ingredients based on local culture. Design method of design in this research is making sketch design, montage and modeling and prototype (prototype). Comparative method is used to find the similarity of lamp hood form from common model to be used as reference. The end result of this research is prototypes of various types of armature lamps in the form of lampshades (lampshade) table lamps, wall lamps and floor lamps.Keywords: craft, woven bamboo, design tranformation, lighting design,  lampshade
Pengaruh Budaya Pop Barat Pada Desain Sampul Album Piringan Hitam Musik Pop Indonesia Era 1950an Inko Sakti Dewanto
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdirinya perusahaan rekaman Irama di Jakarta pada tahun 1951, menjadi penanda awal eksistensi industri musik pop di Indonesia. Era 1950an merupakan dekade bersejarah, karena sebuah sistem telah terbentuk. Format musik rekaman dalam piringan hitamlah yang digunakan dalam fase awal industri ini. Lalu mulai muncul pula kesadaran desain yang turut terbentuk melalui desain sampul album musik. Namun, pada pola visual yang menjadi tren masih terdapat ciri dari gaya pop yang berkembang di barat. Musik serta budaya pop barat pada sejak era ini memang begitu kencang pengaruhnya ke berbagai penjuru dunia. Pendekatan historikal yang dipadukan dengan metode penelitian visual digunakan sebagai instrumen untuk membedah permasalahan tersebut. Tidak terlupa beberapa teori terkait mengenai budaya pop dipergunakan sebagai penguat argumentasi dalam penelitian ini. Hasilnya, ditemukan beberapa dinamika yang menjadi ciri/penanda gaya di era 1970an antara lain dinamika sosial, dinamika perkembangan, dinamika budaya, serta dinamika nilai-nilai. Keempat aspek tersebut distrukturkan dalam sebuah bagan sederhana pada bab simpulan penelitian ini.Kata kunci: desain sampul album musik, piringan hitam, budaya pop.ABSTRACTThe establishment of Irama Records in Jakarta (1951), became an early marker of the existence of pop music industry in Indonesia. The 1950s was a historical decade, because a system has been formed. The format of recorded music in the vinyl was used in the initial phase of this industry. From the physical form of such that recording format, it also emerge the awareness of design that also formed through music album cover design. However, there was still a hallmark of pop style that developed in the west on the visual trend. Since this era, music and western pop culture influence is so strong to the every inch parts of the world. Historical approach, combined with the visual research methods used as an instrument to dissect these problems. Some related theories about pop culture is also used as a reinforcing arguments. The researcher found some dynamics that characterize/mark the style in the 1970s, among others, social dynamics, dynamic development, cultural dynamics, and the dynamics of values. All those aspects are structured in a simple chart in the concluding chapter of this study.Keywords: music album cover design, vinyl, pop culture.
Konsep Terapan Ergokultur Sunda Pada Desain Sarana Niaga Bersepedamotor untuk Kuliner Cepat Saji Keliling di Kota Bandung Edi Setiadi Putra
Jurnal Rekarupa Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Bisnis makanan cepat saji berkembang pesat di Bandung. Dimulai oleh kegiatan delivery order dari perusahaan makanan cepat saji multinasional. Makanan yang dipesan, diantarkan ke seluruh pelosok kota. Penjual makanan cepat saji  menggunakan moda transportasi beroda untuk menjangkau domisili konsumen, yaitu:  gerobak, sepeda, sepedamotor, triseda, dan mobil. Penggunaan jenis transportasi, disesuaikan dengan area jelajah, durasi kerja, batasan berat, volume, dan jenis kuliner. Fenomena bisnis ini telah menjadi ikon budaya urban di Kota Bandung, yang menunjang city branding Kota Bandung sebagai kota wisata kuliner terkemuka di Indonesia.   Banyak pedagang menggunakan sarana dagang dan jenis sepedamotor apa adanya, seakan tidak mempertimbangkan faktor keselamatan kerja, kenyamanan, kebersihan dan kesehatan. Masalah yang ada merupakan suatu permasalahan ergonomi dan budaya. Dengan pendekatan kajian ergonomi dan budaya (ergonomi kultural; ergoculture), diperoleh peluang untuk menunjukkan solusi melalui desain produk fasilitas dagang makanan cepat saji yang sesuai dengan konsep budaya kuliner Sunda. Implementasi kearifan lokal Sunda diperoleh dari budaya tradisi kirim-antar kuliner dengan mempergunakan ‘tetenong’ yang memiliki aturan adat yang sangat ergonomis.   Kata Kunci : Ergonomi, Budaya Sunda, Ergokultur, Kuliner ABSTRACT   The fast food business is growing rapidly in Bandung. Started by delivery-order activities of multinational fast food companies. Food ordered, delivered to all corners of the city. The fast food vendors, use traditional wheeled mode of transportation to reach the consumer's domicile, namely: carts, bicycles, motorcycles, triseda, and cars. The use of other modes of transport, adapted to the cruising area, duration of action, weight limits, volume, and type of cuisine. This business phenomenon has become an icon of urban culture in the city of Bandung, which support the Bandung city branding as a leading culinary tourism in Indonesia.   Many traders use trading facilities and the type of motorcycle they are, if not consider the factor of safety, comfort, hygiene and health. The problem is there is an issue of ergonomics and culture. With the approach of ergonomics studies and culture (cultural ergonomics; ergoculture), earned opportunities to show solutions through product design of trading facilities for fast food trade in accordance with the concept of Sundanese culinary culture. Implementation indigenous Sundanese culture obtained from delivery culinary tradition by using 'tetenong', which has a very ergonomic custom rules Keywords: Ergonomics, Sundanese culture, Ergoculture, Culinary
Petrified Wood : Karakteristik dan Aplikasinya dalam Bidang Desain Produk Aninda Putri Andreani,; Rahmawan Dwi Prasetya
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petrified wood atau lebih dikenal dengan istilah fosil kayu memiliki banyak varietas warna dengan keindahan luar biasa dan menakjubkan dari warna yang dimunculkan. Warna-warna tersebut dihasilkan dari kayu-kayu dalam proses penimbunan jutaan tahun, bahan utama kayu dimana adalah berbahan organik yang telah berubah menjadi silikat, seperti batu agate atau biasa dikenal batu akik, jasper dan opal. Keberadaan batu fosil kayu ini tersebar di wilayah-wilayah dengan hutan ratusan mil luasnya yang keberadaanya termasuk di Arizona, Nevada, Oregon, Madagaskar, Indonesia dan Brasil. Ketersediaan akan fosil kayu yang melimpah menyebabkan terciptanya sebuah industri kreatif yang mengolah khusus fosil kayu diubah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi. Pada industri kreatif tersebut pengolahan fosil kayu dijadikan sebuah furnitur atau dekorasi rumah, dibuat dari bongkahan utuh fosil kayu yang berukuran besar dan digabungkan dengan material lain seperti logam, dan resin. Kata kunci : petrified wood, fosil kayu ABSTRACT Petrified wood, better known as wood fossils, have many colors with extraordinary and amazing beauty from the colors that appear on it. Those colors are naturally produced from woods in the process of millions of years of stockpiling, the main substance of wood made from organic which has been turned into silicates, such as carnelian stone or commonly called agate, jasper and opal. The existence of these fossil stones is spread in areas with forests that are vast in miles including in Arizona, Nevada, Oregon, Madagascar, Indonesia and Brazil. Abundant wood fossils in so many places cause the creative industry to process those wood fossils and turned it into creative products which have economic values. In this creative industry, wood fossils are made into furniture or home decorations, made from large chunks of petrified woods and combined with other materials, such as metal and resin. Key words: petrified wood, wood fossils
Pendekatan Semantik Rupa Sebagai Metoda Pengembangan Desain Produk Dengan Studi Kasus Produk Mug di Industri Kecil Keramik M. Arif Waskito
Jurnal Rekarupa Vol 2, No 1 (2014): rekarupa
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Menentukan bentuk suatu produk  tidak saja berdasarkan pada pertimbangan fungsional, tapi penentuan bentuk tersebut merupakan wujud dari sebuah proses komunikasi visual yang didalamnya memiliki ragam informasi, berupa komunikasi teknis yang biasanya bersifat “tangible”(nyata), juga informasi nonteknis yang bersifat pemaknaan. Faktor-faktor teknis pada sebuah produk akan dapat dibaca sebagai suatu informasi yang berkaitan dengan fungsi dari produk, material yang digunakan, proses produksi yang dilakukan, berat benda yang dimilikinya, ataupun ukuran benda tersebut. Informasi-informasi yang bersifat pemaknaan akan dapat dipahami apabila konsepnya yang dibangun dan disampaikan oleh seorang desainer relevan dengan konsep informasi yang direstruktur oleh pembacanya, dalam hal ini konsumen atau pengguna produk tersebut. Pada penelitian ini metode perancangan yang digunakan akan berbasis pada konsep semantika rupa, dimana aspek yang mendominasi dasar perancangannya akan merujuk pada unsur pemaknaan visual. Analisis terhadap kualitas semantika visual tersebut kemudian akan dijadikan dasar penggalian nilai-nilai inovasi bentuk dari sebuah produk keramik. Pada penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran singkat tentang proses pengembangan bentuk sebuah produk yang dapat dilakukan oleh industri kecil hingga industri manufaktur untuk mendapatkan sebuah karakteristik desain yang unik sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan nilai jual produk yang mereka hasilkan.   Kata kunci : Desain, semantik rupa, produk keramik Abstract Determining the shape of a product is not only based on functional considerations, but the determination of the shape is a manifestation of a process in which visual communication has a variety of information. Information can be " tangible " ( real ) such matters relating to the technical aspects inherent in the product, and may also be related to the non-technical aspects as well as the meaning that can be recognized by its shape. Technical factors in a product will be read as the information relating to the function of the product, the materials used, the production process is carried out, it has a heavy object, or the object size. The information that is of meaning will be understood if the concept were built and delivered by a designer that information relevant to the concept of restructured by the reader, in this case the consumer or user of that product. In this study design method used will be based on such a concept visual semantic, which dominate basic design aspects will refer to elements of visual interpretation. Analysis of a visual semantic quality then be used as the basis of extracting the values ​​of innovation form of a ceramic product. In this study is expected to provide a brief overview of the form development a product which can be done by small industries to manufacturing industry to gain a unique design characteristics as one effort to increase the sale value of the products they produce. Keywords: Design, Visual Semantics, ceramic product
Konfluen Budaya pada Gaya Visual Ilustrasi Naskah Sajarah Banten Savitri Putri Ramadina; Yasraf Amir Piliang; Nuning Yanti Damayanti
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa Revolusi Industri pada abad ke-18 menyebabkan tumbuhnya lingkungan urban yang terdiri dari berbagai tipe kelompok masyarakat yang saling berinteraksi menjadi kelas-kelas dan kelompok sosial baru. Budaya kelompok baru tersebut selanjutnya membentuk ikatan yang pelik antar berbagai pola pemikiran yang tidak lagi dapat dikatakan ‘turun-temurun’, yang diistilahkan Ulf Hannerz sebagai cultural confluences atau “pertemuan/konfluen budaya”. Pemilihan kata ‘confluence’ merujuk pada sesuatu yang bersifat cair, mengalir dan bercampur, mengisyaratkan bahwa budaya bukan lagi merupakan tradisi yang kaku. Penelitian ini untuk menelaah sejarah fenomena konfluen budaya dalam perkembangan budaya visual Indonesia melalui sampel ilustrasi naskah Sajarah Banten yang dibuat pada abad ke-18 dengan menerapkan metode analisis wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya estetik yang diterapkan pada ilustrasi tersebut menunjukkan bentuk adaptasi dari gaya tradisional Indonesia dengan gaya luar seperti Barat dan Timur Tengah. Kata kunci:  gaya visual, ilustrasi, konfluen budaya.ABSTRACTThe Industrial Revolution during the 18th century caused the emergence of urban environment consisted of various community types which interacted and turned into new social classes and groups. The culture of those new communities thus shaped some complex bonds of thought patterns which cannot be called ‘hereditary’ anymore, termed by Ulf Hannerz as cultural confluences. The usage of term ‘confluence’ refers to something fluid, flowing, and mixing, as a hint that culture is not a rigid tradition anymore. This research aims to analyse the history of cultural confluences in the development of Indonesia’s visual culture through sampling of Sajarah Banten manuscript’s illustrations made in 18th by using discourse analysis method. The result shows that the aesthetic style used in the illustrations shows adaptations from Indonesia’s traditional style with external influences like from the West or Middle East. In other words, cultural confluences had existed even before the Digital Revolution 4.0 in Indonesia and it is not a threat, instead it can expands the visual vocabularies of Indonesia.Keywords: cultural confluences, illustration, visual style.
Analisis Karakter Visual pada Komunitas Indie (Studi Kasus Karakter Babi pada Visual Produk OINK!) Ganis Resmisari
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji bentuk bentuk visual yang digunakan oleh kelompok “indie” yang memiliki prinsip untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri dan antimainstream. DiBandung geliat komunitas ini diwakili dengan bermunculannya toko pakaian yang disebut distribution Clothing atau disingkat menjadi distro. Adapun hal yang akan dikaji adalah karakter yang digunakan oleh komunitas ini. Sesuai dengan prinsip yang mereka pegang tidak mau disamakan dengan hal yang mainstream, maka visual pada produk fashionnya pun cenderung melawan kebiasaan yang ada. Mereka tidak jarang menggunakan bahasa atau pun karakter yang kadang dianggap negatif oleh masyarakat umum. Pada penelitian ini yang menjadi kajian adalah hewan babi pada salah satu brand komunitas indie yaitu Oink!. Penelitian ini membuktikan bahwa pemilihan karakter yang digunakan pada desain pakaian memiliki hubungan dengan prinsip komunitas indie sendiri. Karakter ini bisa diterima karena fakta bahwa mereka memiliki kesamaan yaitu dianggap „berbeda‟ di lingkungan masyarakat pada umumnya di Indonesia. Karakter hewan yang dianggap negatif di masyarakat oleh komunitas indie digunakan sebagai simbol perjuangan mereka melawan kemapanan.Kata Kunci : komunitas Indie, hewan babi, karakter visualABSTRACTThis study examines the visual form used by the "indie" group that has principles to do everything independently and antimainstream. In Bandung this community is represented by the emergence of a clothing store called the distribution of Clothing or abbreviated as distro. The thing to be studied is the character used by this community. In accordance with the principles they hold do not want to be equated with the mainstream, then the visuals on fashion products also tend to fight the existing habits. Sometimes they using a language or characters that are sometimes considered negative by the general public. In this research the object study is a pig animal in one indie community brand that is Oink !. This study proves that the selection of characters which used in the clothing design has a relationship with the principle of indie community itself. These characters are acceptable because they have a similarity that is 'different' in society in general in Indonesia. Animal characters considered by society to be negative by indie are used as a symbol of their struggle againts establishment.Keywords: Indie community, pig animals, visual characters
Eksperimen Perancangan Kemampuan Daya Serap Panel Akustik dari Sampah Kotak Karton Gelombang Oki Kurniawan, Pribadi Widodo, Andriyanto Wibisono
Jurnal Rekarupa Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas lingkungan akustik yang baik merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar pada sebuah bangunan terutama ruangan sebagai tempat aktifitas manusia. Kualitas akustik dalam ruangan mempengaruhi kenyamanan, produktifitas, serta kesehatan penghuni atau penggunanya. Pada kenyataannya pencapaian kualitas tersebut kerapkali terabaikan karena biaya penganan yang cukup tinggi terutama pada bangunan fasilitas umum non komersial termasuk fasilitas ruangan kelas. Eksperimen ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian mengenai studi penanganan kebisingan untuk memperbaiki kualitas akustik ruang kelas berbiaya rendah melalui pemanfaatan sampah kotak karton gelombang. Pada tahap eksperimen ini perancangan panel mengacu pada hasil eksperimen dan pengujian kemampuan akustik serta penambahan aplikasi seperti air-gap dan penambahan penutup belakang sebagai acuan pengembangan perancangan panel untuk perancangan interior, data koefisien serap (α) hasil pengujian panel adalah 0,22 pada frekuensi 500 Hz dan 0,52 pada frekuensi 1000 Hz, hal ini menunjukan karakter akustik penyerap atau absorber. Perancangan difokuskan pada bentuk, tekstur dan teknik pewarnaan panel serta aspek lainnya sehingga dapat memenuhi standar panel secara umum. Kata kunci: Panel akustik, koefisien serap, kotak karton gelombang   AbstraCT Acoustic environment quality considered as one of basic requirement for buildings environment quality, especially in a room where human activity take place in a building. This quality effect to comfort, productivity, and health for human as user or occupants. Yet, in reality good acoustic quality improvement often neglected or ignored because of high cost for acoustic treatment especially for non-commercial public building facility such as class room. This experiment are part of a serial research conducted as a study of low cost noise treatment to improve class room acoustic qualities using cardboard box waste. This research experiment used the result of materials tested in acoustic laboratory as a reference to develop acoustic panel design. This experiment conducted to implicate the result such as air-gap and back cover to the panel as design development. Result shows absorber coefficient (α) are 0.22 on 500 Hz and 0.52 on 1000 Hz, there for the panel have absorber characteristic as acoustic panel. Panel designing focused on shape, texture, coloring technic and other aspect to meet standard panel in general. Keywords: Acoustic panel, absorber coeffisien, corrugated cardboard.
Optimalisasi Program Perancangan Interior Museum Konferensi Asia-Afrika Detty Fitriani
Jurnal Rekarupa Vol 2, No 1 (2014): rekarupa
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Gedung Merdeka dan bangunan sayapnya yang sejak tahun 1980 dijadikan Museum Konferensi Asia Afrika adalah salah satu Bangunan Cagar Budaya di kota Bandung  yang dilindungi oleh undang-undang dan sangat dijaga keaslian/keotentikannya. Sebagai bangunan yang awalnya bukan peruntukan museum, diperlukan optimalisasi  perancangan (desain) interior dengan tetap menjaga keutuhan bangunan dan interior asli. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perancangan interior Bangunan Cagar Budaya dapat dioptimalkan ketika difungsikan menjadi sebuah museum. Jenis penelitian ini adalah penelitian teoritis yang dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deksriptif-analitis kualitatif.   Hasil akhir penelitian adalah berupa kesimpulan kondisi umum interior Museum Konferensi Asia Afrika dan langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi dan tampilan ruang museum. Kata kunci : Interior, Museum Konferensi Asia Afrika, Cagar budaya, Bandung. AbstraCT Gedung Merdeka and the wings of the building that used as Asian-African Conference museum since the 1980  is one of the heritage buildings in the city of Bandung that are protected by law and are very guarded originality/ authenticity.  As the building was not originally a museum designation, its required optimization of the interior design while maintaining the original integrity of the building and interior. This study was conducted to determine the extent to which the design of the interior of Heritage Buildings can be optimized when the function changed into a museum. This research is a theoretical study performed using descriptive-analytical method of qualitative research. The final results are conclusion of the general condition of theAsian-African Conference Museum interior and what steps can be taken to optimize the function and appearance of the museum space. Keywords: Interior, Museum of the Asian-African Conference, Reserve culture, Bandung

Page 10 of 11 | Total Record : 106