cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Perilaku Tiang Pancang Tunggal pada Tanah Lempung Lunak di Gedebage (Hal. 36-47) Yakin, Yuki Achmad; Siska, Heldys Nurul; Alawiah, Wanda Azka
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 1: Maret 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.712 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i1.36

Abstract

ABSTRAKDeposit tanah lunak di Gedebage merupakan tanah lempung lunak non organik dengan plastisitas tinggi, dengan parameter fisis: kadar air (105,4% - 315,5%), batas cair (100% - 375%) dan angka pori (1,23 – 7,26). Sedangkan parameter teknis menunjukkan kohesi tak teralir (0,01 kg/cm2 – 0,25 kg/cm2) dan sudut geser dalam (0,20 – 5,50)  serta indeks kompresi (2-5). Hal ini menujukkan kuat geser yang rendah dan kompresibilitas yang tinggi. Daya dukung izin tiang pada deposit tanah lunak di Gedebage dengan panjang tiang 33,5 m, dilakukan dengan metode statik, metode N-SPT dan metode Mazurkiewicz yang berturut-turut menghasilkan nilai 185 ton, 155 ton dan 268 ton. Metode Mazurkiewicz adalah metode yang paling mendekati nilai daya dukung hasil uji rata-rata, yaitu 283 ton.Kata kunci: lempung lunak, kompresibilitas tinggi, daya dukung ultimit ABSTRACTDeposite of soft soil in Gedebage is non-organic soft clay with high plasticity and physics parameters: water content (105.4% - 315.5%), liquid limit (100%-375%) and void ratio (1.23 – 7.26). Engineering parameters show undrained cohesion (0.01 kg/cm2 – 0.25 kg/cm2), friction angle (0.20 – 5.50) and compression index (2 – 5). These indicate low shear strength and high compressibility. Allowable bearing capacity of pile at soft clay deposite in Gedebage with 33.5 m length of pile, calculated by static method, N-SPT method and Mazurkiewicz method with value of 185 tons, 155 tons and 268 tons. Mazurkiewicz method is the most reasonable value based on the average value of tests, namely 283 tons.Keywords: soft clay, high compressibility, ultimite bearing capacity
Analisis Tingkat Akurasi Uji Pemadatan dengan Pendekatan Numerik Berbasis Elemen Hingga. (Hal. 87-98) Rahdianata, Dedi; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 4: Desember 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.946 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i4.87

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang simulasi model pemadatan antara uji laboratorium dibandingkan lapangan menggunakan PLAXIS 2D 2017 berbasis elemen hingga. Simulasi model kedua pengujian tersebut dilakukan dengan variasi beban energi yang sama untuk membandingkan perbedaan hasilnya. Simulasi model pemadatan di lapangan dilakukan dengan variasi beban, siklus dan tebal lapis pemadatan, sedangkan di laboratorium hanya variasi beban energi dan tebal lapis pemadatan berdasarkan berat isi kering. Hasil uji pemadatan berat isi kering di laboratorium sebesar 1,546 kN/m2, sedangkan hasil simulasi model sebesar 1,6 kN/m2, sehingga tingkat akurasi perbedaannya sebesar 3,49%. Simulasi model pemadatan lapangan dengan variasi beban pada tebal lapis pemadatan yang sama menunjukan bahwa semakin besar beban pemadatan akan menghasilkan jumlah lintasan (siklus) lebih sedikit, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tebal lapis pemadatan nilai penurunannya akan semakin besar. Kata Kunci: simulasi model analisis pemadatan, pemadatan laboratorium dan lapangan, tebal lapis pemadatan, nilai penurunan. ABSTRACT This research studied compaction modelling between laboratory simulation test and field test using PLAXIS 2D 2017 based on finite element method. Each tests was carried out with the same energy variations to compare the discrepancy of the result. A model with the variation in load energy, cycle and thickness of compaction layer was made to simulate the field test, while for the laboratory test, only variation in load energy and thickness of compaction layer is used based on dry unit weight. The results of the laboratory compaction test of dry unit weight was 1.546 kN/m2, while the model simulation were 1.6 kN/m2. So the accuracy difference between both is 3.49%. Simulation of field model with variations in load at the same thickness of compaction layer shows that the greater load of compaction will produced less number of cycles. It can be concluded that the thicker compaction layer will increased settlement value. Keywords: compaction model analysis, field and laboratory compaction, thickness compaction and settlement.
Implementasi Konsep Green Campus di Kampus Itenas Bandung Berdasarkan Kategori Tata Letak dan Infrastruktur (Hal. 139-150) Santoso, Nur Diyanti; Akmalah, Emma; Irawati, Ira
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.541 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.139

Abstract

ABSTRAKGreen campus merupakan konsep yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan  lahir dari kesadaran manusia akan pentingnya berbagai kegiatan ramah lingkungan di lingkungan kampus. Kampus dinilai sebagai sarana yang tepat untuk mempromosikan konsep pembangunan yang berkelanjutan kepada civitas academica dan juga masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konsep green campus dalam kategori tata letak dan infrastruktur di kampus Itenas. Observasi, pengukuran, dan wawancara  dilakukan untuk mendapatkan data yang diperlukan, sedangkan untuk pengolahan data digunakan  metode scoring dan mixed method research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Itenas mendapatkan poin sebesar 730 poin dari poin maksimalnya yaitu 1500 poin. Secara keseluruhan, kekurangan yang Itenas miliki adalah lahan yang kurang untuk tanaman hutan, ruang terbuka yang kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan area yang tidak dapat diresapi air yang cukup besar. Kata kunci: green campus, tata letak dan infrastruktur, scoringABSTRACTGreen campus is a concept that support sustainable development and come from human awareness about the importance of varied eco-friendly activities in campus. Campus is considered to be a proper place to promote sustainable development concept  implementation to its community and surrounding society. This research aims to examine about the implementation of the green campus concept in the category of setting and infrastructure at the Itenas campus. Observation, measurement, and interview were conducted to gather required data, and scoring as well as mixed method were used for data processing and analysis. The results showed that  Itenas earned 730 points from its maximum points of 1500 points. In general, the shortcomings that Itenas has are inadequate area for forest vegetation, open space that can not be utilized optimally, and large area on campus covered in non retentive surface. Keywords: green campus, setting and infrastructure, scoring
Studi Optimalisasi Saluran Sekunder Reijam Kabupaten Karawang menggunakan Perangkat Lunak HECRAS (Hal. 51-60) Amelia, Fidha; Yosananto, Yedida
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 1, No 1: Desember 2015
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.821 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v1i1.51

Abstract

ABSTRAKAlih fungsi lahan sawah terus meningkat akibat kebutuhan lahan permukiman yang semakin bertambah. Kondisi tersebut berdampak pada sistem pertanian dan pengairan. Di area Permukiman Griya Indah Karawang terdapat Saluran Sekunder Reijam yang berfungsi mengairi lahan sawah seluas 100 ha yang telah ada sebelum area permukiman tersebut dibuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi Saluran Sekunder Reijam dengan merelokasikan saluran tersebut sehingga area Permukiman Griya Indah Karawang tidak terganggu dan dapat digunakan secara maksimal. Untuk mengindentifikasikan lokasi Saluran Sekunder Reijam yang baru, tinggi muka air sebagai salah parameter utama akan dikaji pada penelitian ini. Analisis perhitungan akan dilakukan baik secara manual dengan rumus Manning maupun menggunakan perangkat lunak HECRAS 4.1.0. Hasil analisis membuktikan bahwa Saluran Sekunder Reijam yang baru dapat disarankan untuk digunakan  sehingga sistem keseluruhan pengairan daerah yang bersangkutan dapat berfungsi sebaik mungkin.Kata Kunci: saluran sekunder, sistem pengairan, HECRAS, tinggi muka air. ABSTRACTRice field conversions continue to rise due to the needs of the growing residential land. This condition has an impact on agriculture and irrigation systems. Reijam secondary channel which was built long before the housing area of Griya Indah Karawang constructed irrigates a rice field area of 100 ha. This research is conducted to optimize the function of Reijam  secondary channel by relocating the channel so that the housing area can be used in the most optimum and desirable way. Water level as one important parameter was studied in this research to determine feasibility of the new location  of Reijam Secondary Channel. The analysis was done both manually using Manning formula and with the aid of HECRAS 4.1.0 software. The results proved that the new  location of Reijam Secondary Channel meets the standard and it can be proposed to be used for this irrigation area. This approach is recommended to ensure that the overall irrigation system can function effectively.Keywords: secondary channel, irrigation system, HECRAS, water level.
Kajian Perbandingan Kuat Tumpu Baut Sejajar Serat Hasil Uji Eksperimental dan SNI 7973:2013 (Hal. 40-47) Diredja, Nessa Valiantine
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 3: September 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.84 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i3.40

Abstract

ABSTRAKSambungan merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan dimensi kayu sesuai kebutuhan karena terbatasnya ukuran kayu. Kuat tumpu pasak pada kayu diperlukan pada perhitungan sambungan kayu. Melalui persamaan SNI 7973:2013 kuat tumpu pasak pada kayu dapat ditentukan berdasarkan berat jenis kayu, arah serat dan diameter pasak. Pada penelitian ini dilakukan pengujian eksperimental kuat tumpu baut sejajar serat pada 3 jenis kayu yang dibandingkan dengan analisis teoritis berdasarkan SNI 7973:2013. Pengujian dilakukan berdasarkan ASTM D5764-97a dengan menggunakan baut berdiameter 10 mm. Hasil penelitian menunjukan bahwa kuat tumpu baut hasil pengujian eksperimental nilainya lebih kecil apabila dibandingkan dengan persamaan berdasarkan SNI 7973:2013. Persen beda yang didapatkan adalah sebesar 52,57% untuk kayu Sengon; 18,01% untuk kayu Akasia dan 4,80% untuk kayu Meranti.Kata kunci: kuat tumpu pasak, sejajar serat, SNI 7973:2013.ABSTRACTConnection is one of method that can be used to get the dimension of wood as needed because the limited size of wood. Bearing strength of wood is required on timber connection calculation. According to SNI 7973:2013, bearing strength can be determined based on the spesific gravity, direction of grain and diameter of fasteners. This study compares the value of bearing strength parrallel to wood grain on 3 different types of wood obtain from experimental test with theoritically generated valued based on SNI 7973:2013. Experimental test is done based on ASTM D5764-97a using 10 mm diameter bolts. The result showed that the bearing strength of experimental test has less value compared with the equation based on the SNI 7973:2013. The percentage differences are 52,57% for Sengon; 18,01% for Acasia and 4,80% for Meranti.Keywords: dowel bearing strength, parallel to grain, SNI 7973:2013.
Studi Tentang Faktor Granular Tinggi pada Perancangan Campuran Beton Cara Dreux Gorrise (61-72) Azka, Afina; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 3: September 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.424 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i3.61

Abstract

ABSTRAKKuat tekan beton oleh Dreux Gorrise dirumuskan berbanding lurus dengan rasio berat semen terhadap berat air , serta berbanding lurus pula dengan faktor granular G. Besarnya G yang disarankan oleh Dreux yaitu 0,35-0,65. Semakin besar nilai G yang digunakan, semakin hemat kadar semen yang terdapat pada 1 m3 beton. Dreux mengungkapkan bahwa nilai G 0,65 dapat tercapai jika ukuran maksimum agregat yang digunakan lebih besar atau sama dengan 63 mm. Penelitian lebih lanjut oleh Saelan dan Thesia (2013) mengungkapkan bahwa nilai G sebesar 0,65 dapat juga dicapai pada campuran beton menggunakan ukuran agregat maksimum 20 mm. Kajian lanjut tentang formulasi nilai G tinggi oleh Saelan dan Thesia ternyata masih harus diteliti kembali. Berdasarkan hasil penelitian Saelan dan Thesia dilakukan penelitian kembali untuk membuat formulasi faktor granular tinggi yang lebih besar dari 0,60. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa nilai G tinggi 0,65 dan 0,70 dapat diformulasikan secara terukur menggunakan rumus                 G = 0,260 k. Nilai k diperoleh dari grafik hubungan antara nilai k dengan rasio volume pasir terhadap volume agregat gabungan, dengan syarat volume pasir sebesar 0,260 m3 dan rasio volume pasir terhadap volume agregat gabungan berkisar 0,342 – 0,417. Volume pasir yang tidak sama 0,260 m3 mengakibatkan kuat tekan beton yang dihasilkan berkurang.Kata kunci: kuat tekan beton, faktor granular tinggi, Dreux Gorrise. ABSTRACTCompressive strength of concrete formulated by Dreux Gorrise is linierly proportional to cement-water ratio , and granular factor G. The value of G suggested by Dreux is 0.35-0.65. The higher the value of G the more efficient cement content in   1 concrete. The value of G at 0.65 reached if the maximum aggregate size is greater or equal to 63 mm. Futher research by Saelan and Thesia reveal that the value of G at 0.65 also could be reached by using the maximum aggregate size of  20 mm. It turns out that the formulation of granular factor greater than 0.60 by Saelan and Thesia is still to be developed further more. Based on the result of Saelan and Thesia research was redeveloped the formulation of ganular factor greater than 0.60. The formulation proposed is G = 0.260 k where the value of k was obtained from graph which describes the relation between k and ratio of sand volume to mix aggregate volume. The condition of sand volume is 0.260 and ratio of sand volume to mix aggregate volume at the range of 0.342-0.417. The sand volume that not equal to 0.260 will reduce the compressive strength of concrete.Keywords: compressive strength of concrete, high granular factor, Dreux Gorrise.
Pendekatan Holistik dalam Mengidentifikasi Kendala Implementasi Green Construction di Indonesia. (Hal. 1-12) Podungge, Mohamad Rizal; Wimala, Mia; Soekiman, Anton
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.739 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.1

Abstract

ABSTRAKMeskipun green construction telah diperkenalkan di Indonesia lebih dari satu dekade, implementasi dari konsep tersebut belumlah berjalan sesuai harapan sampai saat ini. Dengan latar belakang tersebut, penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi kendala prioritas yang memiliki pengaruh besar terhadap implementasi green construction di Indonesia, dilihat dari sudut pandangan para pelaku di industri konstruksi. Kendala tersebut diidentifikasi dari kajian literatur terpilih yang membahas karakteristik kendala di beberapa negara,disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, serta divalidasi menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang paling berpengaruh adalah Komitmen Organisasi. Termasuk di dalamnya adalah tinjauan terhadap permintaan klien, pedoman dan standar yang ideal, dukungan rantai pasok hijau, kesadaran menerapkan prinsip K3, komitmen perusahaan dalam berinvestasi, serta penelitian dan pengembanganKata kunci: konstruksi berkelanjutan, green construction, kendala implementasi ABSTRACTAlthough green construction has been introduced in Indonesia for more than a decade, the implementation of this concept has not been running as expected to date. This study aims to identify priority constraints that have a major influence on the implementation of green construction in Indonesia, seen from the point of view of the actors in the construction industry. These constraints were identified from the literature review related to the characteristics of constraints in several countries, adapted to conditions in Indonesia, and validated using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The results showed that the most influential constraint was Organizational Commitment. This includes a review of client demand, guidelines and standards, green supply chain, awareness of health and safety, company commitment to invest in green construction, and research and development.Keywords: sustainable construction, green construction, implementatiton constraint
Efek Kadar Polycarboxylate Ether (PCE) terhadap Sifat Mekanik Beton Geopolimer Berbasis Fly Ash (Hal. 136-147) Putra, Eggidyo Parudhiwa; Herbudiman, Bernardinus; Irawan, Rulli Ranastra
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.677 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.136

Abstract

ABSTRAKPenambahan superplasticizer kedalam campuran beton geopolimer memiliki peranan penting untuk kemudahan pekerjaan. Akan tetapi, kualitas beton geopolimer tersebut harus tetap terjaga. Beton geopolimer merupakan beton tanpa semen dengan bahan pengganti semen harus berupa pengikat material yang mengandung silika dan alumunium yang tinggi seperti fly ash. Jenis fly ash yang digunakan pada penelitian yaitu fly ash Suralaya 1 dan Suralaya 2. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh kadar superplasticizer PCE terhadap sifat mekanik beton geopolimer yaitu slump flow, nilai pantul, cepat rambat gelombang, kuat tekan, kuat tarik belah, kuat tarik lentur, dan modulus elastisitas. Kadar superplasticizer PCE yang digunakan kadar 0,5%; 1,0%; 1,5%; dan 2,0%. Hasil dari penelitian diketahui bahwa kadar superplasticizer PCE optimum adalah 0,5% sampai 1,0% untuk beton geopolimer karena beton mendapatkan flow yang paling mengalir dan mutu dari sifat mekanik beton geopolimer yang baik.Kata kunci: beton geopolimer, superplasticizer PCE, slump flow, uji destruktif, uji non-destruktif ABSTRACTThe Addition of superplasticizer into geopolimer concrete mix  has an important role to improve the workability of concrete. However, the quality of the geopolimer concrete must always be maintenad. Geopolomer concrete is a concrete without cement where it can be replaced with binder material with high silica and alumunium content such as fly ash. The variant of fly ash used in this study is fly ash Suralaya 1 and Suralaya 2. The study was conducted to determine the effect of dosage PCE superplasticizer on mechanical properties of geopolymer concrete which is slump flow, rebound number, pulse velocity, compressive strength, splitting, flexural, and modulus elasticity. Dosage of PCE superplasticizer used 0,5%; 1,0%; 1,5%; dan 2,0%. The results of the study can be conclusion that the optimum dosage is 0,5-1,0% which best flow and best mechanical properties.Keywords: geopolimer concrete, superplasticizer PCE, slump flow, destructive test, nondestructive test
Tinjauan Kembali Mengenai Batasan Gradasi Agregat Kasar dalam Campuran Beton. (Hal. 118-125) Prasanti, Prilly Putri; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.55 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.118

Abstract

ABSTRAKPersyaratan gradasi agregat kasar pada SNI dinyatakan dalam modulus kehalusan. Modulus kehalusan yang disyaratkan untuk agregat kasar adalah 6,0–7,1. Batasan gradasi agregat kasar yang ditetapkan dalam SNI seringkali tidak dipenuhi dalam pelaksanaan pekerjaan beton, terutama jika menggunakan agregat kasar berukuran 40 mm, yang mengakibatkan modulus kehalusan agregat kasar lebih besar dari 7,1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai batasan gradasi agregat kasar untuk mengetahui pengaruh yang diakibatkan bila agregat kasar melampaui batasan rentang modulus kehalusan yang telah ditetapkan. Penelitian dilakukan dengan membuat campuran beton menggunakan cara Dreux untuk kuat tekan rencana 30 MPa, nilai slump rencana 30–60 mm dan 60–180 mm, serta modulus kehalusan agregat kasar 6,0; 6,5; 7,0; 7,5; dan 8,0. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa campuran beton dengan modulus kehalusan agregat kasar di atas 7,0 tidak berpengaruh terhadap kuat tekan beton, maka batasan gradasi agregat kasar dapat dikembangkan dari 7,1 hingga 8,0.Kata kunci: batasan gradasi, modulus kehalusan, agregat kasar, kuat tekan beton ABSTRACT The requirements of coarse aggregate gradation in SNI stated with the fineness modulus. The fineness modulus required for coarse aggregates is 6.0–7.1. The limitations set in SNI are often not met in the implementation of concrete work, especially if using 40 mm aggregates, resulting in fineness modulus greater than 7.1. Further research on the coarse aggregate gradation limits is needed to determine the effects when it exceeded. The research is done by making concrete mixtures using Dreux's method with concrete compressive strength design  30 MPa, slump design 30–60 mm and 60–180 mm, as well as the coarse aggregate fineness modulus 6.0, 6.5, 7.0, 7.5, and 8.0. The results reveal that concrete mixtures with coarse aggregate fineness modulus above 7.0 do not affect concrete compressive strength, so the coarse aggregate gradation limitation can be extended from 7.1 to 8.0.Keywords: gradation limits, fineness modulus, coarse aggregate, concrete compressive strength
Analisis Teknis Operasional Light Rail Transit Kota Bandung (Hal. 36-45) Muhammad, Afif Nur; Triana, Sofyan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.548 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.36

Abstract

ABSTRAKJumlah permintaan masyarakat akan transportasi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga volume kendaraan semakin padat dan menyebabkan terjadinya kemacetan. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah Kota Bandung membangun suatu sistem baru berupa transportasi massal berbasis rel yaitu Light Rail Transit (LRT). Data yang digunakan diperoleh dari Dinas Perhubungan Kota Bandung. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain potensi demand pada Tahun 2020, headway, load factor, waktu sirkulasi, kapasitas lintas dan Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA). Berdasarkan hasil analisis operasional diperoleh total pergerakan Tahun 2020 sebesar 1.508 penumpang per hari, nilai headway sebesar 251 menit dari Stasiun Babakan Siliwangi s.d. Stasiun Leuwipanjang ataupun dari arah sebaliknya, load factor tertinggi sebesar 79%, waktu sirkulasi sebesar 54,72 menit, dan dengan nilai headway tersebut jumlah kereta yang dapat beroperasi sebesar 6 KA/hari.Kata kunci: LRT, demand, headway, load factor ABSTRACTThe number of people demand for transportation from year to year has increase so that the volume of vehicles getting crowded and led to traffic jams. To overcome this the Government of Bandung to build a new system of rail-based mass transportation that is Light Rail Transit (LRT). The data was obtained from Bandung Transportation Departement. Analyzes conducted in this study include potential demand in Year 2020, headway, load factor, circulation time, cross capacity and railway travel graph. Based on operational analysis results obtained total movement of 2020 for 1,508 passengers per day, headway value of 251 minutes from Babakan Siliwangi Station to Leuwipanjang Station or from the opposite direction, the highest load factor of 79%, a circulation time of 54.72 minutes, and with the headway value the number of trains that can operate is 6 KA/day.Keywords: LRT, demand, headway, load factor