cover
Contact Name
Rawa El Amady
Contact Email
jurnalsakaai@gmail.com
Phone
+6287761229493
Journal Mail Official
jurnalsakaai@gmail.com
Editorial Address
Jurnal SAKAAI: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora - diterbitkan untuk mengembangkan dan memperkaya diskusi ilmiah bagi para sarjana yang menaruh minat pada isu-isu sosial budaya di Indonesia. Editor menerima artikel teoritis atau berbasis penelitian. Argumen penulis tidak perlu sejalan dengan editor. Kriteria artikel yang dikirimkan mencakup jenis artikel berikut: pertama, artikel menyajikan hasil penelitian etnografi/kualitatif dalam topik tertentu dan terkait dengan kelompok etnis/sosial di Indonesia; kedua, artikel ini merupakan pembahasan terperinci tentang penelitian terapan dan kolaboratif dengan keterlibatan yang kuat antara penulis dan subjek kolaborator dalam melaksanakan program intervensi atau inisiatif pembangunan lainnya. Artikel menekankan pada masalah sosial, politik, dan budaya; penulisan teoritis yang menguraikan teori sosial dan budaya yang dikaitkan dengan wacana teoritis antropologi, khususnya di Indonesia.
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SAKAAI Kajian Sosial dan Humaniora
ISSN : 30365950     EISSN : 30365950     DOI : -
Focus jurnal adalah kajian sosial dan Humaniora. Scope meliputi hasil penelitian, resensi, riview dan kajian teori.
Articles 42 Documents
The Cultural Meaning of Tebolak and Women's Agency in Preserving Collective Memory in Kabar Village, East Lombok Nur Laili Hidayah
Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 01 (2026): SAKAAI : Jurnal Sosial dan Humaniora
Publisher : AAI Pengda Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66919/sakaai.v3i01.90

Abstract

This ethnographic research  aims to explore the significance of tebolak culture, the traditional Sasak food cover craft, and to identify female agents in preserving the collective memory of the community in Kabar Village, East Lombok. Data were collected through participant observations, in-depth interviews with cross-generational women artisans, and documentation. The results of the study show that the significance of tebolak culture is manifested in every motif, color, and process of its making, which reflects the harmony of life, local cosmology, and social ethics of the Sasak people. Furthermore, this study reveals how women occupy a central position as the main actor (agent) in the transmission of cultural knowledge. In the midst of modernization and the onslaught of mass-produced products, the women in this artisan family are involved in a silent resistance to maintain the existence of tebolak. Through the process of weaving and weaving passed down from mother to daughter, they not only support the family household economy but also act as guardians of collective memory, connecting past generations with the present. This study concludes that the preservation of tebolak in Kabar Village is highly dependent on the resilience of Sasak women, which simultaneously integrate domestic, economic, and cultural roles
Resensi Buku Monograf: Sustainable Natural Resource Management: A Multidisciplinary Approach (Ed. Fiona Nunan, 2026) M.Rawa El Amady
Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 01 (2026): SAKAAI : Jurnal Sosial dan Humaniora
Publisher : AAI Pengda Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66919/sakaai.v3i01.91

Abstract

Buku Sustainable Natural Resource Management: A Multidisciplinary Approach merupakan kontribusi penting dalam memperluas dialog lintas disiplin mengenai pengelolaan sumber daya alam di era krisis ekologis global. Alih-alih menghasilkan sintesis transformatif, pendekatan yang digunakan cenderung mempertahankan koeksistensi disiplin tanpa menginterogasi kontradiksi epistemologis di antara mereka. Kritik politik ekologi terhadap kapitalisme ekstraktif, kolonialisme, dan ketimpangan ekologis belum sepenuhnya menjadi kerangka dominan dalam buku ini. konteks Indonesia, monograf ini lebih tepat diposisikan sebagai peta awal daripada kerangka final. Buku ini berguna untuk membuka medan dialog teoretis, tetapi tetap perlu diperkaya dengan literatur politik ekologi Indonesia, kajian dekolonial, dan pengalaman empiris masyarakat lokal yang selama ini berada di garis depan krisis ekologis. Dengan demikian, tantangan utama ke depan bukan hanya membangun ilmu pengetahuan yang multidisipliner, tetapi ilmu pengetahuan yang berpihak pada keadilan ekologis, menghormati epistemologi lokal, dan mampu membongkar struktur historis-ekstraktif yang terus mereproduksi krisis Antroposen di Global Selatan