cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 288 Documents
Studi Komparasi Sistem Pengelolaan Sampah dengan Biodigester (Kelurahan Cibangkong dan Kelurahan Cilengkrang) NESYA AMANDASARI H; SITI AINUN; ETIH HARTATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v4i2.%p

Abstract

ABSTRAKBiodigester merupakan teknologi pengolahan dengan penambahan mikroorganisme sebagai starter agar mempercepat proses dekomposisi material organik tanpa udara. Biodigester dapat menghasilkan gas dan pupuk cair organik serta mengurangi timbulan sampah di Cibangkong dan Cilengkrang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kelayakan substrat, kualitas pupuk cair, dan efisiensi pengurangan sampah. Kelurahan Cibangkong dan Cilengkrang telah memiliki biodigester. Pemasukan substrat untuk biodigester di Cibangkong menggunakan sistem kontinyu, sedangkan di Cilengkrang menggunakan sistem semi kontinyu. Wilayah Cibangkong termasuk daerah perkotaan dan Cilengkrang termasuk ke dalam daerah pedesaan, sehingga terdapat perbedaan pola hidup dan kuantitas timbulan sampah.Tahapan penelitian ini meliputi pengukuran karakteristik sampah, kualitas pupuk cair, dan efisiensi pengurangan sampah. Hasil pengukuran di laboratorium karakteristik sampah telah memenuhi rasio C:N:P pada proses anaerob, dimana wilayah Cibangkong yaitu 32:1592:50 dan Cilengkrang 31:8142:267. Kualitas pupuk cair dikedua wilayah studi telah memenuhi standar pH, dimana wilayah Cibangkong yaitu 9 dan Cilengkrang yaitu 5. Efisiensi pengurangan sampah dengan biodigester yang paling tinggi terdapat pada wilayah Cilengkrang sebesar 14,25%sedangkan untuk Cibangkong sebesar 0,67%. Kata kunci: Biodigester; kelayakan substrat; kualitas pupuk; efisiensi pengurangan sampah
Penentuan Efisiensi penyisihan Kromium Heksavalen (Cr6+) dengan Adsorpsi menggunakan Tempurung Kelapa secara kontinyu ANITA NURFITRIYANI; EKA WARDHANI; MILA DIRGAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i2.57-68

Abstract

AbstrakKeberadaan logam Kromium yang berasal dari air buangan industri di sungai memberikan dampak terhadap lingkungan dan dapat mengganggu kesehatan manusia. Logam Kromium pada air buangan industri dijumpai berupa Kromium trivalent (Cr3+) dan Kromium heksavalen (Cr6+). Cr6+ memiliki sifat yang lebih tosik dibandingkan Cr3+ sehingga dapat menimbulkan uklus pada jaringan kulit dan menyebabkan peradangan pada rongga hidung pada jangka panjang. Salah satu upaya untuk mengendalikan Cr6+ dengan adsorpsi menggunakan tempurung kelapa sistem kontinyu. Penelitian dilakukan untuk mengetahui penyisihan Cr6+ dalam skala laboratorium dengan menggunakan larutan artificial K2Cr2O7. Penelitian pendahulun adalah adsorpsi sistem batch bertujuan  untuk mendapatkan waktu serta konsentrasi optimum. Hasil dari waktu optimum 3 jam dan konsentrasi Cr6+ 5 mg/L dengan menggunakan 5 g tempurung kelapa,  dilanjutkan oleh adsorpsi dengan sistem  kontinyu yang merupakan penelitian inti. Hasil waktu dan konsentrasi optimum pada penelitian sistem batch dikombinasikan dengan 6 variasi debit (Q = 100 L/menit & 120 L/menit) dan tinggi adsorben (10, 15, & 20 cm). Keenam variasi tersebut dipompakan melewati  kolom yang berukuran tinggi 80 cm, diameter luar 5 cm, diameter dalam 4 cm, dan berbahan borosilikat. Dari hasil penelitian didapat efisiensi penyisihan Cr6+ terbesar 39,35%(100 L/menit;20cm) dan efisiensi penyisihan Cr6+ terkecil 22,95% (120 L/menit;15 cm).Kata kunci: Kromium Heksavalen, Adsorpsi, Tempurung Kelapa.
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) YUNITA RACHMAH HAFIDZAH; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Pemilihan Skenario Kebutuhan Air Minum pada Pengembangan Jaringan Distribusi Air Minum di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Provinsi Banten Henry Yosua; Mohamad Rangga Sururi
Jurnal Reka Lingkungan Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v3i2.%p

Abstract

Abstrak Kecamatan Cipondoh adalah bagian dari Kota Tangerang yang akan dikembangkan sebagai kawasan permukiman menengah, rendah serta perdagangan dan jasa  skala regional. Luas wilayah adalah sebesar 1.938,1 Ha yang terbagi kedalam sepuluh kelurahan. Kecamatan Cipondoh membutuhkan pengembangan pelayanan air bersih karena PDAM hanya dapat melayani 3,5% dari jumlah penduduk di Kecamatan Cipondoh. Kecamatan Cipondoh juga memiliki jumlah kejadian penyakit bawaan air terbanyak di Kota Tangerang. Evaluasi terhadap jaringan eksisting menunjukkan sisa tekan antara 59,97 m - 40,52 m, kecepatan antara 0,02 m/detik - 0,73 m/detik, headloss maksimum sebesar 7,55 m/km. Hasil perhitungan diperoleh dari software Epanet 2.0. Pada perencanaan jaringan distribusi yang baru, perlu diperhitungkan dengan baik kebutuhan air yang akan dialokasikan untuk suatu wilayah perencanaan. Periode perencanaan adalah 20 tahun dengan skenario pertama adalah optimasi jaringan dengan cakupan pelayanan yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan skenario kedua adalah meningkatkan cakupan hingga 80% pelayanan dengan adanya bantuan pihak luar. Berdasarkan analisa ditinjau dari aspek teknis dan non teknis, skenario kedua dipilih sebagai acuan perencanaan. Qrata-rata sebesar 1.260,81 l/dtk, Qpeak sebesar 2.912,48 l/dtk.Kata kunci: kebutuhan air minum, pengembangan jaringan distribusi, Tangerang, Cipondoh. 
Pemilihan Alternatif Jaringan Distribusi di Kelurahan Batununggal dan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung ALYES HAKASPENO HAKASPENO; RACHMAWATI S.DJ
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.11-22

Abstract

AbstrakKelurahan Batununggal dan Mengger merupakan daerah cakupan pelayanan PDAM Tirtawening, dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 sebanyak 29.190 jiwa. Walaupun tingkat pelayanan jaringan distribusi air minum daerah tersebut sebesar 24%, tetapi pipa eksisting merupakan pipa asbes yang tua. Oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan baru agar daerah tersebut dapat terlayani oleh jaringan PDAM dengan memanfaatkan sumber air dari IPA Cikalong. Periode perencanaan adalah 20 tahun, sampai dengan tahun 2039. Proyeksi total kebutuhan air rata-rata untuk tahun 2039 adalah sebesar 80,13 l/dtk. Perencanaan jaringan distribusi dilakukan dengan membuat 3 alternatif jaringan. Dari ketiga alternatif ini dipilih salah satu alternatif terbaik secara hidrolis dengan menggunakan metode Weight Ranking Technique (WRT). Analisis hidrolis dilakukan dengan menggunakan aplikasi Epanet 2.0, yang mengacu kepada kriteria sesuai dengan Permen PU No.18 Tahun 2007. Alternatif terpilih untuk wilayah perencanaan adalah alternatif ke-3, yaitu yang menggunakan pola gabungan (cabang dan loop). Dari hasil analisis hidrolis diperoleh sisa tekan, kecepatan aliran, dan headloss sebesar berturut-turut 15,89 m – 41,60 m,  0,33 m/dtk – 2,08 m/dtk dan  9,88 m/km. Pipa yang digunakan adalah jenis High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Kata Kunci: Air Minum, Analisis Hidrolis, Jaringan Distribusi.AbstractBatununggal and Mengger Sub-Districts are areas that meet the services of the Tirtawening PDAM, with a total population in 2016 of 29,190 people. Although the service level of the drinking water distribution network is 24%, the existing pipes are old asbestos pipes. Therefore, new planning needs to be done so that it can be served by PDAMs using sources from the Cikalong WTP. The planning period is 20 years, until 2039. The projected total average air demand for 2039 is 80.13 l / sec. Distribution network planning is done by making 3 alternative networks. From one of these alternatives Choose one of the best alternatives using the Weight Ranking Technique (WRT) method. Hydraulic analysis is carried out using the Epanet 2.0 application, which refers to criteria in accordance with Permen PU No.18 of 2007. The alternative chosen for regional planning is the 3rd alternative, which uses a pattern combination (branch and loop). From the results of the hydraulic analysis the remaining compressive pressures, flow velocity, and headloss were agreed at 15.89 m - 41.60 m, 0.33 m / sec - 2.08 m / sec and 9.88 m / km. The pipe used is the type of High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Keywords: Drinking Water, Hydraulic Analysis, Distribution Networks.
Perencanaan Sistem Instalasi Plambing Air Buangan Gedung Hotel Tebu Krishna Moch Reza; Kancitra Pharmawati; Anindito Nurprabowo
Jurnal Reka Lingkungan Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v5i1.%p

Abstract

ABSTRAK Perencanaanplambing air buanganpadagedung Hotel Tebu yang berlokasi di Kota Bandung dirancanguntukmemenuhi salah satu fasilitas sanitasi di dalam gedung Hotel Tebu.Sistem plambing air buangan yang direncanakan meliputi pembuatan jalur dan perhitungan dimensi pipagrey water, black water, danventberdasarkan acuan SNI 03-6481–2000 tentang sistem plambingdan SNI 03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing Dan Perhitungan Perkiraan penggunaan jumlah pipa dan aksesoris yang digunakan. Hasilperhitungan yang diperolehmenunjukan diameter pipagrey water 50 mm -100 mm, diameter pipa black water 100 mm dengankemiringanpipaadalah2%dandiameter ventadalah 32 mm -100 mm. Untukjenispipa yang digunakandalampenyaluran air buanganadalahjenispipa PVC. Pipa grey water yang dibutuhkan sepanjang 327,75 m. Pipa black water yang dibutuhkan sepanjang 255, 29 m. Pipa vent yang dibutuhkan sepanjang 86,02 m. Kebutuhan asesoris  yang digunakan yaitu elbow90°, elbow45°, reducer, dan Y tee dengan diameter 32 mm – 100 mm. Kata kunci:air buangan, diameter, plambing, sanitasi
Identifikasi Timbulan Sampah di Pasar Induk Caringin Bandung JULINDA DJAFAR; SITI AINUN; MILA DIRGAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v2i1.%p

Abstract

AbstrakBesarnya timbulan sampah yang dihasilkan tidak sebanding dengan upaya pengelolaan yang oleh pihak KOPPAS (Koperasi Pasar) terlihat dari kondisi sampah yang berserakan di mana-mana. Untuk itu dilakukan penelitian ini agar dapat mengetahui besar timbulan sampah yang dihasilkan sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pengelolaan sampah di Pasar Induk Caringin. Pengukuran timbulan sampah dilakukan sesuai dengan metode dalam SNI 19-3964-19914. Data yang diambil adalah berat sampah dan luas bangunan. Hasil penelitian menunjukan total timbulan sampah di Pasar Induk Caringin Bandung sebesar 1,64 kg/m2/ atau 7,44 liter/m2/hari. terdiri dari 16 pedagang seperti pedagang sayur, buah dan ikan basah. Kelompok kedua terdiri dari Sembilan pedagang terdiri dari pedagang  daging, beras kelontongan 2 lantai, kelontongan 3 lantai, grosir, elektronik, kosmetik pakaian jadi, kue dan plastik. Dan 3 area antara lain adalah area ruko, los dan kaki lima.Kata kunci: Timbulan sampah, Pasar, berat.
Fitoremediasi Phospat dengan menggunakan Tumbuhan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) pada Limbah Cair Industri kecil Pencucian Pakaian (Laundry) CUT ANANDA STEFHANY; MUMU SUTISNA; KANCITRA PHARMAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i1.13-23

Abstract

ABSTRAKPeningkatan industri pencucian pakaian dapat menimbulkan pencemaran air yang mengakibatkan eutrofikasi, Hal ini disebabkan oleh fosfat yang merupakan bahan penyusun utama dalam deterjen, sehingga perlu dilakukan alternatif pengolahan dan pengaplikasian yang efektif untuk mengolah limbah ini, salah satunya dengan menggunakan fitoremediasi. Fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, menstabilkan atau menghancurkan bahan pencemar baik senyawa organik maupun anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan tumbuhan Eceng gondok dalam menurunkan fosfat pada limbah pencucian pakaian dengan 3 perlakuan yaitu kontrol, 3 tumbuhan Eceng gondok, dan 3 tumbuhan Eceng gondok bebas bakteri aktif rhizosfer dengan pengamatan waktu kontak 0, 5, 10, 15, dan 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi fosfat oleh Eceng gondok yang paling optimum adalah pada perlakuan 2 dan perlakuan 3 pada hari ke-5 dengan konsentrasi fosfat <0.01 mg/L. Sedangkan efisiensi penyerapan dan akumulasi fosfat optimum pada Eceng gondok selama 20 hari didapat pada perlakuan 3 yaitu akumulasi pada akar sebesar 14.90 % dan tangkai daun 20.05 %.Kata kunci : Eceng gondok , Fitoremediasi, fosfatABSTRACTThe laundry industries may effective water pollution resulting in eutrophication. This was caused by phosphate which is the main substance in detergents, it need alternative technology for laundry waste water treatment. Phytoremediation is the use of plant to deprive, stabilize or destroying material contaminant organic compounds and inorganic. The aims of the research was know ability of Eichhornia crassipes  to absorp phosphate, in the methodology were use three treatment first as a control, three Eichhornia crassipes, and three Eichhornia crassipes  free bacteria active rhizosfer with the observation time contact 0, 5, 10, 15, and 20 days. The result showed that the optimum phosphate concentration decreased by Eichhornia crassipes with second treatment and third treatment in a fifth day, with concentration phosphate <0.01 mg/L. The efficiency while absorption and accumulation of phosphate optimum  Eichhornia crassipes for twenty days was in third treatment at accumulated with 14.90 % in roots and 20.05 % in petiole.Key words : Eichhornia crassipes, Phytoremediation, phosphate
Identifikasi Konsentrasi Sisa Ozon pada Proses Ozonisasi Konvensional dan Advanced Oxidation Process (AOP) Tipe Ozon/H¬2O2 untuk Pengolahan Lindi Dari TPA Aktif WULAN NURIANA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v4i1.%p

Abstract

Abstrak Karakteristik lindi dapat memberikan pengaruh terhadap kelarutan ozon. Prinsip pengukuran ozon terdiri atas dua metode, yaitu secara langsung dengan metode spektrofotometri dan tidak langsung melalui pengukuran oksigen terlarut. Pada penelitian ini menggunakan pengukuran ozon secara tidak langsung.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsentrasi sisa ozon pada proses ozonisasi konvensional maupun Advanced Oxidation Process (AOP) menggunakan ozon dengan penambahan H2O2 yang dilakukan pada lindi TPA yang berumur kurang dari 10 tahun. Penelitian ini menggunakan reaktor semi batch bervolume 1,5 Liter. Pengambilan data konsentrasi sisa ozon selama penelitian dilakukan melalui pengukuran oksigen terlarut pada setiap interval waktu 30 menit selama 180 menit. Variasi yang digunakan adalah ozonisasi konvensional dan penambahan H2O2 sebanyak 1,197 g/L dan 1,796 g/L. Nilai koefisien transfer total (KLa) didapatkan melalui pengukuran oksigen terlarut. KLapada ketiga variasi relatif sama berkisar pada 0,0014–0,0018. Kata kunci: Lindi, TPA Sarimukti, ozonisasi, AOP, KLa.
Identifikasi Senyawa BTEX pada Asap Kendaraan Bermotor Roda Dua YUSUF EKA MAULANA; TRISNA YULIANA; AINI ASPIATI ROHMAH
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.71-83

Abstract

 AbstrakPenggunaan kendaraan bermotor roda dua di Indonesia semakin berkembang pesat. Semakin tinggi tingkat penggunaan transportasi yang beroperasi disuatu daerah, maka akan semakin tinggi pula potensi pencemaran udara di daerah tersebut. Jika pembakaran pada kendaraan bermotor tidak sempurna maka dapat dihasilkan senyawa yang berbahaya yaitu benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), dan xylene (C8H10) atau biasa disingkat BTEX. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa BTEX dan senyawa hidrokarbon lainnya dalam asap kendaraan bermotor dengan menggunakan kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS). Hasil identifikasi menunjukkan adanya hubungan yangsangat kuat antara standard dengan hasil pengukuran yaitu dengan R2 di atas 0,99. Identifikasi menunjukkan senyawa BTEX yang terbentuk adalah Benzene, Toluene, Etil Benzene, Xylene.Kata kunci: kendaraan bermotor, hidro karbon, BTEX, GC-MS.AbstractThe use of two wheels motorized vehicles or motorcycles in Indonesia is growing rapidly. It has been known that the greater the number of two wheels motorized vehicles the higher the potential for air pollution. If the combustion occur incomplete, hazardous compounds can be generated, namely benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), and xylene (C8H10) or commonly abbreviated BTEX. The purpose of this study was to identify BTEX compounds and other hydrocarbon compounds in motor vehicle fumes using gas chromatography-mass spectrometers. The identification results indicate a very strong relationship between the standard and the measurement results, with R2 above 0.99. Identification shows that BTEX compounds formed are Benzene, Toluene, Ethyl Benzene, Xylene. Keywords: motorcycles, hidro karbon, BTEX, GC-MS.