cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 288 Documents
Fermentasi Sampah Buah Nanas menggunakan Sistem Kontinu dengan bantuan Bakteri Acetobacter Xylinum Elga Malviane
Jurnal Reka Lingkungan Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v2i1.%p

Abstract

Abstrak Kadar glukosa yang terkandung di dalam buah Nanas sebesar 23,6% dapat dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum dalam proses fermentasi menjadi lembaran selulosa, dimana lembaran selulosa tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku kertas. Proses untuk menghasilkan lembaran selulosa menjadi bahan baku kertas tentunya membutuhkan suatu penelitian. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui optimasi proses fermentasi yang memanfaatkan sampah buah nanas terhadap pembentukan lapisan selulosa dengan sistem reaktor kontinu skala laboratorium yang dioperasikan pada suhu 30oC dengan pH 4,5. Pada sistem reaktor kontinu terdapat proses penambahan dan pengambilan substrat ketika bakteri telah mencapai keadaan steady state. Adapun parameter yang dianalisa pada pecobaan ini yaitu BOD5, COD, TPC, ketebalan selulosa, kadar air, kadar abu, kadar total selulosa, dan panjang serat. Hasil yang paling baik menunjukkan bahwa pada kecepatan aliran (Vc) sebesar 0,23 mL/menit dengan adanya penambahan oksigen mampu menurunkan parameter BOD5 sebesar 49,9%, COD sebesar 50% dan meningkatkan TPC sebanyak 80% dengan ketebalan selulosa 3 mm. Kata kunci: Sampah Buah Nanas, Fermentasi, Acetobacter xylinum, Selulosa, Sistem Kontinu
Karakteristik Anorganik PM10 di Udara Ambien terhadap Mortalitas dan Morbiditas pada Kawasan Industri di Kota Bandung PUTRI PUJIASTUTI; JULI SOEMIRAT; MILA DIRGAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i1.24-34

Abstract

ABSTRAKPencemaran udara merupakan permasalahan yang sedang berkembang saat ini, khususnya di Kota Bandung. Salah satu jenis pencemar udara adalah partikulat. Karena sifatnya yang aerodinamis partikulat dapat masuk ke dalah tubuh. Dampak yang dapat ditimbulkan dari adanya partikulat dalam tubuh, yaitu memicu terjadinya gangguan saluran pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak komposisi anorganik partikulat terhadap mortalitas dan morbiditas. Pemantauan kualitas udara ambien yang mewakili kawasan industri dipantau di kawasan Cisaranten Wetan. Konsentrasi PM10 yang terukur sebesar 40,524 µg/N.m3. Komposisi anorganik yang dapat menyebabkan ISPA adalah Na, K, Mg, Mn, Zn, Cd, Cr, Cu, Co, As, sedangkan komposisi anorganik yang tidak menyebabkan ISPA adalah Hg, Fe, Ni dan Pb. Parameter morbiditas yang diukur dengan insidensi ISPA 2011 sebanyak 263 kasus dari 1000 penduduk dan parameter mortalitas menggunakan AKK sejumlah 2 kasus dari 1000 penduduk. Kata kunci: PM10, mortalitas, morbiditas ABSTRACTAir pollution is a problem that is being developed at this time, especially in the city of Bandung. One type of air pollutant is particulate. Because of its aerodynamic dalah particulates can enter the body. Impacts that may result from the presence of particulates in the body, namely the emergence of respiratory diseases and skin diseases. This study aims to determine the impact of the composition of inorganic particulates on mortality and morbidity. Ambient air quality monitoring that represent the industry in the region Cisaranten Wetan monitored. PM10 concentrations measured at 40.524 μg/N.m3. Inorganic composition which can cause respiratory infection is the Na, K, Mg, Mn, Zn, Cd, Cr, Cu, Co, As, while the inorganic composition that does not lead to ISPA is Hg, Fe, Ni and Pb. Parameters measured by the incidence of morbidity 2011 as many as 263 cases of ARI of 1000 population and mortality parameters using a CDR 2 cases out of 1000 inhabitants. Keywords: PM10, mortality, morbidity
Evaluasi Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih di Kecamatan Pontianak Selatan Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat GOBERTH ATTO SARUNGALLO
Jurnal Reka Lingkungan Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v4i1.%p

Abstract

Abstrak Kecamatan Pontianak Selatan merupakan bagian dari Kota Pontianak yang berperan sebagai pusat pemerintahan, dengan luas wilayah 14,54 km2danjumlahpendudukpadatahun 2013adalah126.520 jiwa. Tidak mengalirnya air pada jam puncak (jam 06.00 dan 18.00) dan tingkat kehilangan air yang cukup tinggi yaitu 29.4% menjadidasaruntukmelakukanperbaikan jaringan distribusi. Guna memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah tersebut, maka dilakukan evaluasi hidrolis sistem distribusi air bersih. Hasil yang diperolehdari evaluasi jaringan distribusi eksisting menggunakan Epanet 2.0adalah16 junctiondengansisatekankurangdari 10 meter, 71 junctiondengansisa tekan lebih dari 10 meter, 30 pipadengankecepatan aliran yang kurang dari 0,3 m/detik dan lebih dari 2 m/detik,23 pipadengan kecepatan aliran antara 0,3-2 m/detik berjumlah 45 pipa, 23 pipa denganheadloss yang lebih dari 10 m/km 23 pipa, 70 pipa denganheadloss yang kurang dari 10 m/km berjumlah. Sehinggaberdasarkanhasilevaluasisystemjaringandistribusi air bersih di Kecamatan Pontianak Selatan memerlukanpenyesuaian diameter pipa jaringan air bersih. Kata Kunci: air bersih, EPANET 2.0,Pontianak selatan
Penyusunan Alat Ukur Partisipasi Birokrat dalam Program Pengurangan Sampah di Kota Bandung AFIFAH TRI LARASATY; JULI SOEMIRAT; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.84-94

Abstract

AbstrakProgram pengurangan sampah diwujudkan dengan keterlibatan aktif masyarakat maupun pihak pengelola sampah. Dalam mewujudkan keberhasilan suatu program pengurangan sampah di dalam implementasinya juga melibatkan pihak birokrat yang seringkali berperan baik sebagai inisiator, penyelenggara, maupun pengawas program. Terkait hal tersebut, diperlukan adanya sebuah penelitian untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam program-program yang diselenggarakan dengan menggunakan teori Arnstein (A Ladder Of Citizen Participation).Teknik stratified sampling diterapkan untuk menentukan sampel. Penilaian dilakukan dengan skoring dan ranking. Hasil penelitian didapat sebuah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam pengelolaan sampah, yaitu berupa daftar pertanyaan, yang terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian identitas, umum, dan khusus. Alat ukur utama adalah di bagian khusus yang memiliki 13 pertanyaan yang sudah mencakup pertanyaan terkait tiga tahapan partisipasi, dengan parameter sarana dan prasarana, aturan, kerjasama, pendampingan, dana, serta monitoring dan evaluasi.Kata kunci : Birokrat, Partisipasi, Pengurangan sampahAbstractWaste reduction programs is realized with the active involvement of the community as well as waste management. A waste reduction program in its implementation will also involve bureaucrats who often acts as initiator, organizer, as well as program supervisor. It is therefore important to measure the level of participation of bureaucrats in waste reduction programs using the Arnstein theory (A Ladder Of Citizen Participation). Stratified sampling technique was used to determine the sample size. Assessment was done by scoring and ranking. The result a of this study is a measurement tool that can be used to measure the level of participation of bureaucrats in waste management, namely in the form of a questionnaire, which consists of three parts, namely the identity part, the general, and the special part, i.e., the part on participation. The main measuring tool was in the special section, which  has 13 questions related to the three stages of participation, including infrastructure parameters, rules/regulations, teamwork, mentoring, funding, monitoring , and evaluation.Keywords: Bureaucrats, Participation, Waste reduction
Kelarutan Ozon pada Proses Ozonisasi Konvensional dan Advanced Oxidation Process (O3/H2O2) pada Lindi Effluent Pengolahan Sandi Gelardiansyah; Mohamad Rangga Sururi; Siti Ainun
Jurnal Reka Lingkungan Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v3i2.%p

Abstract

AbstrakLindi merupakan limbah cair yang dihasilkan dari proses pengurugan. Proses dengan ozon maupun AOP (O3/H2O2) dapat diterapkan sebagai pengolahan lanjutan mengingat efisiensi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Lindi) eksisting hanya menyisihkan COD sebesar 13,94%. Transfer gas dipengaruhi oleh variasi perlakuan, dalam hal ini pengukuran KLaO3bertujuan untuk mengetahui kelarutan ozon yang ada di setiap variasi. Variasi perlakuan diantaranyadengan ozonisasi konvensional dan AOP (ozon/H2O2 dengan dosis 1,197 g/L dan 1,795 g/L). Ozon dihasilkan dari generator yang dialiri oksigen murni dengan debit 3 L/menit dan dikontakkan dengan lindi pada kondisi suhu ruang (25±3ºC) dengan sistem semi batch. Proses dengan AOP melalui penambahan H2O2 dapat meningkatkan pembentukan OH●,hal ini ditandai dengan kecilnya nilai Kla O3 pada variasi ozon/H2O21,795 g/L yaitu sebesar0,0023 dibandingkan variasi lainnya seperti ozon konvensional dan ozon/H2O21,197 g/L(0,0047 dan 0,0026). Proses dengan AOP (ozon/H2O21,795 g/L) menunjukkan hasil yang terbaik, kecilnya kelarutan ozon pada proses AOP mengindikasikan banyaknya ozon yang terdekomposisi menjadi OH●dan proses didominasi oleh reaksi tidak langsung melalui OH●.Kata kunci: Lindi, Kla O3 ,Ozon dan H2O2, OH●
Tipikal Rantai Pasok pada Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) Operator untuk Sumber Air Permukaan INNIKE DWI PUTRI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v5i2.%p

Abstract

Abstrak Air merupakan sumber daya mutlak yang harus ada bagi kehidupan, sehingga diperlukan upaya untuk memastikan secara konsisten keamanan suplai air minum. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisa dan manajemen resiko dari sumber hingga ke konsumen. Pendekatan ini disebut Water Safety Plan (WSP), kemudian diadopsi Indonesia menjadi Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) yang dikeluarkan oleh Kementerian PU. Mengacu pada manual tersebut, langkah awal untuk mengelola sumber daya air ini adalah membuat rantai pasok, sehingga dapat mempermudah dalam mengidentifikasi resiko dan kejadian bahaya. Dikarenakan mayoritas PDAM di Indonesia memanfaatkan air permukaan sebagai sumber air bakunya, maka pada perencanaan bentuk tipikal ini dilakukan pada air permukaan. Tujuan dari dibentuknya tipikal rantai pasok ini agar dapat digunakan sebagai acuan oleh semua PDAM yang memanfaatkan air permukaan sebagai air bakunya dalam pembuatan dokumen RPAM-Operator. Pembuatan tipikal rantai pasok dilakukan dengan mengkompilasi dan melakukan penelaahan terhadap bentuk rantai pasok yang dibuat oleh PDAM Kota Banjarmasin, PDAM Kota Bandung, PDAM Kota Denpasar serta PDAM Kabupaten Bandung di dalam dokumen RPAM-nya. Pada akhirnya, dihasilkan empat bentuk tipikal rantai pasok berdasarkan dari bentuk topografi dan daerah pelayanan. ke empat rantai pasok ini terdiri dari rantai pasok untuk daerah dataran, daerah berbukit, daerah cekungan dan untuk daerah landai. Kata kunci: RPAM, Rantai Pasok, Air Permukaan.
Ketercapaian Sasaran 4K dalam Pelaksanaan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) di PDAM Tirta Dharma Kota Malang DEWI SHANTY; RACHMAWATI S DJ
Jurnal Reka Lingkungan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v8i2.112-120

Abstract

AbstrakPDAM Kota Malang sebagai sarana penyedia air minum di Kota Malang, diharapkan mampu mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, yaitu akses terhadap air minum mencapai 100% di tahun 2019. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut, yaitu melalui Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM), dengan memperhatikan sasaran aspek 4K (kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan). Sasaran 4K tersebut, yaitu K1 sebagai acuan air minum yang layak dikonsumsi, K2 sebagai jumlah air minimum yang dikonsumsi masyarakat dengan memperhitungkan kehilangan air, K3 sebagai acuan pengaliran tak terputus selama 24 jam, dan K4 sebagai kesanggupan masyarakat untuk membayar harga air sesuai dengan tarif air yang telah diberlakukanberdasarkan peraturan yang dipersyaratkan. Hasil evaluasi menunjukkan PDAM Kota Malang telah mencapai sasaran 4K dan mampu melaksanakan RPAM. Hal tersebut didukung oleh sistem online yang telah dikembangkan untuk menjamin keamanan pendistribusian air minum kepada masyarakat.Kata kunci: PDAM Kota Malang, RPAM, Sasaran 4K  AbstractPDAM Kota Malang as a drinking water supply in Malang City, is expected to reach the target of National Medium Term Development Plan (RPJMN) 2015-2019, that is access to drinking water reaches 100% in 2019. The efforts that can be conducted to achieve the target through the Drinking Water Security Plan (RPAM), by focusing on 4K aspects(quality, quantity, continuity and affordability). The 4K aspects, such as K1 as a reference for drinking water that is suitable for consumption, K2 as the minimum amount of water consumed by the community taking into water losses, K3 as a reference for uninterrupted for 24 hours, and K4 as the ability of the community to pay the price of water based on the regulations required. The evaluation results show that PDAM Kota Malang reached the 4K aspects and be able to implement RPAM. This is supported by an online system that has been developed to safe the distribution of drinking water to the public.Keywords: PDAM Kota Malang, RPAM, 4K Aspects
Perencanaan Sistem Instalasi Plambing Air Bersih Gedung Hotel Tebu JUNIA AFFIANDI; KANCITRA PHARMAWATI; ANINDITO NURPRABOWO
Jurnal Reka Lingkungan Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v4i2.%p

Abstract

ABSTRAKKota Bandung merupakan kota pariwisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan, maka diperlukan tempat penginapan sementara berupa hotel. Hotel Tebu merupakan hotel berbintang. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari pada penghuni hotel maka dirancang sistem perpipaan air bersih, perencanaan sistem instalasi plambing air bersih di hotel Tebu mengacu pada standar SNI 03-6481-2002 dan SNI 03-7065-2005. Konsep Green Building pada aspek konservasi air diterapkan pada perencanaan plambing air bersih karena persediaan sumbar air tanah yang semakin berkurang di Kota Bandung, didalam konsep Green Building sistem instalasi plambing air bersih akan dipisahkan menjadi dua jalur berdasarkan kegunaannya, yaitu air bersih kelas satu dan kelas dua. Penggunaan konsep Green Building ini menghasilkan penghematan air sebesar 54,43 % dari total kebutuhan air bersih sebesar 79 m3/hari. Hasil perhitungan dan penentuan jalur ini menghasilkan jalur pipa air bersih dengan diameter pipa mendatar 20 sampai 80 mm, dan diameter pipa tegak 50 sampai 80 mm.Kata kunci: plambing, green building, konservasi air
Fitoremediasi Limbah Cair Tapioka dengan menggunakan Tumbuhan Kangkung Air (Ipomoea aquatica) RIKA NURKEMALASARI; MUMU SUTISNA; EKA WARDHANI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i2.81-92

Abstract

AbstrakIndustri tapioka menimbulkan pencemaran air yang mengakibatkan penurunan kualitas air. Suatu teknologi seperti fitoremediasi diperlukan untuk menurunkan parameter pencemar limbah cair tapioka. Pada fitoremediasi mikroorganisme bekerjasama dengan tumbuhan untuk mendegradasi parameter pencemar. Penelitian fitoremediasi ini menggunakan Ipomoea aquatica yang bertujuan untuk mengetahui perlakuan optimum dalam menurunkan parameter BOD5, COD, TSS dan sianida pada limbah cair tapioka sehingga tidak melebihi baku mutu SK Gub Jabar no. 6 tahun 1999. Penelitian pendahuluan diperoleh hasil Ipomoea aquatica dapat tumbuh pada limbah cair tapioka 25%. Penelitan utama dilakukan 16 hari dengan tiga perlakuan (kontrol, Ipomoea aquatica 100 gram dan Ipomoea aquatica 200 gram). Perlakuan optimum menggunakan Ipomoea aquatica 200 gram yaitu BOD5 81,13% hari ke 16, COD 78,57% hari ke 16, TSS 59,29% hari ke 12 dan sianida 50% hari ke 4. Pertumbuhan biomassa kangkung air yang paling cepat terdapat pada Ipomoea aquatica 200 gram dengan laju pertumbuhan 67,05%. Setelah 16 hari Ipomoea aquatica dapat mengakumulasi sianida dan masih memenuhi standar baku mutu FAO yaitu 10 mg/kg.Kata kunci: limbah cair tapioka, fitoremediasi, Ipomoea aquatica.
Kajian awal Telapak Ekologis di Kawasan Strategi Nasional Perkotaan Cekungan Bandung ODHILA FARID SAPUTRA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v4i1.%p

Abstract

ABSTRAK Aktivitas manusia bergantung pada biosfir, yang memberikan sejumlah besar pasokan sumber daya alam (SDA) secara terus-menerus untuk mendukung pembangunan ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Konsumsi SDA dan dampaknya terhadap ekosistem didefinisikan sebagai Telapak Ekologis (TE). Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Cekungan Bandung, Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih karena termasuk Kawasan Strategis Nasional yang bercirikan perkotaan dan memiliki tingkat urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sumber data yang dibutuhkan dalam perhitungan nilai telapak ekologis, dan perbandingan data yang tersedia di Cekungan Bandung dengan data yang dibutuhkan dalam perhitungan Global Footprint Network (GFN). Metode penelitian yang digunakan yaitu metode pengumpulan data sekunder masing-masing sektor (Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan, Penyerap Karbon, dan Lahan Terbangun) yang berasal dari instansi kabupaten/kota di Cekungan Bandung. Data sekunder yang digunakan yaitu data produksi, ekspor dan impor, serta luas lahan masing-masing sektor di Kawasan Cekungan Bandung Tahun 2012. Format perhitungan telapak ekologis yang digunakan dalam GFN mengacu kepada daerah subtropis, sedangkan Kawasan Cekungan berada di daerah tropis, sehingga terdapat beberapa data sekunder untuk masing-masing sektor yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, maka dibutuhkan asumsi sesuai dengan standar kebijakan pemerintah. Kata Kunci : Telapak Ekologis, Cekungan Bandung, Global Footprint Network