cover
Contact Name
Munaris
Contact Email
jurnal.selaksamakna@gmail.com
Phone
+6282184567031
Journal Mail Official
jurnal.pbs@fkip.unila.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro, Gedong Meneng, Kec. Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Lampung 35141. Gedung L. Lantai 2, FKIP Universitas Lampung.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Selaksa Makna
Published by Universitas Lampung
ISSN : -     EISSN : 30899796     DOI : https://doi.org/10.23960/selaksamakna
Jurnal Selaksa Makna merupakan wadah ilmiah yang khusus menyajikan hasil kajian koseptual/teoretis dan penelitian bidang bahasa, sastra, dan pembelajaran. Jurnal Selaksa Makna terbit empat kali dalam satu tahun, pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal Selaksa Makna diterbitkan oleh FKIP Universitas Lampung, melalui Laboratorium Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Selaksa Makna Journal is a scientific forum that specifically presents the results of conceptual/theoretical studies and research in the fields of language, literature, and learning. Selaksa Makna Journal is published four times a year, in February, May, August, and November. Selaksa Makna Journal is published by the FKIP of the University of Lampung, through the Indonesian Language and Literature Learning Laboratory.
Articles 25 Documents
ANALISIS KESALAHAN PENULISAN NOTASI ILMIAH PADA MAKALAH Afifah, Alifia Yussy Nur; Tias, Mila Ayuning; Rahmalia, Nazwa Maulida; ZA, Mahmudah Fitriyah
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 1 No. 3 (2025): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v1i3.1576

Abstract

This study aims to analyze the use of scientific notation in student papers across departments at the Faculty of Da'wah and Communication Sciences (FDIKOM), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Scientific notation includes direct and indirect citations, headnotes, bodynotes, footnotes, and bibliographies, which serve as source markers and indicators of academic integrity. Using a qualitative approach and content analysis method, data were collected from papers in six departments. The analysis involved identifying, classifying, and interpreting notation elements in each paper. Results show that while most papers use direct and indirect citations, consistency and accuracy remain lacking. Headnotes and bodynotes are largely absent, and footnotes appear only in some departments, often with formatting errors. Bibliographies vary in quality, with issues in formatting and alignment with in-text citations. These findings suggest that students’ understanding of scientific notation needs improvement. This research serves as an evaluation tool for academic writing instruction and highlights common notation errors within FDIKOM.   Penelitian ini menganalisis penggunaan notasi ilmiah dalam makalah mahasiswa lintas jurusan di FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Notasi ilmiah meliputi kutipan langsung, tidak langsung, headnote, bodynote, footnote, dan daftar pustaka sebagai penanda sumber dan kepatuhan etika akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi terhadap makalah dari enam jurusan. Hasil menunjukkan bahwa kutipan langsung dan tidak langsung telah digunakan, namun belum konsisten dalam format dan ketepatan. Headnote dan bodynote jarang ditemukan, sementara footnote hanya muncul di beberapa jurusan dan belum sesuai standar. Daftar pustaka menunjukkan variasi kualitas, dari penulisan minim hingga ketidaksesuaian dengan isi teks. Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap notasi ilmiah masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi dalam pengajaran penulisan akademik serta memberikan gambaran pola kesalahan penulisan notasi ilmiah di lingkungan FDIKOM.
CODE SWITCHING AND CODE MIXING IN STUDENT INTERACTIONS ON INSTAGRAM SOCIAL MEDIA Almeida, Giena
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 2 No. 1 (2026): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v2i1.1629

Abstract

This study aims to explain the phenomena of code-switching and code-mixing, as well as the underlying social factors in their use in interactions between students on Instagram. The approach used in this study is qualitative with a descriptive method. The data obtained came from students' writings that appeared in captions, comments, and direct messages on Instagram. Data collection was carried out through observation and recording techniques, then analyzed by categorizing information based on the type of code-switching and code-mixing and interpreted using a sociolinguistic approach. The findings show that students actively apply code-switching and code-mixing, especially between Indonesian, English, and regional languages. Code-switching is usually used to adjust to the context and interlocutor, while code-mixing functions as a strategy of expression and symbolism in digital communication. The social factors that influence its use include aspects of identity, social solidarity, modern image, and the characteristics of social media, which tend to be informal. This study highlights that code-switching and code-mixing in student interactions on Instagram are not merely linguistic phenomena, but also social practices that reflect the development of language and identity in the digital age. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena code-switching dan code-mixing, serta faktor-faktor sosial yang mendasari penggunaannya dalam interaksi antara siswa di Instagram. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Data yang diperoleh berasal dari tulisan siswa yang muncul dalam caption, komentar, dan pesan langsung di Instagram. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi dan pencatatan, kemudian dianalisis dengan mengkategorikan informasi berdasarkan jenis code-switching dan code-mixing, dan diinterpretasikan menggunakan pendekatan sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa secara aktif menerapkan code-switching dan code-mixing, terutama antara bahasa Indonesia, Inggris, dan bahasa daerah. Code-switching biasanya digunakan untuk menyesuaikan diri dengan konteks dan lawan bicara, sementara code-mixing berfungsi sebagai strategi ekspresi dan simbolisme dalam komunikasi digital. Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi penggunaannya meliputi aspek identitas, solidaritas sosial, citra modern, dan karakteristik media sosial yang cenderung informal. Studi ini menyoroti bahwa code-switching dan code-mixing dalam interaksi mahasiswa di Instagram bukan hanya fenomena linguistik, tetapi juga praktik sosial yang mencerminkan perkembangan bahasa dan identitas di era digital.
PERAN KONTEKS SIBERTEKS MULTIMODAL VISUAL DALAM MENGUNGKAP MAKSUD PENUTUR PADA MEME AKUN INSTAGRAM @l365lll Maritza, Khairunnisa Rofifah Rahma; Ridwan, Muhammad
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 2 No. 1 (2026): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v2i1.1650

Abstract

This study focuses on the functional role of visual elements in multimodal cybertext (specifically Instagram memes from the account @l365lll) in revealing the speaker's pragmatic intention. The shifting landscape of digital communication necessitates a deep look into the cyberpragmatic function of visuals, which are often mistakenly seen as mere complements to text. Utilizing a descriptive-qualitative approach and cyberpragmatic analysis of 30 Arabic-language image memes uploaded in October 2025, the research tested five functional roles of the visual context: Clarifying, Asserting, Contextualizing, Supporting, and Detailing. The findings indicate that the visual context plays a central and structured role, not just a complementary one. Four main roles—Clarifying, Asserting, Supporting, and Contextualizing—account for 80% of the data. Clarifying, Asserting, and Supporting each appeared 7 times (23.33% each), while Contextualizing appeared 6 times (20%). Detailing was the least frequent, with only 3 cases (10%). This pattern confirms that in multimodal cybertext, the visual is primarily used for pragmatic functions, such as strengthening the message and asserting the speaker’s intention, rather than merely adding new details. This study reinforces the theory of Visual Multimodal Cybertext Context Roles. Penelitian ini berfokus pada peran fungsional elemen visual dalam siberteks multimodal (khususnya meme Instagram dari akun @l365lll) dalam mengungkap maksud pragmatis penutur. Pergeseran pola komunikasi digital menuntut kajian mendalam terhadap fungsi siberpragmatik visual, yang sering kali dianggap sekadar pelengkap teks. Menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dan analisis siberpragmatik terhadap 30 meme gambar berbahasa Arab yang diunggah pada Oktober 2025, penelitian ini menguji lima peran fungsional konteks visual: Memperjelas, Mempertegas, Melatarbelakangi, Mendukung, dan Memerinci. Hasilnya menunjukkan konteks visual memainkan peran sentral dan terstruktur, bukan sekadar pelengkap. Empat peran utama—Memperjelas, Mempertegas, Mendukung, dan Melatarbelakangi—mencakup 80% data total. Memperjelas, Mempertegas, dan Mendukung masing-masing muncul 7 kali (23,33% per kategori), sedangkan Melatarbelakangi muncul 6 kali (20%). Peran Memerinci menjadi yang paling jarang, hanya 3 kasus (10%). Pola ini menegaskan bahwa visual dalam siberteks multimodal memiliki fungsi utama di ranah pragmatis, yakni untuk memperkuat pesan dan menegaskan maksud penutur, bukan sekadar menambah detail baru. Penelitian ini memperkuat teori Peran Konteks Siberteks Multimodal Visual.
KETERAMPILAN BERBICARA PENYIAR RADIO KOTA SANTRI SEBAGAI SARANA PELESTARIAN BAHASA DAN BUDAYA LOKAL PEKALONGAN Apriyani, Pertiwi Dian; Sudrajat, Dian Sukmawati; Haira, Nala A’izatul; Iffat, Afkar Muhammad; Nurani, Elok Putri
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 2 No. 1 (2026): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v2i1.1670

Abstract

This study aims to analyze the speaking skills of radio announcers in building effective communication with listeners, as well as to examine the role of local languages in strengthening closeness and cultural preservation through radio broadcasts in Pekalongan. The research used a descriptive qualitative method, with the study site being Radio Kota Santri (RKS) Kajen, Pekalongan Regency. Data were collected through observation and semi-structured interviews with announcers and radio managers. The findings indicate that announcers' speaking skills include mastery of intonation, clarity of articulation, appropriate choice of diction, and the ability to create communicative interactions with listeners. Furthermore, the use of local languages and typical Pekalongan expressions has been shown to strengthen listeners' emotional closeness and sense of ownership of local radio. RKS also plays a crucial role in preserving regional culture through broadcasting programs that promote local wisdom. Thus, radio announcers act not only as communicators but also as agents of cultural preservation and the identity of the Pekalongan community. This research is expected to serve as a reference for developing effective radio communication strategies based on cultural values.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan berbicara penyiar radio dalam membangun komunikasi yang efektif dengan pendengar, serta meneliti peran bahasa lokal dalam memperkuat kedekatan dan pelestarian budaya melalui siaran radio di Pekalongan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan lokasi studi di Radio Kota Santri (RKS) Kajen, Kabupaten Pekalongan. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara semi terstruktur dengan penyiar dan pengelola radio. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara penyiar mencakup penguasaan intonasi, kejelasan artikulasi, pemilihan diksi yang tepat, serta kemampuan untuk menciptakan interaksi yang komunikatif dengan pendengar. Selain itu, penggunaan bahasa daerah dan ungkapan khas Pekalongan terbukti dapat memperkuat kedekatan emosional dan rasa kepemilikan pendengar terhadap radio lokal. RKS juga memainkan peran penting dalam melestarikan budaya daerah melalui penyiaran program yang mengusung kearifan lokal. Dengan demikian, penyiar radio tidak hanya bertindak sebagai komunikator, tetapi juga sebagai agen pelestarian budaya dan identitas masyarakat Pekalongan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembangan strategi komunikasi radio yang efektif dan berbasis nilai budaya.
MEMBACA KEKUASAAN MELALUI TEKS SASTRA: ANALISIS WACANA SIMBOL KEKUASAAN DALAM CERPEN “SAKSI MATA” MENURUT FOUCAULT Hariyanti, Reza Fauziah; Rahmawati, Fitri; Azizah, Rahma Eka Nur; Ramayanti, Tarisa; Zafira, Ainul
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 2 No. 1 (2026): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v2i1.1679

Abstract

"Saksi Mata" is presented as a representation of the political system in Indonesia, packaged philosophically. The story opens and closes with a distinctive tone and is rich in symbolism. Various satirical and dark jokes create an intriguing flavor. In the short story, speaking out for justice by giving testimony is merely served as a buffet for power. It's like livestock that are only allowed to speak when asked, in unison, and with one voice. Forced to bawl, even though in reality, the farm houses not only goats but also chickens, ducks, cows, and horses. When they don't obey orders, the farmer comes in to train them with a series of beatings, ultimately leading to death. Shielded by the equality of truth, created to achieve absoluteness, "Saksi Mata" is inserted into "Saksi Mata" a mirror fragment that has been carried since birth. Each shard is ensured to be evenly distributed. Down to the grain, it is guaranteed to be the poison of resistance. If the eyes and tongue have been confiscated, what remains are the hands and head, filled with memories of oppression. “Saksi Mata” dihadirkan sebagai representasi sistem politik yang ada di Indonesia dengan pengemasan filosofis. Cerita dibuka dan ditutup dengan warna yang khas dan sarat akan simbolik. Dengan berbagai bumbu racikan satire dan lelucon gelap menjadi cita rasa yang menarik. Dalam cerpen, menyuarakan keadilan dengan memberikan kesaksian hanya disajikan sebagai prasmanan perjamuan kekuasaan. Selayaknya hewan ternak yang hanya boleh bersuara ketika diminta, serentak, dan satu suara. Dipaksa untuk bisa mengembik meski pada kenyataannya, di dalam peternakan tidak hanya berisi kambing, melainkan juga ayam, bebek, sapi, dan kuda. Ketika tidak menuruti perintah, disitulah peternak hadir untuk melatih dengan sejumlah pukulan hingga berujung kematian. Bertamengkan pemerataan atas kebenaran yang diciptakan guna mencapai absolut. Maka dengan “Saksi Mata” diselipkannya pecahan cermin yang dibawa sedari lahir. Setiap serpihan dipastikan terbagi dengan rata. Sampai kepada butiran, dipastikan racun perlawanan. Jika mata dan lidah telah disita, masih tersisa tangan juga kepala berisikan sejumlah ingatan penindasan.

Page 3 of 3 | Total Record : 25