cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Pentingnya Pengetahuan Ibu pada Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada Bayi di Bawah Usia 6 Bulan Arum Nurzeza
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada bayi berusia 0-6 bulan, air susu ibu (ASI) bertindak sebagai makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi, ASI merupakan komposisi makanan ideal untuk bayi. Persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 54,3%, sedikit meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya sebesar 48,6%. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh ibu-ibu di Indonesia yang kurang tepat adalah memberi makan bayiberusia seminggu dengan nasi dicampur pisang dengan alasan agar bayi tidak kelaparan. Hal tersebut jelas sangat membahayakan saluran pencernaan bayi. Seperti diketahui kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (nonbehavior causes). Faktor perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Faktor predisposisi terdiri dari pengetahuan, sikap, dan ekonomi. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, paparan media massa baik cetak maupun elektronik, ekonomi dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder, hubungan sosial, dan pengalaman seseorang tentang berbagai hal dapat diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya. Faktor yang paling berperan besar dalam mempengaruhi perilaku ibu adalah faktor pengetahuan, karena seseorang akan mau melakukan suatu hal apabila dia tahu tentang hal tersebut yang selanjutnya masuk ke tahap mampu untukmelakukannya. [J Agromed Unila 2015; 2(2):123-127]Kata kunci: bayi, MP-ASI, pengetahuan ibu
Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan pada Peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat Asep Setya Rini
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap individu berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggungjawab untuk mengatur terpenuhinya hak hidup sehat bagi penduduknya, termasuk bagi masyarakat miskin yang tidak mampu. Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) merupakan program pelayanan kesehatan nasional bagi masyarakat miskin. Peserta Jamkesmas merupakan warga miskin, gelandangan, penghuni lembaga permasyarakatan, serta bayi baru lahir yang orangtuanya merupakan peserta Jamkesmas. Pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan hasil proses pencarian individu atau keluarga yang mengalami gangguan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sehingga masalah kesehatan dapat teratasi. Pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang dibagi menjadi empat model utama, yakni model Andersen, model Zschock, model Andersen dan Anderson, serta model Green. Faktor tersebut mempengaruhi peserta Jamkesmas untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia. [J Agromed Unila 2015;2(2):128-134]Kata kunci: jaminan kesehatan, jamkesmas, pemanfaatan pelayanan kesehatan
Gaya Belajar Berperan Pada Prestasi Belajar Elly Rahmawati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang di harapkan oleh pendidik. Proses tersebut dipengaruhi oleh gaya belajar. Gaya belajar adalah cara yang lebih kita sukai dalam melakukan kegiatan berfikir, memproses dan mengerti suatu informasi. Gaya belajar memiliki banyak tipe, diantaranya tipe visual, tipe auditori dan tipe kinestetik.Tipe belajar visual memiliki kecenderungan belajar dan lebih memahami pelajaran dengan apa yang dilihat. Tipe belajar auditori lebih cenderung belajar dengan cara mendengarkan. Tipe kinestetik memiliki kecenderungan belajar melalui gerak atau sentuhan. Proses belajar terdiri atas beberapa tahap, termasuk menerima informasi hingga mengelolanya. Salah satu caranya, mahasiswa harus dapat memahami tipe belajar mereka masing-masing. Hal ini dapat mendukung mahasiswa supaya mengerti seperti apa belajar yang baik agar bisa memperoleh hasil yang baik. Prestasi belajar merupakan penilaian aktivitas belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapaimahasiswa dalam periode tertentu. [J Agromed Unila 2015; 2(2):135-139]Kata kunci: auditori, gaya belajar, kinestetik, tipe belajar, visual
Hubungan antara Obesitas dengan Asma Bronkial Fauziah Paramita Bustam
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan prevalensi asma dan obesitas di beberapa negara pada dekade belakangan ini menimbulkan spekulasi bahwa orang yang obesitas meningkatkan resiko perkembangan asma. Pada beberapa penelitian ditemukan adanya hubungan adanya obesitas dengan asma. Lebih dari dua puluh juta orang Amerika menderita asma. Lebih dari sepertiganya adalah orang dengan obesitas. Adanya keterlibatan mediator inflamasi pada saluran pernapasan merupakann dasar timbulnya asma bronkial. Obesitas dikaitkan dengan beberapa penyakit dikarenakan obesitas dapat menyebabkan peningkatan mediator inflamsi dalam tubuh. Hubungan obesitas dengan asma bronkial dipengaruhi oleh dua faktor yaitu mediator inflamasi dan penurunan volume paru. [J Agromed Unila 2015; 2(2):140-144]Kata Kunci : asma bronkial, inflamasi, obesitas, pernapasan
Hubungan Shift Kerja dengan Kejadian Dispepsia Fungsional pada Satpam (Satuan Pengaman) Putri Giani Purnamasari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan upaya yang harus diselenggarakan di semua tempat kerja. Pekerjaan shift adalah pekerjaan yang mempunyai jadwal kerja diluar jam kerja normal (jam 8 pagi hingga jam 5 sore). Jadwal shift kerja yang berlaku sangat bervariasi, umumnya bekerja pada jam 08.00 atau jam 12.00 dalam satu hari. Satpam (satuanpengaman) merupakan petugas pelayanan penjaga perusahaan dimanapun tempatnya yang bekerja secara shift. Efek yang dapat ditimbulkan karena shift kerja yaitu penurunan kualitas dan kuantitas dari tidur, kelelahan, ansietas, depresi, adanya peningkatan efek samping pada kardiovaskular, gangguan reproduksi dan kelainan gastrointestinal. Gejala penyakit gastrointestinal yang dapat muncul seperti dispepsia, heart burn, nyeri abdomen, dan flatus. Buruknya kualitas tidur akanmengganggu irama sirkadian yang mempunyai peranan pada patogenesis dispepsia. Selain itu pada shift kerja terjadi penurunan kekebalan alami tubuh sehingga mudah terinfeksi Helicobacter pylori. Kedua faktor tersebut berperan penting dalam kejadian pasien dispepsia fungsional. [J Agromed Unila 2015; 2(2):145-150]Kata kunci: dispepsia , satpam, shift kerja
Pengaruh Kentang (Solanun tuberosum L.) terhadap Hipertensi Muhammad Ridho
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis. Dikatakan tekanan darah tinggi jika tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg, atau tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka waktu beberapa minggu. Pengobatan Hipertensi dapat berupa tindakan farmakologi dan nonfarmakologi. Kentang merupakan umbi-umbian diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif yang bersifat sebagai antihipertensialami yaitu protein dioscorin yang memiliki sifat fungsional seperti aktivitas antioksidatif, oxygen scavenger (mengikat oksigen sehingga tidak mendukung reaksi oksidasi), dan sebagai penghambat enzim. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa dioscorin mampu menghambat angiotensin converting enzyme (ACE) yang memicu terjadinya peningkatan tekanan darah. Simpulan, kentang merupakan salah satu alternatif dalam menanggulangi penyakit hipertensidikarnakan kandungan kentang terdapat dioscorin yang berfungsi sebagai penghambat ACE. [J Agromend Unila 2015;2(2):151-155]Kata kunci: dioscorin, hipertensi, kentang
Faktor–faktor yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada Karyawan Salon Viera Rininda Mauli Dinar
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis kontak akibat kerja (DKAK) adalah suatu jenis dermatitis kontak yang timbul akibat kontak dengan bahan maupun alat yang biasa digunakan pada suatu jenis pekerjaan. Salah satunya adalah seorang pekerja salon, yang dalam pekerjaannya sering berkontak langsung dengan berbagai jenis bahan iritan atau alergen yang memiliki tingkat insiden dermatitis kontak akibat kerja (DKAK) cukup tinggi. Di Inggris, tahun 2007, di mana penyakit kulit peringkat tiga teratas diduduki oleh penata rambut. Di Cina, tahun 2006, dari semua DKAK pada penata rambut, prevalensi DKI sebesar 83% dan DKA sebesar 44%. Di North Bavaria, penata rambut merupakan pekerjaan dengan nilai incidence rate tertinggi. Beberapa penelitian menunjukan bahwa faktor faktor seperti suhu, kelembapan, usia, jenis kelamin, lama kontak dan bahan kimiamempengaruhi kejadian DKAK pada karyawan salon. [J Agromed Unila 2015; 2(2):156-160]Kata kunci: dermatitis kontak, karyawan salon, penyakit akibat kerj
Resistensi Anti Helminth pada Infeksi Soil Transmitted Helminth Yudha Prasetyo Dharma
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit cacing merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia terutama infeksi cacing usus. Cacing usus umumnya termasuk golongan nematoda dan penularannya dengan perantaraan tanah (Soil Transmitted Helminths/STH), yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Pada saat ini banyak sekalikejadian terulangnya infeksi meskipun telah dilakukan pemberian obat anti-helminth ataupun pencegahan lainnya. Hal ini terjadi karena resistensi anti-helminth pada cacing parasit. Mekanisme yang terjadi seperti mekanisme non reseptor yaitu gangguan pada enzim yang memetabolisme obat atau mekanisme transport yang memodulasi konsentrasi dari anti helminth sehingga dapat mencapai reseptornya, sehingga terjadilah mekanisme reseptor, seperti peningkatan efluk,penurunan uptake obat, detoksifikasi enzim metabolisme dan inaktivasi anti-helminth dan penurunan aktivitas obat. Selain mekanisme resistensi secara biologis, rekurensi infeksi STH dapat terjadi akibat faktor predisposisi dan faktor lainnya. Sehingga dapat disimpulkan, reinfeksi STH terjadi karena resistensi anti-helminth dan faktor lainnya. [J Agromedi Unila 2015; 2(2):161-164]
Faktor-faktor Risiko dan Pencegahan Silikosis pada Pekerja Tambang Yesti Mulia Eryani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumokoniosis merupakan suatu kelainan yang terjadi akibat penumpukan debu dalam paru yang menyebabkan reaksi jaringan terhadap debu tersebut. Reaksi utama akibat pajanan debu di paru adalah fibrosis. Silikosis adalah salah satu bentuk pneumokoniosis terbanyak yang disebabkan oleh inhalasi dari debu kristal silika, ditandai dengan inflamasi dan jaringan parut dalam bentuk lesi nodular di lobus atas paru. Silikosis dikarakteristikan dengan sesak napas, demam, dansianosis. Terdapat beberapa faktor–faktor non pekerjaan yang dapat mempengaruhi kapasitas fungsi paru seseorang antara lain usia, jenis kelamin, riwayat pekerjaan, riwayat penyakit, status gizi, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga. Peningkatan usia seseorang meningkatkan risiko terjadinya silikosis. Riwayat pekerjaan yang menjadi risiko pada pekerja tambang seperti lamanya paparan kumulatif, lamanya bekerja dan jenis pekerjaan berpengaruh terhadap kejadian silikosis. Semakin lama paparan terhadap kristal silika dan jenis pekerjaan yang memiliki paparan terhadap kristal silika tinggi meningkatkan risiko terjadinya silikosis. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi risiko akibat kerja antara lain pengaturan mesin atau menggunakan pelindung fisik lain seperti dengan menggunakan alat pelindung diri yang efektif,menyingkirkan atau mengurangi risiko pada sumbernya, menetapkan prosedur bekerja secara aman untuk mengurangi risiko lebih lanjut. [J Agromed Unila 2015; 2(2):165-169]Kata kunci: pekerja tambang, pencegahan, silikosis
Korelasi Antara Panjang Tulang Radius dengan Tinggi Badan pada Pria Dewasa Indhraswari Dyah Wilujeng
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus kecelakaan yang terjadi di Indonesia seperti peristiwa kebakaran dan jatuhnya pesawat terbang menelan banyak korban jiwa. Pada kasus tersebut hanya ditemukan beberapa bagian tubuh tertentu saja seperti hanya bagian kepala atau tulang panjang dari anggota tubuh korban tersebut. Berdasarkan hal ini diperlukan identifikasi forensik untuk mengenali korban.Pada peristiwa ini ditemukan korban jiwa yang tersisa bagian tulang panjangnya saja seperti humerus, ulna, radius, tibia, fibula, dan femur. Secara umum rangka pada orang dewasa memiliki dua komponen struktur yang mendasarinya yaitu tulang spongiosa dan tulang kompakta. Tulang memiliki fungsi yaitu sebagai proteksi, mendasari gerakan, menopang tubuh, memproduksi sel darah, penyimpanan trigliserid. Terdapat proses pertumbuhan tulang yang dapat  mempengaruhi hubungan antara panjang tulang dengan tinggi badan yaitu proses osifikasi mebranosa dan osifikasi endokondral. Tulangradius adalah tulang yang terletak di lateral dan merupakan tulang yang lebih pendek dari dua tulang di lengan bawah. Tulang radius berfungsi untuk membentuk persendian pergelangan tangan. Caput radii dikelilingi oleh facies articularis, yang disebut circumferentia articularis dan berhubungan dengan incisura radialis ulnae. Caput radii terpisah dari corpus radii oleh collum radii. Di sebelah caudal collum pada sisi medial terdapt tuberositas radii. Tulang radius mempunyai ujung bagian atas yang bersendi dengan humerus pada articulatio cubiti dengan ulna pada articulatio radio ulnaris proximal. Ujung distalnya bersendi dengan os scaphoideum dan lunatum pada articulatio carpalis dan dengan ulna pada articulatio radio ulnaris distal. Faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang yaitu adanya faktor genetik, jenis kelamin, usia,lingkungan, dan gizi. Terdapat formula yang bisa digunakan untuk menghitung rerata tinggii badan pada pria dewasa yaitu dengan menggunakan rumus karl person, trotter dan gleser dan menghitung panjang tulang radius bahwa ada korelasi antara keduanya. [J Agromed Unila 20115; 2(2):170-174]Kata kunci: faktor pertumbuhan tulang, formula perhitungan rerata tinggi badan, identifikasi forensik, korelasi

Page 3 of 57 | Total Record : 565