cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 28, No 2 (2014)" : 19 Documents clear
Pengaruh Vitamin C dan E terhadap Histologi Tuba Fallopii pada Tikus yang Dipapar MSG Umami, Riza; Dwijayasa, Pande Made; Winarsih, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.1

Abstract

Monosodium glutamat (MSG) adalah garam natrium dari asam glutamat yang digunakan sebagai penyedap rasa. MSG berpengaruh pada motilitas tuba yaitu pada lapisan otot polos dan jumlah sel epitel sekretorik tuba fallopii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi vitamin C dan E terhadap jumlah sel epitel sekretorik dan tebal lapisan otot polos tuba fallopii pada tikus yang dipapar MSG selama 42 hari. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorik dengan menggunakan 25 ekor tikus betina dewasa yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu K(-) adalah kontrol negatif; K(+) MSG 0,7mg/g BB; PI mendapat MSG 0,7mg/gBB +vitamin C 0,2mg/gBB+vitamin E 0,04 IU/gBB; PII mendapat MSG 0,7mg/gBB +vitamin C 0,4mg/gBB+vitamin E 0,04 IU/gBB; PIII mendapat MSG 0,7mg/gBB+vitamin C 0,8mg/gBB+vitamin E 0,04 IU/gBB. Pada hari ke-43 tikus yang diterminasi adalah pada fase proestrus lalu dilakukan pemeriksaan histopatologi tuba fallopii dengan pengecatan HE yang diamati dibawah mikroskop Dot Slide. Uji one way ANOVA menunjukkan hasil bahwa kombinasi vitamin C dan E dapat meningkatkan jumlah sel epitel sekretorik dan tebal lapisan otot polos (masing-masing p=0,000 dan p=0,042). Diduga hal tersebut disebabkan oleh menurunnya kadar estrogen pada siklus reproduksi. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kombinasi dosis vitamin C dan vitamin E meningkatkan jumlah sel epitel sekretorik dan tebal lapisan otot polos tuba fallopii tikus yang dipapar MSG, meskipun tidak bermakna antar kelompok dosis.Kata Kunci: Jumlah sel epitel sekretorik, tebal lapisan otot polos, tuba fallopii, MSG, vitamin C, vitamin E
Ekstrak Ethanol Daun Sirsak (Annona Muricata) Berpotensi Memiliki Efek Kemoterapi pada Kanker Payudara Tikus Putih Kasban, Muhartono Sudarmo; Windarti, Indri; Busman, Hendri; S, Hendri Tarigan; DJ, Bayu Putra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.289 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.7

Abstract

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang terbanyak di derita wanita dan memerlukan kemoterapi berbiaya tinggi dengan efek samping yang banyak. Daun sirsak (Annona muricata) mengandung senyawa asetogenin bersifat sitotoksik terhadap sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kemoterapi daun sirsak pada kanker payudara tikus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi FK Unila pada bulan Mei-September 2013 dengan menggunakan 25 ekor tikus betina  Sprague Dawley yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu Kelompok I, kontrol negatif; kelompok II, diberikan 75mg/kg BB DMBA, kelompok III diberikan 75mg/kg BB DMBA+ekstrak daun sirsak 100mg/kgBB, kelompok III, 75mg/kg BB DMBA + ekstrak daun sirsak 200mg/kgBB, 75mg/kg BB DMBA+ekstrak daun sirsak III 400mg/kgBB. Ekstrak daun sirsak diberikan selama 4 minggu. Dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk menilai apoptosis yang terjadi setelah pemberian daun sirsak. Hasil dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan uji Man Whitney. Pemberian ekstrak etanol daun sirsak dapat memicu kejadian apoptosis pada KIII, KIV, KV sebesar 2,5%, 3,44%, dan 3,56% lebih tinggi dari kejadian apoptosis kelompok kontrol positif sebesar 1,80% (p<0,05). Dapat disimpulkan ekstrak etanol daun sirsak berpotensi memiliki efek kemoterapi pada kanker payudara tikus putih yang diinduksi DMBA.Kata Kunci: Ekstrak daun sirsak, efek kemoterapi, DMBA, kanker payudara
Hubungan Status Refraksi, dengan Kebiasaan Membaca, Aktivitas di Depan Komputer, dan Status Refraksi Orang Tua pada Anak Usia Sekolah Dasar Komariah, Cicih; A, Nanda Wahyu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.853 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.14

Abstract

Status refraksi seseorang dapat dipengaruhi oleh status faktor keturunan, kebiasaan membaca dan aktivitas di depan komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola status refraksi, kebiasaan membaca, aktivitas di depan komputer, dengan status refraksi orang tua pada anak usia sekolah dasar. Penelitian dilakukan dengan survei pada siswa Madrasah Ibtidaiyah Khadijah kelas 4 sampai 6. Data tentang status refraksi orang tua serta kebiasaan membaca dan aktivitas di depan komputer siswa diperoleh dengan menggunakan kuesioner, sedangkan status refraksi siswa diperoleh dengan menggunakan lensa coba dan Snellen Chart. Hasil penelitian menunjukkan, aktivitas membaca dalam waktu lama dan pada jarak dekat, kemudian rutinitas berada di depan layar komputer dengan durasi waktu yang panjang banyak didapatkan pada siswa miopia. Sebagian besar siswa hiperopia dan miopia mempunyai orang tua dengan status refraksi yang sama. Pada sebagian besar siswa yang tidak berkaca mata, orang tuanya juga tidak berkaca mata. Kebiasaan membaca lama dan dekat, serta aktivitas di depan komputer yang lama banyak didapatkan pada status refraksi tertentu. Status refraksi siswa sebagian besar sama dengan status refraksi orang tuanya. Hasil mengindikasikan hubungan pola kebiasaan membaca dan penggunaan komputer serta status refraksi orang tua dengan status refraksi anak.Kata Kunci: Aktivitas di depan komputer, kebiasaan membaca, status refraksi anak, status refraksi orang tua
Efek Pemberian Ekstrak Kulit Jeruk Keprok (Citrus Reticulata) terhadap Cell-Cycle G1 Arrest dan Apoptosis pada Sel Kultur Retinoblastoma Rohaya, Syarifah; Hariwati, Hariwati; W, Lely Retno; Sujuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.198 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.2

Abstract

Retinoblastoma adalah kanker intraokular yang terjadi pada anak usia dini, disebabkan oleh terganggunya supresor tumor gen RB baik secara herediter maupun nonherediter. Tatalaksananya adalah enukleasi, eksentrasi, kemoterapi, laser fotokoagulasi, cryotherapi, dan radioterapi. Apabila tidak diobati hampir seluruh pasien mengalami proses desak ruang dan penyebaran tumor. Kemoterapi bukan merupakan pilihan terapi selektif karena hal ini semakin merusak sel normal pada jaringan yang normal. Sehingga peneliti mencari alternatif terapi seperti ekstrak kulit jeruk keprok yang memiliki fungsi sebagai anti karsinogenik, anti tumor, anti invasif dan anti metastasis. Penelitian ini merupakan analitik eksperimental pada sel kultur retinoblastoma yang dipapar dengan ekstrak kulit jeruk keprok. Sel kultur retinoblastoma dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol,  kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL, kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 20mg/mL dan kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 40mg/mL. Diinkubasi selama 72 jam lalu dilakukan pengecatan dengan propidium iodide untuk diperiksa menggunakan flowcitometry. Hasil pemeriksaan dengan flowcitometry berupa gambaran histogram dari siklus sel dan apoptosis. Sel kultur retinoblastoma pada fase G1/S, kelompok kontrol (15,03±3,03), kelompok ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL (12,47±2,51), 20mg/mL (12,30±1,33) dan 40mg/mL (10,80±1,52) (p=0,027) menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk keprok tidak menginduksi G1 arrest. Pada data apoptosis, kelompok kontrol (35,0±3,96), kelompok ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL (33,63±0,88), 20mg/mL (38,48±8,96) dan 40mg/mL (64,42±2,09) (p=0,000) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit jeruk keprok menginduksi apoptosis pada sel kultur retinoblastoma. Kulit buah jeruk keprok (Citrus reticulata) mengandung berbagai macam senyawa flavonoid, yang bertindak sebagai anti-karsinogenik, anti-tumor, anti-invasif dan anti-metastasis. Pemberian ekstrak kulit jeruk keprok tidak menginduksi cell-cycle G1 arrest tetapi menginduksi proses apoptosis.Kata Kunci: Apoptosis, cell-cycle G1 arrest, ekstrak kulit jeruk keprok (Citrus reticulata), sel kultur retinoblastoma
PEMBERIAN PATULIN MENYEBABKAN KERUSAKAN STRUKTUR DAN ULTRA STRUKTUR HEPATOSIT MENCIT Hastuti, Utami Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1309.345 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.8

Abstract

Patulin ialah sejenis mikotoksin yang terutama dihasilkan oleh kapang Aspergillus clavatus dan dapat mengkontaminasi beberapa macam biji-bijian, seperti: kacang tanah, kedelai, merica, terutama biji-biji yang telah mengalami kerusakan dan bersifat nephrotoksik maupun hepatotoksik. Penelitian eksperimental ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh patulin dalam berbagai dosis terhadap kerusakan struktural dan ultra struktural hepatosit mencit dengan menggunakan 24 ekor mencit (Mus musculus) jantan var. BALB-C umur 3 bulan. Mencit kelompok eksperimen diberi patulin per oral dengan 3 macam dosis, terdiri dari dosis 1, yaitu: 1mg/kg BB; dosis 2, yaitu: 1,75mg/kg BB; dosis 3, yaitu: 2,5mg/kg BB. Kerusakan struktur hepatosit diperiksa pada zona-zona centrilobular, midzonal, dan perifer. Kerusakan struktur hepatosit diperiksa secara histopatologi dan kerusakan ultra struktur diperiksa dengan Transmission Electron Microscope (TEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) patulin dapat menyebabkan kerusakan struktur maupun ultra struktur hepatosit mencit; 2) ada pengaruh perbedaan dosis patulin terhadap tingkat kerusakan struktur hepatosit mencit; makin tinggi dosis patulin, makin tinggi tingkat kerusakan yang diakibatkannya;  3) dosis patulin ke III (2,5mg/kg BB) merupakan dosis tertinggi yang menyebabkan kerusakan struktur hepatosit mencit; 4) ada perbedaan pengaruh patulin terhadap kerusakan struktur hepatosit pada ketiga zona lobulus hepar mencit; 5) zona lubulus hepar mencit yang  mengalami kerusakan struktur hepatosit tertinggi ialah zona perifer.Kata Kunci: Dosis patulin, kerusakan struktur hepatosit, kerusakan ultra struktur hepatosit, zona-zona lobulus hepar
Permasalahan Pemberian Obat pada Pasien Geriatri di Ruang Perawatan RSUD Saiful Anwar Malang Rahmawati, Yuni; Sunarti, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.615 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.15

Abstract

Permasalahan terkait pemberian obat sering terjadi pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit, dengan faktor risiko yang tersering  adalah polifarmasi dan peningkatan usia. Penelitian ditujukan untuk mengetahui deskripsi usia, jenis kelamin, jumlah obat dan  prevalensi adanya Permasalahan terkait pemberian obat (Drug Related Problem=DRP) pada pasien geriatri yang menjalani perawatan di Rumah Sakit. Penelitian kohort retrospektif  dengan pengambilan data sekunder pada  pasien geriatri (≥60 thn) di Ruang Perawatan RSUD Saiful Anwar Malang selama Periode Januari- Desember 2011. Penelitian ini  menunjukkan dari 150 subjek  55,3% adalah pria, rentang usia 60-65 tahun (28%),  66-70 tahun (36%), 71- 75 tahun (19,3%), >75 tahun (16,7%). Polifarmasi terjadi pada  72% pasien geriatri dengan prevalensi kejadian  DRP sebesar 72%. Penggunaan obat tersering yaitu antibiotik (73,3%), H2 antagonis (60,7%),  antihipertensi (46 %),  antiemetik (37,3%), NSAID ( 32%). Kejadian DRP tersering yaitu potensi interaksi obat (66%), dosis yang tidak tepat (17,3%) , pemakaian obat yang tidak perlu (16%), efek samping obat (14%), pemilihan jenis obat yang tidak tepat (8,7%). Potensi interaksi obat terbanyak yaitu pada obat ACE-inhibitor, diuretik dan antiplatelet. Duplikasi obat terjadi pada pemberian PPI dan H2 antagonis.  Terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan jumlah obat yang diberikan dengan prevalensi terjadinya DRP (p=0,000). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan usia subjek dengan prevalensi DRP (p=0,366). Risiko relatif pasien geriatri dengan polifarmasi mengalami DRP  sebesar  1,822 (CI 95%: 1,291-2,569).Kata Kunci: Geriatri, permasalahan terkait pemberian obat, polifarmasi
Efek Moringa oleifera terhadap Gula Darah dan Kolagen Matrik Ekstraseluler Sel β Pankreas Diabetes Eksperimental Ambarwati, Ambarwati; Sarjadi, Sarjadi; Johan, Andrew; Djamiatun, Kis
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.3

Abstract

Daun Moringa oleifera mengandung zat-zat bioaktif yang memperbaiki dan merangsang sel β pankreas untuk mensekresi insulin yang mengatur kadar gula darah. Kelangsungan hidup dan fungsi sel β pankreas memerlukan matriks ekstraseluler (ECM) yaitu fibronektin, laminin dan kolagen. Apakah kadar gula dan kolagen ECM yang mungkin terpengaruh streptozotocin yang merusak sel β pankreas diteliti pada diabetes eksperimental yang diberi perlakukan  M.oleifera. Studi ini menggunakan 24 tikus. Kadar gula darah diukur sebelum dan sesudah induksi streptozotocin 2 hari yang berdampak hiperglikemi, sesudah itu tikus dibagi menjadi 4 kelompok yang terdiri dua grup kontrol yang diterminasi pada hari 0 dan 21 hiperglikemi, dan dua kelompok diperlakukan dengan ekstrak daun M.oleifera dosis 250 dan 500mg/kg BB/hari selama 21 hari. Data dianalisis dengan statistik parametrik dan non-parametrik. Taraf kemaknaan p<0,05. Kadar gula menurun pada masing-masing kelompok perlakukan dosis 250 dan 500mg/BB/kg BB/hari (p=0,000). Kadar gula menjadi normal pada kelompok perlakuan dosis 500mg/kg BB/hari. Ketebalan kolagen ECM pulau Langerhans pankreas tetap normal di semua kelompok penelitian. Ekstrak daun M.oleifera dosis 500 mg/kg BB/hari adalah dosis efektif untuk menormalkan  kadar gula darah pada diabetes eksperimental.Kata Kunci: Diabetes melitus, kadar gula darah, ketebalan kolagen ECM, Moringa oleifera, Streptozotocin,  sel β pankreas
Efek Pemberian Probiotik, Nigella Sativa, Imunoterapi terhadap CD4+IL-4+, CD8+IL-4+ dan Skoring Asma Kartini, Ratna
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.9

Abstract

Sel CD4+IL-4+ berperan dalam inflamasi asma. Peran pro-inflamasi CD8+ dalam asma dikaitkan dengan subset Tc2 yang menghasilkan IL-4+. Imunoterapi merupakan tatalaksana asma yang bermanfaat dan imunomodulator dipertimbangkan untuk meningkatkan efektivitasnya. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengkaji pemberian jangka panjang imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa terhadap modulasi respon imun, khususnya CD4+IL4+, CD8+IL4+ dan skoring asma. Desain penelitian berupa eksperimental randomized clinical trial (RCT), post test control study untuk CD4+IL4+ dan CD8+IL4+ dan pre-post control study untuk skoring asma. Subjek dibagi 4 kelompok, imunoterapi+plasebo, imunoterapi+Nigella sativa, imunoterapi+probiotik, imunoterapi+Nigella sativa+probiotik, dengan perlakuan selama 56 minggu. Imunoterapi yang digunakan adalah imunoterapi house dust mite (HDM) subkutan. Probiotik yang diberikan ProBi (Medifarma) berisi 2x109 colony forming unit(cfu)/gram Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis. Skoring asma dinilai dengan skor Asthma Control Test (ACT), bila skor≥19 menunjukkan asma terkontrol. Jumlah CD4+IL4+ dan CD8+IL4+ diukur dengan flowcytometry. Hasil penelitian menunjukkan jumlah CD4+IL4+ dan CD8+IL4+ tidak berbeda bermakna antar kelompok. Jumlah CD4+IL4+ terendah dan jumlah CD8+IL4+ tertinggi terdapat pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa+probiotik. Skoring asma meningkat bermakna setelah perlakuan pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,002), imunoterapi+probiotik (p=0,000), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,000). Kelompok imunoterapi+probiotik memiliki skoring asma lebih tinggi dibandingkan imunoterapi (p=0,04). Dapat disimpulkan pemberian imunoterapi+Nigella sativa+probiotik menurunkan jumlah CD4+IL4+ lebih rendah  dan meningkatkan jumlah CD8+IL4+ lebih tinggi meskipun tidak bermakna dibandingkan imunoterapi saja. Pemberian kombinasi imunoterapi+probiotik meningkatkan skoring asma lebih baik dibandingkan imunoterapi saja.Kata Kunci: CD4+IL4+, CD8+IL4+, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik, skoring asma
Pengaruh Faktor Sosial Ibu terhadap Keberhasilan Menyusui pada Dua Bulan Pertama Amin, Wirawati; Indrawan, I Wayan Agung; Sriwahyuni, Endang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.199 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.16

Abstract

Tingkat keberhasilan pemberian Air Susu Ibu pada dua bulan pertama masih rendah, padahal masa ini merupakan masa percepatan pertumbuhan pada bayi, disaat kebutuhan bayi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor sosial ibu meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), dukungan suami dan teknik menyusui terhadap keberhasilan menyusui pada dua bulan pertama di RSKDIA Pertiwi Makassar. Metode penelitian ini adalah observasional analitik, dengan purposive sampling sebanyak 131 di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Pertiwi Makassar pada Oktober 2013-Januari 2014. Pengukuran teknik menyusui digunakan lembar observasi/check list yang dinilai oleh peneliti sendiri, sedangkan penilaian keberhasilan menyusui dilakukan melalui kunjungan rumah setelah subjek pulang dari Rumah Sakit, yakni pada satu minggu, dua minggu dan delapan minggu setelah subjek melahirkan, dengan menggunakan kuesioner. Analisis hasil penelitian menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menemukan ada pengaruh positif antara pendidikan (p=0,006; OR=2,826), pekerjaan (p=0,001; OR=0,293), pengetahuan (p=0,000; OR=14,792), IMD (p=0,000; OR=6,771), dukungan suami (p=0,000; OR=10,988) dan teknik menyusui (p=0,001; OR=3,784) terhadap keberhasilan menyusui pada dua bulan pertama. Hasil penelitian ini menyimpukan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan tinggi, tidak bekerja, mempunyai pengetahuan yang baik, melaksanakan IMD, mempunyai dukungan aktif dari suami, memiliki teknik menyusui yang baik dapat meningkatkan keberhasilan menyusui pada dua bulan pertama.Kata Kunci: Air Susu Ibu, faktor sosial ibu, keberhasilan menyusui dua bulan pertama

Page 2 of 2 | Total Record : 19