cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Perbandingan Efek Ranitidin, Dexametason dan Kombinasinya terhadap Kadar Asam Format Darah dan Pelepasan Sitokrom C Retina pada Model Tikus Intoksikasi Metanol Akut Halisa, Syahira; Prayitnaningsih, Seskoati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.92 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.03.8

Abstract

Keracunan metanol dapat menyebabkan toksisitas visual. Asam format merupakan metabolit yang bertanggung jawab terhadap terjadinya asidosis metabolik dan toksisitas visual yang menyebabkan kerusakan mitokondria dengan petanda penting pelepasan sitokrom C. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ranitidin dan perbedaannya dengan dexametason serta kombinasinya terhadap kadar asam format darah dan pelepasan sitokrom C retina tikus coba yang diinduksi metanol akut melalui penelitian eksperimental dengan desain post only with control. Hewan coba tikus Stratus Novergicus strain  Wistar  dibagi  dalam  lima  kelompok  dengan  7  kali  pengulangan  yaitu  kontrol negatif  dan positif ,  dan tiga kelompok  perlakuan  dengan  pemberian  ranitidin,  dexametason  dan  kombinasinya  secara  intraperitoneal.  Dilakukan pengukuran  kadar  asam  format  dengan  metode  kolorimetrik  pada  sampel  serum  darah  dan  pelepasan  sitokrom  C,  analisa data  menggunakan  One Way  ANOVA  dengan  post  hoc  test.  Hasil menunjukkan  rerata  kadar  asam  lebih  tinggi  format  pada tikus  dengan  intoksikasi  methanol  (10.441,8  ng/mL)  dibandingkan  pada  kondisi  normal  (3.612,6  ng/mL).  Pemberian ranitidin menghasilkan kadar asam format yang paling rendah (2.341,6 ng/mL) dibandingkan pemberian dexametason (5.919,2  ng/mL)  atau  kombinasi  keduanya  (2.913,2  ng/mL).
Analisa Faktor-faktor Penyebab Tidak Lengkapnya Laporan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit di Rumah Sakit Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Kediri Supriyanto, Edy; Hariyanti, Tita; Lestari, Erika Widayanti
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.028 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.20

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab tidak lengkapnya laporan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit di rumah sakit Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Kediri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengambilan data berupa wawancara dan observasi di RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Kediri selama bulan Oktober hingga November 2013. Analisis fishbone digunakan untuk identikasi akar masalah dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk memilih akar masalah yang paling penting dan alternatif solusi. Hasil penelitian ini menunjukkan akar masalah yang diidentifikasi pergantian Tim Mutu RS yang tidak berjalan dengan baik dan tidak lengkapnya anggota sehingga menyebabkan tidak berjalannya program peningkatan mutu berkelanjutan dan pencapaian SPM. Pembentukan kembali Tim Mutu dengan tepat, dan kelengkapan organiknya menjadi titik awal solusi implementasi manajemen mutu di rumah sakit.Kata Kunci: Tidak lengkapnya laporan SPM, tim mutu RS  
Pengembangan Alur Pasien dan Berkas Rekam Medis sebagai Optimalisasi Sistem Informasi Rekam Medis P, Agni Hadi; Hariyanti, Tita; Susilo, Sugeng
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.3

Abstract

Alur sistem dan dokumen merupakan komponen penting dalam sistem informasi rekam medis baik berbasis komputer maupun konvensional. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi alur pasien dan berkas rekam medis yang sesungguhnya untuk merancang rekomendasi alur pasien dan alur berkas rekam medis. Data diperoleh dari wawancara dengan perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat inap, koordinator keperawatan, penanggung jawab bidang layanan medis dan keperawatan, serta petugas rekam medis sebagai dasar dalam pengembangan alur pasien dan alur berkas rekam medis. Data menunjukkan alur yang diterapkan di rumah sakit terlalu panjang dan pada pasien rawat inap yang datang kembali tidak mendapatkan berkas rekam medis. Alur pasien IGD dan berkas rekam medis rawat inap belum sesuai dengan alur yang ditetapkan oleh Depkes RI. Alur pasien rawat jalan, rawat inap dan alur berkas rekam medis pasien rawat jalan sudah sesuai dengan alur yang ditetapkan oleh Depkes RI walaupun pada pengelolaan berkas rekam medis masih terdapat kekurangan. Untuk meningkatkan efisiensi alur perlu adanya tenaga distribusi, pemotongan alur Instalasi Gawat Darurat, dan pasien lama mendapatkan berkas rekam medis sebelumnya, serta koordinasi antara petugas rekam medis dan petugas pendaftaran rawat inap  saat ada pasien lama kembali ke rumah sakit.Kata Kunci: Alur pasien, alur rekam medis, dokumen
Recurrent Aggressive Angiomyxoma: A Case Report Mashadi, Imam Rasjidi; Susanto, Christine; Wondany, Ryan Putra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.02.12

Abstract

Aggressive angiomyxoma (AA), a rare mesenchymal tumor with high recurrence rate and infiltrative nature, most generally arises in the vulvovaginal region, perineum, and pelvis of women in reproductive age peaking from age 31 to 35 but uncommonly found on men. It appears as a slow-growing gelatinous mass, which commonly asymptomatic. Imaging studies including USG, CT scan, and MR imaging are of great importance for the diagnosis of AA on identifying the mass characteristics. This paper reports a case of a 37 year old P3A0 woman with a lump on the left side of vaginal lip for 2 weeks before admission. The lump was soft to touch and was not painful, without other accompanying symptoms. Past medical history showed the lump has recurred after being surgically removed. On physical examination, a lump was found on the left vulva with soft consistency. CT scan showed a well-circumscribed hypodense mass on left labia majora and showed post contrast wall enhancement. Fine needle aspiration biopsy was done and showed hypocellular smear with myxoid matrix and bleeding. The mass was then removed by vulvectomy procedure. Histopathological analysis of the mass shows infiltration of myxoid stroma with blood vessels consistent with aggressive angiomyxoma. In conclusion, AA is usually asymptomatic and has high tendency of recurrence. Imaging procedure is useful on identifying mass characteristics and biopsy can be done to establish AA diagnosis. Surgery is the main modality for the treatment of AA, and administration of gonadotropin-releasing hormone analogue can prevent further recurrence.Keywords: Aggressive angiomyxoma, gonadotropin-releasing hormone agonist, recurrent
Pengaruh Peroksidasi Lemak dan Peningkatan iNOS terhadap KErusakan Tulang Rawan Sendi pada Instabilitas (Penelitian Eksperimental Laboratoris) Hidayat, Mohamad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2487.821 KB)

Abstract

Tujuan: mengetahui pengaruh terjadinya proses peroksidasi lemak sebagai manifestasi stres oksidatif dan peningkatan iNOS terhadap kerusakan tulang rawan sendi pada instabilitas sendi. Rancangan penelitian: 18 kelinci New Zealand dewas, dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 6 kelinci, dilakukan 3 bentuk perlakuan operaso instabilitas yang berbeda pada lutut kiri. Delapan minggu pasca operasi dilakukan pengambilan sampel tulang rawan sendi lutut perlakuan pada semua kelompok. Setiap sampel diperiksa kadar MDA (Malondialdehid), secara tes thiobarbiturat (TBA test) sebagai indikator peroksidasi lemak, dan SOD (superoksid dismutase) sebagai antioksidan dengan tes Oberley, kadar iNOS (inducible nitric oxide) secara imunohistokimia, dan kadar GAG (glikosaminoglikan) sebagai indikator kerusakan tulang rawan sendi, secara DMMB (dimethyldimethylene blue) dengan spektrofotometri dan imunohistokimia. Hasil: didapatkan hubungan yang bermakna antara derajat instabilitas dengan terjadinya peroksidasi lemak dan peningkatan iNOS dengan peningkatan GAG sebagai indikator kerusakan tulang rawan sendi. Terdapat pengaruh iNOS dan MDA terhadap GAG. Kesimpulan: derajat instabilitas sebanding dengan derajat terjadinya peroksidasi lemak dan peningkatan iNOS yang berpengaruh terhadap kerusakan tulang rawan sendi.
Aktivitas Sitotoksik Fraksi Heksana Terung Pokak (Solanum torvum) terhadap Sel Kanker T47D Helilusiatiningsih, Nunuk; Yunianta, Yunianta; Harijono, Harijono; Widjanarko, Simon Bambang; Sujuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.04.4

Abstract

Terung pokak adalah tanaman dari genus Solanum yang diperkirakan memiliki sifat antikanker. Tujuan penelitian ini menganalisis kandungan dan aktivitas sitotoksik fraksi heksana terung pokak terhadap sel kanker T47D secara invitro. Uji identifikasi senyawa pada fraksi heksana terung pokak menggunakan uji kualitatif dengan penapisan fitokimia dan  (Gas Chromatography-Mass Spectometry), uji sitotoksik menggunakan metode MTT, uji siklus sel kanker T47D dan apoptosis menggunakan metode flowcytometry.  Hasil uji fitokimia menunjukkan terung pokak  mengandung alkaloid, saponin, glikosida dan steroid.  Hasil uji identifikasi kimia fraksi heksana  terung pokak menunjukkan 29 komponen yaitu asam asetat, asam propionat, 2- pentenal, 2- metilfuran, 1- penten-3-on, asam butirat, 2 -metilbutan, 2,3 butanedion, dimetil disuksipirazin, lfida, asam valerat, furfural, 3- heksanon, metional, heksanal, benzaldehid, 2-heptenal, 4- heptenal, 1,5 - octadien 3-on, 2- butilfuran, 3,5- oktadien-2- on, 1 okten-3-on, 2-pentilfuran, 2,6-nonadienal, 2- nonenal, 2- Isopropil-3-metoksipirazin, linalool, 2- isobutil metoksipirazin, dekalakton. Fraksi heksana terung pokak bersifat sitotoksik terhadap sel kanker T47D  dengan IC50 sebesar  85,58µg/mL. Fraksi heksana terung pokak dapat menghambat siklus sel T47D pada fase G0-G1 sebesar 35,84%, fase S 27,05%, fase G2-M 37,46% dari pengamatan 20.000 sel T47D . Fraksi heksana terung pokak dapat memacu apoptosis awal sebesar 28,89% dan apoptosis akhir  1,04% dari pengamatan 20.000 sel T47D.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa  fraksi heksana terung pokak bersifat sitotoksik, menghambat proliferasi dan memacu apoptosis sel T47D, sehingga layak dikembangkan  sebagai antikanker.
ADIPONEKTIN MEREGULASI TURUN EKSPRESI iNOS PADA KULTUR HUVEC’s YANG DIPAPAR LIPO POLYSACCHARIDE (LPS) Hernani, Yully Endang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1595.895 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.03.2

Abstract

ABSTRACT Adiponectin  is  a  adipocyte  derivate  protein  involves  in  sensitivity  of  insulin,  anti-inflamation,  and  anti-atherogenic  found  largely  in  plasma.  The  decrease  of  adiponectin  in  the  plasma  is  related  to  obesity, cardiovascular diseases, type II diabetes, hypertension and vascular injuries in nice. In vivo research on strain balb/c mice showed that excessive Adiponectin expression inhibits atherosclerosis with Apo E deficiency. The aim  of  this  research  is  to  find  protective  mechanisms  of  adiponectin  on  vascular  utilizing  in-vitro  Infected HUVEC’s  culture.  There  were  5  groups  :(A)  control  negative  group  or  normal  HUVEC’s,
UJI EFEKTIFITAS DEKOK BUNGA BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi) SEBAGAI ANTIMIKROBA TERHADAP BAKTERI Salmonella Typhi SECARA IN VITRO Ardananurdin, Alhamfaib; Winarsih, Sri; Widayat, Mahono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 1 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.007 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.01.6

Abstract

Salmonella typhi is causative agent of typhoid fever and its still a main health problem in Indonesia.Pickle fruit flower had been recognized by Indonesian society that have usefulness to cure various diseases. Pickle fruit flower contain active substance of saponin, polifenol and flavonoids. The experimentallaboratoric aim was to know the efficacy of picklefruit flower decoct as an antimicrobial agent to Salmonella typhi in vitro byusing tube dilution method and continued by streaking on Bismuth Sulfite Agar. The concentration of pickle fruit flower decoct were 0%; 5%; 7.5%; 10%; 12.5%; and 15% and the sample of Salmonella typhi were 4 isolates derived from different patients. The concentration of Salmonella typhi was 104cell/ml. The result from the experiment was MIC at 10% and MBC at 12,5% concentration. The statistic analysis showed that pickle fruit flower decoct can reduce Salmonella typhi growth in vitro significantly (Anova, p=0.000) and there was a correlation between increasing concentration of pickle fruit flower with the reduced amount of colonies (correlation, R=-0.795). From this study we can conclude that pickle fruit flower decoct has an antimicrobial effect to Salmonella typhi fondly of MIC and MBC at 10% and 12.5% respectively. Key word:The pickle fruit flower, Salmonella typhi, MinimalInhibition Concentration (MIC), Minimal Bactericidal Concentration (MBC).
PREDIKTOR ASMA PADA USIA 7 TAHUN SETELAH MENDERITA BRONKIOLITIS AKUT KARENA RESPIRATORY SYNCYTIAL VIRUS: SUATU STUDI PROSPEKTIF Kusuma, HMS. Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.815 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.03.7

Abstract

Infants are at increased risk of developing asthma  after RSV (Respiratory Syncytial Virus) acute bronchiolitis. The hypothesis that cytokine production is related to the development of asthma after RSV bronchiolitis. The diagnosis of RSV bronchiolitis was verified using the Abbott test pack RSV, a rapid enzyme immuno assay for direct detection of viral antigen in nasopharyngeal secretion. Changes in FEV1 (Forced Expiratory Volume in 1 second) were determined using spirometri, IL-4 and IFN-γlevels were determined using the enzyme-linked immunosorbant assay (ELISA) method. In this study, 62 children hospitalized for RSV bronchiolitis were followed prospectively, 55 (88.7%) childrencompleted the study and 41 children (74.5%) had asthma at 7 years of age. RSV bronchiolitis children were more frequent among boys (boy /girl ratio: 2). Episodes of wheezing more than 8 had specifity and sensitivity of 100% respectivelly,might be the very useful predictor for asthma. The cut off level over 40.84 pg/ml for IL-4, below 14.12 pg/ml for IFN-γ, IL-4 / IFN-γratio over 3 and episodes of wheezing over 8 may be used to predict asthma after RCV bronchiolitis.
Staphylococcus aureus pada Komunitas Lebih Resisten terhadap Ampisilin dibandingkan Isolat Rumah Sakit Santosaningsih, Dewi; Zuhriyah, Lilik; P, Martha Nurani
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.687 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.4

Abstract

Staphylococcus aureus (S.aureus) merupakan penyebab penting infeksi serius di rumah sakit maupun komunitas di seluruh dunia. Pengobatan infeksi S.aureus menjadi semakin kompleks karena munculnya strain methicillin-resistant S.aureus (MRSA) strain. Meskipun begitu, ampisilin masih direkomendasikan sebagai antibiotik pada terapi infeksi S.aureus di rumah sakit Malang. Sementara itu ampisilin dapat dikonsumsi secara bebas di masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektifitas ampisilin terhadap isolat S. aureus dari rumah sakit dan komunitas. Tes sensitivitas dilakukan dengan tube dilution method untuk mengukur kadar hambat minimum (KHM) pada setiap isolat dengan berbagai konsentrasi yaitu 0 µg/ml, 1,25 µg/ml, 2,5 µg/ml, 5 µg/ml, 10 µg/ml, 20 µg/ml, dan 40 µg/ml. Hasil menunjukkan bahwa KHM pada isolat rumah sakit lebih rendah (≥2,5 µg/ml) dibandingkan isolate komunitas (≥20 µg/ml). Hasil uji regresi linier menunjukkan hubungan yang lemah antara peningkatan dosis ampisilin dan pertumbuhan koloni S. aureus baik pada isolat rumah sakit (r=-0,651, p<0,05) maupun komunitas (r=-0,489, p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa S.aureus di rumah sakit dan komunitas resisten dengan ampisilin, dengan tingkat resistensi lebih tinggi pada komunitas.Kata Kunci: Ampisilin, antibiotic sensitivity test, Staphylococcus aureus