cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
HUBUNGAN MOTIVASI ORANGTUA UNTUK MENCAPAI KESEMBUHAN ANAK DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENANGANAN ANAK PENYANDANG AUTISME DAN SPEKTRUMNYA Asmika, Asmika; Andarini, Sri; Rahayu, Ririn Puji
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 2 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.647 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.02.6

Abstract

ABSTRACT The incidence of children with autisme spectrum  disorder has rapidly increased, starting fom 1:1500 in 1987 to1:100 in year 2001. The parent’s motivation for actively being involved in treatment programs, such as consultation with the expert and  improvement  of  their knowledge  will increase  the  treatment  success  up  to  80%.  Therefore  it  is  of  paramount importance to identify the parent’s motivation and  knowledge about Autisme treatment as a baseline for improving parent’s active involvement. A cross sectional research design was carried out using twenty parents (mother/father or both) as responden is in Autisme treatment center: A-Plus’ Dharma Wanita PUNM Malang District  from15 April - 31 May 2003. The parents motivation and knowledge level was measured using close ended questionnaire. In general, autisme is mostly identified in male child (55%), first child (45%)and diagnosed by children specialist or psychiatrist (75%) at the  age of 0-2 year (75%). Most of the parents (85%) have a high motivation in gaining children healing but 60% parents have low knowledge level about Autisme treatment with mass media as the main information source (85%). There is no significant relationship (p > 0,05)between  parent’s motivation and knowledge level.   Key Words: motivasi, pengetahuan orang tua, Autisme dan spektrumnya
LAPORAN KASUS: PERBANDINGAN PROSEDUR CUTLER BEARD DAN DIRECT CLORUSE PADA DEFEK PALPEBRA YANG LUAS AKIBAT TRAUMADI RSU DR. SAIFUL ANWAR MALANG Kurniawan, M. Iwan; Sadono, Elfina G
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1495.094 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.03.7

Abstract

The paper aimed to report a different management ofreconstruction for large traumatic upper eyelid defect. Case 1 : a 17 years old woman with traumatic upper eyelid defect in the right eye since 2 years old. The defect was linear but wide, looks like a triangle defect. Defect had repaired by direct closure. After the operation the defect remain. Case 2 : a 45 years old man with more than 50 % traumatic upper eyelid defect in the left eye. Cutler-beard procedurwas made to close the defect. Separation of the flap had been done at the second procedure. Cutler-beard procedure, done to the second patient, had succed to close the upper eyelid defect. Reconstruction procedure carried out for  the first patient was not adequate to restore the large upper eyelid  defect. Cutler-beard procedure is used for upper eyelid defect involving more than 50% seem to have a good result.Key words: Cutler beard, Direct closure
Faktor Risiko Sepsis Awitan Dini pada Neonatus Sulistijono, Eko; RVC, Brigitta Ida; K, Siti Lintang; K, Astrid Kristina
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.546 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.10

Abstract

Faktor risiko maternal pada sepsis  neonatal adalah ketuban pecah dini (KPD), demam pada ibu dua minggu sebelum kelahiran, cairan mekoneal yang bau dan persalinan dengan tindakan, sedangkan faktor risiko pada janin adalah berat lahir, usia kehamilan dan skor apgar. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikaso prevalensi, karakteristik dan hubungan antara faktor risiko maternal dan fetus dengan terjadinya sepsis awitan dini. Strudi dilakukan pada Juli hingga Desember 2008 dengan menggunakan data rekam medis pasien yang memenuhi kriteria. Data faktor risiko ibu dan janin dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa dari 69 pasien yang memenuhi kriteria didapatkan 45 pasien yang terbukti sepsis, dan 24 pasien yang meskipun menunjukkan tanda klinis sepsis namun pemeriksaan kultur darah negatif. Faktor risiko maternal yang menunjukkan hubungan signifikan adalah ketuban pecah dini (p=0,017, OR=3,466) dan faktor risiko janin adalah berat lahir rendah (p=0,034, OR=7,441) dan skor apgar menit pertama <7 (p<0,001); OR=9,1). Dapat disimpulkan bahwa ketuban pecah dini, berat lahir yang rendah serta skor apgar<7 meningkatkan risiko terjadi sepsis awitan dini pada neonates.Kata Kunci: Faktor risiko, ibu, janin, sepsis awitan dini
Permasalahan Pemberian Obat pada Pasien Geriatri di Ruang Perawatan RSUD Saiful Anwar Malang Rahmawati, Yuni; Sunarti, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.615 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.15

Abstract

Permasalahan terkait pemberian obat sering terjadi pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit, dengan faktor risiko yang tersering  adalah polifarmasi dan peningkatan usia. Penelitian ditujukan untuk mengetahui deskripsi usia, jenis kelamin, jumlah obat dan  prevalensi adanya Permasalahan terkait pemberian obat (Drug Related Problem=DRP) pada pasien geriatri yang menjalani perawatan di Rumah Sakit. Penelitian kohort retrospektif  dengan pengambilan data sekunder pada  pasien geriatri (≥60 thn) di Ruang Perawatan RSUD Saiful Anwar Malang selama Periode Januari- Desember 2011. Penelitian ini  menunjukkan dari 150 subjek  55,3% adalah pria, rentang usia 60-65 tahun (28%),  66-70 tahun (36%), 71- 75 tahun (19,3%), >75 tahun (16,7%). Polifarmasi terjadi pada  72% pasien geriatri dengan prevalensi kejadian  DRP sebesar 72%. Penggunaan obat tersering yaitu antibiotik (73,3%), H2 antagonis (60,7%),  antihipertensi (46 %),  antiemetik (37,3%), NSAID ( 32%). Kejadian DRP tersering yaitu potensi interaksi obat (66%), dosis yang tidak tepat (17,3%) , pemakaian obat yang tidak perlu (16%), efek samping obat (14%), pemilihan jenis obat yang tidak tepat (8,7%). Potensi interaksi obat terbanyak yaitu pada obat ACE-inhibitor, diuretik dan antiplatelet. Duplikasi obat terjadi pada pemberian PPI dan H2 antagonis.  Terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan jumlah obat yang diberikan dengan prevalensi terjadinya DRP (p=0,000). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan usia subjek dengan prevalensi DRP (p=0,366). Risiko relatif pasien geriatri dengan polifarmasi mengalami DRP  sebesar  1,822 (CI 95%: 1,291-2,569).Kata Kunci: Geriatri, permasalahan terkait pemberian obat, polifarmasi
Hubungan Polimorfisme Gen ACTN3 dengan Performa Otot pada Atlet UKM Sepak Bola Universitas Jenderal Soedirman AG, Nur Signa; Candrawati, Susiana; HK, Mohammad Nanang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.01.15

Abstract

ACTN3 merupakan gen penyandi protein alfa aktinin 3, dan pada gen ini ditemukan single nucleotide polymorphism (R577X) yang menyandi kodon stop prematur, menyebabkan defisiensi protein alfa aktinin 3. Performa atlet ditentukan oleh performa otot. Performa otot terdiri dari kekuatan dan ketahanan otot. Adanya polimorfisme gen ACTN3 menunjukkan bahwa ada pengaruhnya terhadap performa otot pada atlet. Genotip RR bermanfaat untuk aktivitas kekuatan (strength) dan genotip XX bermanfaat untuk aktivitas ketahanan (endurance). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara polimorfisme gen ACTN3 dengan kekuatan dan ketahanan otot. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subjek penelitian ini adalah atlet UKM Sepak Bola Universitas Jenderal Soedirman usia 18-25 tahun, IMT 18,5-25,0 kg/m2, berjumlah 77 orang. Kekuatan otot diukur dengan menggunakan metode leg strength test, ketahanan otot diukur dengan menggunakan tes half squat jump selama 1 menit dan polimorfisme gen ACTN3 diidentifikasi menggunakan metode PCR-RFLP dari sampel darah subjek penelitian. Uji One Way Anova digunakan untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen ACTN3 dengan kekuatan dan ketahanan otot. Hasil studi menyatakan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara polimorfisme gen ACTN3 dengan kekuatan dan ketahanan otot  pada atlet UKM sepak bola Universitas Jenderal Soedirman.
Perempuan 17 tahun dan Laki-laki 15 tahun dengan Interdigitating Dendritic Cell Sarcoma (IDCS) Saraswati, Diyah; Wardhani, Shinta Oktya
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.18

Abstract

Neoplasma yang berasal dari sel dendritik dan histiosit merupakan keganasan yang jarang terjadi, <1% dari semua neoplasma. Interdigitating dendritic cell sarcoma (IDCS) merupakan keganasan yang jarang terjadi yang berasal dari antigen-presenting cells sistem imun.  Keganasan ini seringkali melibatkan limfonodi, dan meskipun jarang dapat terjadi ekstranodal. Telah dilaporkan dua kasus dengan IDCS pada tulang. Kasus pertama, wanita 17 tahun dengan fraktur tulang paha kanan. Pemeriksaan radiologis menunjukkan fraktur 1/3 proksimal diafise dan lesi litik yang dicurigai fraktur patologis. Kasus kedua, laki-laki 15 tahun dengan massa pada region temporoparietal kanan. Pemeriksaan radiologis menunjukkan proses dengan lesi osteolitik pada calvaria yang dicurigai proses metastase. Analisa imunohistokimia pada kedua kasus tersebut menunjukkan antibodi anti S100 yang positif dan antibodi CD1a yang negatif. Pasien pertama telah mendapat kemoterapi dengan regimen CHOP (Siklofosfamid-Doksorubisin-Vinkristin-Prednison) sebanyak 6 siklus dan mengalami perbaikan secara klinis sedangkan kasus kedua kami kehilangan kontak. 
Hubungan Tingkat Risiko Obstructive Sleep Apnea dan Sindroma Metabolik dengan Fungsi Kognitif Global Harahap, Herpan Syafii; Indrayana, Yanna; Lestari, Rina
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.293 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.10

Abstract

Obstructive sleep apnea (OSA) berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan fungsi kognitif, dan gangguan fungsi kognitif tersebut juga terkait dengan komponen sindrom metabolik (hipertensi, diabetes melitus, obesitas sentral, dan dislipidemia). Penegakan diagnosis penyakit tersebut membutuhkan keahlian khusus, waktu pemeriksaan yang lama, dan mahal, oleh karena itu penapisan tingkat risiko OSA dengan instrumen sederhana sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi tingkat risiko OSA dan sindroma metabolik dengan fungsi kognitif global. Desain potong lintang dilakukan dengan melibatkan 89 subjek yang datang dalam acara Car Free Day dan memenuhi kriteria inklusi. Data yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi, dislipidemia, diabetes melitus, indeks massa tubuh (IMT), obesitas sentral, tingkat risiko OSA, dan fungsi kognitif global. Tingkat risiko OSA dinilai dengan menggunakan instrumen STOP-BANG Questionnaire dan fungsi kognitif global menggunakan instrumen Clock Drawing Test (CDT). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna dalam hal frekuensi subjek dengan tingkat risiko tinggi OSA (p=0,042) dan subjek dengan diabetes melitus (p=0,04) antara kelompok subjek dengan status fungsi kognitif global normal dan menurun. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hanya satu komponen sindroma metabolik, yaitu hipertensi yang berhubungan dengan tingkat risiko OSA (p<0,001), sedangkan diabetes melitus, obesitas sentral dan dislipidemia tidak. Dapat disimpulkan bahwa tingkat risiko OSA berhubungan dengan status fungsi kognitif global dan komponen sindroma metabolik yang berperan adalah diabetes melitus dan hipertensi.
Pengaruh Sel Limfosit T Regulator CD4 CD25 Foxp3 dan Transforming Growth Factor (TGF) β terhadap Airway Remodelling Bronkiolus Paru pada Model Mencit Asma Faturrachman, Dicky; Barlianto, Wisnu; Mintaroem, Karyono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.772 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.4

Abstract

Peran CD4 CD25 Foxp3  dan TGF-β dalam remodeling saluran napas masih didapatkan kontroversi dan perlu diteliti lebih  lanjut. Tujuan dari penelitian  ini adalah membuktikan efek meningkatnya  jumlah  limfosit T Reg CD4 CD25 Foxp3 dan TGF-β terhadap penurunan remodeling saluran napas bronkial paru pada model mencit asma. Mencit Balb/c dibagi menjadi 2 kelompok,  yaitu  dengan  sensitisasi  ovalbumin  dan  tanpa  sensitisasi.  Sensitisasi  dilakukan  selama  9 minggu.  Jumlah limfosit T reg CD4 CD25 Foxp3  diperiksa dengan  flowcytometry dan TGF-β diperiksa dengan ELISA. Parameter remodeling saluran napas  (ketebalan epitel, ketebalan  fibrosis subepitel,  jumlah sel goblet, ketebalan otot polos) diukur dengan analisis  morfometri  dari  pemeriksaan  histopatologi.  Analisis  statistik  dengan  uji  T  berpasangan  dan  analisis  jalur hubungan  (analisis  jalur).  Hasil  menunjukkan  tidak  ada  perbedaan  yang  signifikan  dalam  jumlah  limfosit  T  reg CD4 CD25 Foxp3  (p=0,763) dan TGF-β (p=0,246) dalam 2 kelompok. Ditemukan perbedaan signifikan dalam parameter remodeling pada kedua kelompok (p=0,000). Tidak ada korelasi langsung yang signifikan antara T reg dan TGF-β dengan parameter  remodeling. Tren yang diperoleh dengan peningkatan  jumlah  limfosit  sel T  reg, menunjukkan penurunan parameter remodeling. Didapatkan adanya pengaruh limfosit T reg CD4 CD25 Foxp3  terhadap remodeling saluran napas yang ditunjukkan dengan ketebalan epitel baik secara langsung maupun tidak langsung melalui TGF-β, meskipun tidak signifikan secara statistik.Kata Kunci: Remodeling saluran napas, TGF-β, T  reg CD4 CD25 Foxp3
PRODUKSI IgA & IgG MUKOSAL DAN SISTEMIK SETELAH IMUNISASI PER ORAL DENGAN PROTEIN AdhO36 SALMONELLA TYPHI PADA MENCIT BALB/C Santoso, Sanarto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 2 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.701 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2003.019.02.2

Abstract

ABSTRACT An experiment has been conducted to determine the production of mucosal and systemic IgA and IgG after oral immunization with AdhO36 protein Salmonella typhi using CTB as adjuvant. The results of ELISA Test, shows that AdhO36 protein Salmonella typhi were highly significantly (p = 0.001) able to induce the production of S-IgA (secretory IgA), as compared to control and CTB treatment. The analysis of variance results show that the effect of AdhO36 protein to the IgA content in serum is high significantly different to IgA content in mucus (p=0.001). This finding is relevant to the previous experiments that the oral administration of AdhO36 protein can inhibit the in vivo adhessive process of Salmonella typhi at enterocytes of Balb/c mice. Therefore, it can be concluded that AdhO36 protein  Salmonella  typhi  is  a  potential  mucosal  immunogen  which  can  induce  mucosal  immune  response  as  the  results  of  the formation of protective S-IgA, which in turn, can inhibit the adhesive process as the initial stage of infection process at enterocytes of Balb/c mice.  Apart from S-IgA,
SINYAL TRANSDUKSI DARI BROMELAIN SEBAGAI ANTIINFLAMASI PADA UDEMA TELAPAK KAKI TIKUS YANG DISEBABKAN OLEH KARAGEN Sudjarwo, Sri Agus
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 1 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.01.1

Abstract

The signal transduction of bromelain as antiinflamatory in carragenan-induced rat paw edema were investigated. Sprague Dawley Rats were divided into the control groups which were given saline, and bromelain groups which received doses of 10, 20 and 40 mg/kg bromelain (peroral) respectively. This was followed by the administration of 1 % caragenin through the intraplantar route 30 min after administration  bromelain or saline. After the carrageenan injection paw volume, prostaglandin (PGE2) production and cyclooxigenase (COX)-1 and COX-2 expression was measured. The bromelain in doses of 10, 20 and 40 mg/kg showed 11.3; 45.1 and  56.3 % inhibition of paw edema respectively at the  end of three hours. The increase in Prostaglandin (PGE2) levels after carrageenan injection was significantly prevented by preadministration of the bromelain at 20 and 40 mg/kg but not bromelain at 10 mg/kg. Bromelain a dose-dependent inhibited both COX-1and COX-2 activity in carrageenin-induced inflammation. Bromelain inhibited COX-2  than COX-1 stronger activity. These results suggest that antiinflammatory effect of bromelain is due to its ability to inhibit PGE2production could be mediated by inhibition mainly on COX-2 than COX-1 activity. Keywords: Bromelain, Cyclooxigenase, Prostaglandin