cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Pengaruh Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Perawat tentang Flebotomi terhadap Kualitas Spesimen Laboratorium Wuryaning Lestari, Eky Indyanty; Rasyid, Harun Al; Thoyib, Armanu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.284 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.17

Abstract

Kesalahan pra-analitik memberikan kontribusi paling besar pada kesalahan di laboratorium (46-77,1%). Pelaksanaan pengambilan spesimen (flebotomi) yang tidak tepat, kurangnya pengetahuan dan ketidakpatuhan dari petugas flebotomi dilaporkan sebagai penyebab kesalahan pra-analitik yang berhubungan dengan kualitas spesimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku perawat tentang tindakan flebotomi serta pengaruhnya terhadap kualitas spesimen. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah 129 orang perawat pelaksana di Instalasi Rawat Inap RSUD Kabupaten Jombang dengan masa kerja minimal 1 tahun dipilih secara acak. Pengetahuan dan sikap responden tentang tindakan flebotomi diukur menggunakan kuesioner. Perilaku dan kualitas spesimen diukur melalui observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah korelasi Spearman, independent sample t-test, dan multiple logistic regression. Terdapat korelasi positif yang bermakna antara pengetahuan perawat dan kualitas spesimen (r=0,190; p=0,031). Tidak terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor sikap perawat tentang flebotomi berdasarkan kualitas spesimen laboratorium (p=0,698) dan tidak terdapat korelasi antara perilaku perawat dan kualitas spesimen (r=0,017; p=0,846). Pengetahuan, sikap, dan perilaku perawat tidak berpengaruh terhadap perubahan kualitas spesimen, diduga faktor peralatan yang digunakan untuk flebotomi memiliki peran dalam penentuan kualitas spesimen. Peningkatan pengetahuan, mempertahankan sikap positif, memperbaiki sikap negatif serta merevisi SPO pengambilan darah perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.Kata Kunci: Kesalahan pra-analitik, kualitas spesimen, pengetahuan, perawat, perilaku, sikap
Laporan Kasus: Myiasis pada Peristoma Trakeostomi Hidayat, Riza; Rahaju, Pudji; Surjotomo, Hendradi; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.01.19

Abstract

Myiasis adalah infestasi larva Diptera (lalat) pada jaringan hidup manusia atau hewan dalam periode tertentu. Kasus myiasis banyak terjadi didaerah tropis terutama pada masyarakat golongan sosio-ekonomi rendah. Myiasis pada trakeostomi jarang didapatkan, literatur di Inggris menyebutkan hanya 2 kasus myiasis pada trekeostomi. Dilaporkan kasus laki-laki 60 tahun dengan myiasis pada peristoma trakeostomi dan karsinoma laring T4N2cMo. Trakeostomi dilakukan 1 tahun yang lalu, datang dengan keluhan keluar belatung dari kanul trakea, terasa seperti ada benda asing dileher, dan rasa nyeri yang menggigit, Pada kassa kanul trakea  sering merembes darah,  dan kanul trakea tidak ditutup oleh kassa atau sapu tangan. Pasien menyatakan sering membersihkan sekitar kanul trakea menggunakan bulu ayam.  Penatalaksanaan dilakukan dengan ekstraksi larva secara manual dan debridemen, serta diberikan antibiotik intravena. Selain itu juga dilakukan perawatan luka dan penggantian anak kanul secara berkala dan  menutup kanul trakea dengan kassa. Larva teridenfikasi sebagai larva lalat Chrysomya sp. Myiasis pada trakeostomi jarang diterjadi, faktor predisposisi myiasis pada luka trakeostomi berupa kebersihan kanul trakea, bau dari luka trakeostomi, dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.
RISIKO KARDIOVASKULAR BERDASARKAN FAKTOR JAMINAN KESEHATAN PADA MASYARAKAT PEDESAAN DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Suhadi, Rita -; Linawati, Yunita; Virginia, Dita Maria; Setiawan, Christianus Heru
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.10

Abstract

Penyakit kardiovaskular merupakan risiko kesehatan terbesar di Indonesia. Penelitian survei cluster random sampling tahun 2015, program jaminan kesehatan berhasil meningkatkan kesadaran dan terapi pada subjek dengan tekanan darah ?140/90mmHg di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi risiko kardiovaskular terkait program jaminan kesehatan. Penelitian ini merupakan survei potong lintang analitik dan subanalisis pada subjek yang dapat dihitung risiko kardiovaskular 10 tahun ke depan menggunakan skor Framingham. Penelitian dilakukan pada subjek berumur 30-74 tahun dan menandatangani informed-consent. Subjek dikelompokkan berdasarkan dengan atau tanpa jaminan kesehatan. Data rerata umur, body mass index (BMI), tekanan darah, dan skor Framingham dianalisis dengan uji-t (p<0,05), sedangkan tingkatan risiko kardiovaskular 10 tahun ke depan dianalisis menggunakan statistik chi-square.  Dari penelitian ini ditemukan sebanyak 64,6% dari 429 subjek memiliki jaminan kesehatan dalam beberapa sistem jaminan. Parameter observasi kelompok dengan dan tanpa jaminan kesehatan tidak berbeda bermakna (p>0,05) untuk variabel umur, gender, merokok, pendidikan, tekanan darah, hiperglikemia, dan BMI. Subjek dengan dan tanpa jaminan kesehatan berturut-turut memiliki tekanan darah sistolik 156,5 (22,2) mmHg berbanding 156,4 (20,0) mmHg dan skor Framingham 18,4 (9,3)% berbanding 19,2 (9,3)% (p>0,05) yang termasuk kategori risiko kardiovaskular sedang. Pada subkelompok subjek dengan tekanan darah ?140/90 mmHg (n=347, 80,9%) subjek dengan jaminan kesehatan (n=277, 53,2%) dan tanpa jaminan kesehatan memiliki skor Framingham yang tidak berbeda bermakna, namun berbeda kategori risikonya yaitu 19,8 (8,9)% kategori risiko sedang berbanding 21,1 (8,3)% kategori risiko tinggi. Kesimpulan, jaminan kesehatan belum terbukti menurunkan secara bermakna risiko kardiovaskular subjek di pedesaan di Sleman-Yogyakarta.
FAKTOR DOMINAN DALAM MEMPREDIKSI MORTALITAS PASIEN DENGAN SEPSIS DI UNIT GAWAT DARURAT Akbar, Ilham; Widjajanto, Edi; Fathoni, Mukhamad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.14

Abstract

Mortalitas pasien dengan sepsis meningkat secara drastis dengan tingkat keparahannya. Ada banyak faktor yang yang menjadi pertanda perburukan kondisi maupun kematian pasien dengan sepsis. Seorang perawat diharapkan dapat menjadi lini terdepan di unit gawat darurat untuk dapat memprediksi mortalitas pasien dengan sepsis untuk menentukan tindakan definitif dengan segera tanpa melakukan pemeriksaan laboratorium. Tujuan penelitian yaitu menganalisis faktor dominan yang berhubungan dengan mortalitas pasien dengan sepsis. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasi analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel menggunakan rekam medis pasien dengan sepsis disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi dan ditentukan dengan teknik consecutive sampling yaitu sebanyak 75 responden. Analisis bivariat yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan kontigensi lambda dan chi square, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa usia (r=0,305, p=0,030), nilai qSOFA (r=0,678, p=0,000), dan penyakit komorbid (r=0,243, p=0,030) masing-masing memiliki arah hubungan positif dengan mortalitas pasien sepsis. Hasil regresi logistik menunjukkan penyakit komorbid meningkatkan 6,6 kali mortalitas pada pasien sepsis (OR=7,000, p=0,016). Penyakit komorbid dan nilai qSOFA adalah faktor yang dapat mempredikisi mortalitas pasien sepsis namun penyakit komorbid merupakan faktor yang paling dominan. 
Perbandingan Konsentrasi IgE Air Mata Penderita Alergi Okuli dengan Pemberian Pemirolast Potassium 0,1% dan Sodium Cromoglycate 4% Moehariadi, Hariwati; Yasmine, Yasmine
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.13 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.11

Abstract

Penyakit alergi okuli adalah penyakit alergi pada konjungtiva atau kulit kelopak mata, berhubungan dengan reaksi inflamasi karena menempelnya immunoglobulin  E (IgE) di sel mast. Penatalaksanaan penyakit alergi okuli meliputi meminimalkan kontak dengan alergen dan pemberian obat-obatan (antihistamin, stabilisator sel mast  (sodium cromoglycate, pemirolast potassium, lodoxamide, nedocromil sodium), kombinasi antihistamin dan stabilisator sel mast (kortikosteroid, siklosporin). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan konsentrasi IgE dan perbedaan penurunan konsentrasi IgE penderita alergi okuli sesudah diterapi dengan pemirolast potassium 0,1% atau sodium cromoglycate 4%.Penelitian ini merupakan pre and post clinical trial design pada 32 penderita alergi okuli. Sebanyak 16 penderita mendapatkan tetes mata pemirolast potassium  0,1% dan 16 lainnya mendapatkan tetes mata sodium cromoglycate 4%. Air mata penderita diambil saat datang dan satu minggu setelah terapi untuk pemeriksaan konsentrasi IgE dan diperiksa menggunakan ELISA reader. Penurunan konsentrasi IgE sebelum dan setelah terapi pada masing-masing obat diuji menggunakan uji T-test dependent, sedangkan perbandingan penurunan konsentrasi IgE antara kedua obat diuji menggunakan uji T-test independent. Pada kelompok pemirolast potassium 0,1%, konsentrasi IgE awal 730,73 ± SD 40,17 IU/ml dan menurun menjadi 678,61 ± SD 56,20 IU/ml. Kelompok sodium cromoglycate 4%, konsentrasi IgE awal 731,16 ± SD 32,13 IU/ml dan menurun menjadi 686,73 ± SD 43,08 IU/ml(p=0,000). Perbedaan penurunan konsentrasi IgE pada kelompok pemirolast potassium 0,1% sebesar 52,12 ± SD 41,00 IU/ml, kelompok sodium cromoglycate 4% sebesar 44,43 ± SD 32,63 IU/ml. Perbedaan penurunan konsentrasi IgE antara kedua obat tidak bermakna (p=0,561). Dapat disimpulkan  tidak didapatkan perbedaan bermakna efek pemirolast potassium 0,1% dan sodium cromoglycate 4% dalam menurunkan konsentrasi IgE air mata penderita alergi okuli.
POLA DAN SENSITIVITAS TERHADAP ANTIBIOTIK BAKTERI PENYEBAB INFEKSi SALURAN KEMIH ANAK DI RSU DR SAIFUL ANWAR, MALANG Subandiyah, Krisni
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 2 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.845 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.02.1

Abstract

ABSTRACT Urinary tract infection (UTI) is one of the most common bacterial infections affecting children. Early recognition and prompt treatment of UTIs are important to prevent progression of infections and to avoid late sequeale. The aim of the study was to identify the bacterial agents of urinary tract infections in children and to study sensitivity to antibiotics. Urinary specimens were collected from children suffering from urinary tract infections, who were either inpatients or outpatients between January 1999 and December 2003. Of a total of 563 urine specimens, bacteriuria was found in 276 (49.02%) of patients. Females showed a higher prevalence of infection (51.1%) than  males  (48.9%).  Mean  age  was  63  months,  median age  was  60  months  (range  1  month  to  12  years).  The microorganisms isolated  from  children  included  Escherichia  coli  (48.9%),  Acinetobacter  anitratus  (9.8%),  Klebsiella  pneumoniae  (9.4%), Staphylococcus positive coagulase (5.8%), Proteus mirabilis (4.7%), others (21.4%). Escherichia coli was sensitive to nitrofurantoin (74.8%),  nalidixic  acid  (69.6%),  cefotaksim  (48.9%),  Amoxcillin  clavulanat  acid  (37.8%),  fosfomicin  (35.6%),  gentamicin  (34.1%), ceftriaxone (31.8%), amikacin (19.2%), cotrimoxazole (15.6%), ciprofloxacin (11.1%), cefuroxim (3.7%), netilmicin (8.9%), amoxcilin (2.9%),  chloramphenicol  (2.2%),  ampicilin  (2.2%).  Resistant  to  ampicillin  dan  chloramphenicol  97.8%.  Acinetobacter  anitratus sensitive to nalidixic acid (62.96%), Amoxcillin clavulanat acid (48.15%), gentamicin (40.74%), co-trimoxazole (33.33%), nitrofurantoin (25.93%), amoxcilin (25.93%), amikacin (11.11%), netilmycine (11.11%), ampicillin (7.40%), ciprofloxacin (7.40%), cefotaxim (7.4%), ceftriaxon (7.4%), cefuroxim (3.7%).
HUBUNGAN KADAR GULA DARAH SAAT MASUK RUMAH SAKIT DENGANCARDIAC EVENTS PADA PENDERITA INFARK MIOKARD AKUT DI RS DR SARDJITO YOGYAKARTA Irawan, Bambang; Suharno, Suharno; Rochmah, Wasilah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 1 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.196 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.01.7

Abstract

Hyperglycaemia is common in patients with acute myocardial infarction with and without diabetes mellitus. There is a positive relationship between hyperglycaemia at thetime of event and highly incidence of mortality and morbidity after acute myocardial infarction. Consequently, understanding the possible mechanisms through which hyperglycaemia worsens the prognosis of acute myocardial infarction, as well as effectiveness of its control during acute myocardial infarction, seems to be a great relevance. This study to investigate wether a relationship exists between blood glucose level on admission and cardiac events in non diabetic patients after an acute myocardial infarction. Method,  a cohort prospective observational study was done on acute myocardial infarction’s patients who were hospitalized in ICCU DR Sardjito’s hospital from March 2002 until October 2004. Subject who met inclusion and exclusion criteria were divided into 2 groups, the group in which blood glucose level onadmission was ≤ 140 mg/dl and the group with bloodglucose on admission was > 140 mg/dl. Cardiac events as well as mortality, cardiac failure, reinfarction and cardiogenic shock were observed for 6 months. There were 95 subjects, 93 males and 2 females.
Pengaruh Ekstrak Metanol Biji Mahoni terhadap Peningkatan Kadar Insulin, Penurunan Ekspresi TNF-αdan Perbaikan Jaringan Pankreas Tikus Diabetes Suryani, Nany; Endang H, Tinny; Aulanni'am, Aulanni'am
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.932 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.03.3

Abstract

Diabetes mellitus(DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah  (hiperglikemia)  akibat  gangguan  sekresi  insulin  dan  atau  meningkatnya  resistensi  insulin.  T erapi  ekstrak  metanol  biji mahoni (Swetenia  mahagoni Jacq)  merupakan  salah  satu  pengobatan  alternatif  penyakit  DM. Penelitian  ini  dilakukan untuk membuktikan pengaruh pemberian terapi ekstrak metanol biji mahoni terhadap kadar insulin,  ekspresi TNF-α  dan perbaikan  jaringan  pankreas  pada  tikus  hasil  induksi  Multiple  Low  Dose-Streptozotocin  (MLD-STZ)  dosis  20  mg/kgBB selama 5 hari berturut-turut. Tikus diukur kadar glukosa darah dengan menggunakan glukometer digital dan dinyatakan DM bila kadar glukosa darahnya ≥ 300 mg/dl. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih (Rattus novergicus) jantan galur wistar yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok 1 kontrol negatif ,  kelompok 2    kontrol positif ,  kelompok 3, 4 dan 5 tikus hasil induksi MLD-STZ serta masing-masing diberikan terapi ekstrak metanol biji mahoni  dosis 100; 250 dan 400 mg/kgBB selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian terapi ekstrak metanol biji mahoni dosis 100;  250  dan  400  mg/kgBB  pada  tikus  hasil  induksi  MLD-STZ  menunjukkan  penurunan  kadar  glukosa  darah  berturut-turut sebesar  55,47%;  81,01%  dan  73,63%,  peningkatan  kadar  insulin  sebesar  78,38%;  275,68%  dan  145,95%,  penurunan ekspresi  TNF-α  sebesar  30,34%;  67,28%  dan  49,91%,  serta  perbaikan  kerusakan  jaringan  pankreas  pada  penurunan derajat  insulitis  (p<0,05).
Faktor Penyebab Penurunan Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Rumah Sakit Iskandar, Heru; Maksum, Halimi; Nafisah, Nafisah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.27

Abstract

Pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP) adalah jantung dari mutu layanan sebagai dasar proses belajar dan revisi dari kebijakan serta perbaikan berkelanjutan. Studi pendahuluan menunjukkan angka IKP yang lebih rendah dari internasional dan cenderung menurun yang mengindikasikan “under reporting”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menganalisis dan menentukan solusi faktor penyebab penurunan pelaporan IKP di RS X. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan Focus Group Discussion dengan peserta adalah 26 kepala ruang rawat inap/kepala instalasi RS X. IKP sebenarnya tinggi tetapi tidak dilaporkan, penyebabnya adalah takut disalahkan jika melapor sebab budaya patient safety yaitu no blaming masih belum tumbuh secara merata di seluruh RS, kurangnya pengetahuan tentang pelaporan IKP, keengganan melaporkan karena komitmen kurang dari pihak manajemen atau unit terkait, tidak ada reward dari RS jika melaporkan dan kurangnya keaktifan dari KKPRS. Perlu menumbuhkan budaya patient safety secara merata di RS dengan mengaktifkan kembali Patient Safety Champion (PSC). Dibutuhkan komitmen yang tinggi dari pihak direksi dan manajemen dalam program keselamatan pasien. Perlu monitoring dan evaluasi dari KPRS tentang pelaporan IKP dengan cara ronde keselamatan pasien dan visitasi secara periodik ke unit dan instalasi di rumah sakit.Kata Kunci: Budaya keselamatan pasien, kemauan melaporkan, pelaporan insiden keselamatan pasien
Efek Imunoterapi, Probiotik, Nigella Sativa terhadap Rasio CD4+/CD8+, Kadar Imunoglobulin E, dan Skoring Asma Fattory, Hittoh; Endharti, Agustina Tri; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.13

Abstract

Imunoterapi alergen-spesifik dan reduksi alergen merupakan intervensi pada penyakit alergi yang berpotensi untuk mengurangi gejala alergi jangka panjang. Penurunan sel T CD4+ dan CD8+ type 2 berkorelasi erat dengan mekanisme regulasi dari imunoterapi. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengkaji pemberian jangka panjang imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa terhadap modulasi respon imun, khususnya rasio sel T CD4+/CD8+, kadar imunoglobulin E (IgE) dan skoring asma. Desain penelitian berupa eksperimental randomized clinical trial (RCT), pre-post control study untuk rasio sel T CD4+/CD8+, kadar IgE dan skoring asma. Subjek dibagi 4 kelompok, imunoterapi+plasebo, imunoterapi+Nigella sativa, imunoterapi+probiotik, dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik. Semua perlakuan diberikan selama 56 minggu. Imunoterapi yang digunakan adalah imunoterapi house dust mite subkutan. Probiotik yang diberikan ProBi (Medifarma) berisi 2x109 colony forming unit (cfu)/gram Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis. Skoring asma dinilai dengan skor Asthma Control Test. Rasio sel T CD4+/CD8+ diukur dengan flowcytometry, dan kadar IgE diukur menggunakan Chemiluminescence Enzyme Immunoassay. Hasil penelitian menunjukkan rasio sel T CD4+/CD8+ meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,027), imunoterapi+probiotik (p=0,001), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,046). Kadar IgE tidak berbeda bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.,993), kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,756), imunoterapi+probiotik (p=0,105), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,630). Skoring asma meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.000), imunoterapi+Nigella sativa (p=0,002), imunoterapi+probiotik (p=0,000), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,000). Sebagai kesimpulan, pemberianimunoterapi dengan ajuvan probiotik danatau Nigella sativa dapat meningkatkan secara bermakna rasio sel T CD4+/CD8+ dan skoring asma.Kata Kunci: Imunoglobulin E, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik, rasio sel T CD4+/CD8+, skoring asma