cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 159 Documents
THE PLOT OF THE CHARACTERS IN ALL THE BRIGHT PLACES/KARAKTER DALAM ALUR CERITA ALL THE BRIGHT PLACES Patricia Dharma Widyantara; I Gusti Agung Istri Aryani; Ni Luh Nyoman Seri Malini
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.564.259-274

Abstract

Abstract Nowadays, plot within characters with mental health issues still a sensitive issue to be discussed by most people. Some parents often avert their children from the exposure of the topics in the purpose to protect them suffering the same illness. It is important to discuss on this topic since intend to show the reality of individuals’ feeling as mentioned in the plot of this study. The novel of All the Bright Places managed to succeed in delivering the message through interesting plot development where two main characters get together and share their perspectives to carry out the story. Hence, this study aims to investigate how Niven as a story writer structured her story with the plot. The results of this study showed a progressive kind of plot where plot elements are chronologically arranged within the mental health issues. These were found from the language in the plot including their point of views and symbols used as the elements of ction shown in the exposition, complication, crisis, climax, falling action, and resolution. It seemed that there were connection between characters supported with the language use and events covered inside the plot. These re ected to the whole part of patterns inside the story that give personal touchs to their readers from the events. Keywords: ction, literature, mental illness, novel, plot Abstrak Dewasa ini, pembahasan alur cerita dengan karakter-karakter yang memiliki masalah kejiwaan masih dianggap sensitif bagi kebanyakan orang. Beberapa orang tua masih sering menghindarkan anaknya dari paparan topik tersebut demi alasan keamanan supaya tidak terkena penyakit yang sama. Pengangkatan topik ini penting sebab berusaha mengungkapkan perasaan seseorang secara nyata dalam alur cerita seperti kajian ini. Pada novel “All the Bright Places” berhasil menyajikan pembahasan yang memberikan alur cerita menarik melalui sudut pandang kedua tokoh utama yang secara berdampingan dibagikan dalam memandu perkembangan alur cerita. Studi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara Niven sebagai penulisnya mengemas alur ceritanya. Hasil penelitian membuktikan bahwa Niven mengadaptasi tipe alur cerita progresif karena urutan alur yang tersusun secara kronologis dengan permasalahan kejiwaan di dalamnya. Temuan berupa penggunaan bahasa termasuk sudut pandang dan simbol-simbol sebagai unsur-unsur dalam alur cerita yaitu ekposisi, komplikasi, krisis, klimak cerita, penurunan klimak dari alur cerita, dan resolusi. Keterkaitan antara karakter-karakter, bahasa dan kejadian-kejadian yang ada turut mendukung alur cerita itu. Hal ini mere eksikan bahwa pola-pola kejadian yang ada mengalir di dalam cerita sehingga dapat memberikan sentuhan mendalam kepada pembacanya. Kata kunci: fiksi, kesusastraan, masalah kejiwaan, novel, alur cerita
Formulasi Fraseologi Frase Tetap dalam Komunikasi ATC: Perspektif Linguistik Terapan Ismaliyah Yusuf Rangkuti; Evi Novianti; Nindi Aristi
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4808.433-443

Abstract

Communication between pilots and air traffic controllers (ATC) in the aviation sector is supported by a standardized language system known as phraseology, particularly through the use of fixed phrases established by the ICAO. This study focuses on analyzing the formulation of fixed phrase phraseology in ATC communication from an applied linguistics perspective. The research aims to contribute significantly to the understanding of technical language within the aviation context and to enhance professional communication practices in support of optimal flight safety. Using a qualitative approach through a case study conducted at AirNav Indonesia (JATSC), data were collected via interviews, direct observations, and literature reviews. The main findings reveal that fixed phrases play a crucial role in delivering instructions quickly, clearly, and unambiguously, especially in critical or emergency situations. The applied linguistic analysis indicates that sentence structures in phraseology are formulaic and imperative in nature, designed to minimize the risk of communication errors. Furthermore, continuous training for ATC personnel is identified as a key factor in ensuring the accurate and context-appropriate use of phraseology. Adjustments to fixed phrases may occur in exceptional situations, yet these modifications are made without compromising clarity of meaning. This study underscores the importance of phraseology as a form of technical communication that prioritizes safety within the global aviation system.  AbstrakKomunikasi antara pilot dan pengendali lalu lintas udara (ATC) dalam dunia penerbangan ditopang oleh sistem bahasa terstandar yang disebut fraseologi, khususnya melalui penggunaan frase tetap yang ditetapkan oleh ICAO. Penelitian ini bertujuan berfokus pada analisis formulasi fraseologi frase tetap dalam komunikasi ATC dari perspektif linguistik terapan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman bahasa teknis dalam konteks penerbangan dan meningkatkan praktik komunikasi profesional demi keselamatan penerbangan yang optimal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus di AirNav Indonesia (JATSC), data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung, serta kajian literatur. Temuan utama menunjukkan bahwa frase tetap memainkan peran penting dalam menyampaikan instruksi secara cepat, jelas, dan tanpa ambiguitas, terutama dalam kondisi kritis atau darurat. Analisis linguistik terapan memperlihatkan bahwa struktur kalimat dalam fraseologi bersifat formulaik dan imperatif, yang ditujukan untuk mengurangi risiko kesalahan komunikasi. Selain itu, pelatihan berkelanjutan bagi petugas ATC menjadi faktor penting untuk memastikan penggunaan fraseologi yang akurat dan kontekstual. Penyesuaian frase tetap dalam situasi luar biasa pun dilakukan tanpa mengorbankan kejelasan makna. Studi ini memperkuat pentingnya fraseologi sebagai bentuk komunikasi teknis yang mengedepankan keselamatan dalam sistem penerbangan global.
VERBA "MEMASAK" DALAM BAHASA BALI: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI (MSA) Sang Ayu Putu Eny Parwati
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.73.121-132

Abstract

AbstrakBahasa merupakan sumber daya yang mampu mengungkap sebuah misteri budaya dan budaya hanya dapat diungkapan dengan bahasa. Bahasa dan budaya Bali adalah sebuah cermin jatidiri penuturnya. Bahasa dan budaya ‘memasak’ dalam masyarakat Bali memiliki makna tersendiri yang dapat diungkapkan melalui kajian Metabahasa Semantik Alami (MSA), seperti pada verba ngengseb, ngnyatnyat, dan nambus.  Teori MSA ini dirancang untuk mengeksplikasi semua makna, baik makna leksikal, makna ilokusi, maupun makna gramatikal. Verba ‘memasak’ dalam bahasa Bali termasuk dalam kategori verba tindakan (perbuatan) dan verba proses. Dalam verba tersebut terjadi polisemi takkomposisi antara MELAKUKAN dan TERJADI sehingga pengalam memiliki eksponen: “X melakukan sesuatu pada Y, dan karena itu sesuatu terjadi pada Y”. Dengan metode simak libat cakap dan teknik catat, diperoleh sebanyak 12 leksikon data yang terkumpul, selanjutnya dieksplikasikan untuk merepresentasikan makna aslinya. Berdasarkan metode, sarana, dan entitas yang digunakan dalam ‘memasak’, lesksikon verba ini terbagi dalam tiga kelompok, yaitu (1) ‘memasak’ dengan sarana air: nyakan, nepeng, ngukus, ngengseb, nglablab, ngnyatnyat (2) ‘memasak’ dengan sarana api: nunu, manggang, nambus, dan nguling, (3) ‘memasak’ dengan sarana minyak dan tanpa minyak: ngoreng dan ngenyahnyah. Semua leksikon yang memiliki makna memasak di atas berpola sintaksis MSA: X melakukan sesuatu pada Y dan Y masak/matang (termasak). 
Pengabaian Hak-Hak Kewarganegaraan Kelompok Minoritas dan Kegagalan Demokrasi dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari Purwaningsih Purwaningsih; Santy Yulianti; Dea Letriana Cesaria; Kaniah Kaniah
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.1233.264--276

Abstract

This study describes the neglected citizenship rights of minority communities as a manifestation of the negligence of minority rights and the failure of democracy as interpreted through the Novel Maryam. Maryam is a novel that tells the problems of the Ahmadiyah as minority in fulfilling their citizenship rights. The strength of this novel is based on a real incident of discrimination against Ahmadiyah that occurred in Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). The problem raised is how forms of discrimination and citizenship rights are not obtained by the character Maryam and other Ahmadiyah figures depicted in Maryam's novel. This research uses a literary sociology approach and the concept of representing reality in texts. The data collection method was carried out using literature study and notetaking techniques. Data analysis used descriptive analysis method with interpretive techniques. The results of the analysis show that the discrimination experienced by Ahmadiyah resulted in their unfulfilled citizenship rights. There are several citizenship rights that Ahmadiyah leaders have not fulfilled, including (1) the religious freedom, (2) the housing right (3) the education right, (4) the legal protection, and (5) the equal right in economic sector. In this study, it was concluded that Novel Maryam provides space for the issue of discrimination against religious minorities as a reflection of the failure of democracy in Indonesia. Even though there are many rules that provide space for equal identity rights, in reality this is not easy to put into practice.  AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan hak kewarganegaraan masyarakat minoritas yang terabaikan sebagai wujud dari pengabaian hak-hak kewarganegaraan minoritas dan kegagalan demokrasi yang diinterpretasikan melalui Novel Maryam. Maryam merupakan novel yang mengisahkan persoalan kaum minoritas Ahmadiyah dalam pemenuhan hak-hak kewarganegaraanya. Kekuatan novel ini didasarkan sebuah peristiwa nyata diskriminasi terhadap kaum Ahmadiyah yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Permasalahan yang dikemukakan adalah bentuk diskriminasi dan hak-hak kewarganegaraan yang tidak diperoleh oleh tokoh Maryam dan tokoh Ahmadiyah lainnya yang tergambar dalam novel Maryam. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan konsep representasi realitas di dalam teks. Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka dan teknik baca catat. Data dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif dengan teknik interpretatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa diskriminasi yang dialami tokoh Ahmadiyah mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak kewarganegaraan mereka. Ada beberapa hak kewarganegaraan yang tidak terpenuhi oleh tokoh Ahmadiyah, yaitu (1) hak kebebasan beragama, (2) hak mendapatkan tempat atau hunian yang baik, (3) hak atas pendidikan, (4) hak untuk bebas dari penyiksaan dan kekerasan, dan (5) hak mendapatkan ekonomi yang lebih baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa Novel Maryam mengangkat isu diskriminasi kepada kaum minoritas sebagai cerminan kegagalan demokrasi di Indonesia. Meskipun sudah banyak aturan yang memberikan ruang bagi kesetaraan hak identitas, pada kenyataanya hal ini tidak mudah dipraktikkan.
LITERARY VOCABULARIES IN INDONESIAN I Dewa Putu Wijana
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.4390.239-256

Abstract

This article deals with Indonesian literary vocabularies with the attention focus on their categories, morphological forms, semantic fields, language origin, and functions. By exploiting reflective and introspective, and empirical method, the data are collected intuitively  through various genres of song lyric lines. They are further classified in accordance with those four problems. Through careful observation and analysis toward the data collection, the research can reveal that the Indonesian literary vocabularies include various categories. There are vocabularies which have very different and similar forms from their ordinary equivalents yielded from varieties of phonological and morphological processes. The literary vocabularies are taken from various sources, such as Malay, Sanskrit, Old Javanese, and Arabic. They can be simply classified into content and functional words that cover a wide range of semantic fields. In spite of their main use for beautifying the linguistic expressions, their existence can also be exploited for intensifying them, and to keep equal to (scientific) foreign terms.     
FUNCTIONAL CATEGORIES OF CODE SWITCHING BY BAJO STUDENTS IN ENGLISH FOREIGN LANGUAGE CLASSROOM Lalu Erwan Husnan
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.135.253-268

Abstract

AbstractThis research discusses functional categories of codeswitching in English Foreign Language (EFL) classroom by Bajo students at MTs NW Nurul Ihsan Tanjung Luar village. Bajo students use Bajo, Sasak, and Indonesian (multilingual) in their daily communication. They bring their languages into their English classroom when they meet other students who come from other ethnic backgrounds and are only able to speak Sasak and Indonesian. This study is aimed at finding out the functional categories of codeswitching in Bajo’s EFL classroom. Data are collected using observation, interview, and recording method. Method used to analyze the data is descriptive-qualitative by labeling, transcription, classification, and simple descriptive statistic. Result of this research shows that the highest functional categories of codeswitching in the form of pupils’ comment as much as 44% with 129 instances, categorized into less dominant. Grammar explanation is 20% with 58 instances, categorized into not dominant. The other categories are categorized into not dominant. Most of the functional categories of codeswitching use Indonesian as much as 50,68% with 148 instances, categorized into dominant, while English is about 34,59% with 101 instances, categorized into less dominant. The other two languages, Bajo is about 8,22% and Sasak is about 6,51%, are not dominant. 
MODALITAS DALAM PIDATO JOKO WIDODO "OPTIMIS INDONESIA MAJU" DAN PRABOWO "INDONESIA MENANG": ANALISIS WACANA KRITIS Irwan Syah
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.408.73-82

Abstract

Penelitian ini berjudul “Modalitas dalam Pidato Joko Widodo “Optimis Indonesia Maju” dan Prabowo Subianto “Indonesia Menang”: Analisis Wacana Kritis”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemakaian modalitas dari kedua calon Presiden periode 2019-2024. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modalitas menurut Halliday (1994) dan Fairclough (Santosa, 2012). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berparadigma kritis, yaitu melakukan pemaparan dan penilaian terhadap data kebahasaan melalui teori modalitas sebagai analisis. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada teks pidato yang dinyatakan oleh kubu pasangan calon Presiden 01 Joko Widodo, penggunaan modalitas sebanyak 156 kali dari pasangan lawan yakni sebesar 121 modalitas yang dinyatakan oleh calon presiden 2019-2024 yaitu Prabowo Subianto. Hasil tersebut mempengaruhi presentase, calon presiden nomer urut 1 presentasenya sebesar 93,42%, sementara itu nomor urut 2 sebesar 81,76%. Hal ini menandakan calon presiden dengan nomor urut 1 dalam upaya mengukuhkan kekuasaanya sebagai petahana agar dapat memenangkan kembali pilpres 2019-2014. Pasangan calon Presiden nomer 2 yaitu Prabowo juga mempunyai upaya untuk merebut kekuasaan dan memenangkan pilpres 2019-2024. Ditunjang dengan teori Fairclough (2012) yang mana modalitas yang digunakan oleh Joko Widodo mengandung modalitas ekspresif (kemungkinan), relasional (perintah), relasional (kesanggupan), relasional (permintaan), ekspresif (kewajiban). Sementara itu, modalitas yang digunakan Prabowo menurut teori Fairclough (2012) ialah modalitas relasional (ajakan), relasional (keharusan), relasional (permintaan), ekspresif (kepastian) dan ekspresif (kemungkinan).
Cultural Literacy Based on Ecofeminism: Women's Subsistence in Traditional Folklore of North Sumatera Elly Prihasti Wuriyani; Wisman Hadi; Mustika Wati Siregar; Siti Maysarah; Tiarma Nova Intan Malasari
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4900.306-323

Abstract

The purpose of this article is to analyze the representation, roles, and forms of women’s subsistence in traditional folklore of North Sumatra through an ecofeminist approach. This study employs a qualitative method using a library research approach. The formal object of the study is literary ecofeminism, which is applied to identify forms of women’s subsistence in sustaining life and adapting to a highly patriarchal social system. The material object consists of 44 folktales from eight indigenous ethnic groups in North Sumatra, namely Batak Toba, Karo, Pakpak, Dairi, Simalungun, Mandailing, Angkola, and Nias. Data were collected through library research by examining primary and secondary sources containing folklore from each ethnic group. The data were analyzed using a dialogical method to integrate various cultural and ecological voices within the texts and to uncover the representation of women’s subsistence in their social and environmental contexts. The results reveal that women in North Sumatran folklore are portrayed as figures shaped by nature, family, and society to sustain their own lives and those around them. Women’s subsistence practices include activities such as agriculture, weaving, livestock raising, fishing, trading, and preparing traditional medicines. These activities symbolize women’s resilience and their contribution to environmental and cultural sustainability. In addition, women are depicted as guardians of moral values and social harmony within their communities. AbstrakTujuan artikel ini adalah untuk menganalisis representasi keberadaan, peran, dan bentuk-bentuk subsistensi perempuan dalam cerita rakyat tradisional di Sumatera Utara melalui pendekatan ekofeminisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Objek formal penelitian adalah ekofeminisme sastra yang digunakan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk subsistensi perempuan dalam mempertahankan kehidupan dan beradaptasi dengan sistem sosial yang sangat patrilineal. Objek material berupa 44 cerita rakyat dari delapan etnis asli di Sumatera Utara, yaitu Batak Toba, Karo, Pakpak, Dairi, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Nias. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan menelusuri berbagai sumber primer dan sekunder yang memuat cerita rakyat dari masing-masing etnis. Data dianalisis menggunakan metode dialogis untuk menggabungkan berbagai suara budaya dan ekologis dalam teks serta menemukan makna representasi subsistensi perempuan dalam konteks sosial dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam cerita rakyat Sumatera Utara digambarkan sebagai sosok yang dibentuk oleh alam, keluarga, dan masyarakat untuk mempertahankan kehidupan mereka sendiri serta kehidupan orang lain di sekitarnya. Bentuk subsistensi yang dilakukan perempuan mencakup kegiatan pertanian, menenun, memelihara ternak, memancing, berdagang, hingga meramu obat-obatan tradisional. Aktivitas tersebut menjadi simbol ketahanan hidup perempuan dan kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan dan budaya. Selain itu, perempuan juga digambarkan sebagai penjaga nilai-nilai moral dan keharmonisan sosial dalam masyarakat.
SINONIMI ADJEKTIVA DALAM BAHASA BALI I Nengah Budiasa
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.181.151-170

Abstract

Dalam bahasa Bali tidak pernah ditemukan ada dua kata bersinonim memiliki kesamaan makna yang mutlak. Sebagai satuan leksikal, setiap kata memiliki relasi semantis yang berbeda-beda dalam membangun struktur kalimat. Perbedaan tersebut meyebabkan sebuah kata tidak memiliki kemungkinan yang sama untuk berdampingan dengan kata lain dalam satu bangun kalimat. Terkait dengan hal itu, masalah yang dibahas dalam kajian ini ada dua macam, yaitu (1) berapa macamkah  pasangan sinonim adjektiva yang dapat dianalisis  dalam bahasa Bali dan (2) bagaimanakah hubungan makna kata-kata yang menjadi pasangan sinonim adjektiva dalam bahasa Bali. Tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan jumlah pasangan sinonim yang dapat dianalisis dan hubungan makna adjektiva-adjektiva yang menjadi pasangan sinonim dalam bahasa Bali. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode simak dan teknik catat. Artinya, pemerolehan data di lapangan dilakukan dengan cara menyimak pemakaian bahasa Bali, baik dalam bentuk tulisan maupun bentuk lisan. Berdasarkan  analisis data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sifat hubungan pasangan sinonim adjektiva yang ada dalam bahasa Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ragam, tingkat tutur, dan nilai rasa. 
PSK DALAM FRAMING TIGA MONOLOG/PROSTITUTE ON THREE MONOLOGUES FRAMING Resti Nurfaidah
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.718.215-228

Abstract

Abstrak Makalah berjudul “PSK dalam Framing Tiga Monolog” ditulis untuk membahas tokoh PSK dalam ketiga monolog yang bertemakan kehidupan PSK, yaitu Monolog Tanda Tanya (Anggi Eka Putri), Monolog Pelacur (Putu Wijaya), danMonolog Cahaya (Lenny Koroh dan Silvester Hurit). Penelitian dalam makalah tersebut dibatasi pada penampilan tokoh PSK dalam ketiga monolog, pembahasan PSK berdasarkan konsep framingdan representasi, serta sikap lingkungan terhadap tokoh PSK. Penelitian ini merupakan kualitatif dengan metode analisis deskriptif komparatif pada ketiga monolog. Konsep teoretis yang digunakan dalam penelitian ini adalah framing Pan & Konscki, serta representasi Hall. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil berikut: (1) PSK yang ditampilkan dalam ketiga monolog ditunjukkan sebagai perempuan yang terjerumus. Tokoh PSK mudah terjerumus ke dalam dunia hitam, tetapi sulit keluar dari dunia tersebut; (2) Berdasarkan hasil framing dan representasi, tokoh PSK merupakan korban yang tidak mampu mengatasi dampak pelecehan seksual atau pemerkosaan. Kekecewaan berkepanjangan tidak pernah teratasi karena tokoh PSK dipertemukan dengan lingkungan atau pihak yang berkompeten menjerumuskan perempuan itu di dunia hitam, misalnya teman atau kekasih. Konflik dengan sosok ayah juga dianggap sebagai pencetus utama tercetusnya seorang perempuan ke dunia hitam; serta (3) sikap lingkungan terhadap tokoh PSK menunjukkan bahwa dunia hitam para PSK bukan dunia yang ramah. PSK tidak dapat ke luar dari dunia tersebut dengan mudah sementara ia harus bertanggung jawab untuk kehidupan anggota keluarganya.  Selain itu, ia harus menanggung risiko besar selama menjalani profesinya, tanpa perlindungan apa pun. PSK bukan saja mengalami kesulitan di dunianya sendiri, melainkan pula di dunia luar. Lingkungan sosial sulit menerima eksistensi mereka, bahkan cenderung merendahkan. Tidak jarang lingkungan sosial dapat menjadi pencetus atau pendukung terjerumusnya seorang perempuan menjadi PSK. Kata kunci: PSK, framing, pelecehan, korban Abstract"PSK in Framing of Three Monologues" discussed prostitute figures on the three prostitute themed monologues:  Monolog Tanda Tanya (Anggi Eka Putri), Monolog Pelacur (Putu Wijaya), dan Monolog Cahaya (Lenny Koroh dan Silvester Hurit). The research was limited to (1) the appearance of prostitute figures in all three monologues, (2) prostitute discussions based on the result of framing and representation, also (3) environmental reactions towards prostitutes. This research is qualitative with a comparative descriptive analysis method on all three monologues. The theoretical concept used in this research was Pan & Konscki’s framing, as well as Hall representation of the. The result was below. First, PSK displayed in all three monologues was shown as women who were extremely trapped. PSK figures easily fell into the site, but were difficult to get out from. Second, based on the framing and representation, prostitute figures were victims who were unable to cope with the effects of sexual harassment or rape. Prolonged disappointment had never been resolved because they met with the environment or the competent party plunged them into such world, such as friends or lovers. Conflict with a father figure was also considered as the main originator of the emergence of a woman into the sit. Three, the environmental attitude towards the prostitute shew that the surroundings of prostitutes were not a friendly world. They won’t let to be out of it easily while, on the other hand, they had to be responsible for the lives of their family members. In addition, they were close to high-risks of their profession, without any protection. Prostitutes were not only experience difficulties in their own world, but also in the outside world. The social environment also hardly accepted their existence, even tends to be condescending. Sometimes, it could be the originator or supporter of a woman becoming a prostitute. Keywords: prostitute, framing, harrashment, victims

Page 6 of 16 | Total Record : 159