cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 159 Documents
The Philosophy of Balinese Text I Sugih Teken I Tiwas: Systemic Functional Linguistics I Ketut Suardana; Nidya Fitri
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.1096.203-214

Abstract

This research investigated the philosophy of Text I Sugih Tekẻn I Tiwas ‘the rich and the poor’ from Systemic Functional Linguistics. The data source was taken from Pupulan Satwa Bali ‘Ba-linese narrative text collection’ realized with Balinese text. This research used qualitative with grounded theory. The result of the research indicated that; elaboration verbs were used to state advantages for I Tiwas, extension verbs were used to elaborate on I Tiwas’s disadvantages, and enhancement verbs were used to elaborate I Sugih’s ambition. The philosophy of the text is re-lated to Hindu philosophy called Karma Pala ‘cause and effect law’ involving; how to humanize others, how to be a creative person, and how to use language properly. This research has signif-icance for linguistics research, namely semantics, semiotics, language philosophy, and dis-course.  
PERUBAHAN POLA PIKIR KAUM MARGINAL TERHADAP PENDIDIKAN DALAM NOVEL ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO I Wayan Nitayadnya
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.130.181-196

Abstract

Penelitian ini membahas masalah perubahan pola pikir kaum marginal terhadap pendidikan dalam novel Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo dan faktor-faktor yang memotivasi dan mempengaruhi perubahan pola pikir tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode kepustakaan dengan teknik catat dan identfikasi. Metode deskriptif analitik digunakan pada tahapan analisis data dan metode informal digunakan pada tahapan penyajian hasil analisis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kaum marginal dalam novel Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo memandang pendidikan sebagai sesuatu yang tidak begitu penting dalam kehidupan mereka. Mereka lebih mengutamakan kegiatan yang dianggap mampu menghasilkan uang. Adanya pola pikir yang demikian disebabkan oleh faktor lemahnya kondisi keluarga, lingkungan sosial yang kurang mendukung terlaksananya pendidikan yang konduksif, ketiadaan perhatian orang tua, dan tidak adanya kemauan. Perubahan pola pikir kaum marginal terhadap pendidikan terjadi setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan sehingga mudah dibodohi orang dan tidak mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Mereka berharap dengan pendidikan segala potensi, baik itu potensi kognitif, afektif, maupun psikomotor, yang ada dalam diri mereka dapat dikembangkan.  
PEMOSISIAN PELAKU DAN KORBAN DALAM BERITA KRIMINAL TENTANG PEMBUNUHAN DI BERITA ONLINE TRIBUN NEWS.COM Deriz Nius Hura; Ngusman Abdul Manaf; Syahrul Ramadhan
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.522.95-108

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan teori inclusion theo van leeuwen dalam berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news.com.  Pengumpulan data dilakukan beberapa tahap, yaitu  (1) membaca dan memahami wacana, (2) menandai bagian-bagian wacana yang berhubungan dengan teori inclusion theo van leeuwen, dan (3) mengumpulkan kalimat dalam wacana yang berhubungan dengan teori inclusion theo van leeuwen dengan menggunakan format inventarisasi data. Penganalisasan data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news,  dapat disimpulkan ada lima judul berita  yang terdapat dengan menggunakan teori inclusion theo van leeuwen antara lain, objektivita-abstraksi, nominasi-kategorisasi, nominasi-identifikasi, asimilasi-individualisasi, dan asosiaso-disosiasi. Dari teori di atas, dapat dinyatakan dalam menulis berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news, wartawan tidak memarjinalkan korban. Dalam membuat judul berita wartawan tidak menyembunyikan pelaku. The purpose of this study is to analyze the use of Theo Van Leeuwen’s inclusion theory in murder crime news in the news stands online news.com. The method used is the discourse analysis of Theo Van Leeuwen’s model. Data collection is carried out through three stages, namely (1) reading and understanding the discourse contained in criminal news about murders in the online news stands news.com aims to gain an understanding of the content of the discourse under study, (2) marking the discourse parts that are related with Theo Van Leeuwen’s inclusion theory, and (3) collecting sentences in discourse related to Theo Van Leeuwen’s inclusion theory using a data inventory format. Analyzing data is done descriptively. Based on the results of research conducted on criminal news about killings in the online news stands news. com it can be concluded that there are five news titles contained using Theo Van Leeuwen’s inclusion theory, including objectivity-abstraction, nomination-categorization, nominationidentification, assimilation- individualization, and association-dissociation. From the above theory, it can be stated that in writing criminal news about murders in the news online the news.com stands the journalists do not marginalize victims. In making headlines, reporters keep hiding the perpetrators. Concealment of the perpetrators by journalists is done by usingpassive sentences in the headline.Keywords: critical discourse analysis, perpetrators and victims, inclusion theo van leeuwen
Menelusuri Variasi Bahasa Dayak di Kapuas Hulu: Kajian Dialektometri Atas Delapan Isolek Irmayani Abdulmalik; Dedy Ari Asfar; Yusup Irawan; Foni Agus Setiawan; Herpanus Herpanus; Muhammad Pramulya
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4920.242-256

Abstract

This article aims to present the distribution of eight Dayak isolects in Kapuas Hulu Regency from a dialectometric perspective. Based on dialectometric calculations, primary data consisting of a number of vocabulary items in the target language obtained through fieldwork were analyzed using Séguy's formulation, then grouped according to Guiter's scale and compared with Lauder's scale. The results show that language classification referring to Guiter's scale produces four language groups, namely Kayaan, Tamanik, Ibanik, and Buket-Punan. Within the Tamanik language, there is a subdivision at the level of subdialect differences, namely Taman and Tamambaloh. Furthermore, the Taman subdialect itself is further divided into two variants that are at the level of no difference, namely Taman Kapuas and Taman Sibau. The other language group is Ibanik. According to Guiter's scale, this language group is divided into the Kantuk and Iban variants, both of which are at the subdialect difference level. The last language group is Buket-Punan. Interestingly, this last language group shows different results from the perspectives of Guiter and Lauder. Based on Guiter's scale, this language group is considered a single language but with different dialects. Conversely, according to Lauder's scale, Buket and Punan are regarded as two distinct languages. This demonstrates differing interpretations of language grouping between Guiter and Lauder. In other words, if based on Guiter's scale, the eight isolects can be grouped into four languages. However, according to Lauder, the eight isolects can be grouped into five languages. AbstrakTulisan ini bertujuan memaparkan distribusi delapan isolek Dayak di Kabupaten Kapuas Hulu dalam perspektif dialektometri. Dengan berlandaskan pada penghitungan dialektometri, data primer berupa sejumlah kosakata dalam bahasa target yang diperoleh melalui pupuan lapangan dianalisis menggunakan formulasi Séguy yang kemudian dikelompokkan berdasarkan skala Guiter dan diperbandingkan dengan skala Lauder. Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi bahasa yang merujuk pada skala Guiter menghasilkan empat kelompok bahasa, yaitu, Kayaan, Tamanik, Ibanik, dan Buket-Punan. Pada bahasa Tamanik, terdapat turunan pengelompokan pada taraf beda subdialek, yaitu Taman dan Tamambaloh. Selanjutnya, pada subdialek Taman sendiri terbagi lagi menjadi dua varian yang berada pada level tidak ada beda, yaitu Taman Kapuas dan Taman Sibau.  Kelompok bahasa lainnya adalah Ibanik. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini terbagi menjadi varian Kantuk dan Iban yang keduanya berada pada level beda subdialek. Kelompok bahasa terakhir adalah Buket-Punan. Uniknya, kelompok bahasa terakhir ini memperlihatkan hasil yang berbeda dari sudut pandang Guiter dan Lauder. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini adalah satu bahasa yang sama tetapi dialek yang berbeda. Sebaliknya, jika merujuk pada skala Lauder, Buket dan Punan dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda. Ini memperlihatkan interpretasi pengelompok bahasa yang berbeda antara Guiter dan Lauder. Artinya, jika didasarkan pada skala Guiter, delapan isolek itu dapat dikelompokkan menjadi empat bahasa. Namun, menurut Lauder, delapan isolek tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima bahasa.
TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: KEKERASAN BUDAYA DAN ARKEOLOGI-GENEALOGI PENGETAHUAN/ TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: CULTURAL VIOLENCE AND ARCHEOLOGY-GENEALOGY OF KNOWLEDGE Mashuri Mashuri
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.710.169-186

Abstract

AbstrakPenelitian sandur, kesenian rakyat berupa drama tari di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro sudah banyak, tetapi yang membicarakan tentang kekerasan budaya dan tembang sandur dalam kerangka arkeologi dan genealogi pengetahuan belum ditemukan. Hal itu karena kekerasan budaya menimpa seni tersebut karena imbas stigmatisasi sepihak pascatahun 1965—1966 yang menganggap sebagai kesenian rakyat yang berafiliasi ke PKI, dan pada masa puritanisme Islam menguat pada tahun 1990-an yang menganggap sandur tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, padahal isi tembang-tembang sandur kontradiksi dengan stigma tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini menguak aspek kekerasan budaya dengan menelusuri tembang sandur dari perspektif genealogi dan arkeologi pengetahuan dalam bingkai cultural studies. Teori yang digunakan adalah triangulasi teori, yaitu folklor, arkeo-genealogi pengetahuan, dan kesejarahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tembang-tembang sandur memiliki metrum puitika Jawa yang mengarah pada nyanyian anak-anak, dengan media bahasa Jawa lokal, dan menyimpan jejak kearifan lokal, etika, dan spiritual, (2) nilai-nilai Islam-Jawa menjadi ruh tembang-tembang sandur. Di dalamnya terdapat sinkretisme nilai-nilai Jawa dan Islam, (3) stigmatisasi sepihak pada Sandur Bojonegoro, baik oleh kalangan anti-komunis maupun puritanisme Islam, hanya melihat pada konteks kesejarahan Indonesia pada Orde Lama ketika politik menjadi panglima dan hanya melihat penampang permukaan semata tanpa mendalami unsur-unsur pembentuknya, ideologi, ajaran luhur, dan tradisi yang melahirkan seni sandur.    Kata kunci:Sandur Bojonegoro, kekerasan budaya, arkeologi, genealogi pengetahuan  AbstractThere are many researches on sandur, folk art in the form of dance dramas in Ledok Kulon Village, Bojonegoro District, Bojonegoro Regency, but those that talk about cultural violence and tembang sandurin the archaeological framework and genealogy of knowledge have not been found. This is because cultural violence befell the art because of the impact of unilateral stigmatization after 1965-1966 which considered it a folk art affiliated to the PKI, and during the period of strong Islamic puritanism in the 1990s, which considered sandur not in accordance with Islamic values, even though the contents tembang sandurcontradict this stigma. Therefore, this study uncovers aspects of cultural violence by tracing tembang sandurfrom the perspective of genealogy and knowledge archeology within the framework of cultural studies. The theory used is triangulation of folklore theory, archeology-genealogy of knowledge, and history. As a result, (1) the sandursongs have a Javanese poetic metre that leads to children's singing, with local Javanese language media, and keeps traces of local wisdom, ethics, and spirituality, (2) Javanese-Islamic values become the spirit of the tembang sandur. In it there is a syncretism of Javanese and Islamic values, (3) the unilateral stigmatization of SandurBojonegoro, both by anti-communists and Islamic puritans, only looks at the historical context of Indonesia in the Orde Lamawhen politics was the commander and only sees the surface without explore its constituent elements, ideology, noble teachings, and traditions that gave birth to the art of sandur. Keywords:SandurBojonegoro, cultural violence, archeology, genealogy of knowledge
PEMAKNAAN MOTIF TABU DALAM CERITA RAKYAT DI WILAYAH BEKAS KERAJAAN MULAWARMAN, KERAJAAN HINDU TERTUA DI INDONESIA Derri Ris Riana
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.80.197-210

Abstract

Penelitian cerita rakyat sebagai pengungkap budaya masyarakat yang mengandung kearifan lokal masih penting dilakukan. Apalagi, cerita rakyat yang berkembang di wilayah bekas Kerajaan Mulawarman, kerajaan Hindu tertua di Indonesia belum diungkap secara detil. Dengan menggunakan metode studi sastra lisan dan pendekatan tipe-motif, Stith Thompson, artikel ini berusaha mengungkap Kerajaan Mulawarman, menguraikan cerita rakyat yang berkembang di wilayah tersebut, memaparkan motif tabu yang terdapat dalam keempat cerita rakyat, yaitu “Legenda Patung Batu Desa Pantun”, “Legenda Gua Kombeng”, “Kutukan Sang Kudungga”, dan “Kisah Baung Putih”, serta menguraikan konsep tabu pada masyarakat sekarang. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka, sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara informan, pengamatan, perekaman, dan pencatatan. Metode analisis data menggunakan kritik teks, sedangkan teknik analisis data menggunakan klasifikasi motif Thompson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya fakta-fakta historis Kerajaan Mulawarman melalui kajian keempat cerita tersebut, serta terkuaknya beragam motif tabu yang terdapat di dalam masyarakat Kutai. Pemaknaan konsep tabu ini masih berlangsung di masyarakat Kutai. Beberapa hal tabu masih berlangsung sampai dengan saat ini, sedangkan yang lain sudah tidak berlaku lagi karena pengaruh perkembangan zaman dan permasifan globalisasi. Motif tabu merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Kutai Kartanegara yang perlu dilestarikan karena mengandung nilai-nilai yang sangat bermanfaat.
Kebiasaan Berbahasa di Media Sosial: Kajian Psikolinguistik Indrya Mulyaningsih
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.1237.106--115

Abstract

This study aims to explain the use of language in social media using a psycholinguistic approach. This descriptive qualitative research data is taken from the comment`s column of Ria Ricis's TikTok account. The time for data collection is throughout 2021. Data was collected through listening to various texts and then recorded on data cards. The validity of the data through triangulation of theory, data sources, and methods. Data were analyzed using the distribution method with advanced techniques for direct elements. The results showed that the habit of turning over, abbreviating, removing syllables and acronyms was done in informal situations. The reasons for doing these four things are because they are group characteristics, have closeness, and so that they are fast. As a result, language on social media tends to be disobedient. In fact, in addition to the non-formal variety, one must also master the formal variety.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplanasikan penggunaan bahasa di media sosial dengan menggunakan pendekatan Psikolinguistik. Data penelitian kualitatif deskriptif ini diambil dari kolom komentar akun TikTok Ria Ricis. Pengumpulan data dilaksanakan sepanjang tahun 2021. Data dikumpulkan dengan menyimak berbagai teks lalu dicatat di kartu data. Keabsahan data diuji melalui triangulasi teori, sumber data, dan metode. Data dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik lanjutan bagi unsur langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membalik, menyingkat, menghilangkan suku kata, dan pengakroniman dilakukan dalam situasi tidak resmi. Dilakukannya keempat hal tersebut untuk mencirikan kelompok, menandakan kedekatan, dan mengefisienkan waktu dan ruang. Dengan demikian, bahasa di media sosial cenderung tidak taat kaidah. Padahal, selain ragam nonformal, seseorang juga harus menguasai ragam formal.
MITOS UKULLEK ORANG HUBULA DI LEMBAH BALIEM, PAPUA: SEBUAH TELAAH TEORI STRUKTUR A.J GREIMAS Ummu Fatimah Ria Lestari
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.147.87-98

Abstract

Penelitian ini mengkaji struktur mitos Ukullek masyarakat Hubula di Lembah Baliem, Papua dalam teori Struktur Aktan dan Fungsional Greimas. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana struktur mitos Ukullek masyarakat Hubula di Lembah Baliem, Papua dalam teori Struktur Aktan dan Fungsional Greimas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode deskriptif-analitik. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Selanjutnya fakta/data yang ditemukan dianalisis berdasarkan metode analitik. Penelitian ini menganalisis struktur aktan dan fungsional berdasarkan teori Struktur A.J. Greimas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur aktan terdiri atas (1) pengirim, (2) objek, (3) penerima, (4) subjek, dan (5) pembantu dalam mitos tersebut. Struktur fungsional dibedakan menjadi (1) situasi awal; (2) transformasi, yakni (a) tahap uji kecakapan, (b) tahap utama, (c) tahap kegemilangan; dan (3) situasi akhir terdapat di dalamnya. Selain itu, ditemukan adanya relevansiantara mitos dan masyarakat Hubula di Lembah Baliem, Papua.
Penerapan Artificial Intelegence Supersense Berbasis Smartphone Android terhadap Kemampuan Membaca Mahasiswa Tunanetra Raden Ika Mustika; Reka Yudamahardika; Dede Endang Mascita; Lestari Purwanigsih
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4253.163--177

Abstract

This research is motivated by the fundamental problem of the limitations of visually impaired students in accessing written information, especially in the process of reading which is a key skill in learning. Artificial intelligence supersense (AIS) technology based on android smartphones (SA) through a constructivism approach is present to accommodate the gap experienced by visually impaired students. This study aims to determine the development of the application of SA-based AIS technology through a constructivism approach to the reading ability of visually impaired students and describe the perception of visually impaired students towards the use of SA-based AIS technology through a constructivism approach. The research method used is single subject research. The research subject was chosen purposively based on the character of the research subject who had difficulty reading the exposition text. This research instrument uses tests, questionnaires, videos, and photos. The data analysis technique used with the A-B research design. The results of the study show that the development of the application of SA-based AIS through the constructivism approach can improve the ability to read exposition texts of visually impaired students and students' perception of the use of exposition texts. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mendasar keterbatasan mahasiswa tunanetra dalam mengakses informasi tertulis, terutama dalam proses membaca yang menjadi keterampilan kunci dalam pembelajaran. Teknologi artificial intelegence supersense (AIS) berbasis smartphone android (SA) melalui pendekatan konstruktivisme hadir untuk mengakomodasi kesenjangan yang dialami mahasiswa tunanetra. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan penerapan teknologi AIS berbasis SA melalui pendekatan konstruktivisme terhadap kemampuan membaca mahasiswa tunanetra dan mendeskripsikan persepsi mahasiswa tunanetra terhadap penggunaan teknologi AIS berbasis SA melalui pendekatan konstruktivisme. Metode penelitian yang digunakan adalah single subject research. Subjek penelitian dipilih secara purposif    berdasarkan karakter subjek penelitian yang mengalami kesulitan dalam membaca teks eksposisi. Instrumen penelitian ini menggunakan tes, angket, video, dan foto. Teknik analisis data yang digunakan dengan desain penelitian A-B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan penerapan AIS berbasis SA melalui pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan kemampuan membaca teks eksposisi mahasiswa tunanetra dan persepsi mahasiswa terhadap penggunaan terknologi AIS berbasis SA sangat positif yakni mengatasi hambatan aksesibilitas     bagi penyandang disabilitas netra.
BENTUK DEKONSTRUKSI IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL OUT DAN GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO I Gusti Ayu Andani Pertiwi; I Nyoman Darma Putra; Ida Ayu Laksmita Sari
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.487.15-30

Abstract

Novel Bebas dan Grotesque: Gaib adalah karya sastra Natsuo Kirino yang mengangkat topik mengenai realita sosial di Jepang. Isu-isu yang diangkat di dalam novel tidak jauh dari bahasan mengenai gender di Jepang serta narasi seksualitas yang dihadirkan melalui isu enjokousai (prostitusi). Penelitian ini berusaha mengungkap bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang dilakukan oleh pengarang dalam novel tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data studi pustaka. Data-data dikumpulkan dari kedua novel dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teori dekonstruksi dan teori feminisme. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pengarang mendekonstruksi wacana-wacana ketimpangan gender dan seksualitas di Jepang kemudian menuangkannya ke dalam bentuk teks-teks sastra. Bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang ditampilkan pengarang dalam kedua novel tersebut yaitu ideologi gender yang memertahankan peran gender konvensional dan ideologi gender yang mengikuti perkembangan zaman. Natsuo Kirino’s Out and Grotesque raises the topic of social reality in Japan. The issues raised in the novel are not far from the discussion of gender and the narrative of sexuality, which is presented through the issue of enjokousai (prostitution). This research attempts to uncover the forms of gender ideology deconstruction carried out by the author in the novel. This research is a qualitative research with literature study method. Data is collected from both novels and then analyzed using deconstruction theory and feminism theory. The results of the study show that the author deconstructed the discourse of gender inequality and sexuality in Japan and then poured it into the form of literary texts. The form of gender ideology deconstruction is gender ideology that follows the passage of time. Each character depicted is no longer influenced by the conventional order of Japanese society regarding how men and women should be. Instead, they choose to go by their own rules of life.Keywords: deconstruction, ideology, gender, Natsuo Kirino   

Page 4 of 16 | Total Record : 159