cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 159 Documents
Mengukur Pemikiran Kritis Calon Guru Bahasa melalui Teks Sastra Abdul Rozak; Atikah Atikah; Jimat Susilo
Aksara Vol 37, No 1 (2025): AKSARA, EDISI JUNI 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i1.4800.134-148

Abstract

Critical thinking is a necessary skill for problem-solving in learning, especially for prospective teacher students. This study investigates the critical thinking skills of prospective teacher students at Universitas Sindang Kasih Majalengka through literary analysis. This research is based on the claim that there is a low number of graduates with critical thinking abilities. Meanwhile, courses that focus on literary analysis involve critical thinking skills by utilizing various literary approaches. Critical thinking in this context focuses on indicators such as the ability to provide simple explanations, develop basic skills, summarize/conclude, provide more detailed explanations, and decide on the next strategy. Specifically, this research examines critical thinking skills in the context of literary analysis activities, including poetry, prose, and drama. The findings show that literary analysis activities provide space for prospective teacher students to train their critical thinking skills. The critical thinking abilities of each student vary, but the essay assignment framework in literary analysis provides a framework for critical thinking among students. This directly impacts the development of literacy and the ability to read critically literary works in Indonesia. AbstrakBerpikir kritis adalah kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran, khususnya pada mahasiswa calon guru. Studi ini menyelidiki kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru di Universitas Sindang Kasih Majalengka melalui telaah karya sastra. Penelitian ini didasari oleh klaim rendahnya lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Sementara itu, mata kuliah yang berorientasi pada telaah karya sastra melibatkan kemampuan berpikir kritis dengan memanfaatkan berbagai pendekatan sastra. Kemampuan berpikir kritis dalam hal ini berpusat pada indikator kemampuan memberikan penjelasan sederhana, mengembangkan keterampilan dasar, meringkas/kesimpulan, memberikan penjelasan yang lebih rinci, dan memutuskan strategi selanjutnya. Secara khusus, penelitian ini meneliti kemampuan berpikir kritis dalam kegiatan telaah karya sastra, baik puisi, prosa, maupun drama. Temuan menunjukkan bahwa kegiatan telaah karya sastra memberikan ruang untuk mahasiswa calon guru dapat melatih kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis setiap mahasiswa relatif berbeda, tetapi konstruk penugasan esai dalam telaah sastra memberikan kerangka kerja berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Hal ini berimplikasi langsung pada perkembangan literasi dan kemampuan membaca kritis karya sastra di Indonesia.
IMPLIKATUR DAN RETORIKA PEMAKAIAN BAHASA PADA IKLAN PAPAN NAMA I Made Purwa
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.167.13-24

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan jenis-jenis implikatur dan retorika pemakaian bahasa pada papan iklan. Kajian ini membahas perspektif pemakaian bahasa dan tindak tutur pada papan iklan. Bahasa pada papan iklan disampaikan dengan teknik persuasif. Persuasi yang muncul dalam implikatur papan iklan: (a) memuji keunggulan produk, (b) memerintah menggunakan produk secara langsung, dan (c) menegaskan nama produk. Implikatur ini muncul akibat simpulan yang didasari latar belakang pengetahuan tentang produk atau barang yang diiklankan. Dari segi penyampaiannya, bahasa papan iklan menggunakan kaidah retorika: (a) iklan dengan kaidah pernyataan netral disertai penilaian, (b) iklan dengan kaidah perkaitan konsep, (c) iklan dengan kategori keyakinan, (d) iklan dengan kaidah larangan, dan (e) iklan dengan kaidah suruhan. 
KULINER, TUBUH, DAN IDENTITAS: SEBUAH PEMBACAAN GASTRO-SEMIOTIKA TERHADAP SEPILIHAN PUISI KARYA HANNA FRANSISCA/CULINARY, BODY, AND IDENTITY: A SEMIOTIC-GASTROCRITICAL READING TO HANNA FRANSISCA’S SELECTED POEM Ahmad Zamzuri
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.721.1-10

Abstract

AbstrakMakanan pada era kiwari tidak lagi sekadar hidangan, tetapi menjadi perantara munculnya beragam tafsir. Hanna Fransisca menjadi salah seorang penyair yang memanfaatkan khazanah kuliner dalam puisi. Artikel ini mengulas tiga puisi pilihan karya Hanna Fransisca, yaitu “Bakpao Tionghoa”, “Kambing Guling”, dan “Tumis Paru”. Penelitian ini menyoal kuliner dalam puisi yang dibaca melalui perspektif gastrokritik dengan menggunakan metode semiotika Rolland Barthes. Penelitian ini berusaha mengungkap makna kuliner dalam ketiga puisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kuliner dalam puisi “Bakpao Tionghoa”, “Kambing Guling”, dan “Tumis Paru” menyoal tubuh. Bakpao dan kambing guling menjadi medium penarasian tubuh yang tidak memiliki otoritas gerak di ruang sosial. Tubuh disepadankan bakpao yang cenderung diposisikan sebagai objek konsumtif.  Tubuh dalam “Kambing Guling” hadir sebagai tubuh dalam ruang teritori yang cenderung mengekang kebebasan sebagai subjek. “Tumis Paru” menjadi medium penarasian tubuh yang telah terbebas dari penjara badani. Dalam hal identitas, ketiga puisi menarasikan identitas Tionghoa yang identik berkulit cerah dan berada pada ruang-ruang stereotip. Kuliner dalam ketiga puisi tersebut menjadi medium kritik, upaya protes, dan sindiran terhadap praktik-praktik warisan kolonial yang membedakan status dan identitas. Kata kunci: identitas, kuliner, tubuh, Tionghoa, gastrokritik, semiotik AbstractFood in the recent era is no longer just a dish, but an intermediary for various interpretations. One of the poets who have used culinary treasures in the world of poetry is Hanna Fransisca. This article reviews selected poems by Hanna Fransisca entitled "Bakpao Tionghoa", "Kambing Guling", and "Tumis Paru". This research examines culinary in poetry through a gastro-critical perspective using the semiotic method of Rolland Barthes. This research attempts to reveal the culinary meaning in the three poems. The results showed that the culinary in the poetry "Bakpao Tionghoa", "Kambing Guling", and "Tumis Paru" shows body problems. Bakpao and Kambing guling become a medium for body narration which does not have the authority in social space. The body, through bakpao, is to be positioned as a consumptive object. Meanwhile, the body in “Kambing Guling” is present as a body in territorial space which tends to restrain freedom as a subject. “Tumis Paru” becomes a medium for narrating the body that has been freed from physical prison. In terms of identity, the three poems narrate a Chinese identity that is identical with bright skin and exists in stereotypical spaces. The culinary in the three poems is a medium of criticism, protest, and satire against colonial heritage practices that differentiate status and identity. Keywords: identity, culinary, body, Tionghoa, gastrocritics, semiotics
KORESPONDENSI BUNYI DIALEK-DIALEK BAHASA CULAMBACU/ Phonemic Correspondence of Bahasa Culambacu’s Dialects Firman A.D. nfn Firman
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.539.97-108

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan evidensi fonologis pemisah dan penyatu dialek-dialek bahasa Culambacu dengan menggunakan analisis korespondensi bunyi. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan teknik dialektometri dan analisis kualitatif dengan teknik korespondensi bunyi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialek-dialek yang diperbandingkan, Lamonae (Lmn), Landawe (Lnd), dan Torete (Trt), berdasarkan perhitungan dialektometri menunjukkan status ada yang beda sub-dialek dan ada juga yang hanya beda wicara. Secara kualitatif, kedekatan ketiga dialek tersebut dibuktikan dengan beberapa kosakata yang memiliki kedekatan dari sisi korespondensi bunyi. Formula korespondensi bunyi terlihat dalam bentuk korespondensi bunyi yang teratur dalam bentuk konsonan dan vokal. Evidensi fonologis pemisah dialek Lnd dan PTrt-Lmn dapat dilihat pada posisi c ≈ t /# -, c ≈ t /K–K, o ≈ u /#K –, b ≈ w /# –, ø ≈ k / -#, e ≈ o / #K-, h ≈ ø/ V-V, h ≈ ø/K-K, n ≈ ø/V-K, dan G ≈ ø/#-. Sementara evidensi fonologis pemisah dialek Lmn-Trt pada posisi h ≈ w /# –, w ≈ ø /# –, w ≈ ø /# –, g/G/h ≈ ø /#-, ko/hu ≈ ø /V-K, dan w/m/d ≈ b /#-. Sementara itu, evidensi fonologis penyatu dapat dilihat dari adanya bunyi konsonan [h], [s], [m] pada posisi awal dan bunyi [m] pada posisi tengah pada semua dialek. Pada bunyi vokal dapat dilihat pada vokal [a] pada posisi awal dan posisi awal setelah konsonan pada semua dialek.  Begitu juga vokal [a] pada posisi akhir. Vokal [i] pada posisi awal setelah konsonan juga ada pada semua dialek.   AbstractThe objective of this study was to describe separation phonological evidences of Bahasa Culambacu’s dialects by using the phonemic correspondences analysis. This study was analyzed quantitatively by applying dialectometric technique and qualitatively by applying phonemic correspondence technique. Result of this study showed that after Lamonae (Lmn), Landawe (Lnd), and Torete (Trt) dialects were compared, then analyzed by using dialectometric technique, the status of those dialects was considered to dialect difference and speech difference. Qualitatively, the proximity of the three dialects, as evidenced by some vocabularies which have the proximity in terms of phonemic correspondence. The formula of phonemic correspondence was shown in the form of regular phonemic correspondence of consonant and vocal. However, the number of vocal phonemic correspondence was limited. The formula of phonemic correspondence are as follows: separation phonological evidence of Lnd and Trt-Lmn can be seen in the position of c ≈ t /# -, c ≈ t /K–K, o ≈ u /#K –, b ≈ w /# –, ø ≈ k / -#, e ≈ o / #K-, h ≈ ø/ V-V, h ≈ ø/K-K, n ≈ ø/V-K, and G ≈ ø/#-. Separation phonological evidence of Lmn-Trt can be seen in the position of h ≈ w /# –, w ≈ ø /# –, w ≈ ø /# –, g/G/h ≈ ø /#-, ko/hu ≈ ø /V-K, and w/m/d ≈ b /#-. On the other hand, unification phonological evidence of bahasa Culambacu’s dialects can be seen in consonant phonemic of [h], [s], [m] at the beginning position (initial) and [m] in the middle position of all dialects. Vocal phonemic can be seen not only [a] at the beginning position and beginning position after consonant of all dialects, but also [a] at the end position. Position of [i] at the beginning after consonant is also found in all dialects. Keywords: phonological evidence, phonemic correspondence, Culambacu, dialect
KOHESI LEKSIKAL SINONIMI, ANTONIMI, DAN REPETISI PADA RUBRIK CERITA ANAK, CERITA REMAJA, DAN CERITA DEWASA DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS Siti Sukriyah; Sumarlam Sumarlam; Djatmika Djatmika
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.230.267-283

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kepaduan wacana yang didukung oleh aspek kohesi leksikal, dibatasi pada penggunaan sinonimi, antonimi, dan repetisi dalam rubrik cernak, roman, dan cerpen dalam surat kabar harian Kompas. Penyediaan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode simak dan teknik baca; simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Data dianalisis dengan metode agih dan teknik bagi unsur langsung (BUL) dan teknik lanjutan teknik ganti serta teknik lesap. Penelitian ini menggunakan teori wacana Halliday untuk melihat penanda kohesi leksikal dalam sebuah teks. Hasil dan pembahasaan penelitian ini menunjukkan aspek kohesi leksikal sinonimi, antonimi, dan repetisi terdapat dalam setiap cerpen. Dalam rubrik cernak, roman, dan cerpen dalam surat kabar harian Kompas merupakan sebuah wacana yang padu karena di dukung oleh penanda kohesi leksikal yang tepat. Secara umum, penanda leksikal yang digunakan pengarang dalam tiga rubrik Kompas adalah sinonimi, antonimi, dan repetisi. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan pada aspek kohesi leksikal yang terdapat pada rubrik cernak, roman, dan cerpen dalam surat kabar harian Kompas. 
Membangun Kesadaran Green Economy melalui Pulau Plastik dengan Kecerdasan Ekokritik Sastra Rosita Sofyaningrum; Bagiya Bagiya; Karina Sistiyaningrum
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4136.29--50

Abstract

This research highlights the importance of supporting and disseminating the concept of green economy as a critical step towards the sustainability of human life on this planet. The main focus of this study is to analyze the usage of plastic and the damage caused by plastic waste, as illustrated in the documentary film "Plastic Island". In this context, the research explains the concept of green economy and its relevance in reducing plastic usage. This research adopts a qualitative approach with eco-critical literary text analysis. Data were obtained through literature review and content analysis of the film "Plastic Island". Subsequently, the data were transcribed and analyzed in detail to identify scenes related to plastic usage and its negative impacts. The results of the research show that the documentary film "Plastic Island" clearly illustrates the environmental damage caused by plastic waste, including damage to agricultural land, threats to human health, and air pollution. Furthermore, the film also depicts the concept of green economy policies applied to reduce plastic usage. Thus, this research emphasizes the importance of the sustainability of human life and the environment for future generations, and highlights the significant role of the green economy concept in addressing the challenge of plastic usage. Emphasizing cross-sector cooperation and community participation in implementing green economy policies is key to achieving positive environmental change. AbstrakPenelitian ini menyoroti pentingnya mendukung dan menyebarkan konsep green economy sebagai langkah kritis menuju keberlanjutan kehidupan manusia di planet ini. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis penggunaan plastik dan kerusakan yang ditimbulkan oleh sampah plastik yang diilustrasikan dalam film dokumenter “Pulau Plastik”. Dalam konteks tersebut, penelitian ini menjelaskan konsep green economy dan relevansinya dalam mengurangi penggunaan plastik. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan analisis teks ekokritik sastra. Data diperoleh melalui studi literatur dan analisis konten film "“Pulau Plastik”". Selanjutnya, data ditranskripsikan dan dianalisis secara detail untuk mengidentifikasi adegan yang berkaitan dengan penggunaan plastik dan dampak negatifnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film dokumenter “Pulau Plastik” mengilustrasikan secara jelas kerusakan alam yang disebabkan oleh sampah plastik, termasuk kerusakan lahan pertanian, ancaman kesehatan manusia, dan pencemaran udara. Selain itu, film ini juga menggambarkan konsep kebijakan green economy yang diterapkan untuk mengurangi penggunaan plastik. Dengan demikian, penelitian ini menekankan pentingnya keberlanjutan kehidupan manusia dan alam untuk generasi mendatang, serta menyoroti peran penting konsep green economy dalam menghadapi tantangan penggunaan plastik. Penekanan pada kerja sama lintas sektor dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan kebijakan green economy menjadi kunci dalam mencapai perubahan positif dalam lingkungan hidup.
HUBUNGAN SUBORDINASI DAN SEMANTIS DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT BAHASA DAYAK LUNDAYEH Buha Aritonang
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.102.75-87

Abstract

Penelitian ini membicarakan kalimat. Salah satu kalimat dimaksud adalah kalimat majemuk bertingkat yang berkaitan dengan hubungan subordinasi dan semantis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriftif dengan sampel penelitian bahasa Dayak Lundayeh dialek Tanjung Lapang. Pengumpulan data menggunakan teknik pemancingan dengan pemanfaatan instrumen penelitian. Pengolahan data sintaksis diawali dengan pengklasifikasian data-data sintaksis dan dilanjutkan dengan analisis setiap kelompok data dengan kriteria fungsi, kategori, dan peran terhadap satuan-satuan sintaksis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran umum kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh; peringkat, keutamaan, dan wilayah pengunaan bahasa Lundayeh; cara menghubungkan klausa; dan hubungan subordinasi yang dapat menentukan jenis hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat bahasa Dayak Lundayeh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sejarah kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh hampir sama dengan masyarakat pribumi yang berdomisili di Pulau Kalimantan yang tergolong sebagai masyarakat yang sangat menghormati tradisi dan budaya nenek moyang; (2) bahasa Lundayeh masuk peringkat ke-15 sebagai bahasa daerah dominan, tergolong sebagai salah satu bahasa daerah utama, dan digunakan di lima kecamatan; (3) cara menghubungkan klausa dalam kalimat majemuk bertingkat dapat dilakukan dengan hubungan subordinasi; dan (4) hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat/subordinatif ditentukan oleh jenis subordinator yang digunakan dan makna leksikal dari kata atau frasa dalam klausa masing-masing sehingga dikenal sebagai kalimat majemuk bertingkat dengan hubungan semantis waktu bersamaan dengan hubungan subordinator kereb ‘ketika’, syarat/pengadaian dengan subordinator kudeng ‘kalau’; konsesif dengan subordinator agan ‘meskipun’, dan tujuan dengan subordinator fele ‘supaya’. 
MENELUSURI TRADISI ONGGOSO SUKU TOLAKI YANG TEREPRESENTASI DALAM MITOS OHEO Heksa Biopsi Puji Hastuti
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.433.223-238

Abstract

Abstrak Mitos Oheo adalah mitos yang hidup dalam masyarakat Tolaki, Sulawesi Tenggara. Mitos ini diyakini memuat peristiwa peminangan yang pertama kali dilakukan dalam peradaban suku Tolaki. Dalam penelitian ini dilakukan penelusuran representasi tradisi onggoso, sebuah tradisi membayar sejumlah uang belanja sebagai syarat pernikahan, dalam mitos Oheo. Permasalahan penelitian adalah bagaimana tradisi onggoso yang dikenal oleh Suku Tolaki terepresentasi dalam mitos Oheo. Penelitian ini bertujuan untuk menarik relasi antara kode- kode yang terdapat di dalam mitos Oheo dengan tradisi onggoso yang dikenal dalam adat perkawinan Suku Tolaki. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi onggoso mengambil contoh dari pengajuan syarat dari Anawaingguluri kepada Oheo untuk menerima pinangan Oheo. Dalam mitos Oheo, tradisi onggoso terepresentasi dalam dua fokus, yaitu penentuan kesepakatan dan teknis pembayaran. Segmen awal mitos Oheo berelasi dengan penentuan kesepakan mengenai jenis dan jumlah onggoso yang harus dibayarkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Syarat yang diajukan oleh Anawaingguluri harus disetujui oleh Oheo agar pernikahan di antara keduanya dapat dilaksanakan. Segmen tengah dan akhir yang memuat upaya Oheo berkumpul kembali dengan Anawaingguluri berelasi dengan mo mbolika odandi atau memperbaharui janji. Melalui mo mbolika odandi inilah terlihat upaya pihak laki-laki dalam menepati janjinya sebagai sebuah tanggung jawab. Kata kunci: tradisi onggoso, suku Tolaki, mitos Oheo Abstract The Oheo myth is a myth that lives in the Tolaki society, Southeast Sulawesi. This myth is believed to contain the rst marriage proposal carried out in Tolakinese civilization. This study traced the representation of onggoso tradition, a tradition of paying an amount of spending money as a condition for marriage, in the Oheo Myth. The issue of research is how is the traditional tradition known by the Tolaki tribe represented in the Myth of Oheo? This study aims to attract relations between the myth of Oheo and the tradition of onggoso known in the marriage customs of the Tolaki tribe. The study was conducted with a qualitative descriptive method with a semiotic approach. Based on the results of the analysis it can be concluded that the Onggoso tradition took the example of submitting conditions from Anawaingguluri to Oheo to accept Oheo’s proposal. In the Oheo myth, the onggoso  tradition is represented in two focuses, namely the determination of agreement and technical payment. The initial segment of the Oheo myth relates to the determination of agreement on the type and number of onggosos the male side must pay to the woman. The terms proposed by Anawaingguluri must be approved by Oheo so that the marriage between the two can be carried out. While the middle and nal segments that contain Oheo’s efforts are reunited with Anawaingguluri in connection with the music magazine or renewing an appointment. It is through this mo mbolika odandi that the efforts of the men in keeping their promises are seen as a responsibility.Keywords: onggoso tradition, Tolakinese tribe, Oheo myth 
Pengukuran Durasi dan Intensitas Tuturan Larangan dalam Bahasa Indonesia Menggunakan Aplikasi PRAAT Rohmad Tri Aditiawan; Ilma Oktafiana; Latifah Iryani; Aulia Cika Kartika; Gerry Kadamehang
Aksara Vol 37, No 1 (2025): AKSARA, EDISI JUNI 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i1.4377.1-12

Abstract

This study discusses prohibitive utterances as a form of speech act that serves to prevent or stop actions that are undesirable to the speaker. The main objective of this study is to explain the measurement of the duration and intensity of prohibitive utterances in Indonesian spoken by male and female speakers, as well as to identify the greatest, smallest, and average stress based on sentence type. This study uses experimental phonetic methods with an acoustic approach to analyze language sounds, focusing on acoustic values and sound waves. Data in the form of recordings of prohibitive utterances in WAV format were collected through recording techniques from male and female respondents. The analysis was carried out using PRAAT software, focusing on the duration and intensity of the sound. The data were classified into three categories of utterances: short, medium, and long. The results showed that prohibitive utterances with short, medium, and long sentences tended to be spoken more quickly by male speakers. The greatest stress in long utterances was found on the word “don't,” both by male and female speakers, with higher intensity variations in males. In medium-length sentences, intensity was relatively balanced between genders. Short sentences tended to be spoken with stronger spontaneous emphasis, both by males and females. This study shows that physical variations in the sound of prohibitive utterances are influenced by sentence structure, emotion, and speaker gender, which has implications for effective communication strategies in prohibitive contexts. AbstrakPenelitian ini membahas tuturan larangan sebagai bentuk tindak tutur yang berfungsi mencegah atau menghentikan tindakan yang tidak diinginkan oleh penutur. Tujuan utama penelitian adalah menjelaskan pengukuran durasi dan intensitas tuturan larangan dalam Bahasa Indonesia yang diujarkan oleh penutur laki-laki dan perempuan, serta mengidentifikasi tekanan terbesar, terkecil, dan rata-rata berdasarkan jenis kalimat. Penelitian ini menggunakan metode fonetik eksperimental dengan pendekatan akustik untuk menganalisis bunyi bahasa dengan menitikberatkan pada nilai akustik dan gelombang bunyi. Data berupa rekaman tuturan larangan dalam format WAV dikumpulkan melalui teknik rekam dari responden laki-laki dan perempuan. Analisis dilakukan dengan perangkat lunak PRAAT, fokus pada durasi dan intensitas suara. Data diklasifikasikan ke dalam tiga kategori tuturan yakni singkat, sedang, dan panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan larangan dengan kalimat singkat, sedang, dan panjang cenderung lebih cepat durasi yang diujarkan oleh penutur laki-laki. Penekanan terbesar dalam tuturan panjang ditemukan pada kata “jangan”, baik oleh penutur laki-laki maupun perempuan dengan variasi intensitas yang lebih tinggi pada laki-laki. Pada kalimat sedang, intensitas relatif seimbang antar jenis kelamin. Kalimat singkat cenderung diujarkan dengan tekanan lebih kuat secara spontan, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa variasi fisik bunyi dalam tuturan larangan dipengaruhi oleh struktur kalimat, emosi, dan jenis kelamin penutur yang berimplikasi pada strategi komunikasi efektif dalam konteks larangan.
MEMAHAMI NILAI-NILAI BUDAYA TRADISI DALAM LAKON SENI PERTUNJUKAN BALI: SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA I Made Budiasa
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.157.157-167

Abstract

Setiap suku bangsa yang ada di muka bumi ini memiliki sumber yang berbeda dalam pembentukan karakter generasi muda penerus bangsanya. Dalam pembangunan karakter bangsa Indonesia, nilai-nilai kearifan lokal menjadi sumber penting yang harus dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa. Melihat pentingnya nilai-nilai kearifan lokal itu, kajian ini menggunakan data LBM, LSI, dan LKN. Sebagai bangun karya sastra, karya-karya ini merupakan hal yang menarik untuk diteliti dengan tujuan agar para seniman dalam hal ini sebagai kelompok intelektual memberikan tawaran tentang identitas ideal, yaitu “modal sosial” dan “modal cultural” kepada masyarakat yang sedang mengalami krisis moral. Nilai-nilai, seperti nilai religius, cinta damai, jujur, disiplin, persahabatan, dan gemar membaca serta rasa tanggung jawab dapat dimanfaatkan untuk memperdayakan kontrol emosional masyarakat dalam penciptaan kedamaian dan kesejahteraan.

Page 5 of 16 | Total Record : 159