cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 159 Documents
Ruang Bangsa dan Ruang Alternatif dalam Novel “Lingkar Tanah Lingkar Air” Karya Ahmad Tohari Ricky Yudhistira Nasution; Arie Azhari Nasution; Evi Marlina Harahap
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.809.210--227

Abstract

This research aims to discover the nation space construction and the alternative space that Ahmad Tohari offers in the novel “Lingkar Tanah Lingkar Air”. Theory used in this research is the politics of postcolonial space by Sara Upstone (2009), particularly at the level of nation space which has basic structure of space, place, overwriting, (b)order, chaos and post-space. The theory and problem selection in this research are related to the phenomenon of the re-emergence of separatist groups in Indonesia. In this research, the method used is qualitative descriptive. The result of the research indicates that the construction of nation space in LTLA novel have the form of Republic with a presidential system of government in which there are place and (b)order that still inherit the colonial space construction. The nation space of Indonesia demand for homogeneity, stability, constancy and fixed, consequently bring up the groups that against the State. Meanwhile, the alternative space offered by Ahmad Tohari is "coming home" which can be mobilized to several meanings. Firstly, Tohari provides an alternative space for returning to Republic of Indonesia by accepting all (b)orders that have been constructed and jointly building the nation space without rising a ceasefire among Indonesians. Secondly, an alternative space for returning to our hometown, our house, our parents and own ourselves. Finally, an alternative space for returning to a transcendent dimension and the God by choosing to be martyred by the State. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membongkar konstruksi ruang bangsa dan menemukan ruang alternatif yang ditawarkan pengarang dalam novel “Lingkar Tanah Lingkar Air” karya Ahmad Tohari. Teori yang digunakan adalah politik ruang pascakolonial yang digagas oleh Sara Upstone (2009), khususnya pada level ruang bangsa yang memiliki struktur dasar space, place, overwriting, (b)order, chaos, dan post-space. Pemilihan masalah dan teori dalam penelitian ini berkaitan dengan fenomena munculnya kembali kelompok-kelompok separatis di Indonesia. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi ruang bangsa dalam novel LTLA berbentuk Republik dengan sistem pemerintahan presidensial, yang di dalamnya terdapat place dan (b)order yang masih mewarisi konstruksi ruang kolonial. Ruang bangsa Indonesia yang demikian menuntut adanya homogenitas, kestabilan, keajegan, dan fixed, yang karenanya memunculkan kelompok-kelompok yang membelot pada negara. Sementara itu, ruang alternatif yang ditawarkan oleh Ahmad Tohari adalah “Pulang”, yang dapat dimobilisasi ke beberapa makna. Pertama, Tohari memberikan ruang alternatif untuk pulang ke Republik Indonesia dengan menerima segala (b)order yang telah dikonstruksi dan bersama membangun ruang bangsa tanpa memunculkan gencatan senjata sesama bangsa Indonesia. Kedua, ruang alternatif untuk pulang ke kampung halaman, ke ruang rumah, pulang ke orang tua, dan pulang ke diri sendiri. Ketiga, ruang alternatif untuk pulang ke dimensi transenden, ke Sang Pencipta, dengan jalan syahid membela negara.
OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016/THE AUTHORITY OF THE BODY BETWEEN SACRED AND PROFANE IN SOME POEMS BY BALINESE POETS IN 1970--2016 Puji Retno Hardiningtyas; I Nyoman Darma Putra; I Nyoman Weda Kusuma; I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.238.17-41

Abstract

Abstrak Eksploitasi citra tubuh muncul berulang sebagai tema dalam puisi Indonesia dalam rentang waktu enam dekade, 1970—2016. Dalam penelitian ini dianalisis citra tubuh dalam puisi Indonesia dengan fokus pembahasa pada dua hal, yaitu wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata. Kata kunci: puisi, ruang tubuh, konstruksi, profan sakral Abstract Exploitation of body image appeared repeatedly as theme in Indonesian poem in six decades, 1970—2016. In this research body image on Indonesian poems were analized focused on two points, the discourse of body authority, both sacred and profane as representation of human space image; the concept of space and body construction in the battle of life in poems in Bali. Method of this research is literary study by noting and reading technique. Data analysis method of this research is descriptive analytics by hermeneutic techniques and interpretative. This research used postcolonial of Sara Upstone theory by practicing the physical space and construction of body space and the existence of human itself. The results and discussion of this research prove that the authority of the body has irony with the events experienced by humans, namely the body as body, the body as religious simbol, and the body as a force of women in the face of the battle of life. The construction that takes place in the body eventually becomes a self dismantled by the poet who is ontologically skinned on his own. The body is destroyed in culture, inhumanity, while the soul as God is idealized in wholeness. Thus, the construction and the space between the profane and the sacred is the paradoxical space between the physical and the spiritual that the poet deconstructs to be a mere irony. Keywords: poem, body space, construction, sacred profane 
ADAPTASI NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KE DALAM FILM SANG PENARI: SEBUAH KAJIAN EKRANISASI Dian Nathalia Inda
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.14.25-38

Abstract

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan novel yang populer. Karenakepopulerannya, novel tersebut diadaptasi menjadi film Sang Penari. Adaptasi RonggengDukuh Paruk menjadi film Sang Penari diteliti menggunakan kajian ekranisasi. Penelitianini bertujuan untuk memaparkan perubahan dan aspek yang memengaruhinya dalam adaptasinovel Ronggeng Dukuh Paruk menjadi film Sang Penari yang berbeda konvensi. Metodepengumpulan data yang digunakan adalah pustaka dan observasi dengan teknik catat.Metode analisis data menggunakan deskriptif komparatif. Sumber data yang digunakanadalah novel Ronggeng Dukuh Paruk dan film Sang Penari. Hasil analisis menunjukkanbahwa perubahan yang terjadi meliputi judul, usia tokoh, teknik penceritaan, latar, tokoh, danperistiwa. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu moral, nasionalisme,durasi, penonton, dan komersial.
SISTEM LOU DAN HUMA DALAM MASYARAKAT DAYAK BENUAQ: MEMBACA NOVEL API AWAN ASAP KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN Diyan Kurniawati
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.334.37-50

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggambarkan sistem lou dan huma yang terdapat dalam novel Api Awan Asap karya Korrie Layun Rampan. Masalah penelitian adalah bagaimana sistem lou dan huma, baik sistem sosiologis atau budaya, dan filosofis. serta posisi masyarakat dalam menghadapi faktor eksternal, yaitu perusahaan kayu, yang menganggu lou dan huma. Untuk memecahkan masalah dan tujuan penelitian digunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu dengan cara mendeskripsikan sistem lou dan huma, dan posisi masyarakat dalam menghadapi faktor eksternal. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra dan didukung dengan teori identitas dan ekokritik. Hasil penelitian membuktikan sistem sosiologis lou ditampilkan melalui bentuk rumah lou yang dibuat agar masyarakat yang tinggal di dalamnya merasa aman. Lou juga menjadi tempat pewarisan tradisi berupa kesenian dan produk budaya, serta tempat meneruskan garis keluarga. Secara filosofis, lou menunjukkan sistem kekerabatan dan keeratan perasaan di antara masyarakat. Sistem sosiologis huma adalah konsep pengelolaan hutan dan tanah yang memperhatikan ekosistem. Secara filosofis, huma dalam pembagian hutan. menunjukkan ketaatan masyarakat Dayak Benuaq kepada adat. Perusahaan kayu menyebabkan masyarakat mengalami trauma dan instropeksi terhadap kelegalan kepemilikan tanah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lou dan huma bukan hanya sebuah bangunan fisik dan pola mata pencaharian, tetapi merupakan penghubung masyarakat dengan tradisi. Masyarakat Dayak Benuaq berupaya mempertahankannya dari eksploitasi perusahaan kayu. 
RELIGIOSITAS MASYARAKAT BETAWI DALAM FOLKLOR Syarif Hidayatullah
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.478.79-94

Abstract

Identitas religiositas masyarakat Betawi begitu kental yang dapat dilihat dalam perayaan-perayaan budayanya. Faktor ini salah satunya dipengaruhi oleh tradisi sastra lisan yang berkembang di masyarakat Betawi yang memunculkan religiositas masyarakatnya sehingga menjadi alat pembelajaran bagi generasi penerusnya. Dalam upaya tersebut penelitian ini berupaya untuk menganalisis religiositas masyarakat Betawi dalam folklor, khususnya dalam cerita rakyat. Untuk itu, metode yang digunakan adalah analisis isi. Data penelitian ini bersumber dari Cerita Rakyat Betawi I dan Cerita Rakyat Betawi II. Data tersebut kemudian diolah dengan tiga tahap, yaitu reduksi data, model data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk religiositas masyarakat Betawi berupa kepercayaan, praktik beragama, perasaan religius, pengetahuan religius, dan efek religius. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Betawi memiliki kematangan religiositas yang tinggi terhadap kepercayaan yang dianutnya.The religiosity identity of the Betawi community is so thick that it can be seen in its cultural celebrations. This factor is one of them influenced by oral literary traditions that developed in the Betawi community which gave rise to the religiosity of the community so that it became a learning tool for the next generation. In this effort this research attempts to analyze the religiosity of the Betawi community in folklore, especially in prose (folklore). For this reason, the method used is descriptive qualitative. The research data comes from Cerita Rakyat Betawi I and Cerita Rakyat Betawi II. The data is then processed in three stages, namely data reduction, data model, and withdrawal / verification conclusions. The results of this study show the form of religiosity of the Betawi community in the form of religious belifes, religious practices, religious feeling, religious knowledge, and religious effects. Based on this, it can be concluded that the Betawi community has a high religiosity maturity towards the beliefs it adheres to.Keywords: religiosity, Betawi society, folklore
Ekofeminisme dalam Puisi-Puisi Perempuan Indonesia: Kajian Stilistika dan Ekokritik Riana Dwi Lestari; Eli Syarifah Aeni
Aksara Vol 37, No 1 (2025): AKSARA, EDISI JUNI 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i1.4789.210-225

Abstract

Poetry serves as a medium for women to express critical perspectives on the relationship between the female body and nature, both of which are subjected to oppression, especially amidst environmental crises and gender inequality. Female poets such as Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, and Toeti Heraty have written poetry that is not only personal but also acts as a form of protest against patriarchy and anthropocentric worldviews that neglect the environment. Therefore, this research is important to explore how women's poetry symbolically and ideologically portrays the body, trauma, love, and nature, as well as how poetic language is used to voice social, ecological, and feminist critiques. This study employs two approaches: stylistics and ecofeminist ecocriticism. The stylistic approach examines the linguistic aspects of poetry, such as diction, imagery, figurative language, and sound structure, which create aesthetic and emotional effects. Meanwhile, the ecofeminist ecocritical approach analyzes the relationship between representations of the female body and nature as a whole within the poems. Three poems are analyzed in this study: the untitled poem by Oka Rusmini (beginning with the line “Pertemuan itu, jadi benih pulau…”), “Nikah Sungai” by Dorothea Rosa Herliany, and “Lukisan Wanita 1938” by Toeti Heraty. This research uses a descriptive qualitative methodology and applies literary text analysis techniques. The analysis process begins with a close reading of the three poems. Stylistic elements are identified, and symbolic meanings are interpreted using the ecofeminist ecocritical framework. The findings reveal that the female body is depicted as an ecological and historical landscape marked by wounds and oppression. The poems expose systems of power that oppress both women and nature, while offering a space for resistance through symbols of nature, the body, and death. These poems explicitly reject the romanticization of love, the aestheticization of the body, and historical narratives that silence women's voices. AbstrakPuisi menjadi media bagi perempuan untuk menyampaikan pandangan kritis tentang hubungan antara tubuh perempuan dan alam yang mengalami penindasan, terutama di tengah krisis lingkungan dan ketidakadilan gender. Penyair perempuan seperti Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, dan Toeti Heraty telah menulis puisi yang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sebagai bentuk protes terhadap patriarki dan cara pandang manusia yang mengabaikan alam (antroposentrisme). Karena itu, penelitian ini penting untuk melihat puisi-puisi perempuan menggambarkan tubuh, trauma, cinta, dan alam secara simbolis dan ideologis, serta bagaimana bahasa puisi digunakan untuk menyampaikan kritik sosial, lingkungan, dan feminisme. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan: stilistika dan ekokritik-ekofeminisme. Pendekatan stilistika melihat aspek kebahasaan puisi, seperti diksi, citraan, gaya bahasa, dan struktur bunyi yang memberikan dampak estetis dan emosional. Sementara itu, pendekatan ekokritik-ekofeminisme melihat hubungan antara representasi tubuh perempuan dan alam secara keseluruhan dalam puisi. Puisi tanpa judul karya Oka Rusmini (dengan kutipan pembuka "Pertemuan itu, jadi benih pulau.), "Nikah Sungai" karya Dorothea Rosa Herliany, dan "Lukisan Wanita 1938" karya Toeti Heraty adalah ketiga puisi yang dianalisis. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dan menggunakan teknik analisis teks sastra. Proses analisis dimulai dengan pembacaan menyeluruh dari ketiga puisi. Stilistika diidentifikasi dan makna simbolik ditafsirkan menggunakan kerangka ekokritik-ekofeminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh perempuan digambarkan sebagai lanskap ekologis dan historis yang dipenuhi dengan luka dan penindasan. Puisi membongkar kekuasaan yang menindas alam dan perempuan dan menawarkan ruang perlawanan melalui simbol alam, tubuh, dan kematian. Puisi-puisi ini secara khusus menentang romantisasi cinta, estetika tubuh, dan narasi sejarah yang mengabaikan suara perempuan.
HUBUNGAN MAKNA AKRONIM DAN KATA PEMBENTUKNYA PADA ACARA INDONESIA LAWAK KLUB (ILK) DI TRANS 7 Syamsul Rijal
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.172.73-82

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penggunaan akronim dalam acara Indonesia Lawak Klub (ILK) di Trans 7. Populasinya pun diambil dari semua akronim yang pernah digunakan dalam ILK dengan penarikan sampel secara purposif. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. Proses pembentukan akronim dalam acara ILK menggunakan tiga bentuk relasi makna dalam menciptakan konsep-konsep kata, frasa, dan klausa yang lucu dan kocak. Selain itu, ada pula akronim yang dibentuk tanpa memiliki hubungan makna dengan kata-kata pembentuknya. Akronim-akronim yang memiliki relasi makna tersebut terbentuk dengan tiga pola hubungan makna, yaitu prinsip inklusi/tercakup; prinsip bersinggungan; dan prinsip komplementer.
SEKS SEBAGAI TINDAKAN RADIKAL DALAM NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI/THE SEXUAL ACTION AS RADICAL ACT IN SAMAN NOVEL BY AYU UTAMI Sarwo Ferdi Wibowo; Hasina Fajrin R.; Puji Retno Hardiningtyas
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.682.11-24

Abstract

AbstrakElemen seksual dalam novel Saman karya Ayu Utami masih sering dijustifikasi melalui nilai-nilai kesusilaan yang merupakan bagian dari dunia simbol. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang membahas karya tersebut dalam perspektif psikoanalisis-historis Slavoj Žižek. Metode psikoanalisis historis digunakan untuk melihat elemen seksual dalam karya Ayu Utami secara berbeda. Data dikumpulkan melalui pembacaan secara teliti dan berulang terhadap novel Saman untuk menemukan frasa, kalimat, paragraf, dan wacana yang memuat kualitas-kualitas subjek dialektis Slavoj Žižek. Data tersebut kemudian direlasikan untuk menentukan posisi subjek sebagai subjek radikal atau sebaliknya berdasarkan konsepsi pembentukan subjek radikal Žižek, yaitu konstruksi dunia simbolik-momen kekosongan-tindakan radikal-terbentuknya subjek radikal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh dalam novel Saman, yaitu Laila dan Wisanggeni memiliki hasrat seksual yang lepas dari dominasi simbolik sehingga melakukan tindakan radikal. Melalui aktivitas seksual yang didorong hasrat yang murni tersebut, kedua tokoh tersebut memasuki momen kekosongan. Proses tersebut menyebabkan tokoh Laila dan Wisanggeni menjadi subjek radikal yang telah keluar dari dunia simbolik. Oleh karena itu, keberadaan subjek radikal dalam sebuah novel dapat dikatakan sebagai sebuah retakan dunia simbolik seksualitas yang secara ontologis konsisten. Kata kunci: seksualitas, tindakan radikal, psikoanalisis-historis  Abstract The sexual element in “Saman” by Ayu Utami frequently is justified by the value of decency which becomes a part of the symbolic world. This study is descriptive research that discusses the novel from Slavoj Žižek’s historical-psychoanalysis perspective. The historical-psychoanalysis method consents to uncover the sexual element in the novel by Ayu Utami differently. Data collected through reading carefully and respectively of Saman novel are done to find out the phrases, sentences, paragraphs, and discourses that contain qualities of Slavoj Žižek’s dialectic subject. Collected data are then related to determining subject position as the radical subject or otherwise considering the construction of the symbolic world-ex nihilio- radical act-radical subject. The result of this research reveals that Laila and Wisanggeni characters in the novel of Saman have a sexual desire separated from symbolic dominance, and its practice becomes a radical act. Through sexual activity driven by passion, they enter the moment of the void. The process caused the figure of Laila and Wisanggeni to be a radical subject that has been out of the symbolic world. Therefore, the existence of a radical subject in a novel can be said to be a maligned symbolic world of sexuality ontologically consistent. Keywords: sexuality, radical act, historical-psychoanalysis 
Ideological Fantasy on Feminist Cliché in Harold Pinter’s The Room: A Žižekian Analysis Armelia Nungki Nurbani; Sri Nurhidayah
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.898.53--61

Abstract

This study aims to reveal women desires for freedom (without any menace), but she reproduces of male power restraints as it is represented in the drama script of Harold Pinter’s The Room. This research uses Žižek’s critical thinking framework regarding ideology, subject and practice. The approach used in this research is ground theory, the data used are quotations in the script, and the data source is the play script Harold Pinter’s The Room. With interpretation analysis techniques, this research reveals that the great ideals of women’s freedom are fantasmatic. Women’s freedom is an ideological fantasy. This play script reflects women’s freedom but instead explains the reality that they are shackled by patriarchal discourse. Harol Pinter seems to assert male power through the definition of women’s freedom through Rose in The Room. Therefore, the result shows that postmodernist, whose perspective is opposed to hierarchal system, is still trapped in patriarchal perspective AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap hasrat perempuan akan kebebasan (tanpa ancaman), namun ia justru mereproduksi pengekangan kekuasaan laki-laki seperti yang ada dalam naskah drama The Room karya Harold Pinter. Penelitian ini menggunakan kerangka berpikir kritis Žižek tentang ideologi, subjek dan tindakan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah grounded theory, data yang digunakan adalah kutipan dalam naskah, dan sumber datanya adalah naskah drama The Room karya Harold Pinter. Dengan Teknik analisis interpretasi, penelitian mengungkapkan bahwa cita-cita agung kebebasan perempuan bersifat fantasmatik. Kebebasan perempuan adalah fantasi ideologis. Teks drama ini merefleksikan Kebebasan perempuan tetapi justru menjelaskan realitas bahwa ia terbelenggu oleh wacana patriarkis. Harold Pinter menegaskan kuasa laki-laki melalui definisi kebebasan perempuan melalaui Rose dalam The Room. Dengan kata lain, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posmodernis, yang notabene menentang hirarki, juga ada yang patriarkis.
PENERJEMAHAN KONJUNGTOR TOKORO SEBAGAI PENANDA KLAUSA KONSESIF DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Windi Astuti
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.145.67-74

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan makna kalimat yangberkonjungtor tokoro sebagai penanda klausa konsesif dalam kalimat bahasa Jepang dan penerjemahannya dalam bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan metode simak dan catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konjungtor tokoro sebagai penanda klausa konsesif memiliki hubungan konsesif yang terdapat dalam sebuah kalimat yang klausa subordinatnya memuat pernyataan yang tidak akan mengubah apa yang dinyatakan dalam klausa induk, subordinator yang digunakan antara lain walaupun, meski(pun), kalaupun, andaipun, dan lain-lain.

Page 7 of 16 | Total Record : 159