cover
Contact Name
Rizal Fathurrohman
Contact Email
epistemeresearchacademy@gmail.com
Phone
+62895428698488
Journal Mail Official
muhammadnaqib1974@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lkr. Jatisawit No K4 Desa Balecatur, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Yogyakarta, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : 31233244     DOI : -
Eshraq: Journal of Islamic Studies mempublikasikan artikel hasil penelitian lapangan dan kajian konseptual tentang studi Islam dalam berbagai ekspresi budaya, sosial, dan intelektual. Jurnal ini bersifat interdisipliner dan mencakup kajian berbasis teks maupun lapangan. Cakupan kajian meliputi: Pendidikan Islam Filsafat dan pemikiran Islam Hukum Islam Sejarah dan peradaban Islam Sastra dan seni dalam tradisi Islam Teologi dan tasawuf Sosiologi dan antropologi Islam Kajian budaya dan masyarakat Muslim kontemporer Jurnal ini bertujuan menjadi ruang akademik untuk mempertemukan studi Islam dan humaniora secara kritis, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan masyarakat Muslim lokal maupun global.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Negotiating Gender Justice in Islamic Religious Education: A Critical-Appreciative Study of Curriculum, Epistemology, and Pedagogical Discourse Iffah Khoiriyatul Muyassaroh
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2025): September
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study investigates the entrenchment of gender bias within the epistemological and curricular framework of Islamic Religious Education (IRE) in Indonesia. Utilizing a qualitative-conceptual method rooted in critical discourse analysis and maqasidi hermeneutics, the research reveals how patriarchal norms are embedded in textbooks, pedagogical practices, and interpretive traditions. Rather than opposing tradition, this study proposes a critical-appreciative framework that integrates Islamic ethical values such as justice (‘adl), compassion (rahmah), and trust (amanah) with transformative pedagogies. The findings indicate that literalist and androcentric tendencies in IRE curricula reinforce male-dominated religious authority and marginalize female voices. Through the negotiation of maqasid and contemporary social contexts, the study advocates for inclusive reform that reclaims women’s epistemic agency without resorting to ideological feminism. Pedagogical recommendations include reconfiguring curriculum content, empowering teachers with contextual hermeneutics, and institutionalizing reflective, dialogical learning models. Ultimately, this article contributes to envisioning an IRE curriculum that is both faithful to Islamic tradition and responsive to the ethical imperatives of gender justice
Keabsahan Pelaksanaan Sholat Jum’at di Venue Konser dalam Perspektif Fikih Antar Madzhab Nandika Rizki Fitrian Ramadhani; Muhammad Syaifulloh; Dhorva Endriana Fatimatuz Zuhriyah; Amalia Rahmah; Villa Rochani; Nadya Stepani; Nur Solikhatunnisa Azzahro; Dwi Ridha Rahmawati
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2025): September
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji keabsahan pelaksanaan sholat Jumat di lokasi non-masjid, khususnya di venue konser seperti ajang Pestapora 2025 di Jakarta. Fenomena ini menimbulkan perbedaan pendapat antara kalangan masyarakat dan ulama mengenai hukum sah tidaknya sholat Jumat di tempat hiburan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka (library research) dan analisis komparatif antar madzhab fikih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sholat Jumat tetap sah apabila memenuhi syarat-syarat fikih, seperti dilakukan pada waktu Zuhur, di wilayah pemukiman, berjamaah, serta didahului khutbah. Pandangan madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali menunjukkan adanya kelonggaran hukum terkait lokasi pelaksanaan. Prinsip fiqih al-ashlu fil asy-yaa’ al-ibahah (segala sesuatu pada dasarnya diperbolehkan) serta konsep maslahah mursalah menjadi dasar kebolehan praktik tersebut. Oleh karena itu, sholat Jumat di venue konser dapat dianggap sah selama menjaga kesucian tempat, ketertiban ibadah, dan memenuhi ketentuan fikih yang berlaku  
Keabsahan Zakat Online dalam Perspektif Hukum Islam: Analisis Normatif terhadap Pelaksanaan Zakat di Era Digital Musthofa Habibi; Ghazy Ulhaq; Intan Aini Salsabil; Hanif Atha Fallah; Nadiya Rana Kesuma; Silvia Auliarahma; Siti Nur Latifah; Meta Aghnia Rahma
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2025): September
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan keabsahan pembayaran zakat secara online dalam perspektif hukum Islam serta menelaah konsep, kelebihan, dan tantangan pelaksanaannya di era digital. Kajian diawali dengan pemaparan tentang kedudukan zakat sebagai rukun Islam, syarat wajib dan syarat sah zakat, serta peran lembaga amil seperti BAZNAS dan LAZ dalam mengelola zakat secara profesional. Perkembangan teknologi mendorong hadirnya layanan zakat digital yang memungkinkan muzakki menunaikan kewajiban secara lebih praktis, sehingga diperlukan analisis hukum terhadap praktik ini. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan hukum Islam dan pendekatan konseptual, didukung studi pustaka dan masukan diskusi kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zakat online dinilai sah menurut syariat selama memenuhi rukun dan syarat zakat, termasuk adanya niat, terpenuhinya nisab dan haul, serta sampainya harta kepada mustahik. Kaidah fiqh yang menyatakan bahwa sarana mengikuti hukum tujuan, serta prinsip bahwa muamalah pada dasarnya boleh selama tidak ada larangan, memperkuat kebolehan zakat digital. Fatwa DSN-MUI tentang uang elektronik turut memberikan legitimasi. Zakat online menawarkan kemudahan akses, transparansi, serta efisiensi, namun tetap memiliki risiko seperti keamanan data, literasi digital rendah, dan potensi salah sasaran. Secara keseluruhan, zakat digital merupakan inovasi yang sah dan relevan selama dikelola sesuai prinsip syariah
Nikah Beda Agama dalam Perspektif Fikih Islam dan Hukum Nasional: Analisis atas Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2023 Diana Nayla Syafaah; Nur Syakira Rahmania; Moh. Najmi Nafiudin Elhamidi; Ahmad Nurushshofa; Fitri Dewi Amanah; Indah Hari Lestari; Hilyatul Aulia; Muhammad Hasbu Kale
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan yang berbeda agama adalah masalah yang rumit yang melibatkan konflik antara standar teologis Islam, struktur hukum nasional, dan kehidupan sosial modern di Indonesia. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mempelajari dasar hukum dan teologis dari larangan pernikahan beda agama serta dampak sosial dan hukum dari Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 2 Tahun 2023. Metode hukum normatif digunakan dalam penelitian ini, yang menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Studi ini melihat dalil dari Al-Qur'an (al-Baqarah: 221, al-Mumtahanah: 10), pendapat ulama klasik dan modern (Ibnu Katsir, Al-Qurṭubī, al-Zuhaili), dan prinsip ushul fikih (sadd adz-dzarī‘ah dan maslahah mursalah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fikih Islam melarang pernikahan lintas agama untuk menjaga stabilitas keluarga dengan melindungi integritas agama dan keturunan. SEMA Nomor 2. UU Perkawinan 2023 tidak menghasilkan hukum baru; sebaliknya, itu berfungsi sebagai alat yuridis untuk menyatukan interpretasi Pasal 2 UU Perkawinan dan KHI, yang secara konsisten menegaskan bahwa hukum agama masing-masing pihak menentukan keabsahan perkawinan. Secara implikatif, kebijakan SEMA memberikan keamanan hukum, mencegah forum perdagangan, dan memastikan integritas data administrasi kependudukan. Namun, mereka menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya karena konflik ideologis dan kemungkinan pelanggaran hukum.
Rekonstruksi Hukum Fikih Kontemporer dalam Menyikapi Praktik Jual Beli Akun Media Sosial Novita Tsalits Rahmawati; Indri Mustikawati; Dea Syafa Fatimah; Laily Mazilatul Maghfiroh; Moch. Shochiful Achsan; Muhammad Fatkhurrohman; Nanda Ni’ami Royyan; Roubert Mafaza Taftazani
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2025): September
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan era digital telah menjadikan media sosial sebagai platform utama dalam interaksi, komunikasi, dan akses informasi. Seiring itu, praktik jual beli akun media sosial semakin marak karena akun dengan jumlah pengikut tinggi, interaksi signifikan, dan reputasi baik memiliki nilai ekonomi yang besar. Fenomena ini menimbulkan tantangan etis dan hukum, khususnya bagi umat Muslim yang ingin mematuhi prinsip syariah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pustaka (library research) untuk menganalisis hukum dan etika jual beli akun media sosial dari perspektif fiqh kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik jual beli akun dapat diperbolehkan jika memenuhi syarat sah jual beli, seperti kepemilikan yang jelas, manfaat halal, kejelasan objek, serta tidak melanggar aturan platform. Namun, transaksi ini berpotensi menimbulkan risiko seperti pelanggaran privasi, penyebaran hoaks, fitnah, dan penyalahgunaan akun, yang bertentangan dengan prinsip kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial dalam Islam. Solusi yang disarankan mencakup pembangunan akun secara mandiri, edukasi masyarakat, penguatan regulasi, dan panduan fatwa dari lembaga keagamaan agar penggunaan media sosial tetap produktif dan syar’i.  
Legitimasi Hukuman Mati bagi Koruptor dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif Indonesia Muhammad Fariz Ash Shiddiq Ibrahim Mamesah; Irfan Azkabillah Al-Musthofa; Lintang Nuraini; Urpha Rekyaningrum; Najwa Bilqis Khoiruna; Shinta Adilla; Shinta Nabila
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2025): September
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Corruption remains a critical issue in Indonesia and is widely categorized as an extraordinary crime due to its extensive social, moral, and economic impact. This study examines the debate on the application of the death penalty for corruption by comparing Islamic law and Indonesia’s positive legal system. In Islamic law, scholars present diverse views. Some, such as Wahbah az-Zuhaili and Imam Muhib al-Thabari, allow capital punishment when corruption causes widespread harm and threatens public stability, based on the principle of preventing greater harm. Other scholars classify corruption under ta’zir, meaning that punishment is flexible and determined by the authority according to the level of damage caused. Meanwhile, Indonesia’s legal framework, through Law No. 31 of 1999 in conjunction with Law No. 20 of 2001, provides space for the death penalty under specific conditions, although no court has ever enforced it. The study concludes that both legal systems acknowledge the severity of corruption, but the death penalty should only be considered in exceptional circumstances with strict regard to justice, public welfare, and human rights.
Trade and Industrial Dynamics in the Heyday of the Abbasid Dynasty: Historical Relevance to Contemporary Indonesian Economic Development Resty Paryanda; Restu Asa Marisza Sukma; Arifah Rohmatul Hidayah; M. Arif Faizin
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research discusses the dynamics of trade and industry during the heyday of the Abbasid Dynasty (750–1258 AD) and its relevance to contemporary Indonesian economic development. The Abbasid period is known as the golden phase of Islamic civilization which was characterized by the advancement of science, technology, and an integrated economic system. The Abbasid economy grew rapidly thanks to a combination of agricultural, manufacturing, and financial services sectors supported by strong institutions such as baitul mal and hisbah, as well as an efficient cross-regional trade system. Through a comparative historical approach, the study found that the success of the Abbasid economy rested on market integration, production specialization, and inclusive institutional governance. In the Indonesian context, the results of this study show that the national industrial and trade sectors still face the challenges of low added value, dependence on imported raw materials, and weak synergy between sectors. The Abbasid learning emphasizes the importance of strengthening economic institutions, developing logistics infrastructure, technological innovation, and improving the quality of human resources. By adapting the principles of efficiency, morality, and equity applied during the Abbasid period, Indonesia can strengthen the foundation of a competitive, inclusive, and sustainable industrial and trade economy in the era of globalization.
Transformasi Ekonomi Syariah di Indonesia pada Era Digital: Analisis Integrasi Inovasi Teknologi dan Prinsip Maqasid al-Syari’ah Helmalia Oktaviana; Sulistiyah
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi ekonomi syariah di Indonesia pada era digital telah membawa perubahan signifikan pada sistem, struktur, dan praktik layanan keuangan syariah. Digitalisasi melalui fintech syariah, digital banking, pembayaran elektronik, dompet digital, serta platform wakaf dan zakat online telah membuka peluang besar bagi peningkatan efisiensi, transparansi, dan inklusi keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk transformasi ekonomi syariah yang terjadi pada era digital serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariah dan maqasid al-syari’ah. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka yang dipadukan dengan analisis kasus kontemporer, penelitian ini menemukan bahwa digitalisasi mendorong integrasi antara prinsip normatif syariah dengan inovasi teknologi modern. Di satu sisi, inovasi digital memperluas jangkauan layanan syariah dan memperkuat peran lembaga keuangan syariah dalam mendukung sektor UMKM, filantropi Islam, dan inklusi keuangan. Namun di sisi lain, tantangan muncul dalam bentuk isu keamanan data, potensi gharar dalam akad digital, literasi keuangan yang rendah, serta kebutuhan regulasi yang lebih adaptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi ekonomi syariah Indonesia di era digital merupakan proses yang bersifat integratif dan evolutif, yang menuntut penguatan tata kelola syariah, pengembangan teknologi etis, dan sinergi antara regulator, industri, dan masyarakat agar inovasi digital tetap sejalan dengan nilai-nilai syariah dan memberikan kemaslahatan bagi umat.
Keseimbangan Peran Perempuan dalam Membangun Ketahanan Keluarga Sakinah: Studi Fenomenologis di Kabupaten Gresik Faqihatin; Nensi Indrianti
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketahanan keluarga merujuk pada kemampuan keluarga untuk beradaptasi, bertahan dalam tekanan, dan membangun hubungan yang sehat dalam ranah domestik, publik, dan sosial. Perempuan memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga melalui keseimbangan antara perannya sebagai istri dan ibu dengan keterlibatan dalam kehidupan publik dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keseimbangan peran perempuan dalam ranah domestik, publik, dan sosial serta menjelaskan kontribusinya terhadap terwujudnya keluarga yang tangguh dan harmonis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh keluarga harmonis di Kabupaten Gresik. Analisis data difokuskan pada strategi perempuan dalam mengelola tanggung jawab domestik, aktivitas profesional, dan pengembangan diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan keluarga dibangun melalui harmonisasi peran perempuan sebagai ibu, istri, dan pelaku di ranah publik, dengan tetap mengakui pengalaman biologis khas perempuan seperti melahirkan, menyusui, dan menstruasi. Dukungan suami, manajemen waktu, dan komunikasi efektif menjadi faktor utama pendukung. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang konsep keluarga sakinah dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer.
Perkembangan Tafsir Al-Qur’an tentang Astronomi di Indonesia (2015–2025): Sebuah Systematic Literature Review Misbahul Huda
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perkembangan tafsir Al-Qur'an seputar astronomi di Indonesia satu dekade terakhir. Penelitian dilakukan melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) terhadap 30 artikel ilmiah yang terbit pada periode 2015–2025. Menggunakan aplikasi Harzing’s Publish or Perish dengan kata kunci “Al-Qur’an dan Astronomi”, artikel-artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang ketat, yaitu fokus pada tafsir 'ilmi atau interpretasi ayat-ayat kauniyah terkait fenomena astronomi dengan analisis mendalam. Hasil analisis menunjukkan bahwa tema utama didominasi oleh kosmologi umum (56,7%), orbit matahari-bulan, bintang, gerhana, rotasi-revolusi bumi, serta aplikasi praktis seperti hisab-rukyah dan penentuan waktu ibadah. Metodologi yang dominan adalah pendekatan kualitatif berbasis library research dengan corak tafsir 'ilmi, mauḍu'i, dan muqāran, yang semakin berkembang dari deskriptif-teologis menjadi interdisipliner. Kontribusi unik kajian Indonesia terletak pada konteks lokal seperti respons terhadap kontroversi flat earth, integrasi dengan fiqh Muhammadiyah, dan penolakan pseudosains. Penelitian ini menyimpulkan bahwa studi tafsir astronomi di Indonesia menunjukkan tren positif dengan peningkatan publikasi, namun masih memerlukan penguatan metode empiris dan interdisipliner untuk menghadapi kemajuan astronomi kontemporer. Temuan ini menjadi dasar bagi pengembangan pendidikan Islam berbasis bukti ilmiah dan dialog agama-sains di Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 10