cover
Contact Name
I Wayan Batan
Contact Email
bobbatan@yahoo.com
Phone
+6285855541983
Journal Mail Official
bobbatan@yahoo.com
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medicine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Veteriner is a scientific journal encompassing animal science aspects, published since 2000, and until now is consistently published four times a year in March, June, September, and December by Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, associated with Association of Veterinarian Indonesia. Jurnal Veteriner is a peer reviewed journal that has been accredited by Directorate General of Research and Development Strengthening, Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia since 2002. Jurnal Veteriner has been indexed and abstracted in Clarivate Analytics products (formerly Thomson Reuters), DOAJ, CABI, EBSCO, Science and Technology Index (SINTA), Garba Rujukan Digital (GARUDA), Google Scholar, and other scientific databases. Jurnal Veteriner also used Similarity Check to prevent any suspected plagiarism in the manuscripts. Jurnal Veteriner receives manuscripts cover a broad range of research topics in tropical veterinary medicine and tropical animal sciences: anatomy, histology, pathology, virology, bacteriology, pharmacology, mycology, clinical sciences, genetics, reproduction, physiology, biochemistry, nutrition, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, livestock farming system, socio-economic, wild life and policy.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 4 (2025)" : 15 Documents clear
Soursop Leaves Extract Combined with Eucalyptus Oil: A Natural Strategy for Controlling Bed Bugs Firman Jaelani; Dita Pratiwi Kusuma Wardani; Isna Hikmawati; Atika Nur Azizah; Ikhsan Mujahid; Muhammad Luthfi Almanfaluthi; Oei Stefani Yuanita Widodo
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Insecticides used in controlling Bed bugs (Cimex lectularius)  often result in side effects and the development of resistance. Betel leaf (Piper betle Linn.), soursop leaf (Annona muricata Linn.), and Eucalyptus (Melaleuca cajuputi) oil have the potential to serve as natural insecticides due to their active ingredient content in the form of flavonoids, tannins, alkaloids and other bioactive compounds. This study aimed to evaluate the potency of ethanol extracts of betel leaf or soursop leaf in combination with cajeput oil in inducing mortality in C. lectularius. A true experimental design was employed using a post-test only with control group design, which included a positive control (2% bifenthrin), a negative control (distilled water), and 10 treatment groups with combinations of betel leaf or soursop leaf extracts with Eucalyptus oil in ratios of 1:1, 1:2, 2:1, 1:3, and 3:1. Each group consisted of 10 bed bugs, with three replications (totaling 360 bed bugs). Mortality was observed every five minutes over one hour and analysed using the Friedman test. The results indicated significant differences in the potential of the combinations of ethanol extracts and Eucalyptus oil. Probit analysis was used to determine LC₅₀ and LT₅₀ values. The LC₅₀ for the betel leaf and Eucalyptus oil combination was 1.302%, with an LT₅₀ of 0.976 minutes (ratio 1:1). For the soursop leaf and Eucalyptus oil combination, the LC₅₀ was 2.229%, and the LT₅₀ was 0.792 minutes (ratio 1:2). The fastest mortality was observed at five minutes in the combination of soursop leaf and Eucalyptus oil at a 3:1 ratio.
Identifikasi Telur Cacing pada Feses Sapi Bali yang Digembalakan di Lahan Pasca-tambang Batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur Shevira Ayu Puspita; Mansyur Mansyur; Andi Hiroyuki
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Ternak sapi potong merupakan salah satu sumber utama penghasil daging dengan nilai ekonomi tinggi. Namun, tingginya permintaan daging sapi di Indonesia masih tidak sebanding dengan ketersediaan daging di masyarakat. Kondisi ini berakibat pada ketergantungan pada impor daging dari negara lain. Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi adalah melalui ekstensifikasi peternakan sapi potong. Tantangan utama dalam pelaksanaan ekstensifikasi peternakan sapi potong adalah ketersediaan lahan yang sesuai. Lahan pasca tambang batubara memiliki potensi untuk dimanfatkan sebagai alternatif, meskipun memiliki karakteristik yang kurang mendukung seperti kondisi tanah yang kurang nutrisi hingga sulit ditumbuhi vegetasi dan mudahnya terbentuk genangan air akibat berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangan cacing parasit seperti trematoda yang banyak ditemukan pada genangan air. Infeksi cacing atau helminthiasis ini merupakan masalah pada ternak karena dapat menurunkan produktivitas sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi sapi bali yang digembalakan di lahan pasca tambang batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak 47 sampel feses sapi bali dengan body condition score (BCS) di bawah tiga (≤3) dikoleksi pada bulan Agustus 2023 dan diperiksa menggunakan metode apung dan metode sedimentasi. Hasil pemeriksaan menunjukan prevalensi infeksi trematoda sebesar 19,14%, sedangkan infeksi nematoda sebesar 17,02%, dan infeksi dengan kombinasi keduanya sebesar 10,63%. Temuan ini mengindikasikan bahwa prevalensi infeksi trematoda cukup dominan pada sapi bali di area gembala tersebut. Kondisi ini diduga terkait dengan adanya genangan air pada lahan pasca tambang batubara yang digunakan sebagai lahan penggembalaan. Struktur lahan yang berubah karena proses penambangan batubara memerlukan pendekatan terkait peningkatan kemampuan penyerapan air tanah untuk menekan adanya genangan air dan secara tidak langsung juga meningkatkan kualitas lahan untuk ditanami vegetasi bahan pakan ternak. Manajemen pemberian obat cacing juga perlu menjadi perhatian dalam mencegah dan menangani kondisi kecacingan pada hewan ternak sapi bali.
Viabilitas Bakteri Asam Laktat dan Aktivitas Antioksidan Yoghurt Susu Kambing dengan Penambahan Ekstrak Kacang Lebui (Cajanus sp.) Baiq Rani Dewi Wulandani; I Nyoman Tirta Ariana; Djoko Kisworo; Wahid Yulianto; Fahrullah Fatrullah; Haryanto KA
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kacang lebui (Cajanus sp.) merupakan jenis kacang-kacangan yang mengandung  antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak kacang lebui atau Lebui nuts extract (LNE) pada yoghurt dalam hal viabilitas bakteri asam laktat (BAL) dan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan dua faktor berbeda. Faktor pertama adalah yoghurt dengan LNE dan yoghurt tanpa LNE.  Faktor kedua adalah lama penyimpanan dalam lemari es 4ºC, yakni 1; 7; 14; 21 dan 28 hari. Setiap unit penelitian diulang tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam dan jika ada perbedaan antar perlakuan  dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Parameter yang diukur adalah total BAL, tingkat keasaman (pH), aktivitas antioksidan, Total Titratable Acid (TTA), dan Total Phenolic Content (TPC) pada yoghurt susu kambing yang disimpan pada suhu 4oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan LNE 10% tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap viabilitas BAL. Viabilitas BAL yoghurt yang ditambahi LNE pada awal penyimpanan sebesar 98,06%, dibandingkan dengan yoghurt tanpa LNE (plain) sebesar 99,43%. Penambahan LNE berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH dan TTA yoghurt. pH yoghurt yang ditambahi LNE mengalami penurunan hingga hari ke-21 dan mengalami kenaikan pH pada hari ke-28. Hal ini menyebabkan total asam pada yoghurt dengan LNE meningkat hingga penyimpanan hari ke-21 dan menurun pada hari ke-28.  Aktivitas antioksidan yoghurt plain (P0) dan yoghurt dengan LNE (P1) berbeda secara signifikan (P<0,05) hingga hari ke-28. Aktivitas antioksidan yoghurt dengan LNE (P1) lebih tinggi daripada yoghurt plain (P0) dengan hasil pada awal penyimpanan berturut-turut (P1) 76,29 ± 1,85 dan (P0) 60,81 ± 1,90. Hasil skreening kandungan total fenol menunjukkan bahwa fenol yoghurt dengan LNE lebih tinggi dibandingkan dengan yoghurt plain.  Dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan yoghurt susu kambing dengan LNE yang disimpan pada lemari es tetap lebih tinggi dan bertahan hingga satu bulan.
Potensi Jamu Kencing Manis Madura terhadap Struktur Limpa Tikus Jantan Galur Wistar Penderita Diabetes Melitus Cindy Ruriasri; Agung Janika Sitasiwi; Kasiyati Kasiyati
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Suku Madura merupakan salah satu etnis di Indonesia yang hingga kini mempertahankan pengetahuan tradisional dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Masyarakat Madura, khususnya di Sumenep dan Pamekasan, menjaga kearifan lokal dalam penggunaan tanaman obat untuk mengatasi diabetes, seperti jamu kencing manis yang dikenal di Kecamatan Pamekasan. Jamu ini memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan, antara lain daun insulin (Tithonia diversifolia), sirih merah (Piper crocatum), kayu manis (Cinnamomum burmannii), ketumbar (Coriandrum sativum), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi jamu kencing manis madura terhadap struktur limpa tikus diabetes melitus. Penelitian menggunakan 30 ekor tikus wistar jantan dibagi menjadi enam kelompok perlakuan: kontrol P0 (akuades), P1 (diabetes + metformin), P2 (diabetes + 5 g jamu), P3 (diabetes + 10 g jamu), P4 (diabetes + 15 g jamu), dan P5 (diabetes tanpa terapi). Tikus dieuthanasia pada hari ke-3, 10, dan 20, kemudian limpa diisolasi dan difiksasi. Preparat histologis dibuat menggunakan metode parafin dan pewarnaan hematoksilin-eosin. Parameter yang diamati meliputi bobot badan, bobot limpa, indeks organ, serta diameter dan luas germinal center serta pulpa putih. Data dianalisis dengan uji sidik ragam satu arah, dilanjutkan uji Duncan, sedangkan parameter non parametrik diuji dengan Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan nyata pada bobot badan (p<0,05), namun bobot limpa, indeks organ, diameter, dan luas germinal center tidak berbeda nyata (p>0,05), begitu pula diameter dan luas pulpa putih tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Disimpulkan bahwa jamu kencing manis madura tidak berdampak negatif pada struktur histologi limpa tikus diabetes melitus.
Efektivitas In Vitro Antelmintik Ekstrak Etanol Meniran (Phyllanthus niruri Linn) terhadap Heterakis gallinarum Risa Tiuria; Geby Magdalena Simanjuntak; Lina Noviyanti Sutardi
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kejadian infeksi cacing gastrointestinal ayam masih cukup tinggi dan Heterakis gallinarum adalah salah satu parasit nematoda saluran pencernaan yang sering menginfeksi ayam. Rendahnya efikasi antelmintik farmasi membuat kendala bagi pengobatan dan pengendalian kecacingan serta adanya peningkatan yang nyata dalam resistansi cacing terhadap antelmintik.  Meniran (Phyllanthus niruri Linn.) merupakan salah satu tanaman obat yang tersebar di seluruh negara tropis dan subtropis di dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas meniran sebagai antelmintik H. gallinarum secara in vitro. Cacing dewasa H. gallinarum yang segar dan aktif merupakan sampel yang digunakan dan rancangan acak kelompok sebagai rancangan percobaan dalam studi ini.  Cacing H. gallinarum ditempatkan di cawan petri yang berisi dua cacing dewasa untuk setiap perlakuan yang diulang tiga kali.   Kelompok perlakuan ekstrak etanol meniran pada dosis 250 μg/mL, 500 μg/mL, dan 1000 μg/mL yang digunakan untuk pengamatan motilitas dan mortalitas H. gallinarum. Larutan NaCl 0,9% digunakan sebagai kelompok kontrol negatif, sementara antelmintik Albendazol 500 μg/mL digunakan sebagai kelompok kontrol positif. Semua dosis ekstrak etanol meniran mengakibatkan kematian H. gallinarum pada jam kedua setelah paparan. Pada kontrol positif, H. gallinarum mati pada jam keempat setelah paparan akan tetapi H. gallinarum tetap hidup hingga jam ke empat setelah paparan pada kontrol negatif. Dosis ekstrak etanol meniran 250 μg/mL, 500 μg/mL dan 1000 μg/mL mempunyai efektivitas sebagai antelmintik terhadap H. gallinarum. Akan tetapi, efektivitas ekstrak etanol meniran sebagai antelmintik paling nyata diperlihatkan pada dosis 500 μg/mL.  
Identifikasi Bakteri dan Efektivitas Antibiotik dalam Pengencer untuk Mengendalikan Pertumbuhan Bakteri pada Semen Sapi Simental Esti Rahayu; Masrizal Masrizal; Jaswandi Jaswandi; I Gde Eka Budhiyadnya
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kontaminasi bakteri pada semen sapi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kualitas dan keberhasilan program inseminasi buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri yang terdapat pada semen beku sapi simental dan efektivitas variasi antibiotik dengan perlakuan pengencer berbeda. Penelitian dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu koleksi semen segar dari delapan ekor sapi simental di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengembangan Teknologi dan Sumber Daya (BPTSD) Tuah Sakato, Payakumbuh, Sumatra Barat. Pengenceran semen dilakukan dengan tiga perlakuan (P1= tanpa antibiotik; P2= antibiotik Penicillin-Streptomycin; P3= kombinasi Gentamisin, Tilosin, Lincomisin, Spektinomisin/GTLS), serta isolasi dan identifikasi bakteri pada semen cair dan semen beku di Laboratorium Bakteriologi, Balai Veteriner Bukittinggi, Sumatra Barat. Metode isolasi menggunakan media selektif dan identifikasi dilakukan melalui pewarnaan Gram, uji motilitas, katalase, oksidase, dan uji biokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semen segar diisolasi 12 jenis bakteri, sedangkan dari semen beku diidentifikasi bakteri Alcaligenes spp., Chromobacterium spp., Corinebacterium spp., Klebsiella spp., Micrococcus spp.,  Alcaligenes spp., Haemophilus spp., Mycoplasma spp., Proteus spp., dan Serratia spp. Semen tanpa antibiotik (P1) memiliki tingkat kontaminasi bakteri tertinggi dengan lima jenis bakteri terdeteksi, sedangkan pada perlakuan P2 teridentifikasi tiga jenis bakteri dan P3 lima jenis bakteri namun dengan populasi lebih terkendali. Bakteri oportunistik seperti Klebsiella spp. dan Proteus spp. masih ditemukan meskipun menggunakan GTLS. Simpulannya, pada semen beku yang diencerkan dengan antibiotik masih ditemukan bakteri. Penambahan kombinasi antibiotik GTLS pada pengencer lebih efektif menekan pertumbuhan bakteri patogen dibandingkan Penicillin-Streptomycin, serta berpotensi meningkatkan mutu semen beku dan keberhasilan inseminasi buatan.
Evaluation of the Histology of Gonads in Ramirezi (Mikrogeophagus ramirezi) as a Response to Variations in Feeding Ratio Azizah Azizah; Munti Sarida; Yudha Trinoegraha Adiputra; Yeni Elisdiana
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Nutritional management is a crucial factor in optimizing the reproductive performance of fish. This study was aimed to evaluate the histological characteristics of the gonads of ramirezi (Mikrogeophagus ramirezi) in response to variations in feed ratios. The feeding trial was conducted over a period of 45 days with four different treatments. The experimental design involved the administration of artificial feed and Tubifex worms in varying ratios: (A) 3:0, (B) 0:3, (C) 2:1, and (D) 1:2. Gonads (testes and ovaries) were collected at the beginning and end of the treatment.  Histological analysis using hematoxylin-eosin staining, to assess the developmental stages based on tissue structure and germ cell stages. Observations revealed significant differences in gonadal maturity levels among the treatments. In the testes, treatment A exhibited a predominance of spermatogonia, while the treatment with a 1:2 ratio (treatment D) displayed seminiferous tubule lumens filled with spermatozoa. The ovaries showed development from Primary Growth Oocyte (PG) to the vitellogenic stage, particularly in treatment D. The combination of artificial feed and Tubifex worms at a 1:2 ratio (treatment D) significantly accelerated gonadal maturation in both male and female M. ramirezi. These findings underscore the importance of integrating high-quality natural feed in the management of broodstock and reproduction within small-scale aquaculture systems.
Giving Golden Apple Snail Meal Up To 10% of the Ration Can Get Optimal Slaughter Weight, Carcass Weight and Abdominal Fat in Broiler Quail Endang Sujana; Wiwin Tanwiriah; Opan Suwartapradja; Siti Rabiatul Dinniyah; Adynda Muhammad Fathurrachman
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Quails are a type of poultry that are easy to breed and have advantages such as high egg and meat production, as well as a short and relatively easy in  rearing period.  The research was aimed to evaluate the effect of different levels of Golden apple snail meal (Pomacea canaliculata L.) in the diet on the optimal carcass quality of quail. A total of 100 head of quails were used in this study and were carried out in Sukamenak Village, Darmaraja District, Jatigede, Sumedang Regency of West Java Province. A Completely Randomized Design (CRD) was used to evaluate five treatments (0%, 5%, 10%, 15%, and 20%) Golden apple snail meal on slaughter weight, carcass weight, abdominal fat weight, and edible and inedible weight of meat quails during 42 days of the feeding trial period with four replicates (n=4). The data were statistically analyzed with Analysis of variance (Anova), and if there is a reasonable difference between the treatments, then continue  with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) using the statistical analysis system (SAS) application program. The results showed that the inclusion of Golden apple snail meal in the diet significantly (p≤0.05) influenced the slaughter weight, carcass weight, abdominal fat weight, and edible and inedible weight of quails. Based on the findings, it can be concluded that the inclusion of Golden apple snail meal up to 10% in the diet resulted in optimal slaughter weight, carcass weight, abdominal fat weight, and edible and inedible weight of broiler quail.
Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada  Kambing Pasar Hewan di Kota Payakumbuh, Suatu Wilayah Dataran Tinggi di Sumatra Barat Triana Guspita Sari; Engki Zelpina
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Parasit cacing pada saluran pencernaan merupakan salah satu permasalahan utama yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, khususnya ruminansia kecil seperti kambing. Infeksi cacing dapat menyebabkan penurunan bobot badan, gangguan pertumbuhan, serta menurunnya daya tahan tubuh ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta mengidentifikasi jenis nematoda berdasarkan telur cacing yang terdapat pada feses kambing di Pasar Hewan Kota Payakumbuh, suatu wilayah dataran tinggi di Sumatra Barat. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Desember 2023 di Pasar Hewan Kota Payakumbuh dan di Laboratorium Kesehatan dan Penyakit Hewan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Sebanyak 50 sampel feses kambing diperiksa menggunakan metode metode apung (flotasi) yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil identifikasi nematoda gastrointestinal pada kambing di Pasar Hewan Kota Payakumbuh terdiri atas empat jenis yaitu, Ostertagia sp., Haemonchus contortus, Trichostrongylus sp., dan Trichuris ovis. Prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal adalah sebesar 20%, berdasarkan kelompok umur, prevalensi tertinggi ditemukan pada kambing berumur lebih dari dua tahun sebesar 25%, diikuti oleh kambing umur 1–2 tahun sebesar 19,35%, dan kambing umur kurang dari satu tahun sebesar 14,28%, berdasarkan jenis kelamin, prevalensi pada kambing jantan sebesar 21,42% dan betina sebesar 19,44%. Hasil ini menunjukkan pentingnya pengendalian infeksi nematode gastrointestinal untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak kambing di pasar hewan.  Simpulannya, prevalensi nematoda gastrointestinal kambing di Payakumbuh sebesar 20%, serta jenis cacing yang menginfeksi adalah Ostertagia sp., H. contortus, Trichostrongylus sp., dan T. ovis.
Struktur Histologis Hati Tikus Sprague Dawley Diabetes Melitus yang Diinduksi Aloksan setelah Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Durian Aziza Rizky Safitri; Sri Isdadiyanto; Sunarno Sunarno
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kerusakan hati akibat diabetes melitus (DM) yang diinduksi aloksan sudah banyak diteliti. Eksplorasi bahan hayati lokal yang memiliki potensi dan aktivitas hepatoprotektif menjadi solusi alternatif dalam mengatasi kerusakan hati. Kulit durian (Durio zibethinus) merupakan bahan hayati dengan potensi antioksidan dan antiinflamasi yang dapat digunakan untuk perbaikan hati akibat DM. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemberian ekstrak etanol kulit durian terhadap kerusakan struktur histologis hati tikus Sprague Dawley  pada kondisi DM yang dilihat dari variabel bobot hati, bobot badan, indeks hepatosomatik IHS, diameter hepatosit, diameter vena sentralis serta degenerasi hepatosit berupa steatosis dan nekrosis. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus jantan DM. Induksi DM dilakukan dengan larutan aloksan diinjeksikan secara  intrapertoneal dengan dosis 25 mg/200 g BB.  Kadar glukosa darah tikus diperiksa 72 jam pascainjeksi aloksan dan tikus dengan glukosa di atas 130 mg/dL dinyatakan sebagai tikus penderita DM.  Ekstrak etanol kulit durian (Durio zibhentinus)  dibuat dari bagian dalam (albedo) kulit durian yang dikeringkan pada suhu 50 oC, lalu digerus menjadi serbuk. Serbuk kulit durian sebanyak 1.250 g direndam dalam 2 L etanol selama lima hari. Hasil rendaman disaring lalu maserat diuapkan dengan rotary evaporator hingga menjadi ekstrak etano kulit durian.  Tikus-tikus percobaan dikelompokan kedalam lima kelompok dengan rancangan acak lengkap (RAL) dan setiap kelompok terdiri atas lima ulangan, yaitu kelompok normal (K0), kelompok positif (K1), serta tiga kelompok perlakuan ekstrak etanol kulit durian (EEKD) dengan dosis 100, 150 dan 200 mg/200 g BB (K2, K3 dan K4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 150 mg/200 g BB dan 200 mg/200 g BB secara nyata meningkatkan diameter hepatosit, menormalkan indeks hepatosomatik dan memperbaiki struktur vena sentralis. Simpulannya, ekstrak etanol kulit durian dosis 150 mg/200 g BB memiliki potensi terbaik untuk memperbaiki struktur histologis hati pada tikus DM.

Page 1 of 2 | Total Record : 15