cover
Contact Name
I Wayan Batan
Contact Email
bobbatan@yahoo.com
Phone
+6285855541983
Journal Mail Official
bobbatan@yahoo.com
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medicine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Veteriner is a scientific journal encompassing animal science aspects, published since 2000, and until now is consistently published four times a year in March, June, September, and December by Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, associated with Association of Veterinarian Indonesia. Jurnal Veteriner is a peer reviewed journal that has been accredited by Directorate General of Research and Development Strengthening, Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia since 2002. Jurnal Veteriner has been indexed and abstracted in Clarivate Analytics products (formerly Thomson Reuters), DOAJ, CABI, EBSCO, Science and Technology Index (SINTA), Garba Rujukan Digital (GARUDA), Google Scholar, and other scientific databases. Jurnal Veteriner also used Similarity Check to prevent any suspected plagiarism in the manuscripts. Jurnal Veteriner receives manuscripts cover a broad range of research topics in tropical veterinary medicine and tropical animal sciences: anatomy, histology, pathology, virology, bacteriology, pharmacology, mycology, clinical sciences, genetics, reproduction, physiology, biochemistry, nutrition, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, livestock farming system, socio-economic, wild life and policy.
Articles 28 Documents
Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Biosekuriti Pedagang Burung Terkait Pengendalian Flu Burung di Kota Bogor Ardilasunu Wicaksono; Indah Ratna Yutami; Agik Suprayogi
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 3 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2025.26.3.298

Abstract

Kota Bogor merupakan wilayah endemis avian influenza sehingga program pengendaliannya masih gencar dilakukan. Pasar burung memiliki potensi penyebaran avian influenza karena interaksi yang tinggi baik antara hewan maupun dari hewan ke manusia sehingga penerapan biosekuriti penting dilakukan oleh pedagang burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengetahuan, sikap, dan praktik pedagang burung terkait praktik biosekuriti untuk mendukung program pengendalian avian influenza di Kota Bogor. Seluruh pedagang burung di Kota Bogor sebanyak 31 orang diambil sebagai sampel/responden. Metode pengambilan data menggunakan kuesioner yang telah disusun secara terstruktur. Data hasil penelitian kemudian diolah secara deskriptif dan dilakukan analisis korelasi menggunakan Uji Chi-Square dan Uji Korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan pedagang belum memahami pentingnya penggunaan alat pelindung diri dan peran pembatasan hewan lain (>80.0%), belum meyakini risiko menerima burung titipan dari pedagang lain (80.0%), belum selalu menggunakan sabun saat mencuci tangan dan membersihkan kandang (66.7%), tidak mengenakan APD (80.0%), dan masih membuang kotoran burung ke selokan (63.3%) serta membuang bangkai burung ke tempat sampah umum (93.3%). Hasil analisis terhadap peubah yang diamati memperlihatkan hubungan yang nyata antara umur (X2=14.403, p=0.000) dan pengalaman berdagang (X2=12.543, p=0.001) terhadap pengetahuan pedagang dengan kekuatan hubungan yang kuat dan positif (r=0.596-0.693). Selanjutnya, pengetahuan berhubungan nyata terhadap sikap (p= 0.001, r= 0.558) begitu juga sikap terhadap praktik biosekuriti (p= 0.001, r= 0.558).
Skrining Senyawa Bioaktif Buah Pinang (Areca catechu L.,) Sebagai Antibiofilm Terhadap Enzim Glycosyltransferase Produksi Streptococus mutans daniel mustafa; Frengki Frengki; Abrar Nopan Lubis; Hamny Hamny; Laylia Dwi Kusuma Wardhani; Siti Aisyah
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 3 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2025.26.3.410

Abstract

Penggunaan bahan alami dalam perawatan gigi seperti tradisi manginang yang telah menjadi budaya masyarakat minang dianggap sebagai salah satu alternatif perawatan gigi alami yang perlu dikembangkan dalam mengatasi dampak buruk perawatan gigi dari bahan sintetetik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk pembuktian secara ilmiah melalui skrining senyawa bioaktif buah pinang (Areca catechu L) sebagai antibiofilm terhadap bakteri Streptococcus mutans. Harapannya bisa menjadikan tradisi menginang mendapatkan dukungan secara ilmiah untuk menyehatkan mulut dan gigi. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan metode in silico dengan bantuan perangkat lunak seperti Molecular Operating Environment (MOE v.09) dan Chimera 1.13.1, serta website Way2Drug, protein data bank, dan protox_ii. Penelitian ini diawali dengan pengumpulan data ligand dari sumber literatur terpercaya yang dilanjutkan dengan konversi ke format Simplified Molecular-Input LineEntry System (SMILE) dan tiga dimensi (3D). Selanjutnya dilakukan penentuan aktivitas antibiofilm menggunakan teknik Quantitative Structure-Activity Relationship (QSAR) melalui website (http://www.way2drug.com/PASSOnline/predict.php). Senyawa dengan antibiofilm terpilih dilanjutkan pengamatan afinitasnya terhadap reseptor (pdb id. 3AIB) melalui teknik molecular docking. Terakhir diamati profil toksisitas ligand tersebut untuk memprediksi keamanannya. Hasil penelitian ini menunjukkan 29 senyawa bioaktif buah pinang berpotensi memiliki efek antibiofilm dengan asam bezoat memiliki skor tertinggi (Pa 0.775), memiliki afinitas yang kuat terhadap reseptor dengan isorhamnetin sebagai ligand terkuat ((∆Gbinding -12.54 kcal/mol) dan rata-rata memiliki toksisitas yang rendah (level IVVI). Berdasarkan tiga parameter potensi yang dinilai dari 29 senyawa bioaktif buah pinang diperoleh lima senyawa memiliki potensi setara atau lebih baik dibanding kontrol α-maltose.
Identifikasi Telur Cacing pada Feses Sapi Bali yang Digembalakan di Lahan Pasca-tambang Batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur Shevira Ayu Puspita; Mansyur Mansyur; Andi Hiroyuki
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Ternak sapi potong merupakan salah satu sumber utama penghasil daging dengan nilai ekonomi tinggi. Namun, tingginya permintaan daging sapi di Indonesia masih tidak sebanding dengan ketersediaan daging di masyarakat. Kondisi ini berakibat pada ketergantungan pada impor daging dari negara lain. Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi adalah melalui ekstensifikasi peternakan sapi potong. Tantangan utama dalam pelaksanaan ekstensifikasi peternakan sapi potong adalah ketersediaan lahan yang sesuai. Lahan pasca tambang batubara memiliki potensi untuk dimanfatkan sebagai alternatif, meskipun memiliki karakteristik yang kurang mendukung seperti kondisi tanah yang kurang nutrisi hingga sulit ditumbuhi vegetasi dan mudahnya terbentuk genangan air akibat berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangan cacing parasit seperti trematoda yang banyak ditemukan pada genangan air. Infeksi cacing atau helminthiasis ini merupakan masalah pada ternak karena dapat menurunkan produktivitas sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi sapi bali yang digembalakan di lahan pasca tambang batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak 47 sampel feses sapi bali dengan body condition score (BCS) di bawah tiga (≤3) dikoleksi pada bulan Agustus 2023 dan diperiksa menggunakan metode apung dan metode sedimentasi. Hasil pemeriksaan menunjukan prevalensi infeksi trematoda sebesar 19,14%, sedangkan infeksi nematoda sebesar 17,02%, dan infeksi dengan kombinasi keduanya sebesar 10,63%. Temuan ini mengindikasikan bahwa prevalensi infeksi trematoda cukup dominan pada sapi bali di area gembala tersebut. Kondisi ini diduga terkait dengan adanya genangan air pada lahan pasca tambang batubara yang digunakan sebagai lahan penggembalaan. Struktur lahan yang berubah karena proses penambangan batubara memerlukan pendekatan terkait peningkatan kemampuan penyerapan air tanah untuk menekan adanya genangan air dan secara tidak langsung juga meningkatkan kualitas lahan untuk ditanami vegetasi bahan pakan ternak. Manajemen pemberian obat cacing juga perlu menjadi perhatian dalam mencegah dan menangani kondisi kecacingan pada hewan ternak sapi bali.
Mucus Drying Shortly After Birth Using Clay Adsorbent Effectively Maintained Temperature, Performance, Behaviour, and Reduced Mortality In Pre-Weaning Piglets Besse Tenri Nurul Hikmah; Tri Satya Mastuti Widi; Ika Sumantri; Sigit Bintara; Tristianto Nugroho; Hamdani Maulana; Erika Kusuma Wardani
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 3 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2025.26.3.387

Abstract

This study was aimed to determine the effect of mucus drying methods on newborn piglets on their postnatal behavior and preweaning performance. The research was conducted from February to May 2024 at a smallholder pig farm in Godean District, Sleman Regency, Yogyakarta. Treatments were applied to 66 newborn Landrace crossbred piglets and consisted of no drying assistance (P1), drying assistance using cloth (P2), and drying assistance using a clay as adsorbent (P3). The variables observed included body temperature, drying time, suckling time, postnatal behavior, and pre-weaningperformance. Behavior was recorded and analyzed using Closed-Circuit Television (CCTV) video footage. The data were analyzed using Analysis of variance and Analysis of covariance with the R programming language. The P3 treatment significantly (p<0.05) influenced body temperature at the 120th minutes and 24 hours after birth, body weight at two weeks, average daily gain (ADG) at 0–2 weeks (138.75 g/day), body length at 2 and 4 weeks, and chest circumference at 2 and 6 weeks. The P3 group also exhibited the lowest mortality rate (13.33 vs. 21.74%). Furthermore, P3 affected behavior 24 hours after birth, particularly walking, standing, searching for the mother’s nipple, and lying down with other piglets. Overall, the use of clay adsorbent effectively maintained piglet body temperature during the first 120 minutes after birth and primarily influenced piglet performance during the early postnatal period, with no significant effects observed in the later stages. Additionally, the use of clay adsorbent reduced mortality rates and enhanced piglet activity levels, demonstrating its effectiveness in supporting early postnatal adaptation.
Effectiveness of Treating Foot-And-Mouth Disease Syndrome in Cattle Using Extracts of Binahong Leaves, Cassava Arabica, and Turmeric Euis Nia Setiawati; Ibnu Mahmudin; Vony Armelia
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 3 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2025.26.3.362

Abstract

Foot-and-Mouth Disease (FMD) in livestock is an infectious disease caused by a virus from the Aphtovirus genus. It affects ruminant animals (such as cattle, buffalo, goats, sheep, deer), pigs, camels, and several species of wild animals. This disease often worsens when secondary bacterial infections occur. Theoretically, FMD cannot be cured because it is caused by a virus. This study aims to evaluate the management of FMD cases through symptomatic, supportive, antibiotic treatments, and the use of herbal medicines to prevent secondary infections. Three treatment groups were established: Group 1 received pharmaceutical treatment (injection of vitamins and antibiotics, and spraying of wounds with physiological NaCl solution); Group 2 received treatment with extracts of binahong leaves, cassava arabica leaves, and turmeric; and Group 3 received a combination of pharmaceutical treatment (injection of vitamins and antibiotics, and wound spraying with NaCl solution) along with herbal treatment. For the combination group, wounds on the feet and mouth were sprayed three times daily with a clean condition maintained, using a mixture of binahong, cassava arabica, and turmeric extract (BSK extract). Additionally, 1000 ml of BSK decoction was administered orally at each treatment session, concurrent with wound care, for five consecutive days. Statistical analysis of the results showed that treatment in Group 3 (pharmaceutical combined with BSK extract) resulted in a significantly better healing rate (p < 0.05) for lesions on the mouth, gums, and feet compared to the control group (pharmaceutical treatment alone) and Group 2 (BSK extract treatment alone). However, further research with a larger number of cattle is necessary to obtain more comprehensive and optimal results.
Viabilitas Bakteri Asam Laktat dan Aktivitas Antioksidan Yoghurt Susu Kambing dengan Penambahan Ekstrak Kacang Lebui (Cajanus sp.) Baiq Rani Dewi Wulandani; I Nyoman Tirta Ariana; Djoko Kisworo; Wahid Yulianto; Fahrullah Fatrullah; Haryanto KA
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kacang lebui (Cajanus sp.) merupakan jenis kacang-kacangan yang mengandung  antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak kacang lebui atau Lebui nuts extract (LNE) pada yoghurt dalam hal viabilitas bakteri asam laktat (BAL) dan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan dua faktor berbeda. Faktor pertama adalah yoghurt dengan LNE dan yoghurt tanpa LNE.  Faktor kedua adalah lama penyimpanan dalam lemari es 4ºC, yakni 1; 7; 14; 21 dan 28 hari. Setiap unit penelitian diulang tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam dan jika ada perbedaan antar perlakuan  dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Parameter yang diukur adalah total BAL, tingkat keasaman (pH), aktivitas antioksidan, Total Titratable Acid (TTA), dan Total Phenolic Content (TPC) pada yoghurt susu kambing yang disimpan pada suhu 4oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan LNE 10% tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap viabilitas BAL. Viabilitas BAL yoghurt yang ditambahi LNE pada awal penyimpanan sebesar 98,06%, dibandingkan dengan yoghurt tanpa LNE (plain) sebesar 99,43%. Penambahan LNE berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH dan TTA yoghurt. pH yoghurt yang ditambahi LNE mengalami penurunan hingga hari ke-21 dan mengalami kenaikan pH pada hari ke-28. Hal ini menyebabkan total asam pada yoghurt dengan LNE meningkat hingga penyimpanan hari ke-21 dan menurun pada hari ke-28.  Aktivitas antioksidan yoghurt plain (P0) dan yoghurt dengan LNE (P1) berbeda secara signifikan (P<0,05) hingga hari ke-28. Aktivitas antioksidan yoghurt dengan LNE (P1) lebih tinggi daripada yoghurt plain (P0) dengan hasil pada awal penyimpanan berturut-turut (P1) 76,29 ± 1,85 dan (P0) 60,81 ± 1,90. Hasil skreening kandungan total fenol menunjukkan bahwa fenol yoghurt dengan LNE lebih tinggi dibandingkan dengan yoghurt plain.  Dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan yoghurt susu kambing dengan LNE yang disimpan pada lemari es tetap lebih tinggi dan bertahan hingga satu bulan.
Potensi Jamu Kencing Manis Madura terhadap Struktur Limpa Tikus Jantan Galur Wistar Penderita Diabetes Melitus Cindy Ruriasri; Agung Janika Sitasiwi; Kasiyati Kasiyati
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Suku Madura merupakan salah satu etnis di Indonesia yang hingga kini mempertahankan pengetahuan tradisional dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Masyarakat Madura, khususnya di Sumenep dan Pamekasan, menjaga kearifan lokal dalam penggunaan tanaman obat untuk mengatasi diabetes, seperti jamu kencing manis yang dikenal di Kecamatan Pamekasan. Jamu ini memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan, antara lain daun insulin (Tithonia diversifolia), sirih merah (Piper crocatum), kayu manis (Cinnamomum burmannii), ketumbar (Coriandrum sativum), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi jamu kencing manis madura terhadap struktur limpa tikus diabetes melitus. Penelitian menggunakan 30 ekor tikus wistar jantan dibagi menjadi enam kelompok perlakuan: kontrol P0 (akuades), P1 (diabetes + metformin), P2 (diabetes + 5 g jamu), P3 (diabetes + 10 g jamu), P4 (diabetes + 15 g jamu), dan P5 (diabetes tanpa terapi). Tikus dieuthanasia pada hari ke-3, 10, dan 20, kemudian limpa diisolasi dan difiksasi. Preparat histologis dibuat menggunakan metode parafin dan pewarnaan hematoksilin-eosin. Parameter yang diamati meliputi bobot badan, bobot limpa, indeks organ, serta diameter dan luas germinal center serta pulpa putih. Data dianalisis dengan uji sidik ragam satu arah, dilanjutkan uji Duncan, sedangkan parameter non parametrik diuji dengan Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan nyata pada bobot badan (p<0,05), namun bobot limpa, indeks organ, diameter, dan luas germinal center tidak berbeda nyata (p>0,05), begitu pula diameter dan luas pulpa putih tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Disimpulkan bahwa jamu kencing manis madura tidak berdampak negatif pada struktur histologi limpa tikus diabetes melitus.
Efektivitas In Vitro Antelmintik Ekstrak Etanol Meniran (Phyllanthus niruri Linn) terhadap Heterakis gallinarum Risa Tiuria; Geby Magdalena Simanjuntak; Lina Noviyanti Sutardi
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kejadian infeksi cacing gastrointestinal ayam masih cukup tinggi dan Heterakis gallinarum adalah salah satu parasit nematoda saluran pencernaan yang sering menginfeksi ayam. Rendahnya efikasi antelmintik farmasi membuat kendala bagi pengobatan dan pengendalian kecacingan serta adanya peningkatan yang nyata dalam resistansi cacing terhadap antelmintik.  Meniran (Phyllanthus niruri Linn.) merupakan salah satu tanaman obat yang tersebar di seluruh negara tropis dan subtropis di dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas meniran sebagai antelmintik H. gallinarum secara in vitro. Cacing dewasa H. gallinarum yang segar dan aktif merupakan sampel yang digunakan dan rancangan acak kelompok sebagai rancangan percobaan dalam studi ini.  Cacing H. gallinarum ditempatkan di cawan petri yang berisi dua cacing dewasa untuk setiap perlakuan yang diulang tiga kali.   Kelompok perlakuan ekstrak etanol meniran pada dosis 250 μg/mL, 500 μg/mL, dan 1000 μg/mL yang digunakan untuk pengamatan motilitas dan mortalitas H. gallinarum. Larutan NaCl 0,9% digunakan sebagai kelompok kontrol negatif, sementara antelmintik Albendazol 500 μg/mL digunakan sebagai kelompok kontrol positif. Semua dosis ekstrak etanol meniran mengakibatkan kematian H. gallinarum pada jam kedua setelah paparan. Pada kontrol positif, H. gallinarum mati pada jam keempat setelah paparan akan tetapi H. gallinarum tetap hidup hingga jam ke empat setelah paparan pada kontrol negatif. Dosis ekstrak etanol meniran 250 μg/mL, 500 μg/mL dan 1000 μg/mL mempunyai efektivitas sebagai antelmintik terhadap H. gallinarum. Akan tetapi, efektivitas ekstrak etanol meniran sebagai antelmintik paling nyata diperlihatkan pada dosis 500 μg/mL.  
Identifikasi Bakteri dan Efektivitas Antibiotik dalam Pengencer untuk Mengendalikan Pertumbuhan Bakteri pada Semen Sapi Simental Esti Rahayu; Masrizal Masrizal; Jaswandi Jaswandi; I Gde Eka Budhiyadnya
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kontaminasi bakteri pada semen sapi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kualitas dan keberhasilan program inseminasi buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri yang terdapat pada semen beku sapi simental dan efektivitas variasi antibiotik dengan perlakuan pengencer berbeda. Penelitian dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu koleksi semen segar dari delapan ekor sapi simental di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengembangan Teknologi dan Sumber Daya (BPTSD) Tuah Sakato, Payakumbuh, Sumatra Barat. Pengenceran semen dilakukan dengan tiga perlakuan (P1= tanpa antibiotik; P2= antibiotik Penicillin-Streptomycin; P3= kombinasi Gentamisin, Tilosin, Lincomisin, Spektinomisin/GTLS), serta isolasi dan identifikasi bakteri pada semen cair dan semen beku di Laboratorium Bakteriologi, Balai Veteriner Bukittinggi, Sumatra Barat. Metode isolasi menggunakan media selektif dan identifikasi dilakukan melalui pewarnaan Gram, uji motilitas, katalase, oksidase, dan uji biokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semen segar diisolasi 12 jenis bakteri, sedangkan dari semen beku diidentifikasi bakteri Alcaligenes spp., Chromobacterium spp., Corinebacterium spp., Klebsiella spp., Micrococcus spp.,  Alcaligenes spp., Haemophilus spp., Mycoplasma spp., Proteus spp., dan Serratia spp. Semen tanpa antibiotik (P1) memiliki tingkat kontaminasi bakteri tertinggi dengan lima jenis bakteri terdeteksi, sedangkan pada perlakuan P2 teridentifikasi tiga jenis bakteri dan P3 lima jenis bakteri namun dengan populasi lebih terkendali. Bakteri oportunistik seperti Klebsiella spp. dan Proteus spp. masih ditemukan meskipun menggunakan GTLS. Simpulannya, pada semen beku yang diencerkan dengan antibiotik masih ditemukan bakteri. Penambahan kombinasi antibiotik GTLS pada pengencer lebih efektif menekan pertumbuhan bakteri patogen dibandingkan Penicillin-Streptomycin, serta berpotensi meningkatkan mutu semen beku dan keberhasilan inseminasi buatan.
Evaluation of the Histology of Gonads in Ramirezi (Mikrogeophagus ramirezi) as a Response to Variations in Feeding Ratio Azizah Azizah; Munti Sarida; Yudha Trinoegraha Adiputra; Yeni Elisdiana
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Nutritional management is a crucial factor in optimizing the reproductive performance of fish. This study was aimed to evaluate the histological characteristics of the gonads of ramirezi (Mikrogeophagus ramirezi) in response to variations in feed ratios. The feeding trial was conducted over a period of 45 days with four different treatments. The experimental design involved the administration of artificial feed and Tubifex worms in varying ratios: (A) 3:0, (B) 0:3, (C) 2:1, and (D) 1:2. Gonads (testes and ovaries) were collected at the beginning and end of the treatment.  Histological analysis using hematoxylin-eosin staining, to assess the developmental stages based on tissue structure and germ cell stages. Observations revealed significant differences in gonadal maturity levels among the treatments. In the testes, treatment A exhibited a predominance of spermatogonia, while the treatment with a 1:2 ratio (treatment D) displayed seminiferous tubule lumens filled with spermatozoa. The ovaries showed development from Primary Growth Oocyte (PG) to the vitellogenic stage, particularly in treatment D. The combination of artificial feed and Tubifex worms at a 1:2 ratio (treatment D) significantly accelerated gonadal maturation in both male and female M. ramirezi. These findings underscore the importance of integrating high-quality natural feed in the management of broodstock and reproduction within small-scale aquaculture systems.

Page 2 of 3 | Total Record : 28