cover
Contact Name
I Wayan Batan
Contact Email
bobbatan@yahoo.com
Phone
+6285855541983
Journal Mail Official
bobbatan@yahoo.com
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medicine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Veteriner is a scientific journal encompassing animal science aspects, published since 2000, and until now is consistently published four times a year in March, June, September, and December by Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, associated with Association of Veterinarian Indonesia. Jurnal Veteriner is a peer reviewed journal that has been accredited by Directorate General of Research and Development Strengthening, Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia since 2002. Jurnal Veteriner has been indexed and abstracted in Clarivate Analytics products (formerly Thomson Reuters), DOAJ, CABI, EBSCO, Science and Technology Index (SINTA), Garba Rujukan Digital (GARUDA), Google Scholar, and other scientific databases. Jurnal Veteriner also used Similarity Check to prevent any suspected plagiarism in the manuscripts. Jurnal Veteriner receives manuscripts cover a broad range of research topics in tropical veterinary medicine and tropical animal sciences: anatomy, histology, pathology, virology, bacteriology, pharmacology, mycology, clinical sciences, genetics, reproduction, physiology, biochemistry, nutrition, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, livestock farming system, socio-economic, wild life and policy.
Articles 28 Documents
Giving Golden Apple Snail Meal Up To 10% of the Ration Can Get Optimal Slaughter Weight, Carcass Weight and Abdominal Fat in Broiler Quail Endang Sujana; Wiwin Tanwiriah; Opan Suwartapradja; Siti Rabiatul Dinniyah; Adynda Muhammad Fathurrachman
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Quails are a type of poultry that are easy to breed and have advantages such as high egg and meat production, as well as a short and relatively easy in  rearing period.  The research was aimed to evaluate the effect of different levels of Golden apple snail meal (Pomacea canaliculata L.) in the diet on the optimal carcass quality of quail. A total of 100 head of quails were used in this study and were carried out in Sukamenak Village, Darmaraja District, Jatigede, Sumedang Regency of West Java Province. A Completely Randomized Design (CRD) was used to evaluate five treatments (0%, 5%, 10%, 15%, and 20%) Golden apple snail meal on slaughter weight, carcass weight, abdominal fat weight, and edible and inedible weight of meat quails during 42 days of the feeding trial period with four replicates (n=4). The data were statistically analyzed with Analysis of variance (Anova), and if there is a reasonable difference between the treatments, then continue  with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) using the statistical analysis system (SAS) application program. The results showed that the inclusion of Golden apple snail meal in the diet significantly (p≤0.05) influenced the slaughter weight, carcass weight, abdominal fat weight, and edible and inedible weight of quails. Based on the findings, it can be concluded that the inclusion of Golden apple snail meal up to 10% in the diet resulted in optimal slaughter weight, carcass weight, abdominal fat weight, and edible and inedible weight of broiler quail.
Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada  Kambing Pasar Hewan di Kota Payakumbuh, Suatu Wilayah Dataran Tinggi di Sumatra Barat Triana Guspita Sari; Engki Zelpina
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Parasit cacing pada saluran pencernaan merupakan salah satu permasalahan utama yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, khususnya ruminansia kecil seperti kambing. Infeksi cacing dapat menyebabkan penurunan bobot badan, gangguan pertumbuhan, serta menurunnya daya tahan tubuh ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta mengidentifikasi jenis nematoda berdasarkan telur cacing yang terdapat pada feses kambing di Pasar Hewan Kota Payakumbuh, suatu wilayah dataran tinggi di Sumatra Barat. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Desember 2023 di Pasar Hewan Kota Payakumbuh dan di Laboratorium Kesehatan dan Penyakit Hewan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Sebanyak 50 sampel feses kambing diperiksa menggunakan metode metode apung (flotasi) yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil identifikasi nematoda gastrointestinal pada kambing di Pasar Hewan Kota Payakumbuh terdiri atas empat jenis yaitu, Ostertagia sp., Haemonchus contortus, Trichostrongylus sp., dan Trichuris ovis. Prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal adalah sebesar 20%, berdasarkan kelompok umur, prevalensi tertinggi ditemukan pada kambing berumur lebih dari dua tahun sebesar 25%, diikuti oleh kambing umur 1–2 tahun sebesar 19,35%, dan kambing umur kurang dari satu tahun sebesar 14,28%, berdasarkan jenis kelamin, prevalensi pada kambing jantan sebesar 21,42% dan betina sebesar 19,44%. Hasil ini menunjukkan pentingnya pengendalian infeksi nematode gastrointestinal untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak kambing di pasar hewan.  Simpulannya, prevalensi nematoda gastrointestinal kambing di Payakumbuh sebesar 20%, serta jenis cacing yang menginfeksi adalah Ostertagia sp., H. contortus, Trichostrongylus sp., dan T. ovis.
Struktur Histologis Hati Tikus Sprague Dawley Diabetes Melitus yang Diinduksi Aloksan setelah Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Durian Aziza Rizky Safitri; Sri Isdadiyanto; Sunarno Sunarno
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Kerusakan hati akibat diabetes melitus (DM) yang diinduksi aloksan sudah banyak diteliti. Eksplorasi bahan hayati lokal yang memiliki potensi dan aktivitas hepatoprotektif menjadi solusi alternatif dalam mengatasi kerusakan hati. Kulit durian (Durio zibethinus) merupakan bahan hayati dengan potensi antioksidan dan antiinflamasi yang dapat digunakan untuk perbaikan hati akibat DM. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemberian ekstrak etanol kulit durian terhadap kerusakan struktur histologis hati tikus Sprague Dawley  pada kondisi DM yang dilihat dari variabel bobot hati, bobot badan, indeks hepatosomatik IHS, diameter hepatosit, diameter vena sentralis serta degenerasi hepatosit berupa steatosis dan nekrosis. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus jantan DM. Induksi DM dilakukan dengan larutan aloksan diinjeksikan secara  intrapertoneal dengan dosis 25 mg/200 g BB.  Kadar glukosa darah tikus diperiksa 72 jam pascainjeksi aloksan dan tikus dengan glukosa di atas 130 mg/dL dinyatakan sebagai tikus penderita DM.  Ekstrak etanol kulit durian (Durio zibhentinus)  dibuat dari bagian dalam (albedo) kulit durian yang dikeringkan pada suhu 50 oC, lalu digerus menjadi serbuk. Serbuk kulit durian sebanyak 1.250 g direndam dalam 2 L etanol selama lima hari. Hasil rendaman disaring lalu maserat diuapkan dengan rotary evaporator hingga menjadi ekstrak etano kulit durian.  Tikus-tikus percobaan dikelompokan kedalam lima kelompok dengan rancangan acak lengkap (RAL) dan setiap kelompok terdiri atas lima ulangan, yaitu kelompok normal (K0), kelompok positif (K1), serta tiga kelompok perlakuan ekstrak etanol kulit durian (EEKD) dengan dosis 100, 150 dan 200 mg/200 g BB (K2, K3 dan K4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 150 mg/200 g BB dan 200 mg/200 g BB secara nyata meningkatkan diameter hepatosit, menormalkan indeks hepatosomatik dan memperbaiki struktur vena sentralis. Simpulannya, ekstrak etanol kulit durian dosis 150 mg/200 g BB memiliki potensi terbaik untuk memperbaiki struktur histologis hati pada tikus DM.
Prevalensi Resistansi Antibiotik pada Escherichia coli Penghasil Extended Spectrum Beta-Lactamase dari Sampel Ayam di Indonesia: Tinjauan Sistematis Enny Suswati; Laylatul Fitriah Mukarromah; Laksmi Indreswari
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Berdasarkan statistik Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2006-2016 menunjukkan bahwa produksi unggas meningkat sebesar 4,0% per tahun di negara-negara berkembang. Berbagai jenis unggas dipelihara di Indonesia, salah satunya adalah ayam. Pada umumnya peternak ayam menggunakan Antibiotic Growth Promoters (AGPs) sebagai pakan imbuhan dan untuk mencegah infeksi pada ternaknya. Namun, sebagian besar peternak ayam kurang memiliki pengetahuan tentang sistem peternakan yang tepat dalam hal  penggunaan antibiotik. Akibatnya, terdapat kekhawatiran luas mengenai potensi munculnya dan penularan resistansi antibiotik pada manusia melalui rantai pasokan makanan dan komponen lingkungan.  Penelitian di Indonesia yang membahas tinjauan sistematis mengenai prevalensi resistansi antibiotik pada Escherichia coli penghasil Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) dari sampel ayam masih terbatas, oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini. Artikel ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis mengenai prevalensi resistansi antibiotik pada E. coli penghasil ESBL dari sampel ayam.  Database Pubmed, Springer, ScienceDirect, Google Scholar, dan Portal Garuda dicari dan dikumpulkan dari artikel terbitan tahun 2013 hingga 2023 untuk semua studi cross-sectional yang menunjukkan prevalensi resistansi antibiotik pada E. coli penghasil ESBL dari sampel ayam di Indonesia. Senanyak sembilan artikel memenuhi kriteria inklusi dan dilanjutkan penilaian kualitas dan ekstraksi data. Penelitian terbanyak berada di wilayah Jawa Timur yaitu delapan penelitian di Blitar dan satu penelitian di Surabaya. Penelitian yang dilaporkan menemukan bahwa resistansi antibiotik terhadap E. coli penghasil ESBL pada usap kloaka adalah 100%. Namun, pada sebagian besar penelitian, rata-rata angka resistansi antibiotik E. coli penghasil ESBL berada di bawah 50%. Sembilan penelitian yang dilakukan di Blitar dan Surabaya, rata-rata prevalensi resistansi antibiotik E. coli penghasil ESBL pada sampel ayam adalah 27%.
Enhancing Leptospirosis Awareness: A Study on Knowledge among Health Undergraduate Students in Pontianak, West Kalimantan Auliya Az Zahra; Mardhia Mardhia; Mahyarudin Mahyarudin; Delima Fajar Liana
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Leptospirosis is a zoonotic infectious disease caused by the spirochete bacteria Leptospira, with a high risk of transmission in flood-prone areas such as Pontianak, West Kalimantan. Health undergraduate students play a critical role in preventing and managing infectious diseases, including leptospirosis. Hence, sufficient knowledge is necessary. This study aimed to describe the knowledge of health undergraduate students in Pontianak regarding leptospirosis. A descriptive study with a cross-sectional approach was conducted involving 172 respondents selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using an 18-question questionnaire covering definitions, etiology, epidemiology, clinical manifestations, transmission mechanisms and pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. The results show that most health undergraduate students at Universitas Tanjungpura, Pontianak had poor knowledge (57.5%), while 35.5% had moderate knowledge, and only 7% demonstrated good knowledge. Electronic media or the internet was the most frequently used source of information (51.74%), followed by lecture materials (44.18%), journals (22.67%), textbooks (14.53%), and printed media (11.04%). This study concludes that the majority of students lack knowledge of leptospirosis. Improving health literacy and access to accurate information, particularly through electronic media, is essential to enhance their understanding of the disease.
Kejadian Infeksi Koksidia pada Ayam Kampung Unggul Balitbangtan pada Berbagai Kelompok Umur Zidni Aova; Irkham Widiyono
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Ayam kampung unggul balitbangtan (KUB) merupakan jenis ayam lokal dengan potensi sebagai ayam pedaging dan petelur yang baik. Salah satu penyakit yang umum ditemukan pada peternakan ayam adalah koksidiosis, namun sampai saat ini tingkat kejadian infeksi koksidia dan faktor yang berpengaruh pada ayam KUB ini belum banyak dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kejadian infeksi koksidia pada ayam KUB pada berbagai kelompok umur yang dipelihara secara intensif. Penelitian dilaksanakan pada tujuh kandang di Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 120 sampel feses segar ayam KUB dikoleksi dari tiga kelompok umur: starter (1 pekan), grower (8 pekan), dan layer (>20 pekan). Pada periode koleksi sampel juga dilakukan pengukuran kepadatan kandang, suhu dan kelembapan udara kandang. Pemeriksaan koksidia di dalam feses dilakukan menggunakan metode pengapungan Whitlock. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Parasitologi, Balai Besar Veteriner Wates, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kejadian infeksi pada ayam KUB fase starter, grower, dan layer masing-masing sebesar 2,5%, 95%, dan 42,5%. Terdapat hubungan yang signifikan antara umur ayam dengan kejadian koksidiasis (p<0,05). Selain itu, kepadatan kandang dan kelembapan tinggi, terutama pada fase grower, turut berkontribusi terhadap peningkatan kejadian infeksi koksidia. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa umur ayam dan faktor manajemen pemeliharaan berperan penting dalam pengendalian infeksi koksidia pada ayam KUB.
Ko-Infeksi Kolibasilosis dan Koksidiosis pada Peternakan Ayam Broiler di Tanjung Sari, Sumedang, Jawa Barat Erna Yani Eka Nursafitri; Meilicia Meilicia; Stevania Sifora; Tyagita Hartady
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

            Ayam broiler merupakan salah satu komoditas unggas utama dalam memenuhi kebutuhan daging sebagai sumber protein hewani untuk masyarakat. Namun, produktivitasnya dapat terganggu oleh penyakit menular, terutama yang menyerang sistem pernapasan dan sistem pencernaan, seperti kolibasilosis dan koksidiosis. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi temuan patologi anatomi, bakteriologi, dan parasitologi pada kasus pada ayam broiler di Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, yang menunjukkan gangguan pada sistem pernapasan dan sistem pencernaan. Nekropsi dilakukan terhadap tiga ekor ayam broiler berumur 35 hari yang terdiri atas satu ekor ayam sehat, satu ekor ayam sakit, dan satu ekor ayam mati. Pemeriksaan mencakup observasi lesi secara makroskopis, kultur bakteri dari sampel organ paru-paru, hati dan usus, serta pemeriksaan feses menggunakan metode McMaster. Hasil pemeriksaan Patologi Anatomi menunjukkan adanya akumulasi perkejuan pada hati, hepatomegali dengan foci-foci nekrotik, perikarditis, pneumonia kaseosa, serta airsakulitis. Berdasarkan hasil nekropsi, temuan yang didapat merujuk pada ciri kasus kolibasilosis. Kultur bakteri mengidentifikasi Escherichia coli (E. coli) yang diteguhkan melalui uji biokimia. Hasil pemeriksaan feses menunjukkan adanya ookista Eimeria sp. dengan jumlah rata-rata 5.975 ookista/gram feses pada ayam sakit dan 2.675 ookista/gram feses pada ayam sehat dan keduanya termasuk kategori infeksi ringan. Hasil ini menunjukan adanya infeksi campuran antara E. coli dan Eimeria sp. Kombinasi kedua agen infeksius ini memperburuk kondisi klinis ayam, menyebabkan gangguan sistemik dan berdampak negatif pada produktivitas. Oleh karena itu, pengendalian kedua penyakit secara simultan sangat penting dalam manajemen kesehatan unggas.
Penggunaan Asam Hipoklorit secara Topikal Mempercepat Fase Inflamasi dan Proliferasi Penyembuhan Luka Infeksi Kulit Kucing Skabies Anindya Putri Parmadhi Parmadhi; Ronny Lesmana; Aziiz Mardanarian
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Skabies merupakan salah satu infeksi kulit yang sering dijumpai pada kucing yang mana disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei ataupun Notoedres cati. Gejala penyakit ini termasuk rasa gatal (pruritus) yang menyebabkan aktifitas menggaruk secara berlebih dan adanya penebalan kulit. Jika tidak ditangani, pertumbuhan tungau akan tidak terkontrol dan dapat menyebabkan imunosupresi. Ivermectin 1% merupakan obat yang umum digunakan untuk menangani penyakit ini. Disamping itu, hypochlorous acid (HOCl) 0,01% yang telah distabilkan terbukti memiliki efek antiinflamasi, anti-pruritus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran HOCl terhadap infeksi kulit skabies pada kucing. Penelitian ini menggunakan 3 kucing yang dibagi menjadi 3 perlakuan, yaitu kontrol negatif (tidak diberi perlakuan), kontrol positif (pemberian ivermectin 1% 0,05 mL/kgBB secara subkutan), dan perlakuan HOCl 0,01% (pH 5,5-6,5) yang berdurasi selama 7 hari. Pengamatan secara makroskopis dilihat dari adanya eritema, pinnal-pedal reflex, alopecia, hiperkeratosis, pus, warna, dan bentuk permukaan lesi. Dokumentasi dilakukan dengan menggunakan penanda 2x2 cm untuk perbandingan ukuran lesi. Hasil yang didapatkan, HOCl terbukti mengurangi hiperkeratosis dan mempercepat penyembuhan luka akibat garukan. Perbandingan waktu kesembuhan antara kontrol positif dan perlakuan teramati sama, yaitu dimulai pada hari ke-3. Asam hipoklorit (HOCl) secara topikal dapat membantu mempercepat fase inflamasi dan proliferasi penyembuhan luka.

Page 3 of 3 | Total Record : 28