cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran
ISSN : 25805525     EISSN : 25805533     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
The journal publishes articles about the research results in the field of education both in the broad sense (general education) or specific (refers to certain fields of study).
Arjuna Subject : -
Articles 576 Documents
Character learning model in vocational school Umi Rochayati; Ratna Wardani
Jurnal Kependidikan Vol. 2, No.1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v2i1.16268

Abstract

MODEL PEMBELAJARAN KARAKTER KERJA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUANAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran karakter kerja di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Pengembangan model menggunakan pendekatan R D model ADDIE. Pengembangan model diawali dengan analisis kebutuhan karakter kerja melalui observasi ke SMK Negeri 2 Depok Sleman, SMK Mikael Surakarta, dan beberapa industri terkait. Hasil penelitian ini menemukan 13 indikator karakter kerja yang perlu ditanamkan kepada siswa SMK, meliputi: disiplin, loyalitas, kerja keras, tanggung jawab, profesional, jujur, toleransi, kepemimpinan, kerja sama dalam tim, kemampuan beradaptasi, kreatif, inovasi, dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Model pembelajaran dikembangkan sesuai prosedur desain instruksional. Rancangan pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai karakter kerja tersebut dimplementasikan secara eksplisit dalam silabus dan rencana pembelajaran. Nilai-nilai karakter kerja diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran terutama mata pelajaran praktik. Model pembelajaran karakter kerja melibatkan dunia usaha dan industri sebagai mitra sekolah dalam proses pembelajaran. Mekanisme yang diterapkan yaitu dengan mengundang dunia usaha dan industri untuk secara berkala memberikan pemahaman tentang budaya kerja di dunia kerja kepada para siswa SMK.AbstractThis study was aimed at developing a work character learning model in the vocational school. This study used qualitative and quantitative methods. The study used the model development of the Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE) approach Research and Development (R D). The model development began with the analysis of work characters needed through observation conducted in State Vocational School 2 in Depok Sleman, Mikael Vocational School in Surakarta, and some related industries. The results show that 13 work character indicators need to be implemented namely discipline, loyalty, hard work, responsibility, professionalism, honesty, tolerance, leadership, teamwork, adaptability, creativity, innovation, and problem solving capability. The learning model was developed according to the instructional design procedure. The design of learning to instill the values of work characters is implemented explicitly in the syllabus and lesson plans. The values of work characters are integrated in each subject especially the practice subjects. The school partners (i.e. industry and business parties) are included in the learning process of this model. The mechanism applied is by inviting the business and the industry parties periodically to provide an understanding of work cultures to the students
COGNITIVE MORAL APPROACH TO CIVICS EDUCATION MATERIAL DEVELOPMENT IN THE ELEMENTARY SCHOOL Yogi Prihandoko; St. Y. Slamet; Winarno Winarno
Jurnal Kependidikan Vol. 1, No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v1i2.15279

Abstract

PENDEKATAN COGNITIVE MORAL SEBAGAI KERANGKA PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PPKN DI SEKOLAH DASARAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran PPKn sebagai wahana pendidikan moral dan relevansi pendekatan cognitive moral sebagai kerangka pengembangan bahan ajar PPKn untuk membelajarkan nilai-nilai moral. Penelitian ini adalah deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah 122 siswa kelas V sekolah dasar dan 4 guru pengampu Mata Pelajaran PPKn pada empat kecamatan di Kota Salatiga. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, angket, wawancara, dan studi dokumen. Temuan hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis interaktif model Miles dan Huberman kemudian disajikan melalui teks narasi deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, proses pelaksanaan pembelajaran PPKn belum merepresentasikan pendidikan moral. Kedua, guru tidak melaksanakan pembelajaran moral yang terencana dan sistematis dalam pembelajaran PPKn. Ketiga, pengetahuan siswa tentang moral rendah. Keempat, siswa mengalami miskonsepsi terhadap substansi dan tujuan PPKn. Kelima, muatan PPKn pada buku tematik Kurikulum 2013 tidak menguraikan materi tentang moral. Keenam, pendekatan cognitive moral melalui cerita dilema relevan sebagai solusi pengembangan bahan ajar PPKn untuk membelajarkan moral di sekolah dasar. Kata kunci: cognitive moral, PPKn, sekolah dasarAbstractThe study was aimed at describing the implementation of the civics education subject as a means of moral education and the relevance of cognitive moral approach as a framework for developingcivics education instructional materials. The study was descriptive analytical research using a qualitative approach. The subjects of the study were 122 fourth-grade students of elementary school and 4 teachers of civics education in four districts in Salatiga City. The data collection techniques were observation, questionnaires, interviews, and documents. The data were analyzed using interactive analysis of Miles and Huberman model and presented through descriptive narrative texts. The results show that first, civic education learning has not yet represented moral education. Second, teachers do not carry out planned and systematic moral learning in civics education learning. Third, students’ moral comprehension is still low. Fourth, students have misconceptions about the substance and the purpose of civics educationlearning. Fifth, the content of civics education in the thematic book of Curriculum 2013 does not include the material related to moral learning. Sixth, the cognitive moral approach through the dilemma story is relevant as a solution for the development of civics education instructional materials to teach morals in the elementary school.Keywords:cognitive moral, civic education, elementary school education
STRATEGI PENGEMBANGAN PROGRAM PENYELENGGARAAN KHUSUS DI PASCASARJANA Vera Nora Indra Astuti; Idqan Fahmi; Musa Hubeis
Jurnal Kependidikan Vol. 45, No.2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v45i2.7496

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi Program Studi Magister PengembanganIndustri Kecil Menengah (PS MPI) dan penyelenggaraan yang perlu dikembangkan di masa-masamendatang. Penentuan responden berdasarkan tingkat kepakarannya yang berasal dari pihakmanajemen dan stakeholders. Alat analisis yang digunakan meliputi Matriks IFE dan EFE, MatriksIE, Matriks SWOT, QSPM, dan Implementasi Strategi. Posisi PS MPI terletak pada sel V, yaitu jagadan pertahankan. Strategi pengembangan yang bisa diimplementasikan oleh PS MPI yaitu strategipemutakhiran metode pembelajaran sesuai kebutuhan pasar dan perkembangan jaman. Strategi inibisa diimplementasikan oleh program penyelenggaraan khusus lainnya di Sekolah Pascasarjana IPB.Implementasi strategi tersebut da
PARTISIPASI DOSEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN HASIL BELAJAR MAHASISWA Sukirno DS
Jurnal Kependidikan Vol. 29, No.2 (1999)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v29i2.18986

Abstract

The relationship beween particiption and marugeial performance has been ataaing not onty the business resmrchers bui also the educaional researchers. Nevenhclcss, represented for the topic of research has not consistmt conchsion and stiil limited in number, especialtv the education sectors. The purpose  of tttis research vws to enpiricalty exanine the rehtionship between lecntrers panicipoion in decision making and pniciption  satisfaction and srudmt otocomes in which organizption learning oppornnities and instnrctionar improvement  gahered  become intentening variobles. The  needed were bt qucstionnaires.  Lecturers who teach in accowuing The sCInptc of this research was coilcge depmnent in Dacrah Istimewa Yogyokarta. The samplz vns drawn by rtsing purposive  technique- The resporce and utarsable rate were respeoivety (120 pieces) ord 5,a3 7o (7 pieces). The gathered'aou  with regression, conel.ation arul path anatysis to te$ the research hypothesis. The results indicated that there are direct and indirect interaction betue.en rccturers prticipation satisfaction of the lecures on their on satdints'outcortcs.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN Nur Hadiyanta
Jurnal Kependidikan Vol. 43, No.1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v43i1.1956

Abstract

Tujuan Penelitian ini untuk meningkatkan peran serta belajar siswa dan meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi-evaluasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-1 MAN Popongan Kabupaten Klaten di Prambanan tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 19 siswa. Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yaitu kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif yang berupa hasil tes kognitif siswa dianalisis dengan deskriptif kuantitatif, sedangkan data kualitatif berupa hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode CTL dapat meningkatkan peran serta belajar siswa dalam pembelajaran PKn, hal itu terlihat pada siklus I, skor peran serta belajar siswa sebesar 53,17, pada siklus II sebesar 78,86. Peningkatan peran serta siswa ternyata berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa, pada siklus I, rata-rata hasil tes kognitif sebesar 66,05; pada siklus II sebesar 72,85.
Quality of bahasa Indonesia textbooks used in junior high school Supriyadi Supriyadi
Jurnal Kependidikan Vol. 2, No.1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v2i1.10122

Abstract

KUALITAS BUKU TEKS BAHASA INDONESIA YANG DIGUNAKAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMAAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas IX yang digunakan di Provinsi Gorontalo. Terdapat tujuh komponen buku teks Bahasa Indonesia kelas IX yang diidentifikasi kualitasnya, yakni petunjuk pembelajaran, deskripsi kompetensi, tujuan pembelajaran, deskripsi isi atau materi pembelajaran, ilustrasi, latihan atau evaluasi, dan rangkuman. Dasar penentuan kualitas buku teks digunakan sepuluh kriteria yang disarankan oleh Greene dan Petty. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data adalah sembilan buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas IX yang digunakan di Provinsi Gorontalo. Data berupa tujuh komponen buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas IX. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen-komponen dalam buku teks, enam dari tujuh komponen buku teks yang dianalisis kualitasnya sudah sesuai dengan kriteria yang dikemukakan oleh Greene dan Petty. Komponen yang belum sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh Greene dan Petty adalah komponen rangkuman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kualitas buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas IX yang selama ini digunakan di Provinsi Gorontalo tergolong tinggi.AbstractThis study was aimed at identifying the quality of Bahasa Indonesia textbooks used in Grade IX of the junior high school in Gorontalo. Seven components of the text book identification, based on the criteria proposed by Greene and Petty, included learning-task instruction, competency description, learning objective, content description or learning material, illustration, exercise or evaluation, and summary. The data sources were nine Bahasa Indonesia textbooks used in Grade IX of the junior high school in Gorontalo. The data consisted of seven components of Bahasa Indonesia textbooks. The data were analyzed using the qualitative analysis technique. The results show that six of the seven components are in line with the quality suggested by Greene and Petty. The component that has not met the criteria set by Greene and Petty is the summary component. Thus, it can be concluded that the level of quality of Indonesian textbooks used in Grade IX of the junior high school in Gorontalo Province is high.
METODE PENANAMAN NILAI MORAL UNTUK ANAK USIA DINI Mukhamad Murdiono
Jurnal Kependidikan Vol. 38, No.2 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v38i2.20730

Abstract

This study was intended to describe the instilling of moral valuesat assigned kindergartens of 'Aisyiyah Bustanul Athfal’ in YogyakartaCity. The description was expected to picture the method that influencedmoral education to be chosen for the appreciative instilling of earlychildhood. The subjects of the study consisted of teachers at fiveAisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Muhammadiyah kindergartenscovering: TK ABA Gedongkiwo, TK ABA Karangkajen, TK ABAKarangkunthi, TK ABA Pandeyan II, and TK ABA Karanganyar. Datawere gathered by observation, interview, and documentation.Authenticity probing techniques were utilized as triangulation. Theresults indicated that methods of moral value education were: storytelling, play, field trip, singing, out bond, inuring, figure of speech,poem, and discussion. One method which was usually being utilized wasrelating and inuring. Instilling methods indicated that moral teachingapparently led to students’ behavioural change, from one inauspiciousto turning good. Faced constraints in performing moral point instillingcovered: its reducing of gnostic deep relates and its reducing media tobe utilized for deep relates, and inconsistencies which often happenedbetween what the teacher did at school and what other elders did athome of in the surrounding environments
DASAR DAN KETUNTASAN ATRIBUT BUTIR SOAL UJIAN NASIONAL MATEMATIKA MODEL RASCH Awal Isgiyanto
Jurnal Kependidikan Vol. 42, No.2 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v42i2.1945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan atribut yang mendasari butir soal dan ketuntasan atribut yang dilakukan oleh peserta pada kategori isi, proses, dan keterampilan ujian nasional matematika dengan model Rasch. Jenis penelitiannya adalah diagnosis post-hoc yang digambarkan sebagai pendekatan retrofitting. Subjek penelitian adalah seluruh peserta ujian nasional matematika jenjang SMP di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Objek yang dipilih adalah butir soal dan respons butir. Hasilnya adalah sebagai berikut. Pertama, atribut yang mendasari butir soal pada matematika didominasi oleh atribut proses, diikuti oleh atribut keterampilan, dan terendah atribut isi. Kedua, ketuntasan atribut proses yang tertinggi berturut-turut adalah atribut konsep dasar bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta statistika dan peluang; ketuntasan atribut isi yang tertinggi berturut-turut adalah atribut konsep dasar bilangan, aljabar, statistika dan peluang, serta geometri dan pengukuran; serta ketuntasan atribut keterampilan yang tertinggi berturut-turut adalah atribut konsep dasar aljabar, geometri dan pengukuran, serta statistika dan peluang.
THE ABILITY OF STATISTICAL LITERACY STUDENT TEACHER CANDIDATE IN TERMS OF PRIOR-ABILITY ON MATHEMATICS Johannis Takaria; Melvie Talakua
Jurnal Kependidikan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v2i2.18768

Abstract

This study was aimed at analyzing the difference improvement of statistical literacy of the student teacher candidate in terms of their prior-ability on mathematics (PAM). This study used the Quasi Experiment method with the Non-equivalent Pretest-Posttest Control Group type and a sample of seventy elementary school student teacher candidates. The sampling technique used was purposive sampling method. The results of the research data were then analyzed using an independent sample t-test. Normalized-gain was used to analyze the improvement of students’ statistic literacy abilities. The study results significant differences in statistical literacy. Based on PAM, the group of students who received collaborative problem solving (CPS) models achieved higher statistical literacy improvements than students in the expository group. The improvement of statistical literacy was due to the effectiveness of CPS model. Collaborating can strengthen student statistic literacy skills. The ability of statistical literacy in learning requires students to have good PAM, because the PAM is a combination of knowledge and mathematical thinking skills in collaborating students can be actively involved in dealing with solving challenging statistical problems.KEMAMPUAN LITERASI STATISTIK MAHASISWA CALON GURU DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL MATEMATIKAAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan peningkatan literasi statistis mahasiswa ditinjau dari kemampuan awal matematis (KAM). Penelitian menggunakan metode Quasi Eksperiment dengan tipe Non equivalent Pretest-Posttest Control Group. Sampel sebanyak 70 mahasiswa calon guru sekolah dasar yang diambil menggunakan metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test. Normalized-gain digunakan untuk menganalisis peningkatan kemampuan literasi statistis mahasiswa. Penelitian menghasilkan adanya perbedaan signifikan peningkatan literasi statistis. Berdasarkan KAM kelompok mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model collaborative problem solving (CPS) mencapai peningkatan literasi statistis lebih tinggi dari mahasiswa pada kelompok ekspositori. Peningkatan literasi statistis dikarenakan efektifnya penggunaan model CPS. Berkolaborasi dapat memperkuat kemampuan literasi statistis mahasiswa. Kemampuan literasi statistis dalam pembelajaran mensyaratkan mahasiswa harus memiliki KAM yang baik, karena KAM merupakan kombinasi antara pengetahuan dan keterampilan berpikir matematis sehingga dalam berkolaborasi mahasiswa dapat terlibat aktif dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah statistik yang menantang. 
MODIFIKASI MODEL-ELICITING ACTIVITIES DENGAN MENGGUNAKAN DIDACTICAL DESIGN RESEARCH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR STATISTIS Bambang Avip Priatna Martadiputra
Jurnal Kependidikan Vol. 43, No.2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v43i2.1964

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan Model-Eliciting Activities (MEAs) dengan menggunakan Didactical Design Research (DDR). Metode yang digunakan adalah Research Development dengan tahapan pertama, persiapan untuk mengetahui keefektivan bahan ajar, pembelajaran MEAs yang dimodifikasi, tingkat validitas, reliabilitas, daya beda, dan indeks kesukaran instrumen tes serta kedua, pelaksanaan penelitian berupa uji coba pembelajaran MEAs yang dimodifikasi terhadap seluruh mahasiswa S1 pendidikan matematika yang mengikuti mata kuliah statistika dasar semester genap 2011/2012 dengan metode kuasi-eksperimen menggunakan Split-Plot Nested Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir statistis mahasiswa reguler maupun mahasiswa mengulang yang memperoleh pembelajaran MEAs yang dimodifikasi lebih tinggi secara signifikan dari mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.