cover
Contact Name
Irsal
Contact Email
bengkuluirsal@gmail.com
Phone
+6285381305810
Journal Mail Official
bengkuluirsal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : 10.29300/mtq.v9i2.8963
Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam pernah mengalami kerusakan servers jurnal secara total (di hack), yang mengakibatkan semua artikel yang sudah dipublish mulai Vol.1 No.1 2019 s-d Edisi tahun 2023 hilang semua. Maka untuk menghindari kekosongan artikel, maka tim pengelola jurnal melakukan upload ulang artikel secara quiksubmite Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam di tahun 2022 telah merubah institusi/lembaga penerbit dari IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Perubahan status IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2026)" : 13 Documents clear
Intizar ke Jihad: Paradigma Islam Protes dalam Pemikiran Ali Syari’ati Saifullah, Saifullah; Amin, Saidul; Kasmuri, Kasmuri; Jasman, Febrina Alya; Anggraini, Putri
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10842

Abstract

Abstract: This study analyzes the paradigm of protest Islam in the thought of Ali Syari’ati through the conceptual transformation from intizar to jihad. It aims to explain how Syari’ati reconstructs the meaning of intizar (awaiting) from a passive eschatological attitude into a historical consciousness that critically engages with social injustice. Within this framework, intizar is not understood as a fatalistic stance, but rather as a theological and ethical foundation for committed struggle. Furthermore, this research demonstrates that jihad in Syari’ati’s perspective is not merely physical warfare, but an intellectual, moral, and social struggle to uphold tawhid and to liberate the oppressed (mustadh‘afin) from structures of domination. Islam is thus conceived as a revolutionary force that stands for justice and rejects the religious legitimation of political tyranny and economic inequality. In this context, the role of the enlightened intellectual (raushanfikr) becomes central as an agent of social transformation who awakens the collective consciousness of the community. Using a qualitative library-based approach, this study affirms that the integration of intizar and jihad forms an ideological framework of Islam that is active, critical, and transformative. This paradigm positions faith as a liberating energy that demands concrete engagement in social struggle, so that true awaiting gains meaning only when embodied in action aimed at realizing justice and historical change.Keywords: Ali Syari’ati, intizar, jihad, protest Islam, social transformation. Abstrak: Penelitian ini menganalisis paradigma Islam protes dalam pemikiran Ali Syari’ati melalui transformasi konseptual dari intizar menuju jihad. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana Syari‘ati merekonstruksi makna intizar (penantian) dari sikap eskatologis yang pasif menjadi kesadaran historis yang kritis terhadap ketidakadilan sosial. Dalam kerangka tersebut, intizar tidak dimaknai sebagai sikap fatalistik, melainkan sebagai fondasi teologis dan etis bagi komitmen perjuangan.Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa jihad dalam perspektif Syari‘ati bukan sekadar perang fisik, tetapi perjuangan intelektual, moral, dan sosial untuk menegakkan tauhid serta membebaskan kaum tertindas (mustadh‘afin) dari struktur penindasan. Islam dipahami sebagai kekuatan revolusioner yang berpihak kepada keadilan dan menolak legitimasi religius atas tirani politik maupun ketimpangan ekonomi. Dalam konteks ini, peran intelektual tercerahkan (raushanfikr) menjadi sentral sebagai agen transformasi sosial yang membangkitkan kesadaran kolektif umat.Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi intizar dan jihad membentuk kerangka ideologis Islam yang aktif, kritis, dan transformatif. Paradigma ini menempatkan iman sebagai energi pembebasan yang menuntut keterlibatan nyata dalam perjuangan sosial, sehingga penantian sejati hanya bermakna ketika diwujudkan dalam aksi untuk menghadirkan keadilan dan perubahan historis.Kata kunci: Ali Syari‘ati, intizar, jihad, Islam protes, transformasi sosial.
Kekerasan Gender dalam Perspektif Filsafat Stoikisme: Antara Pengendalian Diri dan Martabat Mufidah, Ma'rifatul; Hadya, Syafira; Agdita, Shaldi
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10371

Abstract

Abstract: This study aims to analyze gender-based violence through the lens of Stoic philosophy, focusing on the concepts of self-control  and human dignity. Gender violence is viewed not merely as a legal or social violation but as an ethical crisis rooted in humanity’s failure to master emotion and dominance impulses. Employing a qualitative-descriptive approach with library research, this study examines journals and classical to contemporary moral philosophy sources. Stoic ethical principles are applied to interpret gender violence as a loss of rationality and a failure to uphold virtue ethics. The findings reveal that Stoicism offers a moral framework based on the four cardinal virtues—wisdom, justice, temperance, and courageas the foundation for developing moral awareness and anti-violence character. Self-control in Stoicism is not emotional suppression but a rational process of moral discipline that safeguards both self-respect and human dignity. This research concludes that Stoic ethics can serve as an alternative paradigm for addressing gender-based violence and fostering a morally conscious, just, and civilized society.Keywords: Stoicism, Gender-Based Violence, Self-Control, Human Dignity.  Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena kekerasan berbasis gender dalam perspektif filsafat Stoikisme dengan fokus pada konsep pengendalian diri. Kekerasan gender dipandang tidak hanya sebagai pelanggaran hukum dan sosial, tetapi juga sebagai krisis etika akibat kegagalan manusia dalam mengendalikan emosi dan dorongan dominasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan telaah pustaka terhadap sumber-sumber sekunder berupa jurnal serta literatur filsafat moral klasik dan kontemporer. Kerangka teori Stoikisme digunakan untuk menafsirkan kekerasan gender sebagai bentuk kehilangan rasionalitas dan kegagalan dalam menegakkan kebajikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Stoikisme menawarkan solusi etis yang berakar pada empat kebajikan utama wisdom, justice, temperance, dan courage yang dapat menjadi prinsip inti yang dapat membimbing seseorang untuk menjalani kehidupan dengan baik dan fokus pada tindakan yang dapat dikendalikan dan penerimaan terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Pengendalian diri dalam Stoikisme bukan represi terhadap emosi, melainkan proses rasionalisasi moral yang menjaga kehormatan diri dan martabat manusia. Kajian ini menegaskan relevansi Stoikisme sebagai paradigma etika alternatif dalam upaya penghapusan kekerasan berbasis gender dan memperlakukan manusia sesuai martabatnya, mengakui persamaan derajat dan hak, serta bertindak sesuai norma kesopanan dan kebenaran, baik dalam pergaulan sesama manusia maupun terhadap lingkungan.Kata kunci: Stoikisme, Kekerasan Gender, Pengendalian Diri, Martabat Manusia.
Makna Kerja Islami : Studi Fenomenologi Husserl terhadap Kesadaran Praktisi di BMT Mutiara Ummat Kudus Firdian, Farhan; Abdullah, Akmal Habibie; Achmad, Achmad
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11168

Abstract

Abstract: This research is motivated by field observations concerning economic activities and the consciousness of practitioners at BMT Mutiara Ummat Kudus. As a Sharia-based microfinance institution, this entity operates through dual functions: social welfare (baitul maal) and commercial business (baitul tamwil). The objective of this study is to analyze the gap in practitioner consciousness at BMT Mutiara Ummat Kudus through a philosophical lens, specifically employing Edmund Husserl’s phenomenological perspective. The methodology utilized is descriptive qualitative with a literature study approach, drawing from the primary works of Edmund Husserl, relevant journal articles, books, and interviews with practitioners at BMT Mutiara Ummat Kudus. The collected data were analyzed using phenomenological techniques and theoretical reflection. The findings indicate that the work dynamics at BMT Mutiara Ummat Kudus transcend mere administrative tasks; they encompass social interaction, communication, and the internal attitudes of employees in assigning meaning to their labor. Work is no longer perceived strictly as a secular means of livelihood, but rather as a medium of servitude to Allah SWT. The meaning of work is constructed as a tangible form of worship (ibadah) rooted in the values of Tauhid (the Oneness of God). The integration of religious values into the professional activities of practitioners at BMT Mutiara Ummat Kudus significantly influences their everyday consciousness, particularly within the realms of labor and business. This creates a balance that fosters a systematic synthesis between intentionality of consciousness and religious values in professional practice.Keywords: Phenomenology, Edmund Husserl, BMT Mutiara Ummat Kudus, Islamic Meaning of  Work. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi lapangan yang mengamati adanya aktivitas ekonomi serta kesadaran praktisi di BMT Mutiara Ummat Kudus. Lembaga ini berfokus pada pelayanan keuangan mikro berbasis syariah yang memiliki fungsi secara sosial (baitul maal) dan bisnis (baitul bamwil). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis adanya celah (gap) terhadap kesadaran dari praktisi di BMT Mutiara Ummat Kudus dengan pendekatan filosofis melalui perspektif fenomenologi dari Edmund Husserl. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif desktiptif dengan pendekatan studi pustaka terhadap karya-karya Edmud Husserl dan karya lainnya dari artikel jurnal, buku,  dan hasil wawancara dengan praktisi BMT Mutiara Kudus di lapangan. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik fenomenologis dan refleksi teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika pekerjaan di BMT Mutiara Ummat Kudus tidak hanya soal tugas administratif, tapi juga soal interaksi sosial, komunikasi, dan sikap pegawai dalam memaknai pekerjaan. Bekerja tidak lagi dipandang sebatas aktivitas mencari nafkah yang berorientasi pada urusan duniawi, melainkan sebagai sarana penghambaan kepada Allah SWT. Makna kerja dikonstruksi sebagai bentuk ibadah yang nyata bernafaskan nilai-nilai ketauhidan. Pekerjaan yang dilakukan oleh praktisi di BMT Mutiara Ummat Kudus yang terintegrasi dengan nilai religiusitas akan berdampak pada kesadaran keseharian, terutama dalam pekerjaan dan bisnis. Hal ini membentuk keseimbangan yang melahirkan perpaduan sistematis antara intensionalitas kesadaran dan nilai-nilai religiusitas dalam praktik pekerjaan.Kata kunci: Fenomenologi, Edmund Husserl, BMT Mutiara Ummat Kudus, Makna Kerja Islami.
Analisis Teori Habitus dalam Novel Normal People Karya Sally Rooney Berdasarkan Filsafat Sosial Pierre Bourdieu Shabiyya, Hukma
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10326

Abstract

 Abstract: Normal People (2018) by Sally Rooney depicts miscommunication between the two main characters, Connell and Marianne. Externally, their miscommunication caused by different social classes. This issue can be analyzed through Pierre Bourdieu’s perspective. This research aims to discuss the analysis of habitus theory in Normal People by Sally Rooney. The data retrieval steps that is applied is qualitative approach by employing library research technique. Thus, the material object that is discussed is Normal People novel and viewed in the perspective of the formal object of Pierre Bourdieu’s habitus theory. The result indicates that habitus differentiation poses a barrier for Connell and Marianne in understanding one another, that barrier ultimately leads them to misunderstanding. The conclusion obtained is that it is found that social stratification in society not merely impacted equitable economic welfare, but also impacted how individuals communicate. This conclusion evidenced by the relationship dynamics between Connell and Marianne which can be analyzed through habitus theory. This research findings implicate to the development of study on Pierre Bourdieu’s habitus theory on Normal People by Sally Rooney.Key Words: Bourdieu, habitus, individual, Normal People, Rooney. Abstrak: Novel Normal People (2018) karya Sally Rooney menggambarkan miskomunikasi di antara dua tokoh utamanya, yakni Connell dan Marianne. Secara eksternal, miskomunikasi itu disebabkan oleh perbedaan kelas sosial. Hal itu dapat dianalisis melalui sudut pandang Pierre Bourdieu. Penelitian ini bertujuan untuk membahas analisis teori habitus Pierre Bourdieu dalam novel Normal People karya Sally Rooney. Langkah-langkah pencarian data yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik studi kepustakaan. Dengan demikian, objek material yang dibahas adalah novel Normal People dan dilihat dalam perspektif objek formal teori habitus Pierre Bourdieu. Hasil pembahasan mengindikasikan bahwa diferensiasi habitus merupakan hambatan bagi Connell dan Marianne dalam memahami satu sama lain, hambatan tersebut pada akhirnya membawa mereka pada kesalahpahaman. Kesimpulan yang didapat ialah ternyata stratifikasi sosial di masyarakat tidak hanya berdampak pada pemerataan kesejahteraan ekonomi saja, tetapi juga berdampak pada cara individu berkomunikasi. Kesimpulan itu dibuktikan dengan dinamika hubungan Connell dan Marianne yang dapat dianalisis melalui teori habitus. Temuan penelitian ini berimplikasi pada pengembangan kajian tentang teori habitus Pierre Bourdieu dalam novel Normal People karya Sally Rooney.Kata Kunci: Bourdieu, habitus, individu, Normal People, Rooney.
Hedonisme dan Krisis Moral Modern: Analisis Kritis dalam Filsafat Akhlak Islam melalui Konsep Adab Al-Attas Fiqri, Muhammad Risangka
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10561

Abstract

Abstract: This article discusses the phenomenon of hedonism and moral crisis in modern society as a consequence of Western epistemology, which is secular and detached from transcendental orientation. Modernity, historically marked by the rise of rationalism and empiricism, has shaped human perspectives that reduce knowledge to rational and sensory aspects alone. This epistemological reduction has implications for the failure of modern humans to understand the essence of morality and the purpose of life, giving rise to value relativism, hedonism, and an increasingly apparent moral crisis in the contemporary era. Using library research and a philosophical-epistemological approach, this article analyzes the historical and epistemological roots of the modern moral crisis, while offering an alternative framework from the perspective of Islamic moral philosophy through the thoughts of Syed Muhammad Naquib Al-Attas. The main focus of this study is the concept of adab as a fundamental principle of forming just human beings, as well as ta'dīb as a manifestation of integrative adab education. This article argues that the modern moral crisis is essentially a crisis of adab (loss of adab) that stems from a disorientation of knowledge. Therefore, the concepts of adab and ta'dīb developed by Al-Attas offer a comprehensive epistemological answer to the problems of hedonism and moral crisis, by repositioning knowledge, morality, and education in an order oriented towards the recognition and acknowledgment of God.Keywords: The Concept of Adab Al-Attas, Hedonism, Moral Crisis. Abstrak: Artikel ini membahas fenomena hedonisme dan krisis moral dalam masyarakat modern sebagai konsekuensi dari bangunan epistemologi Barat yang sekuler dan terlepas dari orientasi transendental. Modernitas, yang secara historis ditandai oleh kebangkitan rasionalisme dan empirisisme, telah membentuk cara pandang manusia yang mereduksi pengetahuan pada aspek rasional dan indrawi semata. Reduksi epistemologis ini berimplikasi pada kegagalan manusia modern dalam memahami hakikat moralitas dan tujuan hidup, sehingga melahirkan relativisme nilai, hedonisme, serta krisis akhlak yang semakin nyata di era kontemporer. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dan pendekatan filosofis-epistemologis, artikel ini menganalisis akar historis dan epistemologis krisis moral modern, sekaligus menawarkan kerangka alternatif dalam perspektif filsafat akhlak Islam melalui pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Fokus utama kajian ini adalah konsep adab sebagai prinsip fundamental pembentukan manusia yang berkeadilan, serta ta’dīb sebagai manifestasi pendidikan adab yang integratif. Artikel ini berargumen bahwa krisis moral modern pada dasarnya merupakan krisis adab (loss of adab) yang bersumber dari disorientasi pengetahuan. Oleh karena itu, konsep adab dan ta’dīb yang dikembangkan Al-Attas menawarkan jawaban epistemologis yang komprehensif terhadap problem hedonisme dan krisis moral, dengan menempatkan kembali pengetahuan, moralitas, dan pendidikan dalam tatanan wujud yang berorientasi pada pengenalan dan pengakuan terhadap Tuhan.Kata kunci: Konsep Adab Al-Attas, Hedonisme, Krisis Moral.
Rekonstruksi Epistemologi Ilmu Pendidikan Bahasa Arab di Era Kecerdasan Buatan: Telaah Filosofis atas Akal, Wahyu, dan Sistem Algoritmik Fahmi, Muhammad Ghoniyul; Faizurrizqi, Faizurrizqi; Qawiyya, Azzam Sidqin; Rohanda, Rohanda; Kodir, Abdul
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10607

Abstract

Abstract: This study aims to reconstruct the epistemology of knowledge in Arabic language education in the era of artificial intelligence by examining the relationship between reason, revelation, and algorithmic systems. The study employs a qualitative method based on library research, using a philosophical-epistemological approach and conceptual analysis of literature on Islamic epistemology, philosophy of science, Arabic language education, and contemporary studies on artificial intelligence. The findings indicate that the epistemology of knowledge in Arabic language education has traditionally been grounded in the integration of reason and revelation as the primary sources of knowledge, whereas artificial intelligence possesses an epistemic character that is instrumental, data-driven, and non-intentional. Therefore, artificial intelligence cannot be positioned as an autonomous source of knowledge but rather as an epistemic tool operating under the guidance of human reason and the normative values of revelation. The reconstruction of an integrative epistemology of knowledge in Arabic language education necessitates an epistemic hierarchy that positions revelation as the normative source, reason as the instrument for understanding and developing knowledge, and algorithmic systems as technological means that support the learning process. These findings contribute theoretically to strengthening the epistemological foundations of Arabic language education, ensuring its continued relevance in the face of technological advancement without losing its value orientation and meaningful purpose.                                                                                                                       Keywords: Reason, Epistemology of Knowledge, Artificial Intelligence, Arabic Language Education, Algorithmic Systems, Revelation.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi epistemologi ilmu dalam pendidikan bahasa Arab di era kecerdasan buatan dengan menelaah relasi antara akal, wahyu, dan sistem algoritmik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan filosofis-epistemologis dan analisis konseptual terhadap literatur epistemologi Islam, filsafat ilmu, pendidikan bahasa Arab, serta kajian kontemporer mengenai kecerdasan buatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi ilmu dalam pendidikan bahasa Arab secara tradisional bertumpu pada integrasi akal dan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan, sementara kecerdasan buatan memiliki karakter epistemik yang bersifat instrumental, berbasis data, dan non-intensional. Oleh karena itu, kecerdasan buatan tidak dapat diposisikan sebagai sumber pengetahuan otonom, melainkan sebagai alat bantu epistemik yang berada di bawah kendali akal dan nilai-nilai wahyu. Rekonstruksi epistemologi ilmu pendidikan bahasa Arab yang integratif menuntut adanya hierarki epistemik yang menempatkan wahyu sebagai sumber normatif, akal sebagai instrumen pemahaman dan pengembangan ilmu, serta sistem algoritmik sebagai sarana teknologis pendukung pembelajaran. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis bagi penguatan landasan epistemologis pendidikan bahasa Arab agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan orientasi nilai dan makna.Kata kunci: Akal, Epistemologi Ilmu, Kecerdasan Buatan, Pendidikan Bahasa Arab, Sistem Algoritmik, Wahyu.
Rekonstruksi Epistemologi Islam: Kajian Filsafat Ilmu terhadap Pemikiran Mohammed Arkoun Khairunnisa, Khairunnisa; Warni, Indah; Julita, Julita; Burhan, Wahyuni Syafitri; Siregar, Pahri
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11045

Abstract

Abstract: This studi aimed to analyze the reconstruction of Islamic epistemology in the thought of Mohammed Arkoun with a particular emphasis on its axiological dimension. The study departs from the assumption that the crisis of contemporary Islamic thought is not merely methodological in nature but is also related to the value orientation (axiology) underlying the production of religious knowledge. This research employs a qualitative approach based on library research, combined with a philosophical-critical analysis of Arkoun’s major works, particularly those related to the concepts of Critique of Islamic Reason, unthought, and Islamology Applied. The findings reveal that the epistemological reconstruction proposed by Arkoun does not merely aim to deconstruct the orthodoxy of Islamic scholarship but also shifts the value orientation of Islamic studies from a doctrinal-transmissive model toward a more humanistic, reflective, and dialogical production of meaning. From an axiological perspective, Arkoun’s ideas emphasize the importance of liberating reason from the sacralization of interpretative products, strengthening epistemic plurality, and integrating the social sciences and humanities into Islamic studies. The implications of these findings suggest that the reconstruction of Islamic epistemology should be directed toward strengthening scholarly ethics, intellectual openness, and social relevance in responding to the challenges of modernity. Thus, the contribution of this article lies in affirming that the renewal of Islamic studies involves not only methodological innovation but also the reformulation of value orientations that shape the purpose and function of knowledge in contemporary Muslim civilization.Keywords: Islamic epistemology, axiology, Mohammed Arkoun, philosophy of science. Abstrak: Studi ini bertujuan menganalisis rekonstruksi epistemologi Islam dalam pemikiran Mohammed Arkoun dengan menitikberatkan pada dimensi aksiologisnya. Studi ini berangkat dari asumsi bahwa krisis pemikiran Islam kontemporer tidak hanya bersifat metodologis, tetapi juga berkaitan dengan orientasi nilai (aksiologi) yang mendasari produksi pengetahuan keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan analisis filosofis-kritis terhadap karya-karya utama Arkoun, khususnya terkait konsep Critique of Islamic Reason, unthought, dan Islamology Applied. Hasil kajian menunjukkan bahwa rekonstruksi epistemologi yang ditawarkan Arkoun tidak semata bertujuan mendekonstruksi ortodoksi keilmuan Islam, melainkan menggeser orientasi nilai studi Islam dari model transmisi-doktrinal menuju produksi makna yang humanistik, reflektif, dan dialogis. Secara aksiologis, gagasan Arkoun menegaskan pentingnya pembebasan nalar dari sakralisasi produk tafsir, penguatan pluralitas epistemik, serta integrasi ilmu-ilmu sosial-humaniora dalam studi Islam. Implikasi temuan ini menunjukkan bahwa rekonstruksi epistemologi Islam harus diarahkan pada penguatan etika keilmuan, keterbukaan intelektual, dan relevansi sosial dalam menjawab tantangan modernitas. Dengan demikian, kontribusi artikel ini terletak pada penegasan bahwa pembaruan studi Islam tidak hanya menyangkut aspek metodologi, tetapi juga orientasi nilai yang membentuk tujuan dan fungsi ilmu dalam peradaban Muslim kontemporer.Kata kunci: Epistemologi Islam, Aksiologi, Mohammed Arkoun, Filsafat Ilmu.
Konsep bahasa Pikiran dan Metodologi Kontemporer menurut Perspektif Ferdinand De Saussure Octavia, Rona Irdina; Saputra, Sandi Yudha; Ula, Ni’matul; Faizin, Moh.
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10024

Abstract

Abstract: Language and thought are two entities closely related in shaping communication patterns, ways of thinking, and the construction of human knowledge. Language functions not only as a means of communication but also as a means of representing thoughts. Conversely, the human mind requires language to be expressed in a form that others can understand. This relationship has given rise to a variety of interdisciplinary studies, ranging from linguistics and the philosophy of language to cognitive psychology. In contemporary studies, language and thought are no longer viewed separately but as dynamic constructs influenced by social, cultural, and technological contexts. Contemporary methodological developments in the study of language and thought emphasize multidisciplinary approaches, such as critical discourse analysis, neurolinguistics, cognitive psychology, and constructivist approaches. These methodologies aim to understand how language shapes ways of thinking and how thoughts shape language use in everyday life.These studies demonstrate that the relationship between language and thought is reciprocal and mutually influential, relevant for research in the face of scientific developments and modern social change. Thus, the study of language and thought through contemporary methodology not only provides theoretical understanding but also has practical relevance in education, communication, and the development of language-based technology.Keywords: Language, thought, contemporary methodology, cognitive. Abstrak: Bahasa dan pikiran merupakan dua entitas yang memiliki hubungan erat dalam membentuk pola komunikasi, cara berpikir, serta kontruksi pengetahuan manusia. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana merepresentasikan pikiran. Sebaliknya, pikiran manusia membutuhkan Bahasa untuk dapat diwujudkan dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang lain. Relasi ini melahirkan beragam kajian interdispliner, mulai dari linguistik, filsafat Bahasa, hingga psikologi kognitif. Dalam kajian kontemporer, Bahasa dan pikiran tidak lagi dipandang secara terpisah, melainkan sebagai sebuah kontruksi dinamis yang dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan teknologi. Perkembangan metodologi kontemporer dalam kajian Bahasa dan pikiran menekankan pendekatan multidispliner, seperti analisis wacana kritis, neurongilistik, psikologi kognitif, dan pendekatan konstrutifistik. metodologi ini bertujuan untuk memahami bagaimana Bahasa membentuk cara berfikir, serta bagaimana pikiran membentuk penggunaan Bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kajian ini menunjukan bahwa hubungan Bahasa dan pikiran bersifat timbal balik, saling mempengaruhi, relevan untuk diteliti dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial modern. Dengan demikian, studi Bahasa dan pikiran melalui metodologi kontemporer tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga memiliki relevansi praktis dalam Pendidikan, komunikasi, serta perkembangan teknologi berbasis Bahasa.Kata Kunci: Bahasa, pikiran, metodologi kontemporer,kognitif.
Ritual, Simbolisme, dan Rasa Syukur : Sebuah Studi Filosofis tentang Tradisi Sengkure di Kalangan Komunitas Semende di Kaur Sumanto, Edi; Japarudin, Japarudin; Nili, Risma
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10705

Abstract

Abstract: The Sengkure tradition is a living cultural practice preserved by the Semende community in Tanjung Betuah Village, Nasal Subdistrict, Kaur Regency. This study aims to examine the philosophical meanings, symbolism, and expressions of gratitude embodied in the Sengkure tradition as a form of cultural and religious practice. This research employs a qualitative method with a phenomenological approach, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. The findings reveal that the Sengkure tradition functions not merely as collective entertainment during the celebration of Eid al-Fitr, but also as a medium for expressing gratitude to Allah SWT, strengthening social solidarity, and transmitting local wisdom across generations. Symbolic elements within the Sengkure procession such as ijuk-based costumes, masks, communal parades, and the ritual bathing in the Nasal River represent simplicity, self-purification, and the temporary dissolution of individual identity in favor of collective identity. This study highlights the harmonious integration of religious values and local culture, while also demonstrating the adaptive capacity of tradition to social change without losing its philosophical essence.Keywords: Sengkure tradition, cultural symbolism, gratitude, philosophy of culture, Semende community, local wisdom. Abstrak: Tradisi Sengkure merupakan praktik budaya yang tetap eksis dan diwariskan secara turun-temurun dalam komunitas Semende di Desa Tanjung Betuah, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisis dimensi filosofis, simbolik, serta nilai rasa syukur yang terkandung dalam tradisi Sengkure sebagai manifestasi ekspresi kultural dan religius masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa tradisi Sengkure tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan kolektif pada perayaan Idul Fitri, melainkan juga menjadi media pengungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, mempererat kohesi sosial, serta memperkuat proses transmisi nilai-nilai kearifan lokal. Unsur simbolik dalam prosesi Sengkure, seperti penggunaan busana ijuk, topeng, arak-arakan, dan ritual mandi di Air Nasal, merepresentasikan nilai kesederhanaan, pemurnian diri, serta penghapusan identitas individual demi pembentukan identitas kolektif. Dengan demikian, tradisi Sengkure mencerminkan integrasi yang selaras antara nilai-nilai religius dan budaya lokal, sekaligus menunjukkan kapasitas adaptif tradisi terhadap perubahan sosial tanpa menghilangkan esensi filosofisnya.Kata kunci: Tradisi Sengkure, simbolisme budaya, rasa syukur, filsafat budaya, masyarakat Semende, kearifan lokal.
Peran Mursyid Tarekat Naqsabandiyah bidang Sosial Keagamaan di Desa Ulak Tanding Kecamatan Batiknau Kabupaten Bengkulu Utara Pelita, Ria; Syabibi, Ridho; Ismail, Ismail; Astapala, Sultan Gholand
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10379

Abstract

Abstract: The order has begun to develop in the village of Ulak Tanding, Batiknau District, North Bengkulu, where the existence of a Mursyid or teacher of the order plays a very important role in the life of the community. The purpose of this study is to explain comprehensively how the role of the Mursyid of the Naqsabandiyah order in the religious and social fields, and to explain how the impact felt by the community on the presence of the Naqsabandiyah order. The research method used is This type of research is field research using a qualitative approach. The meaning of qualitative research is to find out or describe the reality or event to be studied by describing in the form of words and language a special natural context and by utilizing various scientific methods. Research Results Based on the strategic role of the Mursyid of the Naqsabandiyah Order in religious and social development in Ulak Tanding Village, it is recommended that the role of the Mursyid and this order continue to be strengthened, preserved, and developed through synergy between the Mursyid, congregation, community, and village government, so that it can become an example of practicing Sufism values such as sincerity, discipline, simplicity, and love, maintaining the purity of the order's teachings while adapting them to current developments, and forming a harmonious, religious, noble, and sustainable religious and social life in the future.Keywords: Mursyid, Naqsabandiyah Order, Religion and Social, Ulak Tanding Village. Abstrak: Tarekat sudah mulai berkembang di desa Ulak Tanding Kecamatan Batiknau Bengkulu Utara, dimana keberadaan mursyid atau guru tarekat sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan secara komprehensif bagaimana peran mursyid tarekat Naqsabandiyah dalam bidang keagamaan dan sosial, dan menjelaskan bagaimana dampak yang dirasakan oleh masyarakat terhadap kehadiran tarekat Naqsabandiyah.  Metode penelitian yang digunakan adalah Jenis penelitian ini adalah penelitian field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud penelitian kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan atau kejadian yang akan diteliti dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Hasil penellitian Berdasarkan peran strategis mursyid Tarekat Naqsabandiyah dalam pembinaan keagamaan dan sosial di Desa Ulak Tanding, disarankan agar peran mursyid serta tarekat ini terus diperkuat, dilestarikan, dan dikembangkan melalui sinergi antara mursyid, jamaah, masyarakat, serta pemerintah desa, sehingga mampu menjadi teladan pengamalan nilai-nilai tasawuf seperti keikhlasan, kedisiplinan, kesederhanaan, dan cinta kasih, menjaga kemurnian ajaran tarekat sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman, serta membentuk kehidupan beragama dan sosial yang harmonis, religius, berakhlak mulia, serta berkelanjutan di masa depan.Kata Kunci: Mursyid, Tarekat Naqsabandiyah, Agama dan Sosial, Desa Ulak Tanding.

Page 1 of 2 | Total Record : 13