cover
Contact Name
Irsal
Contact Email
bengkuluirsal@gmail.com
Phone
+6285381305810
Journal Mail Official
bengkuluirsal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : 10.29300/mtq.v9i2.8963
Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam pernah mengalami kerusakan servers jurnal secara total (di hack), yang mengakibatkan semua artikel yang sudah dipublish mulai Vol.1 No.1 2019 s-d Edisi tahun 2023 hilang semua. Maka untuk menghindari kekosongan artikel, maka tim pengelola jurnal melakukan upload ulang artikel secara quiksubmite Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam di tahun 2022 telah merubah institusi/lembaga penerbit dari IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Perubahan status IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Articles 104 Documents
Peran Mursyid Tarekat Naqsabandiyah bidang Sosial Keagamaan di Desa Ulak Tanding Kecamatan Batiknau Kabupaten Bengkulu Utara Pelita, Ria; Syabibi, Ridho; Ismail, Ismail; Astapala, Sultan Gholand
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10379

Abstract

Abstract: The order has begun to develop in the village of Ulak Tanding, Batiknau District, North Bengkulu, where the existence of a Mursyid or teacher of the order plays a very important role in the life of the community. The purpose of this study is to explain comprehensively how the role of the Mursyid of the Naqsabandiyah order in the religious and social fields, and to explain how the impact felt by the community on the presence of the Naqsabandiyah order. The research method used is This type of research is field research using a qualitative approach. The meaning of qualitative research is to find out or describe the reality or event to be studied by describing in the form of words and language a special natural context and by utilizing various scientific methods. Research Results Based on the strategic role of the Mursyid of the Naqsabandiyah Order in religious and social development in Ulak Tanding Village, it is recommended that the role of the Mursyid and this order continue to be strengthened, preserved, and developed through synergy between the Mursyid, congregation, community, and village government, so that it can become an example of practicing Sufism values such as sincerity, discipline, simplicity, and love, maintaining the purity of the order's teachings while adapting them to current developments, and forming a harmonious, religious, noble, and sustainable religious and social life in the future.Keywords: Mursyid, Naqsabandiyah Order, Religion and Social, Ulak Tanding Village. Abstrak: Tarekat sudah mulai berkembang di desa Ulak Tanding Kecamatan Batiknau Bengkulu Utara, dimana keberadaan mursyid atau guru tarekat sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan secara komprehensif bagaimana peran mursyid tarekat Naqsabandiyah dalam bidang keagamaan dan sosial, dan menjelaskan bagaimana dampak yang dirasakan oleh masyarakat terhadap kehadiran tarekat Naqsabandiyah.  Metode penelitian yang digunakan adalah Jenis penelitian ini adalah penelitian field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud penelitian kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan atau kejadian yang akan diteliti dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Hasil penellitian Berdasarkan peran strategis mursyid Tarekat Naqsabandiyah dalam pembinaan keagamaan dan sosial di Desa Ulak Tanding, disarankan agar peran mursyid serta tarekat ini terus diperkuat, dilestarikan, dan dikembangkan melalui sinergi antara mursyid, jamaah, masyarakat, serta pemerintah desa, sehingga mampu menjadi teladan pengamalan nilai-nilai tasawuf seperti keikhlasan, kedisiplinan, kesederhanaan, dan cinta kasih, menjaga kemurnian ajaran tarekat sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman, serta membentuk kehidupan beragama dan sosial yang harmonis, religius, berakhlak mulia, serta berkelanjutan di masa depan.Kata Kunci: Mursyid, Tarekat Naqsabandiyah, Agama dan Sosial, Desa Ulak Tanding.
Epistemologi Pengetahuan dalam Kitab Jauhar at-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani: Analisis Filsafat Ilmu Islam Fuadi, Nabil Fikri
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10370

Abstract

Abstract: Jauhar al-Tauhid by Ibrahim al-Laqqani, is a significant text within the Ash‘arite theological tradition. The study focuses on how the text conceptualizes sources of knowledge, particularly revelation and reason, as well as its distinction between qath‘iy (definitive) and dzanniy (speculative) knowledge. Employing a qualitative approach through library research, this study analyzes the primary text of Jauhar al-Tauhid alongside secondary literature on the philosophy of science. The findings reveal that Jauhar al-Tauhid integrates revelation as an absolute transcendental source of knowledge, while reason functions as a complementary and explanatory tool. The text also rejects speculative forms of knowledge lacking strong foundations, thereby shaping a framework of classical Islamic epistemology that remains relevant to contemporary discourse in the philosophy of science.Keywords: Epistemology, Jauhar al-Tauhid,  Philosophy of Science, Reason, Revelation. Abstrak: Kitab Jauharal-Tauhid karya Ibrahim al-Laqqani adalah salah satu teks penting dalam khazanah ilmu kalam. Kitab ini tidak hanya berfungsi sebagai teks ringkas dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah aliran Asy‘ariyah, tetapi juga menyajikan kerangka berpikir epistemologis yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis epistemologi pengetahuan dalam Kitab Jauhar al-Tauhid dari perspektif filsafat ilmu Islam. Fokus kajian diarahkan pada analisis cara kitab ini menempatkan sumber-sumber pengetahuan, khususnya wahyu dan akal, serta pembedaan antara ilmu yang bersifat qath‘iy (pasti) dan dzanniy (dugaan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, mengkaji teks primer Jauhar al-Tauhid dan literatur sekunder dalam filsafat ilmu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jauhar al-Tauhid mengintegrasikan wahyu sebagai sumber pengetahuan transendental yang absolut, sementara akal difungsikan sebagai instrumen penguat dan penjelas. Kitab ini juga menolak bentuk pengetahuan spekulatif yang tidak memiliki dasar kuat, sehingga membentuk kerangka epistemologi Islam klasik yang tetap relevan dalam wacana filsafat ilmu kontemporer.Kata kunci: Akal, Epistemologi, Filsafat Ilmu, Jauhar al-Tauhid, Wahyu. 
Pemberi Harapan Palsu (PHP) dalam Perspektif Filsafat Islam Irsal, Irsal
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11182

Abstract

Abstracts : The phenomenon of False Hope Giving (PHP) is a form of social relationship deviation that is increasingly prevalent in modern society, particularly among the younger generation. PHP occurs when someone gives hope or promises of a commitment, such as marriage, but has no genuine intention of fulfilling it. This action often has serious psychological and social impacts on the victim, such as disappointment, trauma, and material loss. This study aims to analyze the phenomenon of PHP from the perspective of Islamic Legal Philosophy, using a qualitative-descriptive approach through literature review. The results show that Islam, as a religion that upholds the values of honesty, trustworthiness, and loyalty, views PHP as a reprehensible form of broken promises. Various verses of the Quran and Hadith explain that keeping promises is a characteristic of a believer, while breaking them is a characteristic of a hypocrite. Therefore, a comprehensive approach is needed to prevent and address this phenomenon, through early character education, contextual preaching, and just and civilized law enforcement. Islam exists not only as a normative system, but also as a moral and social solution to address interpersonal relationship problems that undermine human dignity and integrity.Keywords: Islamic  Philosophy, Giver of False Hope. Abstrak : Fenomena Pemberi Harapan Palsu (PHP) merupakan salah satu bentuk penyimpangan relasi sosial yang semakin marak dalam masyarakat modern, khususnya di kalangan generasi muda. PHP terjadi ketika seseorang memberikan harapan atau janji akan sebuah komitmen, seperti pernikahan, namun tidak memiliki niat sungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Tindakan ini sering kali menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang serius bagi korban, seperti kekecewaan, trauma, hingga kerugian materil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena PHP dalam perspektif Filsafat Hukum Islam, dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, amanah, dan kesetiaan, memandang tindakan PHP sebagai bentuk pengingkaran janji yang tercela. Dalam berbagai ayat Al-Qur‘an dan hadis, dijelaskan bahwa menepati janji adalah salah satu ciri orang beriman, sementara mengingkarinya merupakan ciri dari orang munafik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komprehensif dalam mencegah dan menanggulangi fenomena ini, melalui pendidikan karakter sejak dini, dakwah yang kontekstual, serta penegakan hukum yang adil dan berkeadaban. Islam tidak hanya hadir sebagai sistem normatif, tetapi juga sebagai solusi moral dan sosial dalam menghadapi problematika relasi interpersonal yang merusak martabat dan integritas umat manusia.Kata Kunci: Filsafat  Islam, Pemberi Harapan Palsu.
Nilai-nilai Sosial Masyarakat Pendatang Tapanuli Selatan dalam Pelaksanaan Pernikahan Menggunakan Tradisi Adat Tari Tor Tor Naposo Nauli Bulung di Wilayah Kota Bengkulu Siregar, Muhammad Safii; Suradi, Ahmad; Iqbal, Moch.
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11456

Abstract

Abstract : This study aims to: (1) describe the tradition of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance in the context of migrant community life in Bengkulu City; and (2) analyze the meaning and interpretation of the social values contained in the implementation of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance according to the perspectives of traditional leaders, dance performers, and the Tapanuli Selatan migrant community. This research uses a qualitative approach with a descriptive research type. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation involving informants consisting of traditional leaders, dance performers, and members of the Batak Tapanuli Selatan community in Bengkulu City. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the tradition of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance plays an important role in the life of migrant communities, namely as: (a) a means of cultural preservation that is maintained despite being far from the homeland; (b) a symbol of ethnic identity of the Batak Tapanuli Selatan community in a different social environment; (c) a medium to strengthen social relationships and solidarity among members of the migrant community; and (d) a means of cultural education for the younger generation in understanding traditional customs.Furthermore, the meaning and interpretation of the social values contained in the implementation of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance include: (a) the value of togetherness and mutual cooperation reflected in collaboration among community members in every stage of the tradition; (b) the value of cultural preservation and ethnic identity shown through efforts to maintain traditions amid modernization; and (c) the value of respect for parents and ancestors, which is manifested through traditional procedures, dance movements, and polite behavior in the implementation of the tradition.Keywords: Tradition, Tor-Tor Dance, Naposo Nauli Bulung, migrant community, social values. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan Tradisi Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dalam konteks kehidupan masyarakat perantauan di Kota Bengkulu; dan (2) menganalisis makna serta pemaknaan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam pelaksanaan Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung menurut pandangan tokoh adat, pelaku tari, dan masyarakat pendatang Tapanuli Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri dari tokoh adat, pelaku tari, serta masyarakat Batak Tapanuli Selatan di Kota Bengkulu. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat perantauan, yaitu sebagai: (a) sarana pelestarian budaya yang tetap dijaga meskipun berada jauh dari kampung halaman; (b) simbol identitas etnik masyarakat Batak Tapanuli Selatan di lingkungan sosial yang berbeda; (c) media untuk mempererat hubungan sosial dan solidaritas antaranggota masyarakat perantauan; serta (d) sarana pendidikan budaya bagi generasi muda dalam memahami adat istiadat. Selain itu, makna dan pemaknaan nilai-nilai sosial dalam pelaksanaan Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung meliputi: (a) nilai kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam kerja sama antaranggota dalam setiap pelaksanaan tradisi; (b) nilai pelestarian budaya dan identitas etnik yang terlihat dari upaya mempertahankan tradisi di tengah arus modernisasi; serta (c) nilai penghormatan terhadap orang tua dan leluhur yang diwujudkan melalui tata cara adat, gerakan tari, serta sikap sopan santun dalam pelaksanaan tradisi.Kata Kunci: Tradisi, Tari Tor-Tor, Naposo Nauli Bulung, masyarakat perantauan,  nilai sosial.

Page 11 of 11 | Total Record : 104