cover
Contact Name
Irsal
Contact Email
bengkuluirsal@gmail.com
Phone
+6285381305810
Journal Mail Official
bengkuluirsal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : 10.29300/mtq.v9i2.8963
Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam pernah mengalami kerusakan servers jurnal secara total (di hack), yang mengakibatkan semua artikel yang sudah dipublish mulai Vol.1 No.1 2019 s-d Edisi tahun 2023 hilang semua. Maka untuk menghindari kekosongan artikel, maka tim pengelola jurnal melakukan upload ulang artikel secara quiksubmite Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam di tahun 2022 telah merubah institusi/lembaga penerbit dari IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Perubahan status IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Articles 108 Documents
Peran Mursyid Tarekat Naqsabandiyah bidang Sosial Keagamaan di Desa Ulak Tanding Kecamatan Batiknau Kabupaten Bengkulu Utara Ria Pelita; Ridho Syabibi; Ismail Ismail; Sultan Gholand Astapala
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10379

Abstract

Abstract: The order has begun to develop in the village of Ulak Tanding, Batiknau District, North Bengkulu, where the existence of a Mursyid or teacher of the order plays a very important role in the life of the community. The purpose of this study is to explain comprehensively how the role of the Mursyid of the Naqsabandiyah order in the religious and social fields, and to explain how the impact felt by the community on the presence of the Naqsabandiyah order. The research method used is This type of research is field research using a qualitative approach. The meaning of qualitative research is to find out or describe the reality or event to be studied by describing in the form of words and language a special natural context and by utilizing various scientific methods. Research Results Based on the strategic role of the Mursyid of the Naqsabandiyah Order in religious and social development in Ulak Tanding Village, it is recommended that the role of the Mursyid and this order continue to be strengthened, preserved, and developed through synergy between the Mursyid, congregation, community, and village government, so that it can become an example of practicing Sufism values such as sincerity, discipline, simplicity, and love, maintaining the purity of the order's teachings while adapting them to current developments, and forming a harmonious, religious, noble, and sustainable religious and social life in the future.Keywords: Mursyid, Naqsabandiyah Order, Religion and Social, Ulak Tanding Village. Abstrak: Tarekat sudah mulai berkembang di desa Ulak Tanding Kecamatan Batiknau Bengkulu Utara, dimana keberadaan mursyid atau guru tarekat sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan secara komprehensif bagaimana peran mursyid tarekat Naqsabandiyah dalam bidang keagamaan dan sosial, dan menjelaskan bagaimana dampak yang dirasakan oleh masyarakat terhadap kehadiran tarekat Naqsabandiyah.  Metode penelitian yang digunakan adalah Jenis penelitian ini adalah penelitian field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud penelitian kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan atau kejadian yang akan diteliti dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Hasil penellitian Berdasarkan peran strategis mursyid Tarekat Naqsabandiyah dalam pembinaan keagamaan dan sosial di Desa Ulak Tanding, disarankan agar peran mursyid serta tarekat ini terus diperkuat, dilestarikan, dan dikembangkan melalui sinergi antara mursyid, jamaah, masyarakat, serta pemerintah desa, sehingga mampu menjadi teladan pengamalan nilai-nilai tasawuf seperti keikhlasan, kedisiplinan, kesederhanaan, dan cinta kasih, menjaga kemurnian ajaran tarekat sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman, serta membentuk kehidupan beragama dan sosial yang harmonis, religius, berakhlak mulia, serta berkelanjutan di masa depan.Kata Kunci: Mursyid, Tarekat Naqsabandiyah, Agama dan Sosial, Desa Ulak Tanding.
Epistemologi Pengetahuan dalam Kitab Jauhar at-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani: Analisis Filsafat Ilmu Islam Nabil Fikri Fuadi
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.10370

Abstract

Abstract: Jauhar al-Tauhid by Ibrahim al-Laqqani, is a significant text within the Ash‘arite theological tradition. The study focuses on how the text conceptualizes sources of knowledge, particularly revelation and reason, as well as its distinction between qath‘iy (definitive) and dzanniy (speculative) knowledge. Employing a qualitative approach through library research, this study analyzes the primary text of Jauhar al-Tauhid alongside secondary literature on the philosophy of science. The findings reveal that Jauhar al-Tauhid integrates revelation as an absolute transcendental source of knowledge, while reason functions as a complementary and explanatory tool. The text also rejects speculative forms of knowledge lacking strong foundations, thereby shaping a framework of classical Islamic epistemology that remains relevant to contemporary discourse in the philosophy of science.Keywords: Epistemology, Jauhar al-Tauhid,  Philosophy of Science, Reason, Revelation. Abstrak: Kitab Jauharal-Tauhid karya Ibrahim al-Laqqani adalah salah satu teks penting dalam khazanah ilmu kalam. Kitab ini tidak hanya berfungsi sebagai teks ringkas dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah aliran Asy‘ariyah, tetapi juga menyajikan kerangka berpikir epistemologis yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis epistemologi pengetahuan dalam Kitab Jauhar al-Tauhid dari perspektif filsafat ilmu Islam. Fokus kajian diarahkan pada analisis cara kitab ini menempatkan sumber-sumber pengetahuan, khususnya wahyu dan akal, serta pembedaan antara ilmu yang bersifat qath‘iy (pasti) dan dzanniy (dugaan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, mengkaji teks primer Jauhar al-Tauhid dan literatur sekunder dalam filsafat ilmu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jauhar al-Tauhid mengintegrasikan wahyu sebagai sumber pengetahuan transendental yang absolut, sementara akal difungsikan sebagai instrumen penguat dan penjelas. Kitab ini juga menolak bentuk pengetahuan spekulatif yang tidak memiliki dasar kuat, sehingga membentuk kerangka epistemologi Islam klasik yang tetap relevan dalam wacana filsafat ilmu kontemporer.Kata kunci: Akal, Epistemologi, Filsafat Ilmu, Jauhar al-Tauhid, Wahyu. 
Pemberi Harapan Palsu (PHP) dalam Perspektif Filsafat Islam Irsal Irsal
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11182

Abstract

Abstracts : The phenomenon of False Hope Giving (PHP) is a form of social relationship deviation that is increasingly prevalent in modern society, particularly among the younger generation. PHP occurs when someone gives hope or promises of a commitment, such as marriage, but has no genuine intention of fulfilling it. This action often has serious psychological and social impacts on the victim, such as disappointment, trauma, and material loss. This study aims to analyze the phenomenon of PHP from the perspective of Islamic Legal Philosophy, using a qualitative-descriptive approach through literature review. The results show that Islam, as a religion that upholds the values of honesty, trustworthiness, and loyalty, views PHP as a reprehensible form of broken promises. Various verses of the Quran and Hadith explain that keeping promises is a characteristic of a believer, while breaking them is a characteristic of a hypocrite. Therefore, a comprehensive approach is needed to prevent and address this phenomenon, through early character education, contextual preaching, and just and civilized law enforcement. Islam exists not only as a normative system, but also as a moral and social solution to address interpersonal relationship problems that undermine human dignity and integrity.Keywords: Islamic  Philosophy, Giver of False Hope. Abstrak : Fenomena Pemberi Harapan Palsu (PHP) merupakan salah satu bentuk penyimpangan relasi sosial yang semakin marak dalam masyarakat modern, khususnya di kalangan generasi muda. PHP terjadi ketika seseorang memberikan harapan atau janji akan sebuah komitmen, seperti pernikahan, namun tidak memiliki niat sungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Tindakan ini sering kali menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang serius bagi korban, seperti kekecewaan, trauma, hingga kerugian materil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena PHP dalam perspektif Filsafat Hukum Islam, dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, amanah, dan kesetiaan, memandang tindakan PHP sebagai bentuk pengingkaran janji yang tercela. Dalam berbagai ayat Al-Qur‘an dan hadis, dijelaskan bahwa menepati janji adalah salah satu ciri orang beriman, sementara mengingkarinya merupakan ciri dari orang munafik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komprehensif dalam mencegah dan menanggulangi fenomena ini, melalui pendidikan karakter sejak dini, dakwah yang kontekstual, serta penegakan hukum yang adil dan berkeadaban. Islam tidak hanya hadir sebagai sistem normatif, tetapi juga sebagai solusi moral dan sosial dalam menghadapi problematika relasi interpersonal yang merusak martabat dan integritas umat manusia.Kata Kunci: Filsafat  Islam, Pemberi Harapan Palsu.
Nilai-nilai Sosial Masyarakat Pendatang Tapanuli Selatan dalam Pelaksanaan Pernikahan Menggunakan Tradisi Adat Tari Tor Tor Naposo Nauli Bulung di Wilayah Kota Bengkulu Muhammad Safii Siregar; Ahmad Suradi; Moch. Iqbal
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11456

Abstract

Abstract : This study aims to: (1) describe the tradition of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance in the context of migrant community life in Bengkulu City; and (2) analyze the meaning and interpretation of the social values contained in the implementation of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance according to the perspectives of traditional leaders, dance performers, and the Tapanuli Selatan migrant community. This research uses a qualitative approach with a descriptive research type. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation involving informants consisting of traditional leaders, dance performers, and members of the Batak Tapanuli Selatan community in Bengkulu City. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the tradition of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance plays an important role in the life of migrant communities, namely as: (a) a means of cultural preservation that is maintained despite being far from the homeland; (b) a symbol of ethnic identity of the Batak Tapanuli Selatan community in a different social environment; (c) a medium to strengthen social relationships and solidarity among members of the migrant community; and (d) a means of cultural education for the younger generation in understanding traditional customs.Furthermore, the meaning and interpretation of the social values contained in the implementation of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance include: (a) the value of togetherness and mutual cooperation reflected in collaboration among community members in every stage of the tradition; (b) the value of cultural preservation and ethnic identity shown through efforts to maintain traditions amid modernization; and (c) the value of respect for parents and ancestors, which is manifested through traditional procedures, dance movements, and polite behavior in the implementation of the tradition.Keywords: Tradition, Tor-Tor Dance, Naposo Nauli Bulung, migrant community, social values. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan Tradisi Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dalam konteks kehidupan masyarakat perantauan di Kota Bengkulu; dan (2) menganalisis makna serta pemaknaan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam pelaksanaan Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung menurut pandangan tokoh adat, pelaku tari, dan masyarakat pendatang Tapanuli Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri dari tokoh adat, pelaku tari, serta masyarakat Batak Tapanuli Selatan di Kota Bengkulu. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat perantauan, yaitu sebagai: (a) sarana pelestarian budaya yang tetap dijaga meskipun berada jauh dari kampung halaman; (b) simbol identitas etnik masyarakat Batak Tapanuli Selatan di lingkungan sosial yang berbeda; (c) media untuk mempererat hubungan sosial dan solidaritas antaranggota masyarakat perantauan; serta (d) sarana pendidikan budaya bagi generasi muda dalam memahami adat istiadat. Selain itu, makna dan pemaknaan nilai-nilai sosial dalam pelaksanaan Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung meliputi: (a) nilai kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam kerja sama antaranggota dalam setiap pelaksanaan tradisi; (b) nilai pelestarian budaya dan identitas etnik yang terlihat dari upaya mempertahankan tradisi di tengah arus modernisasi; serta (c) nilai penghormatan terhadap orang tua dan leluhur yang diwujudkan melalui tata cara adat, gerakan tari, serta sikap sopan santun dalam pelaksanaan tradisi.Kata Kunci: Tradisi, Tari Tor-Tor, Naposo Nauli Bulung, masyarakat perantauan,  nilai sosial.
Nilai-Nilai Sufistik dalam Novel di bawah Lindungan Ka’bah dan Relevansinya dengan Ayat-ayat tasawuf dalam Al-quran Permata Puncak; Ashadi Cahyadi; Ismail Ismail; Rozian Karnedi; Jonsi Hunadar
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11650

Abstract

Abstract: This research reveals the closeness of the characters to their God through various aspects of Sufistic values. The research also aims to find out if these five aspects are in accordance with the stages. In collecting data, the method used was reading thoroughly and repeatedly using note-taking methods and the approach used was descriptive qualitative research. The results of the research and discussion show that in the novel Hijrah Itu Cinta by Abay Adhitya there are Sufistic values which involve five things, namely (1) Sufistic values viewed from the aspect of repentance. (2) Sufistic values viewed from the aspect of patience, (3) Sufistic values viewed from the poor aspect, (4) Sufistic values viewed from the ascetic aspect, and (5) Sufistic values viewed from the aspect of tawakal. The data found through the dialogue of the characters has shown its relevance in everyday life.Keywords: Sufistic values, morals, and spiritual practices. Abstrak: Penelitian ini mengungkapkan kedekatan para tokoh dengan Tuhannya melalui berbagai aspek nilai sufistik. Penelitian juga bertujuan untuk menggali dan menganalisis nilai sufistik yang terdapat pada novel yang menjadi objek penelitian. Dalam mengumpulkan data, metode yang digunakan adalah membaca secara menyeluruh dan berulang-ulang menggunakan metode catat dan pendekatan yang digunakan yaitu deskriptif jenis penelitian kualitatif. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa dalam novel Hijrah Itu Cinta karya Abay Adhitya terdapat nilai-nilai sufistik yang menyangkut lima hal yakni (1) Nilai sufistik ditinjau dari aspek taubat.(2) Nilai sufistik ditinjau dari aspek sabar, (3) Nilai sufistik ditinjau dari aspek mahabbah, (4) nilai sufistik ditinjau dari aspek zuhud, dan (5) Nilai sufistik ditinjau dari aspek tawakal. Data-data yang ditemukan melalui dialog para tokoh sudah menunjukkan bahwa relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.Kata kunci: Nilai sufistik, moral, dan praktik spiritual.
Nilai-Nilai Filsafat Pendidikan Islam sebagai Landasan Pembinaan Moral Peserta Didik di Era Media Sosial Ceshelya Astra; Aniska Septi Sabena; Fakhruddin Fakhruddin; Amrullah Amrullah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11536

Abstract

Abstract: The increasing crisis of digital ethics in the social media era prompted this study to examine the values of Islamic educational philosophy as a basis for developing students' morals. The focus of the problem lies in moral disorientation characterized by cyberbullying, weak communication ethics, and the suboptimal internalization of religious values in students' digital activities. This study used a qualitative approach with a Narrative Literature Review design. Data sources were obtained through documentation studies including national and international journal articles, academic books, and previous research from the past five years. Data analysis was conducted using the Miles & Huberman interactive model, which includes data reduction, data presentation, and narrative conclusion drawing. The results of the study reveal five main themes: moral disorientation due to social media, the value of monotheism as spiritual control, the actualization of morals and etiquette in digital communication, the role model of educators as moral models, and the integration of Islamic digital literacy in education. These findings confirm that the values of Islamic educational philosophy, particularly the thoughts of Al-Ghazali, have strong relevance in shaping students' character in the digital space. The values of monotheism, morality, and etiquette serve as effective moral control mechanisms in suppressing negative behavior on social media. In conclusion, Islamic educational philosophy is not only normative but also applicable in addressing moral challenges in the digital era. This research contributes theoretically to the development of contemporary Islamic educational studies and provides practical implications for educators, parents, and policymakers in integrating Islamic values-based digital literacy. Further research is needed to explore students' empirical experiences in internalizing these values.Keywords: Islamic educational philosophy, student morality, social media, Al-Ghazali, Islamic digital literacy. Abstrak: Fenomena meningkatnya krisis etika digital di era media sosial mendorong kajian ini untuk menelaah nilai-nilai filsafat pendidikan Islam sebagai dasar pembinaan moral peserta didik. Fokus permasalahan terletak pada disorientasi moral yang ditandai dengan cyberbullying, lemahnya etika komunikasi, serta belum optimalnya internalisasi nilai religius dalam aktivitas digital peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Narrative Literature Review. Sumber data diperoleh melalui studi dokumentasi yang meliputi artikel jurnal nasional dan internasional, buku akademik, serta penelitian terdahulu dalam lima tahun terakhir. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles & Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara naratif. Hasil kajian menunjukkan lima tema utama, yaitu disorientasi moral akibat media sosial, nilai tauhid sebagai kontrol spiritual, aktualisasi akhlak dan adab dalam komunikasi digital, keteladanan pendidik sebagai model moral, serta integrasi literasi digital Islami dalam pendidikan. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai filsafat pendidikan Islam, khususnya pemikiran Al-Ghazali, memiliki relevansi kuat dalam pembentukan karakter peserta didik di ruang digital. Nilai tauhid, akhlak, dan adab berfungsi sebagai mekanisme kontrol moral yang efektif dalam menekan perilaku negatif di media sosial. Kesimpulannya, filsafat pendidikan Islam tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif dalam menjawab tantangan moral di era digital. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis dalam pengembangan kajian pendidikan Islam kontemporer, serta secara praktis memberikan implikasi bagi pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan dalam integrasi literasi digital berbasis nilai Islam. Kajian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi pengalaman empiris peserta didik dalam internalisasi nilai tersebut.Kata kunci: filsafat pendidikan Islam, moral peserta didik, media sosial, Al-Ghazali, literasi digital Islami.
Keberagamaan sebagai proses Eksistensial dalam Filsafat Mulla Sadra Muhammad Faishal
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.12250

Abstract

Abstract: Religiousness is often understood through ritual practices and formal symbols, so that the meaning of human inner experiences receives less attention. This perspective creates a distance between religious life and the formation of self-awareness. This article aims to examine religiousness as a human life journey within the framework of Mulla Sadra's philosophy. The focus of the study is directed at understanding religiousness as a process of self-formation that continues to develop in line with human consciousness and life orientation. This study uses a qualitative method with a philosophical approach through a literature review of Mulla Sadra's works and relevant supporting literature. The analysis is conducted interpretively by exploring the relationship between the ontological, spiritual, and ethical dimensions of religious life. The results show that religiosity plays an important role in shaping the direction of life and the quality of human existence. Religiousness is understood as a life experience that encourages deepening of consciousness and existential responsibility. The conclusion of the study affirms that religiousness acquires meaning when it is lived as a process of self-formation, not as a formal form separate from real life. This approach enriches the study of the philosophy of religion by presenting a more reflective and contextual understanding of religiousness.Keywords: Religiosity; Mulla Sadra’s philosophy; self-awareness; human existence. Abstrak: Keberagamaan sering dipahami melalui praktik ritual dan simbol formal, sehingga makna pengalaman batin manusia kurang mendapatkan perhatian. Cara pandang tersebut menimbulkan jarak antara kehidupan beragama dan pembentukan kesadaran diri. Artikel ini bertujuan menelaah keberagamaan sebagai perjalanan hidup manusia dalam kerangka filsafat Mulla Sadra. Fokus kajian diarahkan pada pemahaman keberagamaan sebagai proses pembentukan diri yang terus berkembang seiring dengan kesadaran dan orientasi hidup manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filsafat melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya Mulla Sadra serta literatur pendukung yang relevan. Analisis dilakukan secara interpretatif dengan menelusuri keterkaitan antara dimensi ontologis, spiritual, dan etis dalam kehidupan beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberagamaan memiliki peran penting dalam membentuk arah hidup dan kualitas keberadaan manusia. Keberagamaan dipahami sebagai pengalaman hidup yang mendorong pendalaman kesadaran dan tanggung jawab eksistensial. Simpulan penelitian menegaskan bahwa keberagamaan memperoleh makna ketika dijalani sebagai proses pembentukan diri, bukan sebagai bentuk formal yang terpisah dari kehidupan nyata. Pendekatan ini memperkaya kajian filsafat agama dengan menghadirkan pemahaman keberagamaan yang lebih reflektif dan kontekstual.Kata Kunci: Keberagamaan; filsafat Mulla Sadra; kesadaran diri; eksistensi manusia.
Kebahagiaan perspektif Bertrand Russell dan Al-Farabi: Implikasinya terhadap Masyarakat Modern Siska Maryana; Hery Noer Aly; Japarudin Japarudin; M. Nasron; Ashadi Cahyadi; Moch Iqbal
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.12197

Abstract

Abstract: Happiness is a fundamental goal and ultimately the final objective for every individual navigating life. However, in the modern era, achieving happiness is often hindered, despite being surrounded by various conveniences and material abundance, such conditions do not guarantee true happiness. This article examines the meaning of happiness from the perspectives of Bertrand Russell and Al-Farabi views that align with the needs of contemporary society and explores the implications of their thought. The study employs a literature-based research methodology, utilizing descriptive-analytical and hermeneutic-reflective approaches. For Bertrand Russell, happiness is a process of conquest balancing emotions, broadening interests, and liberating oneself from the ego rather than something that arises spontaneously, it is the result of active struggle and effort. For Al-Farabi, happiness stems from the struggle to develop human potential, cultivate the self, and align one's will with a higher, spiritual will; it originates in the perfection of the soul and places God as the ultimate pinnacle of achievement. In the context of modern society, Bertrand Russell’s thought represents a harmonious horizontal relationship characterized by social concern and active interaction with others, while Al-Farabi complements this with a sublime vertical relationship achieved through the perfection of intellect and spirit to attain true happiness.Keywords: Happiness, Bertrand Russell, Al-Farabi, modern society.Abstrak: Kebahagiaan merupakan salah satu tujuan dan selalu menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh setiap individu yang menjalani kehidupan ini. Namun, kebahagiaan di era modern seringkali terhambat meskipun dikelilingi oleh berbagai macam kemudahan dan limpahan materi, tetap tidak menjamin seseorang akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Aartikel ini membahas makna kebahagiaan perspektif Bertrand Russell dan Al-Farabi yang selaras dengan apa yang sedang dibutuhkan masyarakat modern saat ini untuk memperoleh kebahagiaan dan implikasi dari pemikirannya. artikel ini menggunakan metode penelitian studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis dan hermeneutis-reflektif. Kebahagiaan bagi Bertrand Russell adalah proses penaklukan dimana seseorang menyeimbangkan emosi, memperluas minat, dan membebaskan diri dari egonya sendiri serta bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari sebuah perjuangan dan usaha aktif. Kebahagiaan bagi Al-Farabi adalah hasil dari perjuangan dan usaha seseorang dalam mengembangkan potensi diri manusia, memperbaiki diri, dan menyelaraskan kehendak diri sendiri dengan kehendak yang lebih tinggi, bersifat spiritual, bersumber dari kesempurnaan jiwa dan menempatkan Tuhan sebagai puncak pencapaian. Dalam masyarakat modern, pemikiran Bertrand Russell mewakili hubungan horizontal yang harmonis melalui kepedulian sosial dan interaksi aktif dengan sesame, sementara Al-Farabi melengkapinya dengan hubungan vertikal yang luhur melalui penyempurnaan akal dan spiritual demi mencapai kebahagiaan sejatiKata kunci: Kebahagiaan, Bertrand Russell, Al-Farabi, masyarakat modern.

Page 11 of 11 | Total Record : 108