cover
Contact Name
Wildani Hefni
Contact Email
annisauinkhas@gmail.com
Phone
+6285258113657
Journal Mail Official
annisauinkhas@gmail.com
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Mluwo, Mangli, Kaliwates Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
An-Nisa’ Journal of Gender Studies
ISSN : 20860749     EISSN : 26544784     DOI : https://doi.org/10.35719/jsnnqd91
Core Subject : Religion, Social,
An-Nisa’ Journal of Gender Studies focuses on contemporary issues in the field of gender studies within Muslim societies and global contexts, which specified as follows: - Gender, Violence, and Social Justice - Gender in Islamic Education and Religious Discourse - Gender, Culture, and Ecofeminism - Gender Policy and Women’s Empowerment
Articles 156 Documents
Penghargaan Islam terhadap Kesetaraan Gender: Islamic Appreciation of Gender Equality Al Furqon
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 5 No. 1 (2012): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recently, some parties have considered that the interpretation of scholars regarding the verses about women in the Qur'an is too textual, resulting in a narrow and non-universal understanding. Among the verses that are often cited as a form of gender bias is Surah al-Nisa verse 4, which states that men are leaders of women. Meanwhile, feminists consider this verse to be a form of " religiously justified gender injustice," necessitating critical study that produces a different interpretation. This feeling of being treated unfairly and positioned as subordinate has prompted them to conduct interpretive studies that differ from the historical-contextual approach, leading to equal rights and obligations for men and women. This paper seeks to explain Islam's appreciation Islam's respect for gender equality by referring to the primary sources of Islamic teachings, namely the Qur'an and Hadith, to answer the doubts and accusations of feminists against Islamic teachings, which are considered to still be gender biased. Belakangan ini, beberapa pihak menganggap bahwa penafsiran para ulama terhadap ayat-ayat wanita dalam Al-Qur'an terlalu tekstual sehingga menghasilkan pemahaman yang sempit dan tidak universal. Di antara ayat yang sering disebut sebagai bentuk bias terhadap gender adalah surat al-Nisa ayat 4 yang menyebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Sementara kaum feminis menganggap ayat ini sebagai bentuk" ketidakadilan gender yang dijustifikasi agama”, sehingga perlu dilakukan kajian kritis yang menghasilkan penafsiran berbeda. Perasaan diperlakukan kurang adil dan diposisikan sebagai subordinat ini mendorong mereka untuk membuat kajian tafsir yang berbeda dengan pendekatan historis kontekstual yang berujung pada kesetaraan hak dan kewajiban bagi laki-laki dan perempuan.Tulisan ini berusaha menjelaskan penghargaan Islam terhadap kesetaraan gender dengan merujuk pada sumber-sumber primer ajaran Islam yaitu al-Qur'an dan al-Hadits untuk menjawab keraguan dan tuduhan kaum feminis terhadap ajaran Islam yang dianggap masih bias gender.
Hak-hak Perempuan dalam Pernikahan (Perspektif Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Islam): Women's Rights in Marriage (The Perspective of Gender Equality in Islam) Mohammad Ikrom
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 5 No. 1 (2012): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriage is a worldly and spiritual connection. Within it, there must be equality, both in terms of the rights and obligations between husband and wife, which will ultimately create a truly mitsaqon galidlo marriage. The lack of attention to women's (wives') rights is a trouble maker that must be addressed early on. The existence of a wrong paradigm regarding women's rights is a misinterpretation of Islam by individuals. The existence of a wrong paradigm regarding women's rights is an error in individual interpretation of Islam. pernikahan merupakan sebuah koneksitas duniawiyah dan ukhrowiyah. Di dalamnya harus terdapat kesejajaran, baik hak dan kewajiban antar suami-istri yang akhirnya akan menciptakan pernikahan yang benar-benar mitsaqon galidlo. Kurang diperhatikan-nya hak-hak perempuan (istri), merupakan trouble maker yang harus dibenahi sejak dini. Adanya paradigma yang salah terkait hak-hak perempuan, merupakan kesalahan interpretasi individu terhadap islam.
Ketidakadilan Gender yang Dialami Pekerja Perempuan di Daerah Pariwisata: Gender Inequality Experienced by Female Workers in Tourism Areas Siti Masrohatin
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 5 No. 1 (2012): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gender isn't a difference of sex or god's will, but is something that is oriented him and her by means of social and culture process in long term. The power of woman in tourism sector is very interesting to be soled. According to conventional, tourism sector is public sector, that is a man area, but a woman area is domestic sector. Based on tourism development in Bali, there are many jobs opportunity that can be entered by woman community. In fact it will be affected by gender problem. Gender problem in this paper is studied based on research in two villages which different development tourism at Ubud, Gianyar, Bali. The result of the research shows that the woman worker in tourism sector are discriminated which is reflected by lower level wage than man worker althoughthey have same education and or same job position. Gender bukanlah perbedaan jenis kelamin atau kehendak Tuhan, melainkan sesuatu yang dibentuk melalui proses sosial dan budaya dalam jangka panjang. Peran perempuan di sektor pariwisata sangat menarik untuk dibahas. Menurut konvensi, sektor pariwisata adalah sektor publik, yang merupakan wilayah laki-laki, sedangkan wilayah perempuan adalah sektor domestik. Berdasarkan pengembangan pariwisata di Bali, terdapat banyak peluang kerja yang dapat dimasuki oleh komunitas perempuan. Faktanya, hal ini akan dipengaruhi oleh masalah gender. Masalah gender dalam penelitian ini diteliti berdasarkan penelitian di dua desa yang memiliki pengembangan pariwisata yang berbeda di Ubud, Gianyar, Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja perempuan di sektor pariwisata mengalami diskriminasi, yang tercermin dari upah yang lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki meskipun mereka memiliki pendidikan yang sama atau posisi pekerjaan yang sama.
ARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PERUMUSAN FATWA KEAGAMAAN DI INDONESIA (Studi Kasus pada Komisi Fatwa MUI, Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dan Lajnah Bahtsul Masa'il NU): WOMEN'S PARTICIPATION IN THE FORMULATION OF RELIGIOUS FATWAS IN Indonesia (Case Studies on the MUI Fatwa Commission, the Tarjih and Tajdid Council of Muhammadiyah, and the Bahtsul Masa'il Committee of NU Fathiyaturrahmah
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 5 No. 1 (2012): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of women's marginalization in the public arena does not only occur in the realm of politics, but also extends to the interpretation of religious texts. Islamic jurisprudence products, which are summarized in the yellow book treasury, have become a discourse that can only be claimed as belonging to men. This reality is then perpetuated by a system of scientific transmission that favors men. The lack of female involvement in the process of shaping fiqh discourse as described above has continued into the contemporary era. This can be seen, among other things, in the low level of female participation in the formulation of religious fatwas in authoritative institutions such as the MUI Fatwa Commission, the Muhammadiyah Tarjih Council Muhammadiyah, and the NU's Lajnah Bahtsul Masa'il. Fenomena marginalisasi perempuan dalam arena publik tidak hanya terjadi dalam ranah politik semata, tetapi juga merambah pada wilayah penafsiran teks-teks agama. Produkproduk keilmuan fiqih Islam, yang terangkum dalam khazanah kitab kuning, menjadi diskursus yang hanya boleh diklaim sebagai milik kaum laki-laki. Realitas tersebut kemudian dilanggengkan oleh sistem transmisi keilmuan yang berpihak kepada laki-laki. Langkanya keterlibatan perempuan dalam proses pembentukan wacana fiqih seperti di atas ternyata juga berlanjut hingga zaman kontemporer. Hal ini antara lain dapat dilihat dalam rendahnya partisipasi perempuan dalam formulasi fatwa-fatwa keagamaan di lembaga-lembaga yang dipandang otoritatif seperti Komisi Fatwa MUI, Majlis Tarjih Muhammadiyah, Lajnah Bahtsul Masa'il NU.
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAК PADA KELUARGA TKW : THE ROLE OF FATHERS IN CHILDREN'S EDUCATION IN FAMILIES OF MIGRANT WORKERS Mustofa
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 5 No. 1 (2012): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The social reality of a woman leaving her family to work as a migrant worker abroad has both positive and negative impacts, both for the migrant worker herself and for her family. A woman (wife) cannot fulfill her duties and obligations to her family due to her profession as a migrant worker. Women who work as migrant workers bring new values that are absorbed through the process of cultural acculturation in their host countries, supported by the improved economic position of wives, either directly or indirectly. This situation increases the economic status of families, which in turn increases the economic status of the migrant worker's family. Women who work as TKWs bring new values absorbed through the process of cultural acculturation in their host countries, supported by the improved economic status of wives, which directly or indirectly raises their bargaining position within the family. In other words, from a gender perspective, TKWs have the opportunity to dismantle local gender relations patterns with all their patriarchal hegemony. On the other hand, for families, especially those with wives who are TKWs, the social functions and responsibilities of wives towards their husbands and children are affected. The roles and responsibilities of the family in the form of childcare, care, and education of children should ideally be carried out jointly by the father and mother. However, in families TKW families, this does not occur; family responsibilities related to childcare, maintenance, and education of children become the sole responsibility of the husband or other family members (aunt, uncle, grandmother). Realitas sosial kepergian seorang perempuan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari tengah keluarga sebagai migran ke luar negeri membawa dampak positif dan negatif, baik bagi TKW secara individu maupun bagi keluarganya. Seorang wanita (istri) tidak bisa menjalankan tugas dan kewajibannya kepada keluarga akibat profesinya sebagai TKW. Perempuan yang berprofesi sebagai TKW membawa nilai-nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat secara langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawarnya di tengah keluarga. Dengan kata lain dalam perspektif gender, TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhi. Di lain pihak bagi keluarga, khususnya yang berstatus sebagai isteri, TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan anak. Peran dan tanggung jawab keluarga dalam bentuk pengasuhan, perawatan, maupun pendiddikan anak idealnya dilakukan secara bersama oleh ayah dan ibu. Akan tetapi dalam keluarga TKW hal tersebut tidak terjadi, tanggungjawab keluarga terkait dengan pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan anak menjadi tanggungjawab suamilayah saja atau anggota keluarga lain (bibi, paman, nenek).
Perempuan Dalam Tantangan Modernitas : Women In The Challenges Of Modernity Nanik Mahmuda
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 8 No. 1 (2015): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Whether we admit it or not, human life in the modern world is undergoing rapid change, especially for women. However, these changes have not completely transformed the lives of women, who continue to suffer from discrimination and social constructs that lead to dehumanization. The freedom that women have gained in the modern era has turned out to be a new problem for women, and even a shackle that is very difficult to break free from. The freedom of women in question tends to be steeped in consumerism and materialistic values that alter patterns of thinking and modern culture, moving away from religious values and prevailing norms. Yet Islam has regulated women's freedom in such a way that it does not undermine ethical order and moral values. Diakui atau tidak kehidupan manusia dalam memasuki dunia modernitas mengalami perubahan yang sangat cepat, terutama bagi perempuan. Namun perubahan tersebut tidak secara totalitas mengubah kehidupan perempuan yang selama ini tidak terlepas dari diskriminasi dan konstruk sosial yang mengarah pada dehumanisasi. Kebebasan perempuan yang mendapatkan tempat di era modernitas ternyata menjadi persoalan baru bagi perempuan, bahkan belenggu yang sangat sulit di lepaskan. Kebebasan perempuan yang dimaksud cenderung kental dengan kehidupan konsumerisme dan hal-hal yang bersifat materialistik yang mengubah pola berpikir dan budaya modern yang jauh dari nilai-nilai agama dan normanorma yang berlaku. Padahal Islam telah mengatur kebebasan perempuan dalam berperan sedemikian rupa tanpa merusak tatanan etika dan nilainilai moral.
Perempuan, Mahluk Paling Super Dalam Islam : Women, The Most Superbe Creatures In Islam Zainal Anshari
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 8 No. 1 (2015): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The issue of women experiencing discrimination in life does not only occur in one particular religion and is not a matter of interpretive bias as alleged by some Muslim scholars and Orientalists. However, discrimination is a human issue that occurs among all groups of people, regardless of religion and background. It is not only women who experience violence; it is not uncommon for men to also experience violence perpetrated by women. Similarly, violence against children is not only perpetrated by men, but also by women/mothers against their children. Therefore, in this context, Islam specifically gives women a very honorable place. As the Prophet said, first, a righteous woman is better than 70 righteous men. Second, whoever brings joy to his daughter, his status is like that of a person who constantly weeps out of fear of Allah (and those who fear Allah will be spared the fire of Hell). Therefore, it is unwise to blame Islam for its treatment of women. Masalah perempuan yang mengalami diskriminasi dalam kehidupan ini, bukan saja terjadi dalam satu agama tertentu dan bukan masalah keberpihakan tafsir sebagaimana dituduhkan oleh sebagian ilmuan muslim dan orientalis. Namun masalah diskriminasi adalah masalah kemanusiaann yang terjadi pada semua golongan manusia apapun agama dan latar belakangnya. Yang mengalami kekerasan bukan hanya perempuan, bahkan tidak jarang laki-laki juga mengalami kekerasan yang dilakukan oleh perempuan. Demikian juga kekerasan pada anak, bukan saja dilakukan oleh laki-laki, tapi juga dilakukan oleh perempuan / ibu kepada anak-anaknya. Oleh karenanya, dalam konteks ini, Islam secara spesifik memberikan ruang yang sangat terhormat kepada perempuan. Sebagaimana arahan nabi berikut ini, pertama, wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang soleh. Kedua, barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, maka derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah Swt (dan orang yang takut kepada Allah akan diharamkan api neraka atas tubuhnya). Sehingga tidak bijak, jika agama Islam dipersalahkan dalam perlakuannya kepada perempuan.
Bias Gender Pendidikan Islam Indonesia : Gender Bias In Indonesian Islamic Education HM. Syamsudini
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 8 No. 1 (2015): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the context of Indonesian Muslim society, male dominance is still so strong that contextualizing the spirit of non-discrimination in Islam becomes inappropriate when confronted with reality. The majority of Muslim communities generally believe that it is best to keep men and women in separate spaces, and that the intrusion of women into male domains will cause “chaos” that will destroy the basic order in all matters. The difficulty of access for women to obtain education is undeniably a legacy of Islamic religious traditions that were influenced by patriarchal bias when fiqh law was codified. Although the tradition itself is not always supported by the Qur'an, it has been and will continue to be influential in determining the opportunities available to women. Thus, the fact that education for women is minimal has become a common phenomenon in the Islamic world. Dalam konteks masyarakat muslim Indonesia dominasi laki-laki masih demikian kuat, sehingga kontekstualisasi semangat nondiskriminasi dalam Islam menjadi tidak sesuai ketika dihadapkan dengan realitas. Mayoritas masyarakat muslim pada umumnya percaya bahwa paling baik menjaga laki-laki dan perempuan dalam ruang yang ditetapkan terpisah, dan bahwa penerobosan perempuan ke dalam wilayah laki-laki akan menyebabkan "kekacauan" sehingga akan merusak tatanan dasar dalam segala hal. Sulitnya akses bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan tidak bisa dipungkiri merupakan warisan dari tradisi keagamaan Islam yang terpengaruh bias patriarki ketika hukum fiqh dikodifikasikan. Walaupun tradisi itu sendiri tidak selalu didukung oleh Al Qur'an, bagaimanapun telah dan akan terus berpengaruh dalam menentukan kesempatan yang tersedia bagi perempuan. Sehingga fakta minimnya pendidikan bagi perempuan menjadi fenomena lazim di dunia Islam.
Hakikaт Kepemimpinan Perempuan: Sebuah Refleksi Sejarah : The Reality Of Women's Leadership: A Historical Reflection Fathunnurohmiyati
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 8 No. 1 (2015): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Qur'an and Islamic history mention many strong women who can be used as role models or examples to understand the essence of female leadership in life. Not only are virtuous women immortalized in the Qur'an as a source of inspiration for women's lives, but in some of its verses, the Qur'an also immortalizes women who met with misfortune, so that their actions may serve as a lesson for future generations. There are types of warriors with unwavering faith, there are righteous women who are steadfast in worship and consistently maintain their purity, and there are also types of instigators, seducers, and traitors. It depends on how the reader reflects on and applies these lessons in daily life. Dalam Al-Qur'an dan Sejarah Islam sudah banyak menyebutkan perempuan-perempuan tangguh yang bisa dijadikan sebagai suritauladan atau contoh untuk memahami esensi kepemimpinan perempuan dalam kehidupan. Tidak hanya perempuan sholehah yang di abadikan dalam AlQur'an untuk menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan kaum perempuan, dalam beberapa ayatnya, Al-Qur'an juga mengabadikan kaum perempuan yang celaka, agar apa yang mereka lakukan dapat dijadikan pelajaran bagi kaum sesudahnya. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya, ada wanita shalihah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri, ada pula tipe penghasut, penggoda, dan pengkhianat. Tergantung bagaimana pembaca merfleksikan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
Pola Sikap Dan Perilaku Politik Perempuan Anggota Dprd Kabupaten Jember Dan Bondowoso Terhadap Policy Making Berperspektif Gender: Attitudes And Political Behavior Of Women Members Of The Regional Representative Council Of Jember And Bondowoso Towards Gender-Sensitive Policy Making Sofyan Hadi
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 8 No. 1 (2015): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It took a long time of hard work for the women of Jember and Bondowoso to fight for their representation in political institutions, and even now, the representation of women in parliament is still far from proportional to the female population in both cities. The long debate over whether women are fit to sit in parliament has not stopped, despite various movements and protests emerging. This is undoubtedly caused by the patriarchal cultural system that is deeply rooted in society, especially in rural areas where the majority of the population is Madurese and Javanese. However, if we look at the bigger picture, ignoring gender issues means ignoring social facts and the daily experiences of the community, where the oppression of women is a chain of injustice that then impacts the lives of the community, including men from poor and minority groups. Finally, relying on the minority of female council members in Jember and Bondowoso, it is hoped that the attitudes and political behavior of these modern heroines in parliament can represent the realization of local regulations and policies that prioritize the interests and rights of women. Butuh cucuran keringat dalam waktu lama bagi perempuan Jember dan Bondowoso untuk memperjuangkan keterwakilan mereka di lembaga politik yang fenomenanya hingga saat ini keterwakilan perempuan di parlemen masih berbanding jauh dengan populasi perempuan di kedua kota tersebut. Perdebatan panjang menyoal pantas tidaknya perempuan duduk di kursi parlemen rupanya belum berhenti meskipun bermacam gerakan dan aksi protes mencuat di permukaan. Hal ini tentunya diakibatkan oleh sistem budaya patriarkhi yang mengakar pada masyarakat utamanya daerah pedesaan yang mayoritas bersuku Madura dan Jawa. Padahal jika ditarik benang merahnya, pengabaian isu gender berarti menisbikan fakta sosial dan pengalaman keseharian masyarakat dimana keterpurukan perempuan merupakan rantai kondisi ketidakadilan yang kemudian berdampak pada hidup masyarakat, termasuk laki-laki dari kelompok miskin dan minoritas. Akhirnya bersandar pada minoritas anggota dewan perempuan di Jember dan Bondowoso, semoga pola sikap dan perilaku politik srikandi-srikandi modern di parlemen ini bisa mewakili terwujudnya peraturan daerah dan kebijakan-kebijakan yang menitik beratkan pada kepentingan dan hak-hak kaum perempuan.

Filter by Year

2009 2025