cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.alfikrah@ibi.ac.id
Phone
+628881542856
Journal Mail Official
jurnal.alfikrah@ibi.ac.id
Editorial Address
JL. KH. Hasyim Ashari, Gg. Ambon / Kavling DPR, No. 236, Nerogtog Pinang, RT.003/RW.004, Kenanga, Kec. Pinang, Kota Tangerang, Banten 15148
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam.
ISSN : 28083571     EISSN : 28092252     DOI : ttps://doi.org/10.51476/alfikrah
Core Subject : Education,
Al Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Program Magister Pendidikan Agama Islam Institut Binamadani Indonesia. Bidang kajian jurnal ini mencakup: 1. Konsep dan pemikiran tokoh pendidikan Islam 2. Pemikiran kontemporer pendidikan Islam 3. Komponen-komponen pendidikan Islam, seperti: kurikulum, model pembelajaran, psikologi perkembangan dan pendidikan, manajemen dan sistem pendidikan Islam, dan lainnya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 96 Documents
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL ANTARORGANISASI ISLAM DALAM MEMBANGUN TOLERANSI SISWA DI SD ISLAM Rizqi Aulia Amania Saputri; Muh Hanif
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2026): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/ss41ze35

Abstract

Penelitian ini bertujuan melihat bagaimana pendidikan multikultural diterapkan untuk membangun toleransi di antara organisasi Islam di sekolah dasar Islam Karangjati. Pendekatan penelitian yang dipakai adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan lewat observasi, wawancara, dan dokumentasi dari kepala sekolah, guru PAI, dan siswa kelas IV. Penelitian ini berfokus pada cara mengajarkan nilai toleransi terkait perbedaan organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya melalui pembelajaran, budaya sekolah, dan kegiatan keagamaan bersama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural dilakukan dengan memasukkan nilai toleransi dalam pembelajaran, membiasakan sikap saling menghargai, serta mencontohkan sikap guru dalam perbedaan praktik ibadah. Selain itu, sekolah juga menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang menekankan ukhuwah Islamiyah dan persatuan tanpa membedakan organisasi siswa. Guru berperan sebagai agen sosialisasi utama yang sangat memengaruhi pembentukan sikap terbuka, menghargai perbedaan, dan mengurangi potensi konflik antar siswa. Dengan demikian, pendidikan multikultural di SD Islam berperan penting dalam membangun toleransi antarorganisasi Islam sejak dini secara berkelanjutan.
HAKIKAT PENCIPTAAN MANUSIA MELALUI DALIL AL-QUR’AN DAN HADIS SERTA INTEGRASI SAINS DAN SOSIAL Yola Ainul Hayati; Sel Pitriyani; Tri Rifni Rosita
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2026): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/03vdee47

Abstract

Hakikat dalam penciptaan manusia adalah tema yang krusial dalam Islam yang mengupas mengenai asal, makna, dan bagaimana fungsi manusia di dunia berdasarkan ajaran Al-Qur'an dan hadis. Artikel ini bertujuan untuk mengkajinya dalam sudut pandang Islam sekaligus mengaitkannya dengan adanya ilmu pengetahuan dan sosial. Pendekatan yang diterapkan yaitu kajian literatur melalui analisis deskriptif dengan mempelajari ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, serta referensi ilmiah yang relevan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan proses yang sistematis sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Mu9minun ayat 12-14, serta dianugerahi kemampuan berpikir, jiwa, serta fitrah untuk melaksanakan peran kita sebagai hamba dan wakil Tuhan di bumi. Hadis Nabi menegaskan pula faktor dalam penciptaan manusia dan pentingnya pembentukan moral serta tanggung jawab etika. Dari sudut pandang sains, perkembangan embrio manusia menunjukkan keselarasan dengan penuturan dalil yang terdapat dalam Al-Qur'an, yang mengindikasikan adanya hubungan yang harmonis antara wahyu dan pengetahuan. Selain itu, integrasi sosial terlihat sebagimana peran manusia sebagai individu yang sekaligus anggota masyarakat yang harus menjalin kehidupan sosial yang berlandaskan pada nilai keadilan, kepercayaan, dan kemanusiaan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hakikat penciptaan manusia tidak hanya meningkatkan keimanan, namun juga membentuk kesadaran ilmiah dan sosial dalam aktivitas sehari-hari. 
KESIAPAN GURU MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM MERDEKA BERBASIS PEMBELAJARAN MENDALAM: TELAAH LITERATUR TERHADAP KOMPETENSI, PEDAGOGI, DAN TANTANGAN PRAKTIK Ashabul Kahfi
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2026): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/94ym3888

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka berbasis pembelajaran mendalam (deep learning pedagogy) melalui pendekatan studi pustaka (library research). Kajian ini berfokus pada tiga aspek utama, yaitu kompetensi guru, praktik pedagogik, dan tantangan implementasi yang muncul dalam berbagai penelitian terdahulu. Data diperoleh dari berbagai literatur ilmiah nasional dan internasional yang relevan dalam rentang tahun 2020–2025, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dengan pendekatan tematik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka masih berada pada tahap berkembang dan belum merata. Kesiapan tersebut mencakup aspek pemahaman konseptual pembelajaran mendalam, kemampuan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, literasi digital, serta kemampuan reflektif dalam pembelajaran. Namun demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan pelatihan berkelanjutan, rendahnya literasi digital, beban administratif, keterbatasan sarana prasarana, serta belum optimalnya dukungan kelembagaan. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep kebijakan Kurikulum Merdeka dan praktik pembelajaran di sekolah. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka berbasis pembelajaran mendalam sangat ditentukan oleh transformasi kompetensi guru dan dukungan ekosistem pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pelatihan guru yang berkelanjutan, pengembangan komunitas belajar profesional, serta kebijakan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan implementasi di lapangan.
PEMIKIRAN IBN KHALDUN TENTANG ILMU, PERADABAN, PENDIDIKAN, DAN PEMBENTUKAN KARAKTER SOSIAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER Fahmi; Tazkiyatun Nafi’ah P; Ismail; Zahrah Nurkarimah
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2026): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/cm9p4325

Abstract

Pemikiran Ibn Khaldun merupakan salah satu khazanah intelektual Islam yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teori peradaban, pendidikan, dan pembentukan karakter sosial. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Ibn Khaldun tentang ilmu, peradaban, pendidikan, dan pembentukan karakter sosial serta mengkaji relevansinya dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif-analitis melalui telaah terhadap karya utama Ibn Khaldun, terutama al-Muqaddimah, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ibn Khaldun memandang ilmu sebagai instrumen penting bagi perkembangan peradaban yang diperoleh melalui integrasi antara akal, pengalaman empiris, dan wahyu. Pendidikan menurutnya diarahkan pada pembentukan malakah melalui proses pembelajaran yang bertahap, humanis, dan memperhatikan kesiapan intelektual peserta didik. Selain itu, konsep 'ashabiyyah dipandang sebagai landasan pembentukan karakter sosial yang mencakup solidaritas, tanggung jawab kolektif, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap nilai-nilai moral. Pemikiran tersebut memiliki relevansi yang signifikan dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan Islam kontemporer, khususnya terkait dikotomi ilmu, krisis karakter, melemahnya solidaritas sosial, dan kebutuhan akan pembangunan peradaban Islam yang berorientasi pada keseimbangan spiritual, intelektual, dan sosial.
SEJARAH DAN TOKOH TOTAL QUALITY MANAGEMENT SERTA IMPLIKASI DALAM KONTEKS PENDIDIKAN Ahmad Alamul Huda
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2026): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/dpvg9d71

Abstract

Total Quality Management (TQM) merupakan pendekatan manajemen yang menekankan perbaikan mutu secara berkelanjutan melalui keterlibatan seluruh komponen organisasi, kepemimpinan yang efektif, serta orientasi pada kepuasan pelanggan. Dalam bidang pendidikan, TQM menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan kualitas layanan, efektivitas tata kelola, dan daya saing lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah perkembangan Total Quality Management, menganalisis kontribusi tokoh-tokoh utama dalam pembentukan konsep TQM, serta menjelaskan implikasi penerapannya dalam konteks pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis terhadap buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik content analysis dengan tahapan reduksi data, kategorisasi, sintesis, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkembangan TQM dipengaruhi oleh pemikiran W. Edwards Deming, Joseph M. Juran, dan Philip B. Crosby yang menekankan perbaikan berkelanjutan, pengendalian mutu, keterlibatan seluruh anggota organisasi, dan budaya kualitas. Dalam konteks pendidikan, implementasi TQM berkontribusi terhadap penguatan kepemimpinan, pembangunan budaya mutu, peningkatan sistem penjaminan mutu, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Oleh karena itu, TQM tetap relevan sebagai paradigma manajemen dalam meningkatkan mutu dan keberlanjutan lembaga pendidikan pada era transformasi digital.
MENILAI VALIDITAS TAFSIR ILMIAH MELALUI TEORI  AL-DAKHĪL (TELAAH ATAS QS. AL-ANBIYA’/21: 30): (TELAAH ATAS QS. AL-ANBIYA’/21: 30) Nabilah Abdul Rahim; Muhammad Ulinnuha; Arrazy Hasyim; Ahmad Slamet Ibnu Syam; Achmad Saeful
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2026): alfikrah
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/mr3e8b80

Abstract

Tafsir ilmiah semakin memperkuat dialog antara Alquran dan ilmu pengetahuan modern melalui upaya menafsirkan ayat-ayat kauniyah berdasarkan teori-teori sains kontemporer. Salah satu ayat yang paling banyak diperdebatkan adalah QS. al-Anbiyā’/21:30, khususnya frasa kānatā ratqan fa-fataqnāhumā, yang sering dikaitkan dengan teori Big Bang. Namun, penafsiran tersebut menimbulkan persoalan metodologis mengenai legitimasi penggunaan teori ilmiah sebagai dasar dalam menentukan makna Alquran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat teoretis-filosofis. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi terhadap kitab-kitab tafsir klasik, karya-karya tafsir ilmiah kontemporer, serta literatur mengenai teori al-dakhīl fī al-tafsīr. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan teknik qualitative content analysis untuk menilai validitas metodologis penafsiran ilmiah. Penelitian ini menunjukkan bahwa makna leksikal ratq dan fatq dalam tafsir klasik mengacu pada konsep umum tentang penyatuan dan pemisahan tanpa secara eksplisit merujuk pada teori Big Bang. Pengaitan ayat tersebut dengan kosmologi modern merupakan hasil ijtihad interpretatif, bukan makna definitif yang dimaksud oleh Alquran. Penelitian ini juga merumuskan lima indikator metodologis untuk menilai validitas tafsir ilmiah, yaitu kesesuaian dengan makna kebahasaan, koherensi dengan konteks ayat, kesinambungan dengan tradisi tafsir, penempatan teori ilmiah sebagai instrumen konfirmatif, bukan penentu makna, serta pemeliharaan fungsi utama Alquran sebagai kitab petunjuk. Validitas tafsir ilmiah tidak ditentukan oleh tingkat kesesuaiannya dengan teori sains, melainkan oleh konsistensinya terhadap prinsip-prinsip metodologi tafsir Alquran. Teori al-dakhīl memberikan kerangka metodologis yang kritis untuk menjaga keseimbangan antara otoritas wahyu dan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga dialog antara Alquran dan sains tetap berlangsung dalam koridor metodologi tafsir yang benar.

Page 10 of 10 | Total Record : 96