cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka (Journal of Radioisotopes and Radiopharmaceuticals) bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang radioisotop, radiofarmaka dan bidang terkait, yang diwujudkan dalam bentuk makalah ilmiah hasil penelitian atau tinjauan dan gagasan.
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
TEKNIK MEMVARIASI ENERGI BERKAS PROTON DARIAKSELERATORENERGITETAP MENGGUNAKAN DEGRADER ALUMINIUM Suryanto, Hari; Silakhuddin, Silakhuddin
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 1, No 2 (1998): JURNAL PRR 1998
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2761.67 KB)

Abstract

TEKNIK MEMVARIASI ENERGI BERKAS PROTON DARI AKSELERATOR ENERGI TETAP MENGGUNAKAN DEGRADER ALUMINIUM. Telah dilakukan eksperimen untuk memvariasi energi berkas proton dari akselerator berenergi tetap (fixed energy) dengan cara menurunkan energi berkas proton tersebut. Penurunan energi ini dilakukan dengan memasang degrader aluminium. Prinsip dasar yang digunakan adalah penyerapan energi berkas oleh material. Dengan menggunakan formulasi jangkauan proton dalam bahan dan data stopping power aluminium untuk partikel proton maka ketebalan aluminium untuk tiap-tiap energi keluaran yang dikehendaki dapat ditentukan. Sistem degrader ini telah disiapkan untuk memvariasi berkas proton dari energi 25,6 MeV menjadi berturut-turut 11, 12, 15, 17 dan 19 MeV. Energi-energi proton tersebut diperlukan untuk pembuatan radioisotop-radioisotop PET maupun untuk keperluan aktivasi lapisan tipis dalam pengujian korosi dan keausan bahan-bahan metal. Fungsi degrader dalam menurunkan energi berkas diuji dengan mengukur energi berkas setelah menembus degrader dengan menggunakan metode aktivasi susunan foil tembaga pada energi keluaran 11, 15 dan 19 MeV. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya kesesuaian antara perhitungan dan pengukuran. Efek degrader terhadap kualitas dan kuantitas berkas diteliti dengan mengamati profil dan intensitas berkas, dan diperoleh sudut sebaran berkas sebesar 2,50 untuk ketebalan degrader maksimum dan penurunan intensitas berkas rata-rata sebesar 10%. TECHNIQUE TO VARY PROTON BEAM ENERGY OF A FIXED ENERGY ACCELERATOR USING ALUMINIUM DEGRADER. Various proton beam energies lower than currently available 25.6 MeV fixed energy are required for the production of PET radioisotopes and for the thin layer activation technique in wear and corrosion determination. Experiment to produce variouse proton beam energy from a fixed energy accelerator was carried out. The technique involved aluminium of various thickness which degraded the proton beam energy based on energy absorption by the material. Using the range formulation of proton beam in material and aluminum stopping power data for proton particle, the thickness of the aluminum degrader was determined for required energy output. Degrader system have been prepared for energy reduction from 25.6 MeV to 11,12,15,17 and 19 MeV, respectively. The degrader system was tested by measuring the energy output by stacked foils method, The measured energy output and the theoritical output was whitin ± 2.24 % agreement. The effects of degrader system on the beam quality and quantity were observed by measuring the profile and the beam intensity after degrader. The measurements showed 2.5 degrees of maximum beam convergency and 10% in average reduction of beam intensity.
PREPARASI TARGET PADAT TELURIUM UNTUK PEMBUATAN RADIOISOTOP 123I Sarwono, Daya Agung; Amiruddin, Cahyana; Widyaningrum, Triani; Triyanto, Triyanto
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 15, No 2 (2012): JURNAL PRR 2012
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4307.536 KB)

Abstract

ABSTRAKPREPARASI TARGET PADAT TELURIUM UNTUK PEMBUATAN RADIOISOTOP 1231.Radioisotop lodium-123 (1231)da~at digunakan sebagai bahan sediaan radiofarmaka untuk pencitraan denganalat SPECT. Hal ini disebabkan 231 memancarkan sinar gamma dengan energi 159 keY dengan waktu paro(t1/2) 13,2 jam. Radioisotop 123 1 dapat dibuat dari bahan sasaran berupa lapisan tipis target padat telurium(Te), kemudian, diradiasi menggunakan siklotron. Salah satu teknologi untuk pembuatan lapisan tipis targetpadat Te adalah elektroplating. Untuk pembuatan lapisan tipis target padat telurium secara elekroplatingpada keping Cu diperlukan lapisan logam sebagai interface. Hal ini disebabkan logam telurium tidak dapatmenempel secara langsung pada keping Cu. Bahan yang dapat dipakai sebagai interface adalah logam nikelsebagai lapisan perekat antara keping Cu dengan target telurium. Tujuan dari kegiatan ini adalah untukmencari kondisi yang optimal elektroplating nikel dalam keping Cu dan elektroplating telurium dalamkeping Cu yang telah dilapisi nikel. Elektroplating nikel dilakukan pada variasi kuat arus dalam suasanaasam (pH 4) dan suasana basa (pH 10) sedangkan elektroplating telurium dilakukan dengan variasi kuat arusdalam suasana basa (pH 10). Dari hasil kegiatan diperoleh bahwa elektroplating nikel pada kuat arus 200 mAdalam suasana asam (pH 4) memberikan hasil yang optimal dengan efisiensi sebesar 88,86%. Elektroplatingtelurium pada kuat arus 100 mA pada suasana basa (pH 10) memberikan hasil yang optimal. Teluriummelekat kuat pada keping Cu yang telah dilapisi nikel dengan hasil yang halus dan rata serta efisiensiterbesar 56,97 %.Kata kunci : lodium-123, target padat telurium, elektroplating.ABSTRACTPREPARATION OF TELLURIUM SOLID TARGET FOR 1231 RADIOISOTOPEPRODUCTION. Radioisotope of iodine-123 (1231) can be used in a radiopharmaceutical preparation forSPECT imaging. 1231emits positron, gamma rays 159 keY with half-life 13.2 hour. Radioisotope 1231 can bemade by cyclotron irradiation from a thin layer of tellurium (Te) solid targets. One of the methods forpreparation of thin layers of solid targets Te is electroplating. A thin layer of solid material is required on theCu metal surface as an interface, since the tellurium can not be attached directly to the Cu. Materials that canbe used as an interface is nickel metal, as an adhesive layer between Cu and tellurium. The purpose of thisexperiments is to fmd the optimal conditions in the nickel electroplating on Cu and tellurium electroplatingon Cu surface coated with nickel. Nickel electroplating was performed in acid (pH 4) and alkaline (pH10) with electric current variation. Electroplating of tellurium was performed on current variation underalkaline (pH 10). The results showed that nickel with currents of 200 mA under acidic (pH 4) providedoptimal results with an efficiency of 88.86%. Tellurium electroplating with 100 mA of electric current inalkaline conditions (pH 10) provided optimal results. Tellurium is strongly attached to the Cu coated withnickel. The electroplated Te is smooth and flat with the greatest efficiency of 56.97%.Key-words: lodine-123, tellurium solid target, electroplating
KARAKTERISTIK DAN UJI KLINIS RADIOFARMAKA 99mTc-L,L-EC UNTUK SIDIK FUNGSI GINJAL Kartini, Nanny; Kustiwa, Kustiwa; Sukendar, Rd.; I., Epy
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 5, No 1/2 (2002): JURNAL PRR 2002
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4721.626 KB)

Abstract

ABSTRAK KARAKTERISTIK DAN UJI KLINIS RADIOFARMAKA 99mTc-L,L-EC UNTUK SIDIK FUNGSI GINJAL Telah diperoleh formula yang ideal bagi radiofarmaka L,L-EC yang terdiri dari 1 mg ligan L,L-EC (etil disistein), 36 mg Na2HP04.2H20, 15 mg manitol dan 0,2 mgSnCl2 .2H20. Kit-kering radiofarmaka tersebut dikemas dalam 2 buah vial. Hasil percobaan menunjukkan bahwa radiofarmaka 99mTc L, L-EC mempunyai karakteristik sebagai berikut : kemumian radiokimia > 95%, sangat hidrofilik dengan 1/P = 3797 (log 1/P = 3,6), bermuatan negatif (anion), ikatan dengan protein plasma sebesar 63,3 ± 3,4 % dan tidak toksik. Dengan menggunakan 99mTc-perteknetat sebesar 50 mCi, dan volume akhir 5 mL, radiofarmaka 99mTc-L,L-EC yang dihasilkan masih tetap stabil setelah disimpan selama 5 jam pada temperatur kamar. Dalam bentuk kit-kering, radiofarmaka ini masih tetap baik dan stabil sampai dengan 6 bulan penyimpanan pada 4 DC. Hasil uji klinis yang dilakukan terhadap volunter dengan ginjal normal dan tidak normal, membuktikan bahwa radiofarmaka 99mTc-L,L-EC dapat digunakan untuk studi fungsi ginjal sebagai pengganti 131I_orto iodo hipurat (131I-hipuran). Kata kunci : radiofarmaka, etil disistein (EC) , fungsi ginjal, teknesium. ABSTRACT CHARACTERISTICS AND CLINICAL STUDY OF 99mTc-L,L-EC RADIOPHARMACEUTICAL FOR RENAL FUNCTION IMAGING. The ideal formula of L,L-:EC  radiopharmaceutical has been obtained, which was consist of 1 mg of L,L-EC (L,L-ethyl di cystein ) ligand,36 mg of Na2HP04.2H20, 15 mg of manitol and 0,2 mg of SnCl2.2H20. The dried kit of this radiopharmaceutical was desained in two vials. The results shows that 99mTc-L,L-EC radiopharmaceutical has the characteristics as follows: radiochemical purity more than 95 %, most hydrophilic with 1/P = 3797 (log 1/P = 3.6), in the negative ion form (anion), plasma protein binding was 63.3 ± 3.4 % and it was nontoxic. The results shows that using 50 mCi of 99mTc-pertechnetate with the final volume of 5 mL, after 5 hours storage at room temperature 99mTc-L,L-EC was still stable. In the dried kit form, it was remained stable 6 mounths of storage at 4 DC. The results of clinical study to the volunteer having normal and abnormal renal show that this radiopharmaceutical can be used for renal function study as the replacement of 131I-ortho iodo hippuric acid (OIH). Key words: radiopharmaceuticals, ethyl dicystein (EC), renal function, tecnnetium.  
RADIOFARMAKA BERBASIS ANTIBODI Widyastuti, Widyastuti
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 10 (2007): JURNAL PRR 2007
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.766 KB)

Abstract

RADIOFARMAKA BERBASIS ANTIBODI. Antibodi adalah senyawa biologis yang merupakan bagian dari sistim kekebalan tubuh. Karena molekul antibodi selalu terakumulasi di tempat terjadinya radang, infeksi, tumor dan keadaan dimana terdapat benda asing yang harus dieliminasi dari dalam tubuh, maka memungkinkan dilakukan pengembangan radiofarmaka berbasis antibodi untuk diagnosis infeksi dan inflamasi maupun untuk terapi kanker. Antibodi dapat dilabel dengan radionuklida melalui metoda secara langsung dan tidak langsung, dilanjutkan dengan analisis hasil pelabelan yang meliputi karakterisasi keutuhan molekul antibodi, analisis kemurnian radiokimia, uji stabilitas in vitro dan uji imunoreaktivitas. Antibodi berlabel radionuklida sebelum diuji pada manusia harus diuji-coba pada hewan percobaan baik yang normal maupun yang diinduksi infeksi/tumor. Kata kunci: antibodi, radiofarmaka, terapi ANTIBODY BASED RADIOPHARMACEUTICALS. Antibody is a biological compound as a part of immunity system. Antibody molecules accumulate in the sites of inflammation, infection, tumors and in the area where foreign substance exists which should be eliminated from the body, therefore it is possible to develop radiopharmaceuticals based on antibody for diagnosis of infection and inflammation and therapy of cancer. Antibody could be labeled with radionuclides using direct and indirect methods, followed by analysis which comprises characterization of the integrity of antibody molecules, radiochemical purity, in-vitro stability and immunoreactivity. Radiolabeled antibody prior to patients study should undergo preclinical study on experimental animals, both in normal and infection/tumor induced ones. Keywords: antibody, radiopharmaceutical, therapy.
PREDIKSI SECARA TEORI AKTIVITAS 18 F DARI HASIL REAKSI 18 O(p,n) 18 F PADA BEBERAPA SIKLOTRON MEDIK Suryanto, Hari
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 16, No 1 (2013): JURNAL PRR 2013
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1311.842 KB)

Abstract

ABSTRAKPREDIKSI SECARA TEORI AKTIVITAS18F DARI HASIL REAKSI18O(p,n)18F PADABEBERAPA SIKLOTRON MEDIK.Telah dilakukan perhitungan secara teori untuk menentukankapasitas produksi18F dari hasil reaksi18O(p,n)18F dari beberapa siklotron medik. Siklotron medik (babycyclotron) yang dimaksud disini adalah siklotron yang mempunyai jangkauan energi antara 7,5 MeV sampaidengan 18 MeV. Hasil yang diperoleh dari perhitungan tersebut diharapkan dapat digunakan untukmemprediksi aktivitas18FDG(2-18F fluoro-2-deoxy-d-glucose) yang akan dihasilkan. Disamping itu jugadiharapkan dapat digunakan sebagai gambaran awal bagi calon pengguna siklotron dalam memilih siklotronsesuai dengan kapasitas produksi yang diperlukan. Dari perhitungan yang diperoleh, kapasitas produksi18Fdari reaksi18O(p,n)18F yang terbesar adalah yang dihasilkan dari siklotron yang mempunyai energi berkasproton sebesar 18 MeV. Besarnya aktivitas18F yang diperoleh sekitar 2.900 mCi untuk arus berkas 40 Adan lama iradiasi 1 jam. Sedang untuk siklotron yang mempunyai energi berkas berturut-turut 13 MeV, 11MeV, 10 MeV, 9 MeV dan 7,5 MeV untuk kondisi operasi siklotron yang sama, mempunyai kapasitasproduksi sebesar berturut-turut sekitar   2.300 mCi, 2.000 mCi, 1.800 mCi, 1.600 mCi dan 1.200 mCi atauberturut-turut sekitar 80%, 70%, 61%, 55% dan 41% bila dibandingkan dengan kapasitas produksi darisiklotron yang mempunyai energi berkas proton 18 MeV.Kata kunci: Siklotron, Kapasitas produksi18FABSTRACTTHE THEORETICAL  PREDICTION OF18F ACTIVITY FROM THE REACTION  OF18O (p, n)18F FOR SOME MEDICAL CYCLOTRONS.The theoretical calculations to determine the productioncapacity of18F from the reaction of18O (p, n)18F for some medical cyclotrons have been carried out. Themedical cyclotron (baby cyclotrons) were meant here is the cyclotron which has the energy range between7.5 MeV to 18 MeV. The results of these calculations are expected to be used for predict the resulted activityof18FDG(2-18F fluoro-2-deoxy-d-glucose). In addition, the results of these calculations is also expected to beused as an initial overview for prospective users to choose the cyclotron in accordance with the requiredproduction capacity.  From the calculation  obtained that the biggest production capacity of18F from thereaction of18O (p, n)18F is generated by the cyclotron which has proton beam energy of 18 MeV. Theamount of18F activity which obtained is abaut 2,900 mCi for the  proton beam current of 40 A and theirradiation time of 1 hour. While for the cyclotron which has the proton beam energy of 13 MeV, 11 MeV,10 MeV, 9 MeV and 7.5 MeV respectively,  for the same operating conditions, has a18F production capacityof about 2,300 mCi, 2000 mCi, 1,800 mCi, 1,600 mCi and 1,200 mCi  respectively, or about 80%, 70%,61%, 55% and 41% respectively, compared with the production capacity of the cyclotron which has protonbeam energy of 18 MeV.Keywords: Cyclotron,18F production capacity
PERHITUNGAN PEMBUATAN KADMIUM-I09 UNTUK SUMBER RADIASI XRF MENGGUNAKAN TARGET KADMIUM DIPERKAYA DI REAKTOR G.A. SIWABESSY Awaludin, Rohadi
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 14, No 1 (2011): Jurnal PRR 2011
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPERHITUNGAN PEMBUATAN KADMIUM-I09 UNTUK SUMBER RADIASI XRFMENGGUNAKAN TARGET KADMIUM DIPERKAYA DI REAKTOR G.A. SIWABESSY.Radioisotop kadmium-l09  merupakan  salah  satu  sumber  radiasi  yang  digunakan pada  X-ray  fluorescence (XRF)  dengan  radioaktivitas bervariasi antara 3,7 MBq - 37 GBq. Perhitungan pembuatan sumber radiasi kadmium-l09 untuk XRF melalui aktivasi neutron telah dilakukan menggunakan sasaran kadmium diperkaya di Central Irradia tion  Position (CIP)  reaktor  G.A. Siwabessy.  Pada  perhitungan  ini digunakan target kadmium diperkaya   dengan  pengayaan  Cd-l08   sebesar  70%,  berbentuk silinder dengan   diameter  2,8 mm  dan  panjang  2,8 mm. Hasil  perhitungan  menunjukkan bahwa  I09Cd dengan radioaktivitas 1,378 GBq  dapat  dihasilkan pada  saat end   of irradiation (EOI) dengan waktu iradiasi  selama  12 hari. Radioisotop  lain  yang  turut dihasilkan dalam iradiasi ini berupa I07Cd, 115mCd,115Cd,117mCddan 117C dengan radioaktivitas saat EOI masing-masing  sebesar  377 MBq, 53,0 MBq,  2535  MBq, 113 MBq dan 56,5 MBq. Setelah satu  bulan, r adioisotop  pengotor  yang  masih  menyisa adalah  115  mCd.  Untuk   mendapatkan  radioaktivitas  I09Cd   dengan   kemumian radionuklida   99,0 %   diperlukan   waktu   peluruhan   selama   3,2  bulan.  Radioaktivitas  I09Cd meluruh  menjadi  1,193  GBq  setelah  peluruhan selama waktu tersebut.Kata kunci: kadmium-109, XRF, aktivasi neutron.Cadmium109 is used as a radiation source in the X-ray fluorescence (XRF) with radio-activity varies  3.7 MBq - 37 GBq. Calculation for production of   the source by neutron activation at G.A. Siwabessy Reactor using enriched cadmium has been carried out. An enriched cadmium cylinder with diameter 2.8 mm and length 2.8 mm was used in the calculation. Calculation  results  showed  that '09Cd  with  radioactivity  1.378 GBq was obtained at the end of irradiation (EOI)  for 12 days  of  irradiation. Radioisotopes  of '07 Cd,  "5m Cd, "5 Cd, "7m Cd  and  117 Cd  were  produced  in  the  iradiation  with radioactivity 377 MBq, 53.0 MBq, 2535 MBq, 113 MBq and 56.5 MBq respectively. After a month, radioisotope of "5mCd still remained in the irradiated cadmium. For  obtain- ing radionuclide purity of I09Cd higher than 99.0%, the irradiated cadmium should be decayed  for  3.2 months. Radioactivity  of  I09Cdwas 1.193 GBq after 3.2 months  of decay.Key words: cadmium-l 09, XRF, neutron activation.
PEMISAHAN Mn-54 DARI HASIL IRADIASI Fe2O3 ALAM MENGGUNAKAN RESIN PENUKAR ANION Pujiyanto, Anung; Hambali, .; Kurniasih, Dede; Endang, .; Mujinah, .
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 8 (2005): JURNAL PRR 2005
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.108 KB)

Abstract

PEMISAHAN Mn-54 DARI HASIL IRADIASI Fe2O3ALAM MENGGUNAKAN RESIN PENUKAR ANION. Pembuatan radioisotop dari iradiasi target alam mempunyai keuntungan yaitu biaya produksi lebih murah, namun radioisotop yang dihasilkan mungkin mengandung radionuklida pengotor. Pembuatan Mn-54 dari iradiasi Fe2O3 alam mempunyai masalah yaitu dihasilkan juga radioisotop Fe-59. Pemisahan Mn-54 dari iradiasi Fe2O3 alam dapat dilakukan dengan melarutkan Fe2O3 alam dengan HCl kemudian hasil pelarutan dipisahkan dengan dowex 1x 8Cl- form. Telah dilakukan proses pemisahan Mn-54 dari Fe2O3 alam yang telah diiradiasi, dengan cara melarutkan Fe2O3 alam dengan HCl kemudian hasil pelarutan dipisahkan dengan dowex 1x 8Cl- form dengan variasi waktu kontak dan kosentrasi HCl yang berbeda. Hasil pemisahan Mn-54 dari hasil iradiasi Fe2O3 menunjukkan pada konsentrasi HCl 8 N dan waktu kontak 90 menit memberikan efisiensi pemisahan yang baik yaitu 7,55 % untuk Mn-54 dan 94,13% untuk Fe-59. Kata kunci:Pemisahan, Mn-54, resin penukar anion SEPARATION of Mn-54 FROM IRRADIATED NATURAL Fe2O3 USING ANION EXCHANGE RESIN. Preparation of radiosisotope from natural target has an advantage namely the production is cheaper, but the produced radioisotope may content radionuclidic impurities. Preparation of Mn-54 from irradiated natural Fe2O3 has a problem due to Fe-59 impurity . The separation of Mn-54 from irradiated natural Fe2O3 has been carried out by means of solving irradiated target using HCl and dowex resin 1 x 8 Cl form. The separation of Mn-54 from iradiated natural Fe2O3 showed a good result by 8 N HCl concentration and 90 minute contact time and efficiency was 7,55 % Mn-54 and 94,13 % for Fe-59. Key words: Separation, Mn-54 , anion exchange resin
PENANDAAN DAN UJI KUALITAS SENYAWA PROGESTERON -11-alpha-­HIDROKSI HEMISUKSINAT I-125 Dj., Sukiyati; H., Adria
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 4, No 1,2 (2001): JURNAL PRR 2001
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3248.741 KB)

Abstract

PENANDAAN DAN UJI KUALITAS PROGESTERON-11-α-HIDROKSI HEMISUKSINAT 125I. Progesteron adalah hormon steroid yang disekresi oleh korpus luteum dan korteks adrenalin dari kelenjar hipofisa. Hormon tersebut dapat digunakan untuk memonitor kehamilan atau menentukan kesuburan pada wanita atau hewan. Penandaan hormon Progesteron dengan 125I dilakukan untuk pembuatan "tracer" pada Kit Progesteron-125I untuk menentukan kadar Progesteron dalam darah atau susu pada hewan. Percobaan iodinasi progesteron menggunakan derivatnya progesteron-11-α-hidroksi hemisuksinat telah dilakukan. Penandaan dilakukan secara bertahap. Pertama dilakukan aktifasi derivat progesteron menggunakan N-metil morfolin dan isobutil kloroformat, berikutnya iodinasi histamin menggunakan oksidator kloramin T dan terakhir konjugasi histamin bertanda 125I pada derivat progesteron yang sudah diaktivasi. Hasil penandaan dimurnikan dengan HPLC. Kemurnian radiokimianya ditentukan dengan elektroforesa. Imunoreaktifitasnya ditentukan dengan menentukan ikatan maksimum dan nilai "non specific binding"(NSB). Hasil penandaan progesteron-11-α-hidroksi hemisuksinat dengan rendemen 22.15% , kemurnian radiokimia 92.30% dan radioimunoreaktifitas dengan ikatan maksimum 51% ( untuk standar 0) serta NSB 0.67% (kurang dari 1%). Aktifitas jenis yang diperoleh 7.72 Ci/g. Validasi "tracer" dilakukan dengan menentukan 3 sera kontrol (QC sera) progesteron untuk nilai QC sera rendah (L) 2.72 ± 0,49 nmol/L ( 1.2 - 2.5 nmol/L), sedang (M) 11.33 ± 1,15 nmol/L (6 - 15 nmol/L) dan tinggi (H) 15.95 ± 5.32 nmol/L (10 - 23 nmol/L)(Tabel 1.). Dari penentuan sensitifitas "assays" memberikan nilai (0.70 ± 0.024) nmol/L. LABELLING AND VALIDATION OF PROGESTERONE-11-α-HIDROXY HEMISUCCINATE (125I). Progesterone is a steroid hormone secreted by the corpus luteum and the adrenal cortex in the hypophise gland. The hormone can be used for monitoring pregnancy and even more for the assessment of the corpus luteum in fertile woman (4). The labelling of progesterone with 125I was carried out for tracer production in the preparation of Progesterone Kit used in the determination of the progesteron in serum and cattle milk. Iodination of progesterone-11-α-hidroxy hemisuccinate as a progesterone derivate has been done. The labelling was carried out in two steps reaction. First the progesterone derivate was activeted using N- methyl morpholine and isobutylchloroformate. The second step was performed by conjugating the labelled 125I Histamin to the activated progesterone derivate. The labelled compound was purified with HPLC followed with the determination of the chemical purity using electrophoresis, the immunoreactivity controlled with the maximum binding of the zero standard and the non specific binding using the Progesterone Kit. Experimental results showed that the iodination of Progesterone-11-α-hidroxy hemisuccinate (125I) yield 22.15%, chemical purity 92.30 %, the radioimmunoreactivity 51% as maximum binding (for zero standard), with NSB 0.67%, and the specific activity obtained 7.72 Ci/g. Validation of the tracer using controls (low, medium and high) shows the results as follows : (2.72 ± 0.49) nmol/L for low standard and control (1.2 - 2.5 nmol/L), (11.33 ± 1.15) nmol/L for medium standard and control (6 - 15 nmol) and (15.95 ± 5.32) nmol/L for high standard and control (10 - 23 nmol/L). The sensitivity of the assay was (0.70 ± 0.024 nmol/L) for zero standard.
PREPARASI RADIOFARMAKA 99mTc-DTPA-INH UNTUK DIAGNOSIS TUBERKULOSIS Hamdani, Eki Mustofa; Pujianto, Anung; Muthalib, Abdul; Rukiah, Rukiah
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 14, No 1 (2011): Jurnal PRR 2011
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2560.886 KB)

Abstract

ABSTRAKPENYIAP AN DAN KARAKTERISASI SENY AWA KOMPLEKS RHENIUMMENGANDUNG LIGAN ASETILASETON.Kanker hati merupakan penyebab kematian terbesar. Nijsendkk telah berhasil menerapkan mikrosfer asam(L- poli laktat) atau PLLA yang mengandung 166Hountukterapi kallker hati. Sebelum digabungkan dengan PLLA, logam holmium dibentuk senyawa kompleksholmium tris-asetilasetonat (Ho(acac), ) terlebih dahulu sebagai prekursor. Mengacu pada percobaantersebut, ada kemungkinan yang cukup besar untuk menerapkan mikrosfer PLLA yang mengandung 186Redalam terapi kanker hati. Penelitian ini bertujuan untuk menyiapkan dan mengkarakterisasi senyawakompleks renium yang mengandung ligan asetilaseton. Tahap pertama adalah penyiapan senyawa kompleksdikloro( etoksiokso )bis(trifenilfosfin)renium(V) dan tahap berikutnya adalah penyiapan senyawa komplekskloroetoksi(pentana-2,4-dionato )bis(trifenilfosfin)renium(III). Karakterisasi senyawa tersebut dilakukanmenggunakan spektrofotometer UV-sinar tampak, spektrofotometer IR dan LCMS. Hasil karakterisasimenunjukkan bahwa terbentuk senyawa kompleks kloroetoksi(pentana-2,4dionato)bis(trifenilfosfin)renium(III) sebanyak 8,8% (44 mg) dengan Mr yang terlihat dari hasil spektrummassa (MS) sebesar 891 (C, 57,9%; P, 7%; 0, 5,4%; CI, 4%; H, 4,8%; Re, 20,9%). Hasil LCmemperlihatkan adanya tiga puncak, menunjukkan bahwa senyawa hasil tersebut tidak mumi. Uji kestabilansenyawa kompleks dengan spektrofotometer UV memperlihatkan senyawa kompleks masih stabil selamalima hari.Kata kunci: rhenium, asetilaseton, holmium-166.ABSTRACTPREPARATION AND CHARACTERIZATION OF RHENIUM COMPLEX COMPOUNDCONT AINING ACETILACETONE LIGAND. Liver cancer is the leading cause of death. Nijsen et.al.have been successfully applied poly (L-lactic acid) micro spheres or PLLA containing 166Hofor liver cancertherapy. Before combined with PLLA, holmium metal complex compounds fom1ed tris-asetilasetonatholmium (Ho(acac)3) first as a precursor. Referred to the experiment, there are considerable possibilities forimplementing the PLLA microspheres containing 186Rein liver cancer therapy. This research is being donein order to prepare and characterize rhenium complexes containing acetylacetone ligand. The first step is thepreparation of dichloro(etoksiokso)bis (triphenylphosphine)rhenium(V) compounds and the next step is thepreparati on of chloroetoksi(pentane-2,4-dionato )bis( tri phenylphosphine )rheni um(III) compounds.Characterization of these compounds was carried out using UV -visible spectrophotometer, IRspectrophotometer, and LCMS. The characterization results showed the formation of rhenium complexescontaining ligands chloroetoksi(pentane-2,4-dionato )bis(triphenylphosphine)rhenium(III) of 8.8% (44 mg)with Mr of 891 as observed in the mass spectrum (MS) (C, 57,9%; P, 7%; 0, 5,4%; CI, 4%; H, 4,8%; Re,20,9%). The Results of LC showed the presence of three peaks, showing that the compounds were not pure.The result of UV-visible showed that the complex compound was still stable for five days.Keywords: rhenium, acetylacetone, holmium-166
BIODISTRIBUSI RADIOFARMAKA 99mTc(V)-DMSA Z., Nurlaila; Suminar, Mimin Ratna; Iswahyudi, Iswahyudi
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 2, No 1/2 (1999): JURNAL PRR 1999
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2834.275 KB)

Abstract

BIODISTRIBUSI RADIOFARMAKA 99mTc(V)-DMSA. Telah dilakukan pengamatan biodistribusi radiofarmaka 99mTc(V)-DMSA pada hewan percobaan tikus putih. Uji biodistribusi menunjukkan bahwa penimbunan aktivitas pada ginjal relatif kecil (3,8 ± 0,4 %) dibandingkan dengan radiofarmaka 99mTc(lV)-DMSA (22,3 ± 0,2 %) pada selang waktu 30 menit setelah penyuntikan secara intra vena. Penimbunan aktivitas terjadi juga pada kulit, tulang dan paru-paru. Radiofarmaka 99mTc(V)-DMSA mempunyai waktu clearance darah yang cepat, dalam waktu 30 menit setelah penyuntikan, aktivitas 99mTc(V)-DMSA hanya tinggal 1,2 ± 0,6 % per gram darah. Sebagian besar radiofarmaka 99mTc(V)-DMSA diekresikan melalui urine dengan aktivitas di dalam urine tinggal 2,6 ± 1,6 % per mL urine dalam waktu 24 jam setelah penyuntikan. BIODISTRIBUTION OF 99mTc(V)-DMSA RADIOPHARMACEUTICAL. Study of biodistribution of 99mTc(V)-DMSA radiopharmaceutical in normal white rat has been carried out. Biodistribution showed a smaller activity accumulation per gram renal (3,8 ± 0,4 %), in comparison to that 99mTc(lV)-DMSA (22,3 ± 0,2 %) at 30 minutes after intra venous injection. Also, the accumulation of activity was apparent in skin, bone and lung. Since 99mTc(V)-DMSA has a short blood clearance time, 1,2 ± 0,6 % of 99m(V)-DMSA activity remained in the blood after 30 minutes from the injection. The mayor route of excretion was via the urine, within 24 hours after injection, 99mTc(V)-DMSA was 2,6 ± 1,6 % of the activity per mL urine.

Page 9 of 11 | Total Record : 102