cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 277 Documents
THE REPRESENTATION OF PATRIARCHAL IDEOLOGIES IN THE SHORT STORY “DAUGHTER OF THE BOOK” BY DAHLIA ADLER Aura Hilda Haryono
MABASAN Vol. 18 No. 2 (2024): Mabasan 18 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v18i2.894

Abstract

Literature represents and portrays variations in many aspects of life. It is a cultural product, meaning it comes from a process that aims to represent socio-cultural reality in a certain place and shows how literature and society are connected. Since it mirrors phenomena in real life, literature has many stories that relate to the community, including gender inequalities. Gender inequalities come from norms, values, stereotypes, structures, and systems that still believe that men should be ahead of women, allowing discrimination toward women. The idea that men are better than women are called patriarchal ideology. This article purposes to examine the patriarchal ideologies that Rebekah needs to deal with as a woman in the story “Daughter of the Book” by Dahlia Adler. To analyze the patriarchal ideologies in the story, the writer uses qualitative research to understand on the social phenomenon which happens in the society. The writer finds out three patriarchal ideologies found in the story. They are the “cult of ‘true womanhood’”, traditional gender role, and the objectification of women which exist in the society of Rebekah’s place.
MAKNA KONTEKSTUAL DALAM FILM BUDI PEKERTI (KAJIAN SEMANTIK) Monica Septya Kartika Candra; Iwan Marwan
MABASAN Vol. 18 No. 2 (2024): Mabasan 18 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v18i2.898

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui makna kontekstual dalam film Budi Pekerti dan menemukan teori belajar yang divisualisasikan dalam film. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Analisis dilakukan terhadap dialog-dialog dalam film Budi Pekerti. Teori yang menjadi dasar analisis dalam penelirian ini adalah teori semantik terkait makna kontekstual dengan perspektif Firth dalam Palmer yang dikembangkan oleh Mansoer Pateda. Data yang dianalsisi adalah dialog-dialog tokoh yang diyakini memiliki makna kontekstual dan mengandung visualisasi pendekatan pembelajaran dalam pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan adanya konteks orangan, konteks situasi, konteks objek pembicaraan, konteks tujuan, konteks waktu, dan konteks tempat. Konteks-konteks tersebut kemudian memunculkan teori belajar yang divisualisasikan dalam film Budi Pekerti. Teori belajar belajar yang dimaksud adalah teori konstruktivisme dan teori belajar sosial.
Sampul Depan: Sampul Depan Mabasan 18 (1) Tahun 2024 Jurnal Mabasan
MABASAN Vol. 18 No. 1 (2024): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v18i1.929

Abstract

PERLUASAN MAKNA KATA “VIRAL” DALAM TEKS BERBASIS KORPUS LCC INDONESIA 2023 DI CQPWEB Nikmatus Sholikhah; Ni Gusti Ayu Roselani
MABASAN Vol. 18 No. 2 (2024): Mabasan 18 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v18i2.934

Abstract

Perkembangan ilmu dan teknologi diiringi oleh perkembangan bahasa yang ditunjukkan dengan munculya istilah baru atau konsep perubahan makna pada kata yang sudah ada sebelumnya. Salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang mengalami perubahan makna secara meluas adalah kata “viral”, sebuah istilah yang saat ini akrab digunakan di era media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perluasan makna kata “viral” dalam teks berbasis korpus pada rentang waktu tahun 2008 hingga 2022. Data penelitian diambil dari web korpus CQPWeb pada subkategori LCC Indonesia 2023 yang kemudian dianalisis berdasarkan teori perluasan makna secara semantik. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis korpus dan didukung data kuantitatif berupa angka frekuensi untuk menganalisis jumlah kemunculan kata “viral” sepanjang periode yang ditentukan. Hasil analisis melalui fitur konkordansi dan kolokasi menunjukkan bahwa kata “viral” telah mengalami perluasan makna. Pada tahun 2008–2015, makna kata “viral” merujuk pada segala sesuatu yang berkaitan dengan virus, yakni jumlah virus di dalam darah atau cairan tubuh, tes untuk mengidentifikasi jumlah virus, dan beberapa jenis virus seperti HIV serta Hepatitis. Pada tahun 2011, terjadi gejala perluasan makna dengan digunakannya istilah viral marketing yang bermakna sebagai strategi pemasaran viral. Kemudian, pada tahun 2016–2022, penggunaan kata “viral” mengalami perluasan konteks dan makna karena secara dominan digunakan untuk mendeskripsikan suatu fenomena yang menyebar dengan cepat, luas, dan menjadi perbincangan hangat dalam konteks media sosial. Pada periode tersebut, makna kata “viral” banyak dikaitkan dengan populernya konten video atau lagu di media sosial, khsususnya TikTok. Perluasan makna itu memperlihatkan evolusi kata “viral” dari konteks kesehatan ke konteks digital yang berkaitan dengan media sosial.
LEKSIKON FLORA DAN FAUNA DALAM UNGKAPAN BAHASA BIMA: KAJIAN EKOLINGUISTIK M. Busairi
MABASAN Vol. 18 No. 2 (2024): Mabasan 18 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v18i2.955

Abstract

Bahasa Bima merupakan salah satu kekayaan bahasa daerah di Indonesia yang dituturkan oleh masyarakat Bima unjung timur Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan mengkaji leksikon flora dan fauna dalam ungkapan bahasa Bima menggunakan kajian ekolinguistik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan makna dan fungsi leksikon flora dan fauna dalam ungkapan bahasa Bima melalui kajian ekolinguistik. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini yaitu ungkapan bahasa Bima. Sumber data penelitian diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat Desa Tenga Kecamatan Woha. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, teknik wawancara, teknik rekam, teknik catat, teknik dokumentasi dan teknik terjemahan. Teknik analisis data melalui beberapa tahap yaitu, cara identifikasi, reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini ditemukan adanya leksikon fauna dalam ungkapan bahasa Bima, yaitu kerbau, tikus, kuda, ayam, anai, sapi, kucing, kelinci, dan ular. Sementara itu leksikon flora, yaitu daun kelor, rumput, bambu, kaktus centong, labu kuning, dan pinang. Selain itu, ungkapan bahasa Bima memiliki makna dan fungsi dalam kehidupan masyarakat diantaranya untuk menyindir, menyemangati, menegur, memuji, mengingatkan, dan menasihati terhadap sesama. Akhirnya, penelitian ini dapat menjadi referensi peneliti lain dengan fokus penelitian ungkapan bahasa daerah yang ada di Indonesia melalui kajian penelitian terbaru. Bagi guru dan siswa, penelitian ini dapat menjadi bahan acuan mata pelajaran Muatan Lokal bahasa Bima.
Variasi Leksikal Bahasa Jawa di Media Sosial X Nia Widi Kartika; Atin Fitriana
MABASAN Vol. 19 No. 1 (2025): Mabasan 19 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i1.969

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi leksikal bahasa Jawa di media sosial X. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan sumber data yang berasal dari akun autobase, yaitu @sbyfess, @SoloMenfess, @SmgMenfess2, dan @PLAT_Gstory. Keempat akun tersebut merupakan akun yang berbeda dan digunakan untuk mewakili penggunaan bahasa Jawa di wilayah yang berbeda. Akun @sbyfess digunakan untuk mewakili penggunaan bahasa Jawa di Surabaya. Akun @SoloMenfess digunakan untuk mewakili penggunaan bahasa Jawa di Solo. Akun @SmgMenfess2 digunakan untuk mewakili penggunaan bahasa Jawa di Semarang. Akun @PLAT_Gstory digunakan untuk mewakili penggunaan bahasa Jawa di Pekalongan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik crawling. Pada proses penyediaan data penelitian ini memanfaatkan aplikasi Antconc. Data penelitian ini berupa kata dengan variasi leksikal beserta variasi transkripsi grafemisnya. Penelitian ini membatasi pengambilan data dengan mengambil sampel kata yang memiliki frekuensi kemunculan terbanyak. Penelitian ini menemukan adanya variasi leksikal pada pronomina persona, kata sapaan, verba, dan adverbia dengan berbagai variasi transkripsi grafemnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa di media sosial cenderung cair dan tidak mengenal batas antara dialek satu dengan dialek lainnya.
Tindak Tutur Ilokusi Guru dalam Pembelajaran Bahasa Jerman: Analisis Pragmatik Rount Maulero
MABASAN Vol. 19 No. 1 (2025): Mabasan 19 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i1.971

Abstract

Bahasa memiliki peranan krusial dalam kehidupan manusia. Proses pembelajaran bahasa dapat berlangsung dalam lingkungan formal maupun informal. Dalam proses tersebut, interaksi antara penutur dan lawan tutur tidak dapat dihindari, yang dalam kajian pragmatik dikenal sebagai tindak tutur. Tindak tutur sendiri merupakan tindakan komunikasi yang dilakukan melalui ujaran, baik secara lisan maupun tulisan, dengan tujuan menciptakan pemahaman bersama. Analisis pragmatik berfokus pada makna implisit yang terkandung dalam suatu tindak tutur. Dalam konteks pembelajaran bahasa Jerman, peran guru sangat signifikan dalam menciptakan suasana belajar yang efektif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta menganalisis daya pragmatik tindak tutur ilokusi dalam proses pembelajaran bahasa Jerman. Data penelitian dikumpulkan dari ujaran yang diucapkan oleh guru saat mengajar di kelas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis pragmatik. Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori Searle, yang mengklasifikasikan tindak tutur ke dalam lima fungsi utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur direktif, asertif, dan komisif lebih sering digunakan dibandingkan dengan tindak tutur deklaratif dan representatif.
REPRESENTASI DOMINANSI IDEOLOGI KELAS SOSIAL DALAM NARASI KIDUNG NDERET I Gusti Agung Istri Pradnyasiwi S.; Luh Putu Puspawati; Ni Ketut Widhiarcani Matradewi
MABASAN Vol. 18 No. 2 (2024): Mabasan 18 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v18i2.997

Abstract

Kidung Nderet (KN) merupakan karya sastra kidung yang mengandung muatan sejarah. Dalam KN ada sejumlah indikasi yang mengarah pada permasalahan sosial politik antarkelas dalam masyarakat masa lampau di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas permasalahan ideologi dan kelas sosial yang muncul dalam narasi KN. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra Gramsci. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka. Metode dan teknik analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Metode dan teknik penyajian hasil analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode informal. Data menunjukkan bahwa dalam KN terdapat ideologi kapitalisme yang direpresentasikan oleh tokoh Nderet. Representasi ini mengarah pula pada dominansi kelas dominan pada kelas subordinat melalui representasi dua kelompok yang saling bertentangan. Berikutnya, hal tersebut menjadi pemicu perjuangan kelas sosial dalam teks yang ditandai dengan perjuangan Padang Luah sebagai kelas subordinat yang ingin menyetarakan kelas sosial.
Pembuktian Satir dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis Aliurridha; Rinda Widya Ikomah
MABASAN Vol. 19 No. 1 (2025): Mabasan 19 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i1.1024

Abstract

A.A. Navis telah lama dikenal sebagai pengarang yang mengaplikasikan satir dalam karya-karyanya. Bahkan, sayembara kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengambil “Satirisme Navis” sebagai tema yang kemungkinan besar disebabkan mode komunikasi yang diartikulasikan Navis dalam bersusastra. Sayangnya, sampai saat ini belum ada satu pun temuan akademis yang membuktikan kebenaran satir dalam karya-karya Navis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kebenaran satir dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis yang merangkum karir kepengarangan Navis dalam kurun waktu 1955—2002. Dengan terlebih dahulu membangun kerangka teoretis, penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan akademis yang sebelumnya diterima, tanpa dipertanyakan kembali, sebagai sebuah kebenaran. Data dalam penelitian ini berupa 68 cerpen yang terangkum dalam antologi ini. Analisis data menggunakan metode pembacaan dekat yang diperkaya dengan analisis isi. Hasil penelitian mengungkap cerpen-cerpen Navis terbagi dalam kategori satir sebagai genre, satir sebagai mode atau satir yang lemah, dan satir yang tidak terlihat seperti satir. Namun, lebih banyak dari setiap kategori di atas adalah cerpen realis serius, yang kurang tepat jika diklasifikasikan sebagai satir.
ANOMALI SEMANTIK DALAM BAHASA VERBAL PENDERITA SKIZOFRENIA Reno Novita Sari; Leni Syafyahya
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1030

Abstract

Anomali semantik merupakan salah satu ciri khas gangguan bahasa pada penderita skizofrenia dan dapat mencerminkan disorganisasi kognitif. Namun, kajian yang secara sistematis menyoroti anomali semantik pada tuturan penderita skizofrenia dalam konteks penutur bahasa Indonesia, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan jenis anomali semantik dalam bahasa verbal penderita skizofrenia. Data penelitian berasal dari video publik di YouTube Diman Khan TV dan Parti TV, ditranskripsikan secara verbatim, diseleksi, dan diklasifikasikan menurut jenis anomali semantik (dissonance, zeugma, pleonasm, improbability). Analisis dilakukan dengan mengaitkan bentuk bahasa dan maknanya, kemudian hasilnya divalidasi melalui pemeriksaan sejawat, sambil tetap menjaga privasi dan martabat subjek. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat bentuk anomali semantik, yaitu: 1) dissonance, tampak melalui kalimat yang bertentangan secara makna dan logis, seperti "...Gue aja tadi bangun pagi dari mati kemaren." ; 2) zeugma, terindikasi dalam pernyataan yang menghasilkan ketidakseimbangan makna, seperti ”Inih, lagi dibuat rumahnya sekalian kerajaan di balik daun sanah..”; 3) pleonasme, berupa penggunaan kata atau frasa secara berlebihan meskipun maknanya sudah jelas, seperti “gue benci itu beli-beli itu kalung terus dipake kalungnya dipasangin ke leher beli lagi.”; dan 4) improbability, tampak melalui penggunaan kalimat yang sangat tidak realistis atau mustahil, seperti “Aku punya rumah sendiri, di Amerika ini. Itu rumahnya  Presiden Amerika, Papahnya aku.”. Meskipun komunikasi dasar masih mungkin, kualitas interaksi sangat tergantung pada dukungan lingkungan, menekankan peran konteks sosial dalam memahami gangguan linguistik ini.