cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 865 Documents
X-RAYS DIFFRACTION STUDY ON THE IRON NANO PARTICLES PREPARED BY TWO STEPS MILLING METHOD Engkir Sukirman; Yosef Sarwanto
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 15, No 2: JANUARI 2014
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.998 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2014.15.2.4358

Abstract

X-RAYS DIFFRACTION STUDY ON THE IRON NANO PARTICLES PREPARED BY TWO STEPS MILLING METHOD. X-rays diffraction study on the iron nanoparticles prepared by two-step milling method has been carried out. First, the raw material of micro-sized Fe was crushed by High Energy Milling (HEM) in the presence of isopropyl alcohol, here in after referred to as FI precursor. FI precursor then was crushed again with planetary balls mill in Cetyl-Trimethyl- Ammonium Bromide (CTAB)media, here in after referred to as FC sample. The phases analysis in the two samples were carried out by X-rays diffraction technique using the Rietveld method. Crystallites size were calculated with the Debye-Scherrer formula and the size of particles were measured by means of Particles Size Analyzer (PSA). The magnetic properties of the two samples were characterized with Vibration Sample Magnetometer (VSM). The analysis result showed that each of FI and FC samples consist of Fe, γ-Fe2O3 and Fe3O4 phases in the formof the nano-sized powder ranging fromaround 7 to 10 nm. PSA data indicate that the particle size of FI and FC are the same, i.e., 7.5 nm with narrow size distribution. The VSM data revealed that both FI and FC samples display super paramagnetic behavior at room temperature. The magnetization value in FC sample has been reduced due to more of the mass fraction of Fe transforms into iron oxide phases. The particle size is generally not the same as the size of the crystallites and in particular for the nano-sized particles, the size of crystallites could be equal to or greater than the particle size due to the presence of polycrystalline aggregates.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS BESI (II) DENGAN LIGAN 3,6-DI-2-PIRIDIL-1,2,4,5-TETRAZIN (DPTZ) Dini Zakiah Fathiana; Djulia Onggo
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.361 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5007

Abstract

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS BESI (II) DENGAN LIGAN 3,6-DI-2-PIRIDIL-1,2,4,5-TETRAZIN (DPTZ). Senyawa kompleks dari garam Besi(II) dengan ligan 3,6-di-2-piridil-1,2,4,5-tetrazin (DPTz) telah disintesis. Rumus molekul senyawa kompleks ditentukan dengan analisis kadar ion logam, pengukuran hantaran, analisis termal gravimetri, dan analisis komposisi unsur C, H, dan N. Atas dasar hasil analisis tersebut, senyawa kompleks yang diperoleh merupakan kompleks berinti tunggal dengan rumus molekul [Fe(DPTz)2(H2O)2](X)2 dengan X = BF4 -(1) dan ClO4 -(2). Kedua senyawa yang dihasilkan berwarna biru tua dengan rendemen masing-masing 51% dan 62%. Senyawa kompleks tersebut menunjukkan sifat magnet yang unik, dengan nilai momen magnet yang diperoleh sekitar 2,5 BM. Setelah dilakukan pemanasan sampai dengan 60oC ternyata kedua senyawa kompleks tersebut menunjukkan sifat paramagnetik, dengan nilai momen magnet sekitar 5 BM. Keunikan sifat magnet ini, menunjukkan adanya indikasi yang baik untuk dapat mengamati kemampuan transisi spin dari senyawa kompleks tersebut melalui penelitian yang lebih lanjut.
ANALISIS CUPLIKAN LINGKUNGAN DAN BAHAN GEOLOGI DENGAN INDUCTIVELY COUPLED PLASMA-MASS SPECTROMETRY. Rukihati Rukihati; Saryati Saryati
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 8, No 1: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.861 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.8.1.4829

Abstract

ANALISIS CUPLIKAN LINGKUNGAN DAN BAHAN GEOLOGI DENGAN INDUCTIVELY COUPLED PLASMA-MASS SPECTROMETRY. Inductively coupled plasma-mass spectrometry (ICP-MS) adalah teknik analisis multi unsur untuk menentukan unsur dan isotop yang terkandung di dalam berbagai jenis sampel. Lebih dari 90% unsur-unsur yang tercantum dalam tabel periodik dapat ditentukan dengan menggunakan ICP-MS, termasuk logam alkali, logam transisi, dan unsur tanah jarang. Informasi tentang kelimpahan isotop dan perbandingan isotop dapat diperoleh dengan teknik ini. Sejak 1990, di Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tenaga Nuklir, BATAN Serpong telah diinstal seperangkat sistem ICP-MS SCIEX ELAN Model 250. Alat ini telah digunakan untuk: Penentuan unsur kelumit dari cuplikan lingkungan, penentuan unsur-unsur yang terkandung dalam partikulat udara, penentuan unsur-unsur tanah jarang dalam cuplikan geologi, serta penentuan nisbah isotop (isotope ratio) Pb dan Sr dalam bahan acuan standar (SRM = standard reference materials) dan yang terkandung dalam bahan geologi. Semua cuplikan dilarutkan dengan campuran asam (HNO3, HClO4 dan HF) menggunakan microwave dan larutan akhir dalam media HNO3 1%. Larutan cuplikan dimasukkan ke dalam plasma, pengumpulan data dari masing-masing cuplikan dalam kurun waktu hampir seperempat jam. Simpangan baku relatif (RSD = relative standard deviation) pengukuran ICP-MS terhadap cuplikan lingkungan adalah dalam kisaran 0,7 % sampai dengan 4,1 %. Hasil penentuan konsentrasi unsur tanah jarang dalam bahan standar geologi (Canadian Certified Reference Standard Rock) adalah dalam kisaran konsentrasi harga sertifikat. Simpangan baku relatif penentuan nisbah isotop Pb dan Sr dalam dalam bahan geologi berkisar antara 0,3 % sampai dengan 4,4 %. Pada umumnya, simpangan baku relatif penentuan nisbah isotop adalah kurang dari 5 %.
EFEK SUBSTITUSI Fe2+ DAN Fe3+ TERHADAP STRUKTUR KRISTAL, SIFAT OPTIK DAN MAGNETIK PADA NANOPARTIKEL ANATASE Ti1-d(d %Fe)O2 Wisnu Ari Adi; Adel Fisli
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 19, No 2: JANUARI 2018
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2018.19.2.4151

Abstract

Bahan penyerap gelombang elektromagnetik sekarang ini menjadi kajian yang sangat menarik untuk dipelajari lebih mendalam karena sifatnya yang unik ditinjau dari interaksinya dengan gelombang elektromagnetiknya itu sendiri. Syarat utama yang harus dipenuhi sebagai bahan penyerap gelombang elektromagnetik adalah bahwa bahan tersebut harus memiliki karakteristik dielectric loss dan magnetic loss yang tinggi. Anatase TiO2 merupakan bahan dielektrik yang baik namun bahan ini adalah diamagnetic. Substitusi Fe ini diharapkan dapat merekayasa sifat magnetic bahan ini. Modifikasi dari TiO2 anatase ini dibuat dengan metode presipitasi melalui prosedur sebagai berikut: 25 mL larutan garam besi 0,3M Fe2+ dan 0,3M Fe3+ (rasio mol 2:1) masing-masing dicampurkan ke dalam 50 mL larutan 3 M TiCl4. Larutan campuran titanium dan besi ini ditambahkan larutan 150 mL amonia 2,5 M dengan laju tetes 3 ml/menit. Setelah itu endapan yang terbentuk dicuci kemudian dipanaskan dalam oven dan dikalsinasi pada 500 oC selama 3 jam. Ada dua jenis sampel anatase yang diperoleh yaitu Ti1-d(d %Fe3+) dan Ti1-d(d %Fe2+) dimana (d = 0; 0,5; 1; dan 5 % berat). Identifikasi fasa diukur dengan difraksi sinar-X dan struktur Kristal dianalisis dengan menggunakan metode Rietveld. Hasil refinement menunjukkan bahwa sampel memiliki struktur kristal tetragonal fasa tunggal anatase TiO2. Atom Fe telah berhasil tersubstitusi ke dalam Ti tanpa merubah struktur Kristal bahan ini. Sementara berdasarkan hasil analisis sifat optik dan magnetik menunjukkan bahwa pengaruh substitusi baik Fe2+ maupun Fe3+ telah berhasil menurunkan energy band gapnya dan dapat mentransformasi fasa magnetic bahan ini dari diamagnetik menjadi paramagnetik di suhu kamar. Disimpulkan bahwa telah berhasil dilakukan rekayasa material bahan anatase TiO2 dengan substitusi hingga 5% berat baik ion Fe2+ maupun Fe3+ ke dalam ion Ti4+ dengan metode presipitasi.
CORROSION BEHAVIOR OF Zr-10Mo ALLOYS IN NIOBIUM-DOPED LACTATE RINGER’S SOLUTION Vita Yuliana Prastika; Pradoto Ambardi; Djoko Hadi Prajitno
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 20, No 4: JULY 2019
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2019.20.4.4627

Abstract

This research discusses the corrosion behavior of Zr-10Mo alloys in Niobium-doped lactate ringer ’s solution. The addition of Niobium of 1%, 3% and 5% on Zr-10Mo alloys aims to study the effect of adding Niobium to the hardness, microstructure and corrosion resistance of Zr-Mo alloys. The alloys are made by melting the materials of Zr, Mo and Nb with a certain percentage of weight using single arc melting furnace in Argon atmosphere with high purity and Tungsten eletrodes. The alloys (as cast) are subjected to hardness testing using C-scale rockwell, microstructure using optical microscopy, compounds and phases in the alloys (as cast) using XRD and corrosion testing using polarization method in lactate ringers’ solution. The hardness value increases by the addition of Niobium, Zr-10Mo-1Nb alloy of 34 HRC, Zr-10Mo-3Nb alloy of 38 HRC and Zr-10Mo-5Nb alloy of 41.5 HRC. The basketweave-shaped microstructure with the addition of Niobium creates relatively smaller grain size. The value of corrosion rate decrases by the addition of Niobium at the immersion times of 0 minute, 60 minutes and 120 minutes, Zr-10Mo-1Nb alloy of 4.208 mpy, Zr-10Mo-3Nb alloy of 3.538 mpy and Zr-10Mo-5Nb alloy of 2.813 mpy, included in the excellent category (1-5 mpy).
STRUKTUR DAN SIFAT TUNNELINGMAGNETORESISTANCE SISTEM NANO KOMPOSIT Co-Al2O3 HASIL PROSES HEM Setyo Purwanto; Wisnu Ari Adi; Mujamilah Mujamilah; Abdullah Abdullah
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.279 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5185

Abstract

STRUKTUR DAN SIFAT TUNNELINGMAGNETORESISTANCE SISTEM NANO KOMPOSIT Co-Al2O3 HASIL PROSES HEM. Telah dilakukan penelitian pada sistem komposit Co-Al2O3 yang disiapkan dengan High Energy Milling (HEM) SPEX 8000 selama 1,5 jam, 4,5 jam, 1,5 jam, 4,5 jam, 12 jam dan 20 jam. Dihipotesakan bahwa sifat magnetoresistance dari bahan tergantung pada fraksi fasa Co-HCPdan fasa Co-FCC dari material tersebut. Pengamatan dengan difraksi sinar-X diketahui terjadi perubahan keberadaan fasa Co-HCP menjadi Co-FCC akibat akumulasi stacking fault selama proses milling. Dari pengukuran VSM harga saturasi magnetik bahan menunjukkan penurunan dari 116 emu/gram menjadi 107, 46,2 dan 36,1 emu/gram. Hal ini menunjukkan bahwa proses milling membuat keberadaan fasa Co-HCP menurun dan fasa Co-FCC meningkat masing-masing untuk cuplikan pasca milling 1,5jam, 4,5jam, 12 jam dan 20 jam. Sifat Magnetoresistance diamati dengan menggunakan peralatan four point probe, diketahui terjadi peningkatan harga nisbah Magnetoresistance (MR) dari 0,5% , 4% , 5% dan 9% masing-masing untuk cuplikan pelet Co-Al2O3 pasca milling 1,5jam, 4,5jam, 12jam dan 20jam. Hasil-hasil di atas terlihat konsisten dengan hasil penelitian pada sistem Co-Al2O3 film tipis. Dari hasil SEM/EDX untuk komposit Co-Al2O3 diketahui masing-masing perbandingan Wt% dari cobalt dan Al2O3 adalah 23,06 : 78,18 pasca milling 12 jam serta 22,27 : 77,73 untuk pasca milling 20 jam.
ANALISIS STRUKTUR SELULOSA KULIT ROTAN SEBAGAI FILLER BIONANO KOMPOSIT DENGAN DIFRAKSI SINAR-X Siti Nikmatin; Setyo Purwanto; Akhirudin Maddu
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.778 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.13.2.4712

Abstract

ANALISIS STRUKTUR SELULOSA KULIT ROTAN SEBAGAI FILLER BIONANO KOMPOSIT DENGAN DIFRAKSI SINAR-X. Kulit rotan merupakan salah satu limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat untuk bionano komposit. Untuk menghasilkan bionanokomposit berbasis nanopartikel selulosa kulit rotan yang ringan, kuat, ulet, ramah lingkungan dan eksplorasi sumber daya alam dalam negeri diperlukan pengembangan metode baru sebagai solusi teknik yang mengedepankan kemampuan sistem yaitu nanoteknologi. Tujuan penelitian ini adalah analisis struktur kristal menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan ukuran partikel dengan Particle Size Analyzer (PSA) nanopartikel selulosa kulit rotan (SKR) hasil ultrasonikasi yang akan digunakan sebagai filler pada bionanokomposit menggunakan injection moulding. SKR dibuat dengan sistem mekanik (pen disk milling dan elektromagnetik shaker) dalam ukuran 75 μm, dipanaskan 100 oC dan stirer 200 rpm selama 2 jam, dilanjutkan ultrasonikasi pada 20 kHz, dengan variasi waktu 1 jam, 2 jamdan 3 jam. Hasil pengujian PSA menunjukkan ukuran partikel diameter 146,3 nm(number distribution 32%) untuk waktu ultrasonikasi 3 jam. Sementara itu analisis struktur kristal menunjukkan bahwa SKR berstruktur kristal monoklinik berfasa -selulosa. Apparent Crystal Size (ACS) dan micro strain (η) nanopartikel SKR adalah ACS = 151,95 dan η = 0,0001. Pemberian nanopartikel SKR pada matriks polipropilen (PP) menggunakan injection mouding menghasilkan sifat mekanik (impact dan hardness) bionanokomposit lebih baik dari pembandingnya yaitu komposit sintetik berfiber glass.
ANALISIS FASA NANO PARTIKEL LiCoO2 SEBAGAI BAHAN KATODA BATERAI MAMPU ISI ULANG MENGGUNAKAN X-RAY DIFFRACTOMETER Elman Panjaitan; Sudaryanto Sudaryanto; Yosef Sarwanto; Bambang Soegijono
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 3: APRIL 2013
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.987 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2013.14.3.4407

Abstract

ANALISIS FASA NANO PARTIKEL LiCoO2 SEBAGAI BAHAN KATODA BATERAI MAMPU ISI ULANG MENGGUNAKAN X-RAY DIFFRACTOMETER. Telah dilakukan penelitian analisis fasa nano partikel LiCoO2 sebagai bakal bahan katoda dari baterai berbasis ion lithium yang mampu disi ulang menggunakan X-Ray Diffractometer. Nano partikel LiCoO2 dibentuk menggunakan teknik planetary milling yang diikuti sonikasi, hasil pembentukan nano partikel LiCoO2 dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Transmission Electron Microscope (TEM), fasa nano partikel LiCoO2 dianalisis menggunakan XRD. Hasil penelitian menunjukan bahwa nano partikel LiCoO2 yang terbentuk berukuran 20 nm hingga 40 nm dan fasa nano partikel LiCoO2 adalah rhombohedral, R-3m, dengan a = b = 2,82 Å dan c = 14,08 Å, dimana LiCo membentuk simetri oktahedral, 3-3m dan CO2 membentuk simetri tetrahedral, 63m.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT POLIMER BERPENGUAT SERAT ALAM Ratni Kartini; H. Darmasetiawan; Aloma Karo Karo; Sudirman Sudirman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 3, No 3: JUNI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.346 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2002.3.3.5069

Abstract

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT POLIMER BERPENGUAT SERAT ALAM. Telah dilakukan pembuatan komposit dengan matriks polimer yaitu epoksi dan poliester dengan bahan penguat (filler) serat alam, yaitu serat pisang dan serat ijuk yang dikombinasikan satu sama lain menjadi empat macam komposit yaitu komposit epoksi-pisang, epoksi-ijuk, poliester-pisang, dan poliester-ijuk. Untuk keempat macam komposit tersebut, pengaruh penambahan lapisan serat pada matriks polimer terhadap sifat mekanik dan mikrostruktur bahan komposit dipelajari. Hasil penelitian menunjukkan, secara umum penambahan lapisan serat menurunkan nilai kekuatan tarik komposit, kecuali untuk komposit bermatriks epoksi dengan penguat serat ijuk. Nilai kekuatan tarik tertinggi diperoleh komposit epoksi-serat ijuk 3 lapis yaitu 45,44 MPa, sedangkan komposit epoksi-serat pisang 3 lapis memiliki nilai kekuatan tarik sebesar 30,47 MPa. Nilai kekuatan tarik terendah diperoleh komposit poliester-serat pisang 3 lapis yaitu 15,62MPa, sedangkan jika ditambahkan serat ijuk 3 lapis kekuatan tariknyamenjadi 22,18MPa. Selain itu, penambahan serat pada matriks polimer secara umum menurunkan nilai kekerasan komposit. Dari pengamatan strukturmikro ternyata kurangnya ikatan antara serat dengan matriks polimer dan distribusi serat pada matriks polimer mempengaruhi nilai kekuatan tarik dan nilai kekerasan bahan komposit.
STUDI SANS PADA KINETIKA SEPARASI FASA DALAM PADUAN LOGAM Cu-0,9 at% Ti Prayoto Prayoto; S. M. Prasetyo; H. Eckerlebe; A. Djaloeis; R. Wagner
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.478 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2005.6.2.4864

Abstract

STUDI SANS PADA KINETIKA SEPARASI FASA DALAM PADUAN LOGAM Cu-0,9 at% Ti. Telah dilakukan investigasi separasi fasa dalam paduan logam Cu-0,9at% Ti dengan menggunakan metode hamburan neutron sudut kecil dan sudut besar. Suhu aging yang dipilih untuk perlakuan panasnya adalah 573 K. Suatu skala dispersi halus dari fasa kedua Cu4Ti di dalam matriks pada paduan logam tembaga titanium, yang terakumulasi selama tahap-tahap awal dalam separasi fasa kinetiknya, dapat menjadi faktor penguat yang signifikan terhadap paduan logam tembaga-titanium. Kandungan titanium yang rendah, yaitu hanya sebesar 0,9at% saja, sengaja dipilih agar diperoleh kebolehjadian yang lebih besar untuk dapat berlangsungnya proses separasi fasa pada tahap-tahap awal. Suhu aging yang rendah juga dipilih dengan alasan yang sama, karena dapat berlangsungnya proses separasi fasa tahap awal merupakan faktor penentu untuk memperoleh sifat-sifat paduan logam yang lebih baik. Perangkat hamburan neutron sudut kecil dipilih sebagai alat ukur dalam investigasi ini oleh karena kemampuannya untuk menyajikan hasil analisis struktural dari ketidaklarutan paduan, baik pada tahap-tahap awal ketika fluktuasi komposisinya masih kecil, maupun pada tahap lanjut dalam proses separasi fasa. Tahap lanjut ini juga perlu diamati, agar dapat dipastikan batas yang jelas antara tahap awal dan tahap lanjut dalam suatu proses separasi fasa.

Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue