cover
Contact Name
Ghefra Rizkan Gaffara
Contact Email
ghefra@esaunggul.ac.id
Phone
+6282112846970
Journal Mail Official
planesa@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/planesa/about/contact
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Planesa
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 02169673     EISSN : 02169673     DOI : 10.47007
Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Jurnal Planesa adalah jurnal ilmiah yang menerbitkan tulisan dalam bidang ilmu planologi, yang mencakup penelitian dan non-penelitian. Jurnal ini dipublikasikan oleh Pusat Pengelola Universitas Esa Unggul dan berisi artikel-artikel hasil penelitian civitas akademika di bidang perencanaan. Scope dari Jurnal Planesa adalah: - Transportasi - Kebencanaan (Pedesaan, Kota dan Wilayah) - Tata Ruang - Lingkungan - Arsitektur dan Bangunan - Pariwisata
Articles 134 Documents
EVALUASI KONDISI TRANSPORTASI SEBAGAI PENDUKUNG KEGIATAN EKONOMI DI KABUPATEN MANOKWARI
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 5, No 02 (2014): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTransportasi merupakan sarana prasarana yang berfungsi untuk memindahkan barang atau orang dari suatu tempat ke tempat lain. Hal ini guna menunjang perekonomian di suatu wilayah yang memilki potensi sumber daya alam dan ekonomi. Suatu wilayah tentu membutuhkan transportasi yang memadai untuk menunjang pembangunan daerah. Transportasi ini terdiri dari transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara. Seperti halnya di Kabupaten Manokwari yang memiliki potensi-potensi sumber daya alam dan ekonomi yang tersebar hampir diseluruh Distrik-distrik. Namun, kendalanya potensi ini belum didayagunakan untuk kesejahteraan masyrakat. Ini disebabkan belum adanya dukungan transportasi yang memadai. Studi ini bertujuan untuk mengetahui keterkaiatan antara kondisi ekonomi dengan kondisi transportasi guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. Diharapkan setelah studi ini adanya peningkatan kualitas kinerja pada kondisi transportasi terhadap kegiatan ekonomi di Kabupaten Manokwari khususnya dan Provinsi Papua Barat paa umunya. Kata Kunci : Kondisi Ekonomi, Kondisi Transportasi, Kesejahteraan Rakyat
USULAN PENENTUAN LOKASI DAN TAPAK TERMINAL REGIONAL DI KOTA BINTUNI
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 5, No 01 (2014): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mendapatkan pelayanan bidang penataan ruang yang berkualitas merupakan hak semua masyarakat yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Namun sejauh ini pelayanan tersebut belum sepenuhnya di peroleh oleh masyarakat NTT, kurangnya transparasi pemerintah serta birokrasi yang sulit menjadi penghalang untuk terealisasinya Good Governance .Pemberian pelayanan bidang penataan ruang sangat penting bagi masyarakat, untuk memberikan informasi serta pengetahuan tentang penataan ruang, sehingga menimbulkan tanggung jawab tersendiri tentang hal-hal apa saja yang dapat dilakukan serta tidak dapat dilakukan terhadap ruang ini. Metode penelitian ini yaitu desk study dimana cara pengumpulan data dan informasi melalui kajian dan analisis data dan informasi yang menggunakan data sekunder, baik berupa laporan maupun referensi yang didapat dari dokumen persetujuan subtansi di Kementerian Pekerjaan Umum dari 20 Kabupaten di Provinsi NTT. Lingkup dalam menganalisis dalam penelitian ini yaitu 5 indikator SPM bidang penataan ruang, yaitu mengenai informasi penataan ruang, pelibatan peran masyarakat dalam proses penyusunan rencana tata ruang, izin pemanfaatan ruang, pelayanan pengaduan tata ruang serta penyediaan RTH publik berdasarkan target pencapaian tahun 2012. Hasil dari analisis menunjukan bahwa tingkat pencapian SPM bidang pentaan ruang di provinsi NTT sebagian besar kabupaten sudah mendapatkan predikat baik dari hasil pencapaian sesuai target pada tahun 2012.Kata Kunci : Pelayanan Publik, Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang
FENOMENA TATA GUNA LAHAN, PERUMAHAN DAN TRANSPORTASI DALAM PERKEMBANGAN KOTA-KOTA BESAR (KASUS : KOTA SURABAYA DAN METROPOLITAN GKS PLUS)
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 5, No 01 (2014): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan pemanfaatan lahan pada suatu kota juga dipengaruhi oleh transportasi yang kemudian membentuk tata guna lahan pada kota tersebut. Transportasi sangat terkait dengan aksesibilitas, dimana aksesibilitas merupakan faktor yang sangat menentukan organisasi ruang di kawasan perkotaan. Fenomena tata guna lahan dan transportasi dalam perkembangan kota Surabaya turut berperan dalam menciptakan permasalahan yang ada di Kota Surabaya. Perkembangan Kota Surabaya yang telah menyebar hingga membentuk Kawasan Metropolitan GKS Plus telah menciptakan peluang-peluang baru dalam pengembangan transportasi dan memunculkan perumahan-perumahan baru di Kawasan tersebut. Transportasi dan tata guna lahan merupakan instrument penting yang sangat berperan dalam pembangunan dan pengembangan kawasan perkotaan secara menyeluruh. Transportasi juga sangat berkaitan dengan penggunaan lahan, terutama di daerah perkotaan. Kota Surabaya dan GKS Plus telah menunjukkan bahwa penggunaan lahan terutama perumahan dan transportasi telah terbukti ikut mempercepat perkembangan kota. Penggunaan lahan di Surabaya merupakan hasil akhir dari aktivitas dan dinamika kegiatan penduduknya dan bersifat dinamis, dalam hal ini terjadi perubahan dari penggunaan lahan pertanian menjadi perumahan dan kemudian dari perumahan menjadi komersil yang meningkat nilai ekonomi serta produktivitas barang dan jasa.Kata kunci : Perubahan pemanfaatan lahan, Transportas, perkembangan kota
STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN AGROWISATA DI KAWASAN KOTABUMI, CILEGON, BANTEN
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 5, No 01 (2014): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan akan Ruang Terbuka Hijau merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi karena Ruang Terbuka Hijau merupakan salah satu komponen penting perkotaan. Pemenuhan kebutuhan tidak hanya berdasar pada penyediaan sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan saja, tetapi juga perlu diadakan pengelolaan yang baik didalamnya sehingga bersifat mulifungsi agar dampak positif yang dihasilkan ruang terbuka tersebut akan maksimal sesuai dengan fungsi-fungsinya. Kawasan Agrowisata Kotabumi yang merupakan salah satu Ruang Terbuka Hijau di Kota Cilegon masih belum memberikan dampak positif yang maksimal karena masih belum optimalnya pengelolaan yang dilakukan. Dengan menggunakan metode analisa deskriptif kuantitatif, penelitian ini bertujuan untuk menyusun konsep pengembangan Kawasan Agrowisata Kotabumi. Bila dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan, permasalahan yang terdapat di Kawasan Agrowisata Cilegon adalah masih belum optimalnya pengelolaan yang mecakup produksi bibit dan kegiatan-kegiatan didalam kawasan tersebut serta ketersedian berbagai fasilitas penunjangnya. Apabila merujuk pada permasalahan yang ada, hal tersebut dapat diatasi dengan pengembangan kegiatan agrowisata yang berbasis edukasi untuk meningkatkan produksi bibit-bibit tanaman yang didukung dengan kegiatan dan berbagai fasilitas penunjangnya. Kegiatan edukasi tersebut nantinya akan menjadi kegiatan inti di Kawasan Agrowisata Kotabumi dan diharapkan kawasan ini akan dapat memberikan dampak positif dari segi penghijauan, edukasi, sosial dan ekonomi kepada daerah sekitarnya.Kata kunci: Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau, Agrowisata, Kegiatan Edukasi
EVALUASI PERPINDAHAN PENUMPANG TRANS-JABODETABEK TANGERANG JURUSAN TANGERANG-JAKARTA BARAT (STUDI KASUS : TERMINAL PORIS PLAWAD-TERMINAL KALIDERES-HALTE S. PARMAN, PODOMORO CITY)
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 5, No 01 (2014): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angkutan perbatasan Terintegrasi Busway Kota Tangerang atau dapat disebut dengan moda APTB berlokasi di terminal/halte Kelurahan Poris Plawad, merupakan transportasi angkutan suatu kegiatan perpindahan orang atau barang dari satu tempat (asal) ketempat lain (tujuan) dengan menggunaka moda angkutan (kendaraan pribadi dan angkutan umum) dari Kota Tangerang-Kota Jakarta Barat dan sebaliknya menjadi salah satu kendaraan alternatif bagi para penumpang yang ingin melakukan suatu perjalanan. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai evaluasi perpindahan penumpang Trans Jabotabek Tangerang jurusan Kota Tangerang-Kota Jakarta Barat. Untuk mencapai tujuan tersebut studi ini mengkaji berbagai kondisi kemacetan di Jl. Daan Mogot Kota Tangerang- Kota Jakarta Barat dan sebaliknya yang terkait pemilihan moda transportasi diantaranya APTB, angkutan umum, dan kendaraan pribadi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa faktor-faktor yang sangat mempengaruhi adalah kinerja pelayanan angkutan di kawasan Tangerang adalah aksebilitas, dan pemilihan moda. Disamping itu, dari factor load APTB rata-rata perbulan sebesar 2,6% orang/jiwa pada tahun 2012 dengan jurusan Terminal Poris Plawad-Terminal Kalideres, sedangkan factor load pada tahun 2013 dengan jurusan Terminal Poris Plawad-Terminal Kalideres-Halte S. Parman Podomoro City sebesar 12,6% orang/jiwa. Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi masukan terutama bagi Pemerintah Kota Tangerang dalam merumuskan kegiatan transportasi angkutan masal.Kata kunci : Pemilihan Moda Transportasi, APTB, Kendaraan Umum
STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KARYAWAN PT. KRAKATAU POSCO DI CILEGON BANTEN
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 5, No 01 (2014): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu wilayah di Banten yang berperan dalam pembangunan ekonomi di sektor industri yaitu wilayah Cilegon. Tumbuhnya Kawasan Industri di kota Cilegon mengakibatkan tingginya permintaan tenaga kerja, salah satu perusahaan yang terdapat di Cilegon yaitu PT. Krakatau Posco yang saat ini masih tahap pembangunan, dan diharapkan akan berproduksi pada tahun 2014. Permasalahan yang dihadapi yaitu mengenai pengadaan rumah tinggal bagi pekerja industri PT. Krakatau Posco tersebut, mengingat rumah adalah sebagai kebutuhan dasar manusia. Penyediaan rumah tinggal bagi pekerja merupakan salah satu upaya peningkatan kesejahteraan pekerja selain juga peningkatan produktivitas kerja bagi pekerja yang tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh dari tempat tinggal mereka ke tempat kerja. Di wilayah Cilegon terdapat komplek perumahan Krakatau Steel yang saat ini perkembangannya sudah tidak beroperasi lagi. Lokasi komplek ini sangat strategis yaitu dekat dengan PT. Krakatau Posco . Untuk itu kawasan Komplek Krakatau Steel Sumampir Barat ini perlu dikembangkan kembali menjadi perumahan untuk tempat hunian pekerja PT.Krakatau Posco. Studi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepentingan dan kebutuhan nyata perumahan untuk para pekerja industri PT Krakatau Posco Cilegon Banten. Penyediaan perumahan untuk pekerja industri PT. Krakatau Posco di Komplek Perumahan Krakatau Steel Sumampir Barat dengan konsep pengembangan sistem perumahan sewa bagi pekerja PT. Krakatau Posco. Dalam studi ini akan dilakukan juga perhitungan kelayakan investasi karena pengembangan perumahan merupakan sebuah investasi yang besar yang harus diperhitungkan resikonya.Kata kunci : Rumah Tinggal, Perumahan.
PENJELMAAN PUSAT PERBELANJAAN SEBAGAI RUANG PUBLIK SEMU
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 4, No 02 (2013): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat perbelanjaan yang dahulu hanya sebagai tempat pertemuan dan transaksi jual beli saat ini telah menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan akan kenyamanan, keamanan, aktualisasi diri dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan ini ditangkap sebagai peluang oleh para pengembang yang kemudian secara kreatif melakukan inovasi terhadap pusat-pusat perbelanjaan yang mereka kembangkan. Kemudian Masyarakat kota yang terbagi ke dalam kelas-kelas berdasarkan ekonominya juga ikut berpengaruh terhadap penggunaan pusat perbelanjaan sebagai ruang publik. Saat ini pusat perbelanjaan telah menjelma menjadi ruang publik perkotaan favorit yang menggantikan ruang terbuka yang seyogyanya telah mulai ditinggalkan sebagai ruang publik tetapi pertanyaannya apakah pusat perbelanjaan dapat disebut sebagai ruang publik. Dalam tulisan ini mengangkat suatu kasus pusat perbelanjaan yang “dicurigai” dapat di sebut ruang publik yakni Central Park Jakarta, yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terdapat di Jakarta Barat. Penggunaan Central Park sebagai ruang publik dapat dilihat dari perilaku orang-orang yang menggunakan ruang tersebut. Pada kenyataannya Central Park yang memiliki ruang terbuka (Taman Tribeca) belum dapat disebut sebagai ruang publik karena central park tidak memenuhi tujuan sosial dari ruang publik. Central park merupakan bentuk ruang publik “semu” yang diciptakan oleh pengembang untuk mendukung tujuan ekonominya. Keadaan yang seperti ini akan berdampak buruk kepada perilaku dan kehidupan masyarakat kota. Masyarakat kota harus kritis terhadap rayuan kapitalisme yang didukung oleh pemerintah kota. Sudah sepatutnya masyarakat kota yang beradab memiliki ruang publik yang memenuhi tujuan-tujuannya untuk menjadikan orang-orang kota yang tinggal di kota sebagai “warga kota”.Kata kunci: Pusat Perbelanjaan, Ruang Publik dan Prilaku Masyarakat
REVITALISASI KAWASAN PASAR BARU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KEUNGGULAN BERSAING PUSAT BELANJA TERTUA DI JAKARTA
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 4, No 02 (2013): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar atau pusat perbelanjaan adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi tawar menawar. Pasar juga sebagai salah satu tempat ruang publik yang mempunyai fungsi sebagai ruang untuk melakukan kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya, serta sebagai tempat interaksi berbagai kelompok masyarakat, yang tidakterlepas dari fungsi pasar itu sendiri sebagai ruang. Hal tersebut tidakterlepas dari permasalahan tiap aspek. Penataan kawasan sangat berpengaruh terhadap kegiatan sosial dan ekonomi.Pusat Perdagangan Pasar Baru merupakan salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta dan memiliki tiga etnis pedagang yaitu Cina, India dan Melayu yang sejak dahulu memiliki kepentingan bersama yaitu berdagangan di Pasar Baru.Pada saat ini Pasar Baru tidak sejaya Pasar Baru pada masa lalu yang hanya dikunjungi oleh kalangan menengah keatas disebabkan adanya persaingan pusat- pusat perdagangan di Jakarta yang jauh lebih modern. Dengan mulai masuknya pedagangan kaki lima yang berakibat Pasar Baru menjadi salah satu pusat perdagangan yang biasa – biasa saja yang dimana pengunjung yang datang tidak hanya para kalangan menengah atas tetapi kalangan menengah kebawah pun dapat berkunjung ke Pasar Baru. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasikan potensi dan permasalahan yang terdapat di Pusat Perbelanjaan Pasar Baru. Dalam menganalisis metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berdasarkan kriteria, situasi, kunjungan, daya tarik, fasilitas, kegiatan dan aksesibilitas. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperlukan revitalisasi kawasan pusat perdagangan Pasar Baru, dengan adanya revitalisasi Kawasan Pusat Perdagangan Pasar Baru sebagai upaya untuk meningkatkan keunggulan bersaing pusat belanja tertua di Jakarta diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada di kawasan ini serta dapat meningkatkan penjualan dari Pusat Perdagangan Pasar Baru.Kata kunci : Pusat Perdagangan, Etnis, Revitalisasi, Pasar Baru.
EVALUASI KONSEP DESIGN BANTEN WATERFRONT CITY KECAMATAN KASEMEN
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 4, No 02 (2013): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah Banten merupakan satu dari tiga jalur perdagangan Internasional yang berada di Benua Asia seperti : Tumasik, Melaka, Banten. Banten sendiri memiliki modal heritage yang besar sebagai objek wisata. Pariwisata memiliki peranan terpenting dalam perkembangan suatu kota. Kebutuhan akan tempat pariwisata atau rekreasi saat ini menjadi hal yang semakin penting, mengingat pertumbuhan kota yang semakin pesat dan aktifitas masyarakat yang semakin padat mengakibatkan kebutuhan akan tempat rekreasi semakin mendesak. Manusia memerlukan kegiatan waktu luang, dalam berbagai skala waktu, dari hitungan menit, jam, hari, minggu dan seterusnya. Kegiatan waktu luang ini menjadikan pariwisata semakin berkembang sebagai industri, untuk memenuhi kebutuhan yang sudah menjadi gaya hidup. Di Provinsi Banten terdapat dua Pusat Kegiatan Nasional (PKN), sebagai kota yang melayani kegiatan berskala internasional, nasional dan antar provinsi akan tetapi di kota kota tersebut kurang tersedianya tempat rekreasi sebagai (Suka) untuk itu perlunya dikembangkan kota baru sebagai penyempurna yaitu Waterfront City. kawasan ini sebagai penyempurna dua pusat kegiatan nasional tersebut dan dapat memenuhi kebutuhan akan pariwisata sebagai penunjang pembangunan suatau kota.Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi konsep design Banten Waterfront City yang telah di buat oleh pemerintah agar memiliki komponen dan fasilitas penunjang yang lengkap. Pemanfaatan ruang di kawasan tepi pantai Kecamatan Kasemen yang akan di kembangkan sebagai Waterfront City dengan menggunakan konsep Mixed Used Development untuk menunjang potensi kawasan di Provinsi Banten yang besar.dan perhitungan kelayakan investasi karena Waterfront City merupakan sebuah investasi yang besar.Hasil dari studi ini yaitu mengevaluasi konsep perencanaan yang dibuat pemerintah dan melengkapinya dengan menggunakan konsep Mixed Used Development dan mengembalikan kembali kejayaan Banten yang pernah menjadi jalur perdagangan Internasional dengan membangun perencanaan Waterfront City.Kata Kunci: Pariwisata, Waterfront City, design, dan Mixed Used Development.
STRATEGI PENGEMBANGAN KOTA SURAKARTA MENJADI KOTA MICE (MEETING, INCENTIVE, CONVENTION, EXHIBITION)
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 4, No 02 (2013): Jurnal Planesa
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan berkembangnnya sistem transportasi yang ada di dunia baik transportasi laut, darat, dan udara dimana dapat memudahkan seseorang atau sebuah kelompok berpergian dari satu wilayah ke wilayah lain, dari sinilah MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) dilihat sebagai peluang bisnis dimana seseorang atau kelompok melakukan sebuah pertemuan atau konferensi conference). Indonesia sudah berkembang menjadi salah satu negara tujuan bisnis dan wisata. Hal itu dibuktikan dengan perolehan data dari Statistical Report on Visitor Arrivals to Indonesia 2008–2010, yang menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara untuk pertemuan, insentif, konvensi dan pameran atau (MICE) mencapai 40.09% sementara untuk wisatawan liburan 53,15% dan lainnya 6,76%. Surakarta saat ini memang belum termasuk dari 10 kota MICE namun Kota Surakarta saat ini telah menjadi daerah destinasi pariwisata penyelenggaraan MICE, dimana para EO/PCO dan BPW di Jakarta dan Bali sebanyak (43.63%) mempertimbangkan untuk menjual paket MICE di Surakarta dan sama-sama akan merekomendasikan Surakarta sebagai destinasi MICE kepada kliennya. Adapun persentasenya mengenai pertimbangan untuk menjual paket MICE di Surakarta sebanyak 93.75% untuk EO/PCO dan 78.57% untuk BPW. hal ini dapat menjadi angin segar bagi Kota Surakarta dimana hal ini dapat dijadikan sebagai potensi yang patut dikembangkan. Maka guna memanfaatkan kondisi ini perlu ditangani dengan sungguh sungguh serta dilakukan sebuah pengkajian potensi secara mikro untuk Kota Surakarta sendiri, dengan menggunakan metode lima kekuatan Porter dan yang nantinya akan diperkuat lagi dengan dukungan metode analisis SWOT, metode ini dapat digunakan menjadi salah satu strategi dalam pengembangan potensi Kota Surakarta agar dapat menjadi Kota MICE.Kata kunci : Strategi Pengembangan MICE, MICE Kota Surakarta, MICE

Page 6 of 14 | Total Record : 134