cover
Contact Name
Yasmina Wikan Astri
Contact Email
wikanastri87@gmail.com
Phone
+6281310088135
Journal Mail Official
prianganjurnal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Adab dan Humaniora Lantai 3, UIN Sunan Gunung Djati Jalan. A. H. Nasution No. 105, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Priangan Journal of Islamic Sundanese Culture
ISSN : -     EISSN : 29625297     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Priangan memiliki perspektif tentang Budaya Islam Sunda. Jurnal ini bertujuan untuk menyajikan dan membahas beberapa isu yang berkaitan dengan Budaya Islam Sunda. Area fokusnya meliputi Budaya Islam Sunda, tradisi lokal di Wilayah Priangan, seni bangunan tradisional Sunda, warisan Islam masyarakat Sunda, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan komunitas Sunda. Priangan bertujuan untuk menyediakan media bagi mahasiswa, praktisi, peneliti, akademisi, dan lainnya untuk mempublikasikan penelitian mereka di bidang Budaya Islam Sunda. Priangan menerima artikel di bidang fokus terkait dan metodologi penelitian apa pun yang memenuhi standar yang ditetapkan untuk publikasi dalam jurnal. Kriteria utama untuk publikasi di Priangan adalah signifikansi kontribusi artikel terhadap literatur dan praktik dalam studi Budaya Islam Sunda. Priangan menerima artikel dari penulis dari lembaga nasional dan internasional.
Articles 49 Documents
Respon Masyarakat Islam Terhadap Eksistensi Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cireundeu, Cimahi Arif Sutrisna; Tarpin Tarpin
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 2 No. 2 (2023): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v2i2.32686

Abstract

AbstractThe purpose of this research is to analyze and at the same time know the response of the Islamic community to the existence of Sunda Wiwitan in the Cireundeu Traditional Village. Therefore, the existence of the Sundanese Religion or commonly referred to as Sunda Wiwitan is still maintained in its authenticity in the Cireundeu Traditional Village, Cimahi. The method used in this research is a qualitative historical research method. Sunda Wiwitan is an ancestral religion that adheres to animism-dynamism or local beliefs which are still preserved and preserved today. Not all of the people who live in the Cireunde Traditional Village, Cimahi follow these local beliefs, there are even people who are diverse in Islam, but the people there have never had any conflict, and they can even respect each other so that they can make the Cireunde Traditional Village a village that is not only only exist in their local beliefs but on the other hand the culture that supports this diversity makes the Cireunde Traditional Village still maintain the culture of the Archipelago. Keywords: Traditional Village, Cireunde, the Archipelago. AbstrakTujuan penelitian ini untuk menganalisis sekaligus megetahui respon masyarakat islam terhadap eksistensi Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cireundeu. Maka dari itu eksisnya Agama Sunda atau biasa disebut sebagai Sunda Wiwitan masih di pertahankan keasliannya di Kampung Adat Cireundeu,Cimahi. Metode yang dipakai dalam penelitian kali ini adalah metode penelitian sejarah yang bersifat kualitafif. Sunda  Wiwitan Adalah agama nenek moyang yang menganut animisme-dinamisme atau kepercayaan lokal yang sampai saat ini masih di jaga dan di lestarikan. Masyarakat  yang berada di lingkungan Kampung Adat Cireunde, Cimahi tidak semuanya ikut kedalam kepercayaan lokal tesebut bahkan ada masyarakat yang beragam Islam, tapi masyurakat disan sepenuhnya tidak pernah ada konflik bahkan merekan bisa mengahargai satu sama lain sehingga bisa menjadikan Kampung Adat Cireunde menjadi Kampung yang tidak hanya eksis                                         dalam kepercayaan lokalnya saja tapi di sisi lain budaya yang menopang keberagaman tersebut menjadikan Kampung Adat Cireunde tetap mempertahankan kebudayaan Nusantara.  Kata kunci: Kampung Adat, Cireunde , kebudayaan Nusantara.
Sejarah Muncul dan Berkembangnya Islam di Bandung Usman Supendi; Zahra Nur Azizah; Shaleh Afif Januri
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 2 No. 2 (2023): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v2i2.32687

Abstract

AbstractAccording to several sources, Islam entered the archipelago in the 7th century AD. It is estimated that during the same period the spread of Islam began to spread massively to the archipelago, until in the 15th century AD Islam entered the West Java region through trade routes. The Bandung area, which at that time was still within the scope of the Galuh Kingdom, was converted to Islam during the time of Sunan Gunung Djati in 1530 AD. This Islamization process became the starting point for the spread and development of Islam in West Java. There is a lot of research on the development of Islam in various areas of West Java such as Garut, Tasikmalaya and even Cirebon, which was the starting point for the entry of Islam into West Java, which is inversely proportional to Bandung as the capital of West Java province. Not many people have conducted research. Therefore, the author is interested in writing about the development of Islam in Bandung in context. division of the Bandung region, such as how the spread of Islam in various regions of West, East, South and North Bandung. The method used is the historical method, which includes heuristics, criticism, interpretation and historiography. Based on research results, the entry of Islam in various regions in Bandung had different starting points for the spread of Islam in each region. Like North Bandung, it was spread through the spread of the preaching of Sunan Kudus and his followers and descendants, many of whom settled in the North Bandung area. Keywords: Islam, Bandung, Region AbstrakIslam masuk ke Nusantara menurut beberapa sumber pada abad ke-7 M. Diperkirakan masih dalam kurun waktu yang sama penyebaran Islam mulai masif ke daerah Nusantara, sampai pada abad ke-15 M Islam masuk wilayah Jawa Barat melalui jalur perdagangan.[1] Daerah Bandung yang pada saat itu masih dalam cakupan wilayah Kerajaan Galuh diislamkan pada masa Sunan Gunung Djati pada tahun 1530 Masehi.[2] Proses islamisasi ini menjadi titik awal penyebaran dan perkembangan  islam Jawa Barat. Banyaknya penelitian mengenai perkembangan islam di berbagai daerah  Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya bahkan Cirebon yang menjadi titik awal masuknya islam ke Jawa Barat berbanding terbalik dengan Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat belum banyak yang melakukan penelitian untuk itu penulis tertarik menuliskan perkembangan islam di Bandung dalam konteks pembagian wilayah Bandung, seperti bagaimana sebaran masuknya islam di berbagai wilayah Bandung Barat,Timur,Selatan dan Utara. Metode yang digunakan adalah metode Sejarah, yang meliputi heuristik,kritik,interpretasi, dan historiograsi. Berdasarkan hasil penelitian masuknya islam di berbagai wilayah Bandung memiliki titik awal penyebaran islam yang berbeda dalam setiap wilayah. Seperti Bandung Utara disebarkan melalui penyebaran dakwah Sunan Kudus dan para pengikutnyanya serta keturunan yang banyak menetap wilayah Bandung utara. Kata kunci: Islam,Bandung,Wilayah  
Sejarah Seni Mahkota Tokoh-tokoh Wayang Golek di Jelekong Tahun 1990-2000 (Pendekatan Arkeologis) Teddiansyah Nata Negara; Tolib Rohmatillah
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 2 No. 2 (2023): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v2i2.32688

Abstract

 AbstractWayang Golek is one of the performing arts that is in great demand by the public. There are so many arts that accompany wayang golek, starting from music art to the art of puppet carvings that are made, including in the crown which is quite complicated. The method used in this study is the historical research method. This research was conducted with several steps: topic selection, source collection (heuristics), internal and external criticism (verification), analysis and interpretation (interpretation), and presentation in written form (historiography). The art of the golek puppet crown has a very interesting history and is certainly inseparable from some of the rules that have been made by previous craftsmen. By time to time, the art of the golek puppet crown has increasingly developed carried out by puppeteers. Keyword: archaeology, crown, Wayang Golek AbstrakWayang Golek merupakan salah satu dari seni pertunjukan pagelaran yang sangat diminati masyarakat. Banyak sekali seni yang menyertai wayang golek dimulai dari seni musik sampai seni ukiran wayang yang dibuat termasuk di bagian mahkota yang terbilang cukup rumit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan: pemilihan topik, pengumpulan sumber (heuristik), kritik intern dan ekstern (verifikasi), analisis dan interpretasi (penafsiran), serta terakhir penyajian dalam bentuk tulisan (historiografi). Seni mahkota wayang golek memiliki sejarah yang sangat menarik dan tentunya tidak terlepas dari beberapa aturan yang telah dibuat oleh pengrajin-pengrajin terdahulu. Dari masa ke masa, seni mahkota wayang golek semakin berkembang yang mana dilakukan oleh para dalang.  Kata kunci: Arkeologi, Makhota, Wayang Golek
Tradisi Hajat Buruan di Kampung Cipanawa, Kabupaten Bandung Tahun 2015 - 2021 Alika Syafitri; Mahrus As'ad; Muhammad Riza
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 2 No. 2 (2023): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v2i2.32689

Abstract

AbstractThe Sundanese people are generally Muslim and are very respectful of what their ancestral traditions have carried out. because of that there is a custom in respecting the noble time every month is not forgotten as ancestral heritage. In Indonesia, especially in Bandung Regency, Alamendah Village, there are interesting cultural characteristics to be studied. The culture in question is the Hajat overtime Tradition which is carried out every month of Safar. A community leader there said that the Hajat Overtime Tradition is a hereditary culture which is commemorated as asking for protection from Balai and all disasters in the month of Safar. This research reveals that most of the people of Alamendah Village are Muslims who still maintain their ancestral traditions, so that the celebration of talak bala is celebrated every month of Safar. This article applies historical methods which include heuristics, criticism, interpretation, and historical writing. The aim is to highlight the existence of the Hajat Buruan Tradition in Kampung Cipanawa which is still being preserved. Given that there are still very few writers who raise this tradition as research material. Islam and Sundanese Tradition in the Hajat Overtime Tradition is a form of acculturation that still occurs in Alamendah Village between Islam and Sundanese traditions. Keywords: Tradition, Hajat Buruan. AbstrakSuku Bangsa Sunda umumnya beragama Islam dan tabiatnya sangat menghormati apa yang sudah dijalankan oleh tradisi leluhurnya. Oleh sebab itu adanya adat dalam menghormati  waktu mulia setiap bulan tidak dilupakan sebagai warisan leluhur. Di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bandung Desa Alamendah terdapat kekhasan budaya yang menarik untuk dikaji. Budaya yang dimaksud yaitu Tradisi Hajat lembur yang dilakukan setiap bulan Safar. Seorang tokoh masyarakat disana menuturkan bahwa Tradisi Hajat Lembur merupakan budaya turun-temurun yang diperingati sebagai meminta perlindungan dari Balai dan segala musibah dalam bulan Safar. Penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Alamendah adalah umat Islam yang masih melestarikan tradisi Sunda leluhurnya, sehingga perayaan talak bala diperingati setiap bulan Safar. Artikel ini mengaplikasikan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan penulisan sejarah.Adapun tujuannya yaitu guna mengangkat eksistensi Tradisi Hajat Buruan di Kampung Cipanawa yang masih dilestarikan. Mengingat  masih sedikit penulis yang mengangkat Tradisi ini sebagai bahan penelitian. Islam dan Tradisi Sunda dalam Tradisi Hajat Lembur merupakan bentuk  akulturasi yang masih terjadi di Desa Alamendah antara Islam dan tradisi Sunda. Kata kunci : Tradisi, Hajat Buruan.
Perpaduan Harmonis antara Arabesque dan Geometri: Sebuah Studi tentang Tema-tema Dekoratif Seni Islam Azfy Muhammad Afshal; Muhamad Rifaldy; Siti Sapinatul
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 3 No. 2 (2024): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v3i2.36042

Abstract

Motif dekoratif Timur Tengah hingga saat ini mempengaruhi budaya dan estetika diseluruh dunia, perpaduan harmonis arabesque dan geometri menjadi ciri khas utamaperkembangan seni Islam. Dalam penelitian ini penulis akan membahas terkait denganSejarah arabesque dan geometri, dengan perkembangan kesenian di dunia arabesque dangeometri memiliki adaptasi terhadap kebudayaan-kebudayaan saat ini yang membuatfleksibilitasnya sangat bagus dengan perpaduan dua ciri khas motif dekoratif ini.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan bentuk penelitiankepustakaan, Dengan menggunakan penelitian kualitatif dan prosedur kegiatan danpenyajian yang pada akhirnya menjadi deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan bagaimana perpaduan harmonis antara kedua motif ini menciptakan karya seni yang indahdan bermakna, serta memberikan wawasan tentang kontribusi seni Islam terhadap warisanbudaya dunia.Kata kunci: Arabesque, Geometri, Seni, Arsitektur Islam
Relevansi The Venture of Islam Dalam Memahami Akulturasi Tradisi Dan Budaya Oleh Islam Di Nusantara Agus Permana; Anisa Ratna Putri; Yayah Siti Hoiriah; Zalman Mulya Albari
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 3 No. 2 (2024): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v3i2.36043

Abstract

The Venture of Islam membahas sebuah Tradisi dan budaya merupakan sebuah akulturasi tradisi dan budaya dengan islam bukan dengan cara meninggalkan nya tetapi menjaganya tetap hidup dengan membiarkannya tumbuh dan berkembang. Penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, tidak hanya membawa agama baru tetapi juga memengaruhi budaya lokal melalui proses akulturasi. Para pendakwah yang dikenal sebagai Wali Songo memainkan peran penting dalam proses ini. Mereka menggunakan tiga pendekatan strategis dalam dakwah mereka: tadrij (bertahap), taqlid taklif (meringankan beban), dan adamul haraj (tidak memaksa). Pendekatan ini memungkinkan integrasi nilai-nilai Islam dengan budaya lokal tanpa menimbulkan resistensi. Melalui metode-metode yang adaptif seperti perdagangan, pengobatan tradisional, seni pertunjukan, dan pendidikan di pesantren, Wali Songo berhasil menyebarkan Islam secara efektif. Contoh konkritnya adalah Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang untuk menyampaikan ajaran Islam. Hasil dari strategi ini adalah Islam yang diterima baik dan harmonis dengan budaya lokal, memperkaya dan memperkuat identitas budaya Nusantara. Kata Kunci: Akulturasi, Wali Songo, Islam di Nusantara, Tradisi dan Budaya, Penyebaran Islam
Lembaga Kaligrafi (Lemka) Sebagai Pelestari Seni Kaligrafi di Jawa Barat Tahun 1998-2001 Rifa’atul Azkia Nur Hidayat
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 3 No. 1 (2024): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni kaligrafi merupakan seni Islam yang telah di kenal masyarakat luas sejak masuknya Islam di Indonesia metode yang digunakan merupakan metode sejarah. Dengan berdirinya salah satu Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) yang merupakan salah satu cikal bakal lahir para seniman muslim yang berakhlakul karimah dan dapat melestarikan seni Islam kaligrafi bahkan dapat mengembangkan variasi seni Islam hingga saat in.hasil kajiannya terbukti dengan keberhasilan para santri dalam meraih prestasi baik di kancah Nasional maupun Internasional, dan keberhasilan santri dalam kemandiriannya menjadi enterpeurner seni Islam.
Membangun Sapta Pesona di Masjid Raya Bandung Assyifa Khania Faradila; Any Nova Salsabila; Anis Semesta Putri; Daffa Alfarizi; Aimanul Ichsan Wiradisastra; Aam Abdillah
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 3 No. 1 (2024): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi implementasi program pembangunan Sapta Pesona di Masjid Raya Bandung. Masjid Raya Bandung dipilih sebagai objek penelitian karena peran strategisnya sebagai landmark dan pusat aktivitas keagamaan dan budaya di kota Bandung. Metode yang dilakukan penulis adalah observasi melalui pengamatan langsung ke Masjid Raya Bandung. Pendekatan yang dilakukan oleh penulis adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur atau literature review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program Sapta Pesona di Masjid Raya Bandung telah menghasilkan berbagai perubahan positif dalam hal peningkatan fasilitas fisik, pengelolaan alam sekitar, penguatan budaya lokal, dan peningkatan kualitas pelayanan. Namun, tantangan yang dihadapi termasuk dalam hal mempertahankan keaslian budaya dan nilai-nilai keagamaan dalam konteks pariwisata yang semakin komersialisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya literatur tentang pengembangan destinasi pariwisata berbasis budaya dan keagamaan di Indonesia, khususnya dalam konteks implementasi konsep Sapta Pesona. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah pentingnya mempertahankan keseimbangan antara pengembangan infrastruktur pariwisata dengan keberlanjutan budaya dan nilai-nilai spiritual dalam pengelolaan masjid sebagai destinasi pariwisata.
Pengaruh Islamisasi Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Batavia M. Ilham Nurjaman; Dani Wardani
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 3 No. 1 (2024): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v3i1.38353

Abstract

Penulisan artikel ini bertujuan untuk melakukan penelitian terkait pengaruh islamisasi terhadap perubahan sosisal masyarakt Batavia. Batavia merupakan wilayah yang kini dikenal dengan Jakarta. Sebelum kedatangan VOC dan Belanda, Batavia telah memeluk Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah Metode penelitian sejarah dengan kajian pustaka yang digunakan untuk mendeskripsikan data dan sumber yang telah didapatkan. Islamisasi yang terjadi di Batavia tidak terlepas dari peranan para Ulama dan Pedagang Muslim yang datang sejak abad ke-7 hingga abad ke-16. Salah satu tokoh yang berperan dalam Islamisasi di kawasan Batavia ialah Syeh Quro', Fatahilah, dan Peran dari orang-orang Moor. Meskipun begitu proses Islamisasi tidak berjalan dengan lancar, terdapat beberapa perlawanan dari kerajaan pajajaran beserta para resi yang telah lebih dulu menyebarkan kepercayaan Hindu dan Budha.
Peran Ulama (Penghulu) dalam Upaya Memberantas Wabah Cacar di Priangan Abad ke 19 Audi Maulana Yusuf; Tarpin Tarpin
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 3 No. 1 (2024): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v3i1.38356

Abstract

Tujuan penelitian dan penulisan ini adalah untuk menganalisis bagaimana peran para penghulu dan kaum agamawan Islam dalam upaya memberantas wabah cacar di Priangan. Pada abad ke 19, Hindia Belanda dilanda berbagai macam wabah yang menyerang seperti kolera, malaria, tifus dan cacar. Hal ini tentunya sangat mengganggu sistem perekonomian pemerintah Hindia Belanda, karena pada abad ke 19 pemerintah Hindia Belanda sedang mengalami kekosongan kas negara. Untuk mengurangi jumlah korban dan memperbaiki keuangan pemerintahan Hindia Belanda akibat wabah cacar, maka mereka memperkenalkan sistem pengobatan modern yakni sistem vaksinasi cacar yang mana mereka bekerja sama dengan para penghulu dan agamawan Islam untuk mensukseskan sistem vaksinasi tersebut. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari Heuristik, Kritik/Verifikasi, Interpretasi dan Historiografi.