cover
Contact Name
IDEI: JURNAL EKONOMI & BISNIS
Contact Email
idei.jeb@gmail.com
Phone
+62818391691
Journal Mail Official
idei.jeb@gmail.com
Editorial Address
The Mezzanine A/21, Nginden Semolo, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
IDEI: JURNAL EKONOMI & BISNIS
ISSN : 27221008     EISSN : 27221008     DOI : https://doi.org/10.38076/ideijeb.v6i2
Core Subject : Economy,
IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis (ISSN: 2722-1008) bertujuan untuk menyebarluaskan pengetahuan bagi para akade­misi, mahasiswa, praktisi, dan para pemerhati ilmu pengetahuan pada bidang Ekonomi dan Manajemen Bisnis. Dewan Penyunting/Editor menerima artikel hasil penelitian yang berkaitan dengan - Ilmu Ekonomi - Manajemen Keuangan - Manajemen Pemasaran - Manajemen Manusia Bersumberdaya - Mana­jemen Pro­duksi/Operasi - Akuntansi - Kewirausahaan IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis terbit dua kali setahun (Juni dan Desember).
Articles 75 Documents
AI LITERACY AND RISK TOLERANCE AMONG UNIVERSITY STUDENTS Dwi Fitra Arreski; Fadhilah Ahmad Qaniah; Maharani Eka
IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis Vol 7 No 1 (2026): JUNE 2026
Publisher : Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38076/y0myhg56

Abstract

This study investigated the relationship between artificial intelligence (AI) literacy and risk tolerance among Indonesian university students. As generative AI tools became deeply embedded in students' academic and personal decision-making, understanding how different dimensions of AI literacy related to risk-taking dispositions became increasingly important. A correlational quantitative design was employed, involving 156 university students recruited through purposive sampling. AI literacy was measured using the seven-dimensional AI Literacy Scale developed by Nong et al. (2024), comprising application ability, morality, critical thinking, self-efficacy, cognitive ability, perceived ease of use, and perceived usefulness. Risk tolerance was assessed using the Financial Risk Tolerance Scale developed by Grable and Lytton (1999). Spearman's rho correlation analysis was used to examine the relationship between variables. The results revealed that only the perceived ease of use dimension was significantly and negatively correlated with risk tolerance (r = -0.326, p < 0.01), whereas the other six dimensions of AI literacy showed no significant correlation. These findings indicated that students who perceived AI tools as easier to use tended to display lower risk tolerance, suggesting that effortless interaction with AI may foster cognitive comfort that reduces willingness to engage with uncertainty. The study contributed to the AI literacy literature by demonstrating dimension-specific associations between AI literacy and a key psychological disposition. Penelitian ini menyelidiki hubungan antara literasi kecerdasan buatan (AI) dan toleransi risiko pada mahasiswa di Indonesia. Seiring dengan semakin tertanamnya alat AI generatif dalam pengambilan keputusan akademik dan personal mahasiswa, pemahaman tentang bagaimana berbagai dimensi literasi AI berkaitan dengan disposisi pengambilan risiko menjadi semakin penting. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 156 mahasiswa yang dipilih melalui purposive sampling. Literasi AI diukur menggunakan AI Literacy Scale tujuh dimensi yang dikembangkan oleh Nong et al. (2024), terdiri dari application ability, morality, critical thinking, self-efficacy, cognitive ability, perceived ease of use, dan perceived usefulness. Toleransi risiko diukur menggunakan Financial Risk Tolerance Scale yang dikembangkan oleh Grable dan Lytton (1999). Analisis korelasi Spearman digunakan untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dimensi perceived ease of use yang berkorelasi negatif signifikan dengan toleransi risiko (r = -0,234, p < 0,01), sedangkan enam dimensi literasi AI lainnya tidak berkorelasi signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa yang merasa alat AI lebih mudah digunakan cenderung memiliki toleransi risiko yang lebih rendah, menunjukkan bahwa interaksi yang mudah dengan AI dapat menumbuhkan kenyamanan kognitif yang menurunkan kesediaan menghadapi ketidakpastian.
ANTARA CITRA DAN REALITAS: SEMIOTIKA PEIRCE DALAM MEMBONGKAR KONSTRUKSI MAKNA TRIPLE BOTTOM LINE PT HARUM ENERGY TBK Cindy Nur Azaria Mansa; Darwis Said; Alimuddin Alimuddin
IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis Vol 7 No 1 (2026): JUNE 2026
Publisher : Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38076/35hesv75

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna Triple Bottom Line (TBL) dalam perspektif semiotika Charles Sanders Peirce, mencakup elemen representamen, object, dan interpretant, serta klasifikasi tanda berupa ikon, indeks, dan simbol pada Sustainability Report PT Harum Energy Tbk tahun 2023. Penelitian menggunakan metode kualitatif-interpretatif dengan pendekatan analisis semiotika Peirce dan data sekunder berupa laporan keberlanjutan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan tiga lapisan tanda semiotika Peirce: (1) elemen ikon tampak pada foto dokumentasi kegiatan dan tabel kinerja operasional yang mencatat pertumbuhan pendapatan 2,8% menjadi USD 925,5 juta; (2) elemen indeks tampak pada data kuantitatif yang menunjukkan hubungan kausal, mencakup 12.195.121 jam kerja tanpa kecelakaan fatal, 263 kegiatan PPM dengan anggaran USD 446.302, rehabilitasi lahan 232,3 ha, dan emisi GRK 63.342 ton CO2e di bawah standar ambien; serta (3) elemen simbol tampak pada judul laporan, dominasi warna hijau, penghargaan PROPER Hijau, sertifikasi ISO, dan komitmen terhadap tujuh SDGs. Analisis kritis mengungkap bahwa sejumlah pengungkapan simbolik berpotensi mengandung SDG-washing apabila tidak didukung mekanisme akuntabilitas yang memadai. Temuan berkontribusi pada akuntansi kritis dan teori legitimasi dalam konteks industri ekstraktif. This study aimed to analyze the meaning of the Triple Bottom Line (TBL) through the lens of Charles Sanders Peirce's semiotics, encompassing the elements of representamen, object, and interpretant, as well as the sign classification of icons, indices, and symbols within the 2023 Sustainability Report of PT Harum Energy Tbk. A qualitative-interpretive method was employed, drawing on Peirce's semiotic analysis framework with the company's Sustainability Report serving as the secondary data source. The findings revealed three layers of Peircean semiotic signs: (1) iconic elements were evident in documentary photographs and operational performance tables recording a 2.8% revenue growth to USD 925.5 million; (2) indexical elements were reflected in quantitative data demonstrating causal relationships, including 12,195,121 accumulated work hours without fatal accidents, 263 community development activities with a budget of USD 446,302, land rehabilitation covering 232.3 hectares, and GHG emissions of 63,342 tons CO2e within ambient standards; and (3) symbolic elements were manifested in the report title, the dominant use of the green color, the PROPER Green award, ISO certifications, and an explicit commitment to seven SDGs. Critical analysis revealed that certain symbolic disclosures risked constituting SDG-washing when not supported by adequate accountability mechanisms. These findings contributed to critical accounting scholarship and legitimacy theory within the context of the extractive industry. 
BRAND EQUITY BPR AMIN: TRUST, SOCIAL MEDIA MARKETING, DAN BRAND LOYALTY Pompong Budi Setiadi; Ratna Ursula Setiadi; Audi Cahya Lucky Ramadhan
IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis (IDEI: Journal of Economics & Business) Vol 7 No 1 (2026): JUNE 2026
Publisher : Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38076/bebat846

Abstract

Perbankan memiliki peran yang sangat penting dengan berbagai target pasar berdasarkan jenisnya, sehingga setiap jenis perbankan memiliki target pasar dengan tujuan masing-masing. Namun, Bank Perekonomian Rakyat tersebut membutuhkan upaya pemasaran untuk menciptakan loyalitas pelanggan dalam kondisi persaingan antar bank. Selain itu, perkembangan teknologi memaksa bank untuk mengadopsi pemasaran berbasis media sosial sambil mempertahankan trust untuk menciptakan merek yang bernilai. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran mediasi brand loyalty dalam hubungan antara trust dan social media marketing pada brand equity di Bank Perekonomian Rakyat Anglomas Indah (BPR Amin). Penelitian ini menggunakan metode SEM-PLS dengan 280 pelanggan BPR Amin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand loyalty secara signifikan memediasi hubungan antara social media marketing dan trust pada brand equity. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar manajemen BPR Amin memprioritaskan trust pelanggan melalui implementasi social media marketing untuk meningkatkan brand equity.
YOUNG WOMEN’S INVESTMENT DECISIONS: BEHAVIORAL BIASES AND FINANCIAL LITERACY Zuwina Miraza; Hafriz Rifki Hafas; Listiorini; Mutiah Fitriani; Miftahul Rizqina
IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis (IDEI: Journal of Economics & Business) Vol 7 No 1 (2026): JUNE 2026
Publisher : Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38076/ywidc856

Abstract

 This quantitative study analyzed the influence of behavioral biases (overconfidence, representativeness, anchoring, and availability) on investment decision-making, with financial literacy as a mediating variable. The sample used 200 female investor respondents in North Sumatra, selected through purposive sampling. Primary data were obtained through a questionnaire distributed via Google Forms and analyzed using the SEM-PLS method with SmartPLS 4 software. The results showed that only representativeness bias had a significant effect on investment decisions. Meanwhile, overconfidence bias, anchoring bias, and availability bias had no significant effect. Another important finding was that financial literacy did not mediate the relationship between behavioral biases and investment decision-making and did not have a significant direct effect on investment decisions. The conclusion of this study is that representativeness bias is a dominant factor in investment decision-making among respondents, while the mediating role of financial literacy is not significant. 
EFIKASI DIRI SEBAGAI MEDIATOR: KOMUNIKASI INTERPERSONAL, KOMPETENSI, DAN ADAPTABILITAS PADA KINERJA PEGAWAI Erna Siswanti; Meylani Tuti; Efendi Toha
IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis (IDEI: Journal of Economics & Business) Vol 7 No 1 (2026): JUNE 2026
Publisher : Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38076/rslfa868

Abstract

Tujuan penelitian ini menganalisis peran efikasi diri dalam hubungan komunikasi interpersonal, kompetensi, dan adaptabilitas pada kinerja pegawai.Kompleksitas kerja dan tekanan operasional dalam organisasi menegaskan urgensi pemahaman mekanisme psikologis yang mendasari pembentukan kinerja pegawai. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei eksplanatori diterapkan, dengan melibatkan 332 personel di Kepolisian Brigade Mobil melalui teknik purposive sampling dan data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian membuktikan bahwa kompetensi dan adaptabilitas berpengaruh positif dan signifikan pada efikasi diri. Efikasi diri selanjutnya berpengaruh positif pada kinerja pegawai sekaligus terbukti memediasi hubungan kompetensi dan adaptabilitas pada kinerja. Sebaliknya, komunikasiinterpersonal tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada efikasi diri maupun kinerja baik secara langsung maupun melalui mediasi. Temuan ini menegaskan bahwa kapasitas individu saja tidak cukup untuk menghasilkan kinerja yang optimal tanpa keyakinan pada kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas. Penelitian ini memperkuat peran efikasi diri sebagai mekanisme psikologis vital dalam organisasi berisiko tinggi, sekaligus memberikan wawasan baru bahwa pengembangan sumber daya manusia kepolisian perlu melampaui peningkatan kompetensi teknis, dengan turut memprioritaskan penguatan efikasi diri personel.