cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humanika : Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
ISSN : 14121271     EISSN : 25794248     DOI : 10.21831
Core Subject : Humanities, Art,
HUMANIKA published by P-MKU LPPMP is an academic journal, publishes high quality manuscripts that engage theoretical and empirical issues including education, social sciences, and religion studies. They are tackled from a multidisciplinary perspective. The journal also features case studies focusing on practical implications, or papers related to learning and teaching in social and science disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 207 Documents
USAHA PROFESIONALISME PENDIDIK YANG MENIMBULKAN POLEMIK Fitri, Fatimatus Zahro Jihan
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 12 No. 1 (2012): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v12i1.3652

Abstract

Pendidikan telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai kalangan, yang banyak dipengaruhi pandangan dunia masing-masing. Kesimpulan awal bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi  muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Pendidikan lebih dari sekedar pengajaran. Guru sebagai agen  pembawa  perubahan yang mampu mendorong   pemahaman dan toleransi diharapkan tidak hanya mampu mencerdaskan peserta didik, tetapi  juga harus mampu mengembangkan kepribadian yang utuh, berakhlak dan berkarakter. Dibutuhkan suatu proses   pendidikan  guru yang secara profesional dapat dipertanggungjawabkan. Guru profesional adalah guru yang dalam melaksanakan tugasnya mampu menunjukkan kemampuannya yang ditandai dengan penguasaan kompetensi akademik pendidikan dan kompetensi substansi sesuai dengan program studinya.   Kata kunci: profesionalisme, pendidik, polemik
IJTIHAD SAHABAT DI TENGAH PERGUMULAN TRANSFORMASI PEMIKIRAN HUKUM Tri Ermayani
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 6, No 1 (2006): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v6i1.3810

Abstract

Ijtihad merupakan dasar hukum yang ketiga sesudah al-Qur’an dan as-Sunnah. Meski demikian kadang ada yang mempertanyakan atau bahkan mempertentangkan tentang nilai akurat dan validitasnya. Terlepas dari berbagai tanggapan atau argumen masing-masing para tokoh hukum Islam, ada baiknya kita menengok setting kehidupan para sahabat ketika mereka melakukan sesuatu hal yang berkaitan dengan legalitas ijtihad di tengah kebutuhan akan kepastian hukum atas sesuatu perkara yang muncul di setiap waktu dalam kehidupan yang sarat akan perkembangan dan perubahan. Sepeninggal Rasulullah berbagai perkembangan dan perubahan dalam kehidupan ini semakin mengisyaratkan perlunya ijtihad. Berbagai persoalan yang sangat kompleks bermunculan, sehingga memerlukan kepastian hukum, karena akan diterapkan untuk kehidupan ummat Islam yang sesuai dengan Syariat Islam. Oleh karena itu, perlu juga ummat Islam memahami hukum dari aspek historis. Ijtihad di zaman sahabat telah dicontohkan oleh para sahabat, seperti: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, dan Ali bin Abi Thalib. Masing-masing sahabat pun memiliki kecenderungan maupun orientasi yang khas tentang pemikirannya. Hal tersebut dipengaruhi oleh sikap mental dan ketajaman pola pikir mereka. Namun demikian perbedaan tersebut tidaklah menjadi pertentangan, sebaliknya semua perbedaan itu justru dijadikan sebagai landasan untuk bersikap lebih arif. Rasulullah sesungguhnya telah mengisyaratkan tentang perbedaan di kalangan ummat Islam justru akan membawa rahmat.
KEJAWAAN DAN KEKRISTENAN: NEGOSIASI IDENTITAS ORANG KRISTEN JAWA DALAM PERSOALAN DI SEKITAR TRADISI ZIARAH KUBUR Yuwono, Emmanuel Satyo
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 16 No. 1 (2016): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v16i1.12139

Abstract

Ziarah kubur merupakan tradisi yang melekat dalam tradisi masyarakat Jawa. Tradisi ini tidak hanya menjadi wujud hormat bagi leluhur mereka, namun memiliki pemaknaan akan peristiwa kematian. Bagi orang Jawa persitiwa kematian tidak berarti kepunahan melainkan kesuburan. Orang-orang melakukan ritual ziarah kubur untuk mendoakan dan menyelipkan harapan atau berkah pangestu melalui leluhur mereka. Permohonan ini dipanjatkan tidak hanya melalui leluhur mereka secara pribadi, namun juga leluhur mereka secara komunal yang sering disebut dengan pepunden. Sebagai wujud nyata penghormatan leluhur secara komunal, maka dikenal adanya tradisi slametan, merti desa, dan bahkan dihadirkan melalui pertunjukan wayang kulit. Semua tradisi ini menjadi ritual di sekitar ziarah kubur karena terdapat wujud hormat dan permohonan melalui leluhur mereka, yang semuanya mengarah pada penunjukan identitas manusia Jawa.Tradisi di sekitar ziarah kubur ini tergambar di tengah masyarakat Desa Banyubiru. Sebuah desa yang terletak di lereng gunung Telomoyo dan di dekat Rawa Pening. Kondisi alam semacam ini menyebabkan konsepsi ritual penghormatan leluhur semakin kuat. Namun, di tengah masyarakat Banyubiru muncul usaha purifikasi agama yang hadir melalui ajaran Gereja Kristen Jawa. Ajaran Kristen memandang bahwa setelah kematian tidak ada keterhubungan antara yang masih hidup dengan roh orang meninggal. Orang yang meninggal sudah langsung berada di Surga. Pemahaman ini didasarkan atas teks Alkitab dan tafsiran dari para Pendeta.Jemaat Gereja Kristen Jawa akhirnya harus menegosiasikan identitasnya antara kejawaan dan kekristenan. Untuk melihat mekanisme negosiasi identitas, kajian ini menggunakan pendekatan Foucault tentang panoptikon. Dari hasil kajian yang telah dilakukan ternyata teori panoptikon Foucault masih terbatas. Foucault melihat adanya pengawasan berasal dari satu titik saja atau bersifat tunggal. Dalam kajian ini ternyata ada dua pengawasan yang mempengaruhi negosiasi identitas. Tuhan yang dihadirkan melalui Alkitab sebagai usaha purifikasi dan aturan komunal dalam masyarakat. Akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa usaha purifikasi tidak berhasil secara total. Kegagalan purifikasi ini disebabkan karena pengetahuan jemaat GKJ yang dipengaruhi oleh kekuasaan di sekitarnya, dalam hal ini kekuatan tradisi lokal. Jemaat GKJ tetap melakukan ziarah kubur namun di sisi lain tidak melakukan ritual dan pemaknaan seperti dalam tradisi Jawa.
KASUS CERAI GUGAT PADA ISTRI BERPENDIDIKAN TINGGI Ummah, Sun Choirol
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 11 No. 1 (2011): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v11i1.20995

Abstract

Tingkat pendidikan yang rendah dan komitmen keluarga yang rapuh, seringkali memicu berbagai konflik dalam rumah tangga, utamanya terhadap perempuan. Banyaknya perempuan berpendidikan tinggi dewasa ini, tidak hanya membanggakan perempuan sendiri sebagai pelaku pendidikan, namun merambah pada lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, para pemerhati kesetaraan gender hingga pemegang kebijakan pendidikan di tingkat daerah maupun nasional. Berbekal pendidikan tinggi, perempuan lebih memiliki akses yang luas di ranah publik. Banyak sekali perempuan telah mampu bersaing di hampir seluruh lini pekerjaan, sehingga kebijakan pemerintah pun kini mulai bergeser, tidak hanya mengacu pada kebijakan maskulinitas, walaupun berbagai bias masih saja ditemukan. Tingkat pendidikan yang tinggi, karir yang mapan, dan kesejahteraan yang terjamin merupakan tapakan sinergis dalam menata sebuah kehidupan rumah tangga. Namun, di pihak lain pendidikan tinggi yang dimiliki istri, justru menjadi bumerang terhadap meningkatnya kasus cerai gugat. Hal ini ditengarai akibat pengaruh budaya modern, kemandirian ekonomi istri, kejelian istri menangkap permasalahan keluarga, dan keberaniannya menyuarakan hak-haknya.
METODE PEMBELAJARAN BERBASIS HADIS Rubini, Rubini
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 18 No. 1 (2018): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v18i1.23127

Abstract

Metode pembelajaran adalah berbagai cara yang dipergunakan pendidik dalammenyampaikan bahan pelajaran kepada peserta didik, sehingga dengan metode yang tepatdan sesuai, bahan pelajaran dapat diterima dan dikuasai dengan baik oleh peserta didik.Begitu pula dengan Rasulullah SAW. Beliau menyampaikan sebuah pendidikan,pembelajaran atau pengajaran kepada para sahabat juga menggunakan berbagai macamcara atau metode, sehingga para sahabat dapat menerima, memahami dan menguasai apayang disampaikan oleh Rasulullah SAW.Beberapa metode pembelajaran yang dikemukakan dalam makalah ini, merupakanmetode – metode yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam menyampaikan materikepada para sahabat. Metode – metode tersebut terdiri dari metode ceramah, metodediskusi, metode keteladanan, metode tanya jawab, metode demonstrasi, metodeketeladanan, metode pembiasaan,metode mau'izahat dan nasihat, metode kisah, metodeperumpamaan, metode hadiah dan hukuman, metode gradual, metode perbandingan, danmetode menggunakan gambar.Pada dasarnya metode–metode pembelajaran yang digunakan oleh Rasulullah SAW.Hingga saat ini masih digunakan dalam dunia pendidikan, artinya begitu besar manfaatdari pada metode tersebut digunakan dari pada masa Rasulullah SAW hingga masasekarang ini dan artinya pula sudah ratusan tahun yang lalu metode – metode tersebut telahdigunakan oleh Rasulullah SAW.Learning methods are various ways conducted by educators in delivering learningmaterial to students, so that with the right and appropriate methods, learning materials canbe accepted and mastered well by students. Likewise with the Prophet Muhammad. Heconveyed that education, learning or teaching to friends also used a variety of ways ormethods, so that friends could receive, understand and master what was conveyed by theProphet Muhammad.Some of the learning methods presented in this paper are those used by theProphet Muhammad in delivering material to friends. The methods consist of lectures,discussions, exemplaries, questions and answers, demonstrations, habituations, mischiefsand advices, stories, parables, rewards and punishments, gradualism, comparisons, andusing of images. Basically those methods is still applied in the world of education, meaning thatso much benefit from the method used from the time of the Prophet Muhammad to thepresent and its meaning also hundreds of years ago these methods have been used by theProphet Muhammad.
Implementasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran sains Sugrah, Nurfatimah Ugha
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 19 No. 2 (2019): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v19i2.29274

Abstract

Constructivism learning theory is a theory that gives freedom to humans who want to learn or look for their needs with the ability to find their wants or needs with the help of others, so this theory provides activeness for humans to learn to find their own competencies, knowledge, or technology and other things that needed to develop itself. Constructivism learning theory holds that people produce knowledge and form meaning based on their experiences. In constructivism, learning is represented as a constructive process in which students build internal illustrations of knowledge, interpretations of personal experiences. Constructivism teaching is based on learning that occurs through the active involvement of students in the construction of meaning and knowledge. Teaching science from a constructivist perspective aims to give students knowledge of science in such a way that they not only understand the concepts and principles of science, but also the significance of science learning. The emphasis on constructivism and direct inquiry-oriented learning to promote children's conceptual knowledge by building on previous understanding, active involvement with subject content, and applications for real-world situations has been. A constructivist view emphasizes discovery, experimentation, and open problems. Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan orang lain, sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan, atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Teori pembelajaran konstruktivisme berpendapat bahwa orang menghasilkan pengetahuan dan membentuk makna berdasarkan pengalaman mereka. Dalam konstruktivisme, pembelajaran direpresentasikan sebagai proses konstruktif di mana pelajar membangun ilustrasi internal pengetahuan, interpretasi pengalaman pribadi. Pengajaran konstruktivisme didasarkan pada pembelajaran yang terjadi melalui keterlibatan aktif siswa dalam konstruksi makna dan pengetahuan. Pengajaran sains dari perspektif konstruktivisme bertujuan untuk memberikan siswa pengetahuan sains sedemikian rupa sehingga mereka tidak hanya memahami konsep dan prinsip sains, tetapi juga signifikansi dari pembelajaran sains. 
The language of science and religion: An approach to understand the encounter between science and religion according to Ian G. Barbour Fitria, Vita; Al Giffari, Haekal Adha
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 21 No. 1 (2021): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v21i1.40453

Abstract

The advancement of science is considered a reflection of age's development. At the same time, religion is placed as a relatively fixed essence. Their encounter creates undeniable continuous tensions. The problem generally lies in the question of how to apprehend unchanged issues within a dynamic context. This paper analyzed the encounter of science and religion with an observation of their language from the perspective of Ian G. Barbour. The library research method used in this paper to delve more in-depth the works of literature related to the topic discussed. Barbour responded with an argument that it is incorrect to keep polarization to choose between science and religion. The belief system of religion offers a broader frame of meaning in life. In comparison, science reveals a no more expansive range of human experience nor articulation of the possibility to transform human life as witnessed by religion. In observing their language as a tool for communication in religion and science, looking at their principles of verification and linguistic analysis, the contrast and comparison of their cognitive and non-cognitive function are emerged, including the evaluations and its limitations. Barbour states that basically, science and religion share synergic similarities. The dialogue to do to compare them is by sharing their similarities in method and concept prediction. One of those is by comparing their method, which shows their similarities and diversities. Science and religion share similar characteristics, namely coherence, comprehension and usefulness, and their methodology.Perkembangan sains bisa dianggap sebagai refleksi dari perkembangan zaman. Sementara Agama, ditempatkan sebagai essensi yang relatif tidak berubah. Pertemuan antara keduanya memungkinkan terjadinya ketegangan dengan perubahan yang terus menerus. Secara umum, persoalannya adalah bagaimana memahami hal-hal yang tak berubah itu dalam konteks yang selalu berubah. Ian Barbour menanggapi hal ini dengan argumen bahwa keliru melanggengkan dilema tentang keharusan memilih antara sains dan agama. Pertentangan yang terjadi di dunia Barat sejak abad lalu sesungguhnya disebabkan oleh paradigma yang keliru dalam memaknai hakikat sains dan agama. Kepercayaan agama menawarkan kerangka makna yang lebih luas dalam kehidupan. Sedangkan sains tidak dapat mengungkap rentang yang luas dari pengalaman manusia atau mengartikulasikan kemungkinan-kemungkinan bagi tranformasi hidup manusia sebagaimana yang dipersaksikan oleh agama. Barbour mengatakan  bahwa pada dasarnya antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa disinergikan. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan sains dan agama adalah menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep. Salah satu bentuk dialognya adalah dengan membandingkan metode sains dan agama yang dapat menunjukkan kesamaan dan perbedaan. Antara sains dan agama memiliki kesejajaran karakteristik yaitu koherensi, kekomprehensifan dan kemanfaatan. Begitu juga kesejajaran metodologis.
TINDAKAN ABORSI DI INDONESIA MENURUT HUKUM ISLAM Choirol Ummah, Sun
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 14 No. 1 (2014): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v14i1.3465

Abstract

Aborsi dalam bahasa Arab disebut isqatu al-hamli al-ijhad, merupakantindakan penghentian dini suatu proses alami atau penyakit, pengeluaran hasilkonsepsi dari uterus sebelum janin viabel.Secara umum, pengguguran kandungandapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu: pengguguran spontan dan pengguguran buatanatau disengaja.Aborsi spontanadalah pengguguran tidak sengaja yang terjadi tanpatindakan apapun.Sedangkan aborsi buatan adalah pengguguran yang terjadi sebagaiakibat dari suatu tindakan. Aborsi dalam bentuk kedua ini dapat dibedakan dalam 2macam, yaitu aborsi articialis therapicus dan aborsi procatus criminalis. Aborsiarticialis therapicus adalah pengguguran yang dilakukan oleh dokter atas dasarindikasi medis yang dilakukan sebagai penyelamatan terhadap jiwa ibu yangterancam bila kelangsungan kehamilan dipertahankan.Sedangkan aborsi provocatuscriminalis adalah pengguguran yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis misalnya,aborsi yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan seks diluar perkawinan atauuntuk mengakhiri perkawinan yang tidak dikehendaki.Kata Kunci: Aborsi, Perempuan, Hukum Islam
KAJIAN KONSTITUSI INDONESIA DARI AWAL KEMERDEKAAN SAMPAI ERA REFORMASI Sartono, Kus Eddy
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 9 No. 1 (2009): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v9i1.3786

Abstract

Sejarah konstitusi Indonesia dapat dikatakan telah melewati berbagai  tahap perkembangan. Tiap tahap memunculkan model ketatanegaraan yang khas, sampai  karena trauma masa lalu terutama akibat praktik politik Orde Baru yang  menyalahgunakan konstitusi untuk tujuan kekuasaannya yang sentralistik dan otoriter, memunculkan ide untuk mengamandemen UUD 1945. Tahap perkembangan konstitusi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi beberapa periode. Periode pertama berlaku UUD 1945, periode kedua berlaku Konstitusi RIS 1949, periode ketiga berlaku UUDS 1950, Periode keempat berlaku kembali UUD 1945 beserta Penjelasannya. Setelah itu UUD 1945 diubah berturut-turut pada tahun 1999, 2000, 2001, 2002 dengan menggunakan naskah yang berlaku mulai 5 Juli 1959 sebagai standar dalam melakukan perubahan di luar teks yang kemudian dijadikan lampiran yang tak terpisahkan dari naskah UUD 1945. Mengamandemen konstitusi (undang-undang dasar) jelas bukan urusan sederhana. Sebab undang-undang dasar merupakan desain utama negara untuk mengatur berbagai hal fundamental dan strategis, dari soal struktur kekuasaan dan hubungan antar kekuasaan organ negara sampai hak asasi manusia. Proses amandemen UUD 1945 terjadi secara bertahap selama empat kali. Ada berbagai kekurangan dalam empat tahap amandemen tersebut yang mendapat sorotan tajam di antara para pengamat, yang memunculkan ide perlunya dibentuk Komisi Konstitusi yang akan membantu melakukan koreksi dan mengatasi kekurangan-kekurangan itu untuk amandemen mendatang.
MENCARI MODEL PENDIDIKAN KARAKTER Suparlan, Suparlan
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 15 No. 1 (2015): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v15i1.7643

Abstract

AbstrakPendidikan karakter merupakan keniscayaan, karena terbukti mampumengantarkan kesuksesan akademik dan kehidupan, mampu membantumempersiapkan anak menghadapi tantangan hidu, mampu membantu mendorong tingkah laku baik, memudahkan guru dalam proses pembelajaran. Pendidikan karakter menjadi mendesak untuk diterapkan disemua aspek pendidikan karena melihat realitas manusia yang sudah semakin jauh dari nilai - nilai kebenaran. Pendidikan karakter adalah ditujukan untuk membangun nilai, sikap dan prilaku anak didik secara konsisten, sehingga prilaku anak didik senantiasa dengan ikhlas istiqomah dengan prilaku baik dalam situasi dan kondisi apapun. Model pendidikan karakter yang dikembangkan adalah model pendidikan keterpaduan yang mengoptimalkan seluruh komponen keluarga baik keluarga, sekolah, dan masyarakat, dan penendiikan yang mengintegrasikan pengoptimalan potensi hati, akal, jiwa, fisik anak.

Page 6 of 21 | Total Record : 207


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 2 (2025): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 25 No. 1 (2025): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 24 No. 2 (2024): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 24 No. 1 (2024): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 23 No. 2 (2023): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 23 No. 1 (2023): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 22 No. 2 (2022): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 22 No. 1 (2022): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 21 No. 2 (2021): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 21 No. 1 (2021): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 20 No. 2 (2020): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 20 No. 1 (2020): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 19 No. 2 (2019): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 19 No. 1 (2019): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 18 No. 2 (2018): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 18 No. 1 (2018): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 17 No. 2 (2017): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 17 No. 1 (2017): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 16 No. 1 (2016): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 15 No. 1 (2015): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 14 No. 1 (2014): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 13 No. 1 (2013): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 12 No. 1 (2012): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 11 No. 1 (2011): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 10 No. 1 (2010): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 9 No. 1 (2009): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 8 No. 1 (2008): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 7 No. 1 (2007): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 6, No 1 (2006): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum More Issue