cover
Contact Name
Indrya Mulyaningsih
Contact Email
literatureindonesian@gmail.com
Phone
+6289667890219
Journal Mail Official
literatureindonesian@gmail.com
Editorial Address
Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Language Education and Literature
ISSN : -     EISSN : 25022261     DOI : https://doi.org/10.24235/
Core Subject :
Indonesian Language Education and Literature also known ILEaL (2502-2261) is a journal of research publication. The scopes of this research are Indonesian language and literature teaching, either as the first, second, or foreign language. The research can be conducted in elementary schools, junior high schools, senior high schools, and/or university. The journal is regularly published on July and December in collaboration with the cooperation Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) and Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). ILEaL is registered in Science and Technology Index (SINTA 2), Directory of Open Access Journals (DOAJ), Garba Rujukan Digital (Garuda), Ministry of Religious Affairs Reference (MORAREF), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) or National Library of The Republic of Indonesia, and several indexing services with e-ISSN: 2502-2261. We receive articles in Indonesian. All the requirements and guidelines are available at Author Guidelines or downloaded from the Template.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Students' Perceptions of Using Online Mind Mapping in Academic Essay Writing Instruction Dwi Atmoko; Fiqih Kartika Murti; Agung Tyas Subekti
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/11e5wd21

Abstract

This study aimed to describe students' perceptions of using online mind mapping as a pre-writing strategy in academic essay writing instruction. The research used a quantitative approach with a descriptive survey design. The research subjects were 48 students from the Bachelor of Nursing Science Study Program at Universitas Bhamada Slawi who were taking the Indonesian Language course and had used the online mind mapping application (Coggle) in academic essay writing instruction. Sampling was done purposively, considering the students' experience in using online mind mapping. The research instrument was a four-point likert scale questionnaire developed based on the constructs of technology perception and writing instruction. The questionnaire indicators included ease of use, idea development and organisation, essay structure composition, material understanding, writing motivation, quality of written results, efficiency of the writing process, and satisfaction with using online mind mapping. The collected data was analysed using descriptive statistics, calculating mean values, percentages, and standard deviations to objectively describe the trends in student perceptions. The research results indicated that students had a positive perception of using online mind mapping as a pre-writing strategy. The average questionnaire score fell within the range of 3.27–3.63, indicating an agreement to strongly agree category. Online mind mapping is perceived as making it easier for students to develop and organise ideas, structure essays more systematically, improve understanding of essay writing material, and boost motivation and efficiency in the writing process. Additionally, students also showed a high level of satisfaction and interest in continuing to use online mind mapping in writing instruction. The implications of this research suggest that online mind mapping has the potential to be sustainably integrated as a pre-writing strategy in academic essay writing instruction at the university level. This finding can serve as the basis for developing technology-based writing instruction, as well as encourage further research with experimental designs to objectively test its impact on writing quality. Persepsi Mahasiswa terhadap Penggunaan Mind Mapping Online dalam Pembelajaran Menulis Esai Akademik Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi mahasiswa tentang penggunaan mind mapping online sebagai strategi pra-penulisan dalam pengajaran penulisan esai akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif. Subjek penelitian adalah 48 mahasiswa dari Program Studi Sarjana Keperawatan di Universitas Bhamada Slawi yang mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia dan telah menggunakan aplikasi mind mapping online (Coggle) dalam pengajaran penulisan esai akademik. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif, dengan mempertimbangkan pengalaman mahasiswa dalam menggunakan mind mapping online. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala likert empat poin yang dikembangkan berdasarkan konstruk persepsi teknologi dan pengajaran penulisan. Indikator kuesioner meliputi kemudahan penggunaan, pengembangan dan pengorganisasian ide, komposisi struktur esai, pemahaman materi, motivasi menulis, kualitas hasil tulisan, efisiensi proses penulisan, dan kepuasan menggunakan mind mapping online. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, menghitung nilai rata-rata, persentase, dan deviasi standar untuk secara objektif menggambarkan tren persepsi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap penggunaan peta pikiran daring sebagai strategi pra-penulisan. Skor kuesioner rata-rata berada dalam kisaran 3,27–3,63, menunjukkan kategori setuju hingga sangat setuju. Peta pikiran daring dianggap memudahkan mahasiswa untuk mengembangkan dan mengatur ide, menyusun esai secara lebih sistematis, meningkatkan pemahaman materi penulisan esai, dan meningkatkan motivasi serta efisiensi dalam proses penulisan. Selain itu, mahasiswa juga menunjukkan tingkat kepuasan dan minat yang tinggi untuk terus menggunakan peta pikiran daring dalam pengajaran penulisan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa peta pikiran daring berpotensi untuk diintegrasikan secara berkelanjutan sebagai strategi pra-penulisan dalam pengajaran penulisan esai akademik di tingkat universitas. Temuan ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan pengajaran penulisan berbasis teknologi, serta mendorong penelitian lebih lanjut dengan desain eksperimental untuk secara objektif menguji dampaknya terhadap kualitas penulisan.
Berpikir Kritis dalam Wacana Akademik: Analisis Wacana Kritis terhadap Artikel di Jurnal Terindeks Scopus Dewi Herlina Sugiarti; Syihabuddin Syihabuddin; Andoyo Sastromiharjo; Khaerudin Kurniawan
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/zzgyfy20

Abstract

Berpikir kritis merupakan kompetensi kunci dalam praktik akademik, namun kajian sebelumnya cenderung memaknainya sebagai kemampuan kognitif individual dan jarang menempatkan teks artikel jurnal sebagai objek analisis. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi indikator berpikir kritis dalam teks artikel jurnal terindeks Scopus melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis teks multiartikel. Data penelitian berupa sepuluh artikel jurnal terindeks Scopus yang dipilih secara sistematis melalui tahapan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Analisis data dilakukan dengan memanfaatkan indikator berpikir kritis Facione, meliputi interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri, sebagai lensa analitik untuk mengidentifikasi pola diskursif dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator interpretasi dan analisis muncul secara konsisten dalam seluruh artikel yang dianalisis, sementara indikator evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri menunjukkan variasi intensitas kemunculan antarteks. Temuan ini menunjukkan bahwa berpikir kritis direpresentasikan sebagai praktik diskursif yang terintegrasi dalam cara penulis membangun argumen, menafsirkan data, dan mengelola klaim pengetahuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa berpikir kritis dalam teks artikel jurnal berfungsi sebagai praktik diskursif yang berperan dalam konstruksi dan legitimasi pengetahuan ilmiah. Critical Thinking as a Discursive Practice in Journal Articles: A Critical Discourse Analysis of Critical Thinking Indicators Critical thinking is a core competence in academic practice; however, previous studies have largely conceptualized it as an individual cognitive ability and have rarely examined academic journal articles as objects of analysis. This study aims to examine how critical thinking indicators are discursively represented in Scopus-indexed journal articles using a Critical Discourse Analysis approach. Employing a qualitative multi-article text analysis design, the study analyzes ten Scopus-indexed journal articles selected through a systematic procedure guided by the PRISMA framework. Data were analyzed using Facione’s critical thinking indicators, interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, and self-regulation, as analytical lenses to identify recurring discursive patterns across texts. The findings indicate that interpretation and analysis consistently appear in all analyzed articles, whereas evaluation, inference, explanation, and self-regulation show varying degrees of representation. These results suggest that critical thinking is discursively enacted through argumentative construction, data interpretation, and the management of knowledge claims. The study concludes that critical thinking in journal articles functions as a discursive practice that contributes to the construction and legitimation of academic knowledge.
Keterampilan Menulis Teks Digital Siswa Sekolah Menengah Atas dan Keterkaitannya dengan Faktor Afektif Penulis Masri Masri; Cecep Nuryadin; Tofan Stofiana
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/x9hsja70

Abstract

Pembelajaran menulis di era digital menuntut pergeseran pemahaman dari praktik menulis berbasis teks verbal menuju desain makna multimodal yang mengintegrasikan berbagai mode semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan menulis teks digital terpadu siswa serta menganalisis keterkaitannya dengan faktor afektif berupa keyakinan diri dan kecemasan menulis. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelasional dengan melibatkan siswa sekolah menengah sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui tugas menulis teks digital terpadu yang dinilai menggunakan rubrik multimodal serta angket afektif, kemudian dianalisis secara deskriptif dan korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan menulis teks digital terpadu siswa berada pada kategori sedang, dengan ketimpangan capaian antardimensi. Capaian tertinggi terdapat pada dimensi kualitas teks verbal, sementara capaian terendah terdapat pada dimensi integrasi lintas mode. Temuan ini mengindikasikan bahwa menulis digital masih dipahami terutama sebagai perubahan medium penyajian, bukan sebagai aktivitas desain makna yang menuntut pengambilan keputusan semiotik lintas mode. Analisis korelasional menunjukkan adanya hubungan positif antara keterampilan menulis digital dan keyakinan diri, serta hubungan negatif dengan kecemasan menulis. Implikasi penelitian menegaskan pentingnya pembelajaran dan penilaian yang secara eksplisit mengajarkan integrasi makna lintas mode serta memberikan dukungan afektif agar siswa mampu mengelola kompleksitas menulis digital sebagai praktik desain makna yang terpadu. High School Students' Digital Text Writing Skills and Their Relationship to the Author's Affective Factors Learning to write in the digital era demands a shift in understanding from verbal text-based writing practices to multimodal meaning design that integrates various semiotic modes. This study aims to describe students' integrated digital text writing skills and analyze their relationship to affective factors such as writing self-efficacy and writing anxiety. This study used a quantitative, descriptive-correlational design involving high school students as participants. Data were collected through integrated digital text writing assignments assessed using a multimodal rubric and an affective questionnaire, then analyzed descriptively and correlationally. The results showed that students' integrated digital text writing skills were in the moderate category, with disparities in achievement across dimensions. The highest achievement was found in the verbal text quality dimension, while the lowest achievement was in the cross-mode integration dimension. These findings indicate that digital writing is still understood primarily as a change in presentation medium, rather than as a meaning design activity that requires cross-mode semiotic decision-making. The correlational analysis showed a positive relationship between digital writing skills and self-efficacy, and a negative relationship with writing anxiety. The implications of this study emphasize the importance of learning and assessment that explicitly teach cross-mode meaning integration and provide affective support so that students can manage the complexity of digital writing as an integrated meaning design practice.
Pemetaan Riset Integrasi Toulmin dan Literasi Data pada Pembelajaran Menulis Teks Eksposisi Ulfah Nurzulfa Setiadi; Andoyo Sastromiharjo; Vismaia S Damaianti; Yeti Mulyati
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/dax7fa25

Abstract

Transformasi pendidikan abad ke-21 menuntut pembelajaran menulis teks eksposisi yang tidak hanya menekankan struktur kebahasaan, tetapi juga kualitas penalaran dan penggunaan data sebagai dasar argumentasi. Pola argumen Toulmin dan literasi data telah banyak dikaji secara terpisah, namun kajian yang secara sistematis memetakan integrasi keduanya dalam pembelajaran menulis teks eksposisi masih terbatas dan terfragmentasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis tren penelitian, karakteristik metodologis, temuan utama, serta kesenjangan riset terkait integrasi pola argumen Toulmin dan literasi data dalam pembelajaran menulis teks eksposisi. Penelitian menggunakan pendekatan systematic literature review yang dipadukan dengan analisis bibliometrik, mengikuti panduan PRISMA 2020. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data Scopus, Google Scholar, dan Semantic Scholar dengan rentang publikasi tahun 2014–2025 menggunakan kombinasi kata kunci terkait Toulmin, literasi data, dan pembelajaran menulis. Dari 277 dokumen awal, sebanyak 19 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif serta divisualisasikan menggunakan VOSviewer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pola argumen Toulmin efektif meningkatkan struktur dan kejelasan argumentasi tulisan, namun integrasi literasi data masih cenderung bersifat implisit dan belum menjadi fokus pembelajaran utama. Selain itu, penelitian didominasi oleh konteks EFL dan pendidikan tinggi, dengan keterbatasan kajian pada pembelajaran bahasa Indonesia dan jenjang sekolah menengah. Penelitian ini menegaskan perlunya pengembangan model pembelajaran menulis teks eksposisi yang secara eksplisit mengintegrasikan pola argumen Toulmin, literasi data, dan kesadaran metakognitif, serta disesuaikan dengan konteks linguistik dan budaya Indonesia. Mapping Research on Toulmin Integration and Data Literacy in Learning to Write Expository Texts The transformation of twenty-first-century education calls for the teaching of expository writing that goes beyond linguistic structure to foreground the quality of reasoning and the use of data as a basis for argumentation. While Toulmin’s argumentation pattern and data literacy have been widely examined as separate constructs, systematic accounts of their integration in expository writing instruction remain limited and fragmented. This study aims to analyse research trends, methodological characteristics, key findings, and research gaps related to the integration of Toulmin’s argumentation pattern and data literacy in expository writing instruction. Adopting a systematic literature review combined with bibliometric analysis, the study follows the PRISMA 2020 guidelines. Literature searches were conducted in Scopus, Google Scholar, and Semantic Scholar, covering publications from 2014 to 2025 and employing keyword combinations related to Toulmin, data literacy, and writing instruction. Of the 277 records initially identified, 19 articles met the inclusion criteria and were subjected to qualitative synthesis and bibliometric visualisation using VOSviewer. The findings indicate that the application of Toulmin’s argumentation pattern effectively enhances the structural coherence and clarity of written arguments; however, data literacy is often addressed implicitly and has yet to become a central focus of writing instruction. In addition, existing studies are predominantly situated in EFL contexts and higher education, with limited attention to Indonesian language instruction and secondary education. These findings underscore the need for the development of expository writing pedagogies that explicitly integrate Toulmin’s argumentation pattern, data literacy, and metacognitive awareness, while being responsive to linguistic and cultural contexts.
Pemetaan Kendala Penulisan Ilmiah Mahasiswa: Sebuah Pendekatan SEM-PLS Perla Yualita; Yeti Mulyati; Yulianeta Yulianeta; Vismaia S. Damaianti; Andoyo Sastromiharjo
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/8n18gf49

Abstract

Penulisan ilmiah merupakan kompetensi akademik yang menuntut kemampuan linguistik, kognitif, afektif, dan literasi teknologi yang memadai. Namun, berbagai temuan menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghadapi beragam hambatan dalam memulis karya tulis ilmiah secara efektif. Tujuan penelitian ini untuk memetakan dan menganalisis hambatan utama yang memengaruhi kemampuan menulis karya tulis ilmiah mahasiswa dengan SEM-PLS. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif  desain cross-sectional  dengan SEM-PLS. Responden sebanyak 144 mahasiswa yang dipilih secara purposive. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner  dengan nilai validitas 0,703-0,882 dan reliabilitas 0,766-0,829. Hasil menunjukkan bahwa hambatan afektif merupakan satu-satunya hambatan yang berpengaruh langsung dan signifikan terhadap kesulitan menulis karya tulis ilmiah mahasiswa. Sebaliknya, hambatan linguistik, kognitif, dan teknologi tidak menunjukkan pengaruh langsung, tetapi berpengaruh melalui hubungan mediasi. Temuan penting lainnya menunjukkan adanya jalur mediasi berantai dari hambatan linguistik menuju kesulitan menulis melalui hambatan afektif dan kognitif, serta hubungan kuat antarhambatan internal, seperti pengaruh signifikan hambatan afektif terhadap hambatan kognitif dan hambatan kognitif terhadap hambatan teknologi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kesulitan menulis mahasiswa bersifat multidimensional dan lebih dipengaruhi oleh dinamika afektif daripada kemampuan teknis semata. Implikasi penelitian ini merekomendasikan perlunya intervensi pembelajaran menulis yang berfokus pada penguatan aspek emosional, pemikiran kritis, dan literasi digital secara terpadu di perguruan tinggi. Mapping Barriers to Academic Writing among University Student: A SEM-PLS Approach Scientific writing is an academic competence that demands adequate linguistic, cognitive, affective, and technological literacy skills. However, various findings indicate that students still face diverse obstacles in writing scientific papers effectively. This study aims to map and analyze the primary barriers influencing students' scientific writing abilities using Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). The research employs a quantitative, cross-sectional design. A total of 144 students were selected as respondents through purposive sampling. Data were collected using a questionnaire with validity scores ranging from 0.703 to 0.882 and reliability scores between 0.766 and 0.829. The results demonstrate that affective barriers are the only factors that directly and significantly influence students' difficulties with scientific writing. In contrast, linguistic, cognitive, and technological barriers do not show a direct impact but instead operate through mediating relationships. Another key finding reveals a serial mediation path from linguistic barriers to writing difficulties through affective and cognitive barriers. Furthermore, strong interrelationships exist among internal obstacles, such as the significant influence of affective barriers on cognitive barriers and of cognitive barriers on technological barriers. The conclusion of this study reaffirms that students' writing difficulties are multidimensional and are more heavily influenced by affective dynamics than by mere technical proficiency. The implications of this research recommend the need for writing interventions that focus on the integrated strengthening of emotional aspects, critical thinking, and digital literacy in higher education.
Pengembangan Aplikasi Berbasis Virtual Reality pada Pembelajaran Bahasa yang Kontekstual dan Berbudaya Linda Eka Pradita; Arif Setyawan; Jendriadi Jendriadi; Sadar Kurnia Zendrato; Claudia In'am Haya Alimah
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/6x14qq39

Abstract

Pembelajaran linguistik bahasa lokal masih didominasi penggunaan media konvensional berupa buku teks dan penjelasan verbal. Pembelajaran belum mampu merepresentasikan bahasa sebagai praktik sosial-budaya, sehingga berdampak pada lemahnya kompetensi linguistik. Perkembangan teknologi virtual reality relevan untuk pembelajaran linguistik yang kontekstual, namun pemanfaatannya masih minim dan belum memiliki landasan konseptual. Penelitian bertujuan merumuskan dasar konseptual aplikasi bahasa lokal berbasis virtual reality relevan secara linguistik, kontekstual secara budaya, dan efektif secara pedagogis sebagai landasan pengembangan dan implementasi pembelajaran linguistik. Metode penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi dasar (exploratory research). Sumber data terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari pendidik bahasa daerah, sedangkan data sekunder bersumber dari dokumen kurikulum, perangkat pembelajaran, bahan ajar, hasil penelitian dan literatur. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, angket, observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi. Analisis data melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian berupa rumusan desain konseptual menunjukkan pengembangan aplikasi bahasa lokal berbasis virtual reality yang berlandaskan linguistik budaya dan teori multimodal, mengintegrasikan dimensi linguistik, budaya lokal, teknologi virtual reality, dan pedagogi berbasis pengalaman untuk menghasilkan pembelajaran linguistik yang kontekstual dan meningkatkan kompetensi linguistik. Landasan teori didukung penerapan prinsip dasar pengembangan media yang meliputi aspek kognitif, sosial, kultural, dan teknologi. Development of Virtual Reality-Based Applications in Contextual and Cultural Language Learning Local language linguistic learning is still dominated by the use of conventional media in the form of textbooks and verbal explanations. Learning has not been able to represent language as a socio-cultural practice, which affects weak linguistic competence. The development of virtual reality technology is relevant for contextual linguistic learning, but its utilization is still minimal and lacks a conceptual foundation. This research aims to formulate a conceptual basis for virtual reality-based local language applications that are linguistically relevant, culturally contextual, and pedagogically effective as a foundation for the development and implementation of linguistic learning. The research method uses a descriptive qualitative design with a basic study (exploratory research) approach. Data sources consist of primary and secondary data. Primary data was obtained from local language educators, while secondary data came from curriculum documents, learning tools, and teaching materials, as well as research results and literature. Data collection was carried out through interviews, questionnaires, learning observations, and document studies. Data analysis involved stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results in the form of a conceptual design formulation indicate the development of a local language application based on virtual reality, grounded in cultural linguistics and multimodal theory, integrating linguistic dimensions, local culture, virtual reality technology, and experience-based pedagogy to produce contextual linguistic learning and enhance linguistic competence. The theoretical foundation is supported by the application of basic media development principles, which include cognitive, social, cultural, and technological aspects.
Kesalahan Berbahasa pada Kompetensi Simak-Tulis Pembelajar BIPA SWM School Thailand: Tinjauan Fonologi Salamah Salamah; Ika Nurhayani; Dany Ardhian
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/r0c3qt58

Abstract

Penelitian ini mengkaji kesalahan berbahasa tulis pada pemelajar BIPA di SWM School, Thailand dengan menelaah keterkaitan antara keterampilan menyimak dan faktor-faktor fonologis. Selama ini, penelitian tentang BIPA umumnya berfokus pada permasalahan gramatikal dan leksikal, sementara hubungan antara kompetensi menyimak dan interferensi fonologis dalam keterampilan menulis masih relatif kurang mendapat perhatian, khususnya pada pemelajar BIPA Thailand. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi lapangan. Data dikumpulkan melalui teks tulis hasil produksi pembelajar, wawancara, analisis dokumen, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kesalahan muncul pada kata-kata yang terdiri atas lebih dari dua silabel, terutama pada kata berafiks seperti prefiks dan sufiks yang memiliki kompleksitas struktural lebih tinggi. Kesalahan tersebut umumnya disebabkan oleh kendala kognitif dalam proses penghafalan dan pelafalan kata-kata tersebut. Selain itu, kesalahan yang sering ditemukan meliputi substitusi, penghilangan, atau penambahan fonem, khususnya pada fonem-fonem yang secara fonetis mirip atau tidak dikenal oleh pembelajar. Sejumlah besar kesalahan tersebut dipengaruhi oleh interferensi bahasa pertama serta pengaruh dari bahasa Inggris sebagai bahasa asing utama yang dipelajari sehingga menimbulkan pola transfer bahasa. Penelitian ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap kesadaran fonologis dalam pembelajaran menulis serta merekomendasikan penerapan tugas terintegrasi antara menyimak dan menulis untuk membantu pembelajar mengurangi kesalahan yang bersumber dari aspek fonologis dan meningkatkan ketepatan berbahasa tulis. Linguistic Errors in Listening-Writing Competency among BIPA Learners at SWM School Thailand: A Phonological Perspective This study explores written language errors among Indonesian Language for Foreign Speakers (BIPA) learners at Songserm Wittaya Mulniti School, Thailand, by examining the interplay between listening comprehension skills and phonological factors. While research on BIPA typically focuses on grammatical and lexical issues, the connection between listening competence and phonological interference in writing remains underexplored, particularly among Thai learners. This study employs a descriptive-qualitative approach using a field study design. Data were collected from learner-produced texts, interviews, document analysis, and observations. The findings indicate that the majority of errors occur in words with more than two syllables, particularly those involving affixes such as prefixes and suffixes, which add structural complexity. These errors often result from cognitive challenges in memorizing and articulating such words. Additionally, errors commonly involve phoneme substitution, omission, or insertion, especially when dealing with phonemes that are phonetically similar or unfamiliar. A significant number of these errors are influenced by interference from the learners’ first language and their knowledge of English as a foreign language, reflecting patterns of language transfer. The study emphasizes the importance of addressing phonological awareness in writing instruction and suggests that integrated listening-writing tasks may help learners reduce phonologically driven errors and improve written accuracy.
Struktur dan Fitur Linguistik Pendahuluan Artikel Sastra: Studi Retorika pada JoLLA dengan Pendekatan Problem Justifying Project Ahmad Abdul Karim; Kusubakti Andajani; Moch Syahri
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/2mgk3546

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk membedah pola retorika bagian pendahuluan artikel kajian sastra dalam jurnal JoLLA. Penelitian memanfaatkan pendekatan kualitatif dan metode studi teks yang bertumpu pada model Problem Justifying Project (PJP). Peneliti juga memanfaatkan teori ejaan, diksi, kalimat efektif, gaya bahasa, istilah asing, dan konsistensi untuk melihat konstruksi retorika. Sumber data penelitian 30 artikel kajian sastra yang dimuat dalam jurnal JoLLA. Data kajian berupa teks wacana struktur, kebahasaan, dan isi pendahuluan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan mendalam, pencatatan data relevan, serta studi literatur untuk memperkaya analisis. Teknik analisis data meliputi tabulasi, interpretasi, dan penarikan simpulan terhadap hasil interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola retorika bagian pendahuluan artikel kajian sastra dalam JoLLA mengikuti struktur retorika standar yang meliputi pengenalan topik, penentuan research gap, dan pernyataan tujuan penelitian. Para penulis artikel secara konsisten menggunakan strategi retorika untuk menarik perhatian pembaca, menegaskan relevansi penelitian, dan membangun kerangka konseptual. Namun, terdapat variasi penggunaan fitur linguistik, seperti pemilihan bahasa formal dan nonformal dan keberagaman tingkat eksplisitasi argumen. Temuan tersebut mencerminkan gaya penulisan yang adaptif dalam praktik publikasi ilmiah bidang sastra. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap pola retorika pendahuluan dan penggunaan fitur linguistik dapat menjadi acuan bagi penulis akademik, khususnya peneliti bidang sastra dalam menyusun pendahuluan artikel yang lebih sistematis, argumentatif, dan sesuai dengan konvensi penulisan ilmiah pada jurnal bereputasi. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam pembelajaran penulisan akademik dan pengembangan pedoman retorika artikel ilmiah di perguruan tinggi. Structure and Linguistic Features of Introduction to Literary Articles: Rhetorical Studies on JoLLA with a Problem Justifying Project Approach This study was conducted to examine the rhetorical patterns of the introduction sections in literary studies articles published in the JoLLA journal. The research employed a qualitative approach and a text study method grounded in the Problem Justifying Project (PJP) model. In addition, the study utilized theories of spelling, diction, effective sentence construction, stylistic features, the use of foreign terms, and consistency to analyze the rhetorical construction of the texts. The data source consisted of 30 literary studies articles published in JoLLA. The research data comprised discourse texts related to the structural, linguistic, and content features of the introduction sections. Data collection was carried out through close reading, the documentation of relevant data, and a literature review to enrich the analysis. The data analysis techniques included tabulation, interpretation, and drawing conclusions based on the results of the interpretation. The findings indicate that the rhetorical pattern of the introduction sections in literary studies articles published in JoLLA generally follows a standard rhetorical structure consisting of topic introduction, identification of the research gap, and the statement of research objectives. The authors consistently employ rhetorical strategies to attract readers’ attention, emphasize the relevance of the study, and construct a conceptual framework. However, variations are observed in the use of linguistic features, such as the selection between formal and less formal language and differences in the degree of explicitness in argumentation. These findings reflect an adaptive writing style within the scholarly publication practices in the field of literary studies. The implications of this study suggest that an understanding of rhetorical patterns in introduction sections and the use of linguistic features can serve as a reference for academic writers, particularly researchers in literary studies, in composing more systematic and argumentative introductions that align with the conventions of scholarly writing in reputable journals. Furthermore, the results of this study may also be utilized as a reference in academic writing instruction and in the development of rhetorical guidelines for scientific articles in higher education.
Optimalisasi Kompetensi Komunikatif Siswa melalui Strategi Pengajaran Berbicara: Studi Kualitatif pada Guru Bahasa Indonesia Nurhasanah Nurhasanah; Raudhatul Haura; Lailatul Kodriyah
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ts977812

Abstract

Pengembangan keterampilan berbicara bahasa Indonesia di sekolah menengah masih menghadapi tantangan yang berdampak pada optimalisasi kompetensi komunikatif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perspektif guru mengenai strategi pengajaran berbicara, tantangan yang dihadapi, serta solusi yang diterapkan dalam praktik pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan tiga guru Bahasa Indonesia tingkat sekolah menengah di Kota Banjarmasin yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi kelas, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan triangulasi teknik untuk menjamin kredibilitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan tiga strategi utama, yaitu diskusi kelompok terstruktur, presentasi formal, dan simulasi percakapan berbasis konteks autentik. Diskusi meningkatkan partisipasi interaktif, presentasi memperkuat struktur wacana dan penggunaan bahasa baku, sedangkan simulasi mendorong spontanitas dan kompetensi pragmatik. Tantangan utama meliputi keterbatasan waktu dan heterogenitas kemampuan siswa, termasuk kecemasan berbicara. Guru mengatasinya melalui latihan tambahan, umpan balik konstruktif, serta integrasi teknologi melalui Google Meet dan Google Classroom untuk latihan berbasis rekaman video. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi strategi komunikatif dan teknologi secara komplementer dapat meningkatkan kualitas pembelajaran berbicara secara adaptif. Temuan ini berimplikasi pada penguatan kompetensi pedagogis guru dan pengembangan pelatihan berbasis praktik reflektif dalam Pendidikan Profesi Guru. Optimizing Students' Communicative Competence through Speaking Teaching Strategies: A Qualitative Study of Indonesian Language Teachers The development of Indonesian-speaking skills in secondary schools still faced challenges that hindered the optimization of students' communicative competence. This study aimed to explore teachers' perspectives on speaking-teaching strategies, the challenges they faced, and the solutions they applied in their learning practices. This study used a descriptive qualitative approach involving three Indonesian language teachers at the secondary school level in Banjarmasin City, selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and classroom observations and analyzed using thematic analysis with triangulation to ensure the credibility of the findings. The results showed three main strategies: structured group discussions, formal presentations, and conversation simulations grounded in authentic contexts. Discussions increased interactive participation. Presentations reinforced discourse structure and standard language usage. Simulations encouraged spontaneity and pragmatic competence. The main challenges included time constraints and student heterogeneity, including speaking anxiety. Teachers overcame these challenges through additional practice, constructive feedback, and technology integration. They used Google Meet and Google Classroom for video-based exercises. This study concluded that teachers improved the quality of adaptive speaking learning by integrating communicative strategies and technology in complementary ways. These findings imply that educators can strengthen their pedagogical competencies and develop reflective practice-based training in teacher professional education.
Pengembangan Model Pembelajaran Metakognitif-Kontekstual pada Keterampilan Menyimak Kritis bagi Mahasiswa Muh. Syukri Gaffar; Jufri Jufri; Sakaria Sakaria
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tmwn6v63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model metakognitif-kontekstual sebagai kerangka instruksional yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan menyimak kritis mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE, dengan fokus pada tahapan analisis, desain, pengembangan, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri atas dua validator ahli dan 36 mahasiswa semester II mata kuliah Keterampilan Menyimak. Instrumen meliputi lembar observasi nonpartisipan, pedoman wawancara, lembar studi dokumen, kuesioner validasi ahli skala Likert 1–4 yang menilai tujuh komponen model (dasar teoretis, orientasi dan tujuan, prinsip reaksi, prosedur, sistem pendukung, implementasi instruksional, dan kejelasan linguistik), serta kuesioner respons dosen dan mahasiswa. Data kualitatif berupa transkrip wawancara, catatan lapangan, dan saran validator; data kuantitatif berupa skor validasi dan skor kepraktisan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi metode dan uji Cronbach's Alpha (α ≥ 0,70). Temuan menunjukkan model Metakognitif-kontekstual memperoleh rerata skor kevalidan 3,75 (sangat valid). Keterlaksanaan sintaks mencapai 91,7%, skor kepraktisan dosen 3,74 dan mahasiswa 3,55 (kategori sangat praktis). Selama implementasi, mahasiswa menunjukkan peningkatan dalam memantau pemahaman, mengidentifikasi argumen, dan merefleksikan strategi menyimak melalui journaling metakognitif. Berdasarkan hasil penelitian, model metakognitif-kontekstual dinilai valid dan praktis dalam meningkatkan keterampilan menyimak kritis mahasiswa di perguruan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa model metakognitif-kontekstual adalah alternatif yang layak untuk diimplementasikan dalam pengajaran keterampilan menyimak di perguruan tinggi. Implikasi teoretis penelitian ini adalah rekonstruksi teori metakognitif dan teori kontekstual menjadi model pedagogis terintegrasi. Metacognitive-Contextual Model to Improve Critical Listening Skills in Higher Education This study aims to develop a metacognitive–contextual model as an instructional framework designed to improve students’ critical listening skills. This study employs a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, focusing on the analysis, design, development, and evaluation phases. The study subjects consisted of two expert validators and 36 second-semester students enrolled in the Critical Listening Skills course. Instruments included a non-participant observation sheet, interview guidelines, a document analysis sheet, an expert validation questionnaire using a 1–4 Likert scale assessing seven model components (theoretical basis, orientation and objectives, reaction principles, procedures, support systems, instructional implementation, and linguistic clarity), as well as faculty and student response questionnaires. Qualitative data consisted of interview transcripts, field notes, and validator feedback; quantitative data consisted of validation scores and practicality scores. Data validity was ensured through methodological triangulation and Cronbach’s Alpha testing (α ≥ 0.70). The findings indicate that the metacognitive-contextual model achieved an average validity score of 3.75 (highly valid). Syntactic feasibility reached 91.7%, with faculty practicality scores of 3.74 and student scores of 3.55 (highly practical category). During implementation, students demonstrated improvement in monitoring comprehension, identifying arguments, and reflecting on listening strategies through metacognitive journaling. Based on the research results, the metacognitive-contextual model is deemed valid, practical, and potentially effective in enhancing students’ critical listening skills in higher education. These findings indicate that the metacognitive-contextual model is a viable alternative for implementation in teaching listening skills at the university level. The theoretical implications of this study are the reconstruction of metacognitive theory and contextual theory into an integrated pedagogical model.