cover
Contact Name
Indrya Mulyaningsih
Contact Email
literatureindonesian@gmail.com
Phone
+6289667890219
Journal Mail Official
literatureindonesian@gmail.com
Editorial Address
Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Language Education and Literature
ISSN : -     EISSN : 25022261     DOI : https://doi.org/10.24235/
Core Subject :
Indonesian Language Education and Literature also known ILEaL (2502-2261) is a journal of research publication. The scopes of this research are Indonesian language and literature teaching, either as the first, second, or foreign language. The research can be conducted in elementary schools, junior high schools, senior high schools, and/or university. The journal is regularly published on July and December in collaboration with the cooperation Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) and Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). ILEaL is registered in Science and Technology Index (SINTA 2), Directory of Open Access Journals (DOAJ), Garba Rujukan Digital (Garuda), Ministry of Religious Affairs Reference (MORAREF), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) or National Library of The Republic of Indonesia, and several indexing services with e-ISSN: 2502-2261. We receive articles in Indonesian. All the requirements and guidelines are available at Author Guidelines or downloaded from the Template.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Pengaruh Buku Cerita Bergambar pada Keterampilan Menulis Karangan Narasi Siswa Sekolah Dasar Yuzevira Nova Ariviana; Andarini Permata Cahyaningtyas
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20691

Abstract

Siswa masih menghadapi kesulitan dalam mengikuti aturan bahasa dan struktur yang tepat untuk penulisan karangan narasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan tersebut dan berupaya mencari solusi dengan penggunaan buku cerita bergambar. Penelitian menggunakan desain nonequivalent control group design dengan pretes dan postes pada siswa kelas 5 SDN Purwoyoso 03 Kota Semarang. Pengumpulan data dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 melalui wawancara dan tes. Pertanyaan wawancara terkait kendala dalam penulisan karangan narasi siswa. Adapun instrumen tes yang digunakan berupa unjuk kerja, yakni menulis karangan narasi. Tes ini untuk mengukur keterampilan siswa dalam menulis teks narasi dengan memperhatikan struktur, kesesuaian isi, kaidah bahasa, penggunaan kosakata, serta gaya penulisan. Kebenaran instrumen melalui triangulasi teori, metode, dan sumber serta penilaian oleh ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kontrol mengalami peningkatan rerata sebesar 25 poin (dari 44,23 menjadi 69,23) sedangkan kelas eksperimen meningkat lebih besar, yaitu 30,58 poin (dari 50,96 menjadi 81,54). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan metode diskusi yang digunakan di kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis data, penelitian ini menyimpulkan bahwa buku cerita bergambar berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan menulis narasi siswa sekolah dasar. Hal ini dibuktikan melalui beberapa temuan kunci: (1) siswa yang menggunakan buku cerita bergambar menunjukkan peningkatan lebih tinggi dalam menulis narasi dibandingkan kelas kontrol; (2) gambar dalam buku cerita berfungsi sebagai stimulus visual yang memudahkan siswa dalam mengorganisasi alur cerita secara sistematis, mengekspresikan ide dan imajinasi, dan meningkatkan motivasi dan keterlibatan emosional. Oleh karena itu, guru dapat mengembangkan buku cerita bergambar dengan tema beragam dan konteka lokal dalam pembelajaran menulis. The Influence of Picture Story Books on Elementary School Students' Narrative Writing SkillsStudents still face difficulties in following the correct language and structure rules for writing narrative essays. This study aims to identify the root of this problem and seek solutions through the use of picture storybooks. The study used a nonequivalent control group design with a pretest and posttest on fifth-grade students of SDN Purwoyoso 03, Semarang City. Data collection was conducted in the even semester of the 2024/2025 academic year through interviews and tests. Interview questions related to obstacles in writing narrative essays. The test instrument used was a performance test, namely writing narrative essays. This test measures students' skills in writing narrative texts by paying attention to structure, content appropriateness, language rules, vocabulary use, and writing style. The validity of the instrument was through triangulation of theories, methods, and sources as well as expert assessment. The results showed that the control class experienced an average increase of 25 points (from 44.23 to 69.23) while the experimental class increased more, namely 30.58 points (from 50.96 to 81.54). This shows that the treatment given to the experimental class is more effective in improving learning outcomes compared to the discussion method used in the control class. Based on the results of data analysis, this study concludes that picture story books have a positive effect on improving elementary school students' narrative writing skills. This is proven through several key findings: (1) students who use picture story books show higher improvements in narrative writing than the control class; (2) pictures in story books function as visual stimuli that make it easier for students to organize the storyline systematically, express ideas and imagination, and increase motivation and emotional involvement. Therefore, teachers can develop picture story books with diverse themes and local contexts in writing learning.
Pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Phya Forenja; Denni Iskandar; Ramli Ramli
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20889

Abstract

Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) menjadi semakin relevan di tengah dinamika keberagaman budaya dalam pendidikan, termasuk di Indonesia. Namun, penerapannya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih relatif jarang dikaji secara mendalam, terutama dibandingkan dengan mata pelajaran lain seperti sains dan matematika. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendekatan CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 5 Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data diperoleh melalui teknik observasi langsung, wawancara mendalam, serta analisis dokumen. Subjek penelitian mencakup satu orang guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas VIII.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perencanaan pembelajaran berbasis CRT telah dilakukan dengan sangat baik. Hal ini ditunjukkan melalui integrasi budaya lokal ke dalam modul ajar dan keterpaduan dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila; (2) pelaksanaan pembelajaran berlangsung secara inklusif. Hal ini dapat diketahui dengan guru memberi ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman budaya serta memanfaatkan media berbasis budaya lokal; dan (3) evaluasi pembelajaran dilakukan melalui metode proyek yang memungkinkan ekspresi kreatif siswa dalam konteks budaya. Namun demikian, keterlibatan siswa dalam merumuskan kriteria penilaian masih terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan CRT berkontribusi positif terhadap terciptanya pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih kontekstual, inklusif, dan bermakna. Hasil penelitian ini berimplikasi pada pentingnya pelatihan CRT bagi guru Bahasa Indonesia serta perlunya dukungan pengembangan modul ajar berbasis kearifan lokal dari pemerintah. Selain itu, perencanaan remedial dan evaluasi yang lebih adaptif terhadap keberagaman budaya siswa perlu diperkuat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berkeadilan.Culturally Responsive Teaching Approach in Indonesian Language LearningThe Culturally Responsive Teaching (CRT) approach is becoming increasingly relevant amidst the dynamics of cultural diversity in education, including in Indonesia. However, its application in Indonesian language learning is still relatively rarely studied in depth, especially compared to other subjects such as science and mathematics. The purpose of this study is to describe the planning, implementation, and evaluation of the CRT approach in Indonesian language learning at SMP Negeri 5 Seunagan, Nagan Raya Regency, Aceh. This study applies a qualitative approach with a descriptive design. Data were obtained through direct observation, in-depth interviews, and document analysis. The research subjects included one Indonesian language teacher and students in grade VIII.3. The results of the study indicate that: (1) CRT-based learning planning has been carried out very well. This is demonstrated through the integration of local culture into the teaching modules and integration with the values of the Pancasila Student Profile; (2) the implementation of learning takes place inclusively. This can be seen in the teacher providing space for students to share their cultural experiences and utilizing local culture-based media, and (3) learning evaluation is carried out through a project method that allows students to express their creativity in a cultural context. However, student involvement in formulating assessment criteria is still limited. These findings indicate that the implementation of CRT positively contributes to creating more contextual, inclusive, and meaningful Indonesian language learning. These findings imply the importance of CRT training for Indonesian language teachers and the need for government support for the development of local wisdom-based teaching modules. Furthermore, remedial planning and evaluation that are more adaptive to students' cultural diversity need to be strengthened to improve the quality of equitable learning.
The Construction of Masculinity in the “Typing Ganteng” Phenomenon on TikTok Achmad Hidir; Rahman Malik; Tengku Romi Marnelly; Ferdo Ferdo; Abdillah Habibi
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.21736

Abstract

The phenomenon of ”typing ganteng” on social media, particularly TikTok, demonstrates that constructions of masculinity can be shaped through digital language styles. This study aims to explore how the ”typing ganteng” style, popularized by influencers and content creators on TikTok, shapes representations of masculinity. The method used was descriptive qualitative content analysis, utilizing purposive data from TikTok accounts producing content related to this phenomenon. The results show that through ”typing ganteng” content, influencers can establish standards of digital masculinity, as evidenced by stylistic characteristics such as the use of lowercase letters at the beginning of sentences, prolonged vowels, concise typing, and controlled humor. This style of language is considered attractive and masculine by women on social media, encouraging other users to imitate and conform to established norms. Findings indicate that the concept of masculinity in the digital age has shifted from traditional norms to new forms displayed through written interactions on social media. This study demonstrates that language functions as a cultural product that continues to evolve according to social expectations, enabling young men to display and negotiate masculine identities online. The study also highlights that perceptions of masculinity are relative; some male users adopt “typing ganteng” styles to gain social recognition, while others view masculinity as more flexible and individual. This research is expected to enrich sociolinguistic research and provide deeper insights into the relationship between language, gender, and social media culture.Konstruksi Maskulinitas dalam Fenomena “Typing Ganteng” di TikTokFenomena “typing ganteng” di media sosial, khususnya TikTok menunjukkan bahwa konstruksi maskulinitas dapat dibentuk melalui gaya bahasa digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gaya “typing ganteng” yang dipopulerkan oleh influencer dan pencipta konten di TikTok dalam merepresentasikan maskulinitas. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan data purposif dari akun TikTok yang menghasilkan konten terkait fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui konten “typing ganteng”, influencer dapat menetapkan standar maskulinitas secara digital, melalui penggunaan huruf kecil di awal kalimat, vocal yang diperpanjang, pengetikan yang ringkas, dan humor. Gaya bahasa ini dianggap menarik dan maskulin oleh Wanita di media sosial sehingga mendorong pengguna lain untuk meniru dan mematuhi norma tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep maskulinitas di era digital telah bergeser dari norma tradisional ke bentuk baru yang ditampilkan melalui interaksi tertulis di media sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai produk budaya yang terus berkembang sesuai dengan harapan sosial sehingga memungkinkan laki-laki menampilkan dan menegosiasikan identitas maskulin secara daring. Studi ini juga menyoroti bahwa persepsi maskulinitas bersifat relatif. Beberapa pengguna laki-laki mengadopsi gaya “typing ganteng” untuk mendapatkan pengakuan sosial sementara yang lain memandang maskulinitas sebagai sesuatu yang fleksibel dan individual. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian sosiolinguistik dan memberi wawasan yang lebih dalam tentang hubungan antara bahasa, gender, dan budaya di media sosial.
Utilization of Beliefs and Food Taboos in The ’Horse-Man’ Myth as BIPA Learning Content in East-Timor Elisabeth Merniana Bera; Nuny Sulistiany Idris; Suci Sundusiah
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.21838

Abstract

This research analyzes the "Horse-Human" myth from Uma Lisan Bihahi, Timor-Leste as a potential study for Indonesian Language for Foreign Speakers (BIPA) instructional materials through Todorov's structural narrative approach, analyzed with Content-Based Instruction theory and Actor-Network Theory. Employing qualitative methods with an exploratory case study design, this research involved six informants from three different Uma Lisan in Timor-Leste through in-depth interviews and participant observation. Structural analysis revealed 36 narrative functions that form hierarchical transformation patterns from initial famine situations to human-to-horse metamorphosis, creating a food taboo system that functions as a mechanism for social control and cultural identity preservation. The findings demonstrate that this myth possesses a complex narrative structure in which each element can be identified as having potential for BIPA learning content through the exploration of four language skills (listening, speaking, reading, writing) with authentic local cultural content. The belief system and food taboos within the myth function as vehicles for transmitting local wisdom values encompassing respect for nature, family sacrifice, and animal sacredness in traditional Timorese cosmology. The potential utilization of myths as BIPA learning content has the potential to enhance learners' linguistic competence as well as intercultural communicative competence through a deep understanding of Timorese worldviews. This research contributes methodologically through narrative structural analysis that supports the exploration of cultural content as BIPA learning materials based on local wisdom that can be adapted for utilizing other oral traditions, while simultaneously supporting intangible cultural heritage preservation efforts through the exploration of contextual and culturally meaningful language education.Pemanfaatan Kepercayaan dan Tabu Pangan pada Mite “Manusia Kuda” sebagai Konten Belajar BIPA di Timor LestePenelitian ini menganalisis mite "Manusia Kuda" dari Uma Lisan Bihahi, Timor-Leste sebagai kajian potensi bahan ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) melalui pendekatan struktural naratif Todorov yang dianalisis dengan teori Content-Based Instruction dan Actor-Network Theory. Menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif, penelitian ini melibatkan enam informan dari tiga Uma Lisan berbeda di Timor-Leste melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan. Analisis struktural mengungkapkan 36 fungsi naratif yang membentuk pola transformasi berjenjang dari situasi awal kelaparan hingga metamorfosis manusia menjadi kuda, menciptakan sistem tabu pangan yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial dan preservasi identitas budaya. Temuan menunjukkan bahwa mite ini memiliki struktur naratif kompleks yang dapat diidentifikasi pada setiap elemen yang potensial untuk konten pembelajaran BIPA melalui eksplorasi empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis) dengan konten budaya lokal yang autentik. Sistem kepercayaan dan tabu pangan dalam mite berfungsi sebagai wahana transmisi nilai-nilai kearifan lokal yang mencakup penghormatan terhadap alam, pengorbanan keluarga, dan kesakralan hewan dalam kosmologi tradisional Timor-Leste. Potensi pemanfaatan mite sebagai konten pembelajaran BIPA berpotensi meningkatkan kompetensi linguistik pembelajaran tetapi juga kompetensi komunikatif interkultural melalui pemahaman mendalam tentang pandangan dunia masyarakat Timor-Leste. Penelitian ini berkontribusi metodologis berupa analisis struktur naratif yang mendukung eksplorasi konten budaya sebagai bahan pembelajaran BIPA berbasis kearifan lokal yang dapat diadaptasi untuk pemanfaatan tradisi lisan lainnya, sekaligus mendukung upaya pelestarian warisan budaya takbenda melalui eksplorasi pendidikan bahasa yang kontekstual dan bermakna budaya.
Lanskap Linguistik di Kawasan Wisata Perkotaan Pecinan Pantai Indah Kapuk 2, Tangerang Syandhini Siti Fadlikha; Ravenza Maverick Aji; Fatimah Azzahra Nur Annisa Soleha; Dwi Pita Sari; Dewi Yanti; Woro Januarti; Feri Ansori
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/9eqz2x12

Abstract

Penelitian ini menganalisis lanskap linguistik di kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), khususnya di area Chinatown Pantjoran. Fokus penelitian meliputi praktik monolingualisme, bilingualisme, dan multilingualisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan dokumentasi visual. Sebanyak 38 tanda publik dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan kategori bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori bilingual mendominasi dengan persentase 65,79%. Kategori ini diikuti oleh monolingual sebesar 18,42% dan multilingual sebesar 15,79%. Kombinasi bahasa Inggris–Mandarin menjadi pasangan paling dominan, diikuti oleh Indonesia–Mandarin. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi. Bahasa juga berperan sebagai instrumen simbolik dan komodifikasi yang memperkuat identitas etnis, integrasi nasional, dan daya tarik komersial kawasan. Bahasa Mandarin merepresentasikan etnisitas Tionghoa, bahasa Inggris mencerminkan citra global, dan bahasa Indonesia berfungsi sebagai regulatif sekaligus integratif. Dengan demikian, lanskap linguistik di PIK 2 mencerminkan interaksi kompleks antara kepentingan lokal, etnis, nasional, dan global. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian linguistik, khususnya lanskap linguistik di kawasan wisata urban multikultural. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi pengelola kawasan dan pembuat kebijakan dalam menata ruang publik yang sensitif terhadap keberagaman bahasa. Linguistic Landscape in the Urban Tourism District of PIK 2 Chinatown, Tangerang This study analyzes the linguistic landscape in Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), particularly in the Chinatown Pantjoran area. It focuses on the practices of monolingualism, bilingualism, and multilingualism. This research employed a descriptive qualitative approach through field observations and visual documentation. A total of 38 public signs were collected and classified. The findings indicate that bilingual signs dominate at 65.79%, followed by monolingual signs at 18.42% and multilingual signs at 15.79%. The English–Mandarin combination is the most dominant, followed by Indonesian–Mandarin. The results highlight that language functions not only as a communication tool but also as a symbolic and commodified instrument. It reinforces ethnic identity, national integration, and the commercial appeal of the area. Mandarin represents Chinese ethnicity, English reflects global modernity, and Indonesian serves both regulatory and integrative roles. Thus, the linguistic landscape of PIK 2 reflects a complex interaction among local, ethnic, national, and global interests. Theoretically, this study contributes to linguistic landscape studies in multicultural urban tourism areas. Practically, it provides insights for urban planners and policymakers in managing public spaces that consider linguistic diversity.
Peningkatan Keterampilan Membaca dan Menulis dengan Teknik Pendekatan Kognitif Siswa Sekolah Menengah Pertama Sitti Aminah; T. Muntazar; Mawardi Mawardi; Andriani Andriani; Muhammad Kahfi Aulia
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.22059

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis dengan cara pendekatan Kognitif siswa. Pendekatan kognitif ini untuk meningkatkan pemahaman, daya ingat, kemandirian, berpikir kritis dan membangkitkan kreativitas di setiap proses pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII di SMPN 2 Samudra. Data dikumpulkan melalui tes membaca dan wawancara selama beberapa pertemuan. Berdasarkan hasil observasi di awal adanya temuan siswa Sekolah Menengah Pertama di kelas VII yang pada umumnya masih sangat lemah dalam membaca memahami dan menulis ulang isi bacaannya. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang sangat signifikan. Peningkatan membaca pemahaman dan kemampuan menulis kembali isi bacaan dengan menggunakan bahasa sendiri mencapai 88%. Peningkatan ini dikarenakan hampir rata-rata siswa termotivasi dan sangat kreatif saat proses belajar berlangsung dengan menggunakan teknik pendekatan kognitif. Improving Reading and Writing Skill with Cognitive Approach Techniques for Junior High School StudentsThis research aims to improve students' ability to read and write by means of the student's Cognitive approach. This cognitive approach is to improve understanding, memory, independence, critical thinking and generate creativity in every learning process. The method used in this research is Classroom Action Research (CAR). The subjects of this study were seventh grade students at SMPN 2 Samudra. Data was collected through reading tests and interviews over several meetings. Based on the initial observation, there was a finding of junior high school students in grade VII who were generally still very weak in reading comprehension and rewriting the content of their reading. The results showed a very significant improvement. The increase in reading comprehension and the ability to rewrite the content of reading using their own language reached 90%. This improvement was due to the fact that almost all students were motivated and very creative during the learning process using the cognitive approach.
Inovasi Model Pembelajaran Fiksi Historis: Pendekatan Rekreasi-Prokreasi untuk Penguatan Wawasan Kebangsaan di SMA Bambang Eko Hari Cahyono; Panji Kuncoro Hadi; Fuaduzzakiawan Fuaduzzakiawan
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/r0fegd22

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi pembelajaran fiksi historis di SMA se-Kota Madiun dan kebutuhan siswa dan guru terhadap model pembelajaran fiksi historis yang mampu meningkatkan wawasan kebangsaan siswa; mendeskripsikan pengembangan purwarupa awal model pembelajaran fiksi historis menjadi model pembelajaran fiksi historis berdasarkan pendekatan rekreasi-prokreasi; menemukan keefektifan model pembelajaran fiksi historis dengan pendekatan rekreasi-prokreasi untuk meningkatkan wawasan kebangsaan siswa; dan mendeskripsikan hasil diseminasi model pembelajaran fiksi historis menjadi model pembelajaran fiksi historis berdasarkan pendekatan rekreasi-prokreasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan melalui 4 tahap, yaitu studi eksplorasi; pengembangan model; pengujian model; dan diseminasi. Pendekatan penelitian pada studi eksplorasi yaitu dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengembangan purwarupa model pembelajaran dilakukan dalam bentuk siklus, yang merupakan perpaduan antara riset dan praktik, sedangkan pengujian model dilakukan dengan penelitian eksperimen. Setelah dilakukan pengembangan model dan pengujian keefktifan model hasilnya menunjukkan bahwa model pembelajaran fiksi histortis dengan pendekatan rekreasi-prokreasi terbukti efektif untuk meningkatkan wawasan kebangsaan siswa SMA. Innovation in Historical Fiction Learning Models: A Recreational-Procreative Approach to Strengthening National Insight in High Schools This study aims to describe the conditions of historical fiction learning in high schools throughout Madiun City and the needs of students and teachers for historical fiction learning models that are able to improve students' national insight; describe the development of an initial prototype of a historical fiction learning model into a historical fiction learning model based on a recreation-procreation approach; find the effectiveness of a historical fiction learning model with a recreation-procreation approach to improve students' national insight; and describe the results of the dissemination of a historical fiction learning model into a historical fiction learning model based on a recreation-procreation approach. The type of research used was developmental research, consisting of four stages: exploratory study, model development, model testing, and dissemination. The research method used in the exploratory study was descriptive qualitative. The development of the learning model prototype was carried out in a cycle, combining research and practice, while the model testing was conducted through experimental research. After developing the model and testing the effectiveness of the model, the results showed that the historical fiction learning model with a procreative recreation approach was proven to be effective in increasing the national insight of high school students.
Model Pembelajaran Membaca Pemahaman Menggunakan P3C2R+GIRD Berbasis Berpikir Kritis Sudiati Sudiati; Faisal Isnan; Sakinah Isna Firmani; Putri Ayu Cahyani; Muhammad Zahrul Jihadurrohim Bajuri
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/1arngk08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi model pembelajaran membaca pemahaman menggunakan P3C2R+GIRD berbasis berpikir kritis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model ADDIE dan menggunakan metode campuran (mixed methods). Penelitian berfokus pada tahap desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi dengan menghasilkan produk serta mengujinya. Subjek penelitian terdiri atas dua ahli dan 39 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dihasilkan tiga produk, yaitu buku model, buku ajar, dan buku panduan dosen; (2) produk telah divalidasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran dengan kategori baik dan layak untuk diimplementasikan; (3) implementasi berupa uji respons mahasiswa menunjukkan kategori sangat baik; dan (4) hasil evaluasi menyatakan ketiga produk layak digunakan. Berdasarkan temuan tersebut, model pembelajaran membaca berbasis P3C2R+GIRD dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran membaca pemahaman yang berorientasi pada kemampuan berpikir kritis. Model pembelajaran membaca ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, dosen, dan guru dalam pembelajaran membaca secara khusus untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Reading Comprehension Learning Model Using P3C2R+GIRD Based on Critical Thinking This study aims to design, develop, implement, and evaluate a reading comprehension learning model using the P3C2R+GIRD approach based on critical thinking. The study employed a development design using the ADDIE model and a mixed-methods approach, focusing on the stages of design, development, implementation, and evaluation to produce and test instructional products. The subjects consisted of two experts and 39 students. The results indicate that: (1) three products were produced, namely a model book, a textbook, and a teacher’s guide; (2) the products were validated by subject matter and instructional experts and categorized as good, indicating their suitability for implementation; (3) implementation through student response assessment yielded a very good category; and (4) evaluation results confirmed that all three products are suitable for use. Based on these findings, the P3C2R+GIRD-based reading comprehension learning model is feasible as an alternative for instruction oriented toward critical thinking skills and can be applied by students, lecturers, and teachers.
Cultural Narrative Architecture: Integrasi Struktur Greimas, Kearifan Lokal, dan Memori Budaya dalam Trilogi Sejarah Sunda Achyar Effendi; Sumiyadi Sumiyadi; Andoyo Sastromiharjo; Halimah Halimah
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/d9st0r87

Abstract

Kajian naratif terhadap fiksi sejarah Indonesia menunjukkan kecenderungan baru yang menempatkan struktur penceritaan sebagai medium penting dalam pembentukan memori budaya. Penelitian ini berfokus pada pengkajian trilogi sejarah Sunda karya Saini K. M. melalui sintesis antara model aktansial dan skema fungsi naratif A. J. Greimas dengan analisis kearifan lokal, yang selanjutnya dirumuskan dalam sebuah kerangka konseptual bernama Cultural Narrative Architecture. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan menjadikan tiga novel sebagai satu kesatuan dunia naratif. Proses analisis dilakukan melalui penguraian posisi aktan—meliputi subjek, objek, pengirim, penerima, penolong, dan penentang—serta penelusuran tahapan fungsi naratif berupa kontrak, kompetensi, performansi, dan sanksi, disertai identifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang terartikulasikan dalam alur cerita dan penggambaran tokoh. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa struktur aktansial trilogi membentuk pola yang relatif konsisten, dengan kepemimpinan, ingatan leluhur, dan legitimasi kekuasaan berperan sebagai muatan budaya dominan. Analisis fungsi naratif mengindikasikan transformasi nilai dari orientasi kepemimpinan personal menuju penguatan solidaritas kolektif, sementara pemetaan kearifan lokal menegaskan empat ranah utama, yakni integritas moral, keharmonisan relasi kekerabatan, keseimbangan kosmologis, serta kesinambungan memori lintas generasi. Dengan demikian, integrasi ketiga lapisan analisis tersebut menghasilkan model Cultural Narrative Architecture yang mampu menjelaskan mekanisme fiksi sejarah Sunda dalam mengelola memori kolektif sekaligus membangun identitas budaya. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya pengembangan naratologi dan studi memori kultural berbasis lokal, sedangkan secara praktis menawarkan kerangka analitis bagi pemanfaatan fiksi sejarah dalam konteks pendidikan yang berorientasi pada kearifan lokal. Cultural Narrative Architecture: Integrative Model of Greimasian Structure, Local Wisdom, and Cultural Memory in the Sundanese Historical Trilogy Recent scholarship on Indonesian historical fiction has increasingly foregrounded narrative structure as a key mechanism in the construction of cultural memory. This study examines Saini K. M.’s Sundanese historical trilogy by combining Greimasian actantial and functional models with an analytical mapping of local wisdom, resulting in the formulation of a conceptual framework referred to as Cultural Narrative Architecture. Employing a qualitative interpretive approach, the research treats the three novels as a unified narrative continuum. The analysis involves identifying actantial roles—namely subject, object, sender, receiver, helper, and opponent—alongside tracing the functional sequence of contract, competence, enactment, and sanction, as well as delineating domains of local wisdom embedded in narrative progression and character construction. The findings reveal a relatively stable actantial configuration in which leadership values, ancestral remembrance, and political legitimacy emerge as central cultural drivers. The functional development of the narrative indicates a gradual ethical transition from individual-centred leadership towards collective responsibility, while the examination of cultural values highlights four recurring domains: moral integrity, kinship solidarity, cosmological equilibrium, and the continuity of intergenerational memory. It can therefore be concluded that the integration of these analytical dimensions produces a Cultural Narrative Architecture model that elucidates how Sundanese historical fiction structures collective memory and contributes to the formation of cultural identity. From a theoretical standpoint, the study extends narrative theory and cultural memory studies through a locally grounded perspective, while practically providing an analytical tool for incorporating historical fiction into educational practices rooted in local wisdom.
Implementasi Model Berbasis Kearifan Lokal Riyaya Undhuh-Undhuh GKJW Mojowarno untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Kritis Siswa SMP Umi Khofsoh; Susi Darihastining; Eva Eri Dia
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/9hvfkx67

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi serta menguji efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Riyaya Undhuh-Undhuh GKJW Mojowarno dalam meningkatkan kemampuan membaca kritis bagi siswa SMP. Kemampuan ini mencakup keterampilan menganalisis informasi, mengevaluasi kredibilitas sumber, dan menarik inferensi. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu dengan desain one-group pretest–posttest pada siswa kelas VII SMP Al-Ittihad Mojowarno. Implementasi model dilakukan melalui empat tahap, yaitu orientasi konteks, eksplorasi teks, analisis dan evaluasi kritis, serta inferensi dan refleksi budaya. Data dikumpulkan melalui tes sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan uji-t berpasangan dan N-gain. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan membaca kritis siswa (p < 0,01) dengan nilai N-gain sebesar 0,73 yang termasuk kategori tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis kearifan lokal tersebut efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca kritis, khususnya pada aspek analisis, evaluasi, dan inferensi. Selain itu, pemanfaatan kearifan lokal terbukti mampu memperkaya pengalaman belajar sekaligus menjadi strategi pedagogis yang efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Implementation of the Riyaya Undhuh-Undhuh Local Wisdom-Based Model to Improve Students' Critical Reading Skills This study aims to describe the implementation and examine the effectiveness of a Local Wisdom-Based Learning Model rooted in the Riyaya Undhuh-Undhuh tradition of GKJW Mojowarno in improving junior high school students’ critical reading skills. These skills include the ability to analyze information, evaluate the credibility of sources, and draw inferences. This study employed a quasi-experimental method using a one-group pretest–posttest design involving seventh-grade students of SMP Al-Ittihad Mojowarno. The implementation of the model was carried out through four stages: context orientation, text exploration, critical analysis and evaluation, and inference and cultural reflection. Data were collected through pretest and posttest assessments and analyzed using a paired-sample t-test and N-gain. The results indicate a statistically significant improvement in students’ critical reading skills (p < 0.01), with an N-gain score of 0.73, categorized as high. These findings demonstrate that the local wisdom-based learning model is effective in enhancing critical reading skills, particularly in analysis, evaluation, and inference. Furthermore, integrating local wisdom enriches students’ learning experiences and serves as an effective pedagogical strategy to develop higher-order thinking skills in Indonesian language learning.