cover
Contact Name
Indrya Mulyaningsih
Contact Email
literatureindonesian@gmail.com
Phone
+6289667890219
Journal Mail Official
literatureindonesian@gmail.com
Editorial Address
Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Language Education and Literature
ISSN : -     EISSN : 25022261     DOI : https://doi.org/10.24235/
Core Subject :
Indonesian Language Education and Literature also known ILEaL (2502-2261) is a journal of research publication. The scopes of this research are Indonesian language and literature teaching, either as the first, second, or foreign language. The research can be conducted in elementary schools, junior high schools, senior high schools, and/or university. The journal is regularly published on July and December in collaboration with the cooperation Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) and Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). ILEaL is registered in Science and Technology Index (SINTA 2), Directory of Open Access Journals (DOAJ), Garba Rujukan Digital (Garuda), Ministry of Religious Affairs Reference (MORAREF), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) or National Library of The Republic of Indonesia, and several indexing services with e-ISSN: 2502-2261. We receive articles in Indonesian. All the requirements and guidelines are available at Author Guidelines or downloaded from the Template.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Deviasi Sosial pada Anomali Perilaku Waria dalam Novel Taman Api Karya Yonathan Rahardjo Lusy Novitasari
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.18847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan deviasi sosial pada anomali (penyimpangan) perilaku waria yang terdapat dalam novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Taman Api karya Yonathan Rahardjo, cetakan pertama tahun 2011 dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Alvabet Jakarta. Penelitian ini berfokus pada permasalahan yang berkaitan dengan penyimpangan perilaku waria. Data penelitian berupa teks yang terdapat dalam novel. Pengumpulan data dengan menggunakan analisis konten, teknik dokumen, dan dijelaskan dari segi isi. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian ditunjukkan dalam novel ini anomali perilaku waria, antara lain: kegamangan identitas gender, berperangai serta berhias layaknya perempuan, perubahan kodrat, dan penyuka sesama jenis. Implikasi penelitian ini secara teoretis memperkaya kajian sosiologi sastra dengan menganalisis representasi penyimpangan gender dalam karya sastra Indonesia. Implikasi secara sosial dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat untuk memahami kompleksitas identitas waria tanpa prasangka, sekaligus mendorong diskusi tentang inklusivitas gender.Social Deviation in Transvestite Behavioral Anomalies in the Novel Taman Api by Yonathan RahardjoThis study aims to describe and explain social deviations in the anomaly (deviation) of transvestite behavior contained in the novel Taman Api by Yonathan Rahardjo. This study employs a qualitative descriptive method, drawing on a sociological approach to literature. The data source for this study is the novel Taman Api by Yonathan Rahardjo, first published in 2011 by Penerbit Pustaka Alvabet Jakarta. This study focuses on problems related to the deviation of transvestite behavior. The research data is in the form of texts contained in the novel. Data collection using content analysis, document techniques, and explained in terms of content. The data analysis technique uses an interactive analysis model. The results of the study are shown in this novel the anomaly of transvestite behavior, including: uncertainty of gender identity, behaving and dressing like women, changes in nature, and liking the same sex. The implications of this study theoretically enrich the study of the sociology of literature by analyzing the representation of gender deviation in Indonesian literary works. Social implications can be a reflection material for society to understand the complexity of transvestite identity without prejudice, while encouraging discussions about gender inclusivity.
Personifikasi sebagai Basis Rekonstruksi Dramaturgi Idalupa Alue Glong Naga di Aceh Barat Susandro Susandro; Hatmi Negria Taruan; Achmad Zaki
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.18964

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan pertunjukan Sanggar Seni Alue Glong Naga dengan grup Dalupa lain dengan jalan menelusuri cerita yang melatarbelakanginya. Penelitian kualitatif ini berfokus pada asal-usul kemunculan grup, varian kisah yang dibawakan, dan alasan perbedaan bentuk pertunjukannya dibanding grup lain. Proses penelitian dilaksanakan dari April hingga November 2023 melalui tiga tahap: (1) prapenelitian, (2) penelitian lapangan, dan (3) pascapenelitian. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Idalupa versi Sanggar Seni Alue Glong Naga berlatar peristiwa peperangan antara Raja Badar dengan Raja Namrud. Raja Badar merupakan personifikasi dari peristiwa Perang Badar antara umat Islam dengan kaum Quraisy. Raja Namrud merupakan tokoh yang terdapat dalam kitab-kitab suci agama samawi yang hidup di masa Nabi Ibrahim. Dua latar masa yang terpaut jauh, tetapi direkonstruksi ke dalam satu kisah. Oleh karena itu, pentingnya pendokumentasian dan dukungan berkelanjutan bagi sanggar seni tradisional seperti Alue Glong Naga, mengingat tantangan akses dan regenerasi serta menyoroti perlunya kebijakan budaya yang responsif terhadap kelestarian seni lokal.Personification as a Basis for Reconstructing the Dramaturgy of Idalupa Alue Glong Naga in West AcehThis study aims to describe the differences between the performances of the Alue Glong Naga Art Studio and other Dalupa groups by tracing the stories behind them. This qualitative research focuses on the origins of the group, the variants of the stories they present, and the reasons for the differences in the form of their performances compared to other groups. The research process was carried out from April to November 2023 through three stages: (1) pre-research, (2) field research, and (3) post-research. Data validity was strengthened through source triangulation. The results of the study show that the story of Idalupa, according to the Alue Glong Naga Art Studio, is set during the war between King Badar and King Namrud. King Badar is the personification of the Battle of Badr between Muslims and the Quraysh. King Namrud is a figure found in the holy books of the monotheistic religions who lived during the time of the Prophet Ibrahim. Two time settings that are far apart, but are reconstructed into one story. Hence, the importance of documentation and ongoing support for traditional art studios such as Alue Glong Naga, given the challenges of access and regeneration, and highlighting the need for cultural policies that are responsive to the sustainability of local arts.
Peran Keluarga dalam Menumbuhkembangkan Budaya Membaca Bagi Anak di Lingkungan Rumah pada Era Digital Suardi Suardi; Sultan Sultan; Herman Herman
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i1.19141

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji peran keluarga dalam menumbuhkembangkan budaya membaca di lingkungan rumah pada era digital. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui survei. Responden penelitian yakni orang tua siswa sekolah dasar. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendukung literasi membaca anak masih kurang optimal. Sebanyak 35% orang tua jarang terlibat dalam aktivitas literasi di rumah, ketersediaan bahan bacaan juga terbatas, dengan 52% keluarga memiliki kurang dari 10 buku di rumah. Dukungan teknologi untuk literasi masih rendah; hanya 13% keluarga yang memiliki komputer, dan 53% anak menggunakan internet untuk aktivitas non-literasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya menumbuhkan budaya membaca memerlukan peningkatan keterlibatan keluarga sebagai fasilitator literasi, peningkatan akses bahan bacaan, dan pemanfaatan teknologi digital sebagai media pendukung. Implikasi dari temuan ini mencakup kebutuhan pelatihan literasi digital bagi orang tua dan penyediaan bahan bacaan berbasis teknologi untuk mengatasi kesenjangan digital.The Role of the Family in Developing a Reading Culture for Children in the Home Environment in the Digital EraThis study aims to explore the role of families in fostering a reading culture at home in the digital era. A quantitative approach was utilized, with data collected through a survey. The respondents were parents of elementary school students, and data were analyzed descriptively. The findings reveal that parental involvement in literacy activities remains limited, with only 35% of parents engaging in such activities once or twice a month. Visits to bookstores or libraries are rare, with just 3% of parents engaging in these activities frequently. Additionally, 52% of families reported owning fewer than 10 books at home, highlighting a lack of reading materials. In terms of digital technology, 87% of families do not own a desktop computer, and only 66% of children have access to internet-enabled smartphones The study concludes that fostering a reading culture requires greater parental involvement, improved access to diverse reading materials, and the effective utilization of digital technology as a learning medium. These findings emphasize the importance of implementing digital literacy training for parents and providing technology-based reading resources to address the digital divide.
A Narrative Study of Teachers' Challenges in Teaching Indonesian Language in Remote Areas: Challenges, Institutional Support, Teaching Strategies Putri Hafidzah; Sri Maryani; Baiq Yuliatin Ihsani
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.19620

Abstract

This study aims to explore the challenges teachers face in teaching Indonesian in remote areas, as well as identify the forms of institutional support and learning strategies implemented. Using a qualitative method with a narrative study approach, data were collected through observation and in-depth interviews with teachers and principals in public and private junior secondary schools in remote areas. Data analysis refers to the Miles and Huberman interactive model. The results showed that teachers face challenges in the form of limited infrastructure, books, learning support tools, minimal institutional support for professional development, and low student interest in learning. Support from the government and educational institutions is still limited. In dealing with these conditions, teachers tend to use lecture, question-and-answer, and discussion strategies that are adjusted to the limitations in the field. This research is expected to be an input for policymakers in improving shared learning in remote areas.Studi Naratif tentang Tantangan Guru dalam Mengajar Bahasa Indonesia di Daerah Terpencil: Tantangan, Dukungan Kelembagaan, Strategi PengajaranPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan yang dihadapi guru dalam mengajar Bahasa Indonesia di daerah terpencil, serta mengidentifikasi bentuk dukungan institusional dan strategi pembelajaran yang diterapkan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi naratif, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan guru dan kepala sekolah di SMP negeri dan swasta di wilayah terpencil. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi tantangan berupa keterbatasan sarana prasarana, buku, alat penunjang pembelajaran, minimalnya dukungan institusi untuk pengembangan profesional, serta rendahnya minat belajar siswa. Dukungan dari pemerintah dan lembaga pendidikan dinilai masih terbatas. Dalam menghadapi kondisi tersebut, guru cenderung menggunakan strategi ceramah, tanya jawab, dan diskusi yang disesuaikan dengan keterbatasan di lapangan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan dalam meningkatkan pembelajaran bersama di daerah terpencil. 
Media Representation of the Online Gambling Phenomenon in Indonesia through a Corpus-Assisted Critical Discourse Study Raden Yusuf Sidiq Budiawan; Rawinda Fitrotul Mualafina; Siti Ulfiyani; Mukhlis Mukhlis
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.19629

Abstract

This study aims to describe media representation of the phenomenon of online gambling in Indonesia through a corpus-assisted critical discourse analysis approach, with a focus on news in Kompas.com. The method used is corpus-based critical discourse analysis, which allows systematic exploration of news data to identify language patterns that frame the issue of online gambling. The analysis was conducted on a news corpus containing 5613 words and 43042 tokens using the AntConc application. The results show that the words “gambling” and “online” have the highest frequency, signaling the main focus on this phenomenon. The dominant social actors are government officials, such as “Budi Arie,” who is portrayed positively as a pioneer in eradicating online gambling, while online gambling perpetrators are portrayed destructively. Victims are seen as suffering and in need of external intervention. The social actions represented highlight the government's efforts to eradicate online gambling, with word choices that emphasize the urgency of handling this problem. Kompas.com frames the issue of online gambling by strengthening the role of the government as a protector, the perpetrator as a public enemy, and the victim as a party that needs to be saved. This study implies that online mass media play an important role in shaping public discourse, emphasizing the legal and moral sides, and introducing various perspectives that frame this issue.Representasi Media terhadap Fenomena Perjudian Online di Indonesia melalui Kajian Wacana Kritis Berbantuan KorpusPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi media terhadap fenomena perjudian online di Indonesia melalui pendekatan analisis wacana kritis berbantuan korpus, dengan fokus pada berita di Kompas.com. Metode yang digunakan adalah analisis wacana kritis berbasis korpus, yang memungkinkan eksplorasi sistematis data berita untuk mengidentifikasi pola bahasa yang membingkai masalah perjudian online. Analisis dilakukan pada korpus berita yang berisi 5613 kata dan 43042 token menggunakan aplikasi AntConc. Hasilnya menunjukkan bahwa kata "perjudian" dan "online" memiliki frekuensi tertinggi, menandakan fokus utama pada fenomena ini. Aktor sosial yang dominan adalah pejabat pemerintah.  Aksi sosial yang diwakili menyoroti upaya pemerintah untuk memberantas perjudian online, dengan pilihan kata yang menekankan urgensi penanganan masalah ini. Kompas.com membingkai isu judi online dengan memperkuat peran pemerintah sebagai pelindung, pelaku sebagai musuh publik, dan korban sebagai pihak yang perlu diselamatkan. Penelitian ini menyiratkan bahwa media massa online berperan penting dalam membentuk wacana publik, menekankan sisi hukum dan moral, serta memperkenalkan berbagai perspektif yang membingkai isu ini.
Pemanfaatan Aplikasi Canva sebagai Media Pembelajaran Penulisan Teks Persuasif dalam Poster Wisata Digital Tri Pujiati; Meria Zakiyah Alfisuma; Arjulayana Arjulayana
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.19766

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran teks persuasif menggunakan Canva, uji produk mahasiswa, dan penilaian mahasiswa terhadap proses pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan desain mix method dan dilaksanakan di salah satu universitas di Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan pada Oktober 2023 dengan melibatkan 33 mahasiswa dari Program Studi Sosiologi sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dosen mendapatkan penilaian 89,5% pada saat mengajar materi teks persuasif di kelas, (2) hasil penilaian terhadap produk yang dibuat mahasiswa dengan penilaian yang bagus, dan (3) hasil penilaian terhadap respons mahasiswa menunjukkan nilai 3,57 yang berarti mahasiswa senang dengan pembelajaran menggunakan Canva untuk membuat teks persuasif. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa Canva efektif dalam penulisan teks persuasif untuk membuat poster wisata digital berbasis kearifan lokal.Utilizing the Canva App as a Learning Media for Persuasive Text Writing in Digital Travel PosterThis study aims to describe persuasive text learning using Canva, student product testing, and student assessment of the learning process. This research uses a mixed-methods design and was carried out at one of the universities in East Java. Data collection was carried out in October 2023 by involving 33 students from the Sociology Study Program as samples. The results showed that: (1) lecturers received an 89.5% score when teaching persuasive text material in class, (2) assessment results of products made by students with good assessments, and (3) assessment results of student responses showed a score of 3.57 which means that students are happy with learning to use Canva to create persuasive texts. The implications of this study show that Canva is effective in writing persuasive text to create digital tourism posters based on local wisdom.
Preposisi an Bahasa Jerman dan Pemaknaannya dalam Bahasa Indonesia Rount Maulero; Herri Akhmad Bukhori
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.19946

Abstract

Preposisi merupakan elemen penting yang digunakan untuk menunjukkan berbagai hubungan antar kata, seperti hubungan tempat, waktu, tujuan, serta kondisi tertentu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan preposisi an dalam bahasa Jerman dan maknanya dalam bahasa Indonesia berdasarkan kerangka tipologi bahasa. Dengan mengadopsi pendekatan Government and Binding (GB), penelitian ini mengidentifikasi penggunaan an, seperti tipe verba, kasus, dan semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kasus akkusativ dengan orientasi arah (Richtung) dan peran kasus dativ dengan orientasi posisi (Position) memengaruhi makna pada preposisi an di dalam bahasa Indonesia. Analisis menunjukkan adanya hubungan erat antara kasus gramatikal, arah semantik verba, dan makna preposisi an. Pada kasus akkusatif, an cenderung digunakan bersama verba yang mengarah pada suatu tujuan, sehingga menandakan arah gerak atau sasaran suatu tindakan. Sementara itu, pada kasus dativ, an lebih sering muncul bersama verba yang menunjukkan posisi, sehingga berfungsi untuk menunjukkan lokasi atau tempat. Dalam padanannya dengan bahasa Indonesia, preposisi an memiliki makna yang serupa dengan kata “di” atau “ke” (untuk konteks arah) serta “di” atau “pada” (untuk konteks posisi). Walaupun terdapat perbedaan struktural antara kedua bahasa, makna dalam kalimat tetap menggambarkan hubungan yang konsisten antara tindakan dan lokasi, baik dalam bentuk pergerakan maupun keberadaan. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya teori linguistik deskriptif dan mendukung pembelajaran bahasa Jerman, khususnya dalam memahami preposisi an serta penyusunan bahan ajar tata bahasa yang relevan.The Preposition an in German and Its Meaning in IndonesianPrepositions are important elements used to indicate various relationships between words, such as relationships between places, times, purposes, and certain conditions. This study aims to describe the use of the preposition an in German and its meaning in Indonesian based on a language typology framework. By adopting the Government and Binding (GB) approach, this study identifies the use of an, such as verb type, case, and semantics. The results show that the role of the accusative case with a directional orientation (Richtung) and the role of the dative case with a positional orientation (Position) influence the meaning of the preposition an in Indonesian. The analysis shows a close relationship between grammatical case, the semantic direction of the verb, and the meaning of the preposition an. In the accusative case, an tends to be used with verbs that direct a goal, thus indicating the direction of movement or the target of an action. Meanwhile, in the dative case, a more often appears with verbs that indicate position, thus functioning to indicate location or place. In its Indonesian equivalent, the preposition an has a similar meaning to the words "di" or "ke" (for directional contexts) and "di" or "pada" (for positional contexts). Despite structural differences between the two languages, sentence meaning consistently reflects the relationship between action and location, both in terms of movement and presence. This research is expected to enrich descriptive linguistic theory and support German language learning, particularly in understanding the preposition an and developing relevant grammar teaching materials.
Istilah Politik Populer pada Pemilu Presiden Indonesia di Media Berita Online Abd. Rahim; Jenri Ambarita; Nursalam Nursalam; Agik Nur Efendy; Callista Buena Sinamo; Nurindah Purnama Sari
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.19990

Abstract

Istilah politik populer digunakan sebagai strategi retorika untuk membangun citra politik positif. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna istilah politik yang populer digunakan pada pemilihan Presiden Indonesia dan bagaimana istilah politik tersebut dikonstruksi  untuk memengaruhi opini publik. Sumber data penelitian ialah media berita online yang dianalisis melalui aplikasi Nvivo 12 Pro. Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis dengan mengadopsi teori Nourman Fairclough, teori semiotika sosial Van Leeuwen, dan teori Framing Goffman untuk menjelaskan makna istilah politik dan bagaimana istilah politik tersebut dikonstruksi sebagai wacana politik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 5 istilah politik populer pada pemilihan Presiden Indonesia, seperti gemoy, cawe-cawe, politik identitas, king maker, dan endorsement. Istilah politik tersebut secara umum bermakna sebagai alat narasi politik untuk mendapatkan dukungan publik dalam kontestasi pemilihan Presiden Indonesia. Istilah politik tersebut dikonstruksi  sebagai wacana politik berdasarkan aspek situasional, aspek institusional, dan aspek sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan ilmu wacana dan diharapkan dapat meningkatkan literasi politik masyarakat dengan memahami peran bahasa dalam membentuk opini politik.Popular Political Terms in the Indonesian Presidential Election in Online News Media Popular political terms are used as a rhetorical strategy to build a positive political image. This study aims to uncover the meanings of political terms commonly used in the Indonesian Presidential Election and how these terms are constructed to influence public opinion. The data sources for this research are online news media, analyzed using the Nvivo 12 Pro application. This study employs a Critical Discourse Analysis approach, adopting the theories of Norman Fairclough, Van Leeuwen's social semiotics, and Goffman's framing theory to explain the meaning of political terms and how they are constructed as political discourse. The findings of this study show that there are five popular political terms in the Indonesian Presidential Election, such as "gemoy," "cawe-cawe," "political identity," "kingmaker," and "endorsement." These political terms generally function as tools for political narratives to gain public support in the presidential election contest. The political terms are constructed as political discourse based on situational, institutional, and social aspects. This research contributes significantly to the development of discourse studies and is expected to enhance political literacy among the public by understanding the role of language in shaping political opinions.
Fostering Effective Teaching Practices: An Analysis of Classroom Implementation Among Pre-Service Indonesian Language Teachers Ngatmini Ngatmini; Suyitno Suyitno
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20006

Abstract

Teacher competency plays a crucial role in enhancing educational quality, yet many Indonesian pre-service teachers struggle to translate pedagogical theory into effective classroom practice. This study analyzed classroom implementation among pre-service Indonesian language teachers participating in the Teacher Professional Education Program (PPG). Using a descriptive-qualitative design during the 2024 PPG performance test (UKIN) in Central Java, data were collected from lesson plans and classroom observations of 18 participants aged 21–25. Teaching performance was evaluated using a validated rubric covering seven competencies: greeting and rapport, lesson setting, activating prior knowledge, engagement and motivation, creating a positive environment, introducing new concepts, and managing time and pacing. Results indicate strong performance in creating positive learning environments (77.8%) and setting lessons (72.2%), while activating prior knowledge (44.4%) and time management were the weakest. The findings reveal a persistent gap between theoretical knowledge and practice. Theoretically, the study reinforces microteaching and classroom management frameworks by illustrating how pre-service teachers operationalize basic teaching competencies. Practically, it provides evidence-based implications for improving PPG training through targeted exercises in knowledge activation, pacing, and student-centered pedagogy, helping teacher educators design more responsive and practice-oriented preparation models.Menciptakan Praktik Pengajaran yang Efektif: Analisis Implementasi di Kelas pada Guru Prajabatan Bahasa IndonesiaKompetensi guru memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, namun banyak guru prajabatan di Indonesia kesulitan menerjemahkan teori pedagogis ke dalam praktik kelas yang efektif. Studi ini menganalisis implementasi di kelas di antara guru bahasa Indonesia prasekolah yang berpartisipasi dalam Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).  Menggunakan desain deskriptif-kualitatif selama uji kinerja PPG (UKIN) tahun 2024 di Jawa Tengah, data dikumpulkan dari rencana pembelajaran dan observasi kelas 18 peserta berusia 21–25 tahun.  Kinerja mengajar dievaluasi menggunakan rubrik yang divalidasi yang mencakup tujuh kompetensi: sapaan dan hubungan, pengaturan pelajaran, mengaktifkan pengetahuan sebelumnya, keterlibatan dan motivasi, menciptakan lingkungan positif, memperkenalkan konsep baru, serta manajemen waktu dan kecepatan.  Hasil menunjukkan kinerja yang kuat dalam menciptakan lingkungan belajar positif (77,8%) dan mengatur pelajaran (72,2%), sementara mengaktifkan pengetahuan sebelumnya (44,4%) dan manajemen waktu adalah yang terlemah.  Temuan ini mengungkapkan kesenjangan yang persisten antara pengetahuan teoretis dan praktik.  Secara teoretis, penelitian ini memperkuat kerangka kerja mikro-pengajaran dan manajemen kelas dengan mengilustrasikan bagaimana guru pra-jabatan mengoperasionalkan kompetensi dasar mengajar.  Secara praktis, ini memberikan implikasi berbasis bukti untuk meningkatkan pelatihan PPG melalui latihan yang ditargetkan dalam aktivasi pengetahuan, pengaturan kecepatan, dan pedagogi berpusat pada siswa, membantu pendidik guru merancang model persiapan yang lebih responsif dan berorientasi pada praktik.
The Perceptions and Attitudes of Students on the Intersectionality of Languages in Higher Education Enid M Pitsoane; K Nyamakazi; M M Phora; G Sephula; D Lala; A Chauke
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20062

Abstract

This research investigates students’ perceptions and attitudes towards the intersectionality of language in the context of higher education in South Africa. Through a qualitative approach, the study collected data using semi-structured interviews involving fifteen participants from diverse linguistic and cultural backgrounds. The results of the thematic analysis revealed four key findings. First, the ongoing language barriers in the academic environment remain pronounced. Second, socio-cultural norms within communities have a significant influence on how individuals use language. Third, the implementation of multilingual policies advocated by institutions is still very limited and not optimal. Fourth, there is an urgency to build a stronger and more comprehensive support system for speakers from minority linguistic groups. Based on the theory of intersectionality, linguistic capital, and language ideology, this research shows how the enduring dominance of English continues to marginalize the role of indigenous languages and their speakers. These findings further underscore the significant gap between formally established language policies and the actual practices that occur on the ground. Therefore, systemic interventions are necessary to affirm and promote linguistic diversity. The conclusion of this study states that advancing multilingualism in higher education requires more than just written regulations. It demands the implementation of culturally responsive pedagogy, the availability of learning resources in various languages, and a genuine institutional commitment to achieving language equality. Without those supporting elements, multilingual policies will only be discourse without having any substantial impact.Persepsi dan Sikap Mahasiswa terhadap Interseksionalitas Bahasa di Pendidikan TinggiPenelitian ini menyelidiki persepsi dan sikap mahasiswa terhadap interseksionalitas bahasa dalam konteks pendidikan tinggi di Afrika Selatan. Melalui pendekatan kualitatif, studi ini mengumpulkan data menggunakan wawancara semi-terstruktur yang melibatkan lima belas orang peserta dari beragam latar belakang linguistik dan budaya. Hasil analisis tematik mengungkapkan empat temuan kunci. Pertama, hambatan bahasa yang terus-menerus terjadi di lingkungan akademik masih sangat terasa. Kedua, norma-norma sosial budaya dalam komunitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara seseorang menggunakan bahasa. Ketiga, implementasi kebijakan multilingual yang dicanangkan oleh institusi masih sangat terbatas dan belum optimal. Keempat, terdapat urgensi untuk membangun sistem pendukung yang lebih kuat dan komprehensif bagi para penutur dari kelompok linguistik minoritas. Dengan berlandaskan pada teori interseksionalitas, modal linguistik, dan ideologi bahasa, penelitian ini menunjukkan bagaimana dominasi bahasa Inggris yang masih sangat kental justru terus meminggirkan peran bahasa-bahasa pribumi serta para penuturnya. Temuan ini semakin menegaskan adanya kesenjangan yang lebar antara kebijakan bahasa yang ditetapkan secara formal dengan praktik nyata yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi sistematis yang dapat mengafirmasi dan mempromosikan keanekaragaman bahasa. Simpulan dari studi ini menyatakan bahwa memajukan multilingualisme di perguruan tinggi memerlukan lebih dari sekadar peraturan tertulis. Hal ini menuntut diimplementasikannya pedagogi yang responsif secara budaya, ketersediaan sumber daya pembelajaran dalam berbagai bahasa, serta komitmen kelembagaan yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan kesetaraan bahasa. Tanpa elemen-elemen pendukung tersebut, kebijakan multilingual hanya akan menjadi wacana tanpa memiliki dampak yang substansial.