cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020" : 40 Documents clear
ANALISIS SPATIO-TEMPORAL MODEL ESTIMASI POPULASI BANGUNAN DENGAN MENGGUNAKAN UAV DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS: KELURAHAN TEMBALANG, SEMARANG) Syarifah Mayda Az Zahrotun Nisa; Arief Laila Nugraha; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.519 KB)

Abstract

ABSTRAK Kepadatan penduduk Kelurahan Tembalang pada tahun 2016 berjumlah 2.252 jiwa/km2 dan pada tahun 2019 mencapai 2.917 jiwa/km2. Hal ini menunjukan, kepadatan penduduk yang terjadi dalam 3 tahun mengalami kenaikan sebesar 29%. Pada saat ini, data kepadatan penduduk dilakukan perhitungan berdasarkan data wilayah administratif. Akan tetapi, persebaran penduduk di suatu wilayah sangatlah dinamis. Data kepadatan penduduk berdasarkan wilayah administratif terlihat kurang relevan jika diterapkan pada wilayah perkotaan dengan tingkat mobilisasi yang tinggi. Oleh karena itu, metode penentuan detail kepadatan penduduk sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai populasi penduduk wilayah perkotaan. Detail informasi populasi dapat digunakan dalam mengurangi faktor risiko bencana, pendataan kemiskinan dan wilayah tertinggal. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk representasi yang lebih realistis dari kegiatan manusia di daerah yang sangat perkotaan dan fakta yang menyebabkan perubahan seiring waktu dari kegiatan ini. Data UAV dapat digunakan untuk mengidentifikasi bangunan yang ada pada wilayah administrasi Kelurahan Tembalang. Hasil identifikasi bangunan diklasifikasikan berdasarkan kategori penggunaannya sehingga dapat diasumsikan bahwa, aktivitas manusia tidak lagi tersebar dalam area administratif melainkan ada di dalam bangunan. Data bangunan dilengkapi dengan data populasi serta ditunjang dengan data wawancara dimulainya aktivitas di dalam bangunan. Keseluruhan data yang terkumpul dilakukan pengolahan menggunakan SIG dengan metode volumetrik, sehingga dapat diketahui estimasi populasi yang ada pada bangunan secara spatio-temporal. Berdasarkan hasil perhitungan populasi bangunan, dapat diidentifikasi bahwa rata-rata persentase kenaikan populasi pada semua kategori bangunan pada pukul 01.00 WIB sebesar 28,61%, pukul 07.00 WIB sebesar 190,30%, pukul 13.00 WIB sebesar 155,65% dan pada pukul 19.00 WIB sebesar 55,25%. Kategori bangunan pendidikan adalah kategori bangunan yang paling mempengaruhi kenaikan populasi yang ada di Kelurahan Tembalang. Kata Kunci : Estimasi Populasi Bangunan, Sistem Informasi Geografis, Spatio-Temporal, UAV ABSTRACTThe population density of Tembalang Subdistrict in 2016 amounted to 2,252 people / km2 and in 2019 it reached 2,917 people / km2. This shows, the population density that occurred in 3 years increased by 29%. At this time, population density data is calculated based on administrative area data. However, the population distribution in an area is very dynamic. Data on population density based on administrative regions appear to be less relevant if applied to urban areas with high levels of mobilization. Therefore, the method of determining the detailed population density is needed to get accurate information about the population of urban areas. Detailed population information can be used to reduce disaster risk factors, poverty data collection and disadvantaged areas. This study aims to utilize the technology of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) and Geographic Information Systems (GIS) for a more realistic representation of human activity in highly urban areas and facts that cause changes over time of this activity. UAV data can be used to identify buildings in the administrative area of Tembalang Subdistrict. The results of building identification are classified based on the category of their use so that it can be assumed that human activities are no longer scattered within the administrative area but rather within the building. Building data is supplemented with population data and is supported by interview data for the commencement of activities inside the building. The entire data collected is processed using GIS with volumetric methods, so it can be known spatio-temporal population estimates of buildings in the building. Based on the calculation of the building population, it can be identified that the average percentage of population increase in all building categories at 01.00 WIB at 28.61%, 07.00 WIB at 190.30%, 13.00 WIB at 155.65% and at 19.00 WIB at 55.25%. The education building category is the building category that most influences the population increase in Tembalang Subdistrict.   Keywords : Building Population Estimation, Geographic Information Systems, Spatio-Temporal, UAV
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN DENSIFIKASI BANGUNAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN ALGORITMA URBAN INDEX DENGAN CITRA LANDSAT MULTITEMPORAL (STUDI KASUS : KOTA PEKALONGAN) Faradina Sekar Melati; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.273 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Pekalongan merupakan salah satu kota yang mengalami peningkatan populasi sebesar 12.860 jiwa dari tahun 2014 ke 2019. Peningkatan populasi di Kota Pekalongan menyebabkan perkembangan wilayah pemukiman sehingga terjadi ekspansi lahan terbangun yang ditandai dengan adanya konversi penggunaan lahan. Konversi penggunaan lahan menyebabkan berkembangnya densifikasi bangunan sebagai wujud adanya perkembangan fisik suatu daerah secara horizontal. Lahan terbangun yang terus menerus berkembang namun tidak diiringi dengan peningkatan jumlah vegetasi penyerap CO2 mengakibatkan kondisi suhu di wilayah Kota Pekalongan meningkat dan terasa semakin panas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perubahan tingkat densifikasi bangunan dan suhu permukaan di Kota Pekalongan sehingga menyebabkan terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI). Pengindraan jauh memanfaatkan data citra Landsat 8 dapat mengidentifikasi besarnya perubahan densifikasi bangunan yang terjadi pada suatu daerah dengan menggunakan interpretasi hibrida. Interpretasi hibrida dilakukan dengan menggabungkan interpretasi visual dan digital dapat menonjolkan kenampakan kawasan lahan terbangun. Ekstraksi suhu permukaan diperoleh dengan algoritma Land Surface Temperature (LST). Fenomena UHI didapat dari hasil pengolahan LST yang diklasifikasikan dengan ambang batas. Perubahan densifikasi bangunan dikorelasikan dengan daerah terdampak UHI untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan densifikasi bangunan terhadap daerah terdampak fenomena UHI. Hasil penelitian menunjukkan pada tahun 2014 dan 2019 peningkatan densifikasi bangunan  sebesar 279,983 Ha dan peningkatan suhu permukaan sebesar 4,4℃ dari selisih nilai rerata suhu permukaan. Pengaruh kepadatan bangunan terhadap daerah terdampak fenomena UHI memiliki nilai korelasi sebesar 0,6735 yang menunjukkan tingkat hubungan kuat atau dapat dikatakan kepadatan bangunan mempengaruhi nilai UHI di Kota Pekalongan. Kata Kunci : Densifikasi Bangunan, Interpretasi hibrida, Lahan Terbangun, LST, UHI ABSTRACTPekalongan City is one of the cities that increase in population of 12,860 people from 2014 to 2019. The increase in population in Pekalongan City has an impact on the development of residential areas so that there is an expansion of built land which is marked by land use conversion. Land use conversion causes development of building densification as a form of horizontal physical development in an area. The developed land that continues to grow but is not accompanied by an increase in the amount of CO2-absorbing vegetation causes the temperature conditions in the Pekalongan City area to increase and feel increasingly hot.This research was conducted to find out how many the change in the level of building densification and surface temperature in the city of Pekalongan, causing the phenomenon of Urban Heat Island (UHI). Remote sensing methods using Landsat imagery can identify the magnitude of changes in building densification that occur in an area by using hybrid interpretation. Hybrid interpretation  by combining visual and digital interpretations can accentuate the appearance of the flight area. Surface temperature extraction is obtained by the Land Surface Temperature (LST) algorithm. UHI phenomenon is obtained from the processing of LST thresholding classification. Changes in building densification are correlated with areas affected by UHI to find out how much influence the changes in building densification on areas affected by UHI phenomena.The results showed an increase in building densification by 279,983 Ha and an increase in surface temperature by 4.4℃ from the difference in mean surface temperature in 2014 and 2019. The effect of building density on the area affected by the UHI phenomenon has a correlation value of 0.6735 which indicates the level of strong relationship or it can be said that building density affects the value of UHI in Pekalongan City. Keywords: Building Densification, Built-Up Area, Hybrid Interpretation, LST, UHI
ANALISIS PERAMALAN DATA KOSONG BULANAN PASANG SURUT MENGGUNAKAN METODE ADAPTIVE NEURO FUZZY INFERENCE SYSTEM (ANFIS) (STUDI KASUS: STASIUN PASUT SURABAYA) Eka Yuliandany; L.M Sabri; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.993 KB)

Abstract

ABSTRAKSebagai suatu fenomena yang terjadi secara periodik maka pasang surut (pasut) dapat diprediksi. Metode untuk mengkaji dan memprediksi tinggi pasut konvensional umumnya membutuhkan data dengan rentang data yang panjang. Data pasut yang lengkap dengan rentang waktu yang panjang masih sulit untuk ditemukan. Hal tersebut mendorong peneliti untuk mengaplikasikan berbagai metode untuk simulasi peramalan data kosong (fill gap) pada data pasut, salah satunya dengan metode ANFIS. Penelitian pasang surut ini menggunakan metode ANFIS (Adaptive Neuro Fuzzy Inference System) untuk melakukan peramalan data kosong (fill gap) pasut. Data yang digunakan adalah data pasut per jam kota Surabaya dari tahun 2000-2018. Model ANFIS untuk simulasi peramalan data kosong (fill gap) pada data pasut dibuat dengan panjang data pelatihan yang berbeda. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa panjang data masukan tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja ANFIS dalam melakukan peramalan data kosong (fill gap) pasut. Nilai RMSE testing terkecil terdapat pada tahun 2001 yaitu sebesar 0,000029 m dengan panjang data pelatihan per input sebesar 48 jam, dan nilai RMSE terting terbesar trdapat pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,122940 m dengan panjang data pelatihan per input sebesar 360 jam. Prediksi dengan data input tahunan diporoleh nilai standar deviasi terkecil pada tahun 2015 sebesar 0,099 m dan nilai standar deviasi terbesar pada tahun 2007 sebesar 0,183 m dengan rata-rata nilai korelasi sebesar 0,9650. Sedangkan untuk prediksi mengunakan panjang data input yang berbeda diperoleh hasil prediksi dengan nilai standar deviasi terkecil terdapat pada kelompok data taun 2007-2017 sesudah dilakukan proses fill gap yaitu sebesar 0,106 m dan nilai standar deviasi terbesar terdapat pada kelompok data tahun 2000-2017 sebelum dilakukan proses fill gap sebesar 0,332 m.                        Kata Kunci: ANFIS, Fill Gap, Pasang Surut, RMSE, Standar Deviasi ABSTRACTAs a phenomenon that occurs periodically, the tidal can be predicted. Methods for assessing and predicting conventional tidal height generally require data with a long range data. In practice, complete tidal data with a long time span is still difficult to find. This encourages researchers to apply various methods for simulating empty data forecasting (fill gap) on tidal data, one of them is the ANFIS method. This tidal research uses the ANFIS (Adaptive Neuro Fuzzy Inference System) method to forecast the tidal fill data. The data used is the hourly tidal data of the city of Surabaya from 2000-2018. ANFIS models for the simulation of empty data forecasting (fill gap) on tidal data are made with different training data lengths. From this study, the results obtained that the length of the input data does not directly affect the performance of ANFIS in forecasting empty data (tide gap). The smallest RMSE testing value was found in 2001 which was 0.000029 m with the length of training data per input of 48 hours, and the highest RMSE value was obtained in 2016 which was 0,122940 m with the length of training data per input of 360 hours. For predictions with annual input data, the smallest standard deviation value in 2015 was 0.099 m and the largest standard deviation in 2007 was 0.183 m, with an average correlation value of 0.9650. Predictions using different input data lengths obtained prediction results with the smallest standard deviation values are found in the 2007-2017 data group after the fill gap process is equal to 0.106 m and the largest standard deviation values are found in the 2000-2017 data group before the process fill gap of 0.332 m.
STUDI PEMETAAN HABITAT DASAR PERAIRAN LAUT DANGKAL BERDASARKAN ANALISIS DIGITAL MENGGUNAKAN CITRA PLEIADES MULTISPEKTRAL DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN BESAR, KEPULAUAN KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH Faisal Aldin; Yudo Prasetyo; Muhammad Helmi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880 KB)

Abstract

ABSTRAKPulau Menjangan Besar adalah salah satu pulau di Kepulauan Karimunjawa yang terkenal dengan wisata bawah laut terutama terumbu karang. Terumbu karang merupakan bagian dari habitat dasar perairan laut dangkal yang memiliki potensi sumber daya laut dan patut diperhitungkan sehingga pemetaan sebaran dan luasan habitat dasar perairan laut dangkal sangatlah dibutuhkan dalam pengembangan potensi sumber daya laut dan pesisir. Kurangnya informasi ilmiah terkait habitat dasar perairan laut dangkal terutama terumbu karang di Pulau Menjangan Besar membuat proses pemantauan keadaan habitat dasar perairan laut dangkal mengalami kesulitan.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan dan potensi citra satelit Pleiades-1A multispektral dalam pemetaan habitat dasar perairan laut dangkal dan mengetahui kelas dan pola spasial habitat dasar perairan laut dangkal berdasarkan hasil analisis citra satelit Pleiades-1A dan survei lapangan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemanfaatan teknologi pengindraan jauh menggunakan citra Pleiades-1A dengan algoritma Lyzenga. Metode algoritma Lyzenga digunakan untuk memetakan material penutup material penutup substrat dasar pada perairan laut dangkal.Berdasarkan hasil pengolahan dan klasifikasi citra  Pleiades-1A diperoleh hasil uji akurasi sebesar 88,33 %. Hasil tersebut menunjukan bahwa citra Pleiades-1A mampu mendeteksi kanampakan habitat dasar perairan laut dangkal secara baik. Berdasarkan hasil klasifikasi dalam pemetaan habitat dasar perairan laut dangkal menunjukan kenampakan 5 kelas yang terdiri dari kelas pasir sebesar 60%, kelas makroalga 17%, kelas terumbu karang 11%, kelas lamun 8% dan kelas pecahan karang 4%. Pola dari masing-masing kelas tersebar secara acak di daerah penelitian dan didominasi oleh kelas pasir. Kata Kunci : Algoritma Lyzenga, Citra Pleiades-1A, Habitat Dasar Perairan Laut Dangkal, Menjangan Besar ABSTRACTMenjangan Besar Island is one of the islands in the Karimunjawa Islands. The island is famous for underwater tourism especially coral reefs. Coral reefs are part of shallow sea bottom habitats that have considerable marine resource potential so that the mapping of the distribution and extent of shallow sea bottom habitats is very much needed in developing the potential of marine and coastal resources. Lack of scientific information related to shallow sea bottom habitats, especially coral reefs on the Menjangan Besar Island, has made it difficult to monitor the situation of shallow sea bottom habitats.The purpose of this study is to determine the ability and potential of multispectral Pleiades-1A satellite imagery in mapping shallow sea bottom habitats and determine the class and spatial patterns of shallow sea bottom habitats based on the results of Pleiades-1A satellite image analysis and field survey. The methodology used in this research is the use of remote sensing technology using Pleiades-1A imagery with Lyzenga algorithm. The Lyzenga algorithm method is used to map the covering material of shallow seabed cover material.Based on the results of processing and classification of Pleiades-1A images obtained an accuracy test results of 88.33%. These results indicate that the Pleiades-1A imagery is able to detect the appearance of shallow sea bottom habitats. Where the results of the classification in the mapping of shallow sea bottom habitats are divided into 5 classes consisting of 60% sand class, 17% macroalgae class, 11% coral reef class, 8% seagrass class and 4% coral fraction class. The patterns of each class are randomly distributed in the study area and are dominated by sand classes. Keyword : Lyzenga Algorithm, Menjangan Besar, Pleiades-1A Imagery, Shallow Sea Bottom Habitats
ANALISIS KONTRIBUTOR DOMINAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND (UHI) DI KOTA MEDAN Nainggolan, Yohana Christie; Sasmito, Bandi; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.946 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan suatu kota dalam berbagai aspek akan meningkatkan produktifitas kota tersebut. Namun perkembangan tersebut menimbulkan konsekuensi  seperti meningkatnya laju pertumbuhan lahan terbangun, angka kepadatan penduduk, urbanisasi, kemacetan, ketidaknyamanan dan sebagainya. Faktor-faktor konsekuensi tersebut juga akan memicu terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pemanasan pulau perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas seberapa  besar nilai pengaruh setiap faktor  dalam memicu fenomena UHI. Penelitian ini berfokus pada faktor ruang terbangun (RTB), kerapatan vegetasi, kepadatan penduduk serta keberadaan kawasan industri. Penelitian dilakukan secara multitemporal, yaitu tahun 2009, 2014 dan 2019 menggunakan citra Landsat 5 dan Landsat 8. Pemilihan citra berdasarkan kemiripan waktu  akuisisi citra dan kesamaan musim di lapangan. Pengolahan  ruang terbangun dilakukan dengan klasifikasi supervised dan kerapatan vegetasi dengan algoritma NDVI. Penelitian juga akan menghasilkan nilai suhu permukaan di tiap tahun.  Hasil pengamatan citra Landsat tahun 2009 hingga 2019 menunjukkan bahwa hampir semua faktor berkembang secara fluktuatif, begitu juga dengan suhu permukaan (Land Surface Temperature). Pada tahun 2009 LST rata-rata  adalah 24,96oC, tahun 2014 LST rata-rata meningkat menjadi 33,32oC dan mengalami penurunan menjadi 30,18oC di tahun 2019. Adapun UHI sangat erat kaitannya dengan LST, dan berdasarkan hasil uji regresi faktor yang memiliki kontribusi paling dominan terhadap UHI adalah RTB dengan kontribusi sebesar 68,83%. Kata Kunci : Citra Satelit Landsat, NDVI, Ruang Terbangun, Suhu Permukaan, Urban heat island ABSTRACTThe development of a city in various aspects will increase the productivity of the city. However, these developments have consequences such as increased growth rates of built space, population density, urbanization, congestion, discomfort and other. These consequences factors will also trigger the phenomenon of Urban Heat Island (UHI) or urban island warming. Therefore, this study will discuss how the value influence each factor in triggering the UHI phenomenon. This research focuses on the built space, vegetation density, population density and industrial estates. The research was conducted multitemporally in 2009, 2014 and 2019 using Landsat 5 and Landsat 8 imagery. Image selection based on the similarity of image acquisition time and seasonality in the field. The processing of built space is done by supervised classification and vegetation density using the NDVI algorithm. The research will also produce surface temperature values each year. Observation of Landsat imagery from 2009 to 2019 shows that almost of all factors develop fluently, as well as surface temperature (Land Surface Temperature). In 2009 the average LST was 24,96oC, in 2014 the average LST increased to 33,3 oC and decreased to 30,18oC in 2019. UHI phenomenon is very closely related to the LST, and based on the results of the regression test the factor that have the most dominant contribution to UHI is built space with a contribution of 68,83%.
ANALISIS 3D MODELLING UNTUK DETEKSI OBSTACLE ZONA KKOP BANDARA ADI SOEMARMO Olivia Sinaga; Andri Suprayogi; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.914 KB)

Abstract

ABSTRAKTransportasi udara menjadi pilihan bagi banyak masyarakat Indonesia untuk melakukan perjalanan karena efisiensi waktu perjalanan dan beberapa maskapai yang saat ini sudah menyediakan harga yang terjangkau. Bandar udara atau bandara adalah salah satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi keselamatan dalam aktivitas transportasi udara. Bandara Adi Soemarmo adalah satu dari banyak bandara yang mengalami pembangunan yang sangat pesat, selain itu wilayah Bandara Adi Soemarmo yang berada ditengah pemukiman menjadi alasan pentingnya memperhatikan peraturan tentang Kawasan Keselamatan Operasional Pernerbangan (KKOP). Kementrian Perhubungan mengatur peraturan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dengan tujuan menjamin keselamatan penumpang dan juga masyarakat yang bermukim pada daerah sekitar bandara yang memiliki tingkat bahaya yang tinggi. Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan Bandara Adi Soemarmo dibuat dalam bentuk 3 dimensi sesuai dengan Keputusan Mentri Perhubungan No. 408 tahun 2017. Model 3D dibangun dengan menggunakan perangkat SketchUp. Obstacle atau halangan adalah bangunan yang memiliki ketinggian diatas ketinggian maksimal bangunan pada peraturan KKOP. Nilai ketinggian maksimal didapatkan dengan proses raster math antara model 3 dimensi zona KKOP dan model 3 dimensi DEM. Bangunan yang memiliki ketinggian diatas ambang batas maksimal dimodelkan menjadi 3 dimensi dengan menggunakan perangkat lunak SketchUp. Penelitian ini menghasilkan peta model 3 dimensi zona KKOP Bandara Adi Soemarmo dan obstacle. Zona dibangun dengan ketinggian yang didasarkan pada titik landasan 26. Zona KKOP mencakup 6 Kabupaten dan 1 Kota diantaranya Kabupaten Boyolali, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Klaten, Kabupaten Semarang, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta. Jumlah obstacle yang masuk dalam zona KKOP Bandara Adi Soemarmo berjumlah 51 obstacle.51 obstacle tersebut diantaranya SUTET, tower telekomunikasi dan cerobong. Kata Kunci : Bandara Adi Soemarmo, KKOP, Model 3D, Obstacle ABSTRACTAir transportation has become the choice for many Indonesians to travel because of the efficiency of travel time and several airlines that currently provide affordable prices. Airport is one of several factors that influence safety in air transportation activities. Adi Soemarmo Airport is one of the many airports that have experienced very rapid development, besides that the Adi Soemarmo Airport area, which is in the middle of settlements, is the reason for the importance of paying attention to regulations on the Aviation Operational Safety Area (KKOP). The Ministry of Transportation regulates Aviation Operational Safety Area regulations with the aim of ensuring the safety of passengers and also the people who live in areas around airports that have a high level of danger. The Adi Soemarmo Aviation Airport Operational Safety Area is made in 3 dimensions in accordance with Minister of Transportation Decree No. 408 in 2017. The 3D model was built using the SketchUp tool. Obstacle is a building that has a height above the maximum height of the building in KKOP regulations. The maximum height value is obtained by the raster math process between the 3 dimensional model of the KKOP zone and the 3 dimensional model of DEM. Buildings that have a height above the maximum threshold are modeled into 3 dimensions using SketchUp software. This study produced a 3-dimensional model map of the KKOP zone at Adi Soemarmo Airport and the obstacle. The zone was built with a height based on the runway 26. The KKOP Zone covers 6 Regencies and 1 City including Boyolali Regency, Karanganyar Regency, Klaten Regency, Semarang Regency, Sragen Regency, Sukoharjo Regency and Surakarta City. The number of obstacles included in the KKOP zone at Adi Soemarmo Airport is 51 obstacles. 51 of them are SUTET, telecommunication towers and chimneys.
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2019 Wili Setiadi; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.117 KB)

Abstract

ABSTRAKBendungan merupakan sebuah konstruksi multifungsi yang dibangun untuk menahan laju air yang memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia. Waduk Pendidikan Diponegoro merupakan salah satu waduk yang berlokasi di kawasan Tembalang, Semarang. Waduk ini mampu menampung genangan air normal sampai 478,240 m³ dengan luas daerah tangkapan air mencapai 7,1338 Ha dengan panjang sungai 7,52 km dan tinggi tubuh bendungan 22 m. Pembangunan waduk ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan, pengendali banjir di kawasan sekitar kampus Undip Tembalang, meningkatkan kapasitas resapan air tanah sebagai usaha konservasi dan tempat rekreasi. Setiap bangunan yang terus-menerus mendapatkan tekanan maka berpotensi untuk mengalamai perubahan, baik posisi, dimensi ataupun bentuk. Maka dari itu, penelitian ini melakukan pengamatan deformasi terhadap Waduk Pendidikan Diponegoro dengan metode pengamatan satelit menggunakan GNSS. Pengamatan dilakukan terhadap 9 titik pantau deformasi yang tersebar di sekitar tubuh bendungan. Pengamatan deformasi dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juli 2019. Data hasil pengamatan tersebut selanjutnya diolah dengan menggunakan scientific software GAMIT 10.7 untuk mengetahui koordinat dari masing-masing titik tetap dan pergeseran masing-masing titik pengamatan. Pengamatan jarak, beda tinggi dan koordinat juga akan dilakukan pada titik pengamatan menggunakan total station dengan metode repetisi dan waterpass dengan pengolahan least square. Dari pengamatan deformasi yang telah dilakukan, didapat hasil berupa perubahan koordinat berdasar pada sistem koordinat toposentrik. Nilai perubahan koordinat memiliki nilai antara 0,5 mm sampai dengan 15 mm pada sumbu X, 0,3 mm sampai dengan 20 mm pada sumbu Y dan 1,5 mm sampai dengan 55 mm pada sumbu Z. Berdasarkan hasil uji statistik yang telah dilakukan, tidak terjadi perubahan nilai koordinat, jarak maupun beda tinggi pada pengukuran yang telah dilakukan. Kata Kunci : Bendungan, Deformasi, GAMIT, GNSS ABSTRACTDam is a multifunction construction which is built to resist the waters flow that has many important purpose for human race. The Diponegoro Dam is one of the reservoir that’s located in Tembalang, Semarang. This dam can accommodate the water up to 478.240 m³, with the water catchment area reaches 7.1338 Ha, with the river’s length up to 7.52 km and the height of dam is 22 m. This dam’s project is intended to keep the ecosystem and environment balance. The other function are as the flood control around the Undip, Tembalang, to increase the absorbtion capacity of water and as well as the recreation area. Every building that has pressure continuously on it, will cause changes like position, dimension or shape. Therefore, this research spescifiqally observes deformation on Diponegoro Dam with the GNSS method. This project observes on 9 monitoring points around the dam. The research is done from May until July 2019. The result data of the 9 monitoring points will be processed by GAMIT 10.7 scientific software, to show the coordinate and the movement of the monitoring points. The distance, height and coordinate of the monitoring points are also observed by total station with the repetition method and waterpass with the least square processing. From this research, we can conclude that the movement of the monitoring points is based on the topocentric coordinate system. The values of the movement are around 0.5 mm until 15 mm for the X axis, 0.3 mm until 20 mm for the Y axis and 1.5 mm until 55 mm for the Z axis. According to the statistic accuracy test, the coordinate, distance and height on the monitoring points are not move from the observation that has been done.
ANALISIS SPASIAL ALIRAN LAHAR MENGGUNAKAN HEC-HMS DAN HEC-RAS PADA KALI GENDOL-OPAK KAWASAN GUNUNG MERAPI Ulinnuha, Ilham; Prasetyo, Yudo; Sabri, LM
Jurnal Geodesi Undip Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.961 KB)

Abstract

ABSTRAKGunung Merapi merupakan salah satu gunung api yang masih aktif sampai saat ini. Erupsi Gunung Merapi dapat mengeluarkan sejumlah material vulkanik yang dapat mengendap di hulu sungai sebagai lahar. Pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhulu di Gunung Merapi apabila terjadi turun hujan dengan intensitas tinggi dan dalam durasi waktu yang lama, lahar tersebut akan mengalir mengikuti kelerengan permukaan dan dapat mengakibatkan suatu bencana. Salah satu sungai yang memiliki endapan  material vulkanik yang tinggi adalah Kali Gendol-Opak, kemudian disebut sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) Gendol-Opak. Software HEC-HMS dalam penelitian ini digunakan untuk menghitung debit banjir rencana. Parameter untuk menentukan debit banjir rencana antara lain data curah hujan, nilai CN (Curve Number) dan Impervious dihitung dari jenis tanah, penggunaan lahan dan luas sub-DAS. Penggunaan lahan dibuat dari klasifikasi tutupan lahan menggunakan metode klasifikasi supervised. Luasan sub-DAS dideliniasi pada ArcMap menggunakan analisis watershed. Debit aliran lahar dihitung dari penambahan koefisien C* pada debit banjir rencana. Pada pemodelan aliran lahar menggunakan software HEC-RAS, parameter yang digunakan antara lain koefisien Manning, geometri data, debit aliran lahar dan terrain. Data untuk Terrain menggunakan data elevasi dari DEMNAS. Setelah pemodelan berhasil didapatkan, aliran lahar diidentifikasi luapannya dari buffer sempadan sungai. Penelitian ini memperoleh simulasi aliran lahar yang memiliki luas dampak sebesar 724,553 ha (8,97%) pada 10 desa di Kabupaten Sleman antara lain Desa Argomulyo, Bimomartani, Glagaharjo, Hargobinangun, Kepuharjo, Selomartani, Sindumartani, Tamanmartani, Umbulharjo dan Wukirsari. Desa Argomulyo menjadi desa yang terdampak aliran lahar paling luas dengan luas 206,335 ha (28,48%). Sebanyak 593,117 ha (81,86%) aliran lahar masuk pada zona sempadan sungai. Berdasarkan hal tersebut, untuk mengurangi kerugian bencana maka pemerintah dapat mengedukasi warga agar tidak melakukan aktivitas di zona tersebut.Kata Kunci: DAS, HEC-HMS, HEC-RAS, Lahar ABSTRACTMerapi Volcano is one of the active volcanoes. Eruption of the Merapi Volcano can release a number of volcanic material which can settle upriver as lahar. In watersheds that are tipped at Merapi Volcano, if there is rain with high intensity and for a long duration, the lahar will flow based on the slope of the surface and can result in a disaster. One river that has high volcanic material deposits is Kali Gendol-Opak, then referred to as the Gendol-Opak River Basin. HEC-HMS software in this research is used to calculate the planned flood discharge. The parameters to determine the planned flood discharge include rainfall data, CN (Curve Number) and Impervious values calculated from soil type, land use and subbasin. Land use is made from land cover classification using the supervised classification method. Area of sub-basin delineated in ArcMap using watershed analysis. Lahar flow discharge is calculated from the addition of the C* coefficient to the planned flood discharge. In lahar flow modeling using HEC-RAS software, parameters used include Manning coefficient, data geometry, lahar flow discharge and terrain. Data for terrain uses elevation data from DEMNAS. After modeling has been successfully obtained, overflow of lahar flow is identified by buffer of demarcation of river. This research obtained a lahar flow simulation which has an impact area of 724.553 ha (8.97%) in 10 villages in Sleman Regency including Argomulyo, Bimomartani, Glagaharjo, Hargobinangun, Kepuharjo, Selomartani, Sindumartani, Tamanmartani, Umbulharjo and Wukirsari villages. Argomulyo village is the most impacted village with an area of 206.335 ha (28.48%). As much as 593.117 ha (81.86%) of the lahar flow into zone of river border. Based on these, to reduce disaster losses the government can educate residents not to carry out activities in the zone.Keywords:  HEC-HMS, HEC-RAS, Lahar, Watershed
ANALISIS AKURASI MODEL 3 DIMENSI BANGUNAN DARI FOTO SECARA TEGAK DAN MIRING (Studi Kasus : Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro) Christovel Natar Pardo; L.M Sabri; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.639 KB)

Abstract

Pemodelan tiga dimensi merupakan salah satu metode yang sangat dikembangkan beberapa tahun belakangan ini dalam menggambarkan secara kesuluruhan suatu objek. Salah satu manfaat dari metode merupakan merekonstruksi bangunan yang mengalami kerusakan akibat suatu kecelakaan atau bencana alam. Untuk membentuk pemodelan tiga dimensi diperlukan beberapa data foto udara yang overlap minimal 60% dan sidelap minimal 30%. penelitian ini menggunakan DJI Phantom 4 dan menggunakan dua metode pengambilan foto udara, yaitu secara vertikal (orto) dan miring (oblique). Kemiringan foto udara akan sebesar 45º dalam akuisisi foto oblique. Kedua metode tersebut akan diolah menggunakan software Pix4Dmapper dan menggunakan data GCP yang disebar secara merata. Kemudian akan diuji dengan uji akurasi ketinggian dan uji planimetrik guna mencari metode yang lebih baik. Akuisisi orthofoto menghasilkan kualitas data pemodelan yang lebih baik dibandingkan dengan hasil akuisisi oblique foto. Hasil perhitungan uji planimetrik, orthofoto memiliki nilai RMSE (root mean square error) sebesar 1,127 m dengan nilai rata-rata sebesar 1,271 m. Hasil perhitungan RMSE foto oblique sebesar 1,363 m dengan nilai rata-rata sebesar 3,175 m. Hasil uji akurasi tinggi, orthofoto memiliki RMSE sebesar 1,997 m dan oblique foto memiliki RMSE sebesar 4,247 m.Kata Kunci: Fotogrametri,  Pemodelan tiga dimensi, Pix4Dmapper, UAV   ABSTRACTThree-dimensional modeling is method that has been grown in recent years in describing the entire object. The benefits of this method is to reconstruct buildings that have been damaged due to an accident or natural disaster. To form a three-dimensional modeling requires some aerial photo data that overlaps at least 60% and sidelap at least 30%. In this study, researchers used DJI Phantom 4 and used two methods of capturing aerial photographs, vertical (ortho) and oblique. The slope of the aerial photograph will use 45º. Both methods will be processed using Pix4Dmapper software using GCP and ICP data. Then it will be tested with altitude accuracy test and planimetric test to find a better method. In results, orthophoto acquisition results in better data modeling quality compared to the results of the oblique photo acquisition. In the planimetric test calculation, orthophoto has a RMSE of 1.127 m with an average value of 1.277 m. For oblique photos, the RMSE calculation result is 1.363 with an average value of 3.175 m. In the high accuracy test, orthophoto has a RMSE of 1.997 m and oblique photos have a RMSE of 4.247 m.Keywords: Photogrammetry, Pix4Dmapper, Three-dimensional modeling, UAV
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI RINCI DESA MENGGUNAKAN DATA PEMOTRETAN UDARA UAV BERBASIS SIG Studi Kasus ( Desa Katonsari, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak) Yovi Adyuta Isdiantoro; Bambang Sudarsono; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.378 KB)

Abstract

ABSTRAKUU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengembangkan sistem informasi Desa untuk keperluan perencanaan pembangunan di wilayah perdesaan. Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi Desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah. Desa Katonsari merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Desa ini memiliki wilayah yang strategis karena berada di dekat Jalan Raya yang menghubungkan Kota Semarang dan Kota Surabaya. Akan tetapi desa ini belum memiliki Sistem Informasi Desa. Pembuatan Sistem Informasi desa diharapkan dapat memudahkan pemerintah desa dan juga masyarakat lebih mudah dalam mendapatkan informasi geospasial. Sistem Informasi Desa dibuat dengan cara pengolahan data foto udara menjadi orthophoto. Hasil orthophoto dilakukan rektifikasi dengan citra Quickbird maka didapatkan foto udara terkoreksi. Lalu dilakukan proses digitasi yang mengacu pada PERKA BIG Nomor 3 Tahun 2016 dan dijadikan geodatabase lalu dilakukan topologi. Kemudian hasilnya di upload ke ArcGIS online sebagai hosted feature layer dan membuat aplikasi peta berbasis web dari shapefile yang dijadikan layer. Peta online dibuat dengan web map builder pada ArcGIS online. Hasil peta online kemudian disematkan di website Desa Katonsari dengan situs https://desakatonsari.wixsite.com/mysite yang didalam nya berisi Peta Desa Katonsari berbasis WebGIS. Hasil dari penelitian ini adalah Sistem Informasi Desa yang diakses melalui website. Setelah dilakukan uji usability pada website tersebut didapatkan nilai rata-rata 83,79 yang masuk kategori “Baik”. Kata Kunci : Orthophoto, Peta Online, Sistem Informasi Desa, UAV ABSTRACTLaw No. 6 of 2014 concerning Villages explains that the government and regional governments are obliged to develop Village information systems for the purposes of development planning in rural areas. Villages are entitled to access information through the Village information system developed by the Regional Government. Katonsari Village is a village located in Demak District, Demak Regency. This village has a strategic area because it is near the highway that connects the city of Semarang and the city of Surabaya. However, this village does not yet have a Village Information System. The creation of a village Information System is expected to make it easier for the village government and also the community to obtain geospatial information more easily. Village Information System is made by processing aerial photographic data into orthophoto. The orthophoto results were rectified with Quickbird imagery and corrected aerial photographs were obtained. Then the digitization process is carried out that refers to PERKA BIG Number 3 of 2016 and made into a geodatabase then carried out topology. Then the results are uploaded to ArcGIS online as the hosted feature layer and create a web-based map application from the shapefile that is used as a layer. Online maps are created with the web map builder on ArcGIS online. The results of the online map are then embedded on the Katonsari Village website with the site https://desakatonsari.wixsite.com/mysite which contains WebGIS-based Katonsari Village Map. The results of this study are the Village Information System which is accessed through the website. After the usability test was carried out on the website, it was found that the average value was 83.79 which was categorized as "Good". Keywords Orthophoto, Online Map, UAV, Village Information Systems

Page 4 of 4 | Total Record : 40


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue