Articles
44 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3, No 1: Januari 2015"
:
44 Documents
clear
Karya Bidang Program Tayangan “Gitaran Sore-Sore” di PROTV Semarang sebagai Produser Pelaksana
Raynaldo Faulana Pamungkas;
Tandiyo Pradekso;
Agus Naryoso;
M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (366.579 KB)
Televisi merupakan salah satu saluran yang mampu menyebarkan informasi secara massal. Namun seringkali informasi yang disebarkan saluran televisi nasional kurang dapat diterima oleh khalayak di daerah. Hal tersebut dikarenakan tayangan televisi nasional tidak memperhitungkan unsur proximity. Televisi lokal seharusnya mampu membawa unsur proximity tersebut menjadi sebuah tayangan yang berkualitas. Namun seringkali khalayak tidak sadar akan kekuatan televisi lokal tersebut.Gitaran sore-sore sebagai sebuah tayangan talkshow yang hadir di televisi lokal mampu menghadirkan unsur proximity. Gitaran sore-sore juga menjadi sarana untuk menyebarluaskan ide-ide masyarakat Semarang melalui obrolan ringan tentang hobi dan konten yang mengangkat tentang informasi lokal. Lewat cara interaktif dan inspiratif tayangan gitaran sore-sore mampu membawa kekuatan televisi lokal ke tengah-tengah khalayak.Pada program tayangan Gitaran Sore-sore. produser bertugas untuk memimpin jalannya produksi acara, menyediakan kebutuhan produksi, membuat rencana kerja, menkordinasi tim , hingga membuat anggaran produksi. Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan live di ProTV setiap hari rabu dan kamis mulai tannggal 29 September hingga 13 November 2014 pukul 15.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan khalayak Semarang mampu mempunyai tayangan yang informatif dan inspiratif serta menghibur.Kata kunci : Talkshow Gitaran Sore-Sore, Program acara anak muda, Hobi
PEMBUATAN WEBSITE MAGAZINE “IKILHO” BEKERJASAMA DENGAN EKSPRESI SUARA REMAJA ( Divisi Reporter, Videografer dan Video Editor)
Renis Susani Karamina;
Nurist Surayya Ulfa;
M Bayu Widagdo;
Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (318.885 KB)
Internet saat ini menjadi media baru di dalam dunia jurnalistik. Masyarakat modern khususnya kalangan remaja sering kali menggunakan internet dalam mencari informasi, begitu pula dengan anak remaja di kota Semarang yang membutuhkan informasi seputar gaya hidup atau informasi-informasi apapun tentang kota Semarang. Dengan melihat peluang tersebut website magazine Ikilho hadir untuk memberikan informasi-informasi seputar kota Semarang dengan gaya remaja.Pada website magazine Ikilho, Seorang reporter bertugas sebagai pencari berita-berita menarik yang akan diangkat ke website sebelum di edit oleh sang editor. Selain itu dalam Website Magazine Ikilho juga terdapat videografer dan juga video editor. Videografer bertugas mengambil video untuk beberapa rubrik Ikilho, sedangkan video editor bertugas untuk mengedit hasil pengambilan video dari sang videografer untuk dikemas agar lebih bagus untuk dilihat para pengunjung website. Pada saat pelaksanaan berlangsung, ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh Reporter, Videografer dan juga Video editor mulai dari perubahan perencanaan isi berita untuk reporter, cahaya dalam pengambilan gambar untuk videografer dan juga teknis pengeditan untuk sang video editor. Dari hasil pasca riset yang dilakukan, banyak nya pengunjung yang puas dengan isu berita dan juga dengan video-video yang disertakan di beberapa rubrik Website Magazine Ikilho. Namun ada beberapa pula yang kurang puas dengan isu berita yang diliput oleh sang reporter, namun hal tersebut adalah sebuah masukan untuk website magazine Ikilho agar lebih baik kedepannya.Kata kunci : Website Magazine, Lifestyle, Internet, Semarang, Reporter, Videografer, Video Editor, Karya Bidang.
Bingkai Media Terhadap Pemberitaan Capres Jokowi Pada Pilpres 2014
Ghanes Eka Putera;
Adi Nugroho;
Taufik Suprihartini;
Much. Yulianto
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (134.758 KB)
Salah satu peran media massa adalah memberikan informasi kepada masyarakat. Pada momen pemilihan presiden 2014, media massa merupakan sumber informasi utama masyarakat untuk mengenal para kandidat calon presiden yang akan mereka pilih. Namun, adanya faktor kepentingan tertentu menyebabkan media massa menjadi tidak obyektif dan tidak berimbang dalam memberitakan suatu realitas yang berkaitan dengan sosok para kandidat. Penelitian ini mencoba mengetahui bagaimana seorang calon presiden dikonstruksi oleh media yaitu capres Jokowi pada media online Kompas.com dan Detik.com. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan analisis framing yang diperkenalkan Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki untuk melihat bagaimana Kompas.comdan Detik.com membingkai pemberitaan mengenai capres Jokowi menjelang pemilihan presiden 2014 periode waktu 4 Juni – 5 Juli 2014.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan yang disajikan oleh Kompas.com mengenai sosok capres Jokowi secara tidak langsung berpihak kepada pihak Jokowi. Struktur sintaksis dan retoris Kompas.com didominasi oleh berita-berita positif yang menggambarkan bahwa Jokowi adalah kandidat yang sederhana, merakyat, agamis, dan layak terpilih sebagai presiden. Dalam memberitakan kekurangan Jokowi, Kompas.com terkesan hati-hati dan memakai narasumber yang kurang kredibel. Sedangkan Detik.com tampak masih berusaha menjadi media yang netral dan menjunjung cover both sides. Jokowi digambarkan oleh Detik.com sebagai capres yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Meski demikian, pemberitaan positif tentang Jokowi masih mendominasi oleh Detik.com. Keberpihakan Kompas.com dengan selalu memberitakan kebaikan Jokowi kemungkinan dipengaruhi adanya kepentingan politik PDI Perjuangan sebagai parpol pengusung Jokowi dan berafiliasi dengan Kompas.Kata kunci: Jokowi, pemilu, pilpres.
STRATEGI KOMUNIKASI MUSEUM RANGGAWARSITA
Prabowo Nurwidagdyo;
Djoko Setyabudi;
Tandiyo Pradekso;
Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (172.686 KB)
Latar belakang penelitian ini diawali dengan kesuksesan museum Ranggawarsita dalam meningkatkan jumlah pengunjung. Pada tahun 2012 pengunjung museum Ranggawarsita sebanyak 43.180 orang dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 65.957 orang. Ditengah meredupnya daya apresiasi masyarakat tentang museum, ternyata museum ranggawarsita justru mampu meningkatkan jumlah pengunjungnya. Fenomena tersebut menjadi daya tarik bagi peneliti untuk mengkaji bagaimana strategi komunikasi yang telah dilakukan oleh museum Ranggawarsita.Tujuan penelitian adalah mengkaji bagaimana strategi komunikasi dalam meningkatkan jumlah pengunjung di museum Ranggawarsita. Tipe penelitian merupakan penelitian deskriptif kulitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah kepala museum, kepala seksi pelayanan, staf pelayanan, penanggung jawab kegiatan duta museum dan ketua komunitas Lopen.Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa museum Ranggawarsita telah menggunakan 6 tahapan perencanaan strategi komunikasi sebagai upaya meningkatkan jumlah pengunjungnya, yaitu analisis situasi, penentuan tujuan, menentukan target sasaran, pesan, program komunikasi dan evaluasi. Museum Ranggawarsita telah berhasil mengubah paradigma lama yang berbasis koleksi ke paradigm baru yang berbasis konsumen. Konsep marketing yang telah diterapkan adalah internal marketing, integrated marketing dan relationship marketing. Strategi komunikasi yang dilaksanakan oleh museum Ranggawarsita meliputi penyelengaraan event, pembuatan iklan, penggunaan media internet dan program pemberian diskon.Kata kunci: strategi komunikasi, museum, marketing
Karya Bidang Program Tayangan Gitaran Sore-Sore PROTV (Divisi Business and Communication, dan Dokumentasi)
Nadia Dwi Agustina;
Tandiyo Pradekso;
Agus Naryoso;
M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (275.959 KB)
Kehadiran televisi lokal memberikan tayangan yang berbeda dari tayangan televisi nasional yaitu dengan konten acara yang menitik beratkan kepada potensi budaya lokal yang ada di setiap daerah sehingga bisa menumbuhkan kedekatan antara penonton dengan sebuah tayangan.Hal ini merupakan kekuatan tersendiri dari Televisi lokal. Namun nyata-nya hal itutidak mampu membuat televisi lokal seperti PROTV dengan Tayangan Gitaran Sore Soremenjadi pilihan utama tontonan bagi masyarakat Semarang karena belum adanya jembatan antara masyarakat dengan Gitaran Sore Sore. Karya Bidang ini bertujuan untuk membangun sebuah jembatan dengan tujuan meningkatkan behavior menonton acara Gitaran Sore Sore dengan membawa pesan “Jelajah Dunia Semarang Lewat Obrolan”..Dengan memiliki pemahaman tentang kondisi psikografis dari masyarakat, kemampuaan berkoordinasi dengan baik, menjalin relasi dengan para stake holder maupun hal lainnya yang dilaksanakan secara tepat, Tugas yang dibebankan kepada penulis dapat dikatakan berhasil.Berdasarkan hasil riset yang dilaksanakan setelah kegiatan berlangsung goals frekuensi menonton (1 kali dalam seminggu) tayangan Gitaran Sore-Sore di jam tayang yang baru mampu mencapai 64% dari yang semula 31%. Berarti kenaikan yang dicapai yaitu 33%, melebihi target yang berjumlah 20%.Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk Divisi Produksi bisa dipenuhi serta mendapatkan surplus dari Sponsor yang di dapat oleh divisi promosi. Beberapa pengiklan pun tertarik untuk beriklan Maka dapat dikatakan Produksi Program Tayangan Gitaran Sore Sore berhasil, Kata Kunci : Media, Sponsor, Televisi lokal.
Meme Comic dengan Isu Pemilihan Presiden 2014
Nailah Fitri Zulfan;
Hedi Pudjo Santosa;
Much Yulianto;
Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (348.597 KB)
Foto/gambar apa pun bisa dibuat meme comic dan juga bisa disesuaikan dengan situasi tertentu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Seperti pemberitaan di media konvensional yang selalu terkini, meme comic pun menampilkan isu-isu terkini yang sedang hangat di masyarakat. Tahun 2014 merupakan tahun politik, karena pada tahun ini terdapat pemilihan presiden dan wakil presiden. Isu politik menjadi ramai dibicarakan, termasuk dibicarakan lewat meme comic. Meme comic menjadi wadah pembicaraan masyarakat mengenai pemilihan presiden 2014. Perbincangan politik terkait pemilihan presiden 2014 yang berat ditampilkan lewat meme comic yang menghibur.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika mitos yang dikembangkan Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang ditampilkan lewat meme comic dengan isu pilpres 2014. Peneliti menggunakan paradigma kritis untuk mengkaji dan mendeskripsikan meme comic bertema isu Pilpres 2014. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Pop Culture, Teori Postmodern, Teori Media Baru.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meme comic dengan isu pilpres 2014 menampilkan makna-makna tersembunyi, yaitu humor yang sudah dikawinkan dengan isu politik. Fungsinya adalah untuk membungkus isu politik yang sensitif dan kaku agar menjadi lebih ringan dan diterima semua kalangan tanpa harus membuat tersinggung. Isu politik lewat meme comic pilpres 2014, menjadikan kritik, saran dan ledekan yang diarahkan kepada capres-cawapres menjadi sesuatu yang tidak perlu ditanggapi secara serius dan kaku. Makna lain yang ditampilkan adalah meme comic dengan isu pilpres 2014 ini bukanlah sesuatu yang terbentuk dari ide yang benar-benar baru. Meme comic merupakan bentuk intertektualitas, dimana ide yang terbentuk dari ide yang sudah ada sebelumnya.Keyword: Meme Comic, Politik, Humor, Intertekstual
Strategi Komunikasi Pemasaran PT. New Ratna Motor di Wilayah Jawa Tengah dan DIY Dalam Mempertahankan Posisi Toyota Avanza Sebagai Market Leader di Kelas LMPV
Tegar Tuanggana;
Djoko Setiabudi;
Agus Naryoso;
Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (180.739 KB)
Perkembangan pasar di dunia otomotif semakin pesat. Banyaknya varian mobil yang ditawarkan kepada konsumen juga semakin beragam. Kondisi yang dialami oleh PT. New Ratna Motor saat ini adalah penjualan Toyota Avanza sedang mengalami gangguan akibat bermunculan produk-produk LMPV sejenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran PT. New Ratna Motor dalam mempertahankan posisi Toyota Avaza sebagai market leader di kelas LMPV. Penelitian tentang strategi komunikasi PT. New Ratna Motor menggunakan tipe penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara mendalam ( depth interview ) terhadap subjek yang diteliti.Hasil dari penelitian ini adalah, strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan oleh PT. New Ratna Motor saat menghadapi kondisi saat ini adalah tidak menggunakan strategi yang berbeda dari strategi sebelumnya. Karena strategi komunikasi pemasaran yang sebelumnya dinilai masih efektif dalam mempertahankan posisi Toyota Avanza sebagai market leader di kelas LMPV untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY.Kata Kunci : Strategi komunikasi pemasaran, taktik, market leader, IMC
MEMAHAMI ANTILOKUSI PADA POLISI
Alifati Hanifah;
Agus Naryoso;
Turnomo Rahardjo;
Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (136.568 KB)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pemberitaan di media massa dan informasi negatif mengenai perilaku buruk polisi di masyarakat. Pemberitaan tersebut membuat masyarakat memiliki persepsi dan stereotip negatif dan munculnya prasangka terhadap polisi. Ekspresi prasangka terhadap polisi seringkali ditemui dalam taraf antilokusi, yaitu ekspresi menggunjingkan perilaku buruk polisi, dan menyebabkan komunikasi polisi dengan lingkungan sosial tempat tinggalnya menjadi terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana munculnya prasangka terhadap polisi dan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengelola prasangka tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Peneliti menggunakan konsep persepsi dan stereotip untuk menjelaskan munculnya prasangka terhadap polisi, dan konsep lima ekspresi prasangka untuk menjelaskan ekspresi prasangka terhadap polisi yang seringkali ditemui di masyarakat. Teknik analisis yang digunakan adalah metode fenomenologi dari Van Kaam. Informan penelitian berasal dari anggota polisi dan masyarakat umum, yang sekaligus merupakan tetangga informan polisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prasangka terhadap polisi tidak selalu disebabkan oleh persepsi dan stereotip negatif yang dimiliki seseorang. Hal tersebut disebabkan adanya faktor lain yang menyebabkan munculnya prasangka yaitu lingkungan budaya informan yang merupakan lingkungan budaya konteks tinggi (high context cultural). High context cultural menjelaskan bahwa anggota budaya ini menggunakan latar belakang sosial untuk menilai seseorang, sehingga prasangka lebih mudah muncul dalam kelompok budaya ini. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa komunikasi untuk mengelola hanya dilakukan oleh informan polisi dikarenakan informan polisi memiliki kepentingan dan tujuan untuk mengurangi prasangka terhadap institusinya. Informan polisi menggunakan pesan verbal dan nonverbal untuk melakukan komunikasi tersebut. Cara yang digunakan informan merupakan ciri khas komunikasi yang dilakukan anggota budaya konteks tinggi. Keyword: Prasangka, Antilokusi dan Budaya konteks tinggi
Pemaknaan Khalayak terhadap Penggambaran Orang Jawa Semarang dalam Rubrik Rame Kondhe di Harian Suara Merdeka
Mirtsa Zahara Hadi;
Hedi Pudjo Santosa;
Taufik Suprihartini;
Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (313.178 KB)
ABSTRAKNama : Mirtsa Zahara HadiNIM : D2C009069Judul : Pemaknaan Khalayak terhadap Penggambaran Orang Jawa Semarang dalam Rubrik Rame Kondhe di Harian Suara MerdekaRubrik opini di dalam surat kabar merupakan rubrik yang memaparkan opini redaksi tentang suatu pemberitaan. Rame Kondhe merupakan salah satu rubrik opini yang diterbitkan oleh Harian Suara Merdeka yang disajikan dalam format feature dengan menggunakan bahasa Jawa dialek Semarang. Hal unik lain dari rubrik ini adalah penggunaan tokoh-tokoh atau karakter yang berbincang dalam bahasa Jawa dialek Semarang yang jika dibaca sekilas akan timbul pemahaman pembaca bahwa tokoh-tokoh di dalam rubrik tersebut merupakan penggambaran orang Jawa Semarang asli.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadap penggambaran orang Jawa Semarang dalam rubrik Rame Kondhe. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Teori yang digunakan adalah teori interpretif dan teori encoding-decoding Stuart Hall yang menjabarkan tiga posisi pemaknaan audiens. Perbedaan posisi pemaknaan audiens dikarenakan perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, agama, budaya, pendidikan, usia, dan gender. Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan informan yang berbeda secara etnis, usia, gender, dan latar belakang sosial dan ekonomi.Preferred reading dari rubrik Rame Kondhe adalah khalayak akan diarahkan untuk menyetujui penggambaran tokoh-tokoh yang ada di dalam rubrik Rame Kondhe merupakan pencerminan orang Semarang asli. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi tiga posisi pemaknaan, dominant-hegemonic position yang menempatkan khalayak membaca teks sesuai dengan makna dominan, negotiated position yang menempatkan khalayak membaca teks sesuai dengan makna dominan, namun menegosiasikan beberapa hal yang tidak sesuai dengan keadaan audiens, dan oppositional position yang menempatkan khalayak membaca teks tidak sesuai dengan makna dominan dan memberikan alternatif jawaban. Kesimpulan hasil penelitian menempatkan sebagian besar informan berada pada posisi hegemoni dominan yang menyetujui bahwa karakteristik tokoh -tokoh yang ada di dalam rubrik Rame Kondhe merupakan pencerminan orang Semarang asli.Kata kunci : bahasa Jawa, dialek, orang Jawa, orang Semarang, analisis resepsi
Program Tayangan “Gitaran Sore-Sore” di Pro TV Semarang sebagai Floor Director
Anggraini, Anggia;
Pradekso, Tandiyo;
Naryoso, Agus;
Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (97.375 KB)
Televisi merupakan media audiovisual yang saat ini paling banyak digunakan masyarakat untuk memperoleh informasi dan hiburan. Secara psikologis, masyarakat akan lebih tertarik ketika suatu acara yang dikemas menampilkan peristiwa-peristiwa pada tempatyang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Artinya, unsur kedekatan (proximity) merupakan kelebihan televisi lokal yang tidak dimiliki televisi nasional.Gitaran Sore-Sore sebagai salah satu program talkshow di televisi lokal Pro TV, mengangkat tema-tema yang mempunyai unsur proximity dengan menghadirkan komunitas-komunitas lokal yang ada di Semarang. Keunikan yang hanya dapat ditemukan pada komunitas di Semarang ini menjadi daya tarik yang diharapkan dapat memberikan informasi dan inspirasi bagi masyarakat khusunya anak muda.Tugas Floor Director atau FD pada program tayangan Gitaran Sore-Sore adalah sebagai penanggungjawab rundown, checking studio yang bersifat non teknis, menyampaikan pesan dari Program Director atau PD, mengarahkan pengisi acara dan timekeeping.Karya bidang acara yang tayang secara live di Pro TV ini, dapat disaksikan setiap hari Rabu dan Kamis mulai tanggal 29 September hingga 13 November 2014 pukul 15.00 WIB. Diharapkan masyarakat Semarang memperoleh manfaat dengan hadirnya karya ini.Kata kunci : program, televisi, talkshow, komunitas