cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Department of Naval Architecture
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Jurusan Teknik Perkapalan yang berisi artikel karya ilmiah mahasiswa program Sarjana Teknik Perkapalan universitas Diponegoro
Arjuna Subject : -
Articles 797 Documents
KAJIAN TEKNIS & EKONOMIS PERUBAHAN KAPAL IKAN ALAT TANGKAP CANTRANG MENJADI ALAT TANGKAP GILL NETT DITINJAU DARI SISTEM PENGGERAK KAPAL (STUDI KASUS KM. ROJOKOYOSAMUDRO 70 GT) Radhiya, Rabbi; Yudo, Hartono; Kiryanto, Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 2 (2016): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.543 KB)

Abstract

Tipe/jenis dan spesifikasi dari kapal ikan, erat kaitannya dengan jenis alat penangkap ikan yang dipergunakan dan teknik/metoda penangkapan ikan yang dilakukan, sesuai dengan jenis ikan yang akan ditangkap (target species). Berdasarkan jenis alat penangkap ikan yang dipergunakan, terdapat beberapa tipe kapal ikan, diantaranya  kapal pukat tarik (trawler) dan kapal jaring insang (gill netter). Perbedaan tipe menunjukkan karakteristik yang berbeda. terbitnya peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang pelarangan penggunaan alat tangkap pukat hela (trawl) dan pukat tarik membuat para pemilik kapal dengan alat tangkap tersebut harus mengganti alat tangkapnya dalam tugas akhir ini melakukan analisa perubahan kapal ikan alat tangkap cantrang menjadi alat tangkap gill nett sehingga perlu dilakukanya analisa terhadap stabilitas , hambatan dan kecepatan serta system penggerak kapal. Hambatan yang terjadi pada saat kapal berkecepatan 5 knot adalah sebesar 3,3 kN , dan stabilitas dari kapal cantrang maupun Gill Nett sudah memenuhi ketentuan yang terdapat pada International Maritime Organisation (IMO). Berdasarkan hasil pengukuran, diameter propeller yang digunakan melebihi diameter yang seharusnya didapatkan melalui perhitungan yaitu tidak melebihi 1,2 m sehingga perlu adanya pergantian propeller dengan ukuran yang sesuai dengan ketentuan. Berdasarkan hal tersebut disarankan propeller baru dengan tipe B4-55 dengan Ae/Ao 1,2 dapat mengahasilkan  sebesar 72% untuk kecepatan 5 knot pada putaran 166 Rpm. Biaya perubahan yang direncanakan akibat pergantian alat adalah sebesar Rp.705.000.000,-.
Analisa Kekuatan Struktur Chain Stopper Pada Spread Mooring Terhadap Kapal Floating Storage And Offloading (FSO) Di Perairan Lepas Pantai Natuna Indonesia Fabya, Daryl; Zakki, Ahmad Fauzan; Yudo, Hartono
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.641 KB)

Abstract

Floating Storage and Offloading (FSO) adalah fasilitas terapung untuk produksi dan penyimpanan sementara minyak dan gas bumi berbentuk kapal yang secara permanen ditambatkan di lokasi operasi. Chain Stopper merupakan peralatan mooring system yang digunakan untuk mengunci dan menahan mooring line tension agar rantai mooring tidak terulur sehingga kapal FSO dapat tertambat dengan stabil. Tugas akhir ini melakukan analisa kekuatan chain stopper terhadap mooring line tension maksimum untuk kondisi intact dan damage. Analisa kekuatan chain stopper menggunakan software berbasis analisa struktur. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap chain stopper pada FSO Barakuda, dapat diambil kesimpulan bahwa tegangan maksimum struktur chain stopper saat intact condition adalah sebesar 173,35 MPa dengan pembebanan total sebesar 4,16 x106 N dari gaya tarik mooring line terbesar pada saat intact condition, sedangkan tegangan maksimum struktur chain stopper saat damage condition adalah sebesar 245,46 MPa dengan pembebanan total sebesar 5,89 x106 N dari gaya tarik mooring line terbesar pada saat damage condition. Dengan nilai safety factor untuk intact dan damage condition masing-masing adalah sebesar 2,048 dan 1,446 yang menunjukkan bahwa chain stopper aman untuk beroperasi.
Perancangan Kapal Kontainer 120 TEU Rute Pelayaran Tanjung Mas – Tanjung Pinang Samuel Rikardo Nainggolan; Berlian Arswendo Adietya; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1062.785 KB)

Abstract

Kapal yang akan dirancang sebagai kapal pengangkut kapas dan plastik  dari Tanjung Mas –Tanjungpinang harus memperhitungkan ukuran utama, rencana garis, rencana umum, analisa hidrostatik, stabilitas kapal dan analisis olah gerak kapal, serta pemilihan peralatan penyelamatan dan motor induk berdasarkan hasil perhitungan daya motor sesuai dengan hambatan yang dialami kapal,. Metode perancangan kapal Kontainer ini menggunakan kapal pembanding sebagai acuannya. Setelah ukuran utama didapatkan maka analisa kelayakan lambung bisa didapatkan dari software pendukung perancangan kapal. Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang kapal Kontainer yang  mempermudah pendistribusian kapas dan plastik dan tentunya sesuai dengan karakteristik perairan wilayah Tanjung Mas -Tanjungpinang. Perancangan kapal menggunakan metode perbandingan untuk mendapatkan ukuran utama kapal, software Maxsurf  untuk pemodelan  dan untuk analisa karakteristik kapal. Ukuran utama kapal didapatkan yaitu Lpp = 87,90 m, B = 13,50 m, H = 7,30 m, T = 5,4 m, Vs = 13,3 knot, dengan displacement 4757  ton dan Cb = 0,70.
Analisa Kekuatan Struktur pada Sambungan Deck dengan Lambung Bagian Dalam pada KMP. Catamaran dengan Bahan Aluminium Alloy Akibat Pengaruh Gerak Heave Pitch dengan Metode Elemen Hingga Arrazi, Norman Yasser; Mulyatno, Imam Pujo; Amiruddin, Wilma
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 1 (2015): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.06 KB)

Abstract

Kapal dengan desain katamaran (multi hull) merupakan inovasi untuk kemajuan sarana transportasi laut dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kapal penumpang katamaran memiliki pembebanan pada seluruh bagian kapal. Tujuan tugas akhir ini membuktikan bahwa tegangan yang dihasilkan oleh kapal ini saat terkena beban gelombang dengan variasi arah gelombang 00, 900, dan 1800, serta kondisi beban penuh dan kosong, memenuhi tegangan ijin standar BKI. Kapal katamaran mempunyai kombinasi beban gaya hidrostatis, hidrodinamis (gelombang), beban penuh, dan beban kosong yang menyebabkan bending moment dan gaya geser. Selanjutnya untuk mengetahui tegangan Von Mises maksimum yang terjadi dilakukan analisa dengan menggunakan Metode Elemen Hingga (MEH). Didapatkan bending moment terbesar terjadi pada kondisi kapal muatan 10% dengan arah datang gelombang 1800 sebesar 140621,29 ton.m pada station 10 sehingga terjadi tegangan maksimum sebesar 139 MPa untuk kekuatan melintang kapal dan 224 MPa untuk kekuatan memanjang. Sedangkan bending moment terkecil terjadi pada kondisi kapal muatan 100% dengan arah datang gelombang 00 sebesar 10710,93 ton.m sehingga terjadi tegangan maksimum sebesar 28,3 MPa untuk kekuatan melintang kapal dan 90 MPa untuk kekuatan memanjang. Dari hasil analisa tegangan untuk kekuatan melintang dan memanjang memenuhi standar BKI
Perbandingan Stress Analysis pada Pipeline CPP-ORF PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) dengan Menggunakan Software Berbasis Elemen Hingga Marandika Asa Wardyanto; Hartono Yudo; Imam Pujo Mulyatno
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Piping Stress analysis adalah suatu cara perhitungan tegangan (stress) pada pipa yang diakibatkan oleh beban statis dan beban dinamis yang merupakan efek resultan dari gaya gravitasi, perubahan temperatur, tekanan di dalam dan di luar pipa. Untuk itu dilakukan perbandingan analisa tegangan pada pipeline dari CPP menuju ke pig receiver di ORF PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore. Perangkat lunak yang digunakan adalah perangkat lunak khusus perpipaan yaitu caesarII dan autopipe, dibandingkan dengan perangkat lunak berbasis elemen hingga. Dalam kasus ini perangkat lunak yang dipakai adalah MSC Nastran patran. Model pipeline memiliki diameter luar 14 inci dan ketebalan pipa 0.5 inci. Pipa tersebut diberi tekanan sebesar 960 psi dan suhu 1200F sesuai dengan keadaan lapangan. Hasil analisa didapat nilai tegangan pipa pada perangkat lunak caesarII sebesar 13440 psi (32.5%) dan pada autopipe sebesar 13227 psi (32%). Kedua hasil dikatakan aman dikarenakan memiliki nilai dibawah Specified Minimum Yield Strength (SMYS)nya yakni sebesar 46000 psi dan memiliki perbedaan rasio 0.5%. Pada perangkat lunak berbasis elemen hngga dianalisa bagian dari sistem perpipaan, dan didapat tegangan maksimal yang bekerja sebesar 16400 psi, sedangkan pada titik yang sama didapatkan hasil pada caesarII sebesar 15000 psi dan autopipe sebesar 14482 psi. Hal ini berarti, terdapat perbedaan hasil antara software khusus perpipaan dengan software berbasis elemen hingga, tetapi masih dalam ketentuan aman dan dapat diterima sesuai dengan ASME B31.8.
ANALISA PERFORMANCE PROPELLER TIPE B-SERIES PADA KAPAL SELAM MIDGET 150M DENGAN VARIASI SKEW ANGLE DAN BLADE AREA RATIO (AE/AO) MENGGUNAKAN METODE CFD Budi, Putra Bangkit Setya; Chrismianto, Deddy; Rindo, Good
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 4 (2016): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.07 KB)

Abstract

Kapal selam merupakan kapal yang mampu beroperasi dibawah air dengan mandiri, namun juga harus bergerak senyap dibawah air tanpa terdeteksi.  Maka dari itu salah satu kebutuhan paling penting dalam kapal selam adalah Baling-Baling atau Propeller. Baling-baling kapal selam membutuhkan beberapa kriteria khusus yaitu baling-baling kapal yang dapat memberikan gaya dorong yang besar dengan tingkat kebisingan yang rendah. Maka desain propeller harus memiliki nilai thrust yang besar, nilai tekanan yang rendah, dan aliran baling-baling yang halus. Penelitian ini menganalisa baling-baling kapal selam jenis B-7 Series dengan variasi Skew Angle (27.70, 29.70 dan 31.70) dan Blade Area Ratio (0.55, 0.59 dan 0.70) dengan penambahan Kort Nozzle C Tipe Shushkin Nozzle serta dengan tiga nilai RPM yaitu, 400 RPM, 450 RPM dan 500 RPM, sehingga didapatkan jenis baling – baling yang optimum untuk kapal selam midget type 150 m dengan menggunakan program Computational Fluid Dynamics (CFD). Dalam proses analisa menggunakan software berbasis CFD, kami mendapatkan hasil dari semua model baling – baling yaitu  bentuk aliran, nilai thrust dan nilai pressure yang berbeda sesuai dengan RPM yang diberikan. Dari kesembilan variasi model yang telah dibandingkan didapat model baling – baling yang optimum yaitu B – 7 Series pada Model 3 (27,70 & 0,70) putaran 400 RPM dengan nilai thrust sebesar 21,66 kN, rata-rata tekanan 66,58 Pa, dan aliran turbulen dengan kecepatan rata - rata 15,51 m/s serta nilai effisiensi sebesar 0,868.
Analisa Teknis Dan Ekonomis Penggunaan Wind Turbine Untuk Konversi Daya Listrik Peralatan Kesehatan Pada Kapal Rumah Sakit Muchammad Rif’an Fahmi; Berlian Arswendo Adietya; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 1 (2018): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1073.716 KB)

Abstract

Dengan adanya perancangan kapal rumah sakit tipe katamaran untuk pelayaran Papua, disini saya akan mencoba membahas tentang analisa teknis dan ekonomis penggunaan wind turbinesebagai konversi daya listrik kapal, sehubungan dengan semakin naiknya harga bahan bakar minyak.Tujuan tugas akhir ini adalah untuk mendapatkan tipe dan ukuran wind turbine yang optimum serta memiliki biaya investasi yang rendah dan mendapatkan keuntungan ekonomis. Analisis wind turbine yang dilakukan adalah pada kecepatan kapal 15 knot, kecepatan angin 10,16 knot sehingga didapat kecepatan angin yang bekerja pada wind turbine sebesar 18,95 knot dengan sudut serang angin terhadap wind turbineadalah 180 derajat (arah angin berlawanan dengan arah kapal). Dari hasil analisa didapatkan wind turbine yang optimum untuk dipasang di kapal adalah tipe sumbu horisontal dengan diameter rotor 6,4 m dengan jumlah yang terpasang sebanyak 1 unit. Dengan menggunakan rumus teoritis didapatkan hambatan yang ditimbulkan wind turbine sebesar 4kN sehingga mengakibatkan pengurangan kecepatan sebesar 0.62 knot. Dengan total biaya investasi dan operasional awal sebesar Rp 162.562.943, pemasangan wind turbine dapat menghemat biaya sebesar Rp 48.091.476 per tahun.
ANALISA PENGARUH VARIASI BENTUK BOTTOM TERHADAP NILAI HEAVE DAN PITCH FPSO BERBENTUK SILINDER DI PERAIRAN LEPAS PANTAI UTARA NATUNA-INDONESIA Ardiana, Mita; Zakki, Ahmad Fauzan; Hadi, Eko Sasmito
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 4 (2015): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.987 KB)

Abstract

Kepulauan Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan di Dunia. Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik Untuk mengeksplor cadangan hidrokarbon yang tersebar dibanyak titik maka FPSO menjadi salah satu alternatif pilihan yang diminati Investor dari segi investasi lebih efisien dari pada FSO karena FPSO bersifat mobile dan dapat melakukan proses produksi, serta reliability dalam pengoperasiannya. Revolusi teknologi dibidang FPSO tidak berhenti sampai disitu, kini FPSO tidak hanya berbentuk kapal tapi juga berbentuk silinder. FPSO silinder pertama di dunia adalah FPSO Sevan Piranema. Ditinjau dari performanya, bentuk bottom FPSO silinder dari Sevan Piranema saat ini memiliki olah gerak yang paling baik. Dalam penelitian ini, dilakukan modifikasi variasi bottom  FPSO silinder. Dan pemodelan variasi bentuk bottom dengan bantuan Ansys Aqwa, yang bertujuan untuk mengetahui beban gelombang pada struktur dan selanjutnya untuk menganalisis karakteristik gerakan dari FPSO silinder. Dengan mempertimbangkan hasil analisis karakteristik gerakan FPSO silinder, dilakukan analisis operabilitas FPSO silinder untuk mengetahui hubungan karakteristik gerakan FPSO silinder dengan kemampuan operasinya di laut, dengan memperhatikan kriteria operasi yang telah ditentukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa olah gerak terbaik/minimum untuk gerakan heave dan pitch secara keseluruhan berturut-turut didapatkan pada Model 5, Model 1, Model 3, Model 6, Model Sevan, Model 2 dan Model 4.
Pengaruh Kuat Arus Listrik dan Travelling Speed terhadap Kekuatan Impact Alumunium 6061 Pengelasan Gas Tungsten ArchWelding (GTAW) dengan Gas Pelindung Argon Anas Sebtu Prawira; Sarjito Jokosisworo; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.078 KB)

Abstract

Pengelasan aluminium 6061 dilakukan dengan proses GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) menggunakan gas pelindung argon berjenis sambungan pengelasan single v-butt joint dengan variasi kuat arus dan travelling speed. Dari hasil pengujian variasi kuat arus 150 Amp diperoleh nilai impact sebesar 0,130 J/mm2 pada travelling speed 10 cm/menit dan 0,115 J/mm2 pada travelling speed 15 cm/menit. Dari variasi kuat arus 170 Amp, diperoleh nilai impact sebesar 0,095 J/mm2 pada travelling speed 10 cm/menit dan 0,065 J/mm2 pada travelling speed 15 cm/menit . Dari variasi kuat arus 200 Amp, diperoleh nilai impact sebesar 0,090 J/mm2 pada travelling speed 10 cm/menit dan 0,053 J/mm2. Dari data tersbuat, diperoleh kekuatan impact yang tertinggi dan optimal terjadi pada kuat arus 150 Amp dengan  travelling speed 10 cm/menit yaitu sebesar 0,130 J/mm2. Sedangkan kekuatan impact terendah ada pada kuat arus 200 Amp dengan travelling speed 15 cm/menit yaitu sebesar 0,090 J/mm2. Kekuatan impact dari kuat arus 150 Amp ke 200 Amp mengalami penurunan pada setiap kecepatan lasnnya. Data tersebut diperkuat dengan adanya analisa hasil patahan dari foto makro yang menunjukan bahwa pada kuat arus 150 Amp merupakan patahan yang lebih ulet dibandingkan pada 170 Amp dan 200 Amp.[1]       Darsin, M., H. Sutjahjono, and A. Hadi. 2013. Mechanical Properties and Micro Structure of Aluminum Alloys [Al-Mg-Si] as Results of Variation Time in Friction Welding. [2]       Sari, N. H. 2018. Material Teknik. Deepublish, Yogyakarta.[3]       Nurhafid, Aji. 2017. Analisa Pengaruh Perbedaan Feed Rate Terhadap Kekuatan Tarik dan Impak Aluminium 6061 Metode Pengelasan Friction Stir Welding. Jurnal Teknik Perkapalan, 5(2), 473-481.[4]       Adrian, Y. 2012. Analisis Peningkatan Penetrasi Pengelasan Tungsten Inert Gas (TIG) pada Material Stainless Steel dengan Memanfaatkan Medan Elektromagnetik. Skripsi, Universitas Indonesia.[5]       Putra, R. P., S. Jokosisworo, dan Kiryanto. 2016. Pengaruh Arus Listrik dan Temperatur terhadap Kekuatan Tarik dan Impact  Alumunium 5083 Pengelasan GMAW (Gas Metal ArcWelding). Jurnal Teknik Perkapalan, 4(1), 152 – 161. [6]       Jokosisworo, S. 1995. Pengaruh Besar Arus Listrik dan Kecepatan Pengelasan Terhadap Sifat Mekanis Pelat Baja Kapal Hasil Pengelasan Submerged Arc Welding. Universitas Indonesia. [7]       Adam, A. R., S. Jokosisworo, dan Samuel. 2016. Pengaruh Kuat Arus Listrik, Temperatur dan Variasi Sudut Kampuh terhadap Kekuatan Impact Alumunium 5083 Pengelasan GTAW dengan Gas Pelindung Helium. Jurnal Teknik Perkapalan, 4(1), 297 – 305. [8]       Passalbessy, V., S. Jokosisworo, dan Samuel. 2015. Pengaruh Besar Arus Listrik dan Kecepatan Las Terhadap Kekuatan Tarik Alumunium 5083 Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas). Jurnal Teknik Perkapalan, 3(4), 337 – 345. [9]       Titahgusti, M. I., S. Jokosisworo, dan U. Budiarto. 2018. Anaslisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi pada Sambunngan Las Alumunium 6061 Terhadap Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dan MIG (Metal Inert Gas). Jurnal Teknik Perkapalan, 3(6).[10]   Surdia, T. dan S. Saito. 1999. Pengetahuan Bahan Teknik. Pradnya, Jakarta.[11]   Wiryosumarto, H. dan T. Okumura. 2000. Teknologi Pengelasan Logam. Pradnya Paramita, Jakarta.[12]   O’Brien, R. L. 2003. Welding Handbook, Volume 2 – Welding Processes. American Welding Society, Miami.[13]   Sunaryo, Hery. 2008. Teknik Pengelasan Kapal Jilid 1 untuk Sekolah Menegah Kejuruan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta.[14]   Yudo, H., dan I. P. Mulyanto. 2008. Pengaruh Penggunaan Gas Pelindung Argon Grade A dan Grade C Terhadap Kekuatan Tarik  Lasan  Sambungan Butt Pada  Material Kapal Aluminium 5083. Jurnal KAPAL, 5(3), 181 – 190. [15]   Pasalbessy, V., S. Jokosisworo, dan Samuel. Pengaruh Besar Arus Listrik dan Kecepatan Las terhadap Kekuatan Tarik Alumunium 5083 Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas). Jurnal Teknik Perkapalan, 3(4), 336 – 345. [16]   ASTM E23. 2009. Standard Specification for Aluminum and Aluminum-Alloy Sheet and Plate. USA.
Analisa Kekuatan Lentur dan Kekuatan Tarik Pada Balok Laminasi Bambu Petung dan Kayu Kelapa (Glugu) Untuk Komponen Kapal Rizka Cholif Arrahman; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.14 KB)

Abstract

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan kayu sebagai bahan baku pembuat kapal, menyebabkan persediaan kayu menjadi semakin berkurang. Teknik laminasi menjadi solusi untuk mengembangkan sebuah produk kayu yang memiliki struktur dan sifat mekanik lebih kuat dan awet. Prosedur pembuatan dan pengujian spesimen kayu laminasi bambu petung dan glugu mengacu pada SNI-03-3959-1995 dan SNI-03-3399-1994. Pembuatan balok laminasi melewati beberapa tahap, pertama: persiapan serta pemotongan bambu petung dan glugu menjadi bilah-bilah lamina, kedua: pengeringan bilah lamina, ketiga: perekatan bilah lamina menjadi balok laminasi atau glulam (glue - laminated timber) dan terakhir finishing. Balok laminasi yang telah siap, kemudian diuji sesuai dengan standar SNI. Pada penelitian yang telah dilakukan terhadap spesimen kayu laminasi bambu petung dan kayu kelapa (glugu) berupa pengujian lentur dan tarik di laboratorium, didapatkan data bahwa laminasi kayu dengan komposisi 50% bambu petung dan 50% kayu kelapa (glugu) memiliki kekuatan paling tinggi, yakni kuat lentur sebesar 95,98 MPa dengan nilai lendutan (∆l) 10 mm dan MOE sebesar 11568,68 MPa serta kuat tarik sebesar 157,21 MPa dengan nilai regangan 0,0222 dan modulus young (E) sebesar 7090,38 MPa. Balok laminasi tersebut memiliki berat jenis sebesar 0,6458 dengan kadar air 13,08%. Nilai tersebut memenuhi persyaratan kayu lapis sebagai bahan material kapal kayu menurut BKI dan termasuk dalam kelas kuat II sehingga dapat digunakan sebagai material konstruksi galar balok, papan geladak kapal dan balok geladak kapal pada kapal kayu.