cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Department of Naval Architecture
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Jurusan Teknik Perkapalan yang berisi artikel karya ilmiah mahasiswa program Sarjana Teknik Perkapalan universitas Diponegoro
Arjuna Subject : -
Articles 797 Documents
Analisa Pengaruh Perubahan Kecepatan Kapal Pada Kapal Ikan Tradisional Tipe Batang denganMenggunakan Sistem Palka Ikan Hidup Terhadap Sistem Fluida didalam Palka Ikan dengan Pendekatan CFD Wiwit Wirawan; Eko Sasmito Hadi; Parlindungan Manik
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 1, No 2 (2013): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan sistem palka ikan hidup pada kapal tradisonal tipe Batang ini didasarkan akan kebutuhan produksi ikan dalam keadaan hidup. Sistem palka kapal ikan hidup membiarkan air dalam palka bersikulasi dengan air laut sekitar dengan cara memberi lubang pada dasar palka. Penelitian ini dilakukan pada beberapa model variasi ukurandiameter lubang sirkulasi. Air di dalam palka pada kondisi kapal diam akan memiliki ketinggian yang sama dengan sarat kapal, namun dengan seiring perubahan kecepatan kapal maka ketinggian air di dalam palka akan menurun. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan dengan metode Computational Fluid Dynamic didapatkan nilai hambatan pada diameter lubang sirkulasi 0,15 m bervariasi antara 25,72kN sampai 38,25kN. Pada diameter lubang sirkulasi 0,20 m bervariasi antara 24,81kN sampai 37,53kN. Pada dameter lubang sirkulasi 0,25 m bervariasi antara 23,53kN sampai 36,11kN. Untuk Ketinggian permukaan air maksimum di dalam palka pada kecepatan 6 knot untuk diameter lubang sirkulasi 0,15 m dan 0,25 m dengan tinggi permukaan air 2,17 m.Ketinggian permukaan air minimum di dalam palka pada kecepatan 3 knot untuk diameter lubang sirkulasi 0,20 m dengan tinggi permukaan air 2,15 m. Ketinggian rata-rata permukaan air adalah 2,16 m.
Analisa Pengaruh Jumlah dan Geometri Fin pada Rudder Terhadap Kemampuan Manuvering Kapal (Studi Kasus Kriso Container Ship) Ighel Bryantama Putra; Parlindungan Manik; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 3 (2018): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam mendesain kapal di Indonesia masih saja ada permasalahan yang harus di selesaikan, Salah satunya adalah mengoptimalkan hambatan pada rudder di kapal dengan cara mendapatkan nilai manuver yang bagus dan menambahkan fin pada rudder kapal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa performa yang dihasilkan akibat penambahan fin pada rudder dengan menggunakan pendekatan software ANSYS Fluent 18.1 untuk mencari nilai gaya angkat pada rudder dan perhitungan manual dengan metode slender body strip untuk mendapatkan nilai dari manuver dengan variasi sudut kemudi 15º, 25º, 30º. Berdasarkan hasil analisa diperoleh bahwa peningkatan gaya angkat kemudi terbesar terjadi pada sudut rudder 30º dengan menggunakan 3 fin di posisi tengah yaitu sebesar 5027,82 KN dibandingkan dengan rudder tanpa menggunakan fin sebesar 3284,05 KN. Data nilai manuver diperoleh dari kemudi dengan menggunakan fin, dimana mengalami penurunan nilai radius putaran dengan rudder menggunakan fin dan rudder tanpa menggunakan fin disemua sudut yang dianalisa pada sudut rudder 15º, 25º, 30º dengan menggunakan 2 fin di posisi tengah yaitu berturut-turut sebesar 34,3%, 19.6%, 23,6%. Kemudian untuk rudder yang menggunakan 3 fin di posisi tengah yaitu sebesar 15,5%, 10,9%, 26,3%. Jadi dengan hasil ini, waktu untuk kapal dalam melakukan manuver menjadi lebih cepat.
PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK DAN SUDUT KAMPUH V TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN TEKUK ALUMINIUM 5083 PENGELASAN GTAW Ahmad Naufal; Sarjito Jokosisworo; Samuel Samuel
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.55 KB)

Abstract

Teknologi pengelasan merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam teknologi manufaktur. Pada proses penyambungan dengan menggunakan pengelasan banyak tahapan yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang optimal, mulai dari tahapan desain sampai tahapan pengerjaan. Tahapan desain yang dimulai dari pemilihan jenis pengelasan, sampai pada pemilihan sudut kampuh yang digunakan. Sedangkan pada tahapan pengerjaan akan dipilih kuat arus yang sesuai sampai pada posisi pengerjaan. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa faktor arus listrik dan sudut kampuh las dalam proses pengelasan sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas hasil pengelasan ditinjau dari kekuatannya. Pada arus 130 Amp dengan sudut kampuh 80º didapatkan keadaan yang optimal atau paling baik memberikan kekuatan tarik dan nilai regangan tertinggi diantara arus dan sudut kampuh lainnya, yaitu sebesar 150,4 N/mm2 dan regangan sebesar 0,70% begitu pula dengan kekuatan tekuk sebesar 591,38 N/mm². Selain pengujian, juga dilakukan analisa menggunakan software Ansys LS-Dyna dengan hasil kekuatan tarik spesimen 139000000 pa atau 139 N/mm2 untuk beban tarik maksimum 17893,33 N yang terjadi pada sambungan las. Pada beban tarik maksimum 18800 N hasil kekuatan tarik spesimen 153000000 pa atau 153 N/mm2. Untuk pengujian tekuk didapatkan hasil kekuatan tekuk spesimen 528000000 pa atau 528 N/mm2 untuk beban tekuk maksimum 3619 N yang terjadi pada sambungan las. Pada beban tekuk maksimum 4435,33 N hasil kekuatan tekuk spesimen 595000000 pa atau 595 N/mm2
Analisa Kekuatan Penerapan Sandwich Plate System (SPS) Pada Tank Deck Kapal Landing Ship Tank (LST) 7000 DWT Seto Yuwantoro; Ahmad Fauzan Zakki; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.353 KB)

Abstract

Di era modern ini kemajuan teknologi memberikan banyak inovasi salah satunya industri perkapalan, termasuk didalamnya konstruksi struktur kapal, terutama dalam perkembangan material terbarukan untuk diaplikasikan pada konstruksi kapal. Material SPS (Sandwich Plate System) merupakan material dalam bentuk komposit lapisan sebagai penggati material baja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai penerapan sandwich pada  konstruksi tank deck sehingga dapat diketahui perbandingan berat dan tegangan maksimum yang memenuhi standar atau safety factor dari class yang di gunakan. Pemodelan dan analisa menggunakan software berbasis finite element. Dari hasil penelitian didapatkan konfigurasi ketebalan SPS face plate atas 4 mm bawah 3 mm sedangkan tebal core material 20 mm (4-20-3) dan pengurangan konstruksi di bagian deck long  saat menggunakan SPS. Untuk tegangan von mise pada konstruksi saat menggunakan plate baja pada kondisi air tenang 76 N/mm2, kondisi sagging 160 N/mm2, kondisi hogging 136 N/mm2, dengan berat konstruksi 1424,5 ton sedangkan dengan variasi sandwich panel kondisi air tenang 81,3 N/mm2, kondisi sagging 165 N/mm2, kondisi hogging 142 N/mm2, dengan berat konstruksi 1357,8 ton. Hasil dari perhitungan ini menunjukkan tegangan maksimal saat menggunakan variasi SPS dan kapal dalam keadaan sagging sebesar 165 N/mm2 , deformasi sebesar 7,24 cm dan penurunan berat konstruksi 4,5 % dari baja.
Perancangan Kapal Riset Untuk Perairan Laut Nusa Tenggara Timur Bintang M.T Sinambela; Berlian Arswendo Adietya; Good Rindo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 3 (2017): JULI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.41 KB)

Abstract

Kurangnya kapal riset yang beroperasi diperairan Indonesia, khususnya diperairan laut Nusa Tenggara Timur yang memiliki banyak potensi untuk dilakukan penelitian menjadi pertimbangan  utama dalam mendesain kapal riset monohull ini. Desain kapal riset ini harus mampu mengangkut segala peralatan penelitian layaknya kita berada disebuah laboratorium penelitian yang lengkap dengan segala peralatan penelitiannya. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah yang meliputi survey langsung ke kapal riset milik LIPI di Jakarta Utara yaitu KR.Baruna Jaya VIII untuk mendapatkan beberapa data, menghitung ukuran utama dengan metode regresi linear, membuat rencana garis dan rencana umum, hambatan kapal, analisis olah gerak dan stabilitas kapal, serta pemilihan peralatan penelitian kapal riset sesuai fungsinya. Hasil dari desain kapal riset ini mendapatkan ukuran utama LOA : 60 m, LWL : 57 m, LPP : 54,15 m, B : 10,17 m, T : 10,17 m, H : 7 m pada kapal riset monohull. Dari hasil perhitungan terhadap performance kapal, hasil menunjukkan stabilitas kapal memiliki titik M berada diatas titik G di segala kondisi. Gerak kapal terbukti tidak terjadi wettnes deck, kapasitas orang didalam kapal adalah 54 0rang dengan 24 awak dan 30 peneliti. Kapal ini menggunakan dua mesin motor penggerak dengan daya sebesar 503-567 bHP.
ANALISA KEKUATANLENTUR BAHAN FERROCEMENT BERPENGUAT KAWAT ANYAM SEBAGAI BAHAN DASAR MODULAR FLOATING PONTOON Rismawan Rismawan; Berlian Arswendo Adietya; sarjito jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 4 (2014): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.006 KB)

Abstract

Teknologi ferrocement telah diaplikasikan dalam pembangunan produk Modular Floating Pontoon.Pada produk ponton ini pengujian yang dilakukan hanya sebatas pengujian apung dan prediksi kemampuan muatan maksimal.Struktur dinding ponton ferrocement tersebut belum dilakukan pengujian sehingga belum diketahui nilai kekuatannya.Maka  dilakukan pengujian kuat lentur untuk lebih mengetahui kekuatan dari bahan ferrocement yang digunakan Modular Floating Pontoon tersebut, sehingga dapat diketahui nilai – nilai pengujian laboratoriumnya. Sebagai variabel perbandingan dilakukan variasi salah satu bahan pembangun utama ponton tersebut yaitu wire mesh/kawat anyam. Pemilihan variabel tersebut juga untuk mengetahui peranan kawat anyam dalam struktur ferrocement. Hasil dari pengujian kuat lentur spesimen menunjukan bahwa, spesimen dengan kawat anyam bukaan ¼” memiliki rata – rata nilai P dan σp yang lebih besar (P = 4.860 N dan σp = 52,884 MPa) dari spesimen yang menggunakan kawat anyam ½” (P = 2.052 N dan σp = 21,294 MPa). Pada struktur ferrocement, kawat anyam memiliki peranan tidak hanya mempermudah pengerjaan plester saja.Namun juga memberi pengaruh terhadap kekuatan yaitu spesimen dengan 1 lapis kawat anyam bukaan ¼” memiliki nilai σp> 207,299 % dari spesimen tanpa kawat anyam.Penggunaan kawat anyam juga dapat meminimalisir titik keruntuhan dimensi struktur ferrocement tersebut.
Analisa Pengaruh Variasi Luasan Skeg Terhadap Hambatan dan Nilai Wake pada Kapal Ikan KM. Mino Tambah Barokah dengan Metode CFD Erfan Rohmad
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skeg adalah salah satu bentuk modifikasi yang diberikan pada bagian buritan kapal yang bertujuan  untuk membantu fluida mengalir lebih halus melewati hull dan propeller. Dalam setiap aliran air pada badan kapal sampai ke bagian buritan kapal selalu terjadi wake/arus ikut yang merupakan perbedaan antara kecepatan kapal dan kecepatan air yang melalui baling-baling. Wake inilah yang akan menyebabkan besar kecepatan awal kapal akan lebih kecil dari kecepatan dinas, diperlukan daya untuk mendorong kapal agar mencapai kecepatan yang diinginkan akan menjadi lebih besar. Pada tugas akhir ini telah dianalisa bagaimana pengaruh luasan skeg pada bagian buritan, midship, dan haluan kapal terhadap hambatan dan nilai wake pada kapal ikan KM. Mino Tambah Barokah dengan variasi luasan pada skeg. Variasi skeg dilakukan dengan mengurangi panjang skeg menjadi 1/3 dan 2/3, serta mengurangi tinggi skeg menjadi 1/3 dan 2/3. Dari analisa didapatkan hasil dari semua variasi luasan skeg, luas skeg dengan model A3 di posisi haluan tanpa menggunakan bilgekeel mempunyai hambatan total paling rendah yaitu sebesar 11,303 kN dibandingkan model original sebesar 12,03 kN dengan penurunan 6,04%. Sedangkan variasi skeg model T1 dibagian haluan dengan menggunakan bilgekeel memiliki kecepatan advance paling tinggi sebesar 0.5853 m/s dibandingkan model original sebesar 0,5286 m/s dengan kenaikan 10,73% dan memiliki nilai wake paling kecil yaitu 0,2804 dibandingkan model original sebesar 0,3501 dengan penurunan 19,92%.
ANALISA SEAKEEPING DAN PREDIKSI MOTION SICKNESS INCIDENCE ( MSI ) PADA KAPAL PERINTIS 500 DWT DALAM TAHAP DESAIN AWAL ( INITIAL DESIGN ) Dian Purnama Putra; Deddy Chrismianto; Muhammad Iqbal
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 3 (2016): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1419.219 KB)

Abstract

Gerakan kapal terombang – ambing atau naik turun di laut lepas yang diakibatkan oleh ombak yang besar dan terus menerus dapat mengakibatkan gejala sakit berupa kepala pusing, mual bahkan muntah yang seringkali diistilahkan sebagai mabuk laut (sea sickness atau motion sickness). Pada kapal penumpang (ferry) kondisi ini menjadi suatu persyaratan penting yang harus dipertimbangkan dalam proses desain. Dalam penelitian ini dilakukan kajian terhadap hasil perhitungan dan simulasi percepatan vertikal gerakan kapal Perintis 500 DWT sehingga bisa dilihat unjuk kerja kapal terhadap kenyamanan penumpang. Kenyamanan pada penumpang dilihat dari indeks jumlah penumpang yang mengalami mabuk laut pada periode tertentu dengan mengacu pada standard ISO-2631/1997. Perhitungan dan simulasi dilakukan pada beberapat titik di kapal untuk melihat percepatan vertikal yang terjadi. Dari hasil simulasi didapatkan pengaruh dari lokasi pengukuran, durasi dan arah ombak terhadap persentase jumlah penumpang yang mengalami gejala mabuk laut atau motion sickness incidence (MSI). Setalah mendapatkan nilai MSI lalu ditampilkan dalam diagram batang sebaran MSI/MSImax di tiap-tiap remote location di tiap deck kapal. Indeks baru yaitu Overall Motion Sickness Incidence (OMSI), juga disajikan sebagai salah satu output pada prediksi tingkat kenyamanan penumpang ini, dimana dalam perhitungan OMSI ini memakai 3 sea-state berbeda dan juga di masing-masing sea-state disimulasi dengan 4 tipe periode (Tz) berbeda, sehingga didapatkan nilai OMSI saat heading angle 180O yang paling kecil berada di sea-state slight saat Tz = 4,439 s, yaitu sebesar 00224 %, dan OMSI saat heading angle 90O  yang paling kecil berada di sea-state slight saat Tz = 12,043 s yaitu sebesar 0,3244 %. Dari hasil analisa seakeeping dan prediksi MSI dan OMSI, maka didapatlah prediksi tempat-tempat operasional Kapal Perintis 500 DWT ini, kapal ini hanya akan aman dan nyaman saat dioperasionalkan di daerah slight water dan moderate water, namun untuk rough water kapal ini tidak direkomendasikan karena tinggi gelombang yang sangat ekstrim. Ini adalah sebagai prediksi dan acuan yang akurat dalam mempertimbangkan tingkat kenyamanan penumpang pada tahap desain awal ini.
Analisa Teknis Kapal Ikan 33 GT Tipe Slerek Windu Suryotanjung; Wilma Amiruddin; Good Rindo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 8, No 1 (2020): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.452 KB)

Abstract

Kapal tradisional adalah kapal yang pada umumnya dibangun berdasarkan tradisi dan pengetahuan yang diberikan secara turun menurun. Kondisi demikian memungkinkan terjadinya perbedaan karakteristik teknis dalam tinjauan akademiknya. Salah satu kapal tradisional yang masih beroperasi adalah kapal slerek. Kapal slerek KM. Juara 2 adalah salah satu kapal tradisional yang beroperasi di perairan Banyuwangi.  Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisa terhadap hambatan, stabilitas dan olah gerak kapal. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teori-teori bangunan kapal. Hasil penelitian pada kapal KM. Juara 2 adalah kapal memiliki hambatan total 10,2 kN pada kecepatan tertinggi, stabilitas memenuhi standar kriteria IMO, dan olah gerak kapal memenuhi standar Tello yang telah ditentukan. Kemiringan terbesar terjadi pada rolling dengan kecepatan terbesar yakni sebesar 3,61 deg.
Analisa Pengaruh Perubahan Hullform Terhadap Motion Sickness Incidence (MSI) Pada Kapal Ro – Ro 500 GT Budi Setyawan; Deddy Chrismianto; Sarjito Jokosiworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.831 KB)

Abstract

Gerakan kapal terombang – ambing atau naik turun yang diakibatkan oleh ombak yang besar dan terus menerus dapat mengakibatkan gejala sakit berupa kepala pusing, mual bahkan muntah yang seringkali diistilahkan sebagai mabuk laut (motion sickness). Pada kapal penumpang (ferry) kondisi ini menjadi suatu persyaratan penting yang harus dipertimbangkan dalam proses desain. Dalam penelitian ini dilakukan kajian terhadap hasil perhitungan respon gerakan kapal Ro - Ro 500 GT sehingga bisa dilihat respon kapal terhadap kenyamanan penumpang. Pada penelitian ini difokus pada optimasi bentuk lambung kapal untuk meningkatkan kualitias seakeeping sesuai dengan standar seakeeping pada Nortforks 1987 serta menurunkan nilai Motion Sickness Incidence sesuai dengan standard ISO-2631/1997. Perubahan bentuk lambung dilakukan dengan merubah parameter nilai koefisien blok (Cb) sebesar ±5% dan ±10% dengan Metode Lackenby serta merubah posisi letak LCB sebesar ±3% dan ±5% dengan bantuan software Maxsurf Modeler Advance. Kapal Ro – Ro memenuhi kriteria seakeeping sampai sea state 4 dengan tinggi gelombang 2,012 m dalam periode gelombang 6,084s, serta memenuhi kriteria MSI kurang dari 10% setelah 2 jam pada following seas dan head seas, nilai OMSI menurun ketika Cb diperkecil dan Lcb digeser kearah depan kapal. Pengaruh paling signifikan terhadap kapal terjadi pada sea state 4 yaitu penurunan nilai OMSI sebesar 0,709.