cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Department of Naval Architecture
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Jurusan Teknik Perkapalan yang berisi artikel karya ilmiah mahasiswa program Sarjana Teknik Perkapalan universitas Diponegoro
Arjuna Subject : -
Articles 797 Documents
Analisa Kekuatan Tarik, Kekuatan Impak, dan Struktur Mikro Baja ST 40 Akibat Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) Dengan Variasi Sudut Kampuh Rizky Abi Nubli
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 40 tergolong baja karbon rendah, dimana jenis baja tersebut banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri sebagai rangka konstruksi. Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam dunia perindustrian dan rangka konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik baja berdasarkan hasil perbandingan kekuatan tarik, kekuatan impak, dan struktur mikrografi pada sambungan las dengan perbedaan sudut kampuh pengelasan yaitu 0°, 45°, dan 90°. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa baja ST 40 dengan sudut kampuh pengelasan 0° memiliki nilai rata – rata tegangan maksimum sebesar 323,35 MPa, nilai rata – rata regangan sebesar 15,83 %, dan nilai rata – rata modulus elastisitas sebesar 1,78 GPa. Serta memiliki harga rata – rata impak sebesar 1,23 J/mm2. Baja ST 40 dengan sudut kampuh pengelasan 45° memiliki nilai rata – rata tegangan maksimum sebesar 474,00 MPa, nilai rata – rata regangan sebesar 27,43 %, dan nilai rata – rata modulus elastisitas sebesar 1,32 GPa. Serta memiliki harga rata – rata impak sebesar 1,18 J/mm2. Baja ST 40 dengan sudut kampuh pengelasan 90° memiliki nilai rata – rata tegangan maksimum sebesar 464,45 MPa, nilai rata – rata regangan sebesar 30,14 %, dan nilai rata – rata modulus elastisitas sebesar 1,18 GPa. Serta memiliki harga rata – rata impak sebesar 1,74 J/mm2 . Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa baja ST 40 dengan sudut kampuh pengelasan 45° memiliki nilai kekuatan tarik terbesar dengan nilai 474,00 MPa dan baja ST 40 dengan sudut kampuh pengelasan 90° memiliki harga impak tersebesar dengan nilai 1,74 J/mm2 .
Analisa Perbandingan Ekonomis Kapal Ikan PVC “Baruna Fishtama” Dengan Kapal Ikan Tradisional (Kayu) Reyhan Ardeo Nasution; Wilma Amiruddin; Ari Wibawa Budi Santosa
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.045 KB)

Abstract

Penggunaan bahan PVC sebagai bahan alternatif pembuatan kapal ikan merupakan inovasi terbaru di Indonesia dan sedang dikembangkan di Pekalongan. Oleh karena itu, dibutuhkan analisa lebih lanjut untuk membantu pengembangan ini. Penelitian ini membahas tentang perbandingan analisa ekonomis antara kapal ikan PVC dengan kapal ikan tradisional (kayu) dengan variable terikatnya adalah Gross Tonnage (GT) dan juga jumlah trip dari kedua kapal yang sama antara kedua kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya investasi awal atau pembangunan kapal, biaya pengeluaran per trip, pendapatan nelayan per tahun, dan mengetahui kapal mana yang lebih layak untuk diinvestasikan. Dalam melaksanakan penelitian ini dilakukan beberapa tahapan, yaitu menghitung biaya pembangunan kapal, kemudian menentukan fixed dan variable cost sehingga diketahui pendapatan dari operasional kapal, kemudian dilakukan analisa profitabilitas. Penelitian dilakukan dengan 3 kondisi sebagai variabel bebas, dimana kondisi tersebut merupakan hasil tangkapan yang variatif yang didapat dari kapal kedua kapal. Hasil dari analisa ekonomis ini menunjukan bahwa kapal PVC mempunyai biaya investasi awal yang relatif lebih murah dibandingkan dengan kapal ikan tradisional dan juga berdasarkan nilai dari Internal Rate of Return (IRR), kapal ikan PVC lebih ekonomis atau menguntungkan untuk diinvestasikan bila dibandingkan dengan kapal ikan kayu.
STUDI PERANCANGAN SEMI-SUBMERSIBLE CATAMARAN SEBAGAI KAPAL PARIWISATA DI KABUPATEN RAJA AMPAT Dwi Satria Fajar; Deddy Chrismianto; Eko Sasmito Hadi
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 1 (2014): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.715 KB)

Abstract

Kabupaten Raja Ampat merupakan sebuah kabupaten yang memiliki potensi pariwisata yang sangat besar khususnya potensi pariwisata bawah laut. Oleh karena itu, transportasi kapal yang dimanfaatkan sebagai alat transportasi utamanya. Masih sedikit kapal pariwisata di Kabupaten Raja Ampat yang dapat digunakan untuk menikmati keindahan bawah laut untuk para wisatawan yang tidak memiliki izin untuk menyelam. Maka sebuah kapal Semi-Submersible mungkin dapat membantu para wisatawan untuk dapat menikmati keindahan bawah laut tanpa harus memiliki izin menyelam.Penelitian ini dilakukan dengan melakukan beberapa langkah dari desain, yang merupakan perhitungan dimensi utama kapal, membuat rencana garis, rencana umum, analisa hidrostatik kapal, analisis stabilitas, dan olah gerak kapal. Perencanaan lambung yang dipilih adalah jenis Catamaran (Twin Hull). Sistem pelayaran kapal memiliki 2 (dua) mode pelayaran yaitu, Catamaran Mode dan Submerge Mode. Semi-Submersible Catamaran merupakan perpaduan antara sub marine, yacht, dan home a float. Dengan menggunakan metode perancangan perbandingan optimasi dari kapal pembanding, didapatkan ukuran utama kapal yaitu Loa= 27,60 m, Lwl = 24,40 B = 9,80 m, H = 3,55 m, T = 1,50 m, Displacement = 79,00 ton LWT = 51,50 ton, DWT = 27,50 ton, Vdinas = 30 knot, Vmax = 35 knot, Vsub = 10 knot. Dan untuk hasil perhitungan hidrostatik, kapal memiliki coeffisien block (Cb) = 0,526 coeffisien midship (Cm) = 0,625 coeffisien water plan (Cwl) = 0,912 coeffisien prismatic (Cp) = 0,842 dan letak LCB = 10,73 m atau -3,07 m (dari midship). Nilai resistance yang dialami kapal sebesar 86,99 kN dan power sebesar 1648,71 kW. Nilai GZ terbesar pada Catamaran mode terjadi pada kondisi 6 sebesar 2,48 m dengan nilai GM terbesar pada kondisi 5 sebesar 12,51 m, sedangkan pada saat Submerge mode terjadi pada kondisi 4 sebesar 2,58 m dengan nilai GM terbesar pada kondisi 4 sebesar 7,27 m. 
Analisa Kekuatan Tarik, Tekuk, dan Mikrografi Baja St 42 Akibat Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) dengan Variasi Posisi Pengelasan Maxwell Pradolin; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 42 tergolong baja karbon rendah, dimana baja karbon rendah merupakan jenis baja yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri sebagai rangka konstruksi. Jenis pengelasan yang tepat sangat dibutuhkan agar sambungan las yang dihasilkan dapat maksimal. Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam perindustrian dan rangka konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, tekuk, dan struktur mikrografi dari sambungan las jenis single v-butt joint 60° dengan perbedaan posisi pengelasan pada baja St 42. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor posisi pengelasan pada hasil pengelasan mempengaruhi kualitas sambungan ditinjau dari kekuatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baja St 42 dengan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 419,88 MPa, rata-rata regangan sebesar 47,05%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,94 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 578,42 MPa. Baja St 42 dengan posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 408,71 MPa, rata-rata regangan sebesar 46,21%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,85 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 562,90 MPa. Baja St 42 dengan posisi pengelasan 3G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 413,97 MPa, rata-rata regangan sebesar 46,67%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,88 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 566,14 MPa. Sedangkan baja St 42 dengan posisi pengelasan 4G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 400,33 MPa, rata-rata regangan sebesar 45,59%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,79 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 545,80 MPa. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja St 42 dengan posisi pengelasan 1G memiliki kekuatan yang lebih baik dari posisi pengelasan 2G, 3G, ataupun 4G.
STUDI PERANCANGAN DESAIN LAYAR BERBASIS CFD PADA PERAHU MOTOR TEMPEL TIPE KATIR DI PELABUHAN SADENG GUNA PENGHEMATAN BBM M. Ulil Anwar; Andi Trimulyono; Muhammad Iqbal
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.802 KB)

Abstract

Layar merupakan salah satu dari berbagai macam alat penggerak yang digunakan untuk menggerakan kapal. Besarnya gaya dorong yang dihasilkan oleh layar sangat tergantung oleh arah dan kecepatan angin. Selain itu besarnya gaya dorong dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran layar. Tujuan penulisan ini ialah untuk mengetahui bentuk layar yang dapat memberikan kontribusi kecepatan paling optimum pada perahu motor tempel katir. Ukuran layar pada penelitian ini merupakan hasil ekstrapolasi atau membandingkan dengan ukuran layar yang sudah ada yaitu didapat luasan layar 29 m2. Selanjutnya bentuk layar divariasikan menjadi 3 (tiga) macam bentuk yakni persegi panjang, segitiga dan trapesium. Analisis gaya dorong dilakukan dengan menggunakan CFD (Computational Fluid Dynamic). Untuk menghitung kontribusi gaya dorong layar terhadap kecepatan kapal, maka dilakukan perhitungan hambatan kapal menggunakan metode Holtrop. Analisis gaya dorong layar dilakukan pada variasi kecepatan angin yakni 4-12 knot arah angin terhadap layar (Anggle of attack) sebesar 00, 300, 600, 900. Dari hasil analsis CFD didaatka kontribusi terbesar layar terhadap kecepatan kapal 4,4 knot untuk layar segitiga, 4,3 knot trapesium dan 3,79 untuk persegi panjang. Kontribusi tersebut didapatkan dri layar  dengan posisi 900 terhadap arah angin (Angle of attack).
Studi Kekuatan Penggunaan Sandwich Plate System (SPS) pada Konstruksi Helicopter Deck Kapal Landing Ship Tank (LST) 7000 DWT Muhamad Yamin Soamole; Ahmad Fauzan Zakki; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1536.163 KB)

Abstract

Seiring dengan perkembangan industri teknologi melalui inovasi riset mambuat perkembangan material mengalami perkembangan yang pesat. Dengan berkembangnya teknologi material menimbulkan variasi material yang dapat di aplikasikan pada konstruksi kapal  yang memiliki karakteristik yang dapat memberikan keuntungan yang dapat dikembangkan. Material yang memiliki keuntungan salah satunya adlah hadirnya penggunaan material SPS (Sandwich Plate System) jenis material dalam bentuk komposit lapisan. Telah banyak digunakan pada berbagai bidang konstruksi selain dikapal ternyata material SPS (Sandwich Plate System) telah terlebih dahulu digunakan pada konstruksi gedung dan jembatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penggunaa sandwich pada  konstruksi helicopter deck sehingga dapat diketahui perbandingan berat dan tegangan maksimum dapat memenuhi standar atau safety factor dari rules ada. Permodelan dan analisa menggunakan software permodelan, software berbasis finite element analysis untuk mengetahui besaran respons struktur berupa nilai tegangan. Hasil analisa pada penelitian ini  memenuhi batas maksimum tegangan rules LR (tegangan max < 175 Mpa), Tegangan maksimum terbesar beban statis terjadi pada konstruksi helicopter deck menggunakan sandwich sebesar 13,3 Mpa, dengan deformasi terbesar terjadi pada konstruksi helicopter deck menggunakan sandwich sebesar 3,24 mm serta tegangan maksimum terbesar beban dinamis terjadi pada konstruksi helicopter deck menggunakan sandwich sebesar 40,6 Mpa pada ketinggian 300mm dengan deformasi terbesar terjadi pada konstruksi helicopter deck menggunakan sandwich sebesar 6,77 mm dan akibat penggunaan sandwich plate system dapat menurunkan berat konstruksi sebesar 6% untuk keseluruhan konstruksi.
Analisa Pengaruh Variasi Penambahan Fin pada Centerbulb terhadap Hambatan Kapal Katamaran MV. Laganbar menggunakan Metode Computational Fluid Dynamic (CFD) Yosafat Nugraha Putra; Parlindungan Manik; Muhammad Iqbal
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 3 (2017): JULI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.765 KB)

Abstract

Kapal katamaran merupakan kapal yang menarik untuk dikaji, stabilitas kapal katamaran memang lebih baik, namun muncul permasalahan lain yaitu hambatan. Hambatan kapal katamaran lebih kompleks karena efek interaksi komponen hambatan dengan gelombang laut pada lambung kapal. Hal tersebut mengakibatkan bertambahnya hambatan gelombang akibat hempasan badan kapal oleh gelombang laut. Dari permasalahan tersebut munculah percobaan untuk menambahkan fin pada centerbulb kapal katamaran. Centerbulb berfungsi mengurangi hambatan gelombang yang terjadi pada lambung kapal katamaran, serta penambahan fin pada centerbulb dapat mengoptimalkan pengurangan hambatan tersebut. Analisa perhitungan hambatan total kapal katamaran dihitung menggunakan software CFD yaitu Tdyn 12.2.3.0 dan  menggunakan variasi kecepatan (Fn = 0,15; Fn = 0,20; Fn = 0,25; Fn = 0,30; Fn = 0,35), jumlah dan ukuran fin pada centerbulb. Hasilnya, nilai hambatan total kapal bertambah pada Fn 0,15 sampai dengan Fn 0,30, dan mengurangi hambatan total pada kecepatan tertinggi dengan Fn = 0,35 yaitu sebesar 1% sampai 20% pada keseluruhan model. Model terbaik terdapat pada model 11 dengan jumlah fin 6 dan ukuran lebar fin 0,13m yaitu pada Fn = 0,35 dapat mengurangi hambatan total sebesar 20%.
ANALISA TINGKAT KEBISINGAN KAMAR MESIN PADA KAPAL KMP. MURIA Rindianti Wibowo; Samuel Samuel; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 4 (2014): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.923 KB)

Abstract

Kebisingan adalah suara yang tidak diharapkan yang dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan dan dapat menyebabkan ketulian. Kebisingan dengan intensitas tinggi tanpa sadar dapat menyebabkan dampak yang serius bagi ABK KMP. Muria serta ketidaknyamanan bagi penumpang. Sehingga, pengukuran tingkat kebisingan harus dilakukan untuk mengetahui tingkat kebisingan yang terjadi di kapal, terutama di kamar mesin dan ruang akomodasi, sehingga dapat direncanakan alternative system yang tepat apabila tingkat kebisingan yang terjadi melebihi batas yang ditetapkan oleh IMO, ABS dan LR. Dari hasil pengukuran dengan menggunakan Environment meter tingkat kebisingan di kamar mesin melebihi batas yang ditetapkan oleh IMO dan ABS sebesar 102,9 dB. Setelah melakukan proses perhitungan Transmission Loss yang dihasilkan oleh sebuah Barrier, untuk frekuensi kritis barrier dengan material plywood dapat mengurangi suara sebesar 34,39 dB, Glasswool 31,22 dB, Rockwool 39,58 dB, Poliuretan 37,01 dB. Untuk frekuensi kritis sebuah barrier dengan kombinasi dua material penyusun yaitu kombinasi Rockwool dengan plywood menghasilkan transmission loss sebesar 38,36 dB, Rockwool dengan glasswool sebesar 39,10 dB, dan kombinasi Rockwool dengan Poliuretan dapat mengurangi tingkat kebisingan hingga 42,39 dB.   Proses simulasi terhadap perencanaan penggunaan modifikasi Muffler yang telah terpasang pada exhaust gas outlet dengan  menggunakan Actran Student Edition  dapat disimpulkan bahwa semakin besar dimensi muffler, transmission loss yang dihasilkan juga akan semakin besar.
Analisis Teknis dan Ekonomis Pengaruh Modifikasi Kapal Penangkap Ikan Menjadi Kapal pengangkut Ikan Ramadhani Aristasari
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan tipe kapal ikan dari tipe penangkap ikan menjadi pengangkut ikan akan memberikan pengaruh teknis maupun ekonomis. Perubahan yang dimaksud antara lain perubahan ruang muat dan perlangkapannya yang memberikan konsekwensi terhadap terhadap perubahan komponen berat dari kapal, kapasitas ruang muat serta lama waktu pelayaran. Analisis teknis ekonomis dilakukan berdasarkan konsekwensi perubahan yang dimaksud  antara lain analisis performa kapal dan profitabilitas usaha. Hasil analisis nilai stabilitas dari kapal sebelum dan setelah modifikasi menunjukkan nilai yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan oleh IMO dan hasil keduanya tidak jauh berbeda. Nilai hambatan pada kapal sebelum dimodifikasi adalah sebesar 133,3 kN untuk kecepatan maximum 15 knot dan daya mesin 1379,116 HP, sedangkan pada kapal setelah dimodifikasi adalah sebesar 115,3 kN dan daya mesin 1193,17 HP. Hasil olah gerak 2009 menunjukkan karakteristik olah gerak kedua kapal yang dimaksud telah memenuhi kriteria. Hasil perhitungan ekonomis kapal sebelum di modifikasi memiliki nilai IRR sebesar 41,55 dengan masa balik modal selama 2 tahun dan hasil setelah modifikasi memiliki nilai IRR sebesar 16,11 dengan masa balik modal selama 3,3 tahun.
ANALISA KEKUATAN MEKANIK SAMBUNGAN LAS METODE MIG( METAL INERT GAS) DAN METODE FSW( FRICTION STIR WELDING) 800 RPM PADA ALUMUNIUM TIPE 5083 Anggoro Prabu Dewanto; Wilma Amiruddin; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 3 (2016): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.193 KB)

Abstract

Pemilihan metode pengelasan yang efektif berguna untuk industri galangan. Khususnya galangan kapal aluminium. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua metode pengelasan yang berbeda yaitu metode MIG (Metal Inert Gas) dan metode FSW (Friction Stir Welding). Material Alumunium yang digunakan adalah Al 5083. Pada pengelasan MIG (Metal Inert Gas) menggunakan jenis sambungan pengelasan single V-butt joint dengan sudut 60°. Tegangan dan arus yang digunakan adalah 22V dan 220 A dengan elektroda ER 5356. Dan pada pengelasan FSW (Friction Stir Welding) menggunakan putaran tool 800 RPM dan Travel Speed 30 mm/min. Pengujian di lakukan uji tarik dengan menggunakan standar ASTM E 8M -00b. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada metode pengelasan MIG (Metal Inert Gas) menghasilkan pengelasan yang lebih sempurna atau lebih baik dengan memberikan nilai Tegangan Tarik maksimal yaitu 99,35 N/mm2 dan nilai Regangan sebesar 1,9%. Sedangkan pada metode FSW (Friction Stir Welding) hanya memperoleh nilai Tegangan Tarik maksimal yaitu 29,62 N/mm2 dan nilai Regangan sebesar 0,5%. Selain meggunakan hasil Uji Lab juga dilakukan analisa menggunakan software Ansys LS-Dyna dengan hasil kekuatan Tarik tertinggi pada pengelasan MIG (Metal Inert Gas) sebesar 72,6  N/mm2  . dan pada pengelasan FSW (Friction Stir Welding) sebesar 25,9 N/mm2 .