cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PERBEDAAN KADAR MAGNESIUM DAN KLORIDA PRE DAN POST HEMODIALISIS Darali Noya Kireina Mahardhika; Indranila K. Samsuria; Edward KSL Edward KSL
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.692 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23463

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal merupakan suatu kondisi patologis yang dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan dapat mengganggu keseimbangan kadar elektrolit dalam tubuh. Hemodialisis merupakan salah satu terapi untuk menggantikan fungsi ekskresi ginjal. Magnesium merupakan salah satu elektrolit penanda tingkat mortalitas tubuh. Kegagalan ekskresi pada klorida dapat meningkatkan resiko kejadian asidosis metabolik pada tubuh. Tujuan: Mengetahui perbedaan kadar magnesium dan klorida pre dan post hemodialisis. Metode penelitian: Penelitian merupakan mengunakan pendekatan belah lintang pada 19 subyek penelitian usia 18 sampai 60 tahun. Penelitian dilakukan dari bulan april 2018 hingga Oktober 2018 di RSUD dr. Soetijono Kabupaten Blora dan di Laboratorium CITO Semarang. Pemeriksaan menggunakan metode ion selektive elektrode. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan paired T test. Signifikansi jika p< 0,05. Hasil: Rerata kadar magnesium dan klorida berturut-turut sebelum hemodialisis adalah 2,29 ± 0,453 mEq/L dan 82 (110–59) mEq/L . Setelah dilakukan hemodialisis rerata kadar magnesium dan klorida berturut-turut menjadi 1,80 ± 0,503 mEq/L dan 100 (110-74) mEq/L. Terdapat perbedaan yang bermakna kadar magnesium sebelum dan sesudah hemodialisis (p= 0,009) juga klorida sebelum dan sesudah hemodialisis (p= 0,007). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna menurun kadar magnesium dan klorida pre  dan post hemodialisis Kata kunci: Gagal Ginjal, Hemodialisis, magnesium, klorida
PENGARUH STRES KERJA TERHADAP KEJADIAN NYERI KEPALA PADA PEKERJA GROUND HANDLING (STUDI KASUS DI BANDARA AHMAD YANI SEMARANG) Syifa Sabilla Jatmiputri; Maria Belladonna; Farmaditya Eka P.
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.484 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18637

Abstract

Latar belakang: Nyeri kepala merupakan suatu keluhan umum yang sering dialami pada pekerja lapangan seperti pekerja ground handling serta dapat menurunkan produktifitas kerja. Faktor pemicu terjadinya nyeri kepala salah satunya adalah stres kerja. Kondisi lingkungan kerja yang kurang baik dapat memicu terjadinya stres kerja seperti temperatur, penerangan, polusi udara, kebisingan, kebersihan tempat kerja, dan perlengkapan kerja. Stres kerja di duga dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit baik secara fisik maupun mental seperti nyeri kepala.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres kerja terhadap kejadian nyeri kepala pada pekerja ground handling di Bandara Ahmad Yani Semarang.Metode: Penelitian observational dengan desain belah lintang untuk mengetahui pengaruh stres kerja terhadap kejadian nyeri kepala pekerja ground handling. Subjek penelitian ini merupakan pekerja ground handling di Bandara Ahmad Yani Semarang dengan metode consecutive sampling. Data yang digunakan merupakan data dari hasil wawancara untuk mengetahui nyeri kepala dan pengisian kuesioner COPSOQ (Copenhagen Psychosocial Questionnaire) II untuk mengetahui stres kerja. Uji statistik untuk mengetahui suatu hubungan antara stres kerja dengan nyeri kepala menggunakan uji chi square.Hasil: Sebanyak 50 subjek penelitian dianalisis dengan uji Fisher. Terdapat hubungan antara stres kerja dengan kejadian nyeri kepala (p= 0,002). Tidak terdapat hubungan antara usia, masa kerja dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan nyeri kepala, diperoleh nilai p = 1,000,  p = 0,073 dan p = 0,419.Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara stres kerja terhadap kejadian nyeri kepala. Faktor – faktor lain seperti usia, masa kerja dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan nyeri kepala.
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN BEDAK PADAT DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS Adinda Luthfia Khansa; Asih Budiastuti; Aryoko Widodo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.593 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23780

Abstract

Latar belakang : Penggunaan kosmetik, terutama bedak saat ini sudah menjadi hal yang umum tak terkecuali pada kalangan mahasiswi. Beberapa bahan yang digunakan dalam pembuatan bedak padat bersifat komedogenik dan aknegenik, dimana hal ini akan menyebabkan timbulnya akne vulgaris. Melalui penelitian ini akan dilakukan analisa hubungan antara penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris.  Metode : penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan sampel  48 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang memenuhi kriteria inklusi (mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang menderita akne vulgaris, menggunakan bedak padat, berusia 17-22 tahun, serta bersedia menandatangani informed consent). Data yang dikumpulkan merupakan data primer dengan pengisian kuisioner dan pemeriksaan akne vulgaris. Analisis data menggunakan uji chi square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian : tidak didapatkan adanya hubungan antara penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,2), tidak didapatkan adanya hubungan antara frekuensi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,9), tidak didapatkan adanya hubungan antara durasi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris (p=0,5).  Kesimpulan : tidak ada hubungan antara penggunaan, frekuensi penggunaan, dan durasi penggunaan bedak padat dengan derajat keparahan akne vulgaris.Kata kunci : akne vulgaris, bedak padat
PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PASCA TRABEKULEKTOMI DAN PASCA FAKO-TRABEKULEKTOMI PADA GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP: STUDI PADA BERBAGAI STADIUM Nur Muhammad Ichsan; Maharani Maharani; Fifin Luthfia Rahmi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.984 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21277

Abstract

Latar Belakang Glaukoma primer sudut tertutup seringkali ditangani dengan operasi trabeulektomi ataupun fako-trabekulektomi. Tetapi belum ada yang menelitinya pada berbagai stadium.Tujuan Membandingkan penurunan tekanan intraokuler (TIO) pasca trabekulektomi dengan pasca fako-trabekulektomi pada berbagai stadium glaukoma primer sudut tertutup.Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional.  Sampel adalah 30 buah rekam medik pasien glaukoma primer sudut tertutup dengan kriteria tertentu, yang dibagi menjadi 15 rekam medik pasien yang dioperasi dengan trabekulektomi dan 15 rekam medik pasien yang dioperasi dengan fako-trabekulektomi. Data yang diambil adalah nomor rekam medik, umur, jenis kelamin, diagnosis glaukoma primer sudut tertutup beserta cup-disk ratio, TIO pra operasi, pasca operasi, dan saat follow-up selama minimal 3 bulan, dan obat antiglaukoma tambahan. Uji statistik menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil Dari data 30 sampel, didapatkan rerata penurunan TIO pada keseluruhan sampel kelompok trabekulektomi 23,07 ± 14,48 mmHg, stadium ringan 12,30 ± 6,51 mmHg, stadium sedang 19,27 ± 10,29 mmHg, dan stadium berat 29,41± 16,68 mmHg. Pada kelompok fako-trabekulektomi hasil rerata penurunan TIO pada keseluruhan sampel 14,39 ± 10,94 mmHg, stadium ringan 19,77 ± 14,72 mmHg, stadium sedang 10,32 ± 5,31 mmHg, dan stadium berat 15,00 ± 12,63 mmHg. Uji t tidak berpasangan tidak menunjukkan perbedaan bermakna antar kedua kelompok, baik secara umum (p = 0,074) maupun pada berbagai stadium (stadium ringan: p = 0,562; stadium sedang: p = 0,114; stadium berat: p = 0,098).Kesimpulan Tidak ada perbedaan penurunan TIO yang bermakna pasca trabekulektomi maupun pasca fako-trabekulektomi pada berbagai stadium glakuoma primer sudut tertutup.
ANALISIS KOMPONEN WAKTU REAKSI ATLET BULUTANGKIS (STUDI PADA ATLET BULUTANGKIS DI SEMARANG) Amitya Ekacitta Anindita; Tanjung Ayu Sumekar; Yuswo Supatmo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.319 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18541

Abstract

Latar Belakang: Latihan rutin yang dilakukan oleh para atlet bulutangkis akan meningkatkan komponen fisik yaitu kecepatan yang ditunjukkan melalui waktu reaksi. Metode yang digunakan untuk mengukur waktu reaksi yaitu ruler drop test, ruler drop test dengan selubung dan computerized reaction time.Tujuan: Membuktikan latihan bulutangkis berpengaruh terhadap waktu reaksi atlet.Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan belah lintangdilaksanakan di Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum Universitas Diponegoro dan UKM Bulutangkis Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Sampel penelitian terdapat dua kelompok yang terdiri dari atlet dan non-atlet yang berjumlah 16 orang pada masing-masing kelompok. Dua kelompok diukur waktu reaksinya menggunakan metode pemeriksaan ruler drop test, ruler drop test  dengan selubung dan computerized reaction time.Hasil: Rerata waktu reaksi kelompok non-atlet yang diukur dengan ruler drop test  adalah 0,1 ± 0,03 detik, sedangkan kelompok atlet adalah 0,1 ± 0,04 detik. Diukur dengan ruler drop test dengan selubung rerata waktu reaksi kelompok non atlet sebesar 0,2 ± 0,03 detik dan rerata kelompok atlet 0,2 ± 0,03 detik. Rerata waktu reaksi kelompok non atlet yang diukur dengan computerized reaction time adalah 0,3 ± 0,03 detik, sedangkan kelompok atlet adalah 0,2 ± 0,05 detik. Berdasarkan hasil tersebut hanya metode computerized reaction time yang memiliki perbedaan bermakna p=0,03 (p<0,05).Kesimpulan: Latihan dapat meningkatkan waktu reaksi secara bermakna. Tidak terdapat perbedaan waktu reaksi bermakna yang diukur dengan metode pemeriksaan ruler drop test, ruler drop test dengan selubung dan computerized reaction time.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DOSIS BERTINGKAT PADA GAMBARAN MIKROSKOPIS GINJAL: STUDI PADA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI FORMALIN Al-Haditsa Islam; Farmaditya Eka Putra Mundhofir
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.573 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19338

Abstract

Latar Belakang: Formalin adalah suatu senyawa kimia yang biasa digunakan sebagai bahan pengawet cadaver. Kini formalin banyak disalahgunakan sebagai bahan pengawet makanan, padahal formalin bersifat korosif pada tubuh termasuk menyebabkan kerusakan ginjal. Untuk mencegah efek toksik formalin dalam tubuh, diperlukan antioksidan yang dapat berasal dari alam, salah satunya adalah daun kelor (Moringa oleifera).Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dosis bertingkat pada gambaran mikroskopis ginjal tikus wistar yang diinduksi formalin.Metode: Penelitian true experimental dengan posttest only with control group design. Sampel sebanyak 25 ekor tikus wistar jantan yang memenuhi kriteria dan  dibagi secara simple random sampling menjadi 5 kelompok. K(-) hanya diberi pakan dan minum standar; K(+) diberi formalin peroral 100mg/kgBB; P1 diberi formalin peroral 100mg/kgBB dan ekstrak daun kelor 200mg/kgBB; P2 diberi formalin peroral 100mg/kgBB dan ekstrak daun kelor 400mg/kgBB; dan P3 diberi formalin peroral 100mg/kgBB dan ekstrak daun kelor 800mg/kgBB (21 hari); P1, P2 dan P3 diberikan perlakuan preventif 5 hari sebelumnya dengan diberikan ekstrak daun kelor dosis bertingkat yang sesuai dengan dosis tiap kelompok perlakuan. Pada hari ke-27, tikus wistar dianestesi lalu dibedah kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis ginjal berupa degenerasi dan nekrosis. Data dideskripsikan dalam bentuk tabel, gambar, dan analisa statistik.Hasil: Rerata degenerasi tertinggi sel epitel tubulus proksimal ginjal terdapat pada kelompok P1, sedangkan rerata nekrosis tertinggi pada kelompok K(+). Pada degenerasi, terdapat perbedaan yang bermakna (p<0.05) antara seluruh kelompok perlakuan, kecuali P1-K(+) dan P1-P2 tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. Pada nekrosis, didapatkan perbedaan yang bermakna (p<0.05) antara seluruh kelompok perlakuan, kecuali P3-K(-) tidak didapatkan perbedaan yang bermakna.Simpulan: Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dosis bertingkat bertingkat berpengaruh pada perubahan gambaran mikroskopis ginjal tikus wistar yang diinduksi formalin.
PENGARUH EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var.Rubrum) TERHADAP KADAR AST DAN ALT DARAH TIKUS SETELAH PAPARAN ASAP ROKOK Novritasari Setyaningrum; Budhi Surastri Soejoto
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.734 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15595

Abstract

Latar Belakang : Asap yang ditimbulkan dari pembakaran rokok kretek memiliki kadar radikal bebas yang tinggi lalu masuk ke dalam tubuh tiap hirupannya. Hal tersebut dapat mengganggu keseimbangan molekul tubuh dan menyebabkan stress oksidatif yang berpotensi merusak sel, tidak terkecuali sel hepar. Agar mengurangi radikal bebas dalam tubuh yang berlebih diperlukan antioksidan eksogen. Salah satu sumbernya yaitu Jahe merah (Zingiber Oficinale Var Rubrum. Untuk menilai kerusakan sel hepar akibat rokok yang menyebabkan peroksidasi lipid sehingga terjadi kerusakan membran sel normal dari hepar juga mengakibatkan ketidakseimbangan radikal bebas dan antioksidan digunakan kadar enzim transaminase yaitu AST dan ALT.Tujuan : Mengetahui pengaruh ekstrak Jahe merah (Zingiber Oficinale Var Rubrum) terhadap kadar AST dan ALT darah tikus setelah paparan asap rokokMetode : Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan desain post test only control group design pada tikus jantan. Sampel penelitian sebanyak 24 tikus yang terbagi menjadi 4 kelompok dengan perlakuan yang berbeda. Perlakuan yang diberikan yaitu dengan memberikan ekstrak Jahe merah (Zingiber Oficinale Var Rubrum) 200 mg/kgBB/hari dan pemberian paparan asap rokok dua kali sehari, sedangkan keluarannya adalah kadar AST dan ALT darah tikus.Hasil : Data kadar AST berdasarkan uji Saphiro-Wilk berdistribusi tidak normal. Dengan pengujian Levene Test data tersebut mempunyai varians data homogen dengan nilai P=0,442. Lalu dilakukan uji Kruskal-Wallis kadar ALT darah menghasilkan interpretasi terdapat perbedaan kadar ALT yang tidak bermakna pada 4 kelompok dengan nilai P=0,218. Sedangkan untuk data ALT berdistribusi normal dan mempunyai varians data homogen dengan nilai P=0,517. Pengujian beda menggunakan ANOVA didapatkan hasil tidak bermakna dengan nilai signifikansi P=0,674.Kesimpulan : Tidak terdapat pengaruh yang bermakna dari pemberian Jahe merah (Zingiber Oficinale Var Rubrum) terhadap kadar AST dan ALT darah tikus setelah terpapar asap rokok.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN COMPLICATED INTRA ABDOMINAL INFECTIONS Puspitadewi, Elisabeth Sukma; Farhanah, Nur; Mughni, Abdul
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.661 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21474

Abstract

Latar Belakang: Complicated Intra Abdominal Infections merupakan penyakit infeksi intra abdominal yang membutuhkan perhatian lebih terkait dengan prognosisnya yang buruk dan angka kematian yang cukup tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas pada CIAIs diantaranya adalah jenis kelamin, usia, luas peritonitis, durasi antara diagnosis hingga tindakan operasi, karakter cairan, asal organ, kegagalan organ, dan keganasan.Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas pada pasien CIAIs berdasarkan skor Indeks Peritonitis Mannheim (IPM).Metode: Penelitian observasional analitik dengan metode kohort retrospektif yang dilakukan pada bulan Agustus-September 2017. Sampel kasus merupakan pasien CIAIs yang meninggal setelah dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang, sedangkan sampel kontrol merupakan pasien CIAIs yang bertahan hidup setelah dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Data diambil dari catatan medis pasien kemudian dianalisis menggunakan univariat, bivariat, dan multivariat dengan SPSS 21.Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 32 pasien sebagai kasus dan 19 pasien sebagai kontrol. Setelah dilakukan uji Chi-Square diperoleh nilai kemaknaan hubungan antara variabel dengan mortalitas sebagai berikut: jenis kelamin (p = 0,489 [RR = 1,167]), usia (p = 0,389 [RR = 0,829]), luas peritonitis (p = 0,262 [RR = 1,630]), durasi (p = 0,015 [RR = 1,981]), karakter cairan (p = 0,405 [RR = 0,833]), asal organ (p = 0,443 [RR = 1,148]), kegagalan organ (p = 0,000388 [RR = 2,945]), keganasan (p = 0,611 [RR = 0,790]).Kesimpulan: Variabel durasi dan kegagalan organ memiliki hubungan yang bermakna, sedangkan variabel lainnya berhubungan tidak bermakna.
GAMBARAN PASIEN KARSINOMA KOLOREKTAL DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG YANG MENGALAMIN OBESITAS, HIPERTENSI, DAN HIPERGLIKEMIA Emmanuel Joseph Bagus Hestu Pradipta; Yan Wisnu Prajoko; Firdaus Wahyudi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.162 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18564

Abstract

Latar Belakang Insidensi fraktur collum femoris meningkat seiring dengan usia dan merupakan fraktur paling sering pada usia lanjut. Salah satu penanganan fraktur collum femoris adalah dengan Total Hip Arthroplasty (THA) dimana tindakan ini berhubungan dengan derajat fungsional panggul dan kualitas hidup.Tujuan Menganalisis hubungan antara jenis THA terhadap derajat fungsional panggul dan kualitas hidup pada pasien fraktur collum femoris.Metode Penelitian observasional analitik studi belah lintang menggunakan data rekam medis serta kuesioner SF-36 dan Hip Score pada pasien fraktur collum femoris yang mendapatkan tindakan THA di RSUP Dr. Kariadi.Hasil Terdapat 25 kasus yang ditemukan, terdiri dari 12 kasus cemented  dan 13 kasus uncemented. Dari 12 pasien yang dilakukan cemented THA, 11 diantaranya termasuk dalam SF-36 kategori baik sedangkan 1 pasien kategori buruk. Dari 13 pasien yang dilakukan uncemented THA, 12 diantaranya termasuk dalam SF-36 kategori baik sedangkan 1 pasien kategori buruk. Pada pemeriksaan Hip Score, dari 12 pasien yang dilakukan cemented THA, 9 diantaranya tidak ada keluhan, 2 pasien kategori ringan-sedang, dan 1 pasien kategori sedang-berat. Pada 13 pasien yang dilakukan uncemented THA, 11 diantaranya tidak ada keluhan, 1 pasien kategori ringan-sedang, dan 1 pasien kategori sedang-berat. Hubungan jenis THA terhadap derajat fungsional panggul dan kualitas hidup pada pasien fraktur collum femoris adalah tidak bermakna (p > 0,05).Kesimpulan Tidak ada perbedaan derajat fungsional panggul dan tingkat kualitas hidup terhadap jenis THA.
PERBANDINGAN KEJADIAN LEUKOPENIA DAN TROMBOSITOPENIA PADA PENDERTIA KARSINOMA NASOFARING YANG MENDAPATKAN KEMOTERAPI PACLITAXEL CISPLATIN DAN CISPLATIN 5-FLUOROURACIL (5-FU) Nadya Tara Audina; Willy Yusmawan; Zulfikar Naftali; Suprihati Suprihati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.228 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25355

Abstract

Latar Belakang : Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan karsinoma yang muncul pada daerah nasofaring. Kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Salah satu kombinasi obat kemoterapi adalah paclitaxel cisplatin dan cisplatin 5-fluorouracil. Efek samping dari kemoterapi timbul karena obat-obatan kemoterapi. Efek samping kemoterapi berbasis cisplatin dan melihat efek samping hematopoetik berdasarkan hemoglobin, leukosit dan trombosit. Efek samping tersebut mulai terjadi setelah seri pertama dan signifikan setelah seri-seri berikutnya. Sistem hematopoetik pascakemoterapi cisplatin-paclitaxel pada penderita kanker kepala dan leher menunjukkan penurunan yang signifikan setelah seri I, II dan III. Efek supresi sumsum tulang akibat paclitaxel terjadi 6 – 12 hari. Tujuan : Mengetahui perbandingan kejadian leukopenia dan trombositopenia pada penderita karsinoma nasofaring yang mendapatkan kemoterapi paclitaxel cisplatin dan cisplatin 5-fluororacil (5-FU). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang dikaji dari rekam medis sebagai data sekunder poli THT-KL RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2013-2017. Terdapat 97 sampel kelompok yaitu paclitaxel cisplatin dan cisplatin 5-FU. Analisis hasil data dengan uji Chi Square dan uji Fisher. Hasil : kejadian leukopenia pada penderita KNF yang mendapat kemoterapi paclitaxel cisplatin sebanyak 37 (80,4%). Kejadian leukopenia pada penderita KNF yang mendapat kemoterapi cisplatin 5-fluorouracil (5-FU) sebanyak 9 (19,6%). Kejadian trombositopenia pada penderita KNF yang mendapatkan kemoterapi paclitaxel cisplatin sebanyak 9 (69,2%) sedangkan kejadian trombositopenia pada penderita KNF yang mendapatkan kemoterapi cisplatin 5-fluorouracil (5-FU) sebanyak 4 (30,8%). Simpulan : Kejadian leukopenia dan trombositopenia ditemukan lebih banyak pada penderita KNF yang mendapat kemoterapi paclitaxel cisplatin dibandingkan dengan cisplatin 5-fluorouracil (-FU).Kata Kunci    : Karsinoma Nasofaring, Kemoterapi, paclitaxel cisplatin, cisplatin 5-fluorouracil (5-FU)

Page 17 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue