Jurnal Kedokteran Diponegoro
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Articles
1,040 Documents
PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA ANAK OBESITAS
Andi Wicaksono;
Erna Setiawati;
Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (357.218 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14223
Latar Belakang : Obesitas merupakan suatu kondisi dimana terdapat akumulasi lemak abnormal di jaringan adiposa yang mengganggu kesehatan, dimana dapat diketahui melalui Index Masa Tubuh (IMT). Seorang anak dapat dikatakan obesitas apabila IMT ≥ 95 persentil sesuai grafik pertumbuhan. Salah satu masalah yang dapat ditimbulkan dengan adanya obesitas adalah permasalahan sistem respirasi. Fungsi sistem respirasi dapat diketahui salah satunya dengan pengukuran arus puncak respirasi (APE). Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh obesitas adalah dengan melakukan latihan salah satunya berupa latihan sirkuit. Belum ada penelitian tentang pengaruh latihan sirkuit terhadap APE.Tujuan : Menganalisa perbedaan nilai arus puncak ekspirasi sebelum dan setelah pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas.Metode : Penelitian kuasi eksperimental ini menggunakan metode satu kelompok pretes postes dengan sampel sebanyak 17 anak obesitas. Subjek penelitian diberikan perlakuan dengan latihan sirkuit 2 kali dalam seminggu selama 6 minggu. Subjek penelitian diukur APE menggunakan peak flow meter sebelum dan sesudah 6 minggu pemberian latihan sirkuit.Hasil : Terdapat peningkatan nilai APE anak obesitas setelah melakukan latihan sirkuit selama 6 minggu dibandingkan dengan sebelum melakukan latihan sirkuit . Dimana APE sebelum melakukan latihan sirkuit 232,93 ± 22,29 L∕menit menjadi 257,06 ± 21,14 L∕menit setelah melakukan latihan sirkuit.Simpulan : Pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas meningkatkan nilai APE
HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN LENSA KONTAK TERHADAP SENSIBILITAS KORNEA
Anita Tri Kurniawati;
Riski Prihatningtias;
Maharani Maharani
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (291.944 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20669
Latar belakang : Lensa kontak merupakan alternatif pengganti kacamata yang banyak digunakan masyarakat, terutama perempuan berusia > 18 tahun. Pemakaian lensa kontak dapat mengurangi transmisi oksigen ke kornea sehingga berdampak pada perubahan fisiologis dan metabolisme sel di kornea. Hipoksia kornea dan tekanan mekanik akibat pemakaian lensa kontak dapat menurunkan sensibilitas kornea. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai sensibilitas kornea adalah lama pemakaian lensa kontak.Tujuan : Mengetahui hubungan lama pemakaian lensa kontak terhadap sensibilitas kornea Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah 50 mata dari 26 mahasiswi Universitas Diponegoro yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pemeriksaan sensibilitas kornea menggunakan estesiometer Cochet-Bonnet yang diukur sebanyak 3 kali dan dihitung rata-ratanya. Analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Spearman.Hasil : Berdasarkan dari 50 mata yang telah dilakukan pengukuran sensibilitas kornea, terdapat 2 mata dengan sensibilitas normal dan 48 mata dengan sensibilitas tidak normal. Lama pemakaian lensa kontak dan sensibilitas kornea memiliki hubungan yang bermakna (p = 0,001) dengan kekuatan korelasi sedang (r = -0,464).Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna dengan derajat korelasi sedang antara lama pemakaian lensa kontak dan sensibilitas kornea, yaitu semakin lama memakai lensa kontak sensibilitas kornea semakin rendah.
HUBUNGAN FIBRILASI ATRIUM TERHADAP PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF
Rofat Askoro Bimandoko;
Pipin Ardhianto;
Hexanto Muhartomo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (308.219 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15917
Latar Belakang: Fibrilasi atrium merupakan aritmia jantung yang paling sering ditemui. Fibrilasi atrium diyakini memiliki korelasi terhadap terjadinya gangguan kognitif namun mekanismenya masih belum diketahui dengan jelas. Salah satu instrumen untuk mengukur fungsi kognitif adalah Montreal Cognitive Assessment.Tujuan: Mengetahui hubungan fibrilasi atrium dengan penurunan fungsi kognitif yang diukur dengan metode Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina).Metode: Desain penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian dari 14 subjek dengan fibrilasi atrium dan 14 subjek dengan irama sinus di Instalasi Elang RSUP Dr.Kariadi Semarang pada bulan April hingga Mei 2016. Kelompok penelitian dilakukan penilaian fungsi kognitif dengan menggunakan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan fungsi kognitif pada subjek dengan fibrilasi atrium sebanyak 13 subjek (92,9%) dan subjek dengan irama sinus sebanyak 3 subjek (21,4%). Penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara fibrilasi atrium dengan kejadian penurunan fungsi kognitif (p=0,000).Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara fibrilasi atrium dengan penurunan fungsi kognitif.
PENGARUH LATIHAN DEEP BREATHING TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PEROKOK AKTIF
Dayita Sukma Destanta;
Erna Setiawati;
Rahmi Isma Asmara Putri
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (270.615 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23307
Latar Belakang: Merokok mengganggu oksigenasi tubuh dan fungsi fisiologis paru akibat kandungan zat karbon monoksida (CO) dan zat-zat lain. Latihan deep breathing dapat meningkatkan fungsi vital paru yang mana dapat memperbaiki pertukaran gas dan mempengaruhi saturasi oksigen. Tujuan: Membuktikkan pengaruh latihan deep breathing terhadap perubahan SpO2 pada perokok aktif. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain one group pre-test post-test. Sampel adalah 10 perokok dewasa aktif yang diseleksi dengan metode purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah timbangan, microtoise, dan pulse oximeter. Latihan deep breathing dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu dengan durasi 15 menit per latihan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Rerata SpO2 pre dan post latihan deep breathing akut adalah 96,9 ± 1,101 dan 98,2 ± 1,033; sedangkan rerata SpO2 post latihan deep breathing kronik adalah 98,4 ± 0,516. Pada analisis uji Wilcoxon didapatkan perbedaan bermakna pada analisis latihan akut (p=0,018) dan latihan kronik (p=0,010). Kesimpulan: Latihan deep breathing secara akut dan kronik memberikan peningkatan bermakna pada nilai saturasi oksigen perokok aktif.Kata kunci: Latihan deep breathing, SpO2, perokok aktif.
HUBUNGAN EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI IUD CUT380A TERHADAP PERSEPSI AKSEPTOR BARU IUD PASCASALIN PADA PRIMIPARA DAN MULTIPARA
Mailia Febriani;
Ratnasari Dwi Cahyanti
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (327.364 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18596
Latar belakang IUD (Intra Uterine Device) merupakan metode kontrasepsi reversibel jangka panjang yang memiliki efektivitas tinggi (97-99%). IUD, terutama jenis CuT380A, merupakan alat kontrasepsi rekomendasi pemerintah dan saat ini menjadi kontrasepsi pilihan utama. Berdasarkan sebuah studi, saat ini terdapat peningkatan angka kegagalan penggunaan IUD CuT380A terkait efek samping dan komplikasi yang ditimbulkannya. Efek samping dan komplikasi yang dialami akseptor menimbulkan persepsi terhadap penggunaan IUD CuT380A.Tujuan menganalisis hubungan efek samping dan komplikasi IUD CuT380A terhadap persepsi akseptor baru IUD pascasalin pada primipara dan multipara.Metode penelitian kohort retrospektif ini menggunakan totally sampling untuk mengumpulkan responden yang memenuhi kriteria. Subjek penelitian merupakan wanita yang melahirkan di RSUP Dr.Kariadi Semarang pada bulan Oktober-Desember 2015 dan menggunakan IUD pascasalin sebagai pilihan alat kontrasepsi.Hasil terdapat 40 responden yang terdiri atas 20 akseptor primipara dan 20 akseptor multipara. Dalam studi ini ditemukan 7 akseptor primipara dan 15 akseptor multipara dengan efek samping dan komplikasi berat yang memiliki persepsi sedang. Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara efek samping dan komplikasi terhadap persepsi akseptor baru IUD CuT380A pascasalin pada primipara (p=0,966) maupun multipara (p=0,091)Simpulan Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik mengenai efek samping dan komplikasi IUD CuT380A terhadap persepsi akseptor baru IUD CuT380A post-partum primipara dan multipara.
ASSOCIATION OF THIRD TRIMESTER MATERNAL HEMOGLOBIN WITH MEASUREMENT OF NEWBORN’S ANTRHROPOMETRY
Rahman, Farhan Aulia;
Anantyo, Dimas Tri;
Dewantiningrum, Julian;
Haryana, Bambang
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (457.77 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26572
Background: More than 20 million babies are born each year with a body weight of less than 2500 g, and 17% of all births in developing countries. Birth weight plays a role in mortality and morbidity, development and, future health of children. Low birth weight is a significant risk factor for infant death and other physical disorders. Anemia that occurs in maternal can increase the risk of mortality, perinatal morbidity and can affect the state of newborns. Anemia in maternal is related to low gestational age, low birth weight, and increased risk of small infants for gestational age. Research on the relationship of maternal’s hemoglobin levels in third trimester to anthropometric measurement of newborns has never been carried out at Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND). Objective: This study aims to determine relationship between maternal’s hemoglobin levels in third trimester with anthropometry of newborns. Method: This research was a study with cross sectional design. Data is collected from medical records at RSND. Babies born viewed medical records to determine inclusion criteria in the study. Anthropometric data were collected for newborns and the third trimester hemoglobin level was recorded in pregnant women. Assosiation analytic was performed with chi square test. Results: There was a significant relationship between maternal’s hemoglobin levels in third trimester with measurements of newborn weight, body length, and head circumference. Conclusion: Maternal’s hemoglobin in third trimester affect the measurement of weight, body length, and head circumference neonates.Keywords: anemia, hemoglobin, anthropometry, maternal, newborn
PERBANDINGAN NILAI FLEKSIBILITAS TUBUH IBU POST PARTUM YANG MELAKUKAN DAN TIDAK MELAKUKAN SENAM PILATES
Dyah Ayu Prabandani;
Budi Laksono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (366.875 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14269
Latar Belakang : Mengukur nilai fleksibilitas tubuh adalah salah satu cara untuk mengetahui tingkat kelenturan tubuh seorang ibu, yang dapat berpengaruh terhadap ruang gerak sendi. Pada ibu post partum akan mengalami beberapa perubahan seperti pengendoran otot dan bertambahnya berat badan yang dapat berpengaruh terhadap ruang gerak sendi. Senam pilates merupakan jenis senam yang populer di Indonesia yang menonjolkan stretching sehingga melatih kelenturan tubuh.Tujuan Penelitian : Membuktikan perbandingan nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang melakukan dan tidak melakukan senam pilates.Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah cross sectional. Sampel penelitian adalah kelompok pesenam pilates dan non pilates(n=15 tiap kelompok) yang diukur fleksibilitasnya dengan Sit and Reach Test. Uji hipotesis menggunakan uji T – tidak berpasangan.Hasil Penelitian : Rerata nilai fleksibilitas kelompok pesenam pilates adalah 39,47±5,18 dengan nilai terendah 31,5 cm dan nilai tertinggi 46,5 cm. Rerata nilai fleksibiltas kelompok non pilates adalah 32,5±3,5 dengan nilai terendah 26 cm dan nilai tertinggi 38 cm. Rerata nilai fleksiblitas kelompok pesenam pilates lebih besar dibanding rerata nilai fleksibilitas kelompok non pilates.Kesimpulan : Rerata nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang rutin melakukan senam pilates lebih tinggi dibanding rerata nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang tidak melakukan senam pilates.
PERBANDINGAN ANTARA NILAI RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT (NLCR) PADA ANAK DENGAN DEMAM DENGUE DAN DEMAM BERDARAH DENGUE
Putri Java Islami Yuntoharjo;
Nahwa Arkhaesi;
Hardian Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (393.669 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20741
Latar belakang: Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi. Kriteria WHO (2011), terdapat beberapa hasil pemeriksaan darah seperti leukosit, trombosit, hematokrit yang berperan penting dalam perjalanan klinis infeksi dengue. Didukung penelitian sebelumnya mengenai NLCR sebagai prediktor atau marker inflamasi.Tujuan: mengetahui perbedaan antara nilai rasio neutrofil limfosit (NLCR) pada anak dengan DD dan anak dengan DBD.Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang (cross sectional). Pengambilan subyek dilakukan dengan cara consecutive sampling. Subyek penelitian adalah 46 pasien infeksi dengue yang dirawat inap di RSUP Dr. Kariadi dan RSND Semarang periode 2015-2017. Data yang dikumpulkan adalah usia, jenis kelamin, status gizi dan NLCR.Hasil: Terdapat perbedaan nilai rasio neutrofil limfosit yang bermakna secara statistik (p<0,001) antara pasien DD dan DBD. NLCR pada DBD (0,55 (±0,33 SB)) lebih rendah dari pada DD (1,8 (±1,23 SB)). Rerata neutrofil pada DBD (1530 sel/ul) lebih rendah dari pada DD (2384 sel/ul). Rerata limfosit pada DBD (3251 sel/ul) lebih tinggi dari pada DD (1659 sel/ul). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur (p=0,748), jenis kelamin (p=0,555) dan status gizi (p=0,289) terhadap kelompok DD dan DBD.Kesimpulan: Rerata nilai NLCR pada demam berdarah dengue lebih rendah dari pada demam dengue.
FAKTOR RISIKO KARDIOMIOPATI DILATASI DI RUMAH SAKIT DR. KARIADI SEMARANG
Ahmad Mumtaz;
Andreas Arie Setiawan
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (348.198 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v6i1.16058
Latar Belakang: Kardiomiopati adalah sekumpulan kelainan pada jantung dengan kelainan utama terbatas pada miokardium. Kondisi ini seringkali berakhir dengan menjadi gagal jantung. Di Indonesia, jenis kardiomiopati yang paling banyak dijumpai adalah kardiomiopati dilatasi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kardiomiopati dilatasi di Rumah Sakit dr. Kariadi Semarang.Metode: cross-sectionalHasil: terdapat 4 faktor yang mempengaruhi, yaitu usia (p=0,000); riwayat keluarga (p=0,000); konsumsi alkohol (p=0,000); dan obesitas (p=0,000)Kesimpulan: usia, riwayat keluarga, konsumsi alkohol, dan obesitas mempengaruhi terjadinya kardiomiopati dilatasi sementara jenis kelamin dan diabetes melitus tidak mempengaruhi.
PENGARUH PEMBERIAN KALSIUM TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN HEMATOKRIT MENCIT BALB/C YANG DIINDUKSI TIMBAL
Stevani Dwi Oktavia;
Saebani Saebani;
Tuntas Dhanardhono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (337.95 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23393
Latar Belakang: Timbal merupakan substansi berbahaya yang mudah kita temui di lingkungan. Akumulasi timbal dalam tubuh dapat menyebabkan efek toksik pada sistem hematopoiesis dan mengakibatkan anemia. Pada saluran pencernaan, kalsium memiliki mekanisme absorbsi yang serupa dengan timbal sehingga dapat menghambat absorbsi timbal ke dalam darah. Tujuan: Mengetahui bahwa pemberian kalsium berpengaruh positif terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit mencit Balb/c yang diinduksi timbal. Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Delapan belas ekor mencit Balb/c jantan dengan berat badan berkisar 20-30 gram dibagi menjadi 3 kelompok secara acak. Kelompok K diberi aquades, kelompok P1 diberi larutan timbal asetat 10 mg/kgBB peroral, dan kelompok P2 diberi larutan timbal asetat 10 mg/kgBB serta kalsium karbonat 62,5 mg/kgBB peroral. Perlakuan berlangsung selama 30 hari dan dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni. Hasil: Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) pada kadar hemoglobin dan hematokrit antarkelompok. Melalui uji post hoc didapatkan kelompok P1 memiliki kadar hemoglobin dan hematokrit yang secara signifikan lebih rendah daripada kelompok K, sedangkan pada kelompok P2 kadar hemoglobin dan hematokrit secara signifikan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok P1. Kesimpulan: Pemberian kalsium berpengaruh positif terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit mencit Balb/c yang diinduksi timbal.Kata kunci: Timbal, kalsium, hemoglobin, hematokrit, mencit Balb/c.