cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PENGARUH PEMBERIAN RANITIDINE TERHADAP HISTOPATOLOGI HIPOKAMPUS TIKUS WISTAR DENGAN INTOKSIKASI METANOL AKUT Fernando Fernando; Mohammad Thohar Arifin; Ika Pawitra Miranti
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.801 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14432

Abstract

Latar belakang : Metanol merupakan salah satu senyawa yang dapat merusak secara sistemik akibat dari asidosis. Salah satu organ yang terkena dampak adalah hipokampus. Ranitidine diketahui dapat menurunkan kadar asam format dalam darah sehingga dapat mengurangi dampak toksik dari metanol.Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian ranitidine terhadap histopatologi hipokampus tikus Wistar dengan intoksikasi metanol akut.Metode : Penelitian true experimental dengan rancangan parallel post test only control group design ini menggunakan tikus strain Wistar jantan usia 2-3 bulan (n=15) yang secara random dibagi menjadi 3 kelompok (kelompok kontrol negatif (n=5), kelompok kontrol positif (n=5), dan perlakuan (n=5)). Pada 8 jam setelah pemberian perlakuan, otak tikus diambil dan diperiksa persentase nekrosis dari sel hipokampus dengan pengecatan HE . Uji statistik yang digunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan antar kelompok perlakuan.Hasil : Pada penelitian ini didapatkan peningkatan jumlah sel nekrosis hipokampus pada kelompok kontrol positif dibandingkan kontrol negatif dan penurunan pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol positif. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol positif dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (p=0.008), dan perlakuan (p=0.008). Akan tetapi tidak ada perbedaan antara kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (p=0.690).Simpulan : Permberian ranitidine dapat mengurangi derajat nekrosis sel pada sel hipokampus tikus Wistar dengan intoksikasi metanol akut.
KORELASI ANTARA PANJANG LENGAN DAN TUNGKAI DENGAN KECEPATAN RENANG GAYA BEBAS 50 METER (STUDI PADA KLUB RENANG SPECTRUM SEMARANG) Choiria Mulyawati; Marijo Marijo; Darmawati Ayu Indraswari
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.913 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20847

Abstract

Latar Belakang: Renang merupakan olahraga yang paling baik untuk menyelamatkan jiwa dikarenakan dapat membangun kepercayaan diri secara menyeluruh, dan juga merupakan olahraga rileks maupun mengolah tubuh. Dalam perlombaan renang, kecepatan merupakan komponen yang dinilai. Kecepatan renang sendiri dipengaruhi oleh berbagai macam faktor salah satunya adalah struktur anatomi tubuh perenang. Struktur anatomi tubuh perenang yang dapat mempengaruhi kecepatan renang seseorang diantaranya adalah panjang lengan, panjang tungkai, dan tinggi badan.Tujuan: Mengetahui hubungan panjang lengan dan tungkai terhadap kecepatan renang 50 meter.Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang dilaksanakan di GOR Manunggal Jati Semarang. Subyek penelitian ini adalah 17 atlet renang klub Spectrum Semarang (n=17). Pengukuran panjang lengan dan tungkai dilakukan dengan menggunakan mistar gulung, sedangkan kecepatan renang diukur menggunakan stopwatch dengan lintasan 50 meter. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji hipotesis Spearman dan regresi linier berganda.Hasil: Pada penelitian didapatkan data panjang lengan dengan rerata 49.44±6.09 cm; data panjang tungkai dengan rerata 75.47±8.56 cm; dan data kecepatan renang 50 meter dengan rerata 1.22±1.99 ms-1. Uji korelasi Spearman antara panjang lengan dengan kecepatan renang menunjukkan korelasi positif yang bermakna (r=0.880; p=0.000). Uji korelasi Spearman antara panjang tungkai dengan kecepatan renang menunjukkan korelasi positif yang bermakna (r=0.881; p=0.000). Uji regresi linier berganda antara panjang lengan dan tungkai dengan kecepatan renang menunjukkan korelasi positif (R=0.873; R2=0.762).Kesimpulan: Terdapat korelasi antara panjang lengan dan tungkai dengan kecepatan renang 50 meter.
HUBUNGAN KADAR LAKTAT TERHADAP LAMA PERAWATAN DI INSTALASI RAWAT INTENSIF PADA PASIEN PASCABEDAH PINTAS ARTERI KORONER Dhika Adhi Pratama; Sulistiyati Bayu Utami; Ariosta Ariosta
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.025 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i4.18380

Abstract

Latar Belakang : Penyakit jantung koroner merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang menjadi penyebab nomor satu kematian di dunia setiap tahunnya. Salah satu penatalaksaan yang dapat dilakukan adalah bedah pintas arteri koroner (BPAK). Hiperlaktatemia pascabedah dengan Cardiopulmonary Bypass dikaitkan dengan rendahnya perfusi jaringan, yang akan memperburuk luaran pascabedah. maka dibutuhkan suatu penanda untuk memprediksi luaran pascabedah.Tujuan : Mengetahui adanya hubungan kadar laktat dengan lama rawat inap di ruang Instalasi Rawat Intensif pada pasien pasca BPAK.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian korelasi observasional dengan rancangan Kohort Prospektif. Subjek penelitian sebanyak 55 orang dipilih secara consecutive sampling dari pasien pascabedah pintas arteri koroner di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Uji hipotesis menggunakan uji komparatif Mann-Whitney dan Uji Korelasi Spearman.Hasil : Terdapat korelasi yang bermakna antara kadar laktat dan lama rawat  IRIN. (p=0,002). Nilai korelasi spearman (0,400) menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel. Tidak terdapat perbedaan bermakna lama rawat antara kelompok kadar laktat <4 mmol/L dan ≥4 mmol/L (p=0,612). Rata-rata kadar laktat darah pada pasien pascabedah pintas arteri koroner adalah 4,1 mmol/L.Simpulan : Terdapat hubungan kadar laktat dengan lama rawat di Instalasi Rawat Intensif pada pasien pascabedah pintas arteri koroner. Tidak terdapat perbedaan bermakna lama rawat inap pada pasien pascabedah katup jantung rematik dengan kadar laktat <4 mmol/L dan ≥4 mmol/L.
PENGARUH PAPARAN INHALASI PUPUK NANOSILIKA DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI ORGAN HEPAR TIKUS WISTAR JANTAN Dewa Ayu Anggi Paramitha; Ika Pawitra Miranti
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.796 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23785

Abstract

Latar belakang: Penggunaan pupuk nanosilika koloid secara luas menyebabkan rumah tangga pertanian Indonesia berisiko terpapar lewat jalur semprot. Pada penelitian sebelumnya, inhalasi nanosilika dapat menyebabkan masalah organ  paru dan hepar karena dapat berpindah ke sirkulasi sistemik. Untuk itu, efek toksisitas pupuk nanosilika secara inhalasi penting untuk diuji pada organ hepar pada hewan coba. Tujuan: Mengamati pengaruh paparan inhalasi pupuk nanosilika koloid terhadap gambaran histopatologi hepar pada tikus Wistar jantan. Metode: Penelitian menggunakan desain Post Test Only Control Group dengan sampel 24 tikus Wistar yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu K diberi inhalasi aquades, kelompok perlakuan diberi inhalasi pupuk nanosilika dengan dosis P1 7 ml/L, P2 35 ml/L, dan P3 175 ml/L. Semua kelompok diberi inhalasi 2 kali sehari selama 14 hari. Preparat organ hepar diamati dibawah mikroskop cahaya, jumlah hepatosit degenerasi/nekrosis (sel/LP) dan derajat infiltrasi sel inflamasi porta dinyatakan dengan modified Knodell score.1 Data dianalisis dengan uji Kruskall-Wallis dan dilanjutkan dengan Mann-Whitney. Hasil: Jumlah hepatosit degenerasi/nekrosis memiliki perbedaan bermakna (p=0,017) antara K [0,00(0,00-0,00)] dengan P1 [3,90(0,00-20,20)] dan P2 [1,70(0,80-8,20)], namun tidak bermakna pada P3 [1,30(0,00-5,60)] dan antar kelompok lainnya. Derajat infiltrasi sel inflamasi memiliki perbedaan bermakna (p=0,000). Derajat inflamasi terberat terdapat pada kelompok P2 (23.3% berat) dan teringan pada kelompok kontrol (100% ringan). Kesimpulan: Paparan inhalasi pupuk nanosilika pada tikus Wistar jantan dapat menyebabkan degenerasi/nekrosis pada hepatosit dan infiltrasi sel inflamasi periporta yang signifikan secara statistik.Kata kunci: Nanosilika, Inhalasi, Hepar, Tikus Wistar, Histopatologi, Dosis, Konsentrasi
PENGARUH PEMAKAIAN SABUN SULFUR TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS: PENELITIAN KLINIS PADA MAHASISWI PENDERITA AKNE VULGARIS YANG DIBERI TERAPI STANDAR TRETINOIN 0,025% + TSF 15 Mejestha Rouli Puspitasari; Puguh Riyanto
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.125 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14814

Abstract

Latar Belakang : Akne vulgaris (AV) adalah kelainan kulit pada unit pilosebasea yang ditandai dengan komedo terbuka dan tertutup, papul, pustul, sampai pseudokista. Walaupun tidak berbahaya, AV mempunyai dampak besar bagi fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk memperbaiki prognosis penderita. Sabun sulfur sebagai keratolitik dan antimokroba digunakan sebagai salah satu terapi AV.Tujuan : Membuktikan pengaruh pemakaian sabun sulfur terhadap jumlah lesi akne vulgaris.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Randomized Controlled Trial. Subjek penelitian berjumlah 40 orang yang terdiri dari 20 orang kelompok control dan 20 orang kelompok perlakuan. Kelompok kontrol diberikan obat topikal AV tretinoin 0,025% dan tabir surya SPF 15, sedangkan kelompok perlakuan diberikan tretinoin 0,025%, tabir surya SPF 15, dan sabun sulfur. Hari pertama dihitung jumlah lesi AV awal kemudian setelah subjek 4 minggu diberi perlakuan sesuai kelompoknya, dihitung jumlah lesi AV akhir. Uji statistik menggunakan uji T berpasangan dan uji T tidak berpasangan.Hasil : Rata-rata total lesi AV awal adalah 64,80 pada kelompok control dan 53,90 pada kelompok perlakuan. Rata-rata total lesi AV akhir kelompok control adalah 55,35 dan pada kelompok perlakuan adalah 38,15. Pada uji T berpasangan didapatkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada total lesi awal dan akhir kelompok control (p=0,060) dan didapatkan perbedaan signifikan pada total lesi awal dan akhir kelompok perlakuan (p=0,017). Pada uji T tidak berpasangan didapatkan selisih total lesi AV pada kedua kelompok memiliki perbedaan yang bermakna (p=0,012).Kesimpulan : Pemberian sabun sulfur dapat menurunkan jumlah lesi akne vulgaris
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KEMANGI (OCIMUM SANCTUM L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO Tiffanny Nur Shabrina; Widyawati Widyawati; Purnomo Hadi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.27 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18642

Abstract

Latar belakang: Angka resistensi antibiotik dalam pengobatan penyakit gonore semakin meningkat. Hal itu mengharuskan paramedis untuk mencari pengobatan alternatif baru untuk pengobatan gonore. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah tanaman obat atau herbal. Daun kemangi (Ocimum sanctum L.) memiliki efek antimikroba yang berpotensi menjadi alternatif pengobatan gonore.Tujuan: Mengetahui efektivitas ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum L.) dalam menghambat pertumbuhan Neisseria gonorrhoeae secara in vitroMetode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Sampel adalah biakan bakteri Neisseria gonorrhoeae yang didapatkan dari hasil swab endoserviks penderita yang dikonfirmasi melalui pengecatan gram, tes oksidase, uji gula-gula, dan kultur pada media Thayer-Martin (TM). Biakan bakteri kemudian ditanam di media kontrol positif (K1), kontrol negatif (K2), media TM yang mengandung ekstrak daun kemangi konsentrasi 60% (P1), konsentrasi 80% (P2), dan konsentrasi 100% (P3). Masing-masing kelompok penelitian terdiri dari 15 sampel. Uji hipotesis menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Analisis perbandingan kelompok perlakuan terhadap acuan kontrol positif (K1), didapatkan P1 tidak memiliki perbedaan bermakna (p=0,224), sedangkan P2 dan P3 keduanya memiliki perbedaan bermakna (p=0,000) terhadap K1 dalam menghambat pertumbuhan Neisseria gonorrhoeae.Simpulan: Ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum L.) memiliki efektivitas dalam menghambat pertumbuhan Neisseria gonorrhoeae secara in vitro pada konsentrasi 80% dan 100% dengan konsentrasi paling efektif yaitu 80%
FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KENDURUAN, KABUPATEN TUBAN Lingga Hageng Kurnia Santosa; Shofa Chasani; Setyo Gundhi Pramudo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.268 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14806

Abstract

Latar Belakang : Salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan penting di seluruh dunia adalah hipertensi, dikarenakan prevalensinya yang tinggi dan terus meningkat serta hubungannya dengan penyakit kardiovaskuler, stroke, retinopati, dan penyakit ginja.Tujuan : Mengetahui hubungan faktor risiko hipertensi terhadap kejadian hipertensi derajat 1 dan derajat 2 pada Pasien yang berobat di Puskesmas Kenduruan , Kabupaten Tuban, Jawa Timur.Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 75 responden yang menderita hipertensi. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kenduruan, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban pada bulan Maret 2016. Sampel diambil secara konsekutif sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara langsung serta pemeriksaan fisik berupa pengukuran tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan. Analisis data dilakukan secara bertahap meliputi analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda metode Backward Stepwise (Likelihood Ratio) pada program SPSS.Hasil : Hasil uji statistik dengan regresi logistik berganda tidak menunjukkan adanya perbedaan antara faktor risiko hipertensi stage I dan hipertensi stage II pada masyarakat di Puskesmas Kenduruan, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban. Dengan riwayat keluarga (p = 0,586; OR = 1,36 dan 95% CI = 0,449 – 4,117), usia ( p = 1,000; OR = 1,131 dan 95% CI = 0,27 – 4,72), merokok (p = 1,000; OR = 0,94 dan 95% CI = 0,18 – 5,05), obesitas (p = 0,749; OR = 1,18 dan 95% CI = 0,33 – 4,28), jenis kelamin ( p = 0,725; OR = 0,69 dan 95% CI = 0,19 – 2,54), konsumsi garam (p = 1,000; OR = 0,5 dan 95% CI = 0,06 – 4,35), konsumsi lemak (p = 0,72; OR = 0,082 dan 95% CI = 0,11 – 2,8 ), aktivitas fisik (p = 0,033; OR = 4,32; 95% CI = 1,28 – 14,58 ) dan konsumsi alkohol (p = 1,000 ).Simpulan : Riwayat keluarga, usia, merokok, obesitas, jenis kelamin, konsumsi garam, konsumsi lemak, aktivitas fisik dan konsumsi alkohol tidak didapatkan hasil yang berbeda sebagai faktor-faktor risiko hipertensi stage I maupun hipertensi stage II.
PENGARUH PEMBERIAN BUTYLATED HYDROXYTOLUENE (2,6-DI-TERT-BUTYL-4-METHYLPHENOL) PER ORAL DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS HEPAR TIKUS WISTAR Windi Novita Sari; Saebani Saebani; Tuntas Dhanardhono
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.422 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21282

Abstract

Latar Belakang: Butylated Hydroxytoluene (2,6-Di-tert-butyl-4-methylphenol/BHT) adalah antioksidan umum dan aman dalam makanan, obat-obatan, dll. BHT memiliki potensi sebagai salah satu alternatif antioksidan. Penggunaan BHT yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan hepar. Hepar memiliki fungsi dan peran kompleks dan dapat rusak oleh senyawa kimia hepatotoksik. Konsumsi jangka panjang antioksidan BHT menjadi salah satu penyebab kerusakan hati manusia.Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian Butylated Hydroxytoluene per oral terhadap gambaran histopatologi hepar tikus Wistar.Metode: Penelitian ini merupakan post test only control group design yang menggunakan tikus Wistar jantan, dibagi 1 kelompok kontrol & 3 kelompok perlakuan dengan randomisasi sederhana. Sampel 20 ekor tikus wistar jantan, diadaptasi 1 minggu, lalu kelompok tikus mendapat perlakuan berbeda selama 14 hari. Semua kelompok perlakuan diberi BHT secara sonde selama 14 hari oleh tenaga ahli setiap pagi dengan dosis 300 mg untuk kelompok 1, 600 mg untuk kelompok perlakukan 2, dan 1200 mg untuk kelompok perlakukan 3. Setelah diberi perlakuan, tikus dalam 14 hari dimatikan. Selanjutnya heparnya diambil, setiap tikus dibuat 5 preparat hepar dan 5 lapangan pandang dengan perbesaran 100x dan 400x. Setiap preparat dihitung nilai rerata degenerasi.Hasil: Rerata degenerasi sel hepar tertinggi pada kelompok perlakukan 3. Pada degenerasi terdapat perbedaan gambaran histopatologi yang bermakna secara statistik (<0,05) antara p1 terhadap p2 (p=0,008), p1 terhadap p3 (p=0,008), p1 terhadap K (p=0,008), P2 terhadap P3 (p=0,008), P2 terhadap K (p=0,008), dan P3 terhadap K (p=0,007).Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian Butylated Hydroxytoluene per oral terhadap gambaran histopatologi hepar tikus Wistar.
PENGARUH RHODAMINE B PERORAL DOSIS BERTINGKAT SELAMA 12 MINGGU TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS JANTUNG TIKUS WISTAR Bayu Arif Wibowo; Saebani Saebani
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.26 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i2.11627

Abstract

Background : Rhodamine B dye is available in the market for the textile industry. This substance is often misused as a food coloring and cosmetics in many countries. This substance is most dangerous when consumed can cause disturbances in the function of organs, in the long term could be carcinogenic. This study aims to prove the existence of a relationship with a rhodamine-dose cardiac muscle cell damage Objective.Objective : To ascertain the differences of the images of cardiac histopathology caused by administration of Rhodamine B peroral with graded doses in 12 weeks.Methods : This research is True experimental laboratoric using post test only control group as it’s design. Sample of this research are 30 male wistar rat that fulfill the criteria for inclusion and exclusion, then divided randomly using simple random sampling. Rhodamine B consumption is 0 mg/kg BW in control group; 1/16 lethal dose (55,44 mg/kg BW) in treatment group I; 1/8 lethal dose (110,88 mg/kg BW) in treatment group II; 1/4 lethal dose (221,75 mg/kg BW) in treatment group III; 1/2 lethal dose (443,5 mg/kg BW) in treatment group IV; lethal dose (887 mg/kg BW) in treatment group V. Data collection is done with direct observation of images of spleen histopathology. Hypothesis testing using one-way Anova test continued with Post Hoc test.Result : There is an increase area of fibrosis in treatment 1, treatment 2, treatment 3, treatmen 4. Highest increasement on fibrosis area is found in traetment 4Conclusion : The myocardial has increased by time to time development, especially significant at group 4
KUALITAS RUJUKAN IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMPSIA/EKLAMPSIA DI UGD OBSTETRI-GINEKOLOGI RSUP DR. KARIADI SEMARANG PERIODE TAHUN 2013-2016 Baladina Nur Baiti; Ratnasari Dwi Cahyanti
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.189 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19353

Abstract

Latar Belakang : Preeklampsia/eklampsia merupakan salah satu penyebab kematian ibu di Indonesia. Rujukan memegang peranan penting dalam tiga fase keterlambatan yang berkonstribusi di dalam kematian ibu, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan, dan terlambat mendapat pelayanan yang adekuat.Tujuan : Mengetahui kualitas rujukan ibu hamil dengan preeklampsia/eklampsia di UGD Obstetri-Ginekologi RSUP Dr.Kariadi Semarang periode tahun 2013-2016 dan menganalisis hubungan antara komplikasi, sistem rujukan, stabilisasi pra rujukan, serta response time.Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain crosssectional. Sebanyak 602 sampel diambil dari catatan medis pasien preeklampsia/eklampsia yang dirujuk ke RSUP Dr.Kariadi Semarang. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien dan karakteristik rujukan. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk setiap variabel yang dinilai serta Chi-Square untuk uji analisis.Hasil : Karakteristik pasien preeklampsia/eklampsia terbanyak adalah usia ibu 20-35 tahun (2015=73,6%), usia hamil 37-41 minggu (2013=55,6%), paritas 2-3 kali (2014=48,7%), keluhan terbanyak hipertensi (2016=63,0%), tanpa riwayat preeklampsia/eklampsia pada kehamilan sebelumnya (2014=93,6%) maupun pada keluarga (2014=97,4%), asal rujukan dari RS Pemerintah (2016=52,8%), diagnosis terbanyak preeklampsia berat (2015=85,5%), dan tanpa komplikasi (2013=68,6%). Stabilisasi pra rujukan makin baik dengan stabilisasi tepat yaitu telah diberikan MgSO4 sebelum dirujuk (2013=43,1%; 2016=73,1%). Persiapan rujukan yang telah sesuai dengan prosedur adalah surat rujukan (2016=100%) dan transportasi menggunakan ambulans (2016=88,9%). Pembiayaan tepat menggunakan BPJS/Askes/Jamsostek (2015=69,1%) maupun Jaminan kesehatan (2013=84,6%). Response time makin baik dengan waktu <= 10 menit (2013=43,8%; 2016=84,3%). Sistem rujukan masih bervariasi antara rujukan tepat waktu (2013=62,7%; 2016=43,5%) dengan rujukan terlambat (2013=37,3%; 2016=56,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara komplikasi dengan sistem rujukan (p=0,000). Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara response time dengan sistem rujukan (p=0,057). Terdapat hubungan yang signifikan antara stabilisasi pra rujukan dengan response time (p=0,005).Simpulan : Sistem rujukan makin baik dengan meningkatnya stabilisasi tepat dan response time <= 10 menit.

Page 23 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue