cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PENGARUH STIMULASI MEDIA INTERAKTIF TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK 2-3 TAHUN Wida Rahmawati; Arwinda Nugraheni; Farid Agung Rahmadi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.251 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15982

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan bahasa merupakan indikator dari seluruh gangguan perkembangan. 80 % gangguan perkembangan disebabkan oleh kurangnya stimulasi. Media interaktif merupakan salah satu stimulasi di era digital ini. Media interaktif merupakan media audio visual yang diperkirakan dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak 2-3 tahun. Media ini dapat meningkatakan kosa kata, fonasi serta kemampuan anak untuk memahami warna, dan angka.Tujuan: Menganalisis perkembangan bahasa anak setelah pemberian stimulasi media interaktifMetode: Penelitian ini berjenis quasi eperimental dengan rancangan pre test dan post test design. Sampel dipilih dengan mengunakan teknik purposive sampling. Sampel merupakan siswa dari Toddller Setulus Hati dan Tadika Puri Kota Semarang (n=30). Pemberian intervensi media interaktif dilakukan selama 3 minggu (2 kali dalam satu minggu) dengan durasi 30 menit setiap pemberian intervensi. Perkembangan bahasa dinilai sebelum dan sesudah pemberian intervensi selama 3 minggu dengan menggunakan instrument Capute Scale.Hasil: Didapatkan peningkatan perkembangan yang bermakna sebelum dan sesudah pemberian intervensi media interaktf dengan nilai (P = 0,0001)Simpulan: Terdapat peningkatan perkembangan bahasa anak sesudah stimulasi media interaktif
HUBUNGAN ANTARA IMT, KADAR SGOT DAN SGPT PLASMA DENGAN BONE MINERAL DENSITY PADA LANSIA Nazila Tsalisati Hadaita; Andrew Johan; Lusiana Batubara
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.054 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23349

Abstract

Latar Belakang : Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit penduduk dari penyakit menular ke penyakit degeneratif, salah satunya osteoporosis. Nilai IMT yang rendah dapat menjadi faktor risiko terjadinya osteoporosis berkaitan dengan rendahnya hormon estrogen. Kerusakan sel hepar juga berperan dalam kejadian osteoporosis berkaitan dengan fungsinya sebagai tempat hidroksilasi vitamin D yang selanjutnya berperan dalam menjaga kepadatan mineral tulang. Tujuan : Mengetahui hubungan antara IMT, kadar SGOT dan SGPT plasma dengan BMD pada lansia. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 84 lansia wanita yang diperoleh dengan menggunakan teknik simple random sampling dari beberapa Posyandu Lansia di Semarang. Pengukuran IMT dilakukan dengan mengukur BB dan TB subyek penelitian. Pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT plasma dilakukan dengan metode kinetik enzimatik. Pemeriksaan BMD dilakukan dengan metode DXA pada regio vertebra lumbar. Uji statistik yang digunakan adalah uji Pearson dan Spearman. Hasil : Diperoleh hubungan yang signifikan (p-value 0,000) antara IMT dengan BMD lumbar dengan kekuatan korelasi sedang (r = 0,545) dan hubungan positif yang berarti semakin tinggi IMT maka semakin tinggi pula BMD lumbar. Tidak diperoleh adanya hubungan yang signifikan antara kadar SGOT dan SGPT plasma dengan BMD lumbar (p-value 0,308 dan 0,242). Tidak diperoleh adanya hubungan yang signifikan antara usia dengan BMD lumbar (p-value 0,078). Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara usia, kadar SGOT plasma, dan SGPT plasma dengan BMD lumbar pada lansia. Namun, terdapat hubungan positif antara IMT dengan BMD lumbar pada lansia dengan kekuatan korelasi sedang.Kata Kunci : Lansia, osteoporosis, usia, IMT, SGOT, SGPT, BMD.
PENGARUH PEMBERIAN ANALGESIK KOMBINASI PARASETAMOL DAN TRAMADOL TERHADAP KADAR SERUM GLUTAMAT PIRUVAT TRANSAMINASE Peggy Rahmat Syahputra; Taufik Eko Nugroho
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.052 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18615

Abstract

Latar Belakang : Kombinasi parasetamol dan tramadol merupakan analgesik kombinasi yang ideal dan efektif dalam menangani nyeri derajat sedang sampai berat. Keduanya bekerja pada mekanisme berbeda dalam penangan nyeri. Dibalik keunggulan tersebut, obat ini juga memiliki potensi efek samping pada tubuh dalam pemakaiannya, salah satunya terhadap hati.Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian analgesik kombinasi parasetamol dan tramadol terhadap kadar SGPT tikus wistar.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Post Test Only Control Group Design. Sampel adalah 20 ekor tikus wistar dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok pemberian parasetamol 9 mg, kelompok pemberian tramadol 0,9 mg, dan kelompok pemberian kombinasi parasetamol 9 mg dan tramadol 0,9 mg. pemberian dilakukan secara oral dengan sonde lambung sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Hari ke-15, dilakukan pengambilan darah melalui pembuluh darah retroorbita untuk diukur  kadar SGPT. Uji statistik menggunakan uji ANOVA dan Post-Hoc.Hasil : Hasil penelitian diperoleh dari uji statistik dimana tidak didapatkan perbedaan kadar SGPT yang bermakna pada tikus wistar yang mendapat pemberian parasetamol dibandingkan kelompok kontrol (p = 0,651), kelompok pemberian tramadol dibandingkan kelompok kontrol (p = 0,283), kelompok yang mendapat pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol dibandingkan kelompok kontrol (p = 0,804), kelompok pemberian parasetamol dibandingkan kelompok pemberian tramadol (p = 0,124), kelompok pemberian parasetamol dibandingkan kelompok pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol (p = 0,798), kelompok pemberian tramadol dibandingkan kelompok pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol (p = 0,192).Simpulan : Tidak terdapat perbedaan kadar SGPT yang bermakna antara pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol dibandingkan dengan kelompok kontrol.
PERBEDAAN ANTARA KESEIMBANGAN TUBUH SEBELUM DAN SESUDAH SENAM PILATES PADA WANITA USIA MUDA Gerry Risangdiptya; Endang Ambarwati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.035 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14452

Abstract

Latar Belakang : Olahraga merupakan serangkaian aktivitas fisik yang berfungsi untuk menjaga serta meningkatkan kesehatan baik fisik maupun rohani. Salah satu olahraga yang sedang populer di Indonesia khususnya pada kaum wanita adalah senam pilates. Penekanan pada latihan pilates adalah pada pernafasan, kordinasi, serta keseimbangan tubuh.Tujuan : Mengetahui perbedaan antara keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah melakukan senam pilates pada wanita usia muda.Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah Quasi Experimental dengan rancangan one group pre-test post-test design. Sampel penelitian adalah wanita usia 18-25 tahun dengan besar sampel 16 orang. Pemeriksaan keseimbangan tubuh menggunakan Standing Stork Test. Uji normalitas menggunakan uji Saphiro-Wilk dan uji hipotesis menggunakan uji t berpasangan.Hasil : Rerata nilai SST subjek penelitian sebelum senam pilates adalah 4,46 ± 2,47 detik dengan nilai terendah adalah 1,5 detik dan nilai tertinggi adalah 9,05 detik, sedangkan rerata nilai SST subjek penelitian sesudah senam pilates adalah 14,15 ± 8,93 detik dengan nilai terendah adalah 3,58 detik dan nilai tertinggi 37,14 detik. Ada perbedaan yang bermakna antara keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah senam pilates pada wanita usia muda (p<0,001).Kesimpulan : Ada perbedaan yang bermakna antara keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah senam pilates pada wanita usia muda.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR DI ROWOSARI Jessa Kris Dayanti; Budi Palarto Soeharto; Dea Amarilisa Adespin
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.481 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20852

Abstract

Latar Belakang: Angka kehamilan dan kelahiran yang tinggi merupakan salah satu permasalahan kependudukan di Indonesia. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu cara dalam mengatasi laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Penggunaan kontrasepsi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, sikap, perilaku dan dukungan suami.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi pada pasangan usia subur. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel yang digunakan adalah 96 responden yaitu pasangan usia subur bertempat tinggal di Kelurahan Rowosari yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan menggunakan metode wawancara dengan instrumen berupa kuesioner yang telah diuji validitasnya.Teknik analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat (uji chi-square dan uji fisher).Hasil: Penelitian ini menujukkan tingkat pendidikan (p=0,059), tingkat pengetahuan (p=0,225) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan penggunaan metode kontrasepsi. Sedangkan sikap (p=0,000), perilaku (p=0,000) dan dukungan suami (p=0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan penggunaan metode kontrasepsi.Kesimpulan: Sebagian besar responden menggunakan kontrasepsi. Tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan penggunaan metode kontrasepsi. Sedangkan sikap, perilaku, dan dukungan suami memiliki hubungan yang signifikan dengan penggunaan metode kontrasepsi pada pasangan usia subur.
PERBEDAAN PROFIL SPIROMETRI PADA PETUGAS SPBU Redyaksa Drestanta Ariandoko; Awal Prasetyo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.459 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i4.18385

Abstract

LATAR BELAKANG : Uap Bahan Bakar Minyak (BBM) mengandung bahan kimia beracun yang berpotensi menyebabkan kelainan patologi pada saluran nafas. Petugas SPBU di Indonesia tidak memakai masker untuk mengurangi atau menghilangkan efek paparan uap atau gas yang dihasilkan oleh BBM sehingga dapat mengganggu fisiologi paru yang diukur dengan spirometer.TUJUAN : Mengukur profil spirometri petugas SPBU (Vital Capacity, Forced Vital Capacity, Forced Expiratory Volume in One Second/VC, FVC, FEV1) dan membuktikan keterkaitannya dengan usia, jenis kelamin, dan lama kerja.METODE : Studi observasional analitik dengan rancangan cross sectional.  Pada petugas SPBU  sebanyak 32 orang dilakukan pengukuran spirometri meliputi VC, FVC, FEV1 dan dilakukan Mann-WhitneyHASIL : Terdapat hubungan bermakna antara VC dengan jenis kelamin (p=<0,05), antara VC dengan lama kerja (p<0,05). Tidak terdapat hubungan bermakna antara FVC dan FEV1 dengan usia, jenis kelamin, dan lama kerja (p>0,05). Tidak terdapat hubungan bermakna antara profil spirometri petugas SPBU dan non petugas SPBU.SIMPULAN : Jenis kelamin dan lama kerja memiliki hubungan bermakna dengan VC. Usia, jenis kelamin, dan lama kerja tidak memiliki hubungan bermakna dengan FVC dan FEV1.
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR KINESIOLOGI DENGAN KECEPATAN LARI 100 METER MAHASISWA FK UNDIP Gabriella Diah Padaningpuri; Erie BPS Andar
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.023 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23790

Abstract

Latar Belakang: Lari adalah salah satu olahraga pilihan untuk menjaga kebugaran dan bekompetisi saat ini. Kecepatan lari dipegaruhi panjang langkah dan frekuensi langkah. Kedua hal tersebut dipengaruhi beberapa karakteristik antropometri seperti berat badan, tinggi badan, panjang tungkai, serta kekuatan otot tungkai. Tujuan: Mengetahui hubungan antara beberapa karakteristik antropometri tungkai (besar Q-angle, selisih besar Q-angle kanan-kiri, panjang cruris, dan panjang tungkai), kekuatan musculus quadriceps femoris, dan berat cruris beserta pedis dengan kecepatan lari 100 meter mahasiswa FK Undip. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan rancangan cross-sectional. Subyek penelitian ini didapatkan dengan purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi. Data yang telah terkumpul diperiksa kelengkapan dan keberanannya kemudian dianalisis menggunakan analisis  bivariat uji Pearson atau Spearman, dilanjutkan dengan analisis multivariat uji regresi linear. Hasil: Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara besar Q-angle, selisih besar Q-angle kanan-kiri, panjang cruris, panjang tungkai, kekuatan musculus quadriceps femoris, dan berat cruris beserta pedis dengan kecepatan  lari 100 meter. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara beberapa karakteristik antropometri tungkai, kekuatan musculus quadriceps femoris, dan berat cruris  beserta pedis dengan kecepatan lari 100 meter mahasiswa FK Undip.Kata Kunci: besar Q-angle, selisih Q-angle kanan-kiri, panjang cruris, panjang tungkai, kekuatan musculus quadriceps femoris, berat cruris beserta pedis, kecepatan lari 100 meter.
PENGARUH PEMBERIAN BORAKS DENGAN DOSIS BERTINGKAT TERHADAP PERUBAHAN MAKROSKOPIS DAN MIKROKSKOPIS GINJAL TIKUS WISTAR SELAMA 4 MINGGU DILANJUTKAN 2 MINGGU TANPA PAPARAN BORAKS Hakim Alhaady Juhana; Intarniati Nur Rohmah
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.092 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i1.11360

Abstract

Background : Borax or sodium tetraborate decahydrate is a mineral with low toxicity. Borax is generally used in various products such as the product insecticides, fungicides, herbicides, and borax can also be dissolved in water and used to clean gold and silver . However now many are using borax as a food preservative,it is contrary to the minister of health regulations. Borax contained in foods with excessive doses can cause poisoning. However,to date research on the influence of borax in oral histopathological kidney remains unclear.Objective: This study aimed to verify the effect of graded doses of borax orally for 4 weeks followed 2 weeks to changes in macroscopic and microscopic picture of Wistar rat kidney.Methods : The research laboratory with an experimental post -test only control group design. Sample of 21 Wistar rats that have met the inclusion and exclusion criteria,adapted for 7 days. After a period of adaptation,Wistar rats were divided by simple random sampling into 3 groups. K is a control group without borax given orally. Borax P1 given orally 300 mg / kg /day ( 100 mg / cc / day ) and P2 borax was given orally 600 mg / kg / day ( 200 mg / cc / day).Results : The results of the Kruskal - Wallis test for kidney macroscopic found no significant differences between the 3 groups ( p = 0.083 ) and then proceed Mann Whitney Post Hoc Test for kidney weight was not found significant differences in the K - P1 ( p = 0.482 ), obtained difference K - P2 significant ( p = 0.041 ),and found no significant difference P1 - P2 ( p = 0.085 ). Kruskal - Wallis test results for the microscopic kidney obtained significant differences between the 3 groups ( p = 0.000 ).Conclusion : Delivery of oral doses of borax stratified for 4 weeks followed 2 weeks without exposure to borax no macroscopic changes ( kidney weight ) in Wistar rats as well as a change in the microscopic ( histopathological ) Wistar rat kidney. Changes seen in the form of lumen narrowing,and loss of brush border protein cast ( lumen contains ). 
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN PASIEN DALAM MENJALANKAN 4 PILAR PENGELOLAAN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS ROWOSARI Wahyu Adhitya Prawirasatra; Firdaus Wahyudi; Arwinda Nugraheni
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.02 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18647

Abstract

Latar Belakang: Penanganan terapi Diabates melitus dilakukan seumur hidup sehingga membutuhkan dukungan keluarga yang baik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara dukungan keluarga ditinjau dari empat dimensi dengan kepatuhan pasien dalam menjalankan 4 pilar pengelolaan DM tipe 2 di Puskesmas Rowosari.Metode: Desain dalam penelitian ini adalah analitik cross sectional dengan jumlah sampel 74 pasien DM tipe 2. Analisa data menggunakan Chi square, Mann Whitney dan Analisis stratifikasi dengan Mentel Haenszel.Hasil : Hasil penelitian didapatkan variabel yang berhubungan dengan kapatuhan 4 pilar pengelolaan DM tipe 2 yaitu status ekonomi ( p value 0.001), komplikasi ( p value 0.045). Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien dalam menjalankan 4 pilar pengelolaan DM tipe 2 ( p value 0.001). Dengan menggunakan analisis stratifikasi didapatkan tingkat pendidikan, status ekonomi dan komplikasi dapat mempengaruhi dukungan keluarga terhadap kepatuhan dalam menjalankan 4 pilar pengelolaan DM tipe 2.Simpulan : Dapat disimpulkan terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien dalam menjalankan 4 pilar pengelolaan DM tipe 2. Dan terdapat pengaruh hubungan (tingkat pendidikan, status ekonomi dan komplikasi) yang mempengaruhi hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien dalam menjalankan 4 pilar pengelolaan DM tipe 2.
PERBEDAAN TEAR FILM BREAK UP TIME PADA PASIEN RETINOPATI DIABETIKA NONPROLIFERATIF DIBANDINGKAN RETINOPATI DIABETIKA PROLIFERATIF Michelle Abigail; Arief Wildan; Andrew Johan
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.994 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15489

Abstract

Latar Belakang: Terdapat banyak pasien retinopati diabetika yang mengeluhkan sindroma mata kering, dimana akibat dari sindroma mata kering tersebut akan memperparah keluhan yang dialami oleh  pasien retinopati. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui dan menganalisis perbedaan tear film break up time(TBUT) pada retinopati diabetika nonproliferatif (RDNP) dibandingkan dengan retinopati diabetika proliferative(RDP) di Indonesia.Tujuan : Mengetahui perbedaan tear film break up time pada retinopati diabetika nonproliferatif dan retinopati diabetika proliferatif.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observational analitik dengan desain penelitian belah lintang, yang menggunakan data primer. Sampel adalah 25 pasien RDNP dan 25 pasien RDP. TBUT adalah waktu yang dibutuhkan sejak mata berkedip terakhir sampai muncul bintik kering pertama setelah pemberian fluoroscein. Uji statistik yang digunakan adalah uji Mann-Whitney.Hasil : Sebanyak 58% berjenis kelamin perempuan. Rata-rata usia sampel adalah 53,88 untuk RDNP dan 55,84 untuk RDP. Lama menderita DM untuk setiap kelompok adalah 10,04 untuk RDNP dan 12,4 untuk RDP. Dari 50 pasien retinopati diabetika 26 pasien termasuk dalam kategori marginal dan 24 sampel dalam kategori normal. Uji  Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p=0,049) antara TBUT pasien RDNP dengan pasien RDP. Kesimpulan : Terdapat perbedaan TBUT pada retinopati diabetika nonproliferatif dan retinopati diabetika proliferatif.

Page 29 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue