cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAUN CARICA PUBESCENS TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL PADA TIKUS SPRAGUE DAWLEY YANG DIINDUKSI AZOXYMETHANE Blezeinsky, Faradilla Nadya; Gumay, Ainun Rahmasari; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.284 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i3.24421

Abstract

Latar Belakang : Inflamasi yang terjadi terus menerus adalah salah satu penyebab terjadinya kanker kolorektal. Ekstrak daun Carica pubescens mengandung flavonoid yang memiliki efek antiinflamasi diyakini mampu menurunkan jumlah sel neutrofil. Tujuan : Mengetahui efek pengaruh pemberian ektrak daun Carica pubescens terhadap jumlah sel neutrofil tikus Sprague dawley yang diinduksi Azoxymethane. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan true eksperimental laboratorik dengan Post Test Only with Control Group Design. Sampel sebanyak 25 ekor tikus Sprague dawley dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok K1 hanya diberi pakan dan minum standar injeksi NaCl 0,9% seminggu sekali selama dua minggu, Kelompok K2 diberi pakan minum standar dan diinjeksi azoxymethane seminggu sekali selama dua minggu, P1, P2, dan P3 diberi pakan dan Carica pubescens dengan dosis 100, 200, 400 mg/kgBB dan diinjeksi azoxymethane seminggu sekali dalam dua minggu. Jumlah neutrofil dihitung dengan alat hematology analyser Sysmex KX-21 yang dinyatakan dalam  sel/μL. Data dianalisis dengan One Way Anova dan uji post Hoc LSD. Hasil : Rerata jumlah neutrofil kelompok P1 (940,0± 554,98 µL) lebih rendah signifikan dibanding K2 (2040,0 ± 270,19 µL p=0,001), rerata jumlah neutrofil kelompok P2 (1220,0 ± 342,05 µL) lebih rendah signifikan dibanding K2 (2040,0 ± 270,19 µL p=0,008), rerata jumlah neutrofil kelompok P3 (1240,0 ± 680,44 µL) lebih rendah signifikan dibanding kelompok K2 (2040,0 ± 270,19 µL p=0,010) serta rerata jumlah neutrofil kelompok K1 (1160,0 ± 114,02 µL) lebih rendah signifikan dibanding kelompok K2 (2040,0 ± 270,19 µL p=0,005). Kesimpulan : Ekstrak daun Carica pubescens dapat menurunkan jumlah sel neutrofil pada tikus SD yang diinduksi AzoxymethaneKata Kunci : Carica pubescens, neutrofil, kanker kolorektal
PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP INDEKS MASSA TUBUH PADA ANAK OBESITAS Rahima Ayu Putri; Erna Setiawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.135 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i0.18800

Abstract

Latar belakang: Menurut World Health Organization (WHO) prevalensi obesitas pada anak mengalami peningkatan tiap tahunnya. Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti genetik, nutrisi, faktor perilaku, aktivitas fisik dan faktor sosial ekonomi. Salah satu cara pengukuran obesitas adalah menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) dianggap baik dalam menentukan obesitas anak. Circuit training  merupakan   salah   satu   bentuk   latihan   kardiorespirasi   yang bermanfaat untuk meningkatkan kebugaran dan mampu menurunkan IMT pada anak obesitas.Tujuan: Membuktikan adanya perbedaan IMT sebelum dan sesudah pemberian circuit training pada anak obesitas.Metode: Penelitian kuasi eksperimental dengan one group pre test and post test design yang dilaksanakan di SDN Bojongsalaman 2, Semarang. Sampel penelitian ini adalah anak obesitas yang berusia 10-12 tahun merupakan siswa SDN Bojongsalaman 2, Semarang (n=14). Indeks Massa Tubuh (IMT) diuukur sebelum dan setelah diberikan circuit training. Uji hipotesis yang diberikan adalah uji paired T-test.Hasil: Penelitian kuasi eksperimental dengan one group pre test and post test design yang dilaksanakan di SDN Bojongsalaman 2, Semarang. Sampel penelitian ini adalah anak obesitas yang berusia 10-12 tahun merupakan siswa SDN Bojongsalaman 2, Semarang (n=14). Indeks Massa Tubuh (IMT) diuukur sebelum dan setelah diberikan circuit training. Uji hipotesis yang diberikan adalah uji paired T-test.Kesimpulan: Perlakuan circuit training selama 6 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu dapat menurunkan IMT, tetapi secara perhitungan statistik, penurunan rerata IMT dianggap tidak bermakna kemungkinan dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti tidak terpantaunya asupan makanan dan aktivitas di luar jam penelitian serta ketidaktepatan gerakan saat melakukan circuit training.
EFEKTIVITAS MADU DALAM FORMULASI PELEMBAP PADA KULIT KERING Ernia Harinda Sinulingga; Asih Budiastuti; Aryoko Widodo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.017 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19358

Abstract

Latar belakang: Kulit kering atau xerosis cutis didefinisikan sebagai gambaran hilangnya atau berkurangnya kadar kelembapan pada stratum korneum. Tingkat kekeringan pada kulit kering dipengaruhi oleh faktor endogen dan eksogen. Pelembap secara umum digunakan untuk meringankan kulit kering. Banyak pelembap menggunakan bahan sintetik untuk menjaga kelembapan kulit sedangkan bahan sintetik ini memiliki efek samping dalam pemakaian jangka panjang. Salah satu bahan alami yang dipercaya dapat melembapkan kulit dan mengantikan bahan-bahan tersebut adalah madu yang bersifat humektan, emolien dan antioksidan.Tujuan: Mengetahui efektivitas madu dalam formulasi pelembap pada kulit kering.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre-test and post-test control group design. Subjek penelitian berjumlah 24 orang wanita yang dibagi menjadi dua kelompok yang memenuhi kriteria inklusi dengan rentang usia 30-50 tahun. Kelompok perlakuan diberikan krim pelembap dengan madu, sedangkan kelompok kontrol diberikan krim pelembap tanpa madu. Uji statistik menggunakan uji Shapiro Wilk, uji Mann-Whitney dan uji Wilcoxon .Hasil: Sebanyak 10 orang (83,3%) pada kelompok perlakuan mengalami penurunan skor ODS dan 2 orang (16,7%) tidak mengalami perubahan skor ODS, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 4 orang (33,3%) yang mengalami penurunan skor ODS, 7 orang (58,3%) tetap dan 1 orang (8,4%) mengalami kenaikan skor ODS. Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara skor ODS pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dengan p=0,003 (p<0,05).Kesimpulan: Madu dalam formulasi pelembap efektif menurunkan tingkat kekeringan pada kulit kering.
HUBUNGAN ANTARA TERJADINYA KANDIDIASIS VULVOVAGINALIS DENGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL Priscilla Jessica; Widyawati Widyawati; Desy Armalina
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.52 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15646

Abstract

Latar belakang: Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) merupakan infeksi pada vulva dan/atau vagina dikarenakan pertumbuhan yang tidak terkendali dari jamur Candida sp., terutama Candida albicans. Salah satu faktor predisposisi yang diduga menyebabkan KVV adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Data statistik menunjukkan pengguna kontrasepsi hormonal jenis suntik sebanyak 48,56%, pil sebanyak 26,60%, dan implan sebanyak 9,23% dari total 8,5 juta perempuan pemakai kontrasepsi di Indonesia. Pada penelitian ini dilakukan analisa hubungan antara terjadinya KVV dengan penggunaan kontrasepsi hormonal.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan rancangan cross sectional, menggunakan sampel 51 pasien Puskesmas Mangkang Semarang yang memenuhi kriteria inklusi (merupakan pengguna kontrasepsi hormonal, berusia 20-30 tahun, mengalami keputihan). Data yang dikumpulkan merupakan data primer dengan pengambilan sekret/duh vagina pasien yang kemudian diperiksa secara mikrobiologis menggunakan pengecatan gram di Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square, dengan tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil penelitian: Dari 51 subjek penelitian, 34 pasien (66,7%) di antaranya merupakan pengguna kontrasepsi hormonal jenis suntik, 13 pasien (25,5%) pengguna jenis pil, serta 4 pasien (7,8%) pengguna jenis implan/susuk. Tidak ada hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian KVV (p=0,636).Kesimpulan: Jenis kontrasepsi hormonal yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah kontrasepsi jenis suntik (66,7%). Tidak ada hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian KVV.
EFEKTIVITAS VIRGIN COCONUT OIL DALAM PENANGANAN HAND FOOT SYNDROME PADA PASIEN KANKER PAYUDARA YANG MENDAPAT KEMOTERAPI CAPECITABINE PER ORAL DILIHAT DARI SKOR KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT HAND FOOT SYNDROME Putra, Muhammad Reza Tryas; Prajoko, Yan Wisnu; Budijitno, Selamat
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.062 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i4.22261

Abstract

Latar Belakang: Penanganan pada pasien yang menderita kanker salah satunya adalah kemoterapi karena terbukti dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup. Namun selain manfaat kemoterapi juga dapat menimbulkan efek negatif bagi penggunanya. Salah satunya adalah hand foot syndrome. Hand foot syndrome adalah efek samping kemoterapi yang sering ditemukan dan perlu penanganan yang tepat. Selain urea cream, minyak kelapa murni juga dapat melindungi kulit karena bekerja sebagai pelembab dan anti inflamasi.Tujuan: Membuktikan adanya efektivitas virgin coconut oil  dalam penanganan hand foot syndrome pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi capecitabine per oral.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pretest-posttest control group design . Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (n=31) yang diberikan pretest, lalu pemberian krim minyak kelapa murni, kemudian diberikan  posttest. Skor hand foot syndrome setelah diberikan krim minyak kelapa murni dianalisis dengan uji Kendall’s tau b dan Mann Whitney, skor kualitas hidup di analisis dengan Paired T test, dan uji korelasi antara grade hand foot syndrome dengan kualitas hidup pasien kanker payudara menggunakan uji Spearman. Hasil: Diantara kedua kelompok, skor hand foot syndrome pada kelompok perlakuan mengalami perbaikan (p=0,011)Kesimpulan: Terdapat perbaikan skor hand foot syndrome dan skor kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi capecitabine per oral yang diberikan krim Virgin Coconut OilKata Kunci:  kanker payudara, kemoterapi, kualitas hidup, hand foot syndrome¸virgin coconut oil, urea cream
HUBUNGAN KADAR KALIUM SERUM SAAT MASUK DENGAN KELUARAN MOTORIK PASIEN STROKE ISKEMIK Fully Asmandita Haryani; Hexanto Muhartomo; Indah Saraswati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.739 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18574

Abstract

Latar belakang: Stroke adalah sindroma klinis dari gangguan fungsi otak, baik fokal atau menyeluruh, yang berkembang secara cepat, berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan kematian, tanpa adanya penyebab lain kecuali gangguan vaskuler. Diantara pasien stroke akut ini mengalami gangguan kadar kalium. Diperkirakan sepertiga dari pasien stroke menunjukkan disabilitas post stroke yang persisten setelah episode serebrovaskular pertama, dengan kebanyakan berupa pelemahan fungsi motorik. Penelitian sebelumnya belum ada yang membahas tentang hubungan gangguan kadar kalium serum dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik.Tujuan: Untuk membuktikan kadar kalium saat masuk berpengaruh terhadap keluaran motorik pasien stroke iskemik yang dinilai dengan MAS.Metode: Penelitian menggunakan desain belah lintang. Subjek penelitian merupakan 33 pasien stroke iskemik dengan rata-rata usia 60,03 ± 9,534 tahun yang dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUP dr. Kariadi. Subjek penelitian terdiri atas 28 pria dan 5 wanita. Karakteristik subjek penelitian yang diperoleh adalah usia, kadar kolesterol, kadar HDL, kadar LDL, kadar trigliserida, kadar GDS, kadar kalium serum, dan skor MAS. Pengukuran skor MAS diuji langsung kepada subjek, sedangkan nilai elektrolit didapat dari rekam medis pasien. Data kemudian diolah menggunakan uji Pearson dan uji Anova.Hasil: Terdapat hubungan negatif sangat lemah, atau dapat dianggap tidak ada antara kadar kalium serum saat masuk dengan skor MAS (p > 0,05). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara skor MAS pasien hiperkalemia dan hipokalemia dibanding normokalemia (p > 0,05).Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif sangat lemah, atau dapat dianggap tidak ada antara kadar kalium serum saat masuk dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik.
KUALITAS DAN KUANTITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DI RUMAH SAKIT NASIONAL DIPONEGORO SEBELUM DAN SETELAH PENYULUHAN PPRA Eka Susanti; Endang Sri Lestari; Helmia Farida; V. Rizke Ciptaningtyas
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.922 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25489

Abstract

Latar Belakang : Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Peresepan antibiotik yang tidak bijak dapat diturunkan dengan melakukan penyuluhan kepada dokter. Salah satunya adalah penyuluhan oleh tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) yang diadakan di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) yang merupakan rumah sakit tipe C. Tujuan : Menganalisis kualitas dan kuantitas penggunaan antibiotik pada pasien anak di RSND sebelum dan setelah penyuluhan PPRA. Metode : Penelitian dengan desain studi intervensi dengan melakukan pengambilan data dari rekam medis pasien anak yang rawat inap di RSND. Perbandingan kualitas penggunaan antibiotik dianalisis menggunakan uji Chi-square dan kuantitas penggunaan antibiotik menggunakan uji independent t test atau Mann-Whitney. Hasil : Kualitas penggunaan antibiotik yang bijak sebelum penyuluhan 42,9% dan setelah penyuluhan 30,5%, kualitas penggunaan antibiotik yang tidak bijak sebelum penyuluhan 30,6% dan setelah penyuluhan 11,9%, kualitas penggunaan antibiotik yang tidak ada indikasi sebelum penyuluhan 26,5% dan setelah penyuluhan 57,6% (p = 0,003). Kuantitas penggunaan antibiotik sebelum penyuluhan 51,65 Defined Daily Dose (DDD/100 pasien-hari) dan setelah penyuluhan 53,45 DDD/100 pasien-hari (p = 0,151). Simpulan : Penyuluhan saja tidak cukup untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas penggunaan antibiotik. Rumah sakit memerlukan intervensi tambahan, seperti pembuatan kebijakan rumah sakit mengenai penggunaan antibiotik dan pemberian umpan balik kepada dokter.Kata Kunci : Kualitas, kuantitas, penggunaan antibiotik, anak, PPRA
PERBEDAAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA HIPERTENSI DENGAN DAN TANPA DIABETES MELLITUS Ashari Adi Abimantrana; Charles Limantoro; Yosef Purwoko
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.516 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14244

Abstract

Latar Belakang : Diabetes mellitus dapat memperburuk gangguan fungsi kognitif melalui mekanisme vaskular dan non vaskular.Tujuan : Menilai perbedaan fungsi kognitif pada lansia hipertensi dengan diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitusMetode : Jenis penelitian adalah penelitian observasional dengan desain belah lintang. dilaksanakan di poliklinik penyakit dalam dan instalasi rawat jalan geriatri RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Maret sampai bulan Mei 2016. Subjek penelitian adalah pasien lansia rawat jalan geriatri dan penyakit dalam dengan hipertensi (n=30). Subjek kemudian dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan status diabetes mellitusnya. Status diabetes mellitus dan hipertensi diketahui dari catatan medik rawat jalan, sedangkan fungsi kognitif diukur dengan kuesioner Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina).Hasil : Hasil pemeriksaan fungsi kognitif yang dilakukan pada 30 subjek didapatkan rerata 23,80±2,27 pada kelompok lansia hipertensi tanpa DM dan 21,80±2,24 pada kelompok lansia hipertensi dengan DM (p=0,022). Domain kognitif yang terganggu pada kelompok lansia hipertensi dengan DM bila dibandingkan dengan kelompok hipertensi tanpa DM adalah domain delayed recall (p=0,009). Semua domain kognitif pada kelompok hipertensi tanpa DM lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok hipertensi dengan DM.Kesimpulan : Diabetes mellitus memperburuk fungsi kognitif, khususnya domain delayed recall pada lansia hipertensi.
PERBANDINGAN PEMERIKSAAN TINJA ANTARA METODE SEDIMENTASI BIASA DAN METODE SEDIMENTASI FORMOL-ETHER DALAM MENDETEKSI SOIL-TRANSMITTED HELMINTH Marieta Puspa Regina; Ryan Halleyantoro; Saekhol Bakri
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.735 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20696

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan metode pemeriksaan tinja yang memiliki sensitivitas dan spesifitas tinggi terhadap Soil Transmitted-Helminth sangat penting untuk deteksi dini infeksi tersebut. Metode sedimentasi yang menggunakan prinsip perbedaan berat jenis merupakan alternatif bagi metode natif yang adalah gold standard untuk pemeriksaan tinja kualitatif.Tujuan: Mengetahui perbandingan pemeriksaan tinja antara metode sedimentasi biasa dan metode sedimentasi Formol-Ether dalam mendeteksi Soil-Transmitted Helminth.Metode: Uji diagnostik dengan sampel penelitian adalah sampel tinja siswa kelas IV sampai VI SDN I, II, III Gringsing, Batang, Jawa Tengah dan persediaan tinja Laboratorium Parasitologi FK Undip yang status serta tingkat infeksinya tidak diketahui sebelumnya. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Parasit Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Pemeriksaan dilakukan dengan metode natif, sedimentasi biasa dan sedimentasi Formol-Ether.Hasil: Terdapat 24 sampel positif terinfeksi STH dari 61 sampel tinja yang diperiksa. Spesies yang paling banyak terdeteksi adalah Ascaris lumbricoides. Metode yang paling banyak mendeteksi STH adalah metode natif (21 sampel). Metode sedimentasi Formol-Ether memiliki sensitivitas lebih tinggi dari metode sedimentasi biasa (71,43% vs 66,67%) namun tidak terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) sehingga metode sedimentasi Formol-Ether tidak memprediksi nilai positif lebih besar daripada metode sedimentasi biasa. Metode sedimentasi Formol-Ether adalah metode yang paling baik digunakan sebagai alternatif pengganti metode natif.Kesimpulan: Metode sedimentasi Formol-Ether sama baik dalam mendeteksi STH dengan metode sedimentasi biasa, dan metode sedimentasi Formol-Ether paling baik digunakan sebagai pengganti natif.
PENGARUH IRIGASI HIDUNG TERHADAP DERAJAT SUMBATAN HIDUNG PADA PEROKOK Syaffa Sadida Zahra; Anna Mailasari; Dwi Marliyawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.074 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15964

Abstract

Latar Belakang: Asap rokok dapat memicu respon inflamasi pada hidung sehingga mengakibatkan gejala sumbatan hidung. Irigasi hidung menggunakan larutan salin dapat mengurangi gejala hidung pada inflamasi kronis.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian irigasi hidung terhadap derajat sumbatan hidung pada perokok.Metode: Penelitian ini berjenis true eksperimental dengan rancangan pretest posttest control group design. Sampel sebanyak 64 perokok dipilih dengan mengunakan teknik consecutive sampling dan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan (dengan irigasi hidung) dan kontrol (tanpa irigasi hidung). Kelompok perlakuan diberikan irigasi hidung menggunakan NaCl 0.9% satu kali sehari selama 14 hari. Masing-masing kelompok dinilai sumbatan hidungnya menggunakan kuesioner NOSE Scale sebelum dan setelah 14 hari.Hasil: Rerata delta derajat sumbatan hidung pada kelompok perlakuan (-1.69) dan kelompok kontrol (0.25). Uji Mann-whitney menunjukkan perbedaan yang bermakna pada delta derajat sumbatan hidung kelompok perlakuan dan kontrol (p=0.021).Simpulan:Irigasi hidung berpengaruh terhadap derajat sumbatan hidung pada perokok.

Page 30 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue