cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS PNEUMONIAE PADA MEDIA AGAR DARAH DOMBA DENGAN PREINKUBASI STHB (SUPPLEMENTED TODD HEWITT BROTH) DAN MEDIA AGAR DARAH DOMBA GENTAMISIN TANPA PREINKUBASI STHB Hardina Yusri Chan; Helmia Farida
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.824 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19372

Abstract

Latar belakang Media agar darah domba gentamisin merupakan media selektif untuk kultur Streptococcus pneumoniae yang berasal dari spesimen swab nasofaring, namun kultur S.pneumoniae masih sulit dilakukan karena S.pneumoniae bersifat  fastidious sehingga membutuhkan media dengan nutrisi yanng khusus. Preinkubasi S.pneumoniae pada Supplemented Todd Hewith Broth (STHB) sebelum dilakukan kultur pada media agar darah domba dapat meningkatkan pertumbuhan S.pneumoniae.Tujuan Menguji pertumbuhan S.pneumoniae dari spesimen swab nasofaring pada media agar darah domba dengan preinkubasi dalam STHB dibandingkan dengan media agar darah domba gentamisin.Metode Desain penelitian True experimental post test only. Enambelas swab nasofaring ditanam langsung pada agar darah domba gentamisin dan di preinkubasi STHB 4-6 jam sebelum ditanam pada agar darah domba. Pengamatan pada 18, 24 dan 48 jam meliputi jumlah koloni, diameter koloni, diameter hemolisis, dan karakteristik koloni.Hasil Jumlah koloni kedua media pada pengamatan 18 jam (p= 0,545), 24 jam (p = 0,545) dan 48 jam (p = 0,545) memiliki perbedaan namun tidak bermakna. Pengamatan 18 jam terdapat perbedaan signifikan diameter koloni pada kedua media (p = 0,040),namun perbedaan pada pengamatan  24 jam tidak bermakna (p =0,073) begitu juga pada 48 jam (p = 0,080). Diameter zona hemolisis pada pengamatan 18 jam (p = 0,806),  24 jam (p = 0,678) dan 48 jam (p = 0,485) memiliki perbedaan namun tidak bermakna. Karakteristik koloni pada pengamatan 18 jam (p = 0,654),  24 jam (p = 0,479) dan 48 jam (p = 0,433) memiliki perbedaan namun tidak bermakna.Kesimpulan Terdapat perbedaan  pertumbuhan S. pneumoniae yang ditanam langsung pada agar darah domba gentamisin dan agar darah domba dengan preinkubasi STHB  pada pengamatan 18, 24 dan 48 jam namun tidak bermakna.
HUBUNGAN JUMLAH LEUKOSIT TERHADAP KADAR TROPONIN I PADA PASIEN INFARK MIOKARD Radiyan Meidhiyanto; Ilham Uddin; Sefri Noventi Sofia
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.944 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15813

Abstract

Latar Belakang Infark Miokard atau Infark Miokard Akut (IMA) merupakan penyebab utama kematian didunia. Lebih dari 7 juta orang didunia terdeteksi penyakit ini tiap tahunnya. Alat diagnostik IMA yang ada saat ini cenderung sulit ditemukan karena tidak semua fasilitas kesehatan memilikinya. Diperlukan alat diagnosis yang mudah diakses dan terjangkau di masyarakat.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah leukosit terhadap kadar troponin I pada pasien dengan infark miokard akut.Metode Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional retrospektif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien infark miokard akut yang diperiksa di RSUP Dr Kariadi Semarang, Jawa Tengah.yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk rekam medis pasien.Hasil Didapatkan hubungan yang signifikan antara jumlah leukosit dengan kadar troponin I pada pasien IMA (p=0,001). Kuat hubungan secara statistik antar variabel termasuk dalam kategori sedang (0,4 – <0,6), dengan arah korelasinya positif yang artinya semakin tinggi variabel bebas, maka semakin tinggi juga variabel terikat.Kesimpulan Terdapat hubungan antara jumlah leukosit dengan kadar troponin I pada pasien Infark miokard akut.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa blimbi L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN Widodo, Aryoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.578 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i4.22287

Abstract

Latar Belakang : Penderita Diabetes Melitus yang jumlahnya semakin bertambah, membutuhkan obat yang mudah didapatkan serta ekonomis. Salah satu obat tradisional yang sesuai dengan kriteria tersebut adalah belimbing wuluh (Averrhoa blimbi L.).Tujuan Penelitian : Menganalisis pengaruh pemberian ekstrak buah belimbing wuluh ( Averrhoa blimbi L. ) terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus wistar ( Rattus norvegicus ) yang diinduksi aloksan.Metode : Jenis penelitian adalah eksperimental dan rancangan penelitian adalah pre dan post test randomized controlled group design. Hewan coba tikus wistar jantan sebanyak 25ekor yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu aquadest (control negatif), metformin dosis 18mg/tikus (kontrol positif), dan ekstrak buah belimbing wuluh dosis 0,25;0,75;1,25 gram/kgBB. Seluruh kelompok diinduksi aloksan terlebih dahulu sampai dengan kadar glukosa darahnya mencapai ≥ 126 mg/dL (pretest). Setelah 14 hari diberikan perlakuan dilakukan puasa selama 8 jam kemudian diukur kadar glukosa darahnya (post test1) dan 14 hari berikutnya diukur kembali kadar glukosa darahnya (post test 2) kemudian dilihat penurunan kadar glukosa darahnya.Hasil : Seluruh kelompok perlakuan memiliki penurunan kadar glukosa darah yang bermakna antara pre test, post test 1, dan post test 2 dengan nilai p<0,05. Pada semua kelompok dosis ekstrak buah belimbing wuluh memiliki kemampuan yang lebih baik daripada aquadest namun masih kurang efektif penurunannya bila dibandingkan dengan metformin. Dosis yang paling efektif menurunkan kadar glukosa darah dalam penelitian kali ini adalah 0,75 gram/kgBB.Kesimpulan : Ekstrak buah belimbing wuluh memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar glukosa darah, namun efektifitas penurunan kadar glukosa darahnya masih berada dibawah metformin.Kata Kunci: Ekstrak, buah, belimbing wuluh (Averrhoa blimbi L.), kadar glukosa darah, aloksan
PERBEDAAN NILAI VO2MAX ANTARA ATLET CABANG OLAHRAGA PERMAINAN DAN BELA DIRI Herlina Dini Nugraheni; Marijo Marijo; Darmawati Ayu Indraswari
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.406 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18580

Abstract

Latar Belakang: Hal yang mendasar dari kebugaran jasmani yaitu daya tahan kardiorespirasi. Salah satu cara untuk menilai daya tahan kardiorespirasi seseorang yaitu dengan mengukur nilai VO2max. VO2max mengukur kapasitas jantung, paru, dan darah untuk mengangkut oksigen ke otot yang bekerja dan mengukur penggunaan oksigen oleh otot selama latihan. Seseorang yang memiliki nilai VO2max lebih tinggi mampu berlatih lebih intensif.Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai VO2max antara atlet cabang olahraga permainan dan bela diri.Metode: Penelitian menggunakan desain belah lintang. Subjek penelitian adalah 60 atlet laki-laki usia 14-18 tahun dari cabang olahraga bola voli, bola basket, taekwondo, dan karate. Subjek penelitian terdiri atas empat kelompok dengan jumlah 15 orang pada masing-masing kelompok. Data karakteristik yang diambil yaitu usia dan lama latihan. Pengukuran nilai VO2max menggunakan metode multistage fitness test. Data kemudian diolah menggunakan uji Saphiro-Wilk dan uji t tidak berpasangan.Hasil: Rerata nilai VO2max pada atlet cabang olahraga bola voli adalah 40,84 ml/kg/mnt, bola basket 42,15 ml/kg/mnt, taekwondo 35,39 ml/kg/mnt, dan karate 34,25 ml/kg/mnt. Rerata nilai VO2max pada cabang olahraga permainan adalah 41,49 ml/kg/mnt dan bela diri 34,82 ml/kg/mnt. Terdapat perbedaan yang bermakna nilai VO2max antara atlet cabang olahraga permainan dan bela diri dengan p<0,01.Kesimpulan: Nilai VO2max atlet olahraga permainan lebih tinggi daripada bela diri. 
PREVALENCE AND DEGREE OF SEVERITY OF ACNE VULGARIS IN STUDENTS OF MECHANICAL ENGINEERING MAJOR IN FACULTY OF ENGINEERING DIPONEGORO UNIVERSITY Saragih, Yola Valentin; Widyawati, Widyawati; Utami, Aras; Antari, Arlita Leniseptaria
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.565 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25787

Abstract

Introduction : Acne vulgaris (AV) is a chronic inflammatory disorder of pilosebaceous follicle with polymorphic dermatological manifestation such as comedones, papules, pustules, nodules, and scar. Acne vulgaris can be categorized into three degrees of severity based on lesions count: mild, moderate, and severe. There are four factors in the pathogenesis of AV: pilosebaceous follicle hyperproliferation, excessive sebum production, inflammation, and presence of Propionibacterium acnes. The degree of severity is mainly related to the number of an individual's sebaceous gland. Individuals with AV usually have large sebaceous glands that are very active, large pores, and oily skin. Objectives : To describe prevalence and severity of acne vulgaris in students of mechanical engineering major in faculty of engineering Diponegoro University batch 2018. Methods : This is an observational study with cross sectional approach in which author describes prevalence of AV and its degree of severity in students of mechanical engineering major in faculty of engineering diponegoro university batch 2018. Subjetcs were obtained from simple random sampling. There were 71 eligible subjects meeting inclusion criterias. Dermatovenereology residents performed physical examination on subjects to determine whether or not the subject had. Subjects with AV were classified into "positive" group, otherwise "negative". Subjects were obtained with simple random sampling technique. All subjects (100%) had acne vulgaris. Severity of AV varies with 38% subjects had mild AV, 59.2% had moderate AV and 2.8% had severe AV.Conclusions : All subjects (100%) had AV, mostly of moderate severity. Keywords : Acne Vulgaris; prevalence; severity
HUBUNGAN ANTARA DERAJAT NYERI DENGAN TINGKAT KUALITAS HIDUP PASIEN KANKER PARU YANG MENJALANI KEMOTERAPI Auliya Husen; Chatarina Suharti; Hardian Hardian
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.529 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14251

Abstract

Latar Belakang : Kanker paru merupakan penyakit keganasan yang sering ditemui dan merupakan penyebab utama kematian akibat keganasan di seluruh dunia, terutama di Indonesia yang sebagian besar penduduknya merupakan perokok. Pada umumnya, kanker paru ditemukan pada stadium lanjut, yaitu stadium III B dan IV, sehingga tujuan utama pengobatannya adalah untuk meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup. Salah satu pilihan terapinya adalah kemoterapi. Kemoterapi menimbulkan banyak efek samping, diantaranya adalah nyeri. Selain karena kemoterapi, nyeri juga dapat terjadi karena kanker itu sendiri. Tujuan : Membuktikan hubungan antara derajat nyeri dengan tingkat kualitas hidup pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain belah lintang pada 13 pasien kanker paru di Instalasi Kemoterapi RSUP Dr. Kariadi Semarang sejak bulan April hingga Juni 2016. Karakteristik sosiodemografis dan data klinis yang mencakup diagnosis, stadium kanker, performance status, dan siklus kemoterapi adalah data sekunder yang diambil dari rekam medik, diikuti oleh wawancara berbasis kuesioner. Analisis statistik menggunakan Pearson dan Spearman. Hasil : Rerata derajat nyeri pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi adalah 6,5 ± 2,22 dan rerata skor total kualitas hidup pasien adalah 799,6 ± 81,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara derajat nyeri dengan tingkat kualitas hidup pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi (p=0,8). Derajat nyeri memiliki hubungan yang bermakna (r=-0,854) dengan status kesehatan global (p<0,001) dan sesak napas (r=0,537) dengan p=0,04. Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara derajat nyeri dengan tingkat kualitas hidup pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi.
EFEKTIFITAS EDUKASI KESEHATAN (CERAMAH DAN SMS GATEWAY) TERHADAP PENGETAHUAN DETEKSI DINI KEHAMILAN RISIKO TINGGI PADA IBU HAMIL Qashda Naila Salsabila; Aras Utami; Arwinda Nugraheni
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.526 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20704

Abstract

Latar Belakang  : Keberhasilan upaya kesehatan ibu dapat dilihat dari indikator Angka Kematian Ibu (AKI). Kota Semarang merupakan kota dengan kasus kematian ibu tertinggi ke-dua di Jawa Tengah. Penyebab kematian pada ibu hamil dapat dideteksi dini oleh petugas atau non-petugas kesehatan seperti ibu hamil. Namun pengetahuan tentang deteksi dini kehamilan risiko tinggi pada ibu hamil masih perlu ditingkatkan.Tujuan  : Menilai efektifitas intervensi ceramah dan sms gateway dibanding dengan intervensi ceramah terhadap pengetahuan deteksi dini kehamilan risiko tinggi.Metode  : Penelitian ekperimental pretest-posttest control group. Teknik sampling menggunakan simple random sampling. Sampel 66 orang (33 kontrol, 33 intervensi). instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Kelompok intervensi diberikan ceramah dan sms gateway, kelompok kontrol diberikan ceramah saja. Uji statisktik yang digunakan adalah  uji T-Test, uji Wilcoxon, uji Mann-Whitney .Hasil : Nilai uji beda pada kelompok kontrol p<0,01 (p<0,05). Uji beda pada kelompok intervensi didapatkan nilai p<0,01(p<0,05). Perbandingan peningkatan nilai pada kelompok kontrol (14,02±15,01) dan kelompok perlakuan (19,42±12,78) didapatkan nilai p= 0,210 (p>0.05). Kesimpulan : Terdapat peningkatan pengetahuan yang bermakna pada masing-masing kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Sedangkan tidak terdapat perbedaan pengetahuan yang bermakna secara statistik pada selisih nilai antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.
PERBEDAAN KUANTITAS DNA YANG DIEKSTRAK DARI AKAR RAMBUT BERBAGAI FASE PERTUMBUHAN Valensha Yosephi; Tuntas Dhanardhono; Saebani Saebani
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.747 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15979

Abstract

Latar belakang: Rambut merupakan spesimen biologis yang sering ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pemeriksaan forensik biasanya menggunakan cara pemerolehan rambut untuk memperkirakan kuantitas deoxyribonucleic acid (DNA) yang akan didapatkan. Belum ada penelitian di Indonesia mengenai perbedaan kuantitas DNA yang diekstrak dari masing-masing fase pertumbuhan akar rambut.Tujuan: Menganalisis perbedaan kuantitas DNA yang diekstrak dari akar rambut berbagai fase pertumbuhan.Metode: Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional ini menggunakan sampel akar rambut (n=15) yang mencakup tiga fase akar rambut, yaitu fase anagen (n=5), fase katagen (n=5), dan fase telogen (n=5). Penggolongan fase akar rambut dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis. Semua sampel diekstraksi dengan metode Chelex, lalu DNA dikuantifikasi menggunakan Nanodrop. Uji statistik yang digunakan adalah One-way Anova dan dilanjutkan Post Hoc Tamhane untuk melihat perbedaan antarkelompok.Hasil: Kuantitas DNA ekstraksi dari akar rambut tiap fase adalah sebagai berikut fase anagen memiliki rerata 28,78 ng/ml, fase katagen memiliki rerata 7,35 ng/ml, dan fase telogen memiliki rerata 3,84 ng/ml. Pada penelitian didapatkan perbedaan yang bermakna antara tiap kelompok fase akar rambut (p<0,001), yaitu fase anagen dan katagen (p=0,025), fase anagen dan telogen (p=0,015), dan fase katagen dan telogen (p=0,014).Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna kuantitas DNA yang diekstrak dari akar rambut pada berbagai fase pertumbuhan akar rambut.
HUBUNGAN ANTARA KADAR VITAMIN D DENGAN KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN LANSIA Muhammad Rizky Caniago; Dwi Ngestiningsih; Faizah Fulyani
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.493 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23339

Abstract

Latar Belakang: Meningkatnya jumlah lansia di Indoneisa berdampak pada peningkatan masalah kesehatan. Pada lansia terjadi penurunan morfologi dan fungsi organ pada sistem musculoskeletal yaitu penurunan kekuatan otot (Sarkopenia). Kejadian sarkopenia sering ditemukan bersamaan dengan status defisiensi vitamin D. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kadar vitamin D plasma dengan kekuatan genggaman tangan lansia. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang, dilaksanakan di beberapa posyandu lansia kota Semarang. Subjek penelitian adalah lansia yang berusia ≥ 60 tahun. Subjek yang memenuhi kriteria diukur kekuatan genggaman tanganmya dengan menggunakan Jamar hand-dynamometer (3 kali pengukuran). Kadar vitamin D (25(OH)D) plasma diukur dengan menggunakan metode ELISA. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji hipotesis korelasi Pearson. Hasil: Subjek pada penelitiana ini adalah lansia wanita yang berjumlah 47 orang. Usia subjek antara 60-80 tahun, dengan median 64 tahun. Body Mass Index (BMI) subjek adalah 23.60 (18.90-34.63) kg/m2. Pada penelitian ini didapatkan data kadar vitamin D (25(OH)D) plasma dengan rerata 17.31±4.65 ng/mL; kekuatan genggaman tangan 16.73±3.87 Kg dan kadar kalsium 9.45±0.55 mg/dL. Uji korelasi Pearson menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai p = 0,047 dan r = 0.291. Kesimpulan: Adanya hubungan signifikan positif lemah antara kadar vitamin D (25(OH) plasma dengan kekuatan genggaman tangan pada lansia.Kata Kunci: Lansia, kekuatan genggaman tangan, kadar vitamin D plasma, hubungan
PERBEDAAN NILAI DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI ANTARA CABANG OLAHRAGA PERMAINAN DAN BELA DIRI Okki Aurillia; Yuswo Supatmo; Darmawati Ayu Indraswari
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.852 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18612

Abstract

Latar belakang: Daya ledak otot merupakan kemampuan untuk menghasilkan gerakan cepat dengan beban konstan. Kelincahan, kecepatan, keseimbangan, fleksibilitas, ketahanan, kekuatan, akurasi, dan daya ledak otot adalah komponen yang harus dipenuhi untuk menunjang prestasi atletik. Daya ledak otot memainkan peran kunci dalam sebagian besar cabang olahraga, terutama pada aktivitas yang bergantung pada lompatan, perubahan arah, atau kemampuan lari cepat.Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai daya ledak otot tungkai antara cabang olahraga permainan dan bela diri.Metode: Penelitian menggunakan desain belah lintang. Subjek penelitian merupakan 60 atlet laki-laki usia 14-18 tahun yang berasal dari cabang olahraga bola voli, bola basket, taekwondo, dan karate. Subjek penelitian terdiri atas 4 kelompok dengan jumlah 15 orang pada masing-masing kelompok. Karakteristik subjek penelitian yang diperoleh adalah usia, lama latihan, dan indeks massa tubuh. Pengukuran daya ledak otot tungkai pada subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan uji lompat tinggi. Data kemudian diolah menggunakan uji Saphiro-Wilk dan uji t tidak berpasangan.Hasil: Rerata nilai daya ledak otot tungkai pada cabang olahraga bola voli adalah 58,27 cm, bola basket 57,13 cm, taekwondo 46,20 cm, dan karate 48,47 cm. Rerata nilai daya ledak otot tungkai pada cabang olahraga permainan adalah 57,70 cm dan bela diri 47,33 cm. Terdapat perbedaan yang bermakna nilai daya ledak otot tungkai antara cabang olahraga permainan dan bela diri dengan nilai p<0,01.Kesimpulan: Nilai daya ledak otot tungkai cabang olahraga permainan lebih tinggi daripada cabang olahraga bela diri.

Page 51 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue