cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PENGARUH PEMBERIAN RANITIDIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GASTER TIKUS WISTAR PADA PEMBERIAN METANOL DOSIS BERTINGKAT Firly Syah Putra; Saebani Saebani; Gatot Suharto
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.929 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14434

Abstract

Latar Belakang : Metanol merupakan alkohol yang paling sederhana. Metanol sering disalahgunakan sebagai pengganti alkohol berupa minuman oplosan karena harganya yang murah. Penyalahgunaan metanol ini menyebabkan keracunan yang berbahaya bagi tubuh dan menyebabkan kematian.Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas pemberian ranitidin terhadap tingkat kerusakan gaster tikus wistar yang diinduksi metanol dosis bertingkat.Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan penelitian post test only control group design.. Jumlah sampel adalah 35 ekor mencit dengan kriteria tertentu, dibagi menjadi 7 kelompok. 1 kelompok sebagai kontrol negatif, tidak diberi perlakuan, 3 kelompok sebagai kontrol potsitif, diberi metanol dosis bertingkat. 3 kelompok sebagai perlakuan, diberi metanol dosis bertingkat dan ranitidin. Pemberian metanol dilakukan secara oral dengan sonde lambung. Sedangkan pemberian Ranitidin dilakukan secara intraperitoneal dengan spuit 1 jam setelah pemberian metanol. Uji statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji Mann-Whitney.Hasil : Pada uji Mann-Whitney antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan terdapat perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Pada perbandingan kelompok II dan V tidak didapatkan perbedaan bermakna (p = 0,55). Selain itu, perbandingan kelompok III dan VI tidak didapatkan perbedaan bermakna (p = 0,747). Akan tetapi, perbandingan kelompok IV dan VII didapatkan perbedaan bermakna (p = 0,012), namun tidak sesuai dengan hipotesis.Kesimpulan : Pemberian ranitidin pada tikus wistar setelah dipaparkan metanol dosis bertingkat tidak dapat mencegah efek toksik metanol pada gaster tikus wistar.
ASPEK MEDIS PADA KASUS KEJAHATAN SEKSUAL Sie Ariawan Samatha; Tuntas Dhanardhono; Sigid Kirana Lintang Bhima
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.455 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20849

Abstract

Latar Belakang Kejahatan seksual adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang menimbulkan kepuasan seksual bagi dirinya dan mengganggu kehormatan orang lain. Bantuan dokter dalam kasus kejahatan seksual berupa pemeriksaan pada korban baik itu pemeriksaan fisik maupun pengumpulan sampel dari tubuh korban. Namun dalam kenyataan di lapangan sangat sulit bagi dokter untuk melakukan hal – hal tersebut.Tujuan Untuk mengetahui bagaimana aspek medis kasus kejahatan seksualMetode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel adalah rekam medis kasus kejahatan seksual di dua rumah sakit di kota Semarang yaitu RSUP dokter Kariadi dan RSUD Dokter Adhyatma MPH. Data rekam medis yang diperoleh dicatat menggunakan draft yang mengacu pada standar WHO terhadap kasus kejahatan .Hasil Didapatkan 95 kasus kejahatan seksual dari tahun 2015 – 2016 yang dilaporkan pada RSUP dokter kariadi dan RSUD dokter Adhyatma, MPH. 90% dari total kasus menerima informed consent yang diberikan oleh dokter. 57 % kasus terdapat hasil anamnesis waktu dan tanggal kejadian, 41 % kasus terdapat hasil anamnesis umum, 68% kasus terdapat hasil anamnesis riwayat seksual dan riwayat menstruasi korban. 13 kasus mengandung pertanyaan apa yang dilakukan korban seusdah kejadian, 98% kasus terdapat kronologis kejadian, 94% kasus terdapat identitas pelaku, sebanyak 74 kasus terdapat lokasi kejadian, 14% kasus terdapat hasil riwayat obat – obat yang dikonsumsi korban, dan 88 % kasus terdapat deskripsi jenis kejadian seksual. Sebanyak 97% dari total kasus yang didapat terdapat hasil pemeriksaan fisik dan sebanyak 80% dari total kasus terdapat hasil pemeriksaan genitalia. Sebanyak 20% kasus terdapat dokumentasi pemeriksaan. Sebanyak 5% dari total kasus hasil pemeriksaan swab dan cairan sperma, sebanyak 1% dari total kasus yang dilakukan pemeriksaan darah dan urin. 17% dari total kasus terdapat hasil pemeriksaan kehamilan.Kesimpulan Aspek Medis Kejahatan seksual meliputi informed consent, anamnesis, pemeriksaan fisik yang terdiri dari pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan Top to Toe, dan pemeriksaan genital, Pemeriksaan penunjang yang terdiri dari pengambilan swab dan pemeriksaan cairan sperma, pemeriksaan darah dan urin, dan pemeriksaan kehamilan. Dokter dalam Kasus kejahatan seksual juga berperan dalam pengumpulan barang bukti pada tubuh korban.
PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG DITERAPI DENGAN CONTINUOUS AMBULATORY PERITONEAL DIALYSIS ATAU HEMODIALISIS Muchammad Ramadhan Abdul Ghaffar; Shofa Chasani; Fanti Saktini
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.092 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i4.18382

Abstract

Latar Belakang : Saat ini PGK merupakan merupakan masalah kesehatan yang dipandang sangat serius di dunia, terlebih lagi di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri jumlah kasus PGK baru dalam setahun semakin meningkat pertahunnya. Modalitas Renal Replacement Therapy yang tepat penting untuk membantu pasien menghadapi penyakitnya. Pemilihan modalitas Renal Replacement Therapy yang sesuai diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien PGK.Tujuan  : Menganalisis perbedaan kualitas hidup pada pasien PGK dengan CAPD dan PGK dengan HD di Unit Dialisis RSUP Dr. Kariadi SemarangMetode : Penelitian ini merupakan penelitian komparatif yang menggunakan desain cross sectional. Subjek penelitian dipilih secara consecutive sampling dari pasien PGK di Unit Dialisis RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pengumpulan data dengan pencatatan dari kuesioner KDQOL SF™1.3. Uji normalitas data menggunakan uji Shapiro-Wilk dan independent t-test digunakan untuk uji hipotesis.Hasil    : Nilai keseluruhan kualitas hidup terdapat perbedaan yang signifikan dengan rerata lebih tinggi pada pasien PGK dengan CAPD (74,92 ± 11,24 dengan 54,88 ± 12,69). Setelah dilakukan Independent t-test didapatkan p < 0,05(0,000). Sampel dengan kualitas hidup baik lebih banyak ditemukan pada pasien PGK dengan CAPD yaitu 12 (60%) sampel sedangkan pada pasien PGK dengan HD hanya terdapat 1 (5%) sampel. Pada pasien PGK dengan CAPD juga didapatkan sampel dengan kualitas hidup cukup sebanyak 6 (30%) sampel dan sampel dengan kualitas hidup kurang sebanyak 2 (10%). Sementara itu, terdapat 6 (30%) sampel dengan kualitas hidup cukup dan 13 (65%) sampel dengan kualitas hidup kurang pada pasien PGK dengan HD.   Simpulan : Terdapat perbedaan kualitas hidup antara pasien PGK dengan CAPD dan PGK dengan HD di Unit Dialisis RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pasien CAPD memiliki rerata kualitas hidup yang lebih baik daripada pasien PGK dengan HD.
PERBEDAAN HASIL FUNGSI PARU PADA REMAJA DENGAN OSA (OBSTRUCTIVE SLEEP APNEU) DAN TANPA OSA Sudarmawan, Dyah Ayu; Arkhaesy, Nahwa; MS Anam, MS Anam
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.101 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23787

Abstract

Latar belakang : Obstructive Sleep Apneu (OSA) adalah salah satu bentuk gangguan tidur yang ditandai dengan episode berulang dari obstruksi total saluran napas bagian atas selama tidur. Fungsi paru pada remaja normal akan menunjukkan hasil pemeriksan yang baik, namun belum diketahui dengan pasti bagaimana fungsi paru pada remaja dengan OSA. Parameter pengukuran fungsi paru yang paling mudah dan sederhana adalah dengan menggunakan peak flow meter dan spirometer.  Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan hasil spirometri dan peak flow meter pada remaja dengan obstructive sleep apnea dan tidak. Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 238 siswa SMP di Kota Semarang yang dipilih secara random sampling. Analisis data statistic menggunakan uji Mann whitney untuk menguji variabel tinggi badan, berat badan, usia, PEFR, FEV1, FEV1/FVC, dan PEF, uji t berpasangan untuk menguji FVC, uji fisher untuk menguji variable merokok, serta uji chi square untuk menguji variable aktifitas fisik. Hasil : Ada perbedaan bermakna antara PEFR, FEV1, FVC, dan PEF pada remaja dengan OSA dan tanpa OSA (p<0,001). Tidak ada perbedaan bermakna antara FEV1/FVC pada remaja dengan OSA dan tanpa OSA (p=0,301). Tidak ada perbedaan bermakna antara variabel-variabel perancu pada remaja dengan OSA dan tanpa OSA (p>0,05), namun ada perbedaan bermakna dari aktifitas fisik yang artinya mempengaruhi nilai fungsi paru (p=0,005). Kesimpulan : Ada perbedaan hasil fungsi paru pada remaja dengan OSA dan tanpa OSA yang dipengaruhi oleh aktifitas.Kata kunci : Obstructive sleep apneu (OSA), peak flow meter, spirometer, remaja
PERBEDAAN SKOR BUTA WARNA PADA PASIEN RETINOPATI DIABETIKA SEBELUM DAN SESUDAH LASER PANRETINAL PHOTOCOAGULATION Matilda Stella; Riski Prihatningtias; Arief Wildan
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.538 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14812

Abstract

Latar Belakang : Retinopati diabetika merupakan komplikasi berat dari diabetes yang menyebabkan terjadinya gangguan penglihatan seperti terganggunya fungsi penglihatan warna. Terapi Panretinal Photocoagulation (PRP) dalam mengurangi progresivitas retinopati diabetika proliferatif (PDR), juga dapat menimbulkan destruksi sel retina yaitu fotoreseptor dan pigmen epitelium retina. Fotoreseptor mengandung sel kerucut yang berperan dalam penglihatan warna, sehingga laser PRP juga mempengaruhi perubahan penglihatan warna seseorang.Tujuan : Menganalisis perbedaan skor buta warna pada pasien retinopati diabetika sebelum dan sesudah laser PRP.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan rancangan one group pretest and posttest design. Subyek penelitian adalah penderita PDR yang dipilih secara consecutive sampling yang dilakukan pemeriksaan skor buta warna dengan Farnsworth Munsell 28 Hue test sebelum diterapi laser PRP dan satu minggu setelah dilakukan terapi laser PRP. Data diolah dengan menggunakan uji Paired T Test.Hasil : Pada 21 mata yang diperiksa, skor buta warna pada pasien PDR sebelum laser PRP memiliki rerata 713,29216,314 dan sesudah laser PRP memiliki rerata 819184,923, di mana menunjukkan pergeseran nilai skor buta warna menjadi lebih besar. Terdapat perbedaan yang yang bermakna skor buta warna sebelum dan sesudah laser PRP (p=0,018).Kesimpulan : Terdapat peningkatan skor buta warna pada pasien retinopati diabetika sebelum dan sesudah laser PRP
PENGARUH PENGGUNAAN BETA BLOCKER TOPIKAL JANGKA PANJANG TERHADAP SENSIBILITAS KORNEA PADA PASIEN GLAUKOMA Tusita Devi; Fifin Luthfia Rahmi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.299 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18644

Abstract

Latar Belakang : Penurunan sensibilitas kornea merupakan salah satu efek samping dari penggunaan beta blocker topikal yang dapat menimbulkan berbagai masalah seperti penurunan reflex mengedip, penurunan kemampuan penyembuhan luka pada kornea, dan terkait juga dengan penurunan sekresi air mata.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara sensibilitas kornea dengan lama penggunaan beta blocker pada pasien glaukoma di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional, yang menggunakan data dari wawancara dengan pasien dan pemeriksaan langsung. Pemeriksaan sensibilitas kornea menggunakan alat estesiometer Cochet-Bonnet. Uji statistik yang digunakan adalah uji non parametrik Spearman.Hasil : Sebanyak 44 mata dari 25 pasien glaukoma yang terdiri dari 9 laki-laki dan 16 perempuan dan telah diwawancara lama penggunaan beta blocker diperiksa sensibilitas korneanya. Kelompok subjek yang menggunakan beta blocker < 6 bulan memiliki rerata skor sensibilitas yang lebih baik, yaitu 14,395 mg/mm2 ,diikuti kelompok subjek yang menggunakan beta blocker selama 6-12 bulan dengan rerata skor 15,148 mg/mm2, sedangkan subjek yang menggunakan beta blocker lebih lama, yaitu >12 bulan memiliki rerata skor sensibilitas kornea tertinggi yaitu  19,958 mg/mm2. Uji non parametrik Spearman menunjukkan adanya kekuatan korelasi sedang, yaitu r=0,495, dengan p =0,001.Kesimpulan : Terdapat hubungan antara penurunan sensibilitas kornea dengan lama penggunaan beta blocker pada pasien glaukoma.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP KEPATUHAN PELAYANAN RUJUKAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL DENGAN KASUS PREEKLAMSPAI BERAT DAN EKLAMPSIA Muhammad Mahdika Akbar; Ratnasari Dwi Cahyanti
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.696 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14808

Abstract

Latar Belakang : Preeklampsia dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu dan bayi yang tinggi terutama di negara berkembang. Kematian akibat eklampsia meningkat lebih tajam dibandingkan pada tingkat preeklampsia berat. Kejadian preeklampsia dan eklampsia bervarisi disetiap negara bahkan disetiap daerah. Dijumpai berbagai faktor yang mempengaruhi diantaranya ialah rendahnya tingkat pengetahuan ibu hamil, kurangnya Antenatal Care (ANC), diabetes mellitus, hidramnion, hamil kembar dan usia ibu lebih dari 35 tahun.Tujuan : Mengetahui adanya faktor tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan pelayanan rujukan antenatal care pada kasus preeklampsia berat dan eklampsia terhadap ibu hamil di Kota Semarang.Metode : Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan metode pendekatan belah lintang yang dilakukan kepada ibu hamil dengan cara kunjungan rumah dan kunjungan bangsal.Hasil : Dari 50 responden dalam penelitian ini, didapatkan hasil 18 responden (36%) mempunyai tingkat kesadaran terhadap kehamilan yang baik dan berpengaruh terhapadap kepatuhan pelayanan rujukan antenatal care, lalu 14 responden (28%) mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup, sedangkan 18 responden (36%) sisanya memiliki tingkat kesadaran terhadap kehamilan. Hasil uji statistik dengan Spearman menggunakan program SPSS v.15 for windows didapat nilai p = < 0,05. Dari 50 responden dalam penelitian ini, didapatkan hasil 4 responden (8%) mampu menyelesaikan pendidikan pada tahap SMP, lalu 40 responden (80%) mampu menyelesaikan pendidikan pada tahap SMA dan yang terkahir 6 responden (12%) mampu melanjutkan hingga tingkat universitas. Pada penelitian ini, tingkat pendidikan yang tinggi maupun rendah tidak berpengaruh terhadap kepatuhan pelayanan rujukan antenatal care. Hasil uji statistik dengan Spearman menggunakan program SPSS v.15 for windows didapat nilai p = > 0,05Kesimpulan: Tingkat kesadaran mempengaruhi kepatuhan pelayanan antenatal care pada ibu hamil dengan kasus preeklampsia berat dan eklampsia
PENGARUH EKSTRAK DAUN SUKUN (ARTOCARPUS ALTILIS) DAN MADU TERHADAP DERAJAT FIBROSIS HEPAR PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI DISETILNITROSAMIN Bahar, Amalia Permata; Miranti, Ika Pawitra
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.333 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21284

Abstract

Latar belakang: Dietilnitrosamin (DEN) merupakan senyawa nitrosamin yang merupakan salah satu karsinogen yang paling banyak dijumpai pada bahan pengawet makanan yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi hepar dan  menimbulkan kerusakan salah satunya yaitu peningkatan derajat fibrosis.  Daun sukun dan madu mengandung senyawa antioksidan flavonoid yang efektif menghambat mediator inflamasi, dan mengurangi efek buruk DEN terhadap heparTujuan: Mengetahui adanya pengaruh pemberian ekstrak daun sukun ditambah madu terhadap gambaran derajat fibrosis hepar pada tikus wistar jantan yang diinduksi DEN.Metode: Penelitian true experimental dengan metode “post test only control group design” menggunakan 24 tikus wistar jantan yang terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu K- tidak diberi intervensi apapun, K+ diinduksi DEN 50 mg/kgBB satu minggu sekali, P1 DEN 50 mg/kgBB satu minggu sekali kemudian diberi ekstrak daun sukun 200 mg/kgBB, P2 diberi DEN 50 mg/kgBB satu minggu sekali kemudian diberi ekstrak daun sukun 200 mg/kgBB ditambah madu 2 g/kgBB. Perlakuan selama 56 hari, lalu tikus diterminasi dan dilakukan pengamatan mikroskopis dengan kriteria Laennec scoring system.Hasil: Kelompok K- tidak menunjukkan kerusakan pada hepar. K+ menunjukkan fibrosis minimal, ringan, dan sedang. Perbedaan yang signifikan terdapat pada kelompok K- dengan kelompok K+ (p=0,005). Terdapat perbedaan signifikan  antara kelompok K dengan kelompok P1 (p=0,005) dan antara kelompok K dengan kelompok P2 (p=0,05). Perbedaan yang tidak signifikan terdapat antara kelompok K1 dengan kelompok P1 (p=0,058), kelompok K1 dengan kelompok P2 (p=0,178), dan kelompok P1 dengan kelompok P2 (p=0,729).Kesimpulan: Pemberian ekstrak daun sukun 200mg/kgBB ditambah madu 2g/kgBB memberikan perbaikan berupa penurunan derajat fibrosis hepar tikus wistar jantan yang diinduksi DEN.
HUBUNGAN TINGKAT OBESITAS TERHADAP DERAJAT KONKA HIPERTROFI Brilliani Bintang Permatasari; Anna Mailasari Kusuma Dewi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.66 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i3.24418

Abstract

Latar Belakang : Obesitas merupakan kondisi penimbunan lemak berlebih pada tubuh. Keadaan ini menyebabkan berbagai masalah dalam sisi kesehatan. Salah satunya adalah sumbatan hidung akibat konka hipertrofi. Konka hipertrofi didefinisikan sebagai pembesaran konka inferior melalui mekanisme inflamasi yang disebabkan oleh 2 faktor besar, yaitu rinitis alergi dan non alergi. Pada penelitian sebelumnya, dinyatakan bahwa peningkatan biomarker inflamasi terjadi pada pasien dengan obesitas. Tujuan : Mengetahui hubungan antara tingkat obesitas terhadap derajat konka hipertrofi. Metode : Penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional pada 50 pasien obesitas berusia kurang dari 40 tahun di Universitas Diponegoro. Sampel diklasifikasikan berdasarkan kriteria Asia yang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu obesitas tingkat 1 dengan BMI 25-29,9 dan tingkat 2 dengan BMI ≥30. Kondisi konka dikategorikan berdasarkan ketentuan Businco yang terbagi dalam 4 derajat, yaitu derajat 1 untuk konka normal, derajat 2 untuk hipertrofi ringan, derajat 3 untuk hipertrofi sedang, dan derajat 4 untuk hipertrofi berat. Hasil : Terdapat 50 pasien obesitas berusia kurang dari 40 tahun. Hasil pemeriksaan konka didapatkan konka hipertrofi kanan-kiri derajat 1 (52% / 40%), derajat 2 (38% / 42%), derajat 3 (10% / 6%), dan derajat 4 (0% / 6%). Hasil terbesar dari pembandingan konka kanan dan konka kiri didapatkan hasil konka hipertrofi derajat 1 (24%), derajat 2 (56%), derajat 3 (14%) dan derajat 4 (6%). Hubungan obesitas terhadap kejadian konka hipertrofi pada konka kanan (p=0,208), konka kiri (p=0,664) dan konka terbesar dari konka kanan dan kiri (p=0,213). Kesimpulan : Tingkat obesitas tidak berhubungan dengan derajat konka hipertrofi.Kata Kunci : Obesitas, konka hipertrofi, rinitis alergi.
Analisa Gambaran Post Mortem Makroskopis dan Mikroskopis Organ Jantung dan Ginjal pada Tikus Wistar Setelah Pemberian Warfarin LD50 dan LD 100 Anggoro Adjar Mangestu; Gatot Suharto; Siti Amarwati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.764 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i2.11820

Abstract

Background : Its about 800.000 people die caused of suicide in a year. In 2012, suicide is the second most common cause of death in juvenile, range of age is 15-29 yo (WHO). One of common cause in suicide is using poison, and one of them is medical drugs. Warfarin is a substance which belong to medical drug as a human therapeutic agent but also can be use as a rodenticide. This study was aimed to analyze the effect of Warfarin administration in Wistar Rats organs especially brain and liver in a macroscopic and microscopic presentation.Aim : to know macroscopic and microscopic view after the provision of warfarin a dose of LD-50 and LD-100.Method : Laboratoric experimental study with 27 male Wistar Rats divided into 3 groups. Two treatment groups were given single dose Warfarin LD-50 200mg/kg BW and Warfarin LD100 400mg/kg BW. This study was conducted in Biology Faculty UNES and Patology Anatomy  Laboratory WASPADA Semarang for histopatology examination.Result : Prominent abnormality findings on microscopic representation including haemorrhage ptechiae and blood vessel enlargement in almost every organ, meanwhile damaging happened in liver. Microscopic representation examination showed haemorrhage, nekrosis, and inflammation signs.Conclusion : There are prominent abnormality characteristics in macroscopic representation as well as microscopic Wistar Rats organ examination after Warfarin LD-50 and LD-100 administration, most important at liver.

Page 52 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue