Jurnal Kedokteran Diponegoro
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Articles
1,040 Documents
PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN TEKANAN INTRAOKULER DENGAN TONOMETRI SCHIOTZ DAN APPLANASI GOLDMANN PADA PASIEN GLAUKOMA
Na'ila Amira Salsabila;
Maharani Maharani;
Arief Wildan
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (393.62 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23891
Latar Belakang: Pengukuran tekanan intraokuler (TIO) yang akurat dengan teknik yang tepat sangat penting dalam diagnosis dan penanganan glaukoma. Pemeriksaan dengan applanasi Goldmann telah diterima sebagai alat terbaik untuk memperkirakan tekanan intraokular dalam praktik klinik. Kekurangan dari applanasi Goldmann adalah kurang portable bagi klinisi dan perlu keterampilan yang baik untuk penggunannya. Tonometer Schiotz memiliki kelebihan mudah dibawa dan ketersediaanya banyak di Indonesia. Tujuan: Mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan tekanan intraokuler dengan applanasi Goldmann dan tonometer Schiotz pada pasien glaukoma. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah 32 mata dari 20 pasien glaukoma dengan TIO <21mmHg di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Oktober 2018. Pengukuran intraokuler dilakukan sebanyak satu kali menggunakan applanasi Goldmann dan tiga kali dengan tonometer Schiotz pada tiap sampel. Analisis data yang digunakan adalah uji t test. Terdapat perbedaan yang signifikan apabila p<0,005. Hasil: Berdasarkan pemeriksaan dari 32 mata didapatkan rerata tekanan intraokuler dengan applanasi Goldmann dan tonometer Schiotz sebesar 16,06 ± 2,76 mmHg dan 16,16 ± 2,81 mmHg. Hasil uji analisis t-test tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,889) pada hasil pemeriksaan tekanan intraokuler dengan applanasi Goldmann dan Tonometer Schiotz. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan hasil pemeriksaan tekanan intraokuler dengan applanasi Goldmann dan Tonometer Schiotz pada pasien glaukoma.Kata Kunci: Tekanan Intraokuler (TIO), Tonometri Schiotz, Applanasi Goldmann.
HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN KADAR LEMAK TOTAL (Studi Kasus Pada Mahasiswa Kedokteran Undip)
Zega Yudama Archilona;
Heri-Nugroho Heri-Nugroho;
Niken Puruhita
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (377.217 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v5i2.11602
Background : Total body fat’s content is one of many indicators that affects weight gain and body mass index. Total body fat’s content is important because it can lead to various diseases such as type 2 diabetes mellitus, hypertension, and dyslipidemia. Body mass index (BMI) can describe a person's nutritional status. Measurement of both BMI and total body fat’s content should use the recommended tools such as the use of CT scans and MRI, but these tools are very expensive and impractical. This study used a tool called Tanita that used BIA method because it is more practical and cheaper in the measurement of BMI and total body fat’s content.Objectives : Knowing whether there is a relationship between BMI and total body fat’s content in Undip medical students.Methods : This study was an observational study with cross sectional analytic study. The data that was taken in this study included BMI, total body fat’s, smoking, sex, physical activity, habits of consumption of fatty foods, and alcohol consumption. statistical test with chi-square correlation test (x2).Results : There were significant correlation between body mass index and the total body fat’s content (p = 0.000). The other confounding variables were found no significant correlation (p> 0.05).Conclusions : The meaningful and positive correlation of body mass index and total body fat’s content do exist.
PERBANDINGAN KETEBALAN INTIMA MEDIA ARTERI KAROTIS ANTARA PASIEN HIPERTENSI DENGAN DIABETES MELLITUS DAN TANPA DIABETES MELLITUS
Mutiara Chairsabella;
Charles Limantoro;
Yosef Purwoko
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (365.682 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15497
Latar belakang : WHO tahun 2014 menunjukkan bahwa 22% manusia dewasa memiliki hipertensi dan setiap tahunnya 9,4 juta orang meninggal akibat komplikasi hipertensi. Hipertensi merupakan faktor risiko aterosklerosis. Diabetes mellitus (DM) sering terjadi bersamaan dengan hipertensi. Individu dengan DM memiliki risiko penyakit aterosklerosis 2-4 kali lebih tinggi dari individu tanpa DM. Penilaian carotid intima-media thickness (CIMT) melalui ultrasound vaskular karotis dapat menilai aterosklerosis subklinis.Tujuan : Membandingkan rerata CIMT antara pasien hipertensi dengan DM dan tanpa DM.Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancang belah lintang yang menggunakan cara consecutive sampling. Sampel berjumlah 32 orang dan terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok I terdiri dari 16 orang dengan hipertensi tanpa DM dan kelompok II terdiri dari 16 orang hipertensi dengan DM. Rerata nilai CIMT dianalisa berdasarkan variabel usia, jenis kelamin, status dislipidemia, status obesitas, tingkat aktivitas fisik, riwayat merokok, dan status DM. Uji statistik yang digunakan adalah uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis.Hasil : Rerata CIMT kelompok hipertensi tanpa DM adalah 0,75±0,32 mm sedangkan pada kelompok hipertensi dengan DM adalah 0,95±0,43 mm. Total didapatkan 11 subjek dengan nilai CIMT abnormal (>0,9 mm). Uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan rerata CIMT berdasarkan status DM tidak signifikan. 68,8% subjek memiliki dislipidemia. Terdapat perbedaan rerata CIMT yang signifikan berdasarkan status dislipidemia. Tempat penelitian ini merupakan pelayanan kesehatan sekunder, sehingga beberapa subjek penelitian memiliki manifestasi penyakit aterosklerosisSimpulan : Perbedaan rerata CIMT berdasarkan status DM pada pasien hipertensi tidak signifikan.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUTESCENS L.) TERHADAP GAMBARAN MIKROSKOPIS HEPAR MENCIT BALB/C
Prasetiyowati, Anggi;
Ismail, Akhmad;
Witjahyo, Bambang
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (365.082 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21467
Latar Belakang: Cabai rawit merupakan bahan yang banyak digunakan dalam berbagai masakan Indonesia. Cabai rawit mengandung bahan aktif kapsaisin yang menyebabkan sensasi pedas. Di sisi lain, capsaicin merupakan bahan yang dapat mengiritasi. Kapsaisin yang masuk ke dalam tubuh kan dimetabolisme oleh hepar. Meningkatnya kadar kapsaisin dalam hepar dapat mempengaruhi gambaran histologinya.Tujuan: Membuktikan adanya pengaruh ekstrak cabai rawit (Capsicum frutescens L.) terhadap gambaran mikroskopis mencit balb/c.Metode: Penelitian ini merupkan penelitin true experimental dengan rancangan Post Test Only with Control Group Design yang menggunakan hewan coba berupa mencit balb/c usia 2-3 bulan dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok K diberi makan dan minum standar, kelompok P1 diberi paparan ekstrak cabai rawit dosis 10 mg/kg bb, kelompok P2 diberi paparan ekstrak cabai rawit dosis 20 mg/kg bb, kelompok P3 diberi paparan ekstrak cabai rawit 40 mg/kg bb. Penelitian ini dilaksanakan selama 14 hari. Pada hari ke 15, mencit dideterminasi dan diambil heparnya kemudian dilakukan pengamatan mikroskopis.Hasil: Uji Post Hoc menunjukkan perbedaan bermakna antar semua kelompok (p<0,05). Didapatkan kelainan gambaran mikroskopis pada kelompok perlakuan 1, perlakuan 2, dan perlakuan 3. Kerusakan tersebut meningkat dengan peningkatan dosis.Simpulan: Pemberian ekstrak cabai rawit (Capsicum frutescens L.) berpengaruh terhadap gambaran mikroskopis hepar mencit balb/c. Besarnya pengaruh pemberian ekstrak cabai rawit (Capsicum frutescens L.) meningkat dengan peningkatan dosis.
NILAI DIAGNOSTIK OSTEOPOROSIS SELF-ASSESMENT TOOL FOR ASIANS TERHADAP DUAL ENERGY X-RAY ABSORBTIOMETRY DALAM PENAPISAN OSTEOPOROSIS STUDI PADA WANITA POST MENOPAUSE
Daniel Yoga Kurniawan;
Tanti Ajoe Kesoema;
Meita Hendrianingtyas
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (382.679 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18558
Latar Belakang: Osteoporosis merupakan salah satu penyakit tidak menular terbanyak di dunia. Prevalensi osteoporosis pada wanita di atas usia 50 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Osteoporosis meningkatkan resiko terjadinya fraktur. Gold standard dalam penegakkan diagnosis osteoporosis adalah pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) dengan alat Dual Energy X-ray Absorptiometry (DXA). Jumlah perangkat DXA di Indonesia masih terbatas, dan untuk periksa butuh biaya yang mahal, maka dibutuhkan alat penapisan osteoporosis yang mudah digunakan. Salah satu alat penapisan yang praktis adalah Osteoporosis Self-assessment Tools for Asians (OSTA).Tujuan: Mengetahui nilai diagnostik OSTA terhadap DXA untuk penapisan osteoporosis pada wanita post menopause di Rumah Sakit Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan uji diagnostik. Dilakukan pemeriksaan OSTA dan hasilnya dibandingkan dengan hasil pemeriksaan DXA pada 97 catatan medik (CM) wanita pasca menopause. Hasil yang diperoleh di uji dengan tabel 2x2 untuk memperoleh hasil sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value (PPV), dan negative predictive value (NPV).Hasil: Hasil pemeriksaan OSTA yang dibandingkan dengan DXA memperoleh hasil sensitivitas 92,5%, spesifisitas 42,1%, PPV 52,9%, dan NPV 88,9%.Simpulan: OSTA merupakan alat penapisan yang efektif untuk osteoporosis pada wanita post menopause di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang.
PENGARUH PENGGUNAAN IRING® SMARTPHONE HOLDER TERHADAP RANGE OF MOTION METACARPOPHALANGEAL JOINT
Dimas Fauzan;
Tri Indah Winarni;
Erie BPS Andar;
Rahmi Isma Asmara Putri
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (309.293 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25342
Latar belakang: Penggunaan aksesoris tambahan dipilih menjadi solusi untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan smartphone pada saat ini. Salah satunya adalah iRing yang digunakan di sela-sela jari untuk mempermudah proses menggenggam smartphone dan menaruh beban smartphone pada jari. Memberikan usaha berlebih pada gerak sendi dapat menurunkan fleksibilitas dari sendi tersebut. Tujuan: Mengetahui pengaruh penggunaan iRing® Smartphone Holder terhadap ROM sendi MCP pada gerakan fleksi, ekstensi, adduksi dan abduksi. Metode: Penelitian ini adalah penelitian studi observasional analitik dengan pendekatan case-control yang dilakukan pada mahasiswa Universitas Diponegoro. Subjek penelitian adalah 64 mahasiswi Universitas Diponegoro yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran besar sudut ROM pada sendi MCP menggunakan goniometer. Uji hipotesis menggunakan uji T tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara penggunaan iRing® Smartphone Holder dengan Range of Motion dari sendi Metacarpophaangeal pada gerakan fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara penggunaan iRing® Smartphone Holder dengan ROM sendi MCP.Kata kunci: ROM sendi MCP, penggunaan iRing Smartphone Holder, fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi.
HUBUNGAN ANTARA FUNGSI SISTOLIK DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK
Alfredo Alfredo;
Sefri Noventi Sofia;
Erna Setiawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (331.67 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14217
Latar Belakang : Gagal jantung adalah sindrom klinis yang ditandai oleh sesak napas, fatigue, edema dan tanda objektif adanya disfungsi jantung dalam keadaan istirahat yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung yang menyebabkan kegagalan jantung memompa darah sesuai dengan kebutuhan jaringan. Gagal jantung kronik dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi menjadi gagal jantung sistolik dan gagal jantung diastolik. Sebagai salah satu penyakit kronik, gagal jantung akan mempunyai dampak terhadap kualitas hidup pasien. Terdapat beberapa penelitian yang meneliti hubungan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pasien, tetapi terdapat hasil yang bertolak belakang satu sama lain.Tujuan : Mengetahui bagaimana hubungan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode cross sectional. Sampel sebanyak 32 pasien gagal jantung kronik yang memenuhi kriteria inklusi dengan metode consecutive sampling. Dari hasil ekokardiografi didapatkan nilai fraksi ejeksi ventrikel kiri dan penilaian kualitas hidup menggunakan kuesioner MLHF.Hasil : Hasil uji korelasi antara LVEF dengan skor kuesioner dimensi fisik, dimensi emosi dan skor keseluruhan MLHFQ tidak menunjukkan adanya korelasi karena p > 0,05. Pada uji korelasi LVEF dengan dimensi fisik dan MLHFQ total didapatkan arah korelasi negatif (-) dengan kekuatan korelasi sangat lemah (<0,2). Pada uji korelasi LVEF dengan dimensi emosi didapatkan arah korelasi positif (+) dengan kekuatan korelasi sangat lemah (<0,2).Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik, baik dari dimensi fisik, dimensi emosi, maupun secara keseluruhan.
PERBEDAAN SKOR RSI PENDERITA LARYNGOPHARYNGEAL REFLUX YANG MENDAPAT OMEPRZOLE DAN LANSOPRAZOLE
Sri Endah Eka Putri;
Willy Yusmawan;
Kanti Yunika
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (328.206 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19393
Latar Belakang : Laryngopharyngeal Reflux (LPR) adalah hasil aliran balik isi lambung ke laring faring yang menyebabkan cedera mukosa laring dan faring. Reflux Symptom Index (RSI) digunakan sebagai diagnosis dan evaluasi terapi LPR. Omeprazole dan lansoprazole adalah Proton Pump Inhibitor (PPI) yang paling sering digunakan sebagai terapi initial LPR. Secara farmakokinetik lansoprazole memiliki bioavaibilitas yang lebih tinggi dan interaksi dengan obat lain sedikit.Tujuan : Mengetahui perbedaan efektifitas omeprazole dibanding lansoprazole terhadap skor RSI penderita LPRMetode : Penelitian observasional komparatif menggunakan data rekam medis di poliklinik THT-KL RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2013-2017. Terdapat 47 sampel penelitian yang telah mendapat terapi selama 3 bulan dan dikelompokkan menjadi kelompok yaitu omeprazole dan lansoprazole. Evaluasi LPR setelah terapi dinilai dengan skor Reflux Symptom Index (RSI). Analisis hasil data dengan uji Independent T test, Mann Whitney dan Wilcoxon.Hasil : Rerata skor RSI sebelum terapi antara kedua kelompok dengan p=0,033. Sedangkan rerata skor RSI sesudah terapi antara kedua kelompok dengan p=0,056 (p>0,05). Uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektifitas yang bermakna antara kelompok omeprazole dan lansoprazole terhadap skor RSI sesudah terapi. Selisih rerata sebelum dan sesudah terapi kelompok omeprazole -7,30 ± 5,52 sedangkan lansoprazole -8,67 ± 5,86. Terdapat perbaikan yang bermakna pada seluruh gejala RSI pada kelompok lansoprazole. Simpulan : Tidak terdapat perbedaan efektifitas yang bermakna antara kedua kelompok dan perbaikan masing masing gejala RSI pada lansoprazole lebih baik dibanding omeprazole
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU MEMERIKSAKAN DIRI KE PELAYANAN KESEHATAN : PENELITIAN PADA PASIEN GLAUKOMA DI RUMAH SAKIT DR. KARIADI
Rifki Aziz Fauzian;
Fifin Lutfia Rahmi;
Trilaksono Nugroho
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (362.053 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15911
Latar Belakang Glaukoma merupakan penyebab kebutaan terbesar kedua setelah katarak. Kebutaan akibat glaukoma bersifat irreversible. Perilaku dan kesadaran masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan kebutaan akibat glaukoma dan membantu tenaga kesehatan mata dalam melakukan deteksi dan penanganan dini.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku masyarakat terhadap penyakit glaukoma dalam upaya memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan mata.Metode Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi crossectional. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dengan panduan daftar pertanyaan tertutup. Kemudian dilanjutkan dengan in-depth interview dengan panduan daftar pertanyaan terbuka. Uji statistik yang dilakukan adalah uji normalitas data Saphiro Wilk dan uji korelasi spearman.Hasil Didapatkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (p = 0,003). Kuat hubungan secara statistik antar variabel termasuk kategori sedang (0,4 - <0,6), dan arah korelasinya positif yang artinya semakin tinggi variabel bebas, berdampak pada semakin tinggi variabel terikat.Kesimpulan Ada hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai glaukoma dengan perilaku memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan mata
PENGARUH PEMBERIAN ASAP CAIR (LIQUID SMOKE) DOSIS BERTINGKAT TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA KELINCI (ORYCTOLAGUS CUNICULUS)
Candra Farida;
Ratna Damma Purnawati;
Noor Wijayahadi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (406.644 KB)
|
DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23299
Latar Belakang : Asap cair dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan luka sayat karena mengandung senyawa kimia seperti fenol dan asam asetat yang berperan sebagai antioksidan, antiseptik dan antibakteri. Kedua senyawa tersebut dapat menurunkan pH sehingga dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme, menghambat oksidasi lemak, mencegah oksidasi lipida dengan menstabilkan radikal bebas serta meningkatkan aliran darah ke jaringan parut dan meminimalkan bekas luka. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian asap cair dosis bertingkat terhadap proses penyembuhan luka sayat pada kelinci. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan Post Test Only Control Group Design terhadap 6 ekor kelinci yang kemudian diambil secara acak dan dibagi menjadi 4 kelompok. Kecepatan penyembuhan luka sayat diukur dengan menghitung panjang serta mengamati gambaran makroskopis dan mikroskopis luka sayat yang dinilai dengan kriteria modifikasi Nagaoka. Hasil : Data pengukuran panjang luka sayat diolah secara statistik dengan uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann Whitney, sedangkan untuk gambaran makroskopis dan mikroskopis luka sayat diolah dengan uji nonparametrik. Pada panjang luka, didapatkan hasil yang berbeda bermakna (p<0,05) antara kelompok aquades dengan povidone iodin, kelompok aquades dengan asap cair 6% serta kelompok povidone iodin dengan asap cair 3%. Pada gambaran makroskopis dan mikroskopis luka didapatkan hasil yang berbeda tidak bermakna (p>0,05) pada semua kelompok. Kesimpulan : Pemberian asap cair dosis bertingkat menyebabkan terjadinya perubahan gambaran makroskopis dan mikroskopis penyembuhan luka sayat dengan urutan hasil terbaik didapatkan mulai dari povidone iodin, asap cair 6% kemudian asap cair 3%Kata Kunci : Luka sayat, asap cair, povidone iodin, gambaran makroskopis dan mikroskopis penyembuhan luka