cover
Contact Name
Miftahul Huda
Contact Email
miftahul@uicordoba.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
miftahul@uicordoba.ac.id
Editorial Address
Jl. KH. Achmad Musayyidi, No.09, Karangdoro, Tegalsari
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Communication and Da’wah
ISSN : -     EISSN : 31234402     DOI : 10.67008
Core Subject :
The Journal of Communication and Dawah is a peer reviewed open access scientific journal published by the Faculty of Dawah, Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Indonesia. The journal serves as an academic platform for the dissemination of high quality research in the fields of Islamic communication, dawah, media studies, broadcasting, and related disciplines. The journal aims to enrich scholarly discussion by publishing original research that advances the theory and practice of communication and dawah. It also seeks to strengthen the development of communication and dawah studies by integrating Islamic values with contemporary approaches and providing practical contributions for academics, researchers, educators, practitioners, and policy makers in responding to current social and cultural challenges.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Free Nutritious Meals as A Constitutional Right: Budgetary Politics, Social Justice, and Implementation Challenges in Indonesia Khoirul Hadi al Asy Ari Hadi; Syafril Wicaksono; Nikmatul Munawiroh
Journal of Communication and Da'wah Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Communication and Da'wah Vol.2 No.1, June 2026
Publisher : Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67008/4n8k7306

Abstract

Free Nutritious Meal Program (MBG) launched by the government marks a new chapter in fulfilling the basic rights of citizens, especially school-age children. From a constitutional perspective, the right to nutritious food is an integral part of the guarantee of social rights as stipulated in the 1945 Constitution. However, the implementation of the MBG is not only technocratic but also fraught with budget politics that often give rise to a tug-of-war between fiscal stability and social justice. The background of this problem is rooted in the question of whether the MBG truly functions as an instrument of distributive justice or is merely a populist project with limited effectiveness. The research gap arises because previous studies have focused more on the technical aspects of implementing the food program, while the normative-philosophical approach linking the MBG with constitutional rights and budget politics is still rarely discussed. The novelty of this research lies in the analysis of the MBG as a legal instrument that examines the extent to which fiscal politics is able to realize substantive social justice, not just short-term political stability. The formulation of this research problem is first: How can the MBG be interpreted as part of the fulfillment of citizens' constitutional rights from the perspective of budgetary legal politics? Second, what are the normative and implementative challenges of the MBG in realizing the principles of social justice in Indonesia? Preliminary results indicate that the success of the MBG is largely determined by the political alignment of fiscal law oriented towards distributive justice and transparent oversight. Without this, the program risks becoming both a fiscal burden and a tool for reproducing social injustice.
Antara Cosplay dan Tradisi: Identitas Budaya di Banyuwangi Zulfa Nurkholishoh; A. Trihartono; F. Albayuni; D. Ismail
Journal of Communication and Da'wah Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Communication and Da'wah Vol.2 No.1, June 2026
Publisher : Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67008/28xm3a11

Abstract

Kekuatan lunak (soft power) mengacu pada kemampuan untuk memengaruhi khalayak internasional dengan melibatkan mereka melalui daya tarik budaya. Melalui diplomasi budaya, suatu negara memperkuat citra dan identitasnya. Cosplay sebagai budaya pop Jepang merupakan fenomena global yang berkembang sebagai bagian dari soft power Jepang dengan strategi Cool Japan melalui diplomasi budaya di komunitas lokal di Banyuwangi. Studi ini menganalisis bagaimana pengetahuan dan aksesibilitas cosplay pada penggemarnya serta menelaah penerimaan budaya asing dapat berjalan selaras dengan identitas budaya dan keharmonisan sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Lokasi penelitian adalah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Studi ini menggunakan metode eksplanatori kuantitatif, dengan mewawancarai 100 penggemar cosplay untuk mengkaji faktor-faktor apa yang memengaruhi penerimaan mereka terhadap cosplay dan apakah cosplay dapat memengaruhi kecintaan mereka terhadap identitas budaya lokal Banyuwangi. Dengan menggunakan analisis regresi berganda, studi ini menemukan bahwa persepsi dan sikap penduduk Banyuwangi terhadap cosplay positif, yang menunjukkan bahwa cosplay efektif digunakan sebagai alat diplomasi kekuatan lunak Jepang. Namun, yang menarik adalah para cosplayer tidak kehilangan kecintaan mereka terhadap identitas budaya lokal Banyuwangi. Nilai-nilai seperti moderasi, toleransi, dan keseimbangan sosial yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an berperan penting dalam menjaga keharmonisan komunitas.  Penelitian ini membantu menentukan seberapa efektif cosplay berfungsi sebagai alat diplomasi budaya Jepang melalui kekuatan lunak di tingkat lokal.
Dakwah Humanistik di Era Digital: Perspektif Stoikisme dalam Penguatan Kesehatan Mental Generasi Z Muhammad Ullin Nuha; Lilik Mutaharoh
Journal of Communication and Da'wah Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Communication and Da'wah Vol.2 No.1, June 2026
Publisher : Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67008/8x7dvr82

Abstract

Generasi Z tumbuh ditengah pesatnya perkembagangan teknologi dan digitalisasi yang membentuk pola pikir, perilaku, serta relasi sosial mereka. Tantangan sosial yang muncul diantaranya digital fatigue, fomo, anxiety dan krisis spiritual. Paparan konten yang berlebihan dan tumbuhnya budaya instant gratification mengakibatkan peningkatan stress, kecemasan dan depresi meningkat. Dalam konteks dakwah Islam era digital ini dituntut agar mampu menjawab kebutuhan mental generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendekatan dakwah humanistik yang dipadukan dengan prinsip-prinsip stoikisme sebagai media untuk penguatan kesehatan mental bagi Generasi Z di era digitalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi kepustakaan (library research). Hasil kajian menunjukkan bahwa Dakwah Humanistik, yang menekankan pada nilai empati, inklusivitas, dan pendekatan non-judgmental, mampu mengisi kekosongan spiritual yang sering kali terabaikan dalam pandangan umum mengenai kesehatan jiwa saat ini. Integrasi nilai-nilai islam seperti sabar, tawakkal, dan ridha jika dipadukan dengan konsep Stoikisme maka akan membangun kehidupan yang moderat, ketenangan batin, dan keseimbangan spiritual Generasi Z. Sehingga dakwah tidak lagi dipandang sebagai sekumpulan doktrin kaku, melainkan sebagai pijakan moral dan emosional yang relevan dalam menghadapi krisis kesehatan mental di era digital.
Religi Anak di Media: Telaah Sosiologis dan Hukum atas Fenomena Tahfiz Cilik RCTI Rochmah Nur Azizah; Sulistyo Hapsari
Journal of Communication and Da'wah Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Communication and Da'wah Vol.2 No.1, June 2026
Publisher : Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67008/je55xn59

Abstract

Fenomena munculnya “tahfiz cilik” di media nasional, khususnya melalui program televisi seperti RCTI, memperlihatkan bagaimana religiositas anak diproduksi, dikemas, dan dikonsumsi oleh publik. Di satu sisi, tayangan ini menawarkan inspirasi spiritual dan penguatan nilai keagamaan sejak dini. Namun, di sisi lain, terdapat problem sosiologis dan yuridis terkait objektifikasi religius, tekanan performatif, serta perlindungan hak-hak anak dalam industri media. Kajian sebelumnya lebih banyak menyoroti prestasi anak penghafal Al-Qur’an, tetapi belum banyak yang mengkaji secara kritis aspek relasi kuasa, komodifikasi religius, serta implikasi hukum terhadap perlindungan anak dalam konteks media penyiaran. Gap research ini menunjukkan perlunya analisis terpadu yang menggabungkan perspektif sosiologi media dan hukum perlindungan anak. Novelty penelitian ini terletak pada pembacaan kritis terhadap fenomena tahfiz cilik sebagai praktik kultural-religius yang diproduksi oleh industri media, bukan sebagai aktivitas keagamaan yang netral. Penelitian ini juga penting secara urgensi, mengingat meningkatnya eksposur anak di media serta minimnya kajian akademik mengenai regulasi etik dan perlindungan anak dalam tayangan religius. Rumusan masalah penelitian ini mencakup pertama  bagaimana media mengonstruksi religiositas anak melalui tayangan tahfiz cilik RCTI; dan kedua  bagaimana perspektif hukum melihat perlindungan anak dalam fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan analisis media, dengan menelaah literatur sosiologi media, regulasi penyiaran, UU Perlindungan Anak, serta konten tayangan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tayangan tahfiz cilik berpotensi memperkuat budaya religius publik, tetapi juga mengandung praktik komodifikasi agama dan risiko eksploitasi non-ekonomis terhadap anak. Karena itu, dibutuhkan regulasi penyiaran yang lebih tegas dan panduan etik dalam menampilkan anak dalam program keagamaan.
Konsep Perilaku dalam Psikologi Islam Telaah Komprehensif terhadap Konstruk Akhlak, Nafs, dan Intervensi Perubahannya Dzihni Mutawakkil Alalloh; Titin Nurhidayati
Journal of Communication and Da'wah Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Communication and Da'wah Vol.2 No.1, June 2026
Publisher : Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67008/a8t81026

Abstract

Psikologi Islam menyediakan kerangka kerja yang unik untuk memahami perilaku manusia, yang secara fundamental bersumber dari kondisi batin (Nafs) dan bermanifestasi sebagai karakter (Akhlak). Tingginya kebutuhan akan model perilaku yang terintegrasi secara spiritual mendorong penelitian ini untuk melakukan telaah sistematis dan komprehensif terhadap konsep perilaku dalam literatur Psikologi Islam, mengidentifikasi konstruksi utamanya, serta memetakan tipologi perilaku yang menjadi fokus. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) atau Kajian Konseptual, menganalisis dan mensintesis interpretasi sumber primer (Al-Qur'an dan Hadis) oleh tokoh-tokoh klasik (seperti Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih) serta studi-studi kontemporer. Hasil sintesis menunjukkan bahwa perilaku dalam Islam diklasifikasikan menjadi Akhlak Mahmudah (perilaku terpuji) dan Akhlak Mazmumah (perilaku tercela), yang kualitasnya ditentukan oleh derajat pemurnian Nafs. Perilaku terpuji mencakup dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan, seperti Tawakal) dan horizontal (hubungan sosial, seperti Adil dan Shiddiq). Selain itu, perubahan dan pembentukan perilaku dalam tradisi ini berpusat pada proses spiritual Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Disimpulkan bahwa perilaku Islami adalah manifestasi stabil dari keadaan jiwa yang termotivasi oleh keimanan, bukan sekadar respons lingkungan. Temuan ini memberikan implikasi signifikan bagi pengembangan instrumen pengukuran kepribadian dan strategi Islamic Counseling yang efektif dan holistik.
Menegosiasikan Ikhtilaf di Era Digital : Perbandingan Madzhab Fiqih Sebagai Basis Moderasi Beragama Dalam Pendidikan Islam Indonesia Tri Okti Wulansari
Journal of Communication and Da'wah Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Communication and Da'wah Vol.2 No.1, June 2026
Publisher : Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67008/1gp53973

Abstract

Perkembangan era digital telah membawa transformasi signifikan dalam praktik pendidikan Islam di Indonesia, termasuk dalam cara memahami, menyebarkan, dan mempraktikkan fikih. Di tengah arus informasi keagamaan yang masif dan sering kali bersifat parsial, perbedaan mazhab (ikhtilaf) kerap dipersepsikan secara simplistik dan berpotensi memicu sikap keagamaan yang eksklusif. Padahal, tradisi perbandingan mazhab dalam khazanah fikih klasik justru merepresentasikan nalar keislaman yang moderat, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan. Meskipun kajian tentang moderasi beragama dan pendidikan Islam telah banyak dilakukan, penelitian yang secara normatif dan konseptual menempatkan fikih perbandingan mazhab sebagai basis pedagogis moderasi beragama di era digital masih relatif terbatas. Research gap inilah yang menjadi pijakan utama artikel ini. Novelty penelitian terletak pada upaya merekonstruksi ikhtilaf mazhab bukan sekadar sebagai perbedaan hukum, melainkan sebagai instrumen epistemologis dan pedagogis dalam penguatan moderasi beragama di pendidikan Islam Indonesia. Rumusan masalah penelitian ini meliputi pertama bagaimana perbandingan mazhab fikih dapat dikonstruksikan sebagai basis moderasi beragama dalam pendidikan Islam di era digital; dan kedua bagaimana implikasi pendekatan tersebut terhadap penguatan sikap keagamaan yang inklusif di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian hukum dan pendidikan Islam normatif dengan pendekatan konseptual dan kajian pustaka terhadap literatur fikih perbandingan mazhab klasik dan kontemporer serta diskursus moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi fikih perbandingan mazhab dalam kurikulum dan praksis pendidikan Islam mampu membangun nalar keberagamaan yang toleran, kritis, dan adaptif terhadap realitas digital, sekaligus memperkuat moderasi beragama sebagai agenda strategis pendidikan Islam di Indonesia.
Analisis Semiotika Roland Barthes terhadap Pesan Dakwah dalam Akun Instagram @religiustrasi Septiyan Murtadho; Andhita Risko Faristiana
Journal of Communication and Da'wah Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Communication and Da'wah Vol.2 No.1, June 2026
Publisher : Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67008/r65qdk29

Abstract

Perkembangan media sosial telah mendorong berbagai bentuk pesan dakwah digital yang memanfaatkan media visual sebagai wadah penyampaian pesan keagamaan. Instagram menjadi salah satu platform yang banyak digunakan untuk menjangkau generasi muda sebagai target dakwah melalui konten kreatif dan mudah dipahami. Penelitian terdahulu umumnya berfokus kepada pesan dakwah umum, kehidupan sehari-hari, maupun simbol keagamaan dalam media sosial. Namun, kajian mengenai konstruksi makna dan pesan dakwah dalam konten ilustrasi yang mengadapatasi budaya populer masih realitf terbatas. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis postingan akun Instagram @religiustrasi yang memadukan unsur budaya populer dengan nilai-nilai Islam melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa makna denotatif, konotatif, mitos dan pesan dakwah yang terkandung dalam postingan akun Instagram @religiustrasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Data yang diperoleh melalui proses observasi dan dokumentasi terhadap postingan akun Instagram @religiustrasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa postingan tersebut mengontruksikan nilai-nilai keislaman melalui simbol visual, dialog, dan budaya populer yang dekat dengan generasi muda. Pesan dakwah ditemukan mencakup aspek akidah, syariah, dan akhlak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya populer dapat menjadi media dakwah yang efektif, kreatif, komunikatif, dan relevan dalam menyampaikan pesan dakwah di era digital.

Page 2 of 2 | Total Record : 17