cover
Contact Name
Fanny Andhini Putri
Contact Email
fanny_ap@ub.ac.id
Phone
+62341553512
Journal Mail Official
polusea@ub.ac.id
Editorial Address
Faculty of Fisheries and Marine Science Brawijaya University Jl. Veteran Malang 65145 Jawa Timur-INDONESIA
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 30252210     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.polusea
Core Subject :
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea is a journal published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Universitas Brawijaya to address the study of pollution in the freshwater and marine environment and the impact to the ecosystems. Water and Marine Pollution Journal: PoluSea receives manuscripts written in Bahasa or English and publish two issues in one volume annually (April and October). The manuscripts can be written as research papers, reviews or short communications.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Analisis Komparatif Kualitas Air Sungai Ciliwung Menggunakan Weighted Arithmetic Water Quality Index (WAWQI) dan Canadian Council of Ministers of the Environment Water Quality Index (CCME WQI): Comparative Analysis of Ciliwung River Water Quality Using the Weighted Arithmetic Water Quality Index (WAWQI) and the Canadian Council of Ministers of the Environment Water Quality Index (CCME WQI) Wiratno, Ekwan Nofa; Herawati, Endang Yuli; Aleyda, Admyra Nur; Putri, Azzahra Khoirunnissa Sabathea
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 1 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.01.1

Abstract

Sungai Ciliwung mengalami penurunan kualitas air akibat peningkatan aktivitas antropogenik di daerah aliran sungainya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air Sungai Ciliwung menggunakan dua metode indeks kualitas air, yaitu Weighted Arithmetic Water Quality Index (WAWQI) dan Canadian Council of Ministers of the Environment Water Quality Index (CCME WQI), serta membandingkan sensitivitas kedua metode dalam menilai status pencemaran. Pengambilan sampel dilakukan di lima titik pemantauan dari hulu hingga hilir sungai dengan lima kali ulangan. Parameter yang diukur meliputi suhu, pH, Dissolved Oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), amonia, fenol, timbal (Pb), dan kadmium (Cd). Hasil perhitungan WAWQI menunjukkan kisaran nilai 25,64 – 35,13 yang dikategorikan sebagai baik (Good) untuk keperluan rekreasi air, budidaya perikanan, dan irigasi, namun tidak layak untuk air minum. Sementara itu, hasil CCME WQI berkisar antara 42,41 – 70,46, dengan kategori cukup (Fair) hingga kurang (Marginal), menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi dalam membedakan tingkat pencemaran antar lokasi. Peningkatan pencemaran terjadi di stasiun 4 dan 5 yang ditandai dengan penurunan DO, peningkatan BOD, COD, serta kadar amonia yang melebihi baku mutu kelas 2. Perbedaan hasil kedua indeks menunjukkan bahwa CCME WQI lebih akurat dalam menggambarkan degradasi kualitas air dibandingkan WAWQI. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan sungai yang lebih ketat terutama di bagian hilir untuk mengurangi beban pencemaran dari limbah domestik dan industri serta meningkatkan kapasitas pengolahan air limbah. The Ciliwung River has experienced a decline in water quality due to increased anthropogenic activities in its watershed. This study aims to analyze the water quality of the Ciliwung River using two water quality index methods, Weighted Arithmetic Water Quality Index (WAWQI) and Canadian Council of Ministers of the Environment Water Quality Index (CCME WQI), and to compare the sensitivity of both methods in assessing pollution status. Sampling was conducted at five monitoring points from upstream to downstream with five replicates. The measured parameters included temperature, pH, dissolved oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), ammonia, phenol, lead (Pb), and cadmium (Cd). The WAWQI results ranged from 25.64 to 35.13, categorizing the water as Good for water recreation, aquaculture, and irrigation, but unsuitable for drinking purposes. Meanwhile, CCME WQI scores ranged from 42.41 to 70.46, categorized as Fair to Marginal, demonstrating higher sensitivity in differentiating pollution levels across locations. Increased pollution was observed in stations 4 and 5, indicated by a decrease in DO and an increase in BOD, COD, and ammonia levels exceeding class 2 quality standards. The difference in results between the two indices suggests that CCME WQI is more accurate in depicting water quality degradation compared to WAWQI. Therefore, stricter river management strategies are required, especially in the downstream areas, to reduce pollution loads from domestic and industrial waste and enhance wastewater treatment capacity.
Analisis Distribusi Karakteristik Sampah Laut Menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di Pantai Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur: Analysis of Marine Debris Distribution Characteristics Using Unmanned Aerial Vehicles (UAV) at Gili Ketapang Island Beach, Probolinggo Regency, East Java Setyoningrum, Desy; Samsu Rijal, Seftiawan; Aulia, Namira; Rumantya, Matthew Adi Bekti
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 1 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.01.2

Abstract

Indonesia menempati posisi kedua setelah China sebagai penyumbang sampah terbesar di dunia. Sampah laut berdampak merugikan pada lingkungan, ekosistem, dan manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi dan karakteristik sampah laut di Pantai Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo. Metode yang digunakan meliputi pengambilan sampel manual dengan transek berukuran 5 × 5 m dan 1 × 1 m untuk mendapatkan data rinci mengenai jenis dan jumlah sampah, serta analisis citra Unmanned Aerial Vehicle (UAV)/Drone untuk memetakan distribusi sampah dalam cakupan area yang lebih luas. Hasil menunjukkan distribusi sampah laut bervariasi, dengan di Stasiun 3 memiliki kelimpahan sampah tertinggi dengan 38,91 item/m² untuk sampah makro dan 1,67 item/m² untuk sampah mega, yang dipengaruhi oleh aktivitas perikanan dan pelabuhan dan terendah di Stasiun 2 (0,91 item/m² untuk makro dan 0,10 item/m² untuk mega). Sampah plastik mendominasi dengan persentase 69,36%, terutama plastik sekali pakai. Penggunaan UAV/Drone terbukti efektif dalam memetakan distribusi spasial sampah laut secara luas, sementara sampling manual memberikan informasi lebih rinci mengenai jenis sampah. Integrasi kedua metode ini menghasilkan analisis yang lebih komprehensif dalam memahami pola persebaran sampah laut.   Indonesia ranks second after China as the largest contributor to marine debris globally. Marine debris has detrimental impacts on the environment, ecosystems, and human life. This study aims to analyses the distribution and characteristics of marine debris on the coast of Gili Ketapang Island, Probolinggo Regency. The methods used include manual sampling with transects measuring 5 × 5 m and 1 × 1 m to obtain detailed data on the types and quantities of debris, as well as Unmanned Aerial Vehicle (UAV)/Drone imagery analysis to map the debris distribution over a broader area. The results indicate that marine debris distribution varies, with the highest abundance at Station 3, recording 38.91 items/m² for macro debris and 1.67 items/m² for mega debris, influenced by fishing activities and the presence of a harbour, while the lowest was found at Station 2 (0.91 items/m² for macro and 0.10 items/m² for mega debris). Plastic waste dominated, accounting for 69.36%, primarily consisting of single-use plastics. The use of UAV/Drone proved effective in mapping the spatial distribution of marine debris on a large scale, while manual sampling provided more detailed information on debris types. The integration of both methods resulted in a more comprehensive analysis of marine debris distribution patterns.
Distribusi Parameter Fisika-Kimia Perairan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang, Teluk Jakarta, Indonesia: Distribution of Physicochemical Parameters in Waters Around the Muara Karang Coal-Fired Power Plant, Jakarta Bay, Indonesia Toruan, Lumban Nauli Lumban
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 1 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.01.3

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkontribusi terhadap perubahan parameter perairan melalui pelepasan limbah termal dan polutan lainnya. Penelitian ini menganalisis distribusi parameter fisika-kimia di sekitar PLTU Muara Karang, Teluk Jakarta, untuk mengevaluasi dampak lingkungan akibat aktivitas PLTU. Pengambilan sampel dilakukan pada sembilan stasiun, dengan parameter yang diukur mencakup suhu, salinitas, kecerahan, kekeruhan, pH, dan oksigen terlarut. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson, uji ANOVA, dan pemetaan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tertinggi ditemukan di stasiun yang berada di jalur pembuangan air pendingin PLTU, yang berkontribusi terhadap penurunan oksigen terlarut. Korelasi negatif yang signifikan ditemukan antara suhu dan oksigen terlarut, serta antara kekeruhan dan oksigen terlarut. Analisis varians menunjukkan perbedaan signifikan antar stasiun dalam parameter suhu, salinitas, kecerahan, dan kekeruhan (p<0,05). Hasil ini menegaskan bahwa aktivitas PLTU memberikan dampak nyata terhadap kualitas perairan sekitar, terutama dalam meningkatkan stres termal dan sedimentasi. Studi ini menyoroti pentingnya penerapan strategi mitigasi, seperti sistem pendinginan yang lebih efisien, untuk mengurangi dampak lingkungan dari PLTU di wilayah pesisir.   Power plants contribute to changes in water quality through the release of thermal effluents and other pollutants. This study analyzes the spatial distribution of physicochemical parameters around the Muara Karang Power Plant, Jakarta Bay, to evaluate its environmental impacts. Water sampling was conducted at nine stations, measuring temperature, salinity, turbidity, water clarity, pH, and dissolved oxygen. Data analysis included Pearson correlation, ANOVA, and spatial mapping. The results indicate that the highest temperatures were recorded at stations near the plant’s cooling water discharge points, leading to a significant decrease in dissolved oxygen levels. A strong negative correlation was observed between temperature and dissolved oxygen, as well as between turbidity and dissolved oxygen. ANOVA results revealed significant differences among stations for temperature, salinity, water clarity, and turbidity (p < 0.05). These findings confirm that the power plant's activities have a notable impact on water quality, particularly by increasing thermal stress and sedimentation. This study highlights the need for mitigation strategies, such as more efficient cooling systems, to minimize the environmental impact of power plants on coastal ecosystems.
Nutrient Dynamics and Phytoplankton Communities in Coastal Ecosystems of Lamongan, Indonesia A'yun, Qurrota; Nabilah, Mariah; Asadi, Muhammad Arif; Yona, Defri; Aliviyanti, Dian
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 1 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.01.4

Abstract

Coastal waters are critical transition zones sensitive to both natural processes and anthropogenic pressures. Lamongan’s coastal waters, especially around Paciran and Brondong, have undergone increasing nutrient stress due to expanding fisheries and tourism. This study aimed to assess how key water quality parameters (temperature, salinity, dissolved oxygen, nitrate, and phosphate) shape phytoplankton abundance and community structure in Paciran and Brondong, Lamongan Regency, Indonesia. Data were collected from four stations over three sampling campaigns between May and July 2023, with each campaign separated by approximately two weeks. A total of 12 water samples were analyzed for nutrient concentrations and phytoplankton composition, employing standardized water sampling and microscopic identification of phytoplankton genera. Physicochemical parameters were measured in situ, while nutrient analyses were conducted in the laboratory using spectrophotometry. Ecological indices and statistical modeling were then applied to elucidate driving factors. Results show that elevated nitrate and warm temperatures corresponded with higher phytoplankton abundance, predominantly Diatoms. Chaetoceros emerged as the dominant genus, indicating eutrophic tendencies and aligning with observations in similarly impacted coastal areas. Despite moderate overall diversity, the clear correlation between nutrient enrichment and Chaetoceros proliferation underscores the risk of future harmful algal blooms under unchecked anthropogenic inputs. These findings confirm that the interplay of nutrient loading, temperature regimes, and localized hydrodynamics critically influences primary productivity in tropical coastal waters. In summary, this study highlights the vulnerability of Paciran and Brondong waters to eutrophication driven primarily by excessive nitrogen. The implications extend to resource management and conservation, suggesting that multi-nutrient control and proactive monitoring of diatom dominance are essential to sustaining ecological balance. By providing empirical evidence on critical drivers of phytoplankton dynamics, the research supports informed decision-making to mitigate negative impacts on marine ecosystems and local livelihoods.
Komposisi dan Kepadatan Sampah Plastik Berdasarkan Ukuran di Wilayah Pantai Pasuruan, Jawa Timur: Composition dan Density of Plastic Waste Based on Size in the Pasuruan Coastal Area, East Java Arifianti, Dwi Nurjanatin; Basutikto, Gibran Aji; Fuad, M. Arif Zainul; Yona, Defri
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 1 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.01.5

Abstract

Sampah merupakan masalah telah menjadi krisis global dari daratan hingga lautan. Indonesia sendiri merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Salah satu sampah yang mendominasi di lautan adalah sampah plastik. Sumber sampah plastik yang bermuara di laut banyak berasal dari limbah industri dan rumah tangga. Keberadaan sampah plastik perlu diidentifikasi dan dianalisa kelimpahannya untuk menanggulangi dan mencegah persebarannya di lingkungan. Berdasarkan kondisi yang ada, artikel ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis sampah plastik serta kepadatannya di kelima pantai yang berbeda di daerah Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode transek kuadran dengan ukuran 5x5 m yang dibentangkan di sepanjang kelima pantai tersebut dan diidentifikasi komposisi jenis sampah pada setiap transek kuadran tersebut. Hasilnya didapatkan bahwa Pantai Tambaan memiliki persentase sampah plastik tertinggi dan Pantai Panggungrejo memiliki kepadatan sampah tertinggi daripada wilayah pantai yang lain. Kedua pantai tersebut dekat dengan wilayah pemukiman dan terindikasi padatanya aktivitas antropogenik di kedua pantai tersebut, sehingga menyumbang sampah yang cukup signifikan terutama sampah plastik.   Waste is a problem that has become a global crisis from ldan to sea. Indonesia is the second largest producer of plastic waste in the world. One of the dominating waste in the ocean is plastic waste. The source of plastic waste that empties into the sea comes from industrial dan household waste. The presence of plastic waste needs to be identified dan analyzed for its abundance to overcome dan prevent its spread in the environment. Based on the existing conditions, this article aims to determine the composition of plastic waste types dan their density on five different beaches in the Pasuruan area. This study used the 5x5 m quadrant transect method along the five beaches dan identified the composition of waste types in each quadrant transect. It was found that Tambaan Beach had the highest percentage of plastic waste dan Panggungrejo Beach had the highest density of waste compared to other beach areas. Both beaches are close to residential areas dan indicated the density of anthropogenic activities on both beaches, thus contributing significant waste, especially plastic waste.
Analisis Konsentrasi Logam Berat Kadmium (Cd) pada Air, Sedimen, dan Akar Mangrove Avicennia Marina di Kawasan Mangrove Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur: Analysis of Heavy Metal Concentration Cadmium (Cd) in Water, Sediment, and Roots of Avicennia Marina Mangroves in the Wonorejo Mangrove Area, Surabaya, East Java Martind, Damay Yanisa; Wiratno, Ekwan Nofa
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 2 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.02.3

Abstract

Kawasan Mangrove Wonorejo di Surabaya yang dialiri Sungai Jagir dan Sungai Rungkut berpotensi mengandung logam berat kadmium (Cd) dari aktivitas pemukiman, perkapalan, industri baterai dan cat, serta pertanian. Mangrove Avicennia marina memiliki potensi sebagai bioindikator sekaligus agen biodegradasi Cd. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Cd pada air, sedimen, dan akar A. marina, mengevaluasi kemampuan akumulasi berdasarkan nilai Bio-Concentration Factor (BCF), serta menganalisis hubungan faktor lingkungan dengan konsentrasi Cd. Penelitian dilakukan pada April–Mei 2025 dengan metode deskriptif, sedangkan analisis Cd dilakukan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Cd pada air berkisar 0,027–0,052 ppm, dengan nilai di stasiun 2 melebihi baku mutu PP No. 22 Tahun 2021. Konsentrasi Cd pada sedimen (0,224–0,403 ppm) masih di bawah baku mutu, sementara akar A. marina sebesar 0,268–0,412 ppm dengan nilai tertinggi pada stasiun 1. Nilai BCF akar terhadap sedimen adalah 0,779–1,194, dengan stasiun 1 dan 2 tergolong akumulator (BCF > 1), sedangkan stasiun 3 tergolong ekskluder (BCF < 1). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan suhu berkorelasi negatif dengan Cd pada sedimen dan akar, pH berkorelasi positif kuat dengan Cd pada air, sedangkan salinitas berkorelasi negatif dengan Cd pada sedimen dan akar.   The Wonorejo Mangrove in Surabaya, located at the confluence of the Jagir and Rungkut Rivers, is exposed to pollutant loads, including cadmium (Cd) derived from domestic, shipping, battery, paint, and agricultural activities. Mangroves Avicennia marina is potencial to be bioindicators and biodegradation agent for Cd. This study aimed to determine Cd concentrations in water, sediment, and mangrove roots, to evaluate accumulation potential using the Bio-Concentration Factor (BCF), and to analyze correlations between environmental factors and Cd levels. Sampling was conducted during April–May 2025 using a descriptive method, with Cd concentrations measured by Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Results showed that Cd in water ranged from 0.027–0.052 ppm, exceeding the permissible limit at station 2 based on PP No. 22/2021. Sediment Cd concentrations (0.224–0.403 ppm) were below quality standards, while root Cd ranged from 0.268–0.412 ppm with the highest value at station 1. BCF values ranged from 0.779–1.194, categorizing stations 1 and 2 as accumulators (BCF > 1) and station 3 as an excluder (BCF < 1). Pearson correlation analysis indicated that temperature was negatively correlated with Cd in sediment and roots, while pH showed a strong positive correlation with Cd in water. Salinity demonstrated a negative correlation with Cd in sediment and roots, suggesting reduced accumulation under higher salinity conditions.
Analisis Hubungan Hidro-Oseanografi terhadap Sampah Laut pada Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur: Analysis of the Relationship between Hydro-Oceanography and Marine Debris in Kupang Bay, East Nusa Tenggara Wongso, Puspita Maharani; As’Adi, M. Arif; Setyawan, Fahreza
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 2 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.02.4

Abstract

Sampah laut menjadi masalah utama yang memberikan dampak buruk pada lingkungan. Hal tersebut terjadi di pesisir Pulau Timor, Teluk Kupang. Ukuran sampah yang umumnya ditemukan pada pesisir Pulau Timor adalah macro – debris dan ­mega – debris yang didominasi oleh bahan plastik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor hidro-oseanografi terhadap persebaran sampah di Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian dilakukan pada enam lokasi yakni Pantai Pasir Panjang, Pantai Oesapa, Pantai Pariti, Pantai Nunuk dan Pantai Sulamu pada periode Bulan Desember 2024 – Februari 2025. Data hidro-oseanografi diperolah dari data sekunder yang diolah oleh WRPlot, ODV, Microsoft Excel, ArcGIS. Sampah laut yang dianalisis pada ukuran 2,5-5 cm, 5-10cm, 10-100 cm, dan > 1 m untuk menghitung kelimpahan berat dan jumlah. Hasil data tersebut kemudian di uji statistik menggunakan korelasi dan divisualisasikan dengan heatmap. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kondisi hidrooseanografi tidak jauh berbeda, tipe pasang surut pada Teluk Kupang memiliki tipe pasang surut condong harian ganda. Kelimpahan item sampah berdasarkan jumlah terbesar pada Pantai Kelapa Tinggi 0,590,28 item/m2 sedangkan kelimpahan terendah pada Pantai Nunuk dengan nilai 0,100,1 item/m2. Kelimpahan sampah berat tertinggi pada Pantai Oesapa dengan nilai 199,41 gram/m2 sedangkan kelimpahan berat terendah pada Pantai Nunuk dengan nilai 2,642,74 gram/m2 dengan dominasi jenis plastik. Berdasarkan hasil uji statistik kelimpahan jumlah sampah laut memiliki hubungan yang kuat dan signifikan dengan tinggi gelombang (r=0,838; p=0,038) dan kecepatan angin (r=0,879; p=0,021), Pada kelimpahan berat sampah tinggi gelombang (r=0,887; p=0,018) dan kecepatan arus (r=0,844; p=0,035) memiliki hubungan yang sangat kuat dan signifikan.   Marine debris is a major problem that has a negative impact on the environment. This occurs on the coast of Timor Island, Kupang Bay. The size of the debris commonly found on the coast of Timor Island is macro-debris and mega-debris, dominated by plastic materials. This study aims to analyze the relationship of hydro-oceanographic factors to the distribution of debris in Kupang Bay, East Nusa Tenggara. The study was conducted at six locations: Pasir Panjang Beach, Oesapa Beach, Pariti Beach, Nunuk Beach, and Sulamu Beach from December 2024 to February 2025. Hydro-oceanographic data was obtained from secondary data processed by WRPlot, ODV, Microsoft Excel, and ArcGIS. The analyzed marine debris sizes were 2.5-5 cm, 5-10 cm, 10-100 cm, and >1 m to calculate the abundance of weight and quantity. The data results were then statistically tested using correlation and visualized with a heatmap. These results indicate that the hydro-oceanographic conditions are not significantly different, the tidal type in Kupang Bay has a double diurnal tidal type. The abundance of waste items based on the largest number was at Kelapa Tinggi Beach 0.59±0.28 items/m2 while the lowest abundance was at Nunuk Beach with a value of 0.10±0.1 items/m2. The highest abundance of heavy waste was at Oesapa Beach with a value of 19±9.41 grams/m2 while the lowest abundance of weight was at Nunuk Beach with a value of 2.64±2.74 grams/m2 with a dominance of plastic types. Based on the results of statistical tests, the abundance of marine waste has a strong and significant relationship with wave height (r=0.838; p=0.038) and wind speed (r=0.879; p=0.021), In the abundance of heavy waste, wave height (r=0.887; p=0.018) and current speed (r=0.844; p=0.035) has a very strong and significant relationship.
Pemodelan Sebaran Tumpahan Minyak dan Analisis Sensitivitas Lingkungan Pesisir: Studi Kasus Tenggelamnya Kapal Pengangkut BBM di Ternate, Maluku Utara, 31 Juli 2013: Modeling Oil Spill Trajectory and Environmental Sensitivity Analysis: A Case Study of the Fuel Tanker Sinking in Ternate, North Maluku, on July 31, 2013 Fuad, Mochamad Arif Zanul; Winiarti, Farida Mustika; As`adi, M. Arif
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 2 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.02.1

Abstract

Pencemaran minyak merupakan salah satu bentuk pencemaran laut yang dapat bersumber dari aktivitas transportasi, industri, maupun kecelakaan kapal. Padatnya aktivitas di Terminal BBM (TBBM) Ternate, Maluku Utara, meningkatkan risiko pencemaran pesisir. Penelitian ini bertujuan mensimulasikan tumpahan minyak akibat tenggelamnya kapal pengangkut BBM di TBBM Ternate pada 31 Juli 2013 serta memetakan wilayah pesisir yang sensitif terhadap dampak pencemaran. Pemodelan dilakukan menggunakan perangkat lunak GNOME dan ADIOS2 untuk memprediksi arah sebaran minyak serta perubahan sifat fisika dan kimianya. Hasil menunjukkan sebaran minyak mencapai wilayah Tidore dengan arah dominan ke tenggara, dipengaruhi arus dari timur laut ke barat (0,7–0,8 m/s), angin dari selatan (3,6–5,7 m/s), dan pasang surut campuran condong harian ganda. Minyak premium bertahan ±8 jam, sedangkan minyak solar masih tersisa 1,835 barrel hingga hari ke-5. Kawasan paling sensitif adalah Kecamatan Ternate Selatan dan Tidore Utara. Temuan ini menegaskan perlunya strategi penanggulangan tumpahan minyak berbasis pemodelan untuk mengurangi dampak terhadap ekosistem pesisir.   Oil pollution is a significant form of marine contamination resulting from transportation activities, industrial processes, and ship accidents. The intensive operations at the Ternate Fuel Terminal (TBBM) in North Maluku increase the risk of coastal pollution. This study aimed to simulate an oil spill incident caused by the sinking of a fuel tanker at TBBM Ternate on July 31, 2013, and to map the coastal areas that are sensitive to pollution impacts. Modeling was conducted using GNOME and ADIOS2 software to predict spill dispersion patterns and changes in the oil's physical and chemical properties. The results indicated that the spill reached the Tidore region, following a dominant southeastward trajectory influenced by surface currents flowing from northeast to west (0,7–0,8 m/s), winds from the south (3,6–5,7 m/s), and a mixed semidiurnal tidal regime. Premium oil persisted for approximately 8 hours, while diesel oil remained present for up to five days, with 1,835 barrels still recorded. The most sensitive coastal areas identified were the South Ternate and North Tidore Districts. These findings underscore the importance of implementing model-based oil spill response strategies to minimize the impacts on coastal ecosystems.
Analisis Pencemaran Perairan Menggunakan Metode Indeks Pencemaran di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur: Analysis of Water Pollution Using the Pollution Index Method at Kenjeran Beach, Surabaya, East Java Muren, Gabby Gataria; Musa, Muhammad; Diffi, Pratama
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 2 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.02.2

Abstract

Pantai Kenjeran terletak di Kelurahan Kenjeran, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya, Jawa Timur, terdiri atas Pantai Kenjeran Baru dan Lama. Padatnya pemukiman serta tingginya kunjungan wisatawan menyebabkan penurunan kualitas perairan yang berdampak pada ekosistem laut dan masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas air Pantai Kenjeran berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021 tentang baku mutu air laut untuk biota laut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan melalui pengukuran primer dan sekunder pada empat stasiun: sandaran perahu, pemukiman, kawasan mangrove, dan muara sungai, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Penentuan stasiun menggunakan purposive sampling berdasarkan aktivitas manusia dan potensi sumber pencemaran. Pengambilan data dilakukan pada Maret–April 2025. Analisis kualitas air menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP). Parameter in-situ meliputi suhu, pH, kecerahan, salinitas, dan DO, sedangkan parameter ex-situ meliputi TSS, amonia, nitrat, fosfat, dan BOD. Hasil pengukuran menunjukkan parameter yang memenuhi baku mutu yaitu suhu, kecerahan, pH, DO, BOD, dan amonia. Parameter yang melebihi baku mutu yaitu nitrat, fosfat, dan TSS. Suhu berkisar 30,6–31,9 °C; TSS 62–168 mg/L; kecerahan 19,1–26,7 cm; salinitas 18,13–31,67 ppt; pH 7,8–8,3; BOD 3,2–4,4 mg/L; DO 6,1–7,6 mg/L; amonia 0,024–0,038 mg/L; fosfat 0,179–0,252 mg/L; nitrat 0,206–0,292 mg/L. Berdasarkan perhitungan Indeks Pencemaran, Pantai Kenjeran tergolong tercemar ringan hingga sedang.   Kenjeran Beach, located in Kenjeran Village, Bulak District, Surabaya City, East Java, consists of New Kenjeran Beach and Old Kenjeran Beach. Dense settlements and the high number of tourist visits have led to a decline in water quality, affecting both the marine ecosystem and coastal communities. This study aimed to analyze the water quality of Kenjeran Beach based on Government Regulation No. 22 of 2021 concerning seawater quality standards for marine biota. The research employed a descriptive approach with quantitative descriptive analysis. Data were collected through primary and secondary measurements at four stations: boat mooring, residential area, mangrove area, and river estuary, each with three replications. Sampling stations were determined using purposive sampling based on human activities and potential pollution sources. Data collection was conducted from March to April 2025. Water quality was analyzed using the Pollution Index (IP) method. In-situ parameters included temperature, pH, transparency, salinity, and DO, while ex-situ parameters included TSS, ammonia, nitrate, phosphate, and BOD. The results showed that parameters meeting quality standards were temperature, transparency, pH, DO, BOD, and ammonia, while nitrate, phosphate, and TSS exceeded the standards. Temperature ranged from 30.6–31.9 °C; TSS 62–168 mg/L; transparency 19.1–26.7 cm; salinity 18.13–31.67 ppt; pH 7.8–8.3; BOD 3.2–4.4 mg/L; DO 6.1–7.6 mg/L; ammonia 0.024–0.038 mg/L; phosphate 0.179–0.252 mg/L; and nitrate 0.206–0.292 mg/L. Based on the Pollution Index, Kenjeran Beach was classified as lightly to moderately polluted.
Korelasi Kualitas Air dan Pertumbuhan Koloni Bakteri dalam Recirculating Aquaculture System (RAS) Ikan Mas Koki (Carassius auratus): Relationship Between Water Quality and Bacterial Colony Development in a Recirculating Aquaculture System (RAS) for Goldfish (Carassius auratus) Caesar, Nico Rahman; Ramadhan, Nafal Naqi; Djaduk, Saddam Langkung
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 2 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.02.5

Abstract

Efektivitas Recirculating Aquaculture System (RAS) dalam mengendalikan pertumbuhan bakteri dan menjaga kualitas air sangat penting bagi keberlanjutan budidaya ikan mas koki (Carassius auratus). Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara parameter kualitas air dan pertumbuhan koloni bakteri pada kolam pembesaran ikan mas koki dengan dan tanpa penerapan RAS. Perhitungan jumlah bakteri dilakukan menggunakan metode Total Plate Count (TPC), sedangkan parameter kualitas air (suhu, pH, DO, TSS, alkalinitas, amonia, nitrat, dan ortofosfat) diukur secara berkala. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan jumlah total bakteri dari 2,1 × 10⁴ CFU/mL pada kolam non-RAS menjadi 0,5 × 10⁴ CFU/mL pada kolam RAS. Pewarnaan gram menunjukkan dominasi bakteri gram-negatif yang berperan dalam siklus nutrien. Kualitas air pada kolam RAS secara umum memenuhi baku mutu, meskipun nilai alkalinitas pada beberapa uji melebihi standar. Analisis Canonical Correspondence Analysis (CCA) memperlihatkan korelasi positif antara total bakteri dengan TSS, pH, fosfat, dan suhu, sedangkan korelasi lemah ditemukan dengan CO₂. Hasil ini membuktikan bahwa RAS meningkatkan stabilitas kualitas air dan menurunkan kepadatan bakteri, sehingga mendukung kesehatan ikan mas koki.   The effectiveness of Recirculating Aquaculture System (RAS) in controlling bacterial growth and maintaining water quality is crucial for sustainable goldfish (Carassius auratus) culture. This study aimed to analyze the correlation between water quality parameters and bacterial colony growth in goldfish grow-out ponds with and without RAS application. Bacterial enumeration was conducted using the Total Plate Count (TPC) method, while water quality parameters (temperature, pH, DO, TSS, alkalinity, ammonia, nitrate, and orthophosphate) were measured periodically. Results indicated that the total bacterial count decreased significantly from 2.1 × 10⁴ CFU/mL in non-RAS ponds to 0.5 × 10⁴ CFU/mL in RAS ponds. Gram staining revealed the dominance of Gram-negative bacteria, which play a role in nutrient cycling. Water quality in RAS ponds generally met aquaculture standards, although alkalinity occasionally exceeded optimal limits. Canonical Correspondence Analysis (CCA) showed positive correlations between bacterial colonies and TSS, pH, phosphate, and temperature, while weak correlations were observed with CO₂. These findings demonstrate that RAS improves water quality stability and reduces bacterial density, contributing to healthier goldfish culture.

Page 3 of 4 | Total Record : 36