cover
Contact Name
Fanny Andhini Putri
Contact Email
fanny_ap@ub.ac.id
Phone
+62341553512
Journal Mail Official
polusea@ub.ac.id
Editorial Address
Faculty of Fisheries and Marine Science Brawijaya University Jl. Veteran Malang 65145 Jawa Timur-INDONESIA
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 30252210     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.polusea
Core Subject :
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea is a journal published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Universitas Brawijaya to address the study of pollution in the freshwater and marine environment and the impact to the ecosystems. Water and Marine Pollution Journal: PoluSea receives manuscripts written in Bahasa or English and publish two issues in one volume annually (April and October). The manuscripts can be written as research papers, reviews or short communications.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Analisis Senyawa Organik Volatil (VOC) Asosiasi Makroplastik di Pesisir, Kabupaten Malang, Jawa Timur: Analysis of Volatile Organic Compounds (VOC) Associated with Macroplastics in Coastal of Malang Regency, East Java Yamindago, Ade; Bagus Eka Mayang Laily Antono Putra; Citra Syananta; Syarifah Hikmah Julinda Sari
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 1 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea May 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.01.1

Abstract

Senyawa kimia yang berasosiasi dengan sampah plastik di laut dapat terjadi karena bahan dari produk plastik itu sendiri atau kontaminan kimia yang berada di lautan dan terakumulasi pada plastik saat menjadi sampah laut. Senyawa kimia yang berasosiasi dengan sampah plastik di lautan adalah POPs, PAH, TPH. Kelompok senyawa tersebut umumnya menyebabkan pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan seperti kanker, alergi serta iritasi, mutasi genetik dan merusak susunan saraf. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi komposisi senyawa organik volatil yang berasosiasi dengan makroplastik di pantai selatan, Kabupaten Malang serta mengetahui persentase dari senyawa kimianya dan mengetahui potensi dampak dari senyawa organik volatil yang berasosiasi dengan sampah laut. Pengambilan sampel penelitian dibuat menjadi enam stasiun di sepanjang Pesisir Kabupaten Malang. Sampah akan diambil menggunakan metode purposive sampling dan metode composite sampling. Sampel yang sudah dikumpulkan dipotong kecil lalu diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut benzena dan setelah itu diidentifikasi menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam senyawa kimia yang dominan yaitu seperti trans -2-Chloro -3 - (1,1 - dimethylehyl) cyclohexanone (PAH); 3-Methyl-1,1-diphenyl-1,2-butanediol (POP); 4,4-Dimethyl-1-hydroxy-2-cyclopentene (POP); 7-Hydroxy-7-phenyl-3,9-diisopropyl-2,10-dioxadispiro (TPC); Benzenemethanol,.alpha.-phenyl-(CAS), Diphenylmethanol (PAH); Cyclohexanone,3-(3,3-dimethylbutyl) (CAS) (3,3Dimethylbuthyl) Cyclohe xanone (POP). Hampir semua senyawa kimia yang teridentifikasi berpengaruh buruk terhadap lingkungan. Senyawa-senyawa tersebut merupakan bahan baku dari pembuatan produk plastik, parfum, deterjen, solar, alat kosmetik, serta bahan kimia farmasi.   Chemical compounds associated with plastic waste in the sea can occur due to materials from the plastic product itself or chemical contaminants that are in the ocean and accumulate in plastic when it becomes marine waste. Chemical compounds associated with plastic waste in the ocean are POPs, PAH, and TPH. These groups of compound generally cause environmental pollution and health problems such as cancer, allergies and irritation, genetic mutations and damage to the nervous system. The aim of this study was to identify the composition of volatile organic compounds associated with macroplastics in South Coastal of Malang, as well as to determine the percentage of chemical compounds and determine the potential impact of volatile organic compounds associated with marine debris. The plastic samples were collected from six stations in the coastal of Malang Regency. Plastic wastes were collected using the purposive sampling method and composite sampling method. The samples that had been collected were cut into small pieces and then extracted using the maceration method using benzene solvent and then identified using GC-MS. The results showed that there were six dominant chemical compounds, namely trans - 2 - Chloro - 3 - (1,1 - dimethylehyl) cyclohexanone (PAH); 3-Methyl-1,1-diphenyl-1,2-butanediol (POP); 4,4-Dimethyl-1-hydroxy-2-cyclopentene (POP); 7-Hydroxy-7-phenyl-3,9-diisopropyl-2,10-dioxadispiro (TPC); Benzenemethanol,.alpha.-phenyl-(CAS) Diphenylmethanol (PAH); Cyclohexanone,3-(3,3-dimethylbutyl)-(CAS) (3,3Dimethylbuthyl) Cyclohexanone (POP). Almost all chemical compounds which had been identified showed negative effects in the environment. These compounds are raw materials for the manufacture of plastic products, perfume, detergent, diesel, cosmetic equipment, and pharmaceutical chemicals.
Studi Bioakumulasi Logam Berat (Pb, Cd, As) Pada Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus X Epinephelus lanceolatus) dari Tambak Tradisional di Brondong, Lamongan, Jawa Timur: Study of Heavy Metals Bioaccumulation (Pb, Cd, As) In Giant Hybrid Groupers (Epinephelus fuscoguttatus X Epinephelus lanceolatus) from Traditional Fish Pond in Brondong, Lamongan, East Java Pratiwi, Dewi Indra; Dewi, Nina Nurmalia; Andriyono, Sapto
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 1 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea May 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.01.5

Abstract

Lamongan merupakan kabupaten yang berperan penting dalam mendukung perekonomian sehingga berbagai macam industri dibangun dan dimaksimalkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Peningkatan kepadatan penduduk menyebabkan meningkatnya angka konsumsi yang diiringi dengan pembangunan industri, sehingga memberi ruang pada material pencemar di perairan juga meningkat. Salah satu bahan pencemar yang memiliki dampak negatif jangka panjang adalah logam berat. Pada penelitian ini digunakan ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) sebagai objek penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat Pb, Cd dan As dan untuk mengetahui indeks kecemaran serta status akumulasi pada ikan kerapu cantang, air dan sedimen di tambak tradisional di Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah oberservatif, deskriptif sebagai jenis rancangan penelitian dan analisis data yang digunakan adalah secara kuantitatif dengan perhitungan pada indeks EF, Igeo, CF dan BCF. Sampel ikan kerapu cantang dan air akan diujikan kandungan logam berat di Laboratorium Unit Pelayanan Terpadu Pengujian Mutu dan Pengembangan Produk Kelautan dan Perikanan (UPT PMPPKP) Surabaya, sedangkan sedimen akan diujikan Angler Chemical Laboratorium Surabaya. Hasil rata-rata pengujian kandungan logam berat tertinggi terdapat pada sampel sedimen (Pb) yaitu sebesar 12,30 mg/kg dan terendah (Cd) sebesar 0,0171 mg/kg. Pada sampel air tertinggi pada (As) sebesar 0,0158 mg/kg dan terendah (Pb dan Cd) yaitu tidak terdeteksi. Pada ikan kerapu cantang logam berat tertinggi pada (As) sebesar 0,7515 mg/kg dan terendah pada (Cd) 0,0014 mg/kg. Sedangkan hasil pengujian pada indeks EF nilai tertinggi terukur pada logam berat Kadmium (42,75), nilai tertinggi Igeo, CF dan BCF secara berturut-turut adalah pada logam berat Arsen (1,06 ; 3,12 ; 49,88).   Lamongan is a district that plays an important role in supporting the economy so that various kinds of industries are built and maximized to meet the needs of the community. The increase in population density causes an increase in consumption rates which is accompanied by industrial development, thereby making room for polluting materials. One of the pollutants that has a long-term negative impact is heavy metals. In this study, the giant hybrid grouper (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) was used as the object of research. The purpose of this study was to determine the content of heavy metals Pb, Cd and As and to determine the pollution index and accumulation status of Cantang grouper, water and sediment in traditional ponds in Brondong, Lamongan, East Java. The research method used is observational and descriptive as a type of research design and the data analysis used is quantitative with calculations on the EF, Igeo, CF and BCF indexes. Samples of Cantang grouper and water will be tested for heavy metal content at the Integrated Service Unit Laboratory for Quality Testing and Development of Marine and Fishery Products (UPT PMPPKP) Surabaya, while the sediment will be tested for Angler Chemical at the Laboratory in Surabaya. The results of the average test for the highest heavy metal content were found in the sediment sample (Pb) which was 12.30 mg/kg and the lowest (Cd) was 0.0171 mg/kg. In the water sample, the highest (As) was 0.0158 mg/kg and the lowest (Pb and Cd) were not detected. In hybrid giant grouper, the highest heavy metal was at (As) of 0.7515 mg/kg and the lowest was at (Cd) of 0.0014 mg/kg. While, in the test results on the EF index, the highest value was measured for heavy metal Cadmium (42.75), and the highest values for Igeo, CF, and BCF, respectively, were heavy metal Arsenic (1.06; 3.12; 49.88).
Identifikasi Mikroplastik Pada Sedimen di Pulau Perak, Jakarta Indonesia: Identification Microplastics in the Sediment of Perak Island, Jakarta Indonesia Mufziqom, Iftah Sofii; Santri Anom Bangun Pahala; Dian Aliviyanti
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 1 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea May 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.01.4

Abstract

Mikroplastik adalah jenis sampah plastik yang memiliki ukuran partikel lebih kecil dari 5 mm. Dengan ukuran yang sangat kecil dapat menyebabkan mikroplastik tidak dapat terdegradasi dengan sempurna. Hal tersebut menjadikan mikroplastik sebagai polutan terhadap lingkungan baik di darat dan laut dalam jangka waktu yang panjang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk identifikasi jenis mikroplastik dan kelimpahan mikroplastik di sedimen Pulau Perak, Jakarta Indonesia. Penelitian menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel sedimen menggunakan empat stasiun yaitu wilayah utara, timur, barat, dan selatan Pulau Perak. Hasil identifikasi mikroplastik ditemukan tiga jenis mikroplastik, yaitu fiber, film, dan fragmen. Jenis mikroplastik yang ditemukan berjumlah 311 partikel.  Kelimpahan mikroplastik di sedimen yaitu 5.380 partikel/gram. Kelimpahan jenis mikroplastik paling tinggi ditemukan di stasiun timur sebesar 1.480 partikel/gram. Sedangkan kelimpahan mikroplastik di stasiun utara 1.440 partikel/gram, stasiun selatan 1.260 partikel/gram, dan stasiun barat 1.200 partikel/gram.   Microplastics are a type of plastic waste that has a particle size smaller than 5 mm. The very small size can cause microplastics to not be completely degraded. This becomes microplastic as a contaminant polluting the environment both on land and sea over a long period of time. The aim of this research is to identify the types of microplastics and the abundance of microplastics in the sediments of Perak Island, Seribu Islands, Jakarta. Sediment sampling used four stations, namely the north, east, west and south of Perak Island. The results of microplastic identification found three types of microplastics, fiber, film and fragments. The types of microplastics found totaled 311 particles. The abundance of microplastics in the sediment was 5,380 particles/gram. The highest abundance of microplastics was found at the east station at 1,480 particles/gram. Meanwhile, the abundance of microplastics at the north station was 1,440 particles/gram, at the south station was 1,260 particles/gram, and at the west station was 1,200 particles/gram.
Penerapan Principal Component Weighted Index (PCWI) untuk Asesmen Kualitas Air Sungai Citarum di Kota Bandung dan Kota Cimahi: Application of Principal Component Weighted Index (PCWI) to Assess Water Quality of Citarum River at Bandung and Cimahi City Fatahillah, Dimas; Evellin Dewi Lusiana
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 1 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea May 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.01.2

Abstract

Sungai Citarum adalah sungai terpanjang di Jawa Barat dengan panjang ±300 km. Hulu sungai ini berada di daerah Kabupaten Bandung dan berakhir di daerah Kabupaten Karawang. Tujuan penelitian ini, yaitu menganalisis kondisi dan perkembangan status kuaIitas air serta kondisi kualitas air berdasarkan pendekatan PCWI di Sungai Citarum, khususnya di Kota Bandung dan Cimahi dengan rentang waktu 2014-2022. Titik pengambiIan sampeI diIakukan di 6 stasiun, yaitu stasiun Sukapada, Ciwastra, Teras Cikapundung, Cikapundung Asia Afrika, Pasirluyu, dan Cimahi Cihunjung. Parameter yang digunakan, yaitu suhu, kekeruhan, TDS, TSS, DHL, pH, DO, BOD, COD, nitrit, amonia, dan fecal coliform. Berdasarkan data kualitas air dari tahun 2014 – 2022 didapatkan hasil bahwa parameter kekeruhan, TSS, nitrit, amonia, DO, BOD, COD, dan total coliform melebihi ambang batas baku mutu, sedangkan suhu, TDS, DHL, dan pH masih berada dibawah baku mutu. Hasil perhitungan dan klasifikasi menggunakan metode PCWI diketahui bahwa Sungai Citarum di Kota Bandung dan Cimahi berada pada tingkat pencemaran tercemar sedang. Berdasarkan box plot dan uji tukey diketahui bahwa tingkat pencemaran yang terjadi dari tahun 2014-2022 mengalami perubahan yang signifikan, di mana tingkat pencemaran pada tahun 2022 mengalami peningkatan akibat kembali normalnya aktivitas masyarakat pasca pandemic Covid-19. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian aktivitas masyarakat di sekitar Sungai Citarum agar tingkat pencemaran sungai tidak semakin buruk   The Citarum River is the longest river in West Java with a length of ±300 km. The upstream of this river are in the Bandung Regency area and the downstream in the Karawang Regency area. The purpose of this study was to analyze the condition and development of air quality status and air quality conditions based on the PCWI approach on the Citarum River, especially in the cities of Bandung and Cimahi with a time span of 2014-2022. Sampling points were carried out at 6 stations, namely Sukapada, Ciwastra, Teras Cikapundung, Cikapundung Asia Afrika, Pasirluyu, and Cimahi Cihunjung stations. The parameters used were temperature, turbidity, TDS, TSS, DHL, pH, DO, BOD, COD, nitrite, ammonia, and fecal coliform. Based on water quality data from 2014 – 2022, the results showed that the parameters of turbidity, TSS, nitrite, ammonia, DO, BOD, COD, and total coliform exceed the quality standard limits, while temperature, TDS, DHL, and pH were still below the quality standards. The results of calculations and classification using the PCWI method show edthat the Citarum River in Bandung and Cimahi were at moderately polluted levels of pollution. Based on the box plot and tukey test, it is known that the level of pollution that occurred from 2014-2022 has experienced significant changes.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelimpahan Harmful Algae: Studi Kasus Pseudo-nitzschia spp. di Perairan Teluk Hurun, Lampung: Factors Influencing Abundance of Harmful Algae: Case Study of Pseudo-nitzschia spp. in Hurun Bay Waters, Lampung Muawanah, Muawanah; Widi Lestari, Septiana; Indrayati, Artin
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 1 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea May 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.01.3

Abstract

Pseudo-nitzschia spp. merupakan suatu jenis diatom kosmopolitan yang berpotensi menyebabkan Harmful Algal Blooms (HABs) yang menghasilkan toksin asam domoat, penyebab sindrom amnesic shellfish poisoning (ASP). Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kelimpahan Pseudo-nitzschia spp. di Perairan Teluk Hurun selama periode Agustus 2020 hingga Juli 2021. Sampling air dan fitoplankton dilakukan di tiga stasiun pengamatan, analisis dilakukan menggunakan metode regresi linier Backward. Hasil regresi menunjukkan bahwa nitrit, nitrat dan amonia secara signifikan berpengaruh terhadap kelimpahan Pseudo-nitzschia spp. dengan nilai p-value berturut-turut adalah 0,000 untuk variabel nitrit, 0,030 untuk variabel nitrat dan 0,015 untuk variabel amonia.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara konsentrasi nitrit, nitrat dan amonia dengan kelimpahan Pseudo-nitzschia spp. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan zat hara dapat memicu pertumbuhan alga berbahaya. Hal ini menekankan perlunya dilakukan langkah-langkah strategis untuk mengelola eutrofikasi dan dampak perubahan iklim untuk mengurangi risiko kejadian HABs di Perairan Teluk Hurun.   Pseudo-nitzschia spp. is a cosmopolitan diatom species that has the potential to cause Harmful Algal Blooms (HABs) which produces domoic acid toxin, the cause of amnesic shellfish poisoning syndrome (ASP). The study aims to determine the environmental factors that affect the abundance of Pseudo-nitzschia in Hurun Bay Waters during the period August 2020 to July 2021. Water and phytoplankton sampling was conducted from three observation stations, the analysis was conducted using the Backward linear regression method. The regression results showed that nitrite, nitrate and ammonia significantly influenced the abundance of Pseudo-nizschia spp. with p-values of 0.000 for the nitrite variable, 0.030 for the nitrate variable and 0.015 for the ammonia variable, respectively. The results showed that there was a positive relationship between nitrite, nitrate and ammonia concentrations and the abundance of Pseudo-nitzschia spp. This indicates that an increase in nutrients can trigger harmful algal growth. This emphasizes the need for strategic measures to manage eutrophication and climate change impacts to reduce the risk of HABs occurrence in Hurun Bay Waters.
Penentuan Status Mutu dan Tingkat Pencemaran Air di Sungai Bango, Kota Malang, Jawa Timur: Determination of Water Quality Status and Pollution Level in Bango River, Malang City, East Java Gisela Manda Agustina; Mohammad Mahmudi; Buwono, Nanik Retno
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 2 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.02.2

Abstract

Berkurangnya ketersediaan sumber air bersih disebabkan oleh pencemaran di sungai – sungai sebagai salah satu sumber air bersih di permukaan. Secara administrasi DAS Bango meliputi tiga wilayah, yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Keberadaan Sungai Bango sangat penting bagi masyarakat sekitar sungai, seperti digunakan untuk keperluan mandi, masak, irigasi, dan lain – lain. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui kondisi kualitas air dan menentukan status mutu air di Sungai Bango. Metode yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran yaitu menggunakan metode STORET. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil wawancara dengan pihak Instansi Dinas Lingkungan Hidup dan data sekunder didapatkan dari hasil pengukuran kualitas air Sungai Bango pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2022 dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang. Pengukuran kualitas air dilakukan pada 3 titik stasiun dengan waktu pengambilan sampel yaitu pada bulan April – Juni untuk setiap tahunnya. Parameter kualitas air yang digunakan berupa parameter fisika yaitu suhu berkisar antara 23,7 – 29,9°C, Total Suspended Solid (TSS) berkisar antara 3,8 – 98,3 mg/L, parameter kimia yang digunakan yaitu pH berkisar antara 6,46 – 8,4, Dissolved Oxygen (DO) berkisar antara 4 – 7 mg/L, Biological Oxygen Demand (BOD) berkisar antara <1,83 – 5,44 mg/L, Chemical Oxygen Demand (COD) berkisar antara <3,492 – 51,38 mg/L. Berdasarkan analisis data kualitas air menggunakan metode STORET didapatkan hasil bahwa perairan Sungai Bango berdasarkan rata – rata perhitungan metode STORET tergolong kriteria sedang dengan status tercemar sedang (Kelas C). Golongan kualitas air kelas C termasuk dalam kategori air yang digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan.   The reduced availability of clean water sources is caused by pollution in rivers as one of the sources of clean water on the surface. Administratively, the Bango watershed covers three regions, namely Malang City, Malang Regency, and Batu City. The existence of Bango River is very important for the community around the river, such as used for bathing, cooking, irrigation, and others. The purpose of this study is to determine the condition of water quality and determine the status of water quality in Bango River. The method used to determine the level of pollution is using the STORET method. The data used are primary data and secondary data. Primary data is obtained from interviews with the Dinas Lingkungan Hidup and secondary data is obtained from the results of Bango River water quality measurements in 2020 to 2022 from the Dinas Lingkungan Hidup of Malang City. Water quality measurements were carried out at 3 station points with sampling times in April - June for each year. The water quality parameters used are physical parameters, namely temperature ranging from 23.7 - 29.9°C, Total Suspended Solid (TSS) ranging from 3.8 - 98.3 mg/L, chemical parameters used, namely pH ranging from 6.46 - 8.4, Dissolved Oxygen (DO) ranging from 4 - 7 mg/L, Biological Oxygen Demand (BOD) ranging from <1.83 - 5.44 mg/L, Chemical Oxygen Demand (COD) ranging from <3.492 - 51.38 mg/L. Based on the analysis of water quality data using the STORET method, the results show that the waters of the Bango River based on the average calculation of the STORET method are classified as medium criteria with moderately polluted status (Class C). Class C water quality groups are included in the category of water used for fisheries and livestock purposes.
Analisis Komposisi Mikroplastik Pada Tiga Ikan Laut Ekonomis Penting dari Pelabuhan Perikanan di Jawa Timur, Indonesia: Microplastic Composition Analysis in Three Economically Important Marine Fish from Fishing Ports in East Java, Indonesia Idris, Arief; Rahmawati, Andira; Sari, Syarifah Hikmah Julinda; Fuad, Mochamad Arif Zainul; Harlyan, Ledhyane Ika; Yona, Defri
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 2 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.02.1

Abstract

Mikroplastik memiliki potensi tinggi untuk tersebar merata di perairan dan terakumulasi pada organisme perairan termasuk ikan. Saluran pencernaan dan organ insang merupakan bagian ikan yang seringkali terkontaminasi oleh mikroplastik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi mikroplastik pada ikan Clupea harengus, Euthynnus affinis, dan Restrelliger brachysoma dengan lokasi yang berbeda diantaranya Pondok Dadap Sendang Biru, Pacitan, dan Mayangan Probolinggo. Analisis dilakukan dengan identifikasi organ dan saluran pencernaan pada ketiga spesies ikan. Komposisi mikroplastik pada sampel organ ikan dianalisis dengan menghancurkan bahan organik melalui perendaman sampel pada laruta H2O2 30% dan larutan Fe (II) 0,05 M selama 24 Jam. Analisis dilanjutkan dengan penyaringan sampel menggunakan kertas Whatman dan identifikasi menggunakan mikroskop (Olympus CX33). Diantara jenis mikroplastik, fiber dan fragmen merupakan jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan pada ikan Clupea harengus, Euthynnus affinis, dan Restrelliger brachysoma dibandingkan dengan jenis film.  Kelimpahan total mikroplastik ditemukan lebih tinggi pada organ dibandingkan pada saluran pencernaan.  Terdapat perbedaan jumlah kelimpahan mikroplastik pada ketiga spesies. Spesies Clupea harengus memiliki kelimpahan mikroplastik tertinggi dibandingkan dengan spesies lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ikan yang tidak dapat membedakan antara mikroplastik dan plankton sebagai mangsanya. Kebiasaan makan ikan dengan menyaring air di sekitarnya membuat ikan rentan mendapatkan plankton yang terkontaminasi mikroplastik.   Microplastics have a high potential to be evenly distributed in waters and accumulate in aquatic organisms including fish. The digestive tract and gill organs are parts of fish that are often contaminated by microplastics. This study aims to analyze the composition of microplastics in fish Clupea harengus, Euthynnus affinis, and Restrelliger brachysoma with different locations including Pondok Dadap Sendang Biru, Pacitan, and Mayangan Probolinggo. The analysis was conducted by organ identification in the three fish species. The composition of microplastics in fish organ samples was analyzed by destroying organic matter through immersion of samples in 30% H2O2 solution and 0.05 M Fe (II) solution for 24 hours. The analysis was continued by filtering the samples with Whatman paper and identifying them with a microscope (Olympus CX33). Among the types of microplastics, fibers and fragments were the most common types of microplastics found in Clupea harengus, Euthynnus affinis, and Restrelliger brachysoma compared to film types.  The total abundance of microplastics was found to be higher in organs than in the digestive tract.  There were differences in the abundance of microplastics among the three species. Clupea harengus species had the highest abundance of microplastics compared to other species. This is influenced by the condition of the fish, which cannot choose between microplastics and plankton as prey. Fish feeding habits by filtering the surrounding water make fish vulnerable to plankton contaminated with microplastics.
Kelimpahan Mikroplastik pada Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) dan Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta) Yang Didaratkan di PPP Mayangan, Probolinggo: Microplastic Abundance on Bali Sardinella (Sardinella lemuru) and Indian Mackarel (Rastrelliger kanagurta) Landed at PPP Mayangan, Probolinggo Avisina, Achmadika; Yona, Defri; Winata, Victor Adi; Nor, Hazimah Binte Mohamed; Sartimbul, Aida
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 2 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.02.4

Abstract

Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) dan ikan lemuru (Sardinella lemuru) merupakan dua spesies ikan yang umum ditangkap di PPP Mayangan Probolinggo dan memiliki peluang yang tinggi untuk terkontaminasi oleh mikroplastik. Sampel ikan diambil secara acak dan diukur morfometrik (panjang dan berat tubuh) sebagai informasi biologis pendukung dan validasi untuk penggunaan uji perbedaan morfometrik dari kedua jenis ikan terhadap data kelimpahan mikroplastiknya. Analisis kelimpahan mikroplastik pada kedua jenis ikan dilakukan dengan mengidentifikasi dan membandingkan kelimpahan partikel antara kedua jenis ikan berdasarkan jaringan/organ ikan, tipe partikel, ukuran partikel, serta warna partikel. Bahan organik dihancurkan menggunakan metode destruksi H2O2 30% dengan perbandingan 1:20. Analisis FTIR digunakan untuk mengetahui jenis polimer dari mikroplastik. Hasil menunjukkan terdapat kelimpahan sebanyak 52,20 ± 22,81 partikel/individu pada ikan kembung dan 61,20 ± 10,48 partikel/individu pada ikan lemuru. Analisis statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan kelimpahan partikel yang signifikan berdasarkan asal organ/jaringan maupun tipe, ukuran, dan warna partikel. Dapat disimpulkan bahwa partikel mikroplastik yang dikonsumsi oleh kedua jenis ikan cenderung memiliki karakteristik yang sama: bertipe fragmen atau fiber, berwarna hitam atau biru, dan berukuran berkisar 50-100 µm. Hasil FTIR menunjukkan partikel dengan tipe cotton fibre. Kontrol kualitas data mikroplastik dari sampel (tingkat kontaminasi udara 1,59 %) didapatkan dari blanko (kontrol negatif) dengan mempertimbangkan kelimpahan dan karakteristik mikroplastiknya.   Mackerel (Rastrelliger kanagurta) and the Bali Sardinella (Sardinella lemuru) are two common fish species caught in the Mayangan Probolinggo Fishing Port (PPP) and are highly susceptible to microplastic contamination. Fish samples were picked randomly and their morphometric (body length and weight) were measured as supporting biological information and validation for the usage of difference testing of both species’ morphometrics to their microplastics abundance. Analysis of microplastic abundance in both fish species was conducted by identifying and comparing particle abundance between the two species based on fish tissues/organs, particle type, particle size, and particle colour. Organic material was destroyed using a 30% H2O2 destruction method with a ratio of 1:20. FTIR was performed to determine the polymer of microplastics. The results showed an abundance of 52.20 ± 22.81 particles/individual in mackerel and 61.20 ± 10.48 particles/individual in Bali Sardinella. Statistical analysis indicated no significant differences in particle abundance based on organ/tissue origin or particle type, size, and colour. It can be concluded that the microplastic particles consumed by both fish species tend to have similar characteristics: fragmented or fibrous type, black or blue colour, and a size of 50-100 µm. FTIR results indicated cotton fibre type particle. Quality control of the microplastic data from samples (air contamination level of 1,59%) was obtained from blank samples (negative control) with their abundance and characteristics taken into consideration.
Deteksi Bakteri Salmonella sp sebagai Bioindikator pada Budidaya Udang Vaname di Pesisir Probolinggo: Detection Bacteria of Salmonella sp as Bioindicators in Vaname Shrimp Farming in Coastal Probolinggo Musa, Muhammad; Mahmudi, Mohammad; Lestari, Astri
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 2 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.02.3

Abstract

Perairan pesisir Probolinggo menjadi salah satu sumber air baku untuk media budidaya udang vaname. Kasus penolakan hasil produksi udang yang diekspor karena teridentifikasi adanya bakteri Salmonella sp yang dapat berasal dari perairan budidaya. Hal ini telah banyak terjadi dikarenakan bakteri merupakan salah satu indikator keamanan pangan Keberadaan bakteri Salmonella sp tersebar di perairan dimana menjadi habitat dari udang vaname yang dibudidayakan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri Salmonella sp pada perairan pesisir Probolinggo sebagai bioindikator kegiatan budidaya udang vaname pada air di pesisir Probolinggo dan mengetahui kondisi parameter fisika-kimia perairannya. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengukuran dilakukan secara insitu dan eksitu. Hasil penelitian diperoleh rata-rata total bakteri Salmonella dengan tiga kali pengambilan sampel di 5 stasiun pada kisaran 136,67 – 5025,33 CFU/ml dan dikatogerikan telah perairan telah tercemar bakteri Salmonella. Kadar bakteri Salmonella di 5 stasiun tidak berbeda nyata dan hasil pengukuran parameter suhu (30 – 32°C), pH (7,48 -7,59), oksigen terlarut (5,53 - 7,23 mg/L), salinitas (16,33 – 28,33 ppt), nitrit (0,0037 - 0.0121 mg/L), amonia (0,0565 - 0.1119 mg/L), dan total bahan organik (31.18 - 56.04 mg/L) menunjukkan nilai optimal dan masih sesuai dengan standar baku mutu air sumber budidaya udang vaname.   The coastal waters of Probolinggo are one of the sources of water supply for vaname shrimp farming media. Cases of rejection of exported shrimp production results due to the identification of Salmonella sp bacteria that can originate from cultivated waters. This has happened a lot because bacteria are one of the indicators of food safety. The presence of Salmonella sp bacteria is spread in waters where the habitat of cultured vaname shrimp. The purpose of the study was to determine the presence of Salmonella sp bacteria in the coastal waters of Probolinggo as a bioindicator of vaname shrimp farming activities in water in coastal Probolinggo and determine the condition of physico-chemical parameters of its waters. The study used a survey method with measurements taken insitu and exitu. The results obtained the average total Salmonella bacteria with three sampling times at 5 stations in the range of 136.67 - 5025.33 CFU/ml. . Salmonella bacteria levels at 5 stations were not significantly different and the measurement results of temperature parameters (30 - 32°C), pH (7.48 -7.59), dissolved oxygen (5.53 - 7.23 mg/L), salinity (16.33 - 28.33 ppt), nitrite (0.0037 - 0.0121 mg/L), ammonia (0.0565 - 0.1119 mg/L), and total organic matter (31.18 - 56.04 mg/L) showed optimal values and were still in accordance with the water quality standards for vaname shrimp culture sources.
Pemanfaatan Diatom sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Mangrove Muara Bajulmati, Kabupaten Malang: The Utilization of Diatoms as Water Quality Bioindicators of Mangrove at Bajulmati Estuary, Malang Regency Mahmudi, Mohammad; Musa, Muhammad; Elradinan, Naura Shofi; Lusiana, Evellin Dewi
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 2 No. 2 (2024): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea October 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2024.002.02.5

Abstract

Ekosistem mangrove adalah salah satu ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki peran krusial bagi lingkungan. Pemantauan terhadap kondisi perairan mangrove sangat penting dilakukan guna menjaga keberlanjutannya. Salah satu bioindikator yang dapat digunakan untuk tujuan ini adalah diatom. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi diatom di berbagai habitat (akar, kolom air dan sedimen mangrove) dan memanfaatkan mikroorganisme ini sebagai agen bioindikator pencemaran di ekosistem mangrove Muara Bajulmati. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama Maret hingga April 2024 di tiga stasiun pengambilan sampel. Data yang dikumpulkan meliputi komposisi diatom dan hasil pengukuran parameter kualitas air fisika dan kimia. Analisis data yang digunakan adalah indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 – 17 genus yang teridentifikasi pada akar, kolom air, dan sedimen mangrove Muara Bajulmati. Kondisi perairan di lokasi penelitian juga mendukung pertumbuhan diatom secara optimal. Selain itu, berdasarkan nilai indeks biologi yang diperoleh, maka habitat kolom air dan stasiun pengambilan sampel pertama memiliki kondisi perairan yang terbaik di kawasan mangrove Muara Bajulmati.   The mangrove ecosystem is one of the ecosystems in coastal areas that has a crucial role for the environment. Monitoring the condition of mangrove waters is very important to maintain their sustainability. One bioindicator that can be used for this purpose is diatoms. This research aims to analyze the composition of diatoms in various habitats (roots, water column and mangrove sediment) and utilize these microorganisms as a bioindicator agents for pollution in the Bajulmati estuary mangrove ecosystem. Research activities were carried out from March to April 2024 at three sampling stations. The data collected includes diatom composition and measurement results of physical and chemical water quality parameters. The data analysis used is the diversity index, uniformity index and dominance index. The research results showed that there were 15 - 17 genera identified in the roots, water column and sediments of the Bajulmati estuary mangroves. Water conditions at the research location also support optimal diatom growth. In addition, based on the biological index values ​​obtained, the water column habitat and the first sampling station have the best water conditions in the Muara Bajulmati mangrove area.

Page 2 of 4 | Total Record : 36